Senin, 12 Januari 2015

Inilah Foto-foto Komet Lovejoy Hasil Jepretan Astronom Amatir Indonesia

Senin, 12 Januari 2015 | 13:59 WIB

Danang D. Saputra

Komet Lovejoy yang diabadikan Danang D Saputra dari markas Jogja Astro Club di Yogyakarta pada sabtu (10/1/2014).


KOMPAS.com — Polusi cahaya dan tutupan awan menjadi kendala utama saat harus mengabadikan obyek antariksa yang relatif redup seperti komet Lovejoy. Sejumlah astronom amatir Tanah Air beruntung bisa mengabadikan lawatan sekali seumur hidup komet tersebut.

Salah satu yang berhasil mengabadikan adalah Muhammad Rayhan dari Himpunan Astronom Amatir Jakarta. Ia membidik Lovejoy pada Rabu (7/1/2015) lalu dari Planetarium Jakarta sekitar pukul 01.00 WIB dini hari. Lovejoy tampak sebagai titik dengan pendaran hijau.

Muhammad Reyhan

Komet Lovejoy diabadikan dari Planetarium Jakarta pada Rbu (7/1/2015) lalu. Nikon D5100, AF Nikkor 70-300mm f/4-5.6G, Vixen Polarie. 16x30sec, ISO 500, 300mm f/5.6. Darks, Flat, Bias applied in DSS, LR & PS6.


Dari Yogyakarta, astronom amatir Danang D Saputra dari Jogja Astro Club berhasil mengabadikan Lovejoy dua kali. Satu foto dihasilkan dengan kamera dan teleskop, sementara yang lain dihasilkan hanya dengan kamera.

Foto hasil jepretan dengan teleskop adalah hasil pengamatan di markas Jogja Astro Club pada Sabtu (10/1/2015). Sementara foto hasil jepretan kamera saja dihasilkan lewat pengamatan dari rumah Danang di Polowidi, Yogyakarta, pada hari yang sama.

Danang D. Saputra

Komet Lovejoy yang diabadikan Danang D Saputra dari wilayah Polowidi, Yogyakarta, pada Sabtu (10/1/2014).

Di Bandung, Muflih Arisa Adnan mengabadikan komet Lovejoy dari observatorium Imah Noong di Lembang, Bandung, pada 14 Desember 2014 lalu. Muflih memotret dengan kamera Nikon D5100 yang dipasang ke teleskop Explore Scientific Triplet Appo.

Muflih Arisa Adnan

Komet Lovejoy yang diabadikan Muflih Arisa Adnan dari Imah Noong, Lembang, Bandung, pada 14 Desember 2014 lalu.

Terakhir, astronom amatir Juned mengabadikan Lovejoy dari Tangerang Selatan pada Sabtu minggu lalu. Juned mengabadikan Lovejoy yang tampak sebagai titik hijau bersamaan dengan bintang Aldebaran yang menyala merah. Lovejoy diabadikan hanya dengan kamera DSLR.

Juned

Penampakan komet Lovejoy yang diabadikan pada Sabtu (10/1/2015) dari Imah Noong, Lembang, Bandung.

Seluruh warga Indonesia berpeluang untuk menyaksikan dan mengabadikan komet Lovejoy. Hingga 4 hari ke depan, Lovejoy akan berada di rasi Taurus. Lovejoy akan menyala hijau, lebih terang dari benda langit lain di rasi itu.

Cara paling mudah mencari Lovejoy adalah menghadapkan kamera ke utara, kemudian mengarahkannya ke atas sekitar 85 derajat. Lovejoy akan berada dalam pandangan mata ketika melihat ke arah tersebut.

Komet Lovejoy ditemukan astronom amatir Australia, Terry Lovejoy, pada 17 Agustus 2014 lewat pengamatan dengan teleskop 0,2 meter Schmidt–Cassegrain. Lovejoy punya nama asli C/2014 Q2, tetapi lebih sering disebut Lovejoy, sesuai nama penemunya.

Terry Lovejoy sendiri sudah menemukan lima komet, salah satunya C/2011 W3, yang juga disebut komet Lovejoy. Penampakan C/2014 Q2 Lovejoy adalah fenomena sekali seumur hidup. Setelah saat ini, komet itu baru akan tampak 8.000 tahun lagi. Jangan lewatkan!

Editor: Yunanto Wiji Utomo

Jumat, 09 Januari 2015

Djoko Tjahjono Iskandar, Ahli Katak Indonesia yang Bikin Geger Dunia

Kamis, 8 Januari 2015 | 20:00 WIB


Zootaxa/PLOSONE/KOMPAS

Djoko Tjahjono Iskandar bersama dua spesies temuannya yang menggegerkan dunia, Barbourula kalimantanensis (kiri atas) dan Limnonectes larvaepartus (kiri bawah)

KOMPAS.com — Ketika publikasi berjudul "A Novel Reproductive Mode in Frogs: A New Species of Fanged Frog with Internal Fertilization and Birth of Tadpoles" muncul di jurnal PLOS ONEpada 31 Desember 2014 lalu, dunia terkejut.

Media sains dan umum di dunia internasional ramai mengutip publikasi tersebut. Sejumlah pakar reptil dan amfibi dunia menyatakan bahwa publikasi tersebut mengagumkan sekaligus sangat berharga.

Makalah memuat penemuan spesies baru katak bertaring Sulawesi, Limnonectes larvaepartus. Bukan cuma kebaruan jenis yang membuat dunia terkejut, melainkan juga kebaruan reproduksinya. Katak itu merupakan satu-satunya katak di dunia yang melahirkan kecebong.

Dunia bertanya-tanya, bagaimana bisa katak yang tak memiliki penis melakukan pembuahan di dalam tubuh? Bagaimana caranya menyetor sperma ke betina? Lalu, bagaimana mungkin katak tak bertelur, tetapi langsung melahirkan kecebong?

Djoko Tjahjono Iskandar adalah herpetolog (pakar amfibi dan reptil) di balik penemuan katak itu. Dia adalah ilmuwan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berkali-kali membuat geger dunia sains lewat temuan-temuannya.

Pria kelahiran Bandung, 23 Agustus 1950, tersebut memulai karier sebagai herpetolog pada tahun 1978. Pilihannya menekuni katak dan reptil sangat tidak populer. "Waktu itu belum ada ahli katak di Indonesia. Saya satu-satunya. Bisa dibilang saya pioneer," katanya.

Untuk menekuni katak-katak Indonesia, dia harus belajar dari ahli dari luar negeri. Ia berkorespondensi lewat surat, salah satunya dengan Robert Frederick Inger, ahli katak dan reptil dari Field Museum yang juga banyak mempelajari keanekaragaman hayati Indonesia.

Ketekunan Djoko membuahkan hasil. Hanya tiga tahun setelah memulai kariernya, pria yang meraih gelar doktor dari UniversitĂ© Montpellier 2 di Montpellier Perancis ini menemukan Barbourula kalimantanensis, katak famili Discoglossidae pertama yang ditemukan di Borneo.

Tahun 2008, ia kembali meneliti Barbourula kalimantanensis. Hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Current Biology pada 6 Mei 2008 mengungkap fakta baru. Katak kepala pipih itu ternyata tidak punya paru-paru.

"Waktu itu geger juga. Jenis itu adalah satu-satunya katak di dunia yang tidak memiliki paru-paru, bernapasnya dengan kulit," ungkap Djoko yang mengaku menemukan jenis katak itu di Sungai Pinoh, bagian dari Kapuas, Kalimantan Barat.

Studi kemudian mengungkap bahwa populasi Barbourula kalimantanensis sangat minim. International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyatakan bahwa spesies tersebut terancam punah pada 3 Juni 2013.

Selain Barbourula kalimantanensis, penemuan spektakuler Djoko lain adalah Cyrtodactylus batik. Spesies itu adalah cicak jari bengkok yang ditemukan di Gunung Tompotika, wilayah Sulawesi Tengah.

"Coraknya memang seperti batik," kata Djoko. Ia menyebutnya sebagai spesies cicak tercantik yang pernah ditemukan. Penemuan ini dipublikasikan di jurnal Zootaxa pada 29 April 2011. 

Malang melintang dalam dunia ilmu katak dan reptil, Djoko telah menjelajahi hutan di sebagian besar wilayah Indonesia. "Saya sudah ke 30 provinsi, tinggal dua yang belum, Bangka Belitung dan Maluku Utara," ujarnya.

Sepanjang kariernya, ia telah menemukan 30 spesies katak dan reptil. Beberapa spesies menggunakan namanya, sepertiLuperosaurus iskandari, Fejervarya iskandari, Collocasiomya iskandari, dan Draco iskandari.

Djoko mengungkapkan, sebenarnya banyak spesimen yang belum bisa diidentifikasi. "Saya sudah temukan 30, tetapi masih ada sekitar 150 yang belum bisa saya ungkap," katanya yang pernah menerima penghargaan Habibie Awards ini.

Alasan belum bisa terungkap, kata Djoko, adalah spesimen yang belum lengkap jantan dan betinanya serta adanya spesimen yang rusak. Jika spesimen minim, pernyataan kebaruan jenis dapat dengan mudah dibantah sebagai hanya variasi.

Usia Djoko kini sudah menginjak 64 tahun. Penjelajahan ke hutan-hutan baginya tetap merupakan kegiatan paling menyenangkan, tetapi tak lagi semudah sewaktu dia masih muda dahulu. 

Meski demikian, ia mengatakan bahwa menjadi tua bukan alasan untuk tidak masuk ke hutan. Tahun lalu, saat penjelajahan ke Sulawesi mengungkap spesies Limnonectes larvaepartus, ia tinggal satu bulan di hutan.

