Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 September 2015

Malam jahanam di hutan jati Jeglong

BBC

Pada siang nan terik di awal pekan kedua September, di salah-satu sudut hamparan hutan jati yang meranggas di pinggiran Kota Pati, Jateng, pria ringkih itu terlihat tenang ketika tangannya menunjuk sebuah gundukan tanah.
"Di sini, 10 orang dalam keadaan terikat, ditembak dari belakang, dan dimasukkan lubang."
Radimin, pria ringkih berusia 80 tahun itu, mengungkapkan kejadian horor itu yang dia saksikan pada sebuah malam kira-kira 50 tahun silam.
Dia kemudian melangkah beberapa meter ke arah timur, dan menunjuk sebuah gundukan tanah lainnya. Di dalamnya ada 15 jasad manusia, katanya.
BBC

"15 orang lainnya (dipaksa) lari-lari dari mobil, (dipaksa) masuk lubang. (Dan) ditembak di dalam lubang," ujarnya, datar.
Gundukan tanah, yang di atasnya tumbuh ilalang kering, adalah kuburan massal 25 orang yang dituduh simpatisan atau anggota Partai Komunis Indonesia, PKI - atau orang-orang yang cuma dikait-kaitkan.
Dari 10 lubang yang digali, 25 orang itu dikubur dalam tiga lubang terpisah. Tiga lubang lainnya dibiarkan menganga hingga sekarang, dan empat lubang lainnya ditanami pohon pisang oleh warga.

'Saya dipaksa melihat dari dekat'

Ketika saya datangi, lokasi pembantaian yang terletak di hutan Jegong, milik Perhutani, Desa Mantup, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, terlihat agak senyap.
Hanya terdengar suara nyaring Radimin dan suara gesekan sepatu dan rumput kering, serta sayup-sayup kicau burung di kejauhan.
Tapi di malam jahanam pada Desember 1965 lalu, Radimin dipaksa menyaksikan tindakan brutal -yang barangkali sulit dia lupakan seumur hidupnya.
BBC

Para pelaku pembantaian, menurutnya, adalah orang-orang dari "Pemuda Garuda Pancasila" yang disebutnya menggunakan senjata milik aparat kepolisian dan tentara.
"Saya dipaksa melihat dari dekat, nggak boleh jauh-jauh," ungkap petani yang tinggal di desa tidak jauh dari lokasi pembantaian.
Dari percakapan diantara para pelaku pembantaian, dia mendengar bahwa orang-orang naas itu -yang ditutup matanya- dianggap anggota atau simpatisan PKI.
"Orang-orang itu dicap jahat, PKI, pengkhianat, pokoke (pokoknya) dianggap mau menjatuhkan pemerintahan," tambahnya kepada saya, sesekali dengan menggunakan bahasa Jawa.

Mengenali satu korban

Tidak diketahui siapa-siapa yang jasadnya terkubur di hutan jati itu, tetapi salah-seorang korbannya diketahui oleh Radimin sebagai kenalannya.
"Orang itu bernama Jaiz. Radimin mengenalinya, karena secara tak sengaja penutup mata korban terbuka, ketika dia terjatuh setelah berupaya lari," kata Radimin, seperti ditirukan Supardi, eks tahanan politik Pulau Buru, salah-satu orang pertama yang mengungkap kuburan massal "Jegong".
BBC
Supardi, eks tapol pulau Buru, menuntut pemerintah membongkar kuburan massal korban '65. "Benarkah yang dikubur itu orang 'jelek'? Benarkah orang-orang yang dibunuh itu bersalah?"
Supardi, 75 tahun, juga mengaku mengenali sosok Jaiz yang disebutnya calon relawan yang hendak dikirim ke Kalimantan saat Indonesia terlibat konfrontasi dengan Malaysia pada 1964.
Lainnya? Supardi mengangkat bahu. Tidak tahu. "Semua itu rahasia, tertutup. Mereka belum pasti dari Pati. Mereka biasanya diambil malam hari. Istilahnya dibon," ungkapnya.
YPKP 1965 Pati
Para pegiat YPKP 1965 wilayah Pati berdoa di lokasi yang diyakini kuburan massal di Desa Grogolan, Kabupaten Pati. Warga setempat menyebut lokasi kuburan massal itu sebagai hutan "PKI-nan".

Menurutnya, pemerintah yang wajib mengungkap siapa yang dibunuh dan dikubur di hutan jati itu.
"Benarkah yang dikubur itu orang 'jelek'? Benarkah orang-orang yang dibunuh itu bersalah? Pemerintah harus mengungkap kebenarannya," kata Supardi.
Bersama organisasi Yayasan penelitian korban pembunuhan (YPKP) 1965/1966 cabang Pati, Supardi dan kawan-kawan sejak awal tahun 2000 telah melacak setidaknya ada delapan kuburan massal di wilayah Pati.

Komnas HAM turun ke Pati

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), ungkap Supardi, juga telah mendatangi lokasi kuburan massal tersebut sekitar tahun 2008.
"Termasuk telah mendengarkan kesaksian Pak Radimin dan Pak Karmain, saksi lain yang ikut mengubur korban pembantaian di hutan Jeglong," jelas seniman mantan anggota Lekra -organisasi kesenian dibawah PKI.
BBC Indonesia
Ketua Komnas HAM Nur Kholis mengatakan, pengungkapan kuburan massal merupakan salah-satu upaya pengungkapan kebenaran.

Komnas HAM memang telah melakukan penyelidikan kekerasan pasca 1965 yang menimpa orang-orang yang dituduh sebagai simpatisan atau anggota PKI.
Dalam kesimpulannya, mereka menyatakan ada pelanggaran HAM berat terhadap kasus-kasus kekerasan yang menimpa para simpatisan PKI.
Kepada Komnas HAM, YPKP Pati telah menuntut agar mereka mengungkap kebenaran di balik keberadaan kuburan massal di wilayah Pati tersebut.
"Apabila sudah ditemukan kebenaran, harap kuburan itu dibongkar dan tulang-tulangnya di kembalikan ke masyarakat," tandas Supardi.
Dalam wawancara khusus dengan BBC Indonesia, Ketua Komnas HAM Nur Kholis mengatakan pengungkapan kuburan massal merupakan salah-satu upaya pengungkapan kebenaran.
"Tetapi untuk melakukan itu diperlukan konsensus nasional dulu, kalau tidak upaya-upaya itu hanya akan menimbulkan masalah baru," kata Nur Kholis.

Kebenaran tetap terkubur?

Dia kemudian merujuk pada sejumlah kasus penolakan sebagian anggota masyarakat terhadap aktivitas atau diskusi yang dikaitkan dengan latar peristiwa 1965.
"Saat ini harus diakui, di lapangan, diskusi-diskusi itu (soal kekerasan pasca 1965) masih kadang-kadang dibubarkan," jelasnya.
Di Blitar, 13 tahun silam, upaya penggalian Gua Tikus, tempat kuburan massal simpatisan PKI juga ditolak oleh Bupati Blitar, karena alasan "meresahkan masyarakat".
YPKP 1965 Pati
Sejumlah pegiat YPKP 1965 wilayah Pati melakukan penyelidikan di lokasi yang diyakini sebagai kuburan massal di kawasan Perhutani HPH Brati, Desa Brati, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati.

Nur Kholis menganalisa, penolakan itu disebabkan adanya "distorsi informasi" yang berkembang masyarakat, bahwa seolah-seolah penyelidikan Komnas dalam kasus '65 itu akan berujung pada rehabilitasi PKI.
"Ini tidak menyangkut dengan ideologi. Misalnya presiden harus menyatakan penyesalan kepada partai tertentu (PKI), tidak. Dalam konteks korban-korban anak bangsa itulah, Presiden menyatakan penyesalannya," tandas Nur Kholis.
Pernyataan Nur Kholis itu, bagaimanapun, menyiratkan bahwa upaya pengungkapan kebenaran kasus kekerasan pasca 1965, termasuk pembongkaran kuburan massal, sepertinya bakal memakan waktu lama.
Upaya pencarian kebenaran yang dilakukan Supardi dan kawan-kawan, tampaknya, masih akan terkubur lama di bawah hutan jati Jeglong yang sepi itu.

Rabu, 04 Maret 2015

Tatang Sang "Sniper" Meninggal karena Serangan Jantung

Rabu, 4 Maret 2015 | 08:55 WIB

KOMPAS.com/Reni Susanti
Kondisi di rumah duka sniper terbaik dunia asal Bandung, Tatang Koswara.



BANDUNG, KOMPAS.com — Sniper terbaik dunia asal Bandung, Tatang Koswara, meninggal karena serangan jantung, Selasa (3/3/2015) sekitar pukul 20.00 WIB. Istri almarhum, Tati Hayati, mengatakan, suaminya memiliki riwayat penyakit jantung. Almarhum pernah dioperasi pemasangan ring di jantungnya.

"Menurut dokter, Bapak meninggal terkena serangan jantung," ujar Tati di rumah duka, di daerah Kompleks TNI AL, Cibaduyut, Bandung, Rabu (4/3/2015).

Tati mengatakan, kegiatan suaminya sebulan terakhir lebih padat dari biasanya. Tamu silih berganti, di antaranya wawancara dengan berbagai media massa.

"Bapak kecapekan sekaligus begitu bahagia kayaknya, jadi penyakit jantungnya kambuh," ucap Tati.

Dari cerita Tati, Tatang bertolak dari Bandung menuju Jakarta pada Selasa (3/3/2015) pagi. Sesampainya di Jakarta, Tatang mengunjungi Mabes TNI AD dan dilanjutkan wawancara. Seusai itu, almarhum ke hotel untuk beristirahat dan persiapan untuk acara Hitam Putih yang disiarkansecara live di televisi.

"Jam 17, Bapak masih mencari makan sendiri. Setelah itu kami pergi ke Trans 7 untuk acara Hitam Putih," imbuhnya.

Saat diwawancara Dedi Corbuzier, Tatang sudah menunjukkan perbedaan. Napas almarhum terlihat tersengal dan kata-katanya kadang terbata. Namun, keluarga tidak menaruh curiga.

"Beres segmen pertama ada istirahat shalat maghrib. Bapak diajakngobrol Dedi dan anak kami yang bungsu mengingatkan Bapak untuk meminum obat," ucapnya.

Tatang menunjukkan obat yang diminum ke anak bungsunya. Tak lama berselang, Tatang sesak napas dan pingsan. Dalam perjalanan ke rumah sakit, Tatang meninggal.

Almarhum meninggalkan istri dan empat orang anak. Rencananya, Tatang akan dimakamkan secara militer di TPU terdekat. Dalam wasiatnya, Tatang menolak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Padalarang.

"Bapak dapat jatah di Taman Makan Pahlawan Padalarang. Tapi kasihan kejauhan, jadinya dimakamkan di TPU terdekat saja," tutupnya.


Penulis: Kontributor Bandung, Reni Susanti
Editor: Ana Shofiana Syatiri

Kisah "Sniper" Terbaik Dunia Pegang Teguh Prinsip Hidup Sederhana (3)

Selasa, 3 Maret 2015 | 20:04 WIB

KOMPAS.com/Reni Susanti
Tatang Koswara


BANDUNG, KOMPAS.com - Tatang Koswara ialah tentara Indonesia yang masuk ke daftar penembak jitu atau sniper terbaik di dunia, seperti tercantum dalam buku "Sniper Training, Techniques and Weapons". Dalam buku yang ditulis Peter Brookesmith itu, nama Tatang masuk ke daftar 14 besar Sniper’s Roll of Honour di dunia.

Kendati menyandang predikat sniper terbaik dunia, namun Tatang tetap hidup dalam kesederhanaan. Kesederhanaan tersebut menjadi prinsip hidup pria yang kini sudah berusia 68 tahun itu.[Baca juga: Kisah "Sniper" Terbaik Dunia Selamat dari Maut karena Merah Putih (2) dan Kisah "Sniper" Terbaik Dunia yang Kini Hidup dari Warung Makan (1)]

Suara mesin jahit terdengar sayup dari ruang keluarga. Tidak lebih dari 15 menit suara tersebut hilang, beriringan dengan kemunculan seorang perempuan setengah baya dari balik pintu ruangan tersebut.

“Silakan diminum. Maaf seadanya,” ujar Tati Hayati, istri Tatang Koswara (68), salah satu sniper (penembak jitu) terbaik dunia di kediamannya, Cibaduyut, Bandung, Senin (2/3/2014).

Tati mengatakan, sejak menikah dengan Tatang pada 1968, ia sudah terbiasa hidup sederhana. Misalnya dalam hal pakaian. Untuk pakaian keluarganya, ia jarang membeli baju. Biasanya ia membeli kain kiloan di Cigondewah atau Pasar Baru Bandung untuk kemudian dijahit.

“Pakaian untuk dipakai sendiri saja, tidak untuk dijual,” ucapnya sambil tersenyum.

Tatang menuturkan, kepandaian Tati dalam menjahit telah membantu ekonomi keluarga. Karena dengan menjahit, ada nilai ekonomi yang bisa dihemat. Ia mencontohkan, beberapa waktu lalu melihat pakaian di toko harganya Rp 300.000. Meski memiliki uang dengan jumlah tersebut, Tatang tidak membelinya. Ia mengantar sang istri mencari kain kiloan dan menjahitnya.

Hidup sederhana memang sudah diterapkan Tatang dan Tati sejak membina rumah tangga. Bahkan bagi Tatang, ketika dirinya menyatakan bergabung ke TNI, bayangan hidup sebagai orang kaya tak pernah terlintas sedikitpun. Karena menjadi TNI seperti burung yang diberi gaji maupun makan tepat pada waktunya.

“Menjadi TNI tidak akan kelaparan, tapi tidak akan kaya. Saya sudah siap dengan itu. Makanya, saat akan menikah saya bertanya pada istri apa siap hidup sederhana dan mungkin pas-pasan. Ternyata istri saya mau,” imbuhnya.

Begitupun saat pertama kali ia menyerahkan gaji ke istrinya. Saat itu, Tatang berpesan agar Tati pintar dalam mengelola keuangan yang seadanya. Namun tanpa diberi tahu, sang istri pintar dalam mengelola keuangan. Pengalamannya di Persatuan Istri Prajurit (Persit) memberi banyak keahlian.

“Istri saya ini pintar memasak apapun. Mau makanan Padang, Madura, Sunda atau apapun. Ini semua belajar dari Persit,” tuturnya.

Karena kelihaiannya tersebut, ia dan sang istri pernah berbisnis katering untuk pabrik. Pegawai pabrik menyukai masakan sang istri, selain karena enak, menu yang ditawarkan beragam. Misalnya, hari Senin makanan Sunda, lalu Selasa makanan Padang, Rabu makanan Madura, dan seterusnya.

Namun kini ia dan istrinya hanya menjalankan bisnis rumah makan di Kodiklat TNI AD Bandung. Di Pujasera Serdadu, rumah makan berukuran 4x3 meter tersebut, Tatang dan istrinya bahu-membahu menjalankan bisnisnya. Kini, setelah divonis penyakit jantung, rumah makan tersebut dilanjutkan oleh anaknya.

Tatang mengatakan, suka duka menjadi tentara yang mengabdikan hidup hanya bagi negara menjadi bagian hidupnya sehari-hari. Namun ia tidak pernah menyesal menjadi tentara. Bahkan, ia merasa bangga, apalagi ketika ia berhasil membesarkan keempat anaknya dengan baik. Bahkan anak laki-lakinya kini menjadi pengacara.

“Anak saya enggak ada yang jadi tentara. Tapi ada menantu saya yang jadi tentara. Satu mantunya lagi seorang arsitek,” tutupnya menceritakan buah dari kehidupan sederhananya. (habis)


Penulis: Kontributor Bandung, Reni Susanti
Editor: Farid Assifa

Kisah "Sniper" Terbaik Dunia Selamat dari Maut karena Merah Putih (2)

Selasa, 3 Maret 2015 | 17:03 WIB


KOMPAS.com/Reni Susanti
Tatang Koswara


BANDUNG, KOMPAS.com — Namanya Tatang Koswara. Dia masuk dalam daftar penembak jitu atau sniper terbaik di dunia, seperti tercantum dalam buku Sniper Training, Techniques and Weapons. Dalam buku yang ditulis Peter Brookesmith itu, nama Tatang masuk dalam daftar 14 besar Sniper’s Roll of Honour di dunia.

Kini, usianya 68 tahun. Setelah pensiun dari dinas, Tatang dan keluarga menyandarkan hidup dari warung nasi yang mereka kelola. (Baca juga: Kisah "Sniper" Terbaik Dunia yang Kini Hidup dari Warung Makan (1)).


Sebuah koper tergeletak di dekat pintu ruang tamu. Tak jauh dari sana, terlihat sejumlah foto Tatang berseragam lengkap dan sejumlah plakat penghargaan. Di depannya, terlihat hiasan berupa bagian senjata yang ditambahkan pemanis baret hijau TNI AD. 

Siapa pun yang datang bisa langsung mengenal siapa sang pemilik rumah dari ruang tamu sederhana ini. Sebagai seorangsniper, kehidupan Tatang sangat dekat dengan senjata. Padahal, dulu, ia tidak sengaja nyemplung di dunia militer. 

"Ayah saya memang seorang tentara. Tapi, saya (awalnya) tidak berniat untuk menjadi tentara," ucap Tatang di kediamannya di lingkungan kompleks TNI AU, Cibaduyut, Bandung, Senin (2/3/2015). 

Namun, nasib berkata lain. Saat itu, tepatnya pada tahun 1967, Tatang disuruh ibunya mengantar sang adik untuk mendaftar menjadi anggota TNI. Saat melakukan tes, dia bertemu dengan sejumlah perwira Dandim di Banten yang mengenalnya. Tatang pun ditanya kenapa tidak ikut daftar. 

"Saya kenal dengan perwira Dandim karena sebelumnya juara sepak bola. Karena juara sepak bola itu juga dan beberapa prestasi lainnya, saya diminta para perwira Dandim untuk daftar jadi anggota TNI," ujar Tatang. 

Setelah pulang ke rumah, Tatang remaja sempat bingung. Hingga keesokan harinya, dia menyiapkan semua persyaratan dan mendaftarkan diri lewat jalur tamtama. 

Sesuai dugaan, Tatang lulus, sedangkan adiknya harus mencoba tahun depan untuk bergabung ke TNI AD. 


Berprestasi
KOMPAS.com/Reni SusantiTatang Koswara

Selama di dunia militer, Tatang mendapat sorotan dari atasannya. Pengalamannya hidup di kampung membuat pelajaran militer menjadi hal yang tak sulit baginya, baik dalam hal fisik, berenang, maupun menembak.

Hingga tahun 1974-1975, Tatang bersama tujuh rekannya terpilih masuk program mobile training teams (MTT) yang dipimpin pelatih dari Green Berets Amerika Serikat, Kapten Conway.

"Tahun itu, Indonesia belum memiliki antiteror dan sniper. Muncullah ide dari perwira TNI untuk melatih jagoan tembak dari empat kesatuan, yakni Kopassus (AD), Marinir (AL), Paskhas (AU), dan Brimob (Polri). Namun, sebagai langkah awal, akhirnya hanya diikuti TNI AD," imbuhnya.

Dalam praktiknya, Kopassus pun kesulitan memenuhi kuota yang ada. Setelah seleksi fisik dan kemampuan, dari kebutuhan 60 orang, Kopassus hanya mampu memenuhi 50 kursi.

