Senin, 11 Agustus 2014

Oleh-oleh mudik dari Pangalengan

Saat Idul fitri tiba, banyak orang yang berebut untuk mudik. Segala cara dipakai agar bisa mudik. Akan tetapi berbeda dengan mereka yang tidak bisa mudik atau belum bisa mudik karena sesuatu hal, apalagi bagi mereka yang tidak punya tempat mudik. Pastinya hanya bisa diam di rumah sehabis sholat Id, paling banter bersilaturahik ke saudara yang dekat atau jalan-jalan di dalam kota.

Begitupun dengan Idul Fitri 1435 H saya dan keluarga hanya bisa diam di rumah. Adik saya hanya bisa nonton film horor di siang hari. Akhirnya teman saya mengirim pesan singkat, bahwa pada tanggal 2 Agustus 2014, mengajak bersepedah ke daerah pangalengan, saya pun menanyakan teman-teman yang lain ada yang ikut tidak? Jawab temanku ada kira-kira 4 orang. Saya langsung balas pesan singkat itu dengan ya... saya ikut.

Saya berangkat dari rumah kira-kira pukul 05.50 pagi, menyusuri Jalan Soekarno-Hatta yang lurus dan terasa membosankan meskipun banyak pesepeda yang lain di jalan itu. Baru setelah masuk ke Jalan Kopo saya mulai bersemangat lagi mengayuh sepeda. Akhirnya sampai di titik kumpul, di Lanud Sulaiman, Bandung dan sudah ada sang Komandan menunggu bersama saudaranya. Tidak lama kemudian mulailah berdatangan rekan-rekan saya yang lain.

Kami saling bersilaturahim, mengobrol, dan bercanda. Kemudian mobil pengangkut sepeda datang. Mulailah sepeda dinaikkan di atas bak mobil. Setelah kumpul semua, mulailah perjalanan ke daerah Pangalengan diselingi obrolan dan candaan yang selalu menghiasai kebiasaan kami kala bersepeda adventur.

Setiba di Pangalengan, kami bertemu dengan pemandu tim kami, ada 4 orang yang biasa memandu kami kala bersepeda di sekitaran perkebunan teh di Pangalengan.

Bersepeda belum mulai, ada kejadian yang sungguh mengejutkan, sepeda komandan kami ternyata bannya kempes, bukan karena bocor tetapi karena terhembus knalpot mobil yang membuat ban luar dan ban dalam jadi bocor. Untungnya teman kami dari Pangalengan punya ban luar yang bisa dipinjam. Kami meneruskan perjalanan ke tempat tujuan yakni titik pemberangkatan/start.

Sampai di tempat start, kami mengecek sepeda yang baru diturunkan dari atas mobil. Ada yang memasang/mengganti ban, menyetel seatpost, dll. Sebelum berangkat kami semua berdoa agar selamat sampai tujuan. Petualangan dimulai....

Suguhan pertama sudah tersaji sebuah turunan yang mengasyikan, setelah itu lumayan curam. Sepanjang perjalanan menyusuri perkebunan teh dan menyisir daerah di sekitaran jalur pipa-pipa besi tenaga uap. Oleh-olehnya berupa foto.















































Link video:

Gowes XC Perkebunan Teh Wayang Windu - Situ Cileunca Pangalengan - de' Captone





Ahmad Saparudin
Anggota komunitas sepeda de' Captone Bandung

Sabtu, 19 Juli 2014

Ekstrak Pektin dari Kulit Pisang untuk Turunkan Kolesterol

Penulis : Lusia Kus Anna | Kamis, 17 Juli 2014 | 14:34 WIB 
 
 
shutterstock
 Pisang
 
 
 
KOMPAS.com - Manfaat buah pisang untuk kesehatan mungkin sudah lama kita kenal. Namun, tak banyak orang yang mengetahui bahwa kulit pisang ternyata juga dapat dimanfaatkan untuk mengatasi kadar kolesterol tinggi.

Tiga mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang, yakni Lukman Azis, Nisa Alfilasari dan Clara Arha, melakukan penelitian mengenai manfaat kulit pisang. Ternyata, pektin yang diekstrak dari kulit pisang  memiliki manfaat antikolesterol.