Menjelajah hutan saat usia tua, lutut Djoko sering bengkak dan butuh waktu lama untuk pulih. Secara bercanda, dia mengungkapkan, "Mungkin nanti kalau ke hutan tidak perlu satu bulan lagi, cukup satu minggu."

Dengan banyaknya spesies yang belum terungkap, baik dalam koleksi maupun di alam, Djoko berharap ada lebih banyak orang yang menaruh perhatian pada katak dan reptil. Walaupun, mempelajarinya tak akan banyak mendatangkan manfaat ekonomi segera.

Menurut dia, saat ini sudah muncul beberapa pakar katak dan repril berpotensi. Namun, ia mengatakan, perlu lebih banyak remaja yang tertarik untuk menjadi penerusnya. "Saya kan tidak mau jadi raja sendiri, perlu musuh, butuh orang yang bisa membantah saya," ucapnya.

Mempelajari keanekaragaman hayati, kata Djoko, akan membuat siapa pun sebagai warga negara merasa puas karena diakui sekaligus bangga karena telah peduli pada alam Indonesia yang mahakaya.


Apa sebenarnya yang dimaksud dengan katak yang melahirkan? Apakah pengertiannya sama dengan manusia yang melahirkan bayi? Seperti apa pula kekhasan Limnonectes larvaepartus?
Baca di tautan berikut:

Katak Baru dari Sulawesi Mengejutkan Dunia karena Bisa Melahirkan
Penemuan Limnonectes larvaepartus bukan lewat proses satu dua hari. Butuh ketekunan mengamati dan ketangguhan ketika menjelajahi  hutan selama hampir dua dekade untuk mengonfirmasinya sebagai spesies baru. Baca kisahnya di tautan berikut.


Editor: Yunanto Wiji Utomo

Rabu, 24 Desember 2014

Rhenald Kasali: Mengapa Tak Ada Nasi Goreng Enak di Hotel?

Rabu, 24 Desember 2014 09:11 WIB

Warta Kota/Celestinus Trias HP
Ilustrasi : Nasi goreng spesial. 

Rhenald Kasali
 
WARTA KOTA, JAKARTA - Tentang hal ini saya punya lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Dan saya ingin para chef-lah yang menjawab. Mahasiswa studi perhotelan dan pemilik hotel juga boleh mereka-reka jawabannya.

Tapi poin-nya jelas. Sulit kita mendapatkan kuliner Nusantara yang benar-benar lezat di berbagai hotel. Jangankan rasanya, tampilannya saja seringkali membuat saya malu pada tamu saya. Kadang saya berpikir, kalau kita saja merasa janggal dengan tampilan dan rasanya, bagaimana pikiran wisatawan asing ya?

Sewaktu saya protes, sejumlah orang membantah hal itu terjadi di hotel miliknya. Tetapi begitu saya mencicipi hidangannya, ternyata sama saja. Kurang pas!

Untuk menyajikan kuliner Nusantara, mungkin mereka perlu mengubah haluan. Dari mencari chef yang berpengalaman memasak di kapal pesiar atau di restoran luar negeri kepada para chef lokal yang ada di berbagai warung di Nusantara ini.

Di sebuah hotel bintang lima di dekat Bundaran HI Jakarta pekan lalu, saya mengambil emping goreng yang baru dimasak. Bayangkan, goreng emping saja, mereka tidak tahu caranya. Masih keras sudah diangkat.

Soto Madura di Luar Lebih Enak
Saya baru saja menuliskan masukan di VIP Lounge Garuda Indonesia di Bandara Juanda. Entah mengapa, sejak menempati ruangan baru yang lebih luas, rasa makanan di ruang VIP ini tak karuan. Pecel sayuran yang disajikan layu. Gorengan tempe terlihat tidak fresh. Rasanya tidak senikmat tempe goreng yang biasa kita nikmati.

Saya lalu mengambil rempeyek yang ada di dalam toples kaca. Selain plastiknya yang agak kumal, saya tak melihat kacangnya. Kata penjaganya, itu peyek kacang dan teri. Tapi begitu saya rasakan, ikan terinya juga tidak saya temukan.

Andaikan saya tak terburu-buru masuk ke dalam, saya pasti lebih memilih untuk menikmati soto Bangkalan yang ada di teras luar bandara. Rasanya jauh lebih nikmat dari makanan yang disajikan pengelola VIP Lounge. Padahal VIP Lounge adalah bisnis yang sangat menguntungkan dan menjadi incaran banyak orang. Tetapi mengapa tak ada satupun VIP Lounge yang menyajikan kuliner nusantara dengan penuh semangat?

Itu tak hanya tampak di Bandara Juanda, melainkan merata di hampir semua Bandara Nusantara, apakah itu di Cengkareng, Bali, Batam, ataupun di Makasar. Tak tampak keinginan pengelola menampilkan keunggulan kuliner kita dengan penuh suka cita.

Ini berbeda benar dengan kesungguhan bangsa Thailand. Hal serupa juga tak terlihat pada VIP lounge yang dikelola perusahaan-perusahaan telekomunikasi maupun perbankan. Saya lebih memilih makan bakso di warung Oasis yang berbayar ketimbang menikmati kuliner di ruang VIP.

Roti-rotinya bukanlah roti yang berkualitas bagus, isinya tidak menarik. Rebusannya juga tak enak, tak memenuhi selera. Mie gorengnya terlalu berminyak. Pisang yang ada di dalam penganan tradisionalnya tidak manis. Keras dan belum masak.


Sop Buntut Hotel Borobudur
Bagaimana di hotel-hotel kita? Saya tak menutup mata bahwa dulu kita sangat memuji sop buntut yang disajikan di Bogor Café Hotel Borobudur. Tetapi selebihnya, saya kira Anda sepakat dengan saya. Kalau kita mau menikmati ikan bakar, lebih baik pergi ke warung ikan bakar bertenda di tepi jalan ketimbang makan di lobi-lobi hotel di kota Makasar sekalipun. Jangan heran kalau kebanyakan hotel di daerah hanya ramai dipenuhi pagi hari karena breakfastnya sudah dipaket dengan tarif hotel.

Jangankan ikan bakar yang masaknya super mudah itu, pisang goreng dan nasi goreng saja tak ada yang benar-benar bisa kita nikmati di hotel-hotel berbintang kita. Minimnya spirit kewirausahaan telah membuat banyak juru masak hanya bekerja sesuai SOP tanpa menyadari bahwa mereka "menjual" brand Indonesia.

Kadang saya berpikir, hotel telah merekrut orang-orang yang tidak tepat. Tetapi kadang saya mendengar jawaban bahwa rata-rata chef yang dipekerjakan hotel berbintang empat – lima bukanlah chef yang mengerti selera kita. Kalau tidak orang Prancis, pasti bangsa lain. Tetapi bukankah di situ juga bekerja orang-orang Indonesia yang mengerti selera kita. Masa iya membuat nasi goreng yang enak saja tidak bisa?

Kadang juga saya mendengar terjadi ketidaksinkronan antara yang memasak dengan bagian pengadaan. Jadilah bagian pembelian mengadakan pisang  yang belum masak, yang meski disimpan tiga hari belum layak dibuat menjadi pisang goreng. Pisang keras itu disamarkan dengan tepung, keju dan coklat agar lebih terlihat berselera.

Buah-buahan Nusantara pun digantikan oleh buah-buahan standar yang ada di seluruh dunia: apel, anggur, pepaya, nanas dan melon. Melonnya pun, bagian manisnya sudah dipotong, ditinggalkan bagian dasar yang masih padat. Padahal kita punya buah-buahan tropis yang kaya dan selalu ada pada musimnya: duku, mangga, manggis, srikaya, jamblang, kecapi, nangka, cempedak dan sebagainya. Mengapa takut dengan baunya kalau di Thailand saja bisa?

Minimnya protes konsumen, lemahnya perhatian aparatur pembuat kebijakan, serta kemalasan para chef untuk mempelajari kuliner Nusantara telah mengakibatkan kita lebih banyak makan roti dengan selai dan cokelat ketimbang bubur ayam atau nasi goreng. Anak-anak kita pun memilih makan spageti, omelet atau cereal ketimbang jajanan pasar buatan lokal.

Maka saya gembira ketika salah seorang gubernur di Sulawesi memberi kewajiban agar hotel-hotel setempat  menyajikan kuliner lokal. Kalau tak mau juga, katanya ijinnya akan dicabut. Boleh juga lah. Tetapi saya kira kita tak bisa membangun kuliner nusantara dengan sekadar ada saja.

Kalau chef-chef kita mau belajar, maka mereka harus keluar dari kampusnya. Di kampus mereka cuma belajar penyajian, tekstur dan tampilan. Soal rasa, hanya ada di pemilik rumah makan yang rasanya sudah teruji. Jadi mungkin Kementerian Pariwisata bisa membina nasi jamblang mang Dul di Cirebon agar mendapatkan kontrak di hotel-hotel berbintang. Hal serupa juga pada kuliner-kuliner Nusantara lainnya.

Saya kira lebih baik beri tempat pada mereka yang sudah teruji oleh pasar untuk dinaikkan kelasnya. Hotel wajib membantu penampilan dan kebersihannya sehingga semakin banyak orang yang dapat menikmati kuliner nusantara ini. Selamat berwisata kuliner.

Prof Rhenald Kasali dalah Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Pria bergelar PhD dari University of Illinois ini juga banyak memiliki pengalaman dalam memimpin transformasi, di antaranya menjadi pansel KPK sebanyak 4 kali, dan menjadi praktisi manajemen. Ia mendirikan Rumah Perubahan, yang menjadi role model dari social business di kalangan para akademisi dan penggiat sosial yang didasari entrepreneurship dan kemandirian. Terakhir, buku yang ditulis berjudul Self Driving: Merubah Mental Passengers Menjadi Drivers

Rabu, 17 Desember 2014

Mobil Listrik tidak Benar-benar Ramah Lingkungan




WASHINGTON, DC, (PRLM).- Orang-orang yang memiliki mobil listrik di mana batubara sebagai bahan bakarnya mungkin berpikir mereka telah berkontribusi pada kelestarian lingkungan.
Namun, sebuah studi baru menemukan bahwa kendaraan seperti itu benar-benar membuat udara kotor, dan memperburuk pemanasan global.

Penelitian kontroversial tersebut telah menimbulkan pertanyaan besar atas masa depan mobil-mobil 'hijau'.

"Sayangnya, saat kawat terhubung ke sebuah kendaraan listrik di salah satu ujungnya dan pembangkit listrik tenaga batu bara di ujung lainnya, ada konsekuensi lingkungan yang lebih buruk daripada mengendarai mobil bertenaga bensin normal," kata Ken Caldeira dari Carnegie Institution for Science, yang tidak terlibat dalam penelitian itu tetapi mengapresiasinya.

"Banyak teknologi yang kita anggap sebagai bersih ... tidak lebih baik daripada bensin," kata peneliti Julian Marshall, seorang profesor di Universitas Minnesota.

Kuncinya adalah dari mana sumber listrik mobil 'hijau' tersebut. Jika itu berasal dari batu bara, mobil listrik menghasilkan 3,6 kali lebih banyak jelaga dan asap kematian daripada bensin, menurut studi yang diterbitkan Proceedings of the National Academy of Sciences, baru-baru ini. (Dede Suhaya/A-147)***

Siap-siap, Wisata Gerhana Matahari Total di Indonesia

Selasa, 16 Desember 2014 | 13:38 WIB 


AP PHOTO / The Oklahoman, Sarah Phipps
 Seekor burung terbang dengan latar belakang gerhana matahari parsial di Danau Hefner, Oklahoma City, 23 Oktober 2014.


JAKARTA, KOMPAS.com - Pemburu gerhana bersiap-siap menyambut Gerhana Matahari Total (GMT) yang akan terjadi pada 9 Maret 2016 di Indonesia. Fenomena alam ini sangat jarang terjadi. Sehingga tak heran diburu oleh ilmuwan maupun masyarakat umum.

Wisata gerhana menjadi hal lazim di dunia pariwisata, terutama luar negeri. Ada banyak agen perjalanan wisata yang menawarkan tur gerhana matahari, walaupun masih didominasi agen perjalanan asing.

"Kami mengajak orang Indonesia aware dengan Gerhana Matahari Total 2016. Kami mengundang beberapa daerah yang dilalui seperti Palu, Balikpapan, Bengkulu, Ternate, dan juga Kementerian Pariwisata," ungkap CEO PATA Indonesia Chapter (PIC) Poernomo Siswoprasetijo, pada konferensi pers dan seminar “Discover Indonesia’s Solar Eclipse 2016”, di Jakarta, Selasa (16/12/2014).

GMT diperkirakan dapat disaksikan di sejumlah kota seperti Palembang, Palangkaraya, Palu, dan Halmahera. Kejadian GMT ini diprediksi akan menarik minat bukan saja masyarakat umum melainkan juga masyarakat imilah dari dalam dan luar negeri. Sebab, seperti diungkapkan Kepala Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) Prof Dr Thomas Djamaluddin pada 24 April 2014 saat mengumumkan GMT yang akan terjadi tersebut, peristiwa langka ini belum dapat disaksikan kembali dalam 40 tahun ke depan. 

KOMPAS.COM/NI LUH MADE PERTIWI F
Seminar nasional 'Discover Indonesia's Solar Eclipse 2016' di Jakarta, Selasa (16/12/2014).



Oleh karena itu, PIC sebagai bagian dari badan pariwisata dunia, melihat GMT sebagai salah satu fenomena yang dapat membantu meningkatkan potensi wisata daerah yang dilalui GMT. PIC bekerja sama dengan pemerintah daerah, industri pariwisata, dan Kementerian Pariwisata untuk mempromosikan wisata GMT tersebut.

"Terakhir GMT tahun 1983. Persiapan pemerintah saat itu tidak siap. Bahkan ada yang dilarang melihat karena nanti takut buta. Jangan sampai itu terjadi lagi tahun ini," kata Direktur Bosscha Observatory Dr Mahasena Putra di kesempatan yang sama.

