Jumat, 01 Agustus 2008

Tafsir Sosial Isra Miraj

Oleh ASEP SALAHUDIN 

Di tengah cakrawala kehidupan berbangsa dan bernegara kita yang masih berkabung, hal mana ditandai dengan semakin meruyaknya tindakan-tindakan tercela seperti anggota legislatif yang mempertontonkan watak aslinya yang rakus, hukum yang dipermainkan, kekerasan yang menjamur termasuk kekerasan yang berjubahkan agama dan demokrasi, maka merenungkan pesan sosial tersembunyi dari peristiwa besar Isra Miraj Muhammad saw., amat menarik. 

Isra Miraj sejatinya adalah pertanda (signal) tentang keniscayaan manusia untuk melakukan "suatu perjalanan" titik balik demi menyambut fajar peradaban yang lebih santun. Ia meneguhkan makna bahwa sebuah harapan meraih kematangan emosi dan kepekaan rohani mengandaikan adanya kesediaan diri (dan bangsa) dengan sungguh-sungguh agar selekasnya meninggalkan bumi setelah kita mengalami kematian diri terbang menuju "langit" untuk kemudian turun lagi ke bumi manusia dengan jiwa yang tersadarkan (self-awareness). Turun lagi membawa jiwa yang penuh cahaya sebagaimana dengan menarik terpantul dalam pepatah Cina dalam Chicken Soup for Soul-nya Jack Canfielsd dan Mark Victor Hansen yang mengisahkan delapan puluh sembilan kisah mencerahkan hati dan memompa semangat (1997):

Bila ada cahaya di dalam jiwa//Ada kecantikan di dalam diri//Bila ada kecantikan di dalam pribadi//Ada harmoni di dalam rumah//Bila ada harmoni di dalam rumah//Ada ketertiban di dalam negara//Bila ada ketertiban di dalam negara//Ada kedamaian di dunia 

Krisis yang menimpa bangsa kita inti hakikatnya bermula karena kita dilanda banjir krisis moral dalam segala lini kehidupan dengan segala penyakit susulannya, hilangnya rasa malu, punahnya kesetiakawanan sosial, keberagamaan yang penuh kepura-puraan, dan lain sebagainya. Krisis, baik krisis ekonomi, langkanya bahan bakar, makanan, maupun rusaknya lingkungan, justru berawal karena krisis moral itu. Bermula dari absennya kesadaran terhadap Yang Absolut. Pakar ekonomi pembangunan E.F. Schumacher dengan sangat bagus menggambarkan hal ini dalam bukunya A Guide for Perplexed.

Karena bangsa kita dilanda tsunami moral-spiritual, menjadi sangat tidak aneh apabila banyak perbuatan yang aneh-aneh. Kita menjadi sebuah bangsa dengan para penyelenggara negara yang anonim. Para wakil rakyat nyaris menjadi sekelompok yang mengalami, meminjam istilah Zohar dan Marshall, kepribadian yang sudah asing dengan dirinya sendiri (cut off from myself), dari orang lain di sekitarnya (from others around me), bahkan boleh jadi terputus dari Tuhan-nya (from God).

Sidratul Muntaha

Dalam peristiwan Miraj, sang Nabi saw. telah mencapai puncak kearifan yang dilambangkan dengan Sidratul Muntaha. Kita pun mafhum, seperti pernah disinyalir almarhum Nurcholish Madjid bahwa Sidratul Muntaha adalah simpul dari kearifan yang utuh. Sidrah: pohon lotus (bidara) yang tumbuh di padang pasir, sedangkan muntaha artinya tertinggi. Sidrah sejak dari Mesir Kuno selalu dijadikan lambang wisdom, seperti agama-agama tua di India (Buddha-Hindu) menjadikan lotus sebagai lambang kebajikan. 

Dalam kearifan Sunda sebagaimana terekam dalam pantun "Mundinglaya", hal yang sama juga dikenal dengan istilah Sajabaning Langit atau Buana Nyungcung di mana seseorang tidak akan sampai ke puncak sana kecuali terlebih dahulu menaklukkan jagad triloka yakni alam kamadatu (alam rohani yang masih diselimuti keinginan-keinginan kedagingan), alam rupadatu (alam rohani yang masih terikat pada bentuk-bentuk duniawi) dan alam arupadatu (alam yang telah bebas dari godaan-godaan duniawi) sekaligus harus menghadapi jonggrang kalapetong (nafsu destruktif). Namun, Mundinglaya setelah mencapai puncak kearifan dan memperoleh Lalalayang Salaka Domas tidak lantas berdiam dan menghilang di Buana Nyungcung, tetapi turun ke dunia manusia kembali, dengan diiringi Guriang Tunggal. Artinya menjadi manusia sempurna yang telah mengalami pencerahan rohani sehingga setiap sikap dan tindakannnya merupakan cermin dari Sang Maharaja. Kemanusiaan diselesaikan dengan sentuhan-sentuhan keilahian.

Prosesi naik ke Sidratul Muntaha dengan menaiki buraq, juga telah mengilhami khazanah mistisisme Islam di kemudian hari. Kalau kita menelusuri kekayaan spiritualisme Islam, kita akan temukan idiom "burung" dan "terbang" sebagai simbol yang menunjukkan kenaikan jiwa manusia menuju realitas yang lebih tinggi. Kaum sufi kerap menggambarkan sayap sebagai kekuatan untuk menerbangkan jiwa manusia membumbung menuju Buana Nyungcung. 

Simbolisme burung dan terbang ini dapat kita temukan, misalnya dalam karya Ibn. Sina (w. 428/1037), al-Ghazali (w. 504/1111), Suhrawardi (w. 587/1191), Khaqani (w. 595/1199), Ruzbihan Balqi (w. 606/1209), dan yang paling monumental dalam tulisan epik mistis karya besar Fariduddin Attar (w. 617/1220) yaitu Mantihiqat ath-Thair. Lebih jauh simbolisme ini sebagaimana dalam penelitian Carl W. Ernst, telah lama menjadi perlambang universal pendakian pengalaman universal sejak dewa-dewa bersayap di daerah Timur Dekat kuno sampai malaikat-malaikat bersayap dalam Bibel dan jiwa-jiwa bersayap dalam Phaedrus. 

Khatimah
Memunculkan kembali tafsir sosial kemanusiaan dari peritiwa Isra Miraj tersebut merupakan sesuatu yang mendesak untuk kita kedepankan bersama terutama, sekali lagi, di tengah fenomena merebaknya kemunkaran sosial, penistaan kemanusiaan, dan menjamurnya ekspresi keagamaan yang lebih mementingkan aspek kemeriahan ritual formalistik ketimbang menyelami hakikat yang memantulkan rohnya.

Pengalaman keagamaan dan kebangsaan seseorang akan cukup bermakna manakala dibenturkan dengan persoalan kemanusiaan, kesediaan diri dengan tulus ikut ambil bagian dalam proses penciptaan dunia yang lebih berkeadilan. Model seperti inilah yang pada gilirannya akan menjelma menjadi kendaraan (buraq) yang akan mengantarkannya ke pincak kearifan Sidratul Muntaha, menjadi bangsa yang terlepas dari impitan masalah.***

Penulis, pengajar di IAILM Suryalaya, aktif di MUI Provinsi Jawa Barat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar