Tampilkan postingan dengan label Kemanusiaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kemanusiaan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Maret 2015

Tatang Sang "Sniper" Meninggal karena Serangan Jantung

Rabu, 4 Maret 2015 | 08:55 WIB

KOMPAS.com/Reni Susanti
Kondisi di rumah duka sniper terbaik dunia asal Bandung, Tatang Koswara.



BANDUNG, KOMPAS.com — Sniper terbaik dunia asal Bandung, Tatang Koswara, meninggal karena serangan jantung, Selasa (3/3/2015) sekitar pukul 20.00 WIB. Istri almarhum, Tati Hayati, mengatakan, suaminya memiliki riwayat penyakit jantung. Almarhum pernah dioperasi pemasangan ring di jantungnya.

"Menurut dokter, Bapak meninggal terkena serangan jantung," ujar Tati di rumah duka, di daerah Kompleks TNI AL, Cibaduyut, Bandung, Rabu (4/3/2015).

Tati mengatakan, kegiatan suaminya sebulan terakhir lebih padat dari biasanya. Tamu silih berganti, di antaranya wawancara dengan berbagai media massa.

"Bapak kecapekan sekaligus begitu bahagia kayaknya, jadi penyakit jantungnya kambuh," ucap Tati.

Dari cerita Tati, Tatang bertolak dari Bandung menuju Jakarta pada Selasa (3/3/2015) pagi. Sesampainya di Jakarta, Tatang mengunjungi Mabes TNI AD dan dilanjutkan wawancara. Seusai itu, almarhum ke hotel untuk beristirahat dan persiapan untuk acara Hitam Putih yang disiarkansecara live di televisi.

"Jam 17, Bapak masih mencari makan sendiri. Setelah itu kami pergi ke Trans 7 untuk acara Hitam Putih," imbuhnya.

Saat diwawancara Dedi Corbuzier, Tatang sudah menunjukkan perbedaan. Napas almarhum terlihat tersengal dan kata-katanya kadang terbata. Namun, keluarga tidak menaruh curiga.

"Beres segmen pertama ada istirahat shalat maghrib. Bapak diajakngobrol Dedi dan anak kami yang bungsu mengingatkan Bapak untuk meminum obat," ucapnya.

Tatang menunjukkan obat yang diminum ke anak bungsunya. Tak lama berselang, Tatang sesak napas dan pingsan. Dalam perjalanan ke rumah sakit, Tatang meninggal.

Almarhum meninggalkan istri dan empat orang anak. Rencananya, Tatang akan dimakamkan secara militer di TPU terdekat. Dalam wasiatnya, Tatang menolak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Padalarang.

"Bapak dapat jatah di Taman Makan Pahlawan Padalarang. Tapi kasihan kejauhan, jadinya dimakamkan di TPU terdekat saja," tutupnya.


Penulis: Kontributor Bandung, Reni Susanti
Editor: Ana Shofiana Syatiri

Sabtu, 13 April 2013

Segerakan Bangun Danau 100 Hektare untuk Tanggulangi Banjir Cieunteung



jakarta.tribunnews.com
SOREANG, (PRLM).- Pembangunan danau seluas 100 hektare di kawasan Rancaekek sangat mendesak, terkait banjir yang kerap kali melanda Kabupaten Bandung. Diharapkan dengan pembangunan danau ini bahkan bisa mengurangi banjir Cieunteung yang kian parah.

Hal di atas dikatakan oleh anggota Komisi A DPRD Kabupaten Bandung, Cecep Suhendar saat diwawancarai di sela-sela acara silaturahmi wartawan dengan DPRD Kabupaten Bandung di Stadion Si Jalak Harupat, Jumat (12/4/13).

Cecep menjelaskan bahwa banjir yang kerap kali melanda Kabupaten Bandung ini bukan menjadi musibah lagi, namun sudah menjadi PR bersama antara dewan dan SKPD.

"Akan ada pembahasan konstruktif mengenai permasalahan ini pada tanggal 18 (April) mendatang, jadi dewan dan eksekutif akan diberi tugas-tugas yang jelas untuk menyelesaikannya," kata Cecep.

Lalu kata Cecep akan dibahas tentang pembangunan danau ini, dengan rencana awal pembangunan danau seluas 400 hektare di kawasan timur Kabupaten Bandung.

"Tapi sebenarnya jika 100 hektare saja danau atau kanal dibangun sudah bisa mengurangi banjir, karena sungai Citarum sudah tak sanggup lagi menampung air hujan, apalagi saat musim hujan seperti sekarang," katanya. (A-211/A_88)***

Rabu, 10 April 2013

Saat Bicara Tatap Muka, 50% Orang Bahagia dan Tertawa



MAIL ONLINE/"PRLM"




CHESHIRE, (PRLM).- Teman-teman di Facebook tidak bisa menggantikan teman dalam kehidupan nyata, menurut psikolog.

Sebuah studi menemukan, bahwa orang-orang akan lebih bahagia dan tertawa 50 persen ketika berbicara tatap muka dengan teman atau melalui webcam dibanding saat menggunakan situs jaringan sosial.

Dr Sam Roberts, dosen senior di University of Chester, mengatakan situs-situs tersebut tidak membantu orang membuat persahabatan sejati.

Berdasarkan dua kuesioner, ia menemukan tidak ada hubungan antara penggunaan Facebook dan orang dengan kelompok besar dari teman-teman atau hubungan intens yang lebih emosional.

Dr Roberts, yang karyanya disajikan pada konferensi British Psychological Society di Harrogate, mengatakan: "Kesimpulannya bahwa hubungan kita tidak tergantung pada kuantitas komunikasi kita, melainkan bergantung pada kualitas dan bahkan Skype lebih baik dalam meningkatkan kualitas komunikasi kita dibanding waktu yang dihabiskan di laman Facebook."

Bahkan, menurut penelitian itu, berbicara di telepon dan SMS-an tidak membuat orang merasa lebih baik dibanding berbagi senyum. Dari studi ini menunjukkan, kualitas bukannya kuantitas komunikasi yang paling penting untuk menjaga pertemanan seumur hidup.

Seperti dilaporkan Daily Mail, orang-orang menemukan hubungan yang paling memuaskan berasal dari beberapa teman dekat, tidak peduli apa jenis media sosial yang Anda gunakan untuk komunikasi.

Peneliti mengklaim, orang-orang yang ingin memiliki hubungan lebih besar di dunia menggunakan Facebook akan menemui kekecewaan karena penyebarannya terlalu tipis. (Aya/A-147)***

Selasa, 02 April 2013

Ditemukan Kutu Dalam Beras untuk Korban Banjir

Tidak Jadi Dibagikan


 


USEP USMAN NASRULLOH/"PRLM"

WARGA menunjukkan kutu yang ada dalam karung berisi beras bantuan untuk korban banjir di RW 01 Kampung/Desa Bojongsoang, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Selasa (2/4). Bantuan beras yang diterima pada Jumat (29/3) tersebut ditemukan banyak kutu sehingga belum didistribusikan. Jumlah bantuan beras untuk korban banjir di desa tersebut sebanyak sepuluh karung beras kapasitas 15 kg per karungnya.*



SOREANG, (PRLM).- Beras bantuan untuk korban banjir di Desa Bojongsoang, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung tidak dikonsumsi masyarakat. Hal itu buntut dari ditemukannya kutu di dalam beras. Dari 10 karung beras bantuan, ditemukan kutu pada salah satu karung. Dengan demikian, sembilan karung sisanya tidak dibuka karena dikhawatirkan ada kutu juga.

Ditemukannya kutu pertama kali di RW 1 Kampung Bojongsoang. Penemuan itu, membuat RW 2, 9, dan 10 akhirnya tidak membuka karung beras itu dan mendistribusikannya ke warga.

Wakil Ketua RW 1 Dedy Sutendi mengatakan, beras tersebut diketaui ada kutu yakni pada Jumat (29/3) satu hari setelah disalurkan oleh desa. "Ketika karung beras dibuka, ternyata di dalamnya ada kutu. Lantas beras tersebut di jemur. Ketika dijemur, ada rombongan yang mantau banjir," ucapnya dikediamannya, Selasa (2/4/2013).

Diakui dia, penemuan kutu di dalam karung berlogokan Bulog itu merupakan yang pertama kali. Dirinya pun heran, beras yang sama dengan raskin itu terdapat kutu di dalamnya.

Dengan temuan itu, Dedy sudah melaporkannya. Kemudian, dari pihak Bulog pun sudah mengklarifikasikannya. "Mereka tanya, apakah ini beras raskin atau bukan. Kita menjawab, apabila ini beras yang penyalurannya untuk bantuan korban banjir. Tetapi, jenisnya sama dengan beras raskin," ucapnya.

Untuk di RW 1, Dedy mengatakan apabila beras bantuan yang diterima yaitu satu karung. Ditambah satu dus bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung.

Ditambahkan dia, pada bencana banjir kali ini, ketinggan air mencapai 1,5 meter. Dengan korban mencapai 98 Kepala Keluarga (KK), 300 jiwa. Walau telah surut, warga tetap was-was.

Mengetahui adanya temuan kutu, Ketua RW 10 Kampung Cijagra, Wahna (62) mengatakan apabila beras tersebut hingga kini tidak dibuka. Bahkan dia simpan di kediamannya. "RW 10 mendapatkan empat karung karena paling banyak korban banjirnya. Dari empat, baru satu karung yang dibagikan, karena sempat basah kehujanan. Dan, saat dibagikan tidak ada kutu," ucapnya.

Karena takut ada kutu, Wahna memutuskan untuk menyimpan beras itu. Sebab, dirinya tidak mau membagikan beras berkutu kepada warga.

Sementara itu, Bendahara RW 9, Hendra Setiawan mengatakan, bantuan beras tidak ada kutu. Namun, menurut dia bantuan yang diterima tidak manusiawi. "Bantuan yang diberikan tidak manusiawi. Satu karung beras kan 15 kilogram. Sedangkan warga ada 400 KK. Mau berapa yang diberikan kepada mereka," ujarnya.

Tidak hanya beras, bantuan dari BPBD Kabupaten Bandung pun diakui tidak layik. Sebab, tidak sesuai dengan jumlah warga yang menjadi korban.

Bantuannya sendiri berupa satu dus mi instan, minyak goreng dua liter. Kemudian sarden 30 kaleng, makanan kaleng empat, saus sambal empat botol. "Ada juga empat buah selimut dan empat seragam SD. Mau dibagikannya bagaimana dengan jumlah warga yang ada?" Ucapnya.

Pejabat Sementara Kepala Desa Bojongsoang Elan Subarna mengatakan hingga kini belum ada pengganti dari beras yang terdapat kutu. "Ini bantuan beras diterima dari kecamatan. Kemudian disalurkan ke desa," ucapnya.

Ditambahkan Elan, pihaknya sudah menanggapi dari temuan adanya kutu. Diakui, itu merupakan yang pertama kali penemuan kutu. (A-195/A-147)***

Ketahuan Menikah, Siswa SMA Dilarang Ikut UN

Penulis : Fabian Januarius Kuwado | Selasa, 2 April 2013 | 12:35 WIB

 
Fabian Januarius Kuwado/ KOMPAS.COM
Siswa kelas XII SMA 7 Tangerang, Banten, bernama Muhammad Sudirman (17) mengadu ke Komnas PA, Selasa (2/4/2013). Ia mengadu karena dikeluarkan sekaligus dilarang mengikuti Ujian Nasional oleh sekolahnya.



JAKARTA, KOMPAS.com - Seorang siswa Kelas IIX SMA 7 Tangerang, Banten, bernama Muhammad Sudirman (17) dikeluarkan sekaligus dilarang sekolah mengikuti Ujian Nasional (UN). Sekolah menganggap Sudirman telah melanggar aturan sekolah lantaran telah menikahi gadis.

Saat menggelar testimoni kepada wartawan di Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Jalan TB Simatupang Nomor 33, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa (2/4/2013), Sudirman menuturkan menikahi kekasih 11 Februari 2013. Satu minggu kemudian, Sudirman dipanggil oleh guru mata pelajaran Budi Pekerti (BP) sekolah.

"Dia bilang saya sudah melakukan kesalahan karena menikah di usia saya sekarang, jadi enggak boleh sekolah lagi," ujar Sudirman.

Putra bungsu dari pasangan suami istri Suwandi dan Ilah, warga Kampung Pekong, Desa Saga, Balaraja, Tangerang, Banten itu melanjutkan, setelah mendapat teguran dari guru BP, ia masih bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar biasa. Bahkan, Sudirman sempat membayar uang sekolah Rp 500.000 akhir Februari 2013.

Sudirman mengaku baru mengetahui dirinya telah dikeluarkan dari SMA-nya pada 6 Maret 2013, saat dia sudah dua hari menjalani Ujian Akhir Semester. Dan sejak bertemu guru BP sebelumnya, tak ada lagi guru yang berkomunikasi dengannya tentang sanksi diberhentikan dari sekolahnya.

"Suratnya dikirim ke rumah, ke orangtua, kata sekolah tidak bisa ikut UN dan dikeluarkan dari sekolah. Saya kaget, tiba-tiba dikirim surat, tapi enggak ada yang kasih tau saya," ujarnya.

Beberapa hari setelahnya, orangtua Sudirman sempat mengajukan permohonan kepada pihak sekolah agar putranya dapat melanjutkan kegiatan belajar mengajar, paling tidak hingga lulus Ujian Nasional. Nahas, permohonan tersebut ditolak mentah-mentah oleh pihak sekolahnya.

Sudirman mengaku kecewa dengan perlakuan yang diterima dari sekolahnya. Di sisi lain, ia mengakui kesalahannya telah menikah meski masih berstatus sebagai pelajar. Namun, Sudirman mengaku pernikahan tersebut adalah sebuah pelajaran berharga dalam hidupnya dan Sudirman tak ingin mengabaikan pendidikannya.

Editor :Ana Shofiana Syatiri

Senin, 25 Februari 2013

Kloset Jongkok Mengesankan Orang Korea



MUKHIJAB/"PRLM"

DUA mahasiswa Woosong University, Daejon, Korsel membopong anak-anak balita berjilbab saat pesta seni pada Global Volunteer Program for Students 2012 yang diselenggarakan 17-24 Februari 2013 di Desa Tirtoadi, Mlati, Slemen.*



YOGYAKARTA, (PRLM).- Tradisi kloset jongkok sebagai tempat buang air besar dengan jongkok, menjadi kebiasaan aneh bagi orang Korea Selatan (Korsel). Tak heran, kloset jongkok dianggap sebagai tradisi paling mengejutkan (shock) sekaligus kenangan paling tak terlupakan bagi mereka.

Chanhee Na, mahasiswa jurusan keperawatan Woosong University Daejeon, Korsel, menyatakan terperanjat (shock) melihat kloset jongkok. “Saya dan kawan-kawan shock saat diperlihatkan fasilitas toilet dengan perlengkapan kloset jongkok. Ini pengalaman baru dan tidak pernah dijumpai di Korea,” kata dia, Minggu (24/2/13).

Chanhee bersama 28 mahasiswa menjalani Global Volunteer Program for Students 2012 di Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Sleman, 17 – 24 Februari 2013. Program kerja nyata mahasiswa Korea tersebut bekerjasama dengan Fakulta Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Kegaitan mereka pertukaran budaya, pengenalan bahasa dan kesehatan anak-anak, penghijauan. Mereka belajar dari warga tentang pembuatan kompos secara manual dan pupuk organic dari air kencing sapi.

Pondok wisata menjadi tempat menginap selama empat malam. Mereka mengira pondok wisatawan fasilitas kamar mandi, kamar tidur,dll berstandar internasional. “Kami mendapatkan kamar mandi dengan fasilitas kloset jongkok. Ini tidak terduga,” ujar dia.

Fasilitas lain yang mereka bayangkan perlengkapan mandi dengan shower atau bath tub. Kemjudian, usia mandi mengeringkan rambut dengan hair dryer atau pengering rambut. “Tidak ada shower di kamar mandi, adanya gayung. Sesudah mandi, teman-teman menghidupkan hair dryer, eh listrik padam,” kata Chanhee Na sambil tertawa.

Menurut dia fasilitas kamar mandi dengan kloset jongkok, tanpa shower dan listrik yang minim, menjadi kenangan, bukan sesuatu yang jelek dan memalukan dari desa wisata, melainkan tentang kondisi pedesaan yang cenderung alami. Ini menjadi bahan cerita setibanya di Korea. “Hal lain yang membuat kami takjut adalah buah durian. Buah sangat manis, bau wangi dan sangat mengejutkan lidah kami. Ini tidak pernah ada di Korea,” kata dia.

Dia menyatakan pengalaman di atas menjadi pengalaman menarik bagi teman-teman di kampus dan orang-orang Korea. Pengalaman lainnya sikap terbuka dari warga kepada tamu. “Saya exited (perasaan berbunga-bunga) dengan sambutan warga di desa. Mereka membuat kami seperti di kampong sendiri,” kata dia.

Kepala Desa Tirtoadi, Karjono menyatakan perilaku mahasiswa Korea patut diteledani oleh warga dan mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Indonesia. “Mereka cepat menyesauian dan tidak mengeluh dengan fasilitas di desa. Setiap selesai aktivitas, mereka membersihkan sampah dan merapikan seluruh perangkat yang mereka gunakan, ini tidak pernah dilakukan oleh mahasiswa Indonesia yang menjalani KKN,” ujar dia.

Direktur Aplikasi Sistem and Produk (System Application and Product/SAP Fakultas Ekonomi UII Primata Setyono menyatakan para mahasiswa Korea, termasuk para dosennya, sangat berbunga-bunga melihat kondisi alami di pedesaan. "Mereka tidak menyangka nuansa tradisional masih lekat di pedesaan Yogyakarta." (A-84/A-108)***

Selasa, 18 Desember 2012

Kerja Hanya 6 Hari Selama 9 Tahun, tetapi Tetap Digaji

Selasa, 18 Desember 2012 | 08:58 WIB

AFP
Kota Bologna


BOLOGNA, KOMPAS.com Sepandai-pandainya menyembunyikan kecurangan, akhirnya akan terbongkar juga. Seorang perempuan berusia 46 tahun dari Bologna, Italia, diganjar hukuman dua tahun penjara karena hanya bekerja selama enam hari di sebuah rumah sakit umum dalam jangka sembilan tahun.

Perempuan yang hanya disebutkan bernama Silvia S itu ditahan November lalu. Dia dianggap melakukan kecurangan dengan memanfaatkan dana yang berasal dari publik. Selain itu, dia juga telah memberikan informasi palsu mengenai dirinya, demikian dilaporkan kantor berita Italia, ANSA, akhir pekan lalu.

Rupanya, dalam kurun 9 tahun tersebut, dia mengaku sakit sehingga tidak masuk bekerja. Selain sakit, dia juga mengaku hamil dan melahirkan. Tidak hanya satu kali, tetapi juga dua kali. Padahal, dia sama sekali tidak sakit atau hamil dan melahirkan.

Selama kurun waktu tersebut, gaji yang berasal dari pembayaran pajak terus diterimanya. Wah.... (UPI/Joe)
 
Sumber :Kompas Cetak
Editor :Egidius Patnistik

Jumat, 30 November 2012

Setelah Rumah Sakit, Akan Dibangun Sekolah di Gaza

Jumat, 30 November 2012, 13:17 WIB

  Abdillah Onim
Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Distrik Beit Lahiya, Gaza utara, Palestina.


REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Indonesia akan membangun Sekolah Indonesia di Gaza, Palestina, setelah membangun Rumah Sakit Indonesia di kota yang sama yang sedang dalam tahap penyelesaian.

"Lahannya sudah tersedia di Bait Lahiya, Gaza Utara, seluas 5.000 meter persegi, proses pembangunannya segera dimulai," kata Direktur Aksi Cepat Tanggap (ACT) Doddy Cleveland di Gaza, Jumat.

Namun dia tidak memberikan penjelasan lebih rinci tentang pendanaan pembangunan sekolah itu maupun target penyelesaiannya.

Perwakilan ACT dan lembaga kemanusiaan yang lain mengunjungi Gaza bersama rombongan Komisi I DPR RI untuk menyerahkan bantuan kemanusiaan kepada korban agresi militer Israel.

Menurut Doddy, dalam kunjungan kali ini ACT membawa bantuan obat-obatan dan uang tunai senilai Rp 500 juta yang dihimpun dari masyarakat Indonesia.

"Obat-obatan akan diserahkan ke Rumah Sakit Al Shifa, dan uang tunai dikhususkan kepada anak-anak dan janda-janda syuhada korban kekejaman Israel. Setiap korban diberikan uang tunai 100 shekel atau sebanding Rp 400 ribu," ujar Doddy.

ACT juga memberikan paket makanan dan selimut, kata Doddy serta menambahkan bahwa sejak empat tahun lalu ACT rutin memberikan bantuan kepada Rumah Sakit Al Shifa senilai Rp100 juta per bulan.

Selain ACT, ada tujuh lembaga bantuan kemanusiaan termasuk Dompet Dhuafa, Yayasan Adara Relief Internasional, dan Komisi Nasional Untuk Rakyat Palestina (KNURP) yang mengunjungi Gaza.

KNURP menyerahkan bantuan kemanusiaan satu juta dolar AS atau sekitar Rp9,5 miliar dan Adara Reliel International membawa bantuan Rp1,5 miliar.

"Kami sudah menjalin kontak dengan Perhimpunan Wanita Palestina atau Women For Palestine yang membawahi 25 organisasi wanita Palestina untuk bantuan kemanusiaan tersebut," kata Maryam Rachmayani dari Adara Relief International.

Redaktur: Taufik Rachman
Sumber: antara

Berkah Hujan Bagi Ojek Payung Dadakan




BANDUNG, (PRLM).- Iki, adalah nama panggilan akrab teman-temannya. Seorang anak laki-laki berumur 10 tahun, kelas 5 SD yang bersekolah di SD Nurul Huda, Citarip Timur, Kota Bandung ini adalah tukang ojek payung dadakan. “Ngojek payung dari awal kelas 5,” ujarnya, Kamis (29/11/12).

Dia adalah anak yang ceria meskipun dengan keadaan kurang dari cukup dibandingkan dengan sebagian teman-temannya. “Yaah...lumayan bisa untuk bantu-bantu mama sama adik-adik saya,” ujarnya berharap untuk bisa membantu ibunya yang hanya seorang ibu rumah tangga biasa dan ayahnya yang hanya seorang kuli angkut barang di pasar.

Rizky Firmansyah nama lengkapnya, adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Dia mengais rezeki di kala hujan deras yang mengguyur kota. “Saya jadi tukang ojek payung nggak kayak teman-teman saya yang selalu berprofesi jadi tukang ojek payung. Saya cuman ikut-ikutan saja. Sehari-hari saya cuman tukang koran dan siswa SD biasa. Jadi pas hujan gede aja saya jadi tukang ojek payung dadakan dan meninggalkan pekerjaan jadi tukang koran dulu,“ ujarnya.

Dengan berpenghasilan yang cukup lumayan berkisaran Rp 30 ribu per hari, dan memasang tarif Rp 5 ribu, pengojek payung ini berharap bisa untuk membantu keluarganya. (Risma-job/A-88)***

PBB Mengakui Status Palestina Menjadi Negara


Jumat, 30 November 2012 | 05:14 WIB
 
 
AFP PHOTO/STAN HONDA 
Seorang anggota delegasi memberi selamat kepada delegasi Palestina setelah hasil voting mendukung resolusi Palestina menjadi negara pemantau non anggota di PBB di Sidang Majelis Umum PBB di New York, AS, Kamis (29/11/2012).  
 
 
NEW YORK, KOMPAS.com — Sidang Majelis Umum PBB di New York, Kamis (29/11/2012) waktu setempat, akhirnya mengakui peningkatan status Palestina sebagai negara pemantau nonanggota dari status sebelumnya sebagai entitas pemantau yang diwakili PLO.

Berdasarkan hasil voting yang dilakukan, Palestina mendapat dukungan mayoritas, yakni 138 anggota majelis umum PBB. Sementara hanya 9 anggota yang menolak dan sisanya 41 anggota abstain.

Dengan status negara pemantau nonanggota, Palestina bisa bergabung ke dalam organisasi-organisasi PBB serta terlibat dalam perjanjian-perjanjian internasional. Hal ini merupakan langkah maju bagi Palestina dalam upaya diplomasinya memperoleh kemerdekaan.

Sebelumnya, Presiden Palestina Mahmoud Abbas, dalam pidato menjelang voting digelar, menyebut pengakuan PBB bagi peningkatan status Palestina itu merupakan "napas baru" menuju negosiasi damai dengan Israel.

"Upaya kami bukan untuk mengakhiri proses negosiasi, yang telah kehilangan tujuan dan kepercayaan, melainkan bertujuan untuk mencoba napas baru untuk perundingan dan meletakkan fondasi yang kuat sesuai kerangka acuan resolusi internasional yang relevan agar negosiasi berhasil," ujar Abbas.

Namun, bagi Israel, meskipun status Palestina di PBB adalah negara pemantau nonanggota, itu tidak berarti pengakuan terhadap adanya negara Palestina. Israel malah menuding upaya Palestina akan membuat mandek dan berantakan peta jalan damai kedua belah pihak. Penolakan Israel atas resolusi tersebut didukung sekutunya, seperti AS dan Kanada.

Sumber :AFP, AP
Editor :Tri Wahono
 

Selasa, 10 Juli 2012

Beladiri "Merpati Putih" Pukau Pasukan UNIFIL

Jumat, 6 Juli 2012 | 16:45 WIB


 DOKUMEN Indo FPC XXVI D-2/UNIFIL 
Prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas UNIFIL, khususnya Satgas Indo FPC XXVI-D2, mempertontonkan seni beladiri Merpati Putih di Lebanon. 


LEBANON, Kompas.com - Prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon), khususnya Satgas Indo FPC (Indonesian Force Protection Company) XXVI-D2, mempertontonkan seni beladiri tangan kosong asli Indonesia, Merpati Putih, di Lebanon. Mereka mementaskan beladiri tersebut pada acara Medal Parade Tahun 2012, yang sekaligus ingin menunjukan kepada dunia bahwa Indonesia mempunyai beladiri yang tidak kalah dengan beladiri dari negara-negara lain.

Untuk memeriahkan acara ini, Satgas Indo FPC XXVI-D2 menampilkan pertunjukan beladiri Merpati Putih yang dibarengi dengan pertunjukan Debus. Personel yang melaksanakan pertujukan beladiri Merpati Putih ini terdiri dari 8 satgas Indo FPC XXVI-D2, yaitu Lettu Inf Gilang Nugraha, Kopda Bambang Irawanto, Praka Mukti Ali, Pratu Heri, Sertu Abdul Manan, Kopka Salimun, Koptu Ikhsan dan Pratu Rosi.

Pertujukan Merpati Putih kali ini menampilkan kemampuan mematahkan benda-benda keras, diawali dengan pematahan gagang pompa dilanjutkan dengan pematahan beton dengan satu tangan, dan diakhiri pematahan kikir dengan satu jari. Penonton dibuat berdecak kagum dan setengah tidak percaya, kikir yang merupakan benda keras bisa dipatahkan hanya dengan satu jari. Ada sebagian orang asing yang berpendapat bahwa beladiri Merpati Putih menggunakan magic atau mantra.

Merpati Putih adalah Perguruan Pencak Silat yang ilmiah, tidak ada magic ataupun mantra. Semua realitas dan logis. Kemampuan pesilat Merpati Putih mematahkan benda-benda keras seperti kikir, baja, gagang pompa, pipa beton dan lainnya, didapat dari zat yang disebut Adenose Triposphat (ATP).

Acara medal parade kontingen Garuda kali ini dihadiri langsung oleh Force Commander and Head of Mission (FC and HoM) UNIFIL Maj Gen Paolo Serra selaku inspektur upacara. Dalam amanatnya, dia menyampaikan rasa terima kasih atas konsistensi kontingen Garuda dalam melaksanakan mandat PBB sesuai dengan Resolusi 1701.

Acara medal parade kontingen Garuda Satgas UNIFIL tahun 2012 diakhiri dengan kegiatan defile pasukan upacara, dan dilanjutkan dengan penyematan medali kepada seluruh kontingen Garuda yang hadir di lapangan upacara. Hampir seluruh undangan menyatakan apresiasi yang luar biasa khususnya terhadap pelaksanaan medal parade yang sukses, serta penghargaan atas pengabdian yang telah diberikan oleh kontingen Garuda selama berada di Lebanon. (*)
 
Editor :Aloysius Gonsaga Angi Ebo

Asal Usul Pulau Christmas Australia

Jadi Tujuan Imigran Gelap

 

TOURIST DESTINATIONS/"PRLM"
PULAU Christmas , pulau mini yang terletak antara wilayah Indonesia dan Australia.*
 
 
SYDNEY, (PRLM).- Kepulauan Christmas kerap kali menjadi sorotan dunia. Pasalnya, pulau mini yang terletak antara wilayah Indonesia dan Australia itu sering kali menjadi tujuan imigran gelap untuk masuk ke wilayah Australia.

Selama ini, itulah yang kita dengar, Pulau Christmas identik dengan tempat penampungan para imigran gelap yang ingin menetap di Australia. Selebihnya, kita tidak tahu banyak. Padahal, kehidupan di Pulau Christmas tidak melulu terkait dengan masalah imigran gelap asal Timur Tengah dan Asia Selatan.

Berdasarkan data sejarah, kepulauan tersebut kali pertama ditemukan oleh seorang warga Inggris bernama Kapten William Mynors pada 25 Desember 1643. Saat itu, Kapten Mynors sedang berlayar dari Inggris ke India.

Di tengah jalan, dia melewati pulau yang kemudian dinamakan Christmas karena tanggal penemuan pulau tersebut bertepatan dengan hari Natal. Namun, kepulauan tersebut baru dicantumkan dalam peta dunia pada 1666 oleh ahli peta asal Belanda Pieter Goos dengan nama Mony yang artinya "belum jelas".

Saat itu, data tentang pulau kecil tersebut memang tidak lengkap. Kapten Mynors sebagai penemu pertama pulau itu, tidak meninggalkan banyak catatan. Informasi yang lebih detail soal pulau tersebut baru didapatkan setelah penjelajah laut asal Inggris William Dampier dengan kapalnya yang bernama Cygnet, tiba di Christmas Island pada Maret 1688. Saat itu dia berangkat dari wilayah Indonesia yang masih dalam jajahan Belanda.

Sebenarya, tujuan awal Dampier adalah Pulau Cocos, tetapi cuaca buruk membuat kapalnya dialihkan ke arah ke timur dan akhirnya terdampar di Pulau Christmas. Dalam catatannya berjudul 'Voyages", Dampier menulis bahwa saat di adan krunya tiba di sana, pulau tersebut tidak berpenghuni.

Penduduk pertama yang menetap di pulau tersebut adalah dua kru kapalnya, sedangkan Dampier dan kru lainnya melanjutkan penjelajahan ke tempat lainnya. (Huminca/"PRLM"/A-108)***
 


Rabu, 04 Juli 2012

Peserta KAA yang Belum Juga Merdeka

Konferensi Internasional Palestina

Penulis : Didit Putra Erlangga Rahardjo | Rabu, 4 Juli 2012 | 11:22 WIB



BANDUNG, KOMPAS.com - Palestina adalah satu dari 29 peserta Konferensi Asia Afrika yang berlangsung pada tahun 1955. Namun, nasibnya belum seperti 28 peserta lain yang memperoleh kemerdekaan, Palestina hingga kini masih berjuang demi pengakuan internasional.

Hal itu dikemukakan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, sewaktu memberikan sambutan dalam Konferensi Internasional Al-Quds dan Palestina yang berlangsung di Hotel Savoy Homann, Bandung, Rabu (4/7/2012). Heryawan mengingatkan, KAA pada tahun 1955 menghasilkan Dasasila Bandung yang isinya menjadi landasan bagi negara untuk mencari kemerdekaannya.

"Kemerdekaan Palestina juga menjadi perhatian kita semua," kata Heryawan.
Beberapa pembicara telah memaparkan makalahnya, seperti Muhyiddin Hamidy dari Imamul Muslimin, hingga Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Fariz Mehdawi.

Konferensi ini berlangsung selama dua hari mulai Rabu hingga Kamis (5/7/2012). Ketua panitia, Agus Sudarmaji menturkan, hasil ini berupa rekomendasi kemerdekaan Palestina yang akan diperjuangkan dalam sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Editor :Rusdi Amral
 

Senin, 02 Juli 2012

Supaya Demokrasi Tak Terlalu Mahal



Oleh:
Jabar - Senin, 2 Juli 2012 | 08:31 WIB


INILAH.COM, Bandung - Tidak seorang pun menolak argumen bahwa demokrasi itu mahal. Sejak para kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat -tepatnya sejak 2005, mengikuti sistem pemilihan langsung presiden setahun sebelumnya– sudah begitu banyak uang negara dihamburkan.

Sebagian terbuang mubazir. Karena yang dibeli rakyat ternyata bukan demokrasi, tapi pemimpin korup.

Anggaran yang dibutuhkan untuk setiap kali pemilihan -apakah itu pemilihan presiden, DPR/DPRD, gubernur, bupati atau wali kota– berkisar antara Rp17.000 sampai Rp20.000 per pemilih.
Bayangkan, untuk perhelatan Pilgub Jabar saja, yang akan digelar Februari 2013, KPUD Jabar membutuhkan dana hampir Rp1 triliun. Jumlah tersebut diperlukan dengan asumsi pilkada digelar dua putaran dengan jumlah pemilih yang mencapai 33 juta orang dan dengan biaya per pemilih Rp19.000.

Selain pilgub, ada banyak pilkada tingkat kota dan kabupaten yang harus digelar setiap lima tahun. Anggaran yang harus disediakan pembayar pajak juga berkisar sekitar Rp19.000 per surat suara kali jumlah pemilih di masing-masing kota atau kabupaten. Maka diperlukan sekitar Rp20 miliar-Rp70 miliar per pilkada.

Angka tersebut belum termasuk dana yang harus dikeluarkan pasangan kontestan. Partai Gerindra Jabar mematok biaya Rp25.000 per pemilih yang harus disediakan pasangan calon wakil/gubernur. Jika, misalnya, pasangan kontestan menargetkan 17,2 juta suara, maka mereka harus mengeluarkan dana Rp430 miliar.

Seandainya ada lima pasangan yang bertarung memperebutkan kursi Jabar 1, berarti ongkos demokrasi untuk Pilgub Jabar saja bisa menembus angka Rp3 triliun. Plus Rp1triliun dari kas negara. Kalau ditambah dengan biaya pilkada di 26 kabupaten/kota di Jawa Barat, atau kalau semua biaya 226 pilkada yang akan digelar di seluruh Indonesia tahun ini dijumlahkan, angkanya pasti membuat kening kita berkerut.

Harus semahal itukah ongkos demokrasi di negeri yang berada di peringkat 63 dalam Failed States (Negara Gagal) Index 2012 ini? Mestinya tidak. Masalahnya begitu banyak orang yang mencari keuntungan dari setiap proses demokrasi.

Undang-Undang Nomor 12 tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menyediakan sedikit celah untuk penghematan dengan menggabungkan pilgub dan pilkada sekaligus. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam akan melakukannya Desember tahun ini.

Pilgub Jabar, pilkada Kota Sukabumi, Kota Cirebon, Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Bandung Barat pada Februari tahun depan juga akan digabungkan. Menurut perhitungan KPUD Jabar, anggaran negara yang bisa dihemat dari penggabungan pilgub dan empat pilkada ini mencapai Rp48,9 miliar. Lumayan.

Memang tidak sedikit yang menolak ide penggabungan tersebut dengan berbagai macam dalih, pertimbangan, atau kepentingan. Namun, kepentingan demi kemaslahatan bangsalah yang harus diprioritaskan.

Paradigma bahwa demokrasi itu mahal harus diubah. Dan itu bisa dilakukan jika semua undang-undang tentang pemilu direvisi untuk menutup setiap celah pemborosan yang memungkinkan pihak-pihak tertentu mencari keuntungan finansial dan materi dari setiap proses demokrasi.

*Tulisan Fokus InilahKoran, Senin (2/7/2012)

Rabu, 16 Mei 2012

Inilah Kronologi Penemuan Kotak Hitam

Kecelakaan Pesawat
Sabrina Asril | Hertanto Soebijoto | Rabu, 16 Mei 2012 | 10:37 WIB
 
 
TRIBUNNEWS.COM Kotak hitam atau black box ditemukan Kopassus pada Selasa (15/5/2012) di tebing Manik, Puncak Salak 1, Gunung Salak, Bogor. 
 
 
JAKARTA, KOMPAS.com — Tim Charlie Kopassus akhirnya menemukan kotak hitam atau black box di tebing Gunung Salak, Jawa Barat, Selasa (15/5/2012) pagi. Kotak hitam itu ditemukan di antara puing-puing sekitar 100 meter dari lokasi penemuan ekor pesawat. Hal ini diungkapkan Komandan Tim Charlie Kopassus, Lettu Infanteri M Taufik Akbar, Rabu (16/5/2012), saat dihubungi Kompas.com.

Taufik menceritakan kronologi penemuan kotak hitam itu. Awalnya, Tim Charlie Kopassus yang berjumlah lima orang menyisir dasar jurang dan tebing Gunung Salak yang menjadi lokasi kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 pada hari Rabu.

"Pada pukul 10.00, kami menemukan ada kotak yang kami curigai sebagai kotak hitam," tutur Akbar.

Kotak itu, katanya, tertimbun tanah dan puing-puing pesawat yang berserakan. Tim merasa curiga karena ada setengah badan kotak hitam yang menyembul ke permukaan.

"Ada bagian ujungnya masih berwarna oranye. Akhirnya kami gali, dan ketemu kotak itu," kata Akbar.
Kondisi kotak hitam, kata Akbar, sudah terbakar. Sebagian besar kotak yang bisa merekam percakapan pilot, ketinggian, dan kecepatan pesawat tersebut juga sudah menghitam akibat terbakar.

Akbar menjelaskan, lokasi penemuan kotak hitam itu berada 100 meter di atas lokasi ekor pesawat. Ekor pesawat Sukhoi Superjet sendiri ditemukan 300 meter dari lokasi tabrakan.

Untuk mengangkat kotak hitam itu, tim juga terpaksa harus menggunakan tali yang langsung diangkat menuju helikopter Super Puma milik TNI Angkatan Udara. Adapun kotak hitam atau black box adalah sekumpulan perangkat yang digunakan dalam bidang transportasi. Umumnya merujuk kepada perekam data penerbangan atau flight data recorder (FDR) dan perekam suara kokpit atau cockpit voice recorder (CVR) dalam pesawat terbang.

Fungsi dari kotak hitam sendiri adalah untuk merekam pembicaraan antara pilot dan pemandu lalu lintas udara atau air traffic control (ATC) serta untuk mengetahui tekanan udara dan kondisi cuaca selama penerbangan.

Walaupun dinamakan kotak hitam, sesungguhnya kotak tersebut tidak berwarna hitam, tetapi jingga (oranye). Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pencarian jika pesawat itu mengalami kecelakaan.
Kotak hitam akan menjadi elemen penting bagi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang akan meneliti penyebab kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 pada Rabu (9/5/2012) di tebing Gunung Salak, Jawa Barat.
 

Minggu, 22 April 2012

Keadilan untuk Pak Raden

Jodhi Yudono | Sabtu, 21 April 2012 | 13:59 WIB


  KOMPAS/WISNU WIDIANTORO Drs. Suyadi, lebih dikenal dengan nama Pak Raden yang juga pencipta karakter dalam film boneka Si Unyil, saat mengamen di depan wartawan di rumahnya di Kawasan Petamburan, Jakarta Pusat, Sabtu (14/4/2012). Selain menyanyi Pak Raden juga menyampaikan uneg-uneg yang intinya berharap agar hak cipta tokoh-tokoh dalam Si Unyil kembali kepadanya. Acara itu juga diisi dengan penjualan aneka souvenir untuk membantu Pak Raden.



Oleh Denny Yuliansari
Tak mudah memang mencari rumah Drs. Suyadi atau yang lebih akrab disapa Pak Raden. Bagaimana tidak, rumahnya ada di gang sempit di daerah Petamburan, Slipi.  Sungguh tak mencerminkan kebesaran nama Pak Raden yang melekat pada Suyadi, sang pencipta karakter Unyil yang terkenal ke seantero negeri, dan bertahan lebih dari dua dekade.

Rumah bernomor 27 di RT 003 RW 04 gelap dan kusam. Halamannya yang tidak seberapa  dipenuhi kaleng cat dan sisa-sisa kayu untuk membuat boneka. Kesan penuh juga ada di ruang tamu. Berbagai lukisan berekamkan cerita-cerita pewayangan dan boneka-boneka ciptaan Suyadi si Pak Raden, memenuhi ruang itu.
Tumpukan buku menghiasi sudut rumah pria yang pernah menjadi pengajar seni ilustrasi di Institut Teknologi Bandung itu. Jauh dari karakter suaranya dulu yang memesankan seorang gagah nan angkuh bersuara besar, sosok asli Pak Raden kini jauh dari itu.

Tubuhnya sudah tidak lagi sekuat dulu. Umurnya sudah menginjak umur 80 pada 28 November nanti. Dia pun sakit-sakitan. "Saya jangan banyak diajak ngobrol ya," pintanya.
Meski sudah sepuh, Suyadi terus berkarya, mendongeng, seperti terlihat di ruang kerjanya yang masih dipenuhi beberapa lukisan yang sedang dikerjakannya. Semangatnya terpancar manakala dia bercerita mengenai tokoh favoritnya, Unyil dan kawan-kawannya.

Dia pun memulai cerita ketika Direktur PPFN saat itu, G Dwipayana, memiliki ide untuk memberikan tontonan anak berupa acara kartun demi mengimbangi film-film asing yang terlalu banyak mengisi televisi Indonesia. Namun saat itu, di era 1970-an, untuk membuat satu film kartun yang harus siara setiap minggu adalah sulit.

Suyadi lalu menggeser ide tontonan kartun menjadi tontonan boneka. Ide cemerlang itu diamini Pak Dipo, sapaan akrab Pak Raden untuk G Dwipayana. Bekerjasama dengan Kurnain Suhardiman yang membuat naskah dan ide cerita, Suyadi mendesains dan menciptakan karakter. Lahirlah Unyil. Ini adalah tokoh protagonis dari sepuluh karakter sentral pada acara boneka yang malai tayang tahun 1979 tersebut.


Tak dapat royalti
Lebih dari 30 tahun sejak Suyadi mencipta Unyil, hak cipta Unyil dan kawan-kawan dipegang PPFN melalui surat kontrak nomor 139/P.PFN/XII/1995. Suyadi sama sekali tidak mendapatkan royalti dari setiap penggunaan karakter dalam serial Unyil. Suyadi hanya dibayar mengisi suara Pak Raden.
Pak Raden ingin melakukan sesuatu untuk ciptaannya itu. "Sebelum meninggal saya ingin hak saya dikembalikan kepada saya," katanya dalam konferensi pers di kediamannya Kamis kemarin.

Dengan perjuangannya ini, dia berharap bisa menyadarkan para pegiat seni agar nasib seperti dialaminya tidak dirasakan penerusnya. Surat perjanjian bertandatangani tahun 1995 itu, menurut Pak Raden, memiliki jangka waktu kepemilikan hak cipta atas sebelas karakter dalam serial Unyil. Namun di surat perjanjian selanjutnya tidak lagi dicantumkan jangka waktu kepemilikan hak cipta.

Pak Raden pun tidak bisa berbuat apa-apa. Kini dia berjuang untuk hak cipta atas sebelas karakter Unyil tersebut kepada Menteri BUMN Dahlan Iskan. Pertanyaannya, kenapa itu semua dilakukan sekarang? Dengan tenang Pak Raden menjawab karena dia tidak lagi muda. Tidak seperti dulu ketika masih punya banyak sumber penghasilan. Kini, disiksa oleh encoknya, sulit baginya untuk bekerja seperti dulu lagi. "Saya tidak lagi bisa loncat ke sana loncat ke sini lagi," jelasnya.

Kegiatan Pak Raden kini adalah taping dan memeriksakan kesehatannya di rumah sakit. Di rumah, Pak Raden menyelesaikan beberapa pesanan lukisan. Lukisan mengenai wayang orang yang menghiasi dinding ruang tamunya, tadinya ingin didedikasikan untuk sebuah pameran lukisan tunggal. Namun lukisan cerita tersebut tidak lagi diteruskannya.

"Tempat kosong itu tadinya ada lukisan, tapi sudah dibeli oleh Pak Alex Noerdin," katanya menunjuk salah satu ruang kosong di dindingnya.

Kini dia ditawari menggelar pameran lukisan bertemakan anak-anak sekaligus merayakan Hari Anak Nasional. Namun karena waktunya singkat, dia mengubah sedikit konsep acara yang rencananya dilaksanakan di Galeri Nasional menjadi pameran lukisan, drawing, dan sketch. "Kalau (mengadakan pameran) lukisan saya nggak sanggup...waktunya singkat," akunya.

Topik pameran lukisan mengakhiri pertemuan sore kemarin itu. Pak Raden mengeluh kecapekan. Kamis kemarin jadwal Pak Raden cukup padat. Pagi mengisi suara di stasiun televisi swasta, dilanjutkan mediasi di PPFN, dan konferensi pers di kediamannya. "Saya juga harus ngomong di reuni alumni ITB nanti," katanya seraya meminta undur diri.
 
Sumber :
ANT

Sabtu, 21 Januari 2012

Ini Alasan Warga Tionghoa Memilih Jadi Pedagang

Maria Natalia | Heru Margianto | Sabtu, 21 Januari 2012 | 15:49 WIB


KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES
Warga tionghoa membersihkan patung Dewi Kwan Im sepekan menjelang Tahun Baru Cina atau Hari Raya Imlek 2563, di Vihara Amurva Bhumi (Hok Tek Tjeng Sin) di Karet, Semanggi, Jakarta Selatan, Senin (16/1/2012). Acara bersih-bersih ini merupakan bagian dari rangkaian menyambut Imlek dimana umat mengantarkan naiknya Dewa Dapur atau Toa Pek Kong ke langit.


JAKARTA, KOMPAS.com — Pada umumnya warga Tionghoa di Indonesia memilih bekerja di bidang perdagangan. Hal ini menurut anggota Komunitas Glodok, Hermawi Taslim, karena pada zaman pemerintahan Presiden Soeharto, tak ada pilihan bidang pekerjaan lain. Ruang gerak warga Tionghoa, kata dia, dibatasi saat itu.

"Kita dulu ketakutan masuk bidang lain, apalagi politik, lalu masuk ke dunia dagang. Zaman Soeharto enggak ada pilihan lain. Dulu kalaupun di dunia politik, orang Tionghoa hanya jadi bendahara. Lebih baik berdagang, enggak banyak aturan," ujar Taslim dalam diskusi "Imlek dan Peran Tionghoa Kini" di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (21/1/2012).

Sementara itu, sejarawan yang banyak mendalami kehidupan Tionghoa di Indonesia, JJ Rizal, mengatakan, warga Tionghoa mulai terbiasa berdagang karena pada zaman penjajahan Belanda, penduduk asal China menjadi perantara jual-beli untuk berhubungan dengan masyarakat. Hal ini membuat warga Tionghoa dipandang sebagai penguasa ekonomi.

"Dulu orang Tionghoa jadi perantara untuk berhubungan dengan masyarakat dan sering disebut hantu uang atau mesin uang kekuasaan. Secara ekonomi dulu dikuasai masyarakat Tionghoa," ungkap Rizal.

Ia memaparkan, dulu warga Tionghoa susah menggeluti bidang lain karena trauma terhadap pembantaian dan diskriminasi yang terjadi pada tahun 1990-an, undang-undang yang membatasi ruang gerak, dan dijadikan "sapi perahan" yang diperas dengan berbagai alasan, ketika negara gagal dalam perekonomian.

"Orang Tionghoa dulu sering diperas ketika kekuasaan gagal urus negara," ungkapnya.

Namun, setelah perkembangan reformasi, kata Rizal, warga Tionghoa kini bukan hanya bekerja sebagai pedagang. Perlahan-lahan mereka mulai mencoba bidang baru, seperti olahraga, pekerja kantoran, dan berprestasi di dunia politik.

Rizal mengimbau agar masyarakat pribumi Indonesia juga membukakan pintu lapangan kerja bagi warga Tionghoa mengekspresikan keahlian mereka yang lain selain berdagang.

Selasa, 10 Januari 2012

Pengakuan Perempuan yang Dipaksa Suami Melacur

| Egidius Patnistik | Senin, 9 Januari 2012 | 16:23 WIB



AP
Sahar Gul, gadis remaja Afganistan usia 15 tahun, yang disiksa suami serta angota keluarga suaminya karena menolak bekerja sebagai pekerja seks.



REUTERS
Menteri Kesehatan Afganistan, Suraya Dalil (kiri), dan Menteri Urusan Perempuan, Dr Husn Banu Ghazanfar, ketika mengunjungi Sahar Gul di rumah sakit.


KABUL, KOMPAS.com — Gadis remaja Afganistan usia 15 tahun yang disiksa berbulan-bulan dalam pernikahan hasil perjodohan akhirnya buka suara untuk pertama kalinya sejak diselamatkan pekan lalu. Ia mengatakan, dirinya berharap suami dan keluarga suaminya dijebloskan ke penjara karena telah melakukan penyiksaan terhadap dirinya.

Gadis malang itu, Sahar Gul, manjadi gambaran buram kondisi hak-hak perempuan Afganistan setelah diselamatkan pada akhir Desember lalu. Penyelamatan terjadi setelah pamannya melapor polisi. Begitu mendengar tentang penyiksaan itu, Presiden Afganistan, Hamid Karzai, telah menegaskan bahwa mereka yang bertanggung jawab akan dihukum.

Saat berbicara dalam sebuah wawancara pada hari Sabtu (7/1/2012) dari sebuah rumah sakit di Kabul, sebagaimana dilansir Daily Mail, Minggu, Gul menyalahkan suami, mertua, serta saudari suaminya atas penderitaan yang dialaminya. "Saya ingin mereka meringkuk di penjara," katanya. "Mereka menyeterum saya dengan sengatan listrik.... Mereka memukuli saya dengan kabel dan menyiksa saya."

Menurut Associated Press, Gul kini dirawat karena sejumlah luka antara jari-jari sobek dan kuku-kuku yang copot. Dokter yang merawat Gul, Feriba Omarzada, mengatakan, Gul mulai pulih, tetapi masih trauma. Gul mengalami penderitaan mental dan fisik serta memerlukan waktu perawatan beberapa minggu.

Polisi di Provinsi Baghlan, lokasi Gul diselamatkan, mengatakan, mertuanya mengurung dan menyiksa gadis itu setelah Gul menolak bekerja sebagai pekerja seks. Mertua dan saudara iparnya telah ditangkap. Namun, mereka menyangkal telah melakukan kejahatan. Pihak berwenang Afganistan telah menerbitkan surat perintah penangkapan bagi suaminya, yang bertugas di angkatan darat Afganistan.

Kisah Gul mengguncang Afganistan dan memicu desakan untuk segera mengakhiri pernikahan di bawah umur. Usia pernikahan legal di Afganistan 16 tahun, tetapi lembaga PBB, UN Women, memperkirakan, setengah gadis di negara itu dipaksa menikah sebelum usia 15 tahun. Sahar Gul dalam kondisi kritis ketika diselamatkan dari sebuah rumah di Provinsi Baghlan di utara Afganistan pekan lalu. Polisi mengatakan, mertua Gul mencabut kuku dan rambutnya, dan mengurungnya di kamar mandi ruang bawah tanah yang gelap selama sekitar lima bulan. Ia hanya diberi makanan dan air dalam jumlah sangat terbatas. Keluarga suaminya juga menyundut gadis itu dengan rokok dan mencungkili lukanya dengan tang.

Media lokal, Sabtu, melaporkan, Kepala Keamanan Provinsi Baghlan bagian utara, Jenderal Syed Zamanuddin Hussaini mengungkapkan, ayah mertuanya, yaitu Mohammad Aman, telah ditahan dengan bantuan penduduk di kota Pul-e-Khumri di utara negara itu. Jenderal Hussaini menambahkan, Mohammad Aman telah diajukan ke jaksa agung provinsi dan pasukan keamanan Afganistan sedang berupaya untuk menemukan suaminya. Aman membantah tuduhan bahwa ia menyiksa Gul. Ia mengatakan, gadis itu menderita gangguan kejiwaan.

Rahima Zarifi, kepala urusan perempuan di Baghlan, kepada kantor berita Reuters mengatakan, "Dia (Gul) menikah tujuh bulan lalu, dan berasal dari Provinsi Badakhshan. Mertuanya mencoba untuk memaksa dia jadi pekerja seks demi mendapatkan uang."

Gul penuh bekas luka dan memar. Enam hari setelah dia diselamatkan, sebelah matanya masih bengkak. Dia dirawat di sebuah rumah sakit pemerintah di Kabul, tetapi menurut para dokter, dia mungkin harus dikirim ke India.

"Ini merupakan salah satu kasus terburuk dari kekerasan terhadap perempuan Afganistan. Para pelaku harus dihukum sehingga yang lain bisa mendapat pelajaran dari kasus itu," kata menteri kesehatan Suraya Dalil kepada wartawan setelah bersama menteri urusan perempuan mengunjungi Gul, Sabtu.

Mohammad Zia, seorang pejabat polisi senior di Baghlan, yang membantu menyelamatkan gadis itu, mengatakan, ibu mertua Gul dan adik iparnya telah ditahan, tetapi suaminya telah melarikan diri. "Kami telah melancarkan perburuan serius untuk menangkap suaminya dan orang lain yang terlibat," kata Zia.

Meski ada kemajuan dalam bidang hak-hak dan kebebasan perempuan sejak Taliban tumbang 10 tahun lalu, kaum perempuan di seluruh Afganistan masih menghadapi risiko penculikan, perkosaan, pernikahan paksa, dan diperdagangkan sebagai komoditas. Selain itu, sulit bagi perempuan negeri itu untuk menghindari situasi kekerasan dalam rumah tangga karena adanya tekanan sosial dan kadang-kadang hukum untuk tetap bertahan dalam pernikahan.

Di negara itu, melarikan diri dari suami yang suka menyiksa atau perkawinan paksa juga dianggap "kejahatan moral". Di Afganistan, perempuan bisa dipenjara jika nekat melakukan hal itu. Sejumlah perempuan korban pemerkosaan telah dipenjara karena dianggap melakukan hubungan seks di luar pernikahan meski si perempuan dipaksa. Hubungan semacam itu tetap dianggap sebagai perzinahan, sebuah "kejahatan moral".
Sumber : Daily Mail

Rabu, 04 Januari 2012

Jokowi Gunakan Mobil Esemka, Kata SBY: Silakan...

Rabu, 04 Januari 2012 13:24 WIB

Walikota Solo Joko Widodo

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Lingkungan kepresidenan mengapresiasi tindakan walikota Solo, Joko Widodo atau Jokowi untuk menggunakan mobil Esemka rakitan SMK Surakarta. Juru Bicara kepresidenan, Julian Aldrin Pasha mengatakan presiden sudah mendengar adanya kreasi dan inovasi yang positif dari masyarakat di Jawa Tengah. “Dengan berhasil dirakitnya mobil nasional ini patut diapresiasi,” katanya saat ditemui, Rabu (4/1).

Ia pun mempersilakan jika walikota Solo itu tetap menggunakan mobil tersebut sebagai mobil dinasnya. Begitu pula jika ada pejabat lain yang ingin meniru tindakan Jokowi. “Presiden tidak melarang mobil tersebut untuk digunakan sebagai mobil dinas,” katanya.

Lalu apakah presiden akan menggunakannya juga? Julian menyatakan belum sempat menanyakan itu kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Tindakan Jokowi untuk mengganti mobil dinas merek Camry dengan mobil Kiat Esemka terus mendapatkan dukungan. Mobil tersebut dipesan dari SMK 2 Surakarta yang dianggap tak kalah canggih.
Redaktur: Siwi Tri Puji B
Reporter: Esthi Maharani

Sabtu, 31 Desember 2011

Politik Ijazah Rusak Pendidikan di Indonesia

Sabtu, 31 Desember 2011 07:29 WIB



Antara/Reno Esnir
Mahfud MD

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR - Politik kepegawaian di Indonesia yang masih menjadikan ijazah sebagai tolak ukur kapabilitas dan kredibilitas seseorang turut berperan merusak iklim akademis di perguruan tinggi. Hal ini karena Ijazah hanya dijadikan alat untuk meningkatkan posisi jabatan seseorang di sebuah instansi.

"Ijazah untuk mendapatkan jabatan telah merusak dunia akademis kita," ujar Mahfud MD.

Saat ini banyak sekali lembaga akademisi setingkat universitas yang menjadikan ijazah sebagai proyek bisnis. Ijazah seringkali didapat tanpa mekanisme akademik yang semestinya. "Banyak sekali lembaga pendidikan yang hanya bisa mengeluarkan ijazah tanpa bisa mempertanggung-jawabkannya secara moral dan akademis," ujar Ketua Mahkamah Konstitusi ini.

Menurut Mahfud, pertanggungjawaban gelar akademis melalui ujian terbuka merupakan tradisi yang baik dan patut dipertahankan. Hal ini karena ujian terbuka bisa membuktikan seberapa dalam pemahaman seorang calon peraih gelar dalam menguasai permasalahan di bidang akademis yang dipilih.


Redaktur: Didi Purwadi
Reporter: M Akbar Widjaya