Zat pektin tersebut kemudian dibuat menjadi permen kenyal atau marshmallow yang lezat. "Pektin memiliki sifat mampu mengikat air, misalnya saja gel. Nah, marshmallow membutuhkan gel sehingga kami memilih bentuk permen ini. Lagi pula, sekarang ini marshmallow sedang disukai orang," kata Lukman, ketua tim penelitian, ketika dihubungi KOMPASHealth (17/7/14).

Ia menjelaskan, proses pembuatan pektin ini cukup mudah dan dapat dilakukan menggunakan peralatan rumah tangga biasa. Limbah kulit pisang yang telah disortasi cukup diiris kecil kemudian dikukus selama 10 menit. Tahap selanjutnya adalah pengeringan dan penepungan. Tepung inilah yang kemudian diekstraksi dengan metode padat-cair pada suhu 90 celcius menggunakan pelarut asam. Hasil ekstraksinya kemudian menjadi bahan dasar pembuatan marhmallow.

"Bahan-bahan marshmallow semuanya alami. Untuk pewarna pink, saya menggunakan ekstrak buah naga. Gula yang dipakai juga yang rendah kalori," ujarnya.

Lukman yang kini masih duduk di semester 8 ini menjelaskan, pektin yang diekstrak dari kulit pisang ternyata bisa menurunkan kolesterol. Penelitian yang ia lakukan terhadap tikus selama dua minggu menunjukkan penurunan kolesterol hingga 52 persen.

"Saya menguji ke tikus yang kondisinya tinggi kolesterol. Selama dua minggu tikus ini diinjeksi dengan pektin yang dosisnya sudah dikonversi. Ternyata terjadi penurunan kadar kolesterol sampai 52 persen," kata dia.

Ia menambahkan, umumnya pektin yang digunakan dalam industri makanan berasal dari apel dan jeruk yang merupakan buah mahal. Setiap tahunnya, Indonesia mengimpor pektin hingga berton-ton.

"Pektin dari limbah kulit pisang ini lebih menguntungkan karena murah. Selain itu ada khasiat menurunkan kadar kolesterol," paparnya.

Penelitian yang ia lakukan merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian yang diadakan oleh Ditjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud. Penelitian tersebut ia lakukan di bawah bimbingan dosennya Nur Ida Panca STP.

Lukman menilai, selama ini limbah kulit pisang hanya dimanfaatkan sebagai makanan ternak, padahal ada kandungan yang bermanfaat di dalamnya. "Ibaratnya kini sekali mendayung dua pulau terlampaui. Pertama bisa memanfaatkan kulit pisang secara ekonomis sehingga menambah  nilai jual pisang. Yang kedua adalah menginovasi pembuatan marshmallow sebagai permen antikolesterol," katanya.

Ia juga berencana melanjutkan penelitiannya untuk mengetahui efektivitas pektin dari kulit pisang pada manusia dan juga penyakit lainnya. Proses paten juga sedang dilakukannya. 

Rabu, 16 Juli 2014

Hidrogen Sulfida Mencegah Kerusakan Mitokondria

Kentut Bisa Menyembuhkan Penyakit

 

GETTY/"PRLM"
 KENTUT ditengarai bisa menyembuhkan berbagai penyakit.*


DEVON, (PRLM).- Pekan lalu sebuah studi yang dilakukan Universitas Exeter, Inggris mengungkapkan bahwa kentut yang bau bisa menyembuhkan segala macam penyakit fatal, kontan saja banyak liputan media membahas tentang sifat-sifat penyembuhan tidak lazim ini, dan banyak para pakar mengkritiknya.

Tentu saja, studi yang sebenarnya jauh lebih kompleks, dan tidak secara khusus mereferensikan kentut, hanya hidrogen sulfida, gas yang dihasilkan oleh proses alami tubuh yang menyebabkan perut kembung dengan bau yang tidak menyenangkan.

Studi ini, seperti diberitakan The Guardian Senin (14/7/2014), menyatakan bahwa pengiriman senyawa yang disebut AP39 menyebabkan lebih banyak hidrogen sulfida diproduksi oleh sel yang sakit, dan hidrogen sulfida dalam dosis kecil terbukti melindungi mitokondria sel, yang memasok energi sel dan sering rusak oleh penyakit.

Hidrogen sulfida mencegah kerusakan mitokondria ini karena itu dapat membantu sel-sel melawan perkembangan banyak penyakit. (Dede Suhaya/A-107)***

Tahu, Kenapa Perusahaan Jepang "Kepincut" dengan Lulusan Indonesia?


Sabtu, 5 Juli 2014 | 15:31 WIB

M Latief/KOMPAS.com
Masih berdasarkan data Career Office APU, pada 2013 lalu tercatat sebanyak 355 perusahaan Jepang mendatangi APU untuk menggelar rekrutmen tenaga kerja first graduate.


 KOMPAS.com — Kantor Karier (Career Office) Ritsumeikan Asia Pacific University (APU) di Beppu, Jepang, menempatkan para pelajar Indonesia sebagai pelajar paling diincar perusahaan-perusahaan multinasional Jepang. Kemampuan bahasa Jepang dan Inggris para pelajar Indonesia dinilai sangat baik, sebaik kemampuan studi di bidang masing-masing. (Baca: Hebat... Pelajar Indonesia Paling Diincar Perusahaan Jepang!).

Berdasarkan data Career Office Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Jepang, tahun 2013, menunjukkan bahwa job placement rate untuk anak-anak Indonesia pada 2012 mencapai angka 100 persen, sementara pada 2013 lalu turun sedikit hanya 96,7 persen. Pada 2013, sebanyak 73 persen dari total pelajar asal Indonesia di APU pun tercatat paling aktif mencari pekerjaan.

"Jadi, persentase anak Indonesia yang mendapatkan pekerjaan di Jepang itu 65 persen, yang bekerja di Indonesia 17 persen, sedangkan sisanya yang 17,5 persen itu di negara lain atau melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi," kata Masako Posselius, Manager Career Office Ritsumeikan APU, di kantornya di Kampus APU, akhir Juni lalu.

Masih berdasarkan data Career Office APU, pada 2013 lalu, tercatat sebanyak 355 perusahaan Jepang mendatangi APU untuk menggelar rekrutmen tenaga kerja bagi mereka yang baru lulus. Kunjungan dan rekrutmen yang disebut dengan "On Campus Recruiting" itu kerap dijadikan kesempatan bagi para mahasiswa Ritsumeikan APU, khususnya mahasiswa tingkat III dan IV, untuk mulai merancang job hunting.

"Karena pada saat itu para mahasiswa hanya mulai fokus pada akhir masa studinya dan serius dengan aktivitas riset mereka untuk menyelesaikan studi. Sejauh ini, para alumnus dan perusahaan selalu puas dengan capaian anak-anak Indonesia yang mereka rekrut," kata Masako.

Menanggapi hal itu, alumnus Ritsumeikan APU, Ahmad Hadi Royani atau Royan, mengakui bahwa pengalaman berkomunikasi dengan mahasiswa dari berbagai negara di "kampus internasional" Ritsumeikan APU merupakan pengalaman sangat berharga. Dia sepakat bahwa karena bergaul itulah dia menjadi orang yang sangat percaya diri ketika masuk ke dunia kerja di Jepang.

"Pertama dari kemampuan bahasanya, orang Indonesia itu lebih unggul. Kedua, sebagai orang Indonesia, saya dianggap bisa masuk ke budaya orang-orang Jepang itu. Ketiga, kemampuan berkomunikasi orang-orang Indonesia sangat baik, mungkin bisa dibilang sangat luwes. Kita dianggap lebih mengerti perbedaan," ujar Royan, Sales dan Marketing Consultant di Michael Page International Japan, di Tokyo.  




M Latief/KOMPAS.com


Berdasarkan data Career Office Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Jepang, tahun 2013, job placement rate untuk anak-anak Indonesia pada 2012 mencapai angka 100 persen, sementara pada 2013 lalu turun sedikit hanya 96,7 persen.





Royan mengakui, semasa kuliah, pencapaian prestasi akademiknya terbilang biasa saja. Namun, dia termasuk anak yang aktif berorganisasi, menjadi volunter untuk bermacam kegiatan kampus, dan kerja sambilan. Dari situlah keluwesan bergaul, kemampuan berkomunikasi, dan kefasihan berbahasa terasah secara alami. (Baca: Saatnya... Kampus Jadi Ajang "Trial and Error" Bergaul di Dunia Internasional!).

"Secara langsung kita memang tidak dididik menjadi seperti itu karena semuanya berjalan alami ketika menuntut ilmu dan bergiat di kampus. Lingkungan kampus membuat kita seperti itu. Jadi, kalau ke sini cuma belajar, enggak akan dapat apa-apa," ujar Royan.

Track yang benar

Berdasarkan survei Carrier Office Ritsumeikan APU pada 2013 lalu, spesifikasi kebutuhan sumber daya manusia yang diinginkan perusahaan-perusahaan internasional Jepang tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan teknis (skill) dan potensi akademik. Lebih dari itu, beberapa variabel non-teknis (non-skill) sangat mereka butuhkan dari para sarjana lulusan perguruan tinggi (Sekali Lagi... Jangan Lupakan "Non-Skill"!).

"Kepemimpinan, kemampuan menemukan masalah, kemampuan mengeksekusi rencana, memberi inspirasi orang di sekitarnya, suka belajar dan memperbaiki diri, serta punya semangat kerja sama yang tinggi. Kriteria itulah yang utama," kata Dahlan Nariman, Vice Dean of Admission-Associate Professor Ritsumeikan Asia Pacific University (APU).

"Untuk akademik rata-rata GPA atau IPK anak Indonesia itu 3,00. Sementara itu, yang dianggap paling menonjol dari anak-anak Indonesia itu khususnya dari sisi non-akademik. Para mahasiswa Indonesia dinilai paling kreatif untuk urusan non-akademik dan selalu unggul dibanding anak lain," kata Dahlan.

Melihat kenyataan itu, Director Ritsumeikan Tokyo Office, Shiota Kuninari, mengaku sebelumnya tidak pernah terbayangkan bahwa lulusan Indonesia di APU akan seperti saat ini. Pada masa awal berdiri tahun 2000, banyak orang memandang sebelah mata pada APU dengan konsepnya yang dikenal dengan "konsep 50". Kini, ketika industri Jepang maju dan sangat membutuhkan SDM asing, salah satunya dari Indonesia, ia merasa APU sudah berada di track yang benar.

"Saya yakin bahwa APU sudah dijadikan model untuk internasionalisasi pendidikan tinggi di Jepang sehingga pemerintah pun kini mendukung banyak perguruan tinggi di sini untuk go international. Jepang agak terlambat dari segi persaingan global di bidang pendidikan, saya akui itu," ujar Shiota.

Ucapan jujur Shiota itu ternyata diperkuat oleh pernyataan alumnus Ritsumeikan APU lainnya, Taufan Hadi Pandusegoro. Semasa kuliah, Taufan mengaku dirinya tergolong mahasiswa "tukang main". Istilah "tukang main" adalah mahasiswa yang rajin berorganisasi atau melakukan bermacam kegiatan kampus dan biasa saja dalam prestasi akademik.

"Orang Jepang mengakui bahwa anak-anak Indonesia itu sosok yang rajin, stigma itulah yang sering muncul. Padahal, sejak kuliah kita memang sudah terbiasa bekerja, punya inisiatif ketika ada sebuah masalah di keorganisasian. Jadi, kita memang sudah terbiasa, dan ketika masuk ke dunia kerja, itu bukan masalah lagi," kata Taufan, Production Planner di Fujitsu Ltd di Kawasaki, Jepang.


 
M Latief/KOMPAS.com
 Istilah tukang main adalah mahasiswa yang rajin berorganisasi atau melakukan bermacam kegiatan kampus dan biasa saja dalam prestasi akademiknya.


 Taufan menuturkan bahwa sebetulnya banyak perusahaan di Jepang yang secara budaya perusahaan belum terhitung sebagai perusahaan global. Bisa dikatakan, perusahaan-perusahaan itu masih dalam tingkat menuju global, meskipun termasuk perusahaan berskala besar.

"Orang Jepang itu kalau mau melakukan sesuatu yang baru sangat lama berpikirnya, itu karakter mereka. Itulah sebabnya, banyak perusahaan Jepang memilih merekrut lulusan asing atau mahasiswa internasional seperti anak Indonesia untuk bekerja di perusahaan mereka, ketimbang lulusan Jepang. Kita diharapkan bisa mengubah budaya kerja di perusahaan mereka. Jadi, banyak kesempatan terbuka luas untuk anak-anak Indonesia yang ingin berkarya," kata Taufan.



Penulis: Latief
Editor : Latief