Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Maret 2023

Flexing Viral karena Istri Pejabat Pamer Harta, Arti Flexing Bahasa Gaul Apa?

 Berita dari pitos punjadi


TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Flexing viral di sejumlah medsos karena istri pejabat pamer harta, lantas arti flexing Bahasa Gaul apa?


Melihat dari katanya, flexing adalah bahasa Inggris berasal dari kata flex.

Dalam bahasa Indonesia, flex berarti lentur atau melenturkan.

Selain itu, kata flex juga berarti menggunakan kemampuan dan kelebihan yang dimiliki.

Sedangkan flexing adalah versi verb-ing atau gerund yang berarti orang tersebut sedang menggunakan kemampuan dan kelebihan yang dimiliki.

Nah, kata flex dan flexing ini digunakan sebagai kata plesetan atau banyak digunakan sebagai Bahasa Gaul.

Di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, kata flex dan flexing dipakai untuk menjelaskan orang yang suka memamerkan kemampuan dan kelebihannya di sosial media.


Dipakai di Indonesia

Kata flex dan flexing juga banyak dipakai di Indonesia.

Nah, seiring waktu, kata flex dan flexing ini memiliki konotasi negatif.

Kata ini sering dihubungkan dengan kebiasaan pamer di media sosial.

Entah itu pamer kemampuan dan pamer kekayaan.

Tindakan yang Tidak Terpuji

Kata flexing pun memiliki konotasi yang negatif.

Contoh flexing adalah pamer harta benda atau kekayaan yang diunggah ke media sosial.

( Tribunpekanbaru.com )

Rabu, 16 Juli 2014

Maraton



Kompas Sabtu, 03 Mei 2014

ANDRÉ MÖLLER
 Penyusun Kamus Swedia-Indonesia, Tinggal di Swedia




Beberapa bulan yang lalu saya ikut sebuah lomba lari marathon untuk kali pertama. Lomba ini berlangsung  pada malam hari pada musim gugur di Swedia. Jadi, teman paling setia selama 42,2 kilometer adalah kegelapan, kesunyian, dan kedinginan. Selain sempat meragukan kesehatan mental saya berulang kali selama lebih dari 3,5 jam, saya juga sempat memikirkan kata maraton sendiri.

Menurut legenda, seorang pembawa kabar bernama Pheidippides ditugasi lari dari medan perang di Kota Marathon ke Athena(ibu kota Yunani) untuk menyampaikan kabar bahwa pasukan Yunani berhasil mengalahkan pasukan Persia. Ia mesti menyampaikan kabar ini dengan segera supaya pemimpin Athena tidak membiarkan pasukan Persia memasuki Kota Athena. Pertempuran Marathon ini berlangsung pada 490 Sebelum Masehi. Ceritanya, Pheidippides lari tanpa berhenti (walaupun habis ikut berjuang dalam pertempuran tadi) dan, ketika sampai di Athena, ia berteriak, “Nikomen!” atau “Kita menang!” Setelah itu, menurut legenda, ia langsung meninggal kecapaian.

Tentu akurasi cerita itu diperdebatkan. Yang pasti, ada beberapa jalan dari Marathon ke Athena yang bisa dipilih seorang pembawa kabar. Jika Pheidippides memilih lewat jalur selatan (di sebelah selatan Gunung Penteli), ia lari kira-kira 40 kilometer (kalau tidak kesasar). Kalau dia lewat jalur utara, jaraknya hanya sekitar 35 kilometer, tetapi ada kenaikan curam yang hampir 5 kilometer panjangna. Pada Olimpiade 1896, lomba lari maraton dimasukkan sebagai acara untuk mengingat kemuliaan Yunani kuno, dan pada Olimpiade London tahun 1908, jarak sebuah maraton ditetapkan menjadi 42,195 meter.

Kata maraton atau marathon sudah jadi kosakata dala hamper setiap bahasa di dunia ini. Bahasa Indonesia bukan sebuah kekecualian. Kamus Besar Bahasa Indonesia mencantumkan maraton (tanpa “h”) baik sebagai data benda dengan arti ‘perlombaan lari jarak jauh (10 km atau lebih)’ maupun sebagai kata sifat dengan arti ‘terus-menerus (tanpa berhenti)’. Untuk arti pertama, saya mesti memprotes karena KBBI seolah-olah setuju bahwa lomba lari (atau perlombaan lari) 10 km bisa disebut maraton. Bagi setiap orang yang pernah lari dalam sebuah maraton yang sebenarnya, ini sebuah penghinaan. Terus, sebuah jarak yang juga sangat lumrah dijadikan jarak untuk lomba adalah 21,095 meter, yakni setengah maraton, tetapi gabungan kata ini tidak masuk KBBI sama sekali. Mungkin karena setiap jarak di atas 10 km adalah maraton menurutnya.

Pemakaian kata marton dalam art kedua (sebagai kata sifat) juga sudah jadi hal yang lumrah dalam beberapa bahasa. Maka, jangan heran kalau ada politikus yang”diperiksa secara maraton” setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus korupsi, atau kalau sejumlah pusat perbelanjaan di Ibu Kota mengadakan shopping marathon (lengkap dengan “h” karena selalu berbahasa Inggris dan, karena, “belanja maraton” akan terasa kampungan). Jangan heran kalau DPRD Yogyakarta membahas Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah “secara maraton” ketika waktunya sudah menyempit.

Membahas ekonomi, belanja, ataupun diperiksa KPK tentu saja bikin setiap orang berkeringatan. Namun, bagi kami, kaum pelari maraton, penggunaan ini tetap juga terasa  tidak enak di hati. Masalahnya, tidak satu pun kegiatan di atas memerlukan pelatihan selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Ya, sudahlah. Sekarang fokus saya selanjutnya pada Copenhagen Marathon yang akan berlangsung pada 18 Mei mendatang.
 

Selasa, 22 April 2014

Morfologi



Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Sumber: Buku Morfologi (Suatu Tinjauan Deskriptif)
Penerbit: CV Karyono-Yogyakarta


Apakah Morfologi Itu?
Di samping kata sepeda terdapat kata bersepeda, sepeda-sepeda, sepeda motor; di samping kata rumah,terdapat kata berumah, perumahan, rumah-rumah, rumah-rumahan, rumah sakit; di samping kata jalan, terdapat kata berjalan, berjalan-jalan, jalan-jalan, perjalanan, menjalani, menjalankan, jalan raya, dan sebagainya.

Dari kata-kata tersebut dapatlah dikemukakan bahwa kata dalam bahasa Indonesia mempunyai berbagai bentuk. Kata sepeda terdiri dari satu morfem, sama halnya dengan kata rumah dan jalan;  kata bersepeda terdiri dari dua morfem; ialah morfem ber- sebagai afiks, dan morfem sepeda sebagai bentuk dasarnya. Demikian pula kata berumah dan berjalan, -masing-masing terdiri dari dua morfem, ialah morfem ber – sebagai afiks, dan morfem rumah, jalan, sebagai bentuk dasarnya.  Kata sepeda-sepeda terdiri dari dua morfem ialah morfem sepeda sebagai bentuk dasar, diikuti morfem sepeda sebagai morfem ulang. Demikian pula kata rumah-rumah, dan jalan-jalan, terdiri dari dua morfem, ialah morfem rumah dan jalan, diikuti morfem ulang.  Kata sepeda motor terdiri dari dua morfem, ialah morfem sepeda dan morfem motor, yang masing-masing merupakan kata. Demikian pula kata rumah sakit dan jalan raya.  Kata perumahan terdiri dari dua morfem, ialah morfem per-an sebagai afiks dan morfem rumah sebagai bentuk dasar. Demikian pula kata perjalanan, terdiri dari dua morfem, ialah morfem per-an sebagai afiks dan morfem jalan sebagai bentuk dasar. Kata rumah-rumahan terdiri dari tiga morfem, ialah morfem rumah sebagai bentuk dasar, diikuti morfem rumah sebagai morfem ulang dan morfem –an sebagai afiks. Kata berjalan-jalan terdiri dari tiga morfem, ialah morfem ber- sebagai morfem afiks, morfem jalan yang bersama-sama dengan morfem ber- merupakan bentuk dasar, dan morfem jalan yang kedua yang merupakan morfem ulang. Kata menjalani terdiri dari tiga morfem, ialah morfem meN- sebagai afiks, morfem jalan sebagai bentuk asal, dan morfem –i sebagai afiks. Yang terakhir, kata menjalankan terdiri dari tiga morfem, ialah morfem meN- sebagai afiks, morfem jalan sebagai bentuk asal, dan morfem –kan sebagai afiks. Soal-soal yang berhubungan dengan bentuk kata itulah yang menjadi objek dari suatu ilmu yang lazim disebut morfologi.

Perubahan-perubahan bentuk kata menyebabkan adanya perubahan golongan dan arti kata. Golongan kata sepeda tidak sama dengan golongan kata bersepeda. Kata sepeda termasuk golongan kata nominal, sedangkan kata bersepeda termasuk golongan kata verbal. Demikian pula golongan kata rumah dan jalan, misalnya dalam kalimat, Rumah itu disewakan dan Jalan itu sangat licin, berbeda dengan golongan kata berumah dan berjalan. Kata rumah dan jalan termasuk golongan kata nominal, sedangkan data berumah dan berjalan termasuk golongan kata verbal.

Di bidang arti, kata-kata sepeda, bersepeda, sepeda-sepeda, dan sepeda motor, semuanya mempunyai  arti yang berbeda-beda. Demikian pula kata-kata rumah, berumah, perumahan, rumah-rumah, rumah-rumahan, rumah sakit, dan kata-kata jalan, berjalan, berjalan-jalan, jalan-jalan, perjalanan, menjalani, menjalankan, dan jalan raya.

Perbedaan golongan dan arti kata-kata tersebut tidak lain disebabkan oleh perubahan bentuk kata. Karena itu, maka morfologi, di samping bidangnya yang utama menyelidiki seluk-beluk bentuk kata, juga menyelidiki kemungkinan adanya perubahan bentuk kata.

Dengan ringkas dapatlah dikatakan bahwa morfologi ialah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata, atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-belum bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata lain, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik.


Morfologi dan Leksikologi
Leksikologi merupakan seluk-beluk kata, ialah mempelajari perbendaharaan kata dalam suatu bahasa, mempelajari pemakaian kata serta artinya seperti dipakai oleh masyarakat pemakai bahasa. Misalnya kata masak. Kata ini mempunyai berbagai arti dalam pemakaiannya, seperti yang dijelaskan dalam kamus, sebagai berikut:
1.      ‘Sudah sampai tua hingga boleh dipetik, dimakan, dsb’. Misalnya Buah yang masak di pohon.
2.      ‘Sudah jadi (tentang masakan)’. Misalnya Meskipun sudah sejam direbus, belum masak juga ubi ini.
3.      ‘Sudah selesai, sudah dipikirkan’. Misalnya Adunan ini belum masak; Bangsa kita dianggapnya belum masak.
4.      ‘Mengolah, membuat penganan’. Misalnya Masak kue lapis.

Selanjutnya diterangkan pula arti kata bentukan dari kata tersebut. Kata masak-memasak berarti ‘hal atau urusan memasak makanan, dan sebagainya’ ; memasakkan artinya ‘memasak untuk orang lain’, mungkin juga berarti ‘menjadikan masak’; masakan berarti ‘barang apa yang dimasak, seperti lauk-pauk, makanan, dan sebagainya’; pemasak berarti ‘orang yang memasak’. Mungkin juga berarti ‘alat untuk memasak’; pemasakan berarti ‘hal memasak’.

Meskipun leksikologi maupun morfologi mempelajari masalah arti, tetapi terdapat perbedaan antara keduanya. Perbedaannya ialah bahwa morfologi mempelajari arti yang timbul sebagai akibat peristiwa gramatik, ialah yang biasa disebut arti gramatik (grammatical meaning) atau makna, sedangkan leksiologi mempelajari arti yang lebih kurang tetap yang terkandung dalam kata, atau yang lazim disebut arti leksikal (lexical meaning). Sebagai contoh, di samping kata rumah terdapat kata berumah. Kedua kata tersebut masing-masing memiliki arti leksikal. Kata rumah berarti ‘bangunan untuk tempat tinggal’, ‘bangunan pada umumnya’, dan kata berumah  berarti ‘mempunyai rumah’, ‘diam’, ‘tinggal’.  Arti leksikal dan pemakaian kata tersebut dibicarakan dalam leksikologi, sedangkan dalam morfologi dibicarakan perubahan bentuknya, dari rumah menjadi berumah, perubahan golongannya, dari kata nominal menjadi kata verbal, serta perubahan arti yang timbul sebagai akibat melekatnya afiks ber-  pada rumah, ialah timbulnya makna ‘mempunyai’ atau ‘memakai, mempergunakan’.

Jumat, 18 April 2014

Peretas



Pikiran Rakyat 10032013

Oleh: Dindin Samsudin
(Pemerhati bahasa, staf teknis Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat)

Pascarusaknya laman resmi Presiden Susilo Bambang Yudoyono beberapa waktu lalu, kata peretas ramai dibicarakan di media massa. Ketika peretas ramai dibicarakan, saya tertarik untuk menelaah istilah ini. Peretas sebenarnya bukanlah istilah baru karena kata ini bersamaan dengan scan-“pindai”, homepage-“laman”, download-“unduh”, upload-“unggah”, dan slide-“salindia” sudah tercantum dalam Instruksi Presiden  Nomor 2 Tahun 2001 tentang Penggunaan Komputer dengan Aplikasi Komputer Berbahasa Indonesia. Menurut Inpres tadi, peretas merupakan padanan baku untuk istilah bahasa Inggris hacker. Dalam Glosarium Istilah Asing-Indonesia terbitan Pusat Bahasa Tahun 2006 juga sudah muncul istilah peretas sebagai padanan hacker.

Sebenarnya, apa makna asal dari peretas? Peretas berasal dari kata dasar retas yang dilekati awalan pe- yang bermakna “pelaku”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),  retas bermakna: sudah putus benang jahitannya; terbuka jahitannya (kelimnya dsb.): jangan memakai pakaian yang sudah retas. Kemudian, dalam KBBI juga dituliskan beberapa sublema dari retas: meretas: 1. memutuskan benang-benang pada jahitan: meretas kelim 2. membuka (surat) dengan piasu; 3. membedah atau membelah kulit (karung dsb.): karena putus asa, ia meretas perutnya sendiri dengan sebilah pisau; 4. menebangi pohon untuk membuat jalan; merintis; merentas; 5. Menembus dengan merusak dinding dsb; 2. alat yang dipakai untuk meretas sesuatu; peretasan: perlakuan pendahuluan untuk memperlunak atau menipiskan kulit benih. Selain bermakna sudah putus benang jahitannya dan terbuka jahitannya (kelimnya dsb.), dalam KBBI juga dituliskan makna lain dari retas yang digunakan dalam bidang geografi dan geologi: tubuh batuan beku yang menerobos dengan memotong batuanlain.

Dalam keseharian, penggunaan kata peretas banyak dijumpai dalam berita yang berkaitan dengan kriminal. Perhatikan beberapa kalimat yang penulis kutip dari media berikut: “Pemerintah dituntut untuk serius melakukan perlawanan terhadap peretas situs resmi pemerintah yang belakangan semakin marak”; “Peretas Situs SBY Terancam Penjara 12 Tahun & Denda Rp12 Miliar”. Akan tetapi, benarkah peretas selalu berkonotasi negatif dan tercela?

Dalam Wikipedia, peretas (Inggris: hacker) adalah orang yang mempelajari, menganalisis, memodifikasi, menerobos masuk ke dalam komputer dan jaringan komputer, baik untuk keuntungan maupun dimotivasi oleh tantangan. Kata bahasa Inggris hacker sendiri pertama kalinya muncul dalam arti positif yaitu untuk menyebut seorng anggota yang memiliki keahlian dalam bidang komputer dan mampu membuat program komputer yang lebih baik daripada yang telah dirancang bersama.

Pada tahun 1983, istilah hacker mulai berkonotasi negatif setelah untuk pertama kalinya FBI menangkap kelompok kriminal komputer “The 414s” yang berbasis di Milwaukee, Amerika Serikat. Kelompok yang kemudian disebut hacker tersebut dinyatakan bersalah atas pembobolan 60 unit komputer milik Pusat Kanker Memorial Sloan-Kettering hinga komputer milik Laboratorium Nasional Los Alamos.

Menurut Wikipedia, peretas memiliki konotasi negatif karena kesalahpahaman masyarakat akan perbedaan istilah hacker dan cracker. Banyak orang memahami bahwa peretaslah yang mengakibatkan kerugian pihak tertentu seperti mengubah tampilan suatu situs web (defacing) dan menyisipkan kode-kode virus, padahal yang seperti itu sebenarnya adalah cracker. Cracker-lah yang menggunakan celah-celah keamanan yang berlum diperbaiki oleh pembuat perangkat lunak (bug) untuk menyusup dan merusak suatu sistem.

Berdasarkan penjelasan Wikipedia tadi, peretas merupakan orang-orang yang jenius dan tidak semua peretas melakukannya untuk tindak kejahatan walaupun memang ada di antara mereka yang iseng membuat virus yang dapat merusak komputer dan menghancurkan semua file yang telah disimpan di dalamnya.

Berdasarkan hal tersebut, tampaknya dalam Bahasa Indonesia perlu juga dibuat padanan baru (khusus) untuk istilah cracker. Hal ini perlu dilakukan untuk membedakan istilah antara hacker dan cracker sehingga tidak salah salam pemaknaan.