Kamis, 24 Januari 2013

Iket Mengikat Loyalitas Budaya


(PR) Minggu, (Wage) 20 Januari 2013


HARRY SURJANA/"PR"
 Agus Roche (kiri) bersama anggota Komunitas Iket Sunda (KIS) memakai beragam iket Sunda. Menurut Agus Roche, munculnya pemakaian iket Sunda itu karena kecintaan anak muda terhadap budaya Sunda. Komunitas itu juga menanam benih kreasi variasi iket.


“Nu lima diopatkeun. Nu opat ditilukeun. Nu tilu diduakeun. Nu dua, dihijikeun. Nu hiji jadi kasep (Yang lima dijadikan empat. Yang empat dijadikan tiga. Yang tiga dijadikan dua. Yang dua dijadikeun satu. Yang satu menjadi tampan)”.

Kalimat itu diucapkan pengajar Filsafat Seni, Prof Yakob Sumardjo saat mengajar mahasiswa pascasarjana di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), Kota Bandung. Menurut dia, filsafat Sunda selalu merujuk alam.

Apakah kalimat tadi dikenal di kalangan orang Sunda maka kini? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Mari melihat ke fenomena yang muncul kini, saat iket menjadi tren di kalangan anak muda. Iket semula digunakan oleh masyarakat adat, namun sekarang tak lagi demikian. Anak-anak muda dengan berbagai macam motif dan gaya memakai iket tampak di setiap sudut Kota Bandung. Ada apakah ini?

Terlalu banyak pertanyaan yang muncul. Tokoh masyarakat Sunda, Eka Santosa, mengurai sejumlah jawaban yang memungkinkan hal itu terjadi. Menurut Eka, fenomena ini terjadi secara alami. Ini menunjukkan adanya kerinduan akan tata nilai-nilai local. “Penyebabnya pada kejenuhan akan modernisasi yang tidak menyelesaikan masalah. Yang ada malah merumitkan tradisi, sehingga ada keinginan kembali pada tata nilai tradisional,” katanya.

Iket yang dipakai oleh generasi sekarang adalah sebagai sebuah identitas. Mereka sengaja menciptakan kekhasan iket yang mereka pakai untuk menunjukkan siapa mereka. “Padahal, pemakaian iket itu penuh dengan pemaknaan diri,” ujar Eka.

Dia member contoh di tengah masyarakat Baduy yang menjadikan iket sebagai identitas diri sejak lampau. Orang bias membedakan dengan mudah dari Baduy manakah seseorang dilihat dari iket yang dipakainya. Selain itu, iket juga merupakan komitmen pada diri yang harus terus terjaga.

Budayawan Sunda Nana Munajat menerjemahkan iket sebagai batasan pada diri yang memakainya. Iket yang dipasang di kepala orang Sunda, secara filosofis menandakan agar pemakainya tidak ingkah (lepas) dan ngencar (lepas) dari kasundaan. “Iket itu sebagai ikatan bagi pemakainya,” ucapnya.

Kebanggaan memakai iket sekarang tinggal diarahkan pertanggungjawabannya melestarikan budaya local. Namun, tidak bias dimungkiri iket juga menghadirkan berbagai macam kreativitas gaya memakainya. Dulu, menurut Nana, dikenal tujuh gaya memakai iket, di antaranya parekos nangka, lohen, tutup liwet atau julang ngapak, barangbang semplak, balukar peunggas, sampai, dan kole nyangsang. “Munculnya banyak gaya memakai iket untuk kreativitas itu sah-sah saja. Karena iket juga tidak bisa diklaim  begitu saja sebagai milik masyarakat Sunda. Daerah lain juga memiliki. Yang membedakan hanyalah cara berpikir yang mesti selaras dengan pakaian yang digunakan,” kata Nana.

 (A = Barangbang Semplak), (B = Julang Ngapak), (C = Mahkota Wangsa), (D = Candra Sumirat), (E = Koncer), (F = Kole Nyangsang), (G = Kampung Adat Dukuh), (H = Parekos Jengkol), (I = Parekos Gedang), (J = Parekos Nangka), (K = Kebo Modol), (L = Buaya Ngangsar)


Nana juga mengapresiasi keinginan pemerintah mewajibkan memakai iket. Namun tidak hanya memakai, diisi pula makna dari iket itu. “Untuk apa kepala dipakaikan iket kalau isinya tetap ngencar. Fungsi iket itu kan, agar kita tidak ingkah dari budaya dan agama,“ tutur Nana.

Kalimat yang diucapkan Prof. Yakob Sumardjo tadi sudah dikenal oleh orang Sunda sejak di masa lampau. Kalimat itu pula yang mudah diingat ketika melipat kain iket sunda untuk dipasangkan di kepala. Yakob mengatakan filsafat alam itu pula yang ada dalam iket. Ia menggambarkan iket itu sebagai mandala (mata angin) yang memiliki pusat di bumi. Itu pula digambarkan dalam warna-warna dasar iket yang selalu dekat dengan alam. “Ketika dari lima menjadi satu, maka ia berusaha mendekatkan diri dengan Tuhan yang satu. Setelah dekat dengan Tuhan, maka pemakainya akan tampan luar dalam,” ucap Yakob.

Hal senada juga diungkapkan salah seorang pendiri Paguyuban Sundawani Robby Maulana Dzulkarnaen. Menurut dia, fenomena maraknya pemakaian iket, khususnya di kalangan anak muda bisa diartikan sebagai tanda bangkitnya budaya Sunda. Meski ini baru menjadi cirri, tapi diharapkan bisa mendongkrak kesadaran dalam bertingkah laku. “Malu dengan iket jika ternyata masih berbuat di luar Kasundaan,” katanya.

Robby melihat fenomena ini menjalari kaum muda. Dengan begitu, antara kaum muda dan kaum sepuh sama-sama menyandarkan diri.

Iket Kreasi
Kini, tidak hanya warna polos dan mendekati tanah seperti biru, cokelat, dan putih yang menjadi tren. Iket-iket dengan motif tertentu dibuat untuk menunjukkan identitas pemakai. Ada yang dilukis atau pun dicetak. Untuk mempermudah pemakai, iket telah dibuat praktis bak peci. Namun, yang tetap rajin berkreasi bertahan dengan iket lepasan.

Budayawan Nana Munajat juga membuat iket praktis sejak 2005. Hanya, dulu Nana menjualnya untuk kalangan tertentu sesuai pesanan. Pemesanan iket praktis didominasi gaya kole nyangsang, cikerak, kuda ngencar, dan barangbang semplak. Dengan harga Rp50.000, Nana menerima pesanan minimal 10 buah. Pesanan pun lalu diproduksi di rumahnya di Jalan Kuta Luhur No. 77, RT 02 RW 08 Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Bandung Barat.

Iket praktis dengan berbagai variasi di luar pola dasar pun bermunculan. Komunitas Iket Sunda (KIS) yang menanam benih munculnya kreasi itu. Menurut Ketua KIS, Agus Roche, munculnya pemakaian iket Sunda itu karena kecintaan anak muda terhadap budaya Sunda. Pemakaian iket itu nantinya tidak hanya berfungsi merapikan rambut, melindungi kepala, membawa barang, dan pelindung badan, tetapi juga bisa membuat pemakainya bisa mengikat hawa napsunya.

Soal motif yang ada dalam iket, Agus membaginya dalam beberapa bagian yaitu pager, modang, waruga, dan juru. Pager adalah motif yang ada di sekeliling iket. Modang, bentuk kotak bujur sangkar pada bagian tengah iket. Waruga, bagian tengah iket yang polos. Sedangkan juru adalah motif yang ada di setiap sudut iket.

Gaya-gaya iket juga terus bervariasi. Malahan jika pemakai iket memiliki gaya baru, ia akan memamerkan di komunitas. “Saya berharap tren ini tidak sesaat dan bisa terus bangga sebagai orang Sund,” ucap Agus.

Sumber: Pikiran Rakyat (Dewiyatini)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar