Rabu, 17 Desember 2014

Mobil Listrik tidak Benar-benar Ramah Lingkungan




WASHINGTON, DC, (PRLM).- Orang-orang yang memiliki mobil listrik di mana batubara sebagai bahan bakarnya mungkin berpikir mereka telah berkontribusi pada kelestarian lingkungan.
Namun, sebuah studi baru menemukan bahwa kendaraan seperti itu benar-benar membuat udara kotor, dan memperburuk pemanasan global.

Penelitian kontroversial tersebut telah menimbulkan pertanyaan besar atas masa depan mobil-mobil 'hijau'.

"Sayangnya, saat kawat terhubung ke sebuah kendaraan listrik di salah satu ujungnya dan pembangkit listrik tenaga batu bara di ujung lainnya, ada konsekuensi lingkungan yang lebih buruk daripada mengendarai mobil bertenaga bensin normal," kata Ken Caldeira dari Carnegie Institution for Science, yang tidak terlibat dalam penelitian itu tetapi mengapresiasinya.

"Banyak teknologi yang kita anggap sebagai bersih ... tidak lebih baik daripada bensin," kata peneliti Julian Marshall, seorang profesor di Universitas Minnesota.

Kuncinya adalah dari mana sumber listrik mobil 'hijau' tersebut. Jika itu berasal dari batu bara, mobil listrik menghasilkan 3,6 kali lebih banyak jelaga dan asap kematian daripada bensin, menurut studi yang diterbitkan Proceedings of the National Academy of Sciences, baru-baru ini. (Dede Suhaya/A-147)***

Siap-siap, Wisata Gerhana Matahari Total di Indonesia

Selasa, 16 Desember 2014 | 13:38 WIB 


AP PHOTO / The Oklahoman, Sarah Phipps
 Seekor burung terbang dengan latar belakang gerhana matahari parsial di Danau Hefner, Oklahoma City, 23 Oktober 2014.


JAKARTA, KOMPAS.com - Pemburu gerhana bersiap-siap menyambut Gerhana Matahari Total (GMT) yang akan terjadi pada 9 Maret 2016 di Indonesia. Fenomena alam ini sangat jarang terjadi. Sehingga tak heran diburu oleh ilmuwan maupun masyarakat umum.

Wisata gerhana menjadi hal lazim di dunia pariwisata, terutama luar negeri. Ada banyak agen perjalanan wisata yang menawarkan tur gerhana matahari, walaupun masih didominasi agen perjalanan asing.

"Kami mengajak orang Indonesia aware dengan Gerhana Matahari Total 2016. Kami mengundang beberapa daerah yang dilalui seperti Palu, Balikpapan, Bengkulu, Ternate, dan juga Kementerian Pariwisata," ungkap CEO PATA Indonesia Chapter (PIC) Poernomo Siswoprasetijo, pada konferensi pers dan seminar “Discover Indonesia’s Solar Eclipse 2016”, di Jakarta, Selasa (16/12/2014).

GMT diperkirakan dapat disaksikan di sejumlah kota seperti Palembang, Palangkaraya, Palu, dan Halmahera. Kejadian GMT ini diprediksi akan menarik minat bukan saja masyarakat umum melainkan juga masyarakat imilah dari dalam dan luar negeri. Sebab, seperti diungkapkan Kepala Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) Prof Dr Thomas Djamaluddin pada 24 April 2014 saat mengumumkan GMT yang akan terjadi tersebut, peristiwa langka ini belum dapat disaksikan kembali dalam 40 tahun ke depan. 

KOMPAS.COM/NI LUH MADE PERTIWI F
Seminar nasional 'Discover Indonesia's Solar Eclipse 2016' di Jakarta, Selasa (16/12/2014).



Oleh karena itu, PIC sebagai bagian dari badan pariwisata dunia, melihat GMT sebagai salah satu fenomena yang dapat membantu meningkatkan potensi wisata daerah yang dilalui GMT. PIC bekerja sama dengan pemerintah daerah, industri pariwisata, dan Kementerian Pariwisata untuk mempromosikan wisata GMT tersebut.

"Terakhir GMT tahun 1983. Persiapan pemerintah saat itu tidak siap. Bahkan ada yang dilarang melihat karena nanti takut buta. Jangan sampai itu terjadi lagi tahun ini," kata Direktur Bosscha Observatory Dr Mahasena Putra di kesempatan yang sama.

Mahasena menuturkan sudah banyak agen perjalanan wisata yang menawarkan paket tur GMT 2016 di Indonesia. Tetapi, lanjut Mahasena, agen perjalanan ini umumnya bukan berasal dari Indonesia. Paket tur yang disediakan misalnya kapal pesiar menuju daerah yang dilintasi GMT.

Sebagai gambaran, kembali disebutkan bahwa GMT akan melintas di Palu, Bengkulu, Palembang, Maluku Utara/Ternate, dan Bangka Belitung. Sementara gerhana matahari parsial akan melintasi kota-kota  Pekanbaru, Medan, Padang, Batam, Jakarta, Kupang, dan Manado.

 
AP PHOTO / Seattlepi.com, Joshua Trujillo
Warga menggunakan kacamata pengaman menyaksikan gerhana matahari parsial di High Point Branch, Seattle Public Library, 23 Oktober 2014.




Salah satu daerah yang antusias menyambut GMT adalah Palu. Seperti diungkapkan Poernomo, hotel-hotel di Kota Palu mulai penuh untuk pemesanan saat GMT. Hal ini dikarenakan GMT di Palu diperkirakan dapat disaksikan lebih lama dan lebih total.

"Seperti Jepang booking 55 kamar, dari Amerika booking 260 kamar. Inggris sekitar 75-100 kamar," ungkap Sekretaris Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Palu, Bambang Nugraha.

Pihak lain yang dilibatkan juga PT Pelni yang diharapkan dapat meningkatkan wisata maritim melalui momen GMT ini. Misalnya, kapal bisa dimanfaatkan untuk mengangkut wisatawan menuju daerah yang dilintasi GMT. Juga bisa menjadi hotel terapung. 

Penulis: Ni Luh Made Pertiwi F
Editor : I Made Asdhiana

Sepeda Pintar Bisa Bergetar Sendiri


 
 
 
TNO via BangkokPost
 
Sepeda Pintar yang dikembangkan Toegepast Natuurwetenschappelijk Onderzoek.
 
 
 KOMPAS.com - Sebuah sepeda pintar baru-baru ini diperkenalkan di Belanda. Embel-embel pintar disematkan bukan karena kemampuannya terhubung ke internet, melainkan karena sepeda tersebut bisa mengingatkan pengguna agar waspada terhadap halangan di depannya.

Sepeda pintar tersebut masih berupa purwarupa yang sedang dalam pengembangan. Bentuknya berupa sepeda yang memiliki sensor pada bagian bawah setang dan kamera di mudguard bagian spatbor belakangnya.

Sensor dan kamera tersebut berfungsi sebagai alat pendeteksi yang terhubung ke sebuah komputer. Komputer ini memiliki dua unit sistem getar, pertama diletakkan pada sadel sepeda sementara yang kedua diletakkan pada setang sepeda.

Ketika sensor mendeteksi ada pengendara lain yang mendekat dari belakang, maka sadel akan bergetar. Begitu pula ketika sensor mendeteksi ada penghalang di bagian depan, maka setang yang akan bergetar.

Selain itu, sepeda pintar ini pun dibekali tempat untuk meletakkan tablet di setangnya. Penggunanya pun bukan sekedar bisa meletakkan dan menggunakan tabletnya saat bersepeda.

Tablet itu bisa dihubungkan secara nirkabel lalu berkomunikasi dengan sepeda pintar. Misalnya, tablet yang terhubung dengan sepeda akan mengeluarkan sinyal berupa cahaya terang ketika ada pengendara lain yang mencoba mendahului dari belakang.

Peringatan-peringatan berupa getaran dan cahaya itu bertujuan mengurangi potensi kecelakaan di kalangan pengendara sepeda.

“Kecelakaan kerap terjadi ketika pengendara sepeda menoleh ke belakang atau terkejut saat ada yang mendahului dengan kecepatan tinggi,” papar Maurice Kwakkernaat, salah satu peneliti yang terlibat dalam proyek tersebut, seperti dilansir KompasTekno dari Bangkokpost, Selasa (16/12/2014).

Sepeda pintar ini dikembangkan untuk pemerintah Belanda oleh organisasi riset Toegepast Natuurwetenschappelijk Onderzoek (TNO). Bila dijual secara komersil, kurang lebih dua tahun mendatang, harganya diperkirakan sekira 1.700-3.200 Euro per unit atau sekira Rp 27 juta -Rp 51 juta (dengan nilai tukar 1 Euro = Rp 16.000).
 
Editor: Wicak Hidayat
 

Warga AS Bentuk "The Indonesianist Community"

Rabu, 17 Desember 2014 | 08:45 WIB 


VOA
Warga AS, Chris Crow, pendiri 'the Indonesianist Community' di Washington, D.C.


WASHINGTON, KOMPAS.COM - Tinggal di Indonesia telah menjadi sebuah pengalaman yang tidak terlupakan bagi kebanyakan warga Amerika Serikat. Salah satunya adalah Chris Crow yang saat ini tinggal di Washington DC dan bekerja di universitas John Hopkins.

Tinggal di Indonesia selama tiga tahun dan pernah mendapat beasiswa dari pemerintah Amerika untuk mengajar bahasa Inggris selama satu tahun di sebuah SMA negeri di desa Paperu, Maluku telah memperkuat ikatan warga AS, Chris Crow, dengan Indonesia.

Inilah yang membuatnya tertarik untuk bergabung dengan 'the Indonesianist Community' dan akhirnya menjadi ketua dari klub perkumpulan warga internasional yang memiliki ketertarikan terhadap Indonesia ini. Hingga kini anggota dari milis the Indonesianist Community sudah mencapai sekitar 160 orang.

“(Organisasi) itu dibangun oleh teman saya, namanya Brian Kraft. Dia sekarang sudah pindah ke Jakarta lagi. Dia kerja di sana sebagai konsultan,” papar Chris kepada VOA Indonesia dengan bahasa Indonesia yang sangat fasih.

Klub ini berdiri karena banyaknya warga di sekitar Washington DC, baik warga AS mau pun internasional yang tertarik dengan Indonesia, baik dari segi politik, bahasa, atau pun hal lainnya. “Jadi (Brian) membuat klub ini supaya mereka bisa berkumpul, ngobrol, dan saling kenal. Juga untuk menyebar kesadaran tentang Indonesia di Washington DC dan di Amerika,” ujar Chris.

Kegiatan dari the Indonesianist Community ini juga sangat beragam. Namun yang paling populer adalah klub bahasa. “Itu sekitar 15 orang yang tertarik belajar bahasa Indonesia dan mereka berkumpul setiap minggu,” jelas Chris.

Pertemuan untuk klub bahasa ini biasanya dilakukan di restoran di daerah Washington, DC di mana para anggota yang hadir datang untuk melatih kemampuan bahasa Indonesia mereka. “Baik orang yang baru mulai, mau pun yang sudah cukup lancar,” lanjut Chris.

Selain klub bahasa, the Indonesianist Community juga kerap kali mengadakan seminar yang menghadirkan pembicara yang memiliki hubungan dengan Indonesia. Biasanya para tamu yang hadir adalah profesional yang memiliki hubungan kerja dengan Indonesia. “Misalnya dari kementerian luar negeri Amerika atau dari Think Thank, NGO (Non-Governmental Organizations), kan di Indonesia ada banyak,” jelas Chris.

Pengalaman Tinggal di Indonesia

Mengenai pengalamannya tinggal di Indonesia, khususnya di Maluku, Chris mengaku sangat senang. “Pantainya sangat indah dan airnya bersih dan jernih. Bisa lihat jauh (ke) dalam air, bisa snorkeling, berenang dan juga ada goa yang bisa dijelajahi,” papar pria penggemar soto betawi dan minuman bandrek ini. “Banyak kegiatan yang menarik, khususnya kegiatan yang berkaitan dengan alam,” lanjutnya.

Chris juga sangat menikmati interaksinya dengan warga setempat, bahkan selama mengajar di Maluku, ia tinggal bersama keluarga lokal. “Di sana orangnya juga sangat ramah. Saya senang sekali tinggal setahun di sana,” kenang mantan kontestan Asing Star di Indonesia ini.

Selama di Indonesia, Chris sudah pernah berkunjung ke berbagai tempat seperti Yogyakarta, Lombok, Makassar, Surabaya, Bandung, Bogor, dan Jakarta. Sedikit mengherankan ketika mengetahui bahwa Chris belum pernah berkunjung ke Bali, yang sering menjadi tujuan wisata pertama warga internasional. “Tiga tahun di Indonesia belum ke Bali,” kata Chris sambil tertawa. “Saya kurang tertarik sama tempat yang turis banget kayak gitu ya. Rasanya mungkin kayak Australia kadang-kadang,” lanjutnya.

Di antara semua tempat, ibu kota Jakarta menjadi favoritnya. “Di Jakarta saya betah sekali. Itu gara-gara komunitasnya. Orang-orang di Jakarta sangat ramah kayak di seluruh Indonesia, tapi di Jakarta lebih banyak orangnya dan lebih bermacam-macam,” papar pria yang hobi naik ojek untuk menghindari kemacetan Jakarta bersama Gebong, tukang ojek langganannya.

Lagi-lagi Chris mengungkapkan kekagumannya terhadap orang-orang Indonesia. “Orang Indonesia menurut saya paling ramah di dunia. Benar-benar luar biasa,” kata Chris.

Kepada teman-teman di Indonesia, Chris sempat berbagi tips kepada mereka yang ingin belajar Bahasa Inggris. “Kalau kalian ingin belajar bahasa Inggris coba aja datang ke tempat yang banyak bule supaya bisa latihan, karena kalo nggak berani latihan pasti nggak belajar,” papar Chris menutup wawancara dengan VOA.



Editor : Egidius Patnistik
Sumber: VOAINDONESIA
 

Sabtu, 22 November 2014

Pembangunan Waduk Jatigede Hampir Selesai





BANGUNAN terowongan pengelak di kawasan projek Waduk Jatigede di Kec, Jatigede, Kab. Sumedang, sudah selesai dibangun dan terlihat kokoh, beberapa waktu lalu. Terowongan pengelak tersebut, siap menyalurkan air ke saluran irigasi pesawahan di wilayah pantura (pantai utara).*
 
 
SUMEDANG, (PRLM).- Satuan Kerja (Satker) Pembangunan Projek Waduk Jatigede, hingga kini masih menunggu rencana pencairan dana kerahiman dari Presiden Jokowi (Joko Widodo) untuk pemindahan warga OTD (orang terkena dampak) pembangunan Waduk Jatigede.

Ketika dana kerahiman sudah diterima warga OTD hingga mereka semuanya pindah dan keluar dari lokasi genangan, tak lama bangunan Waduk Jatigede bisa digenangi. Sebab, proses pembangunan fisik Waduk Jatigede berjalan lancar bahkan pengerjaannya hampir selesai.

“Jadi, kita tunggu saja pencairan dana kerahiman dari Pak Presiden Jokowi. Rencananya, dana kerahiman termasuk semua anggaran pembiayaan terkait pembangunan Waduk Jatigede beserta programnya akan dicairkan tahun 2015 nanti,” ujar Kepala Satker Pembangunan Projek Waduk Jatigede, Airlangga Mardjono ketika dihubungi melalui telefon, di Sumedang, Jumat (21/11/2014).

Ia mengatakan, terkait pembangunan fisik Waduk Jatigede, hingga kini berjalan lancar tanpa ada masalah. Bahkan sampai sekarang, progres pembangunannya hampir selesai hingga mencapai 99,43 persen.

Kalau pun masih ada yang perlu dibangun, jenis pekerjaannya dinilai bukan pekerjaan pokok. Pekerjaan tersebut, yakni gantry crane dan plugging. Gantry crane, yakni membangun alat penggerak saringan sampah di intake PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air).

Sementara plugging, yaitu pemasangan beton penutup pada terowongan pengelak. Terlebih, pengerjaan plugging baru bisa dikerjakan apabila waduk sudah digenangi.

“Jadi yang belum dikerjakan, cuma pembangunan gantry crane dan plugging saja. Itu pun, bukan pekerjaan inti. Progres pembangunan fisik Waduk Jatigede, secara umum tinggal finishing,” ujar Airlangga.

Sehubungan pembangunan Waduk Jatigede hampir selesai, lanjut dia, dalam waktu yang tak lama, secara fisik, tubuh bendungan sudah siap digenangi. Namun, mengingat semua pembiayaannya dianggarkan pada tahun 2015, sehingga penggenangannya bisa dilaksanakan tahun depan.

“Pembangunan fisik hampir selesai. Untuk penggenangannya, tinggal menunggu pemindahan warga. Kami berharap, setelah dana kerahiman turun dan diterima warga OTD, mereka bisa segera pindah sehingga Waduk Jatigede bisa secepatnya digenangi. Kalau sudah digenang, mudah-mudahan air waduknya bisa langsung dimanfaatkan untuk mengairi pesawahan pada musim kemarau tahun depan,” tuturnya.

Menurut dia, terkait pemindahan para OTD, Menko Perekonomian saat rapat di Jakarta meminta gubernur dan bupati membantu proses pemindahannya supaya berjalan aman dan lancar.
“Pada waktunya nanti, kami berharap pak gubernur dan bupati membantu pemindahan warga sesuai arahan Pak Menko,” kata Airlangga.

Menanggapi pencairan dana kerahiman dari Presiden Jokowi untuk warga OTD, Ketua LSM Perkotdam Jatiber (Perkumpulan Komunikasi Orang Terkena Dampak Jatigede Bersatu), Djaya Albanik, menolak tegas dana kerahiman tersebut.

Pasalnya, dana kerahiman untuk pemindahan warga OTD, dinilai tidak sesuai Permendagri No. 15/1975 tentang program relokasi dan pembayaran ganti rugi lahan warga OTD yang terlewat pembebasan lahan.

Relokasi dan pembayaran ganti rugi pembebasan lahan yang terlewat itu, bagian dari tuntutan warga OTD dalam penyelesaian dampak sosial dan lingkungan pembangunan Waduk Jatigede.
“Karena tak sesuai aturan Permendagri No.15/1975, kami menolak dana kerahiman dari Pak Jokowi untuk pemindahan tersebut. Minggu ini, kami akan mengajukan penolakan ke pemerintah pusat,” ujar Djaya. (Adang Jukardi/A-89)***

Ini UMK Jawa Barat 2015

Sabtu, 22 November 2014 | 07:02 WIB


KOMPAS.com/RAMDHAN TRIYADI BEMPAH
 Aksi unjuk rasa para buruh di Kabupaten Bogor menuntut kenaikan Upah Minimum Kabupaten (UMK) sebesar 30 persen atau menjadi Rp 3.750.000. K97-14

 BANDUNG, KOMPAS.com — Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengumumkan upah minimum Kabupaten/Kota (UMK) yang baru untuk 27 kabupaten kota di Jawa Barat. Pengumuman disampaikan di Markas Pusat Kesenjataan Infanteri, Jalan Supratman, Kota Bandung, Jumat (21/11/2014).

Keputusan Gubernur tersebut ditetapkan dalam surat keputusan dengan nomor surat 560/Kep.1581-Bangsos/2014. Nilai UMK yang telah ditetapkan berlaku untuk tahun 2015 mendatang.