Mahasena menuturkan sudah banyak agen perjalanan wisata yang menawarkan paket tur GMT 2016 di Indonesia. Tetapi, lanjut Mahasena, agen perjalanan ini umumnya bukan berasal dari Indonesia. Paket tur yang disediakan misalnya kapal pesiar menuju daerah yang dilintasi GMT.

Sebagai gambaran, kembali disebutkan bahwa GMT akan melintas di Palu, Bengkulu, Palembang, Maluku Utara/Ternate, dan Bangka Belitung. Sementara gerhana matahari parsial akan melintasi kota-kota  Pekanbaru, Medan, Padang, Batam, Jakarta, Kupang, dan Manado.

 
AP PHOTO / Seattlepi.com, Joshua Trujillo
Warga menggunakan kacamata pengaman menyaksikan gerhana matahari parsial di High Point Branch, Seattle Public Library, 23 Oktober 2014.




Salah satu daerah yang antusias menyambut GMT adalah Palu. Seperti diungkapkan Poernomo, hotel-hotel di Kota Palu mulai penuh untuk pemesanan saat GMT. Hal ini dikarenakan GMT di Palu diperkirakan dapat disaksikan lebih lama dan lebih total.

"Seperti Jepang booking 55 kamar, dari Amerika booking 260 kamar. Inggris sekitar 75-100 kamar," ungkap Sekretaris Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Palu, Bambang Nugraha.

Pihak lain yang dilibatkan juga PT Pelni yang diharapkan dapat meningkatkan wisata maritim melalui momen GMT ini. Misalnya, kapal bisa dimanfaatkan untuk mengangkut wisatawan menuju daerah yang dilintasi GMT. Juga bisa menjadi hotel terapung. 

Penulis: Ni Luh Made Pertiwi F
Editor : I Made Asdhiana

Sepeda Pintar Bisa Bergetar Sendiri


 
 
 
TNO via BangkokPost
 
Sepeda Pintar yang dikembangkan Toegepast Natuurwetenschappelijk Onderzoek.
 
 
 KOMPAS.com - Sebuah sepeda pintar baru-baru ini diperkenalkan di Belanda. Embel-embel pintar disematkan bukan karena kemampuannya terhubung ke internet, melainkan karena sepeda tersebut bisa mengingatkan pengguna agar waspada terhadap halangan di depannya.

Sepeda pintar tersebut masih berupa purwarupa yang sedang dalam pengembangan. Bentuknya berupa sepeda yang memiliki sensor pada bagian bawah setang dan kamera di mudguard bagian spatbor belakangnya.

Sensor dan kamera tersebut berfungsi sebagai alat pendeteksi yang terhubung ke sebuah komputer. Komputer ini memiliki dua unit sistem getar, pertama diletakkan pada sadel sepeda sementara yang kedua diletakkan pada setang sepeda.

Ketika sensor mendeteksi ada pengendara lain yang mendekat dari belakang, maka sadel akan bergetar. Begitu pula ketika sensor mendeteksi ada penghalang di bagian depan, maka setang yang akan bergetar.

Selain itu, sepeda pintar ini pun dibekali tempat untuk meletakkan tablet di setangnya. Penggunanya pun bukan sekedar bisa meletakkan dan menggunakan tabletnya saat bersepeda.

Tablet itu bisa dihubungkan secara nirkabel lalu berkomunikasi dengan sepeda pintar. Misalnya, tablet yang terhubung dengan sepeda akan mengeluarkan sinyal berupa cahaya terang ketika ada pengendara lain yang mencoba mendahului dari belakang.

Peringatan-peringatan berupa getaran dan cahaya itu bertujuan mengurangi potensi kecelakaan di kalangan pengendara sepeda.

“Kecelakaan kerap terjadi ketika pengendara sepeda menoleh ke belakang atau terkejut saat ada yang mendahului dengan kecepatan tinggi,” papar Maurice Kwakkernaat, salah satu peneliti yang terlibat dalam proyek tersebut, seperti dilansir KompasTekno dari Bangkokpost, Selasa (16/12/2014).

Sepeda pintar ini dikembangkan untuk pemerintah Belanda oleh organisasi riset Toegepast Natuurwetenschappelijk Onderzoek (TNO). Bila dijual secara komersil, kurang lebih dua tahun mendatang, harganya diperkirakan sekira 1.700-3.200 Euro per unit atau sekira Rp 27 juta -Rp 51 juta (dengan nilai tukar 1 Euro = Rp 16.000).
 
Editor: Wicak Hidayat
 

Warga AS Bentuk "The Indonesianist Community"

Rabu, 17 Desember 2014 | 08:45 WIB 


VOA
Warga AS, Chris Crow, pendiri 'the Indonesianist Community' di Washington, D.C.


WASHINGTON, KOMPAS.COM - Tinggal di Indonesia telah menjadi sebuah pengalaman yang tidak terlupakan bagi kebanyakan warga Amerika Serikat. Salah satunya adalah Chris Crow yang saat ini tinggal di Washington DC dan bekerja di universitas John Hopkins.