Untuk memenuhi kekosongan 10 kursi, Tatang dan tujuh temannya dilibatkan menjadi peserta. Tatang dan 59 anggota TNI AD dilatih Kapten Conway sekitar dua tahun. Mereka dilatih menembak jitu pada jarak 300, 600, dan 900 meter. Tak hanya itu, mereka juga dilatih bertempur melawan penyusup, sniper, kamuflase, melacak jejak, dan menghilangkannya.

Dari dua tahun masa pelatihan, hanya 17 dari 60 orang yang lulus dan mendapat senjata Winchester model 70.

Seperti dikutip majalah Angkasa dan Shooting Times, Winchester 70 yang disebut "Bolt-action Rifle of the Century" ini juga digunakan sniper legendaris Marinir AS, Carlos Hathcock, saat perang Vietnam. Senjata ini memiliki keakuratan sasaran hingga 900 meter.

Rupanya senjata dan ilmu yang diperoleh dari pasukan elite Amerika Serikat ini membantu Tatang dalam pertempuran. Sebab, setelah itu, Tatang ditarik Kolonel Edi Sudrajat, Komandan Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdiktif) Cimahi, menjadi pengawal pribadi sekaligus sniper saat terjun ke medan perang di Timor Timur (1977-1978).

Ada dua tugas rahasia yang disematkan pada dua sniper saat itu (Tatang dan Ginting). Pertama, melumpuhkan empat kekuatan musuh, yaitu sniper, komandan, pemegang radio, dan anggota pembawa senjata otomatis. Kedua, menjadi intelijen. Intinya masuk ke jantung pertahanan, melihat kondisi medan, dan melaporkannya ke atasan yang menyusun strategi perang. Bahkan, ada kalanya sniper ditugaskan untuk mengacaukan pertahanan lawan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi jatuhnya korban.

"Lawan kita itu Pasukan Fretilin yang tahu persis medan di Timtim. Mereka pun punya kemampuan gerilya yang hebat, makanya Indonesia menurunkan sniper untuk mengurangi jumlah korban," ujarnya.


KOMPAS.com/Reni SusantiTatang Koswara beserta istri.
Selamat karena Merah Putih

Pada suatu hari, Tatang ditugaskan masuk ke jantung pertahanan lawan. Tanpa disadari, Tatang berada di tengah kepungan lawan. Ada 30 orang bersenjata lengkap di sekelilingnya. Tatang terperangkap dan tak bisa bergerak sama sekali. Dalam pikirannya hanya ada satu bayangan, kematian. Namun, sebelum mati, ia harus membunuh komandannya terlebih dahulu.

"Posisi komandannya sudah saya kunci dari pukul 10.00 WIB. Tapi, saya juga ingin selamat, makanya saya menunggu saat yang tepat. Hingga pukul 17.00 WIB, komandan itu pergi ke bawah dan saya tembak kepalanya," tuturnya.

Namun, ternyata, di bawah jumlah pasukan tak kalah banyak. Tatang dihujani peluru dan terkena dua pantulan peluru yang sebelumnya mengenai pohon.

"Darah mengalir deras hingga sudah sangat lengket. Tapi, saya tidak bergerak karena itu akan memicu lawan menembakkan senjatanya," ucapnya.

Tatang baru bisa bergerak malam hari. Ia mencoba mengikatkan tali bambu di kakinya. Dengan bantuan gunting kuku, dia mencongkel dua peluru yang bersarang di betisnya. Namun, darah tak juga berhenti mengalir. Ia pun melepas syal merah putih tempat menyimpan foto keluarga. Sambil berdoa, dia mengikatkan syal tersebut di kakinya.

"Saya memiliki prinsip, hidup mati bersama keluarga, minimal foto keluarga. Saya pun berdoa diberi keselamatan agar bisa melihat anak keempat saya yang masih dalam kandungan, lalu mengikatkan syal merah putih. Ternyata, darah berhenti mengalir. Merah putih menjadi penolong saya," ungkapnya.