Berikut adalah rincian UMK yang telah ditetapkan:

1. Kabupaten Garut, UMK naik 15,21 persen dari Rp 1.085.000 menjadi Rp 1.250.000.
2. Kabupaten Tasikmalaya, UMK naik 12,17 persen dari Rp 1.279.329 menjadi Rp 1.435.000.
3. Kota Tasikmalaya, UMK naik 17,22 persen dari Rp 1.237.000 menjadi Rp 1.450.000.
4. Kabupaten Ciamis, UMK naik 8,74 persen dari Rp 1.040.928 menjadi Rp 1.131.862.
5. Kota Banjar, UMK naik 13,95 persen dari Rp 1.025.000 menjadi Rp 1.168.000.
6 Kabupaten Pangandaran, UMK naik 11,92 persen dari Rp 1.040.928 menjadi Rp 1.165.000.
7 Kabupaten Majalengka, UMK naik 24,50 persen dari Rp 1.000.000 menjadi Rp 1.245.000.
8 Kota Cirebon, UMK naik 15,37 persen dari Rp 1.226.500 menjadi Rp 1.415.000.
9. Kabupaten Cirebon, UMK naik 15,44 persen dari Rp 1.212.750 menjadi Rp 1.400.000.
10. Kabupaten Indramayu, UMK naik 14,78 persen dari Rp 1.276.320 menjadi Rp 1.465.000.
11. Kabupaten Kuningan, UMK naik 20,36 persen dari Rp 1.002.000 menjadi Rp 1.206.000.
12. Kota Bandung, UMK naik 15,50 persen dari Rp 2.000.000 menjadi Rp 2.310.000.
13 Kabupaten Bandung, UMK naik 15,31 persen dari Rp 1.735.000 menjadi Rp 2.001.195.
14. Kabupaten Bandung Barat, UMK naik 15,31 persen dari Rp 1.738.476 menjadi Rp 2.004.637.
15. Kabupaten Sumedang, UMK naik 15,31 persen dari Rp 1.735 473 menjadi Rp 2.001.195.
16. Kota Cimahi, UMK naik 15,31 persen dari Rp 1.569.353 menjadi Rp 2.001.200.
17. Kota Depok, UMK naik 12,85 persen dari Rp 2.397.000 menjadi Rp 2.705.000.
18. Kabupaten Bogor, UMK naik 15,51 persen dari Rp 2.242.240 menjadi Rp 2.590.000.
19. Kota Bogor, UMK naik 13 persen dari Rp 2.352.350 menjadi Rp 2.658.155.
20 Kabupaten Sukabumi, UMK naik 23,89 persen dari Rp 1.565.922 menjadi Rp 1.940.000.
21. Kota Sukabumi, UMK naik 16,44 persen dari Rp 1.350.000 menjadi Rp 1.572.000.
22. Kabupaten Cianjur, UMK naik 6,67 persen dari Rp 1.500.000 menjadi Rp 1.600.000.
23 Kota Bekasi, UMK naik 20,97 persen dari Rp 2.441.954 menjadi Rp 2.954.031.
24. Kabupaten Bekasi, UMK naik 16,04 persen dari Rp 2.447.445 menjadi Rp 2.840.000.
25. Kabupaten Karawang, UMK naik 20,84 persen dari Rp 2.447.450 menjadi Rp 2.957.450.
26. Kabupaten Purwakarta, UMK naik 23,81 persen dari Rp 2.100.000 menjadi Rp 2.600.000.
27. Kabupaten Subang, UMK naik 20,41 persen dari Rp 1.577.959 menjadi Rp 1.900.000.

Rata-rata, UMK di Jawa Barat naik dari 16,18 persen, dari Rp 1.621.961 menjadi Rp 1.887.619, atau naik Rp 265.657.


Penulis: Kontributor Bandung, Putra Prima Perdana
Editor : Hindra Liauw

Kamis, 20 November 2014

Sabtu, 15 November 2014

Bahasa dan Kesantunan Sebagai Ketahanan Budaya

GUNUNGSTOLI, (PRLM).-  Bahasa daerah (Nias) dan kelestariaannya perlu dijaga sebagai warisan budaya. Hal ini mengemuka dan menjadi keprihatinan para peserta Diskusi Budaya “Menjaring Peran Masyarakat Nias Dalam Pelestarian Budaya Nias” yang berlangsung di Museum Pusaka Nias, Gunungsitoli, Nias Sumatera Utara.

“Di antara sekian banyak budaya Nias, Li Niha, yaitu bahasa Nias merupakan salah satu faktor penting di kawasan budaya Nias yang begitu luas,” kata Pastor Johannes M. Hammerle, OFMCap, perintis dan pendiri Museum Pusaka Nias, kepada para peserta diskusi.

Hadir dalam diskusi ini para pemerhati sosial, seniman, budayawan, pemuka agama, wartawan, serta para pejabat dan birokrat setempat. Di antaranya; Wali Kota Gunungsitoli, Drs.Martinus Lase, M.Sp, yang juga sebagai Ketua Panitia Pelaksana Sidang Raya Persatuan Gereja Indonesia (SR-PGI) XVI – 2014, bersama Bupati Nias Drs.Sokhiatulo Laoli, MM, Bupati Nias Utara Edward Zega, dan Bupati Nias Barat, Adrianus Aroziduhu Gulo.

Bahasa daerah di era globalisasi sekarang ini, lanjut Johannes, sangat memprihatinkan. Walaupun pemerintah memberi peluang kepada bahasa daerah untuk bertahan sebagai bahasa pertama dan bahasa pergaulan intrasuku. “Bahasa daerah adalah identitas budaya masyarakat tertentu. Selain alat komunikasi. Bila ini tak digunakan maka ciri identitas lambat laun akan punah,” tuturnya.

Menurut Johannes, ada indikasi bahwa bahasa Nias sudah diwariskan sejak suku-suku purbakala. “Makin hari makin kuat pengaruh bahasa global mengancam eksistensi bahasa Nias. Yang paling penting untuk mempertahankan bahasa daerah Nias supaya para orangtua mengajarkan bahasa Nias kepada anak-anaknya dan penerbitan buku dalam bahasa Nias,” harap Pastor yang mengaku sejak tahun 1972, sudah memulai mengoleksi berbagai benda budaya, seni dan sejarah masyarakat Nias ini.

Selain bahasanya yang khas dan unik, Nias juga memiliki kekayaan dan keragaman budaya lainnya. Desa-desa tradisional di Pulau Nias, misalnya masih menyimpan sejumlah peninggalan budaya dan  para penutur sejarah. “Keragaman budaya Nias adalah kekayaan yang harus dioptimalkan agar terasa manfaatnya. Hal ini perlu diwujudkan menjadi kekuatan riil sehingga mampu menjawab berbagai tantangan kekinian yang ditunjukkan dengan melemahnya ketahanan budaya yang berimplikasi pada menurunnya kebanggaan kita sebagai bangsa,” ujar Johannes.

Wali Kota Gunungsitoli, Drs. Martinus Lase, M.Sp, dalam sambutannya menyampaikan keprihatinannya, terhadap hilangnya budaya santun di sebagian anak-anak muda dewasa ini. “Karena perkembangan budaya global, masyarakat makin kehilangan budayanya yang santun, menghargai orangtua, guru, dan lain sebagainya. Bahkan timbul berbagai masalah sosial diantaranya; kesenjangan sosial ekonomi, kerusakan lingkungan hidup, kriminalitas, dan kenakalan remaja,” ungkapnya.

Terkait dengan ketahanan budaya Nias, Martinus berharap, agar masing-masing keluarga Nias, dapat menanamkan nilai-nilai luhur budayanya.  “Penanaman nilai-nilai budaya ini diantaranya bisa kita lakukan melalui kegiatan atau acara kesenian berbasis tradisi. Karena budaya itu menunjukkan karaktrer. Mengandung nilai-nilai dan daya kearifan. Sangat khas sesuai dengan keyakinan dan tuntutan hidup dalam upaya mencapai kesejehtaraan bersama,” ujar Martinus.(Munady/A-147)***