Tinggal di Indonesia selama tiga tahun dan pernah mendapat beasiswa dari pemerintah Amerika untuk mengajar bahasa Inggris selama satu tahun di sebuah SMA negeri di desa Paperu, Maluku telah memperkuat ikatan warga AS, Chris Crow, dengan Indonesia.

Inilah yang membuatnya tertarik untuk bergabung dengan 'the Indonesianist Community' dan akhirnya menjadi ketua dari klub perkumpulan warga internasional yang memiliki ketertarikan terhadap Indonesia ini. Hingga kini anggota dari milis the Indonesianist Community sudah mencapai sekitar 160 orang.

“(Organisasi) itu dibangun oleh teman saya, namanya Brian Kraft. Dia sekarang sudah pindah ke Jakarta lagi. Dia kerja di sana sebagai konsultan,” papar Chris kepada VOA Indonesia dengan bahasa Indonesia yang sangat fasih.

Klub ini berdiri karena banyaknya warga di sekitar Washington DC, baik warga AS mau pun internasional yang tertarik dengan Indonesia, baik dari segi politik, bahasa, atau pun hal lainnya. “Jadi (Brian) membuat klub ini supaya mereka bisa berkumpul, ngobrol, dan saling kenal. Juga untuk menyebar kesadaran tentang Indonesia di Washington DC dan di Amerika,” ujar Chris.

Kegiatan dari the Indonesianist Community ini juga sangat beragam. Namun yang paling populer adalah klub bahasa. “Itu sekitar 15 orang yang tertarik belajar bahasa Indonesia dan mereka berkumpul setiap minggu,” jelas Chris.

Pertemuan untuk klub bahasa ini biasanya dilakukan di restoran di daerah Washington, DC di mana para anggota yang hadir datang untuk melatih kemampuan bahasa Indonesia mereka. “Baik orang yang baru mulai, mau pun yang sudah cukup lancar,” lanjut Chris.

Selain klub bahasa, the Indonesianist Community juga kerap kali mengadakan seminar yang menghadirkan pembicara yang memiliki hubungan dengan Indonesia. Biasanya para tamu yang hadir adalah profesional yang memiliki hubungan kerja dengan Indonesia. “Misalnya dari kementerian luar negeri Amerika atau dari Think Thank, NGO (Non-Governmental Organizations), kan di Indonesia ada banyak,” jelas Chris.

Pengalaman Tinggal di Indonesia

Mengenai pengalamannya tinggal di Indonesia, khususnya di Maluku, Chris mengaku sangat senang. “Pantainya sangat indah dan airnya bersih dan jernih. Bisa lihat jauh (ke) dalam air, bisa snorkeling, berenang dan juga ada goa yang bisa dijelajahi,” papar pria penggemar soto betawi dan minuman bandrek ini. “Banyak kegiatan yang menarik, khususnya kegiatan yang berkaitan dengan alam,” lanjutnya.

Chris juga sangat menikmati interaksinya dengan warga setempat, bahkan selama mengajar di Maluku, ia tinggal bersama keluarga lokal. “Di sana orangnya juga sangat ramah. Saya senang sekali tinggal setahun di sana,” kenang mantan kontestan Asing Star di Indonesia ini.

Selama di Indonesia, Chris sudah pernah berkunjung ke berbagai tempat seperti Yogyakarta, Lombok, Makassar, Surabaya, Bandung, Bogor, dan Jakarta. Sedikit mengherankan ketika mengetahui bahwa Chris belum pernah berkunjung ke Bali, yang sering menjadi tujuan wisata pertama warga internasional. “Tiga tahun di Indonesia belum ke Bali,” kata Chris sambil tertawa. “Saya kurang tertarik sama tempat yang turis banget kayak gitu ya. Rasanya mungkin kayak Australia kadang-kadang,” lanjutnya.

Di antara semua tempat, ibu kota Jakarta menjadi favoritnya. “Di Jakarta saya betah sekali. Itu gara-gara komunitasnya. Orang-orang di Jakarta sangat ramah kayak di seluruh Indonesia, tapi di Jakarta lebih banyak orangnya dan lebih bermacam-macam,” papar pria yang hobi naik ojek untuk menghindari kemacetan Jakarta bersama Gebong, tukang ojek langganannya.

Lagi-lagi Chris mengungkapkan kekagumannya terhadap orang-orang Indonesia. “Orang Indonesia menurut saya paling ramah di dunia. Benar-benar luar biasa,” kata Chris.

Kepada teman-teman di Indonesia, Chris sempat berbagi tips kepada mereka yang ingin belajar Bahasa Inggris. “Kalau kalian ingin belajar bahasa Inggris coba aja datang ke tempat yang banyak bule supaya bisa latihan, karena kalo nggak berani latihan pasti nggak belajar,” papar Chris menutup wawancara dengan VOA.



Editor : Egidius Patnistik
Sumber: VOAINDONESIA
 

Sabtu, 22 November 2014

Pembangunan Waduk Jatigede Hampir Selesai





BANGUNAN terowongan pengelak di kawasan projek Waduk Jatigede di Kec, Jatigede, Kab. Sumedang, sudah selesai dibangun dan terlihat kokoh, beberapa waktu lalu. Terowongan pengelak tersebut, siap menyalurkan air ke saluran irigasi pesawahan di wilayah pantura (pantai utara).*
 
 
SUMEDANG, (PRLM).- Satuan Kerja (Satker) Pembangunan Projek Waduk Jatigede, hingga kini masih menunggu rencana pencairan dana kerahiman dari Presiden Jokowi (Joko Widodo) untuk pemindahan warga OTD (orang terkena dampak) pembangunan Waduk Jatigede.

Ketika dana kerahiman sudah diterima warga OTD hingga mereka semuanya pindah dan keluar dari lokasi genangan, tak lama bangunan Waduk Jatigede bisa digenangi. Sebab, proses pembangunan fisik Waduk Jatigede berjalan lancar bahkan pengerjaannya hampir selesai.

“Jadi, kita tunggu saja pencairan dana kerahiman dari Pak Presiden Jokowi. Rencananya, dana kerahiman termasuk semua anggaran pembiayaan terkait pembangunan Waduk Jatigede beserta programnya akan dicairkan tahun 2015 nanti,” ujar Kepala Satker Pembangunan Projek Waduk Jatigede, Airlangga Mardjono ketika dihubungi melalui telefon, di Sumedang, Jumat (21/11/2014).

Ia mengatakan, terkait pembangunan fisik Waduk Jatigede, hingga kini berjalan lancar tanpa ada masalah. Bahkan sampai sekarang, progres pembangunannya hampir selesai hingga mencapai 99,43 persen.

Kalau pun masih ada yang perlu dibangun, jenis pekerjaannya dinilai bukan pekerjaan pokok. Pekerjaan tersebut, yakni gantry crane dan plugging. Gantry crane, yakni membangun alat penggerak saringan sampah di intake PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air).

Sementara plugging, yaitu pemasangan beton penutup pada terowongan pengelak. Terlebih, pengerjaan plugging baru bisa dikerjakan apabila waduk sudah digenangi.

“Jadi yang belum dikerjakan, cuma pembangunan gantry crane dan plugging saja. Itu pun, bukan pekerjaan inti. Progres pembangunan fisik Waduk Jatigede, secara umum tinggal finishing,” ujar Airlangga.

Sehubungan pembangunan Waduk Jatigede hampir selesai, lanjut dia, dalam waktu yang tak lama, secara fisik, tubuh bendungan sudah siap digenangi. Namun, mengingat semua pembiayaannya dianggarkan pada tahun 2015, sehingga penggenangannya bisa dilaksanakan tahun depan.

“Pembangunan fisik hampir selesai. Untuk penggenangannya, tinggal menunggu pemindahan warga. Kami berharap, setelah dana kerahiman turun dan diterima warga OTD, mereka bisa segera pindah sehingga Waduk Jatigede bisa secepatnya digenangi. Kalau sudah digenang, mudah-mudahan air waduknya bisa langsung dimanfaatkan untuk mengairi pesawahan pada musim kemarau tahun depan,” tuturnya.

Menurut dia, terkait pemindahan para OTD, Menko Perekonomian saat rapat di Jakarta meminta gubernur dan bupati membantu proses pemindahannya supaya berjalan aman dan lancar.
“Pada waktunya nanti, kami berharap pak gubernur dan bupati membantu pemindahan warga sesuai arahan Pak Menko,” kata Airlangga.

Menanggapi pencairan dana kerahiman dari Presiden Jokowi untuk warga OTD, Ketua LSM Perkotdam Jatiber (Perkumpulan Komunikasi Orang Terkena Dampak Jatigede Bersatu), Djaya Albanik, menolak tegas dana kerahiman tersebut.

Pasalnya, dana kerahiman untuk pemindahan warga OTD, dinilai tidak sesuai Permendagri No. 15/1975 tentang program relokasi dan pembayaran ganti rugi lahan warga OTD yang terlewat pembebasan lahan.

Relokasi dan pembayaran ganti rugi pembebasan lahan yang terlewat itu, bagian dari tuntutan warga OTD dalam penyelesaian dampak sosial dan lingkungan pembangunan Waduk Jatigede.
“Karena tak sesuai aturan Permendagri No.15/1975, kami menolak dana kerahiman dari Pak Jokowi untuk pemindahan tersebut. Minggu ini, kami akan mengajukan penolakan ke pemerintah pusat,” ujar Djaya. (Adang Jukardi/A-89)***