Selama empat kali masuk ke medan perang, Tatang mengatakan, pelurunya telah membunuh 80 orang. Bahkan, dalam aksi pertamanya, dari 50 peluru, 49 peluru berhasil menghujam musuh.

Satu peluru sengaja disisakannya. Ini untuk memenuhi prinsip seorang sniper yang pantang menyerah. Sebagai seorang sniper, dalam keadaan terdesak, dia akan membunuh dirinya sendiri dengan satu peluru tersebut.

Lewat kelihaiannya itulah, Tatang didaulat menjadi salah satusniper terbaik dunia, seperti dituliskan dalam buku yang ditulis Brookesmith itu. Tatang mencetak rekor 41 di bawah Philip G Morgan (5 TH SFG (A) MACV-SOG) dengan rekor 53 dan Tom Ferran (USMC) dengan rekor 41. Tatang memperoleh rekor tersebut dalam perang di Timor Timur pada 1977-1978.


Penulis: Kontributor Bandung, Reni Susanti
Editor: Caroline Damanik

Selasa, 03 Maret 2015

Kisah "Sniper" Terbaik Dunia yang Kini Hidup dari Warung Makan (1)

Selasa, 3 Maret 2015 | 11:57 WIB

KOMPAS.com/Reni Susanti
Tatang Koswara




BANDUNG, KOMPAS.com — Mata Tati Hayati terfokus pada angka jarum jam yang menunjukkan pukul 05.00 WIB. Melihat angka tersebut, Tati mempercepat gerakannya.

Dibantu sang suami, Tatang Koswara (68), ia menyiapkan segala perlengkapan untuk pergi ke Kodiklat TNI AD di Jalan Aceh, Bandung, tempat warung makannya berada.

Langkah Tati saat itu tampak tergesa karena seharusnya ia meninggalkan rumahnya di Cibaduyut pukul 05.00 WIB sehingga bisa sampai di warung pukul 05.30 WIB dan memulai jualan pukul 06.30 WIB pada saat anggota TNI AD sarapan.

Ada beberapa menu yang ditawarkan dari warung miliknya, yakni soto, gulai, dan ayam goreng. Satu paket makanan dijual seharga Rp 12.000-Rp 15.000.

"Hasil jualan tidak terlalu besar, apalagi sekarang saingannya makin banyak, tetapi lumayan untuk tambah-tambah," ucap Tati di kediamannya, di lingkungan Komplek TNI AU, Cibaduyut, Bandung, Senin (2/3/2015).  

Tati menjalankan usaha warung tersebut sejak suaminya pensiun tahun 1996. Pangkat terakhir sang suami adalah pembantu letnan satu (peltu) sehingga uang pensiun yang diperoleh tidak begitu besar. Untuk mendapat uang tambahan, Tatang dan Tati bahu-membahu menjalankan warung makan tersebut dan sesekali melatih yuniornya di TNI AD.

"Saya yang memasak, suami yang mengiris daging. Kalau saat masak tiba-tiba kurang bumbu seperti cabai, suami saya yang pergi ke Pasar Cihapit untuk membelinya," tutur Tati.

Namun, sejak suaminya divonis serangan jantung dan menjalankan operasi pemasangan ring, kegiatannya di warung berkurang. Kini, yang menjaga warung adalah anaknya yang paling besar, Pipih Djuaningsih.

Di tengah kesederhanaannya, Tatang selalu bersyukur karena mereka sekeluarga memiliki rumah, meski sederhana. Paling tidak, kondisinya masih lebih jika dibandingkan sejumlah teman seangkatannya yang menghabiskan masa pensiun di rumah kontrakan atau saudara karena tidak memiliki rumah.

Namun, siapa yang menyangka bahwa Tatang adalah salah satu penembak jitu atau sniper terbaik di dunia. Dalam buku Sniper Training, Techniques and Weapons (2000) yang ditulis Peter Brookesmith, Tatang masuk 14 besar dalam urutan Sniper’s Roll of Honour di dunia.

Tatang mencetak rekor 41 di bawah Philip G Morgan (5 TH SFG (A) MACV-SOG) dengan rekor 53, dan Tom Ferran (USMC) dengan rekor 41. Tatang memperoleh rekor tersebut dalam perang di Timor Timur pada 1977-1978.

Di bawah komando Letnan Kolonel Edi Sudrajat, Tatang menjadisniper yang masuk ke jantung pertahanan musuh di daerah pertahanan lawan di Remexio, Lautem, Viqueque, Aileu, Becilau, dan Bobonaro.

"Dulu Pak Edi Sudrajat bilang ini misi rahasia, tidak boleh diungkapkan sebelum diperintahkan. Saya menyimpan ini rapat-rapat, termasuk pada istri. Namun kini, orang luar (asing) yang mengungkapkannya terlebih dahulu," ungkapnya sambil tersenyum.

Saat ini, Tatang masih tampak gagah dan bugar meski divonis mengidap gejala penyakit jantung. Sorot mata ataupun ingatannya masih sangat tajam. Itu terlihat saat Tatang menceritakan perjalanan hidupnya terutama saat masa perang di Timor Timur.


BERSAMBUNG


Penulis: Kontributor Bandung, Reni Susanti
Editor: Caroline Damanik

Sabtu, 28 Februari 2015

Misteri Kuburan Massal Tragedi 1965 Mulai Terkuak

Penelusuran pegiat HAM, identitas korban sudah diperoleh.



Oleh : Suryanta Bakti Susila

Sabtu, 28 Februari 2015 | 06:11 WIB



Kuburan massal korban tragedi 1965 di Semarang. (VIVA.co.id/Dwi RoyantoDwi Royanto (Semarang))




VIVA.co.id - Teka-teki tentang misteri kuburan massal korban tragedi 1965 di Semarang, Jawa Tengah, mulai terkuak. Sebagian identitas para korban pada masa tragedi 30 S/PKI yang dimakamkan secara massal di satu liang itu kini mulai diketahui.

Berdasarkan penelusuran Pegiat HAM Semarang dalam kurun Januari hingga Februari 2015, di kuburan massal yang terletak di Dusun Plumbon Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, itu sudah didapat delapan identitas korban.

"Delapan korban yang diketahui identitasnya ini merupakan warga Kabupaten Kendal. Sebab saat peristiwa 1965 itu terjadi, Dusun Plumbon secara administratif memang masuk wilayah Kabupaten Kendal," kata Koordinator aktivis, Yunanto Adi kepada VIVA.co.id di Semarang, Jumat 27 Februari 2015.

Kedelapan korban yang diketahui identitasnya itu adalah Mutiah (dulunya guru TK), Soesatjo (dulunya pejabat teras Kendal), Sachroni, Darsono, Yusuf (dulunya carik), Kandar (carik), Dulkhamid, dan Surono.

Delapan identitas korban yang berhasil diungkap tersebut, kata Yunanto, semakin menjadi titik terang pengungkapan seluruh korban kuburan massal Plumbon tersebut. Sebab, ada dua versi jumlah korban yang bersemayam di dalam satu liang tersebut.

Versi pertama, kesaksian warga menyebut ada 24 korban yang dikuburkan. Namun ada pula saksi lain yang menyebutkan jumlah korban yang dimakamkan sebanyak 12 orang.

Terpisah, Pemimpin Gereja Kebon Dhalem Semarang, Romo Aloys Budi Purnomo mengatakan, kegiatan HAM berkaitan kuburan massal di Semarang ini akan sangat menantang aspek kemanusiaan masyarakat untuk memberikan penghormatan yang sepantasnya. Sehingga, upaya pemberian nisan dan penguburan secara layak adalah yang terbaik dilakukan.

"Ya, harus menata kembali, menjadikan tempat yang pantas kepada mereka. Sekurang-kurangnya membongkar dan memakamkan mereka kembali secara layak. Kalau sementara dipasangi nisan lantaran masih menunggu petunjuk Komnas HAM mengingat kuburan itu merupakan barang bukti yang tidak bisa diperlakukan sembarangan, ini upaya yang baik," katanya.