Jumat, 30 Mei 2008

Bayi Baru Lahir Rentan Terserang Anemia

Kamis, 29 Mei 2008 | 21:27 WIB

TPGIMAGES


DEFISIENSI atau kekurangan besi (anemia ) merupakan salah satu masalah gizi utama di dunia, termasuk di Indonesia. Bahkan, banyak bayi baru lahir hingga berusia di bawah satu tahun yang mengalami kekurangan zat besi ini. Jika tidak segera ditangani, di kemudian hari bayi penderita anemia defisiensi besi bisa mengalami gangguan fungsi otak sehingga menghambat tumbuh kembangnya.

Hal ini diungkapkan dokter spesialis anak Harapan Parlindungan Ringoringo saat mempertahankan disertasinya untuk meraih gelar doktor dalam Bidang Ilmu Kedokteran Universitas Indonesia, Kamis (29/5), di hadapan senat akademik Fakultas Kedokteran UI, Salemba, Jakarta.

Apalagi, hingga kini ADB masih jadi persoalan kesehatan gizi di dunia, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Dat a Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 2001 menunjukkan, prevalensi ADB pada balita (48,1 persen), bayi berusia kurang dari satu tahun (55 persen) dan bayi baru lahir sampai enam bulan (61,3 persen).

Kondisi ini terkait dengan tingginya prevalensi defisiensi besi pada ibu hamil. Data SKRT Tahun 2001 menunjukkan, prevalensi anemia defisiensi besi pada ibu hamil adalah 40,1 persen. P revalensinya meningkat dengan bertambahnya usia gestasi yaitu 10 persen pada trimester pertama, 14 persen pada trimester kedua dan 33 persen pada trimester ketiga.

Ada banyak faktor risiko yang dapat mempengaruhi tingginya prevalensi defisiensi besi atau ADB pada ibu dan bayi yang dilahirkan di antaranya, jenis kelamin bayi, bayi tidak minum ASI atau susu formula yang difortifikasi zat besi, rendahny a pendidikan ibu, status ekonomi keluarga rendah, dan jarak kelahiran terlalu dekat.

Dalam penelitian yang dilakukan Harapan dengan melibatk an 211 bayi, 143 bayi di antaranya lahir dari kelompok ibu tanpa anemia dan 83 bayi lahir dari kelompok ibu dengan anemia. Hasilnya, bayi yang lahir dari ibu dengan anemia mempunyai risiko hampir sama untuk menderita ADB, deplesi besi dan defisiensi besi dibandingkan bayi yang lahir dari ibu tanpa anemia.

Mengingat efek jangka panjang defisiensi besi dan sulitnya mendiagnosis deplesi besi atau defisiensi besi dengan atau tanpa anemia pada bayi berusia 0-6 bulan, Asosiasi Ahli Kesehatan Anak Amerika Serikat (American Ass ociation of Pediatrics) merekomendasikan pemberian suplementasi zat besi pada bayi yang lahir aterm atau lahir matang paling lambat pada usia dua bulan. Di Norwegia, semua bayi baru lahir mendapat suplementasi zat besi sejak usia enam minggu hingga satu tahun dengan dosis 18 miligram per hari.

Penelitian Dijkhuizen dkk di Bogor, Jawa Barat, tahun 1999 memperlihatkan, dari 90 bayi berusia 4,2 bulan yang mendapat suplementasi Fe elemental 10 mg per hari selama enam bulan ternyata yang mengalami ADB hanya 28 persen dibandingk an 87 bayi berusia 4,2 bulan yang tidak mendapat suplemen zat besi angka ADBnya mencapai 66 persen. Karena itu, suplementasi zat besi pada bayi baru lahir bisa dipertanggungjawabkan, kata Harapan.
Evy Rachmawati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar