Bahasa Indonesia, Basa Sunda, Bahasa Asing, Kamus, Fotografi, Sejarah, Budaya, Dongeng, Teknologi, Kesehatan, Hukum dan Kriminal, Konservasi, Kuliner, Pembangunan, Krisis, Tokoh, Olahraga, Pertanian, Perkebunan, Perikanan, dan Jalan-Jalan. (Indonesian Language, Sundanese Language, Foreign Languages, Dictionary, Photography, History, Culture, Story, Technology, Healthy, Law and Criminal, Conservation, Development, Crisis, Figure, Sports, Agriculture, Plantation, Fishery, and Travelling)
Tampilkan postingan dengan label sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sains. Tampilkan semua postingan
Selasa, 15 Maret 2016
Selasa, 29 September 2015
Inilah Foto-foto yang Membuktikan Air Mengalir di Mars Saat Ini
Selasa, 29 September 2015 | 11:41 WIB
KOMPAS.com - Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengatakan bahwa air mengalir di Mars saat ini. Adakah buktinya?
Jawabannya, ada di sejumlah foto yang dirilis di situs web NASA. Salah satu yang menunjukkan keberadaan air di Mars adalah foto Kawah Horowitz. Kawah itu memiliki pola garis gelap yang menuruni tebing atau Recurring Slope Lineae (RSL).
Foto tersebut dihasilkan dari hasil kerja kamera High Resolution Imaging Sciece Experiment (HiRiSE) pada wahana Mars Reconaissance Orbitter (MRO).
Foto yang diambil pada 21 Oktober 2007 di lokasi dengan koordinat 32 derajat Lintang Selatan dan 141 derajat Bujur Timur itu kemudian diolah berdasarkan model peta tiga dimensi permukaan Mars.
Pola garis gelap sepanjang 100 meter di Kawah Hale menjadi petunjuk adanya air yang mengalir di permukaan Mars pada musim panas, bercampur dengan garam. Warna biru bukan merupakan petunjuk air tetapi keberadaan mineral pyroxene.
Ada tiga citra RSL lain yang menjadi bukti adanya air mengalir di Mars, yaitu di kawah Hale dan Garni serta wilayah ekuatorial Mars yang disebut Coprates Chasma.
Di Kawah Hale dan Choprates Phasma, pola garis gelap diperkirakan sepanjang 100 meter. Jadi, air diduga mengalir hingga jarak tersebut.
Pola garis gelap sepanjang beberapa ratus meter di tebing di Kawah Garni Mars menjadi bukti keberadaan air saat ini.
RSL menjadi bukti keberadaan air di Mars setelah baru-baru ini Lujendra Ojha dari Georgia Institute of Technology di Atlanta menganalisisnya dengan instrumen Compact Reconnaissance Imaging Spectrometer for Mars (CRISM).
Hasil analisis dengan instrumen itu menunjukkan bahwa kawah-kawah yang dipotret ternyata memiliki kandungan garam terhidrasi atau telah berinteraksi dengan air.
Air dengan garam klorat dan perklorat mengalir saat Mars mengalami musim panas dengan suhu lebih dari -23 derajat celsius. Air bisa mengalir pada suhu tersebut karena titik cairnya menjadi jauh lebih rendah setelah bercampur dengan garam.
Alfred McEwen, pakar keplanetan di University of Arizona, mengatakan bahwa lokasi-lokasi dengan pola garis itu mungkin tempat yang memiliki kehidupan.
Sementara John Bridge, profesor ilmu keplanetan di University of Leicester, mengungkapkan, NASA bisa mencari sumber air dan menyelidiki eksistensi kehidupan di sana.
Citra lain Kawah Horowitz yang menunjukkan pola garis gelap, tanda adanya air mengalir.
![]() |
| NASA |
Pola garis gelap sepanjang 100 meter di Kawah Horowitz yang menjadi petunjuk keberadaan air mengalir di Mars saat ini.
KOMPAS.com - Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengatakan bahwa air mengalir di Mars saat ini. Adakah buktinya?
Jawabannya, ada di sejumlah foto yang dirilis di situs web NASA. Salah satu yang menunjukkan keberadaan air di Mars adalah foto Kawah Horowitz. Kawah itu memiliki pola garis gelap yang menuruni tebing atau Recurring Slope Lineae (RSL).
Foto tersebut dihasilkan dari hasil kerja kamera High Resolution Imaging Sciece Experiment (HiRiSE) pada wahana Mars Reconaissance Orbitter (MRO).
Foto yang diambil pada 21 Oktober 2007 di lokasi dengan koordinat 32 derajat Lintang Selatan dan 141 derajat Bujur Timur itu kemudian diolah berdasarkan model peta tiga dimensi permukaan Mars.
| NASA |
Ada tiga citra RSL lain yang menjadi bukti adanya air mengalir di Mars, yaitu di kawah Hale dan Garni serta wilayah ekuatorial Mars yang disebut Coprates Chasma.
Di Kawah Hale dan Choprates Phasma, pola garis gelap diperkirakan sepanjang 100 meter. Jadi, air diduga mengalir hingga jarak tersebut.
![]() |
| NASA |
RSL menjadi bukti keberadaan air di Mars setelah baru-baru ini Lujendra Ojha dari Georgia Institute of Technology di Atlanta menganalisisnya dengan instrumen Compact Reconnaissance Imaging Spectrometer for Mars (CRISM).
Hasil analisis dengan instrumen itu menunjukkan bahwa kawah-kawah yang dipotret ternyata memiliki kandungan garam terhidrasi atau telah berinteraksi dengan air.
Air dengan garam klorat dan perklorat mengalir saat Mars mengalami musim panas dengan suhu lebih dari -23 derajat celsius. Air bisa mengalir pada suhu tersebut karena titik cairnya menjadi jauh lebih rendah setelah bercampur dengan garam.
![]() |
| NASA |
Ekuatorial Mars juga kaya air. Pola garis gelap di Coprates Phasma menunjukkannya.
Ilmuwan belum mengetahui sumber air di Mars. Namun, diduga air berasal dari lapisan akuifer, hasil kondensasi atmosfer, atau es di bawah permukaan. Alfred McEwen, pakar keplanetan di University of Arizona, mengatakan bahwa lokasi-lokasi dengan pola garis itu mungkin tempat yang memiliki kehidupan.
Sementara John Bridge, profesor ilmu keplanetan di University of Leicester, mengungkapkan, NASA bisa mencari sumber air dan menyelidiki eksistensi kehidupan di sana.
![]() |
| NASA |
| Editor | : Yunanto Wiji Utomo |
| Sumber | : NASA |
Jumat, 09 Januari 2015
Djoko Tjahjono Iskandar, Ahli Katak Indonesia yang Bikin Geger Dunia
Kamis, 8 Januari 2015 | 20:00 WIB
KOMPAS.com — Ketika publikasi berjudul "A Novel Reproductive Mode in Frogs: A New Species of Fanged Frog with Internal Fertilization and Birth of Tadpoles" muncul di jurnal PLOS ONEpada 31 Desember 2014 lalu, dunia terkejut.
Media sains dan umum di dunia internasional ramai mengutip publikasi tersebut. Sejumlah pakar reptil dan amfibi dunia menyatakan bahwa publikasi tersebut mengagumkan sekaligus sangat berharga.
Makalah memuat penemuan spesies baru katak bertaring Sulawesi, Limnonectes larvaepartus. Bukan cuma kebaruan jenis yang membuat dunia terkejut, melainkan juga kebaruan reproduksinya. Katak itu merupakan satu-satunya katak di dunia yang melahirkan kecebong.
Dunia bertanya-tanya, bagaimana bisa katak yang tak memiliki penis melakukan pembuahan di dalam tubuh? Bagaimana caranya menyetor sperma ke betina? Lalu, bagaimana mungkin katak tak bertelur, tetapi langsung melahirkan kecebong?
Djoko Tjahjono Iskandar adalah herpetolog (pakar amfibi dan reptil) di balik penemuan katak itu. Dia adalah ilmuwan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berkali-kali membuat geger dunia sains lewat temuan-temuannya.
Pria kelahiran Bandung, 23 Agustus 1950, tersebut memulai karier sebagai herpetolog pada tahun 1978. Pilihannya menekuni katak dan reptil sangat tidak populer. "Waktu itu belum ada ahli katak di Indonesia. Saya satu-satunya. Bisa dibilang saya pioneer," katanya.
Untuk menekuni katak-katak Indonesia, dia harus belajar dari ahli dari luar negeri. Ia berkorespondensi lewat surat, salah satunya dengan Robert Frederick Inger, ahli katak dan reptil dari Field Museum yang juga banyak mempelajari keanekaragaman hayati Indonesia.
Ketekunan Djoko membuahkan hasil. Hanya tiga tahun setelah memulai kariernya, pria yang meraih gelar doktor dari Université Montpellier 2 di Montpellier Perancis ini menemukan Barbourula kalimantanensis, katak famili Discoglossidae pertama yang ditemukan di Borneo.
Tahun 2008, ia kembali meneliti Barbourula kalimantanensis. Hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Current Biology pada 6 Mei 2008 mengungkap fakta baru. Katak kepala pipih itu ternyata tidak punya paru-paru.
"Waktu itu geger juga. Jenis itu adalah satu-satunya katak di dunia yang tidak memiliki paru-paru, bernapasnya dengan kulit," ungkap Djoko yang mengaku menemukan jenis katak itu di Sungai Pinoh, bagian dari Kapuas, Kalimantan Barat.
Studi kemudian mengungkap bahwa populasi Barbourula kalimantanensis sangat minim. International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyatakan bahwa spesies tersebut terancam punah pada 3 Juni 2013.
Selain Barbourula kalimantanensis, penemuan spektakuler Djoko lain adalah Cyrtodactylus batik. Spesies itu adalah cicak jari bengkok yang ditemukan di Gunung Tompotika, wilayah Sulawesi Tengah.
"Coraknya memang seperti batik," kata Djoko. Ia menyebutnya sebagai spesies cicak tercantik yang pernah ditemukan. Penemuan ini dipublikasikan di jurnal Zootaxa pada 29 April 2011.
Malang melintang dalam dunia ilmu katak dan reptil, Djoko telah menjelajahi hutan di sebagian besar wilayah Indonesia. "Saya sudah ke 30 provinsi, tinggal dua yang belum, Bangka Belitung dan Maluku Utara," ujarnya.
Sepanjang kariernya, ia telah menemukan 30 spesies katak dan reptil. Beberapa spesies menggunakan namanya, sepertiLuperosaurus iskandari, Fejervarya iskandari, Collocasiomya iskandari, dan Draco iskandari.
Djoko mengungkapkan, sebenarnya banyak spesimen yang belum bisa diidentifikasi. "Saya sudah temukan 30, tetapi masih ada sekitar 150 yang belum bisa saya ungkap," katanya yang pernah menerima penghargaan Habibie Awards ini.
Alasan belum bisa terungkap, kata Djoko, adalah spesimen yang belum lengkap jantan dan betinanya serta adanya spesimen yang rusak. Jika spesimen minim, pernyataan kebaruan jenis dapat dengan mudah dibantah sebagai hanya variasi.
Usia Djoko kini sudah menginjak 64 tahun. Penjelajahan ke hutan-hutan baginya tetap merupakan kegiatan paling menyenangkan, tetapi tak lagi semudah sewaktu dia masih muda dahulu.
Meski demikian, ia mengatakan bahwa menjadi tua bukan alasan untuk tidak masuk ke hutan. Tahun lalu, saat penjelajahan ke Sulawesi mengungkap spesies Limnonectes larvaepartus, ia tinggal satu bulan di hutan.
Menjelajah hutan saat usia tua, lutut Djoko sering bengkak dan butuh waktu lama untuk pulih. Secara bercanda, dia mengungkapkan, "Mungkin nanti kalau ke hutan tidak perlu satu bulan lagi, cukup satu minggu."
Dengan banyaknya spesies yang belum terungkap, baik dalam koleksi maupun di alam, Djoko berharap ada lebih banyak orang yang menaruh perhatian pada katak dan reptil. Walaupun, mempelajarinya tak akan banyak mendatangkan manfaat ekonomi segera.
Menurut dia, saat ini sudah muncul beberapa pakar katak dan repril berpotensi. Namun, ia mengatakan, perlu lebih banyak remaja yang tertarik untuk menjadi penerusnya. "Saya kan tidak mau jadi raja sendiri, perlu musuh, butuh orang yang bisa membantah saya," ucapnya.
Mempelajari keanekaragaman hayati, kata Djoko, akan membuat siapa pun sebagai warga negara merasa puas karena diakui sekaligus bangga karena telah peduli pada alam Indonesia yang mahakaya.
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan katak yang melahirkan? Apakah pengertiannya sama dengan manusia yang melahirkan bayi? Seperti apa pula kekhasan Limnonectes larvaepartus?
Baca di tautan berikut:
Katak Baru dari Sulawesi Mengejutkan Dunia karena Bisa Melahirkan
Penemuan Limnonectes larvaepartus bukan lewat proses satu dua hari. Butuh ketekunan mengamati dan ketangguhan ketika menjelajahi hutan selama hampir dua dekade untuk mengonfirmasinya sebagai spesies baru. Baca kisahnya di tautan berikut.
![]() |
| Zootaxa/PLOSONE/KOMPAS |
Djoko Tjahjono Iskandar bersama dua spesies temuannya yang menggegerkan dunia, Barbourula kalimantanensis (kiri atas) dan Limnonectes larvaepartus (kiri bawah)
KOMPAS.com — Ketika publikasi berjudul "A Novel Reproductive Mode in Frogs: A New Species of Fanged Frog with Internal Fertilization and Birth of Tadpoles" muncul di jurnal PLOS ONEpada 31 Desember 2014 lalu, dunia terkejut.
Media sains dan umum di dunia internasional ramai mengutip publikasi tersebut. Sejumlah pakar reptil dan amfibi dunia menyatakan bahwa publikasi tersebut mengagumkan sekaligus sangat berharga.
Makalah memuat penemuan spesies baru katak bertaring Sulawesi, Limnonectes larvaepartus. Bukan cuma kebaruan jenis yang membuat dunia terkejut, melainkan juga kebaruan reproduksinya. Katak itu merupakan satu-satunya katak di dunia yang melahirkan kecebong.
Dunia bertanya-tanya, bagaimana bisa katak yang tak memiliki penis melakukan pembuahan di dalam tubuh? Bagaimana caranya menyetor sperma ke betina? Lalu, bagaimana mungkin katak tak bertelur, tetapi langsung melahirkan kecebong?
Djoko Tjahjono Iskandar adalah herpetolog (pakar amfibi dan reptil) di balik penemuan katak itu. Dia adalah ilmuwan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berkali-kali membuat geger dunia sains lewat temuan-temuannya.
Pria kelahiran Bandung, 23 Agustus 1950, tersebut memulai karier sebagai herpetolog pada tahun 1978. Pilihannya menekuni katak dan reptil sangat tidak populer. "Waktu itu belum ada ahli katak di Indonesia. Saya satu-satunya. Bisa dibilang saya pioneer," katanya.
Untuk menekuni katak-katak Indonesia, dia harus belajar dari ahli dari luar negeri. Ia berkorespondensi lewat surat, salah satunya dengan Robert Frederick Inger, ahli katak dan reptil dari Field Museum yang juga banyak mempelajari keanekaragaman hayati Indonesia.
Ketekunan Djoko membuahkan hasil. Hanya tiga tahun setelah memulai kariernya, pria yang meraih gelar doktor dari Université Montpellier 2 di Montpellier Perancis ini menemukan Barbourula kalimantanensis, katak famili Discoglossidae pertama yang ditemukan di Borneo.
Tahun 2008, ia kembali meneliti Barbourula kalimantanensis. Hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Current Biology pada 6 Mei 2008 mengungkap fakta baru. Katak kepala pipih itu ternyata tidak punya paru-paru.
"Waktu itu geger juga. Jenis itu adalah satu-satunya katak di dunia yang tidak memiliki paru-paru, bernapasnya dengan kulit," ungkap Djoko yang mengaku menemukan jenis katak itu di Sungai Pinoh, bagian dari Kapuas, Kalimantan Barat.
Studi kemudian mengungkap bahwa populasi Barbourula kalimantanensis sangat minim. International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyatakan bahwa spesies tersebut terancam punah pada 3 Juni 2013.
Selain Barbourula kalimantanensis, penemuan spektakuler Djoko lain adalah Cyrtodactylus batik. Spesies itu adalah cicak jari bengkok yang ditemukan di Gunung Tompotika, wilayah Sulawesi Tengah.
"Coraknya memang seperti batik," kata Djoko. Ia menyebutnya sebagai spesies cicak tercantik yang pernah ditemukan. Penemuan ini dipublikasikan di jurnal Zootaxa pada 29 April 2011.
Malang melintang dalam dunia ilmu katak dan reptil, Djoko telah menjelajahi hutan di sebagian besar wilayah Indonesia. "Saya sudah ke 30 provinsi, tinggal dua yang belum, Bangka Belitung dan Maluku Utara," ujarnya.
Sepanjang kariernya, ia telah menemukan 30 spesies katak dan reptil. Beberapa spesies menggunakan namanya, sepertiLuperosaurus iskandari, Fejervarya iskandari, Collocasiomya iskandari, dan Draco iskandari.
Djoko mengungkapkan, sebenarnya banyak spesimen yang belum bisa diidentifikasi. "Saya sudah temukan 30, tetapi masih ada sekitar 150 yang belum bisa saya ungkap," katanya yang pernah menerima penghargaan Habibie Awards ini.
Alasan belum bisa terungkap, kata Djoko, adalah spesimen yang belum lengkap jantan dan betinanya serta adanya spesimen yang rusak. Jika spesimen minim, pernyataan kebaruan jenis dapat dengan mudah dibantah sebagai hanya variasi.
Usia Djoko kini sudah menginjak 64 tahun. Penjelajahan ke hutan-hutan baginya tetap merupakan kegiatan paling menyenangkan, tetapi tak lagi semudah sewaktu dia masih muda dahulu.
Meski demikian, ia mengatakan bahwa menjadi tua bukan alasan untuk tidak masuk ke hutan. Tahun lalu, saat penjelajahan ke Sulawesi mengungkap spesies Limnonectes larvaepartus, ia tinggal satu bulan di hutan.
Menjelajah hutan saat usia tua, lutut Djoko sering bengkak dan butuh waktu lama untuk pulih. Secara bercanda, dia mengungkapkan, "Mungkin nanti kalau ke hutan tidak perlu satu bulan lagi, cukup satu minggu."
Dengan banyaknya spesies yang belum terungkap, baik dalam koleksi maupun di alam, Djoko berharap ada lebih banyak orang yang menaruh perhatian pada katak dan reptil. Walaupun, mempelajarinya tak akan banyak mendatangkan manfaat ekonomi segera.
Menurut dia, saat ini sudah muncul beberapa pakar katak dan repril berpotensi. Namun, ia mengatakan, perlu lebih banyak remaja yang tertarik untuk menjadi penerusnya. "Saya kan tidak mau jadi raja sendiri, perlu musuh, butuh orang yang bisa membantah saya," ucapnya.
Mempelajari keanekaragaman hayati, kata Djoko, akan membuat siapa pun sebagai warga negara merasa puas karena diakui sekaligus bangga karena telah peduli pada alam Indonesia yang mahakaya.
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan katak yang melahirkan? Apakah pengertiannya sama dengan manusia yang melahirkan bayi? Seperti apa pula kekhasan Limnonectes larvaepartus?
Baca di tautan berikut:
Katak Baru dari Sulawesi Mengejutkan Dunia karena Bisa Melahirkan
Penemuan Limnonectes larvaepartus bukan lewat proses satu dua hari. Butuh ketekunan mengamati dan ketangguhan ketika menjelajahi hutan selama hampir dua dekade untuk mengonfirmasinya sebagai spesies baru. Baca kisahnya di tautan berikut.
| Editor | : Yunanto Wiji Utomo |
Rabu, 17 Desember 2014
Siap-siap, Wisata Gerhana Matahari Total di Indonesia
Selasa, 16 Desember 2014 | 13:38 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Pemburu gerhana bersiap-siap menyambut Gerhana Matahari Total (GMT) yang akan terjadi pada 9 Maret 2016 di Indonesia. Fenomena alam ini sangat jarang terjadi. Sehingga tak heran diburu oleh ilmuwan maupun masyarakat umum.
Wisata gerhana menjadi hal lazim di dunia pariwisata, terutama luar negeri. Ada banyak agen perjalanan wisata yang menawarkan tur gerhana matahari, walaupun masih didominasi agen perjalanan asing.
"Kami mengajak orang Indonesia aware dengan Gerhana Matahari Total 2016. Kami mengundang beberapa daerah yang dilalui seperti Palu, Balikpapan, Bengkulu, Ternate, dan juga Kementerian Pariwisata," ungkap CEO PATA Indonesia Chapter (PIC) Poernomo Siswoprasetijo, pada konferensi pers dan seminar “Discover Indonesia’s Solar Eclipse 2016”, di Jakarta, Selasa (16/12/2014).
GMT diperkirakan dapat disaksikan di sejumlah kota seperti Palembang, Palangkaraya, Palu, dan Halmahera. Kejadian GMT ini diprediksi akan menarik minat bukan saja masyarakat umum melainkan juga masyarakat imilah dari dalam dan luar negeri. Sebab, seperti diungkapkan Kepala Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) Prof Dr Thomas Djamaluddin pada 24 April 2014 saat mengumumkan GMT yang akan terjadi tersebut, peristiwa langka ini belum dapat disaksikan kembali dalam 40 tahun ke depan.
Oleh karena itu, PIC sebagai bagian dari badan pariwisata dunia, melihat GMT sebagai salah satu fenomena yang dapat membantu meningkatkan potensi wisata daerah yang dilalui GMT. PIC bekerja sama dengan pemerintah daerah, industri pariwisata, dan Kementerian Pariwisata untuk mempromosikan wisata GMT tersebut.
"Terakhir GMT tahun 1983. Persiapan pemerintah saat itu tidak siap. Bahkan ada yang dilarang melihat karena nanti takut buta. Jangan sampai itu terjadi lagi tahun ini," kata Direktur Bosscha Observatory Dr Mahasena Putra di kesempatan yang sama.
Mahasena menuturkan sudah banyak agen perjalanan wisata yang menawarkan paket tur GMT 2016 di Indonesia. Tetapi, lanjut Mahasena, agen perjalanan ini umumnya bukan berasal dari Indonesia. Paket tur yang disediakan misalnya kapal pesiar menuju daerah yang dilintasi GMT.
Sebagai gambaran, kembali disebutkan bahwa GMT akan melintas di Palu, Bengkulu, Palembang, Maluku Utara/Ternate, dan Bangka Belitung. Sementara gerhana matahari parsial akan melintasi kota-kota Pekanbaru, Medan, Padang, Batam, Jakarta, Kupang, dan Manado.
Salah satu daerah yang antusias menyambut GMT adalah Palu. Seperti diungkapkan Poernomo, hotel-hotel di Kota Palu mulai penuh untuk pemesanan saat GMT. Hal ini dikarenakan GMT di Palu diperkirakan dapat disaksikan lebih lama dan lebih total.
"Seperti Jepang booking 55 kamar, dari Amerika booking 260 kamar. Inggris sekitar 75-100 kamar," ungkap Sekretaris Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Palu, Bambang Nugraha.
Pihak lain yang dilibatkan juga PT Pelni yang diharapkan dapat meningkatkan wisata maritim melalui momen GMT ini. Misalnya, kapal bisa dimanfaatkan untuk mengangkut wisatawan menuju daerah yang dilintasi GMT. Juga bisa menjadi hotel terapung.
![]() |
| AP PHOTO / The Oklahoman, Sarah Phipps |
Seekor burung terbang dengan latar belakang gerhana matahari parsial di Danau Hefner, Oklahoma City, 23 Oktober 2014.
JAKARTA, KOMPAS.com - Pemburu gerhana bersiap-siap menyambut Gerhana Matahari Total (GMT) yang akan terjadi pada 9 Maret 2016 di Indonesia. Fenomena alam ini sangat jarang terjadi. Sehingga tak heran diburu oleh ilmuwan maupun masyarakat umum.
Wisata gerhana menjadi hal lazim di dunia pariwisata, terutama luar negeri. Ada banyak agen perjalanan wisata yang menawarkan tur gerhana matahari, walaupun masih didominasi agen perjalanan asing.
"Kami mengajak orang Indonesia aware dengan Gerhana Matahari Total 2016. Kami mengundang beberapa daerah yang dilalui seperti Palu, Balikpapan, Bengkulu, Ternate, dan juga Kementerian Pariwisata," ungkap CEO PATA Indonesia Chapter (PIC) Poernomo Siswoprasetijo, pada konferensi pers dan seminar “Discover Indonesia’s Solar Eclipse 2016”, di Jakarta, Selasa (16/12/2014).
GMT diperkirakan dapat disaksikan di sejumlah kota seperti Palembang, Palangkaraya, Palu, dan Halmahera. Kejadian GMT ini diprediksi akan menarik minat bukan saja masyarakat umum melainkan juga masyarakat imilah dari dalam dan luar negeri. Sebab, seperti diungkapkan Kepala Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) Prof Dr Thomas Djamaluddin pada 24 April 2014 saat mengumumkan GMT yang akan terjadi tersebut, peristiwa langka ini belum dapat disaksikan kembali dalam 40 tahun ke depan.
![]() |
| KOMPAS.COM/NI LUH MADE PERTIWI F |
Seminar nasional 'Discover Indonesia's Solar Eclipse 2016' di Jakarta, Selasa (16/12/2014).
Oleh karena itu, PIC sebagai bagian dari badan pariwisata dunia, melihat GMT sebagai salah satu fenomena yang dapat membantu meningkatkan potensi wisata daerah yang dilalui GMT. PIC bekerja sama dengan pemerintah daerah, industri pariwisata, dan Kementerian Pariwisata untuk mempromosikan wisata GMT tersebut.
"Terakhir GMT tahun 1983. Persiapan pemerintah saat itu tidak siap. Bahkan ada yang dilarang melihat karena nanti takut buta. Jangan sampai itu terjadi lagi tahun ini," kata Direktur Bosscha Observatory Dr Mahasena Putra di kesempatan yang sama.
Mahasena menuturkan sudah banyak agen perjalanan wisata yang menawarkan paket tur GMT 2016 di Indonesia. Tetapi, lanjut Mahasena, agen perjalanan ini umumnya bukan berasal dari Indonesia. Paket tur yang disediakan misalnya kapal pesiar menuju daerah yang dilintasi GMT.
Sebagai gambaran, kembali disebutkan bahwa GMT akan melintas di Palu, Bengkulu, Palembang, Maluku Utara/Ternate, dan Bangka Belitung. Sementara gerhana matahari parsial akan melintasi kota-kota Pekanbaru, Medan, Padang, Batam, Jakarta, Kupang, dan Manado.
![]() |
| AP PHOTO / Seattlepi.com, Joshua Trujillo |
Warga menggunakan kacamata pengaman menyaksikan gerhana matahari parsial
di High Point Branch, Seattle Public Library, 23 Oktober 2014.
Salah satu daerah yang antusias menyambut GMT adalah Palu. Seperti diungkapkan Poernomo, hotel-hotel di Kota Palu mulai penuh untuk pemesanan saat GMT. Hal ini dikarenakan GMT di Palu diperkirakan dapat disaksikan lebih lama dan lebih total.
"Seperti Jepang booking 55 kamar, dari Amerika booking 260 kamar. Inggris sekitar 75-100 kamar," ungkap Sekretaris Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Palu, Bambang Nugraha.
Pihak lain yang dilibatkan juga PT Pelni yang diharapkan dapat meningkatkan wisata maritim melalui momen GMT ini. Misalnya, kapal bisa dimanfaatkan untuk mengangkut wisatawan menuju daerah yang dilintasi GMT. Juga bisa menjadi hotel terapung.
| Penulis | : Ni Luh Made Pertiwi F |
| Editor | : I Made Asdhiana |
Rabu, 08 Oktober 2014
Selenelion, Keajaiban dalam Klimaks Gerhana Bulan Langka
Rabu, 8 Oktober 2014 | 07:30 WIB
KOMPAS.com - Bukan hanya gerhana Bulan total biasa yang bakal terjadi Rabu (8/10/2014) senja ini. Ada fenomena lebih langka yang berpotensi untuk diamati, yaitu selenelion.
Selenelion adalah fenomena di mana Bulan dan Matahari berada dalam posisi saling berseberangan atau berjarak 180 derajat dari sudut pandang manusia di Bumi.
Astronom amatir Ma'rufin Sudibyo mengatakan, selenelion adalah fenomena yang secara geometris sebenarnya tidak mungkin.
Pasalnya, bila Matahari dan Bulan saling berseberangan, keduanya takkan terlihat dari sudut pandang pengamat di Bumi.
Ma'rufin mengungkapkan, selenelion bisa terlihat akibat kemampuan atmosfer tebal Bumi dalam membiaskan cahaya, membuat benda-benda langit terangkat dari posisi aktualnya.
Pembiasan membuat Bulan yang sejatinya sudah tenggelam 4 menit sebelumnya masih tampak ada di ufuk barat dalam pengamatan manusia.
"Demikian juga saat kita lihat Matahari tepat hendak terbit, sejatinya ia baru akan terbit 4 menit kemudian," katanya.
Selenelion bisa terjadi saat senja ataupun fajar. Saat selenelion senja, yang teramati adalah Bulan terbit di timur dan Matahari tenggelam di barat.
Sementara, saat fajar, selenelion yang terlihat adalah Bulan belum tenggelam di ufuk barat saat Matahari sudah terbit di ufuk timur.
Asal-usul Istilah Selenelion
Tak seperti "supermoon" yang populer, istilah selenelion tak banyak dikenal oleh kalangan publik dan astronom amatir.
Catatan William Poole berjudul "Antonie-Francois Payen, the 1666 Selenelion, and a Rediscovered Letter to Robert Hooke" mengungkap asal-usul istilah tersebut.
Dalam catatan yang dipublikasikan di The Royal Society Journal of the History of Science tahun 2007 itu, Poole mengungkap, selenelion dipopulerkan oleh Antonie-Francois Payen.
Selenelion adalah penggabungan dari dua nama Dewa dalam mitologi Yunani, yaitu dewa Bulan yang bernama Selene dan dewa Matahari yang bernama Helios.
Para astronom pada masa lalu menyebut selenelion dengan gerhana horizontal atau gerhana parallax.
Dahulu, para astronom masih berdebat kemungkinan manusia bisa melihat gerhana horizontal. Dan jika bisa, faktor apa yang membuat manusia bisa melihatnya.
Payen yang seorang pengacara sipil tertarik dengan fenomena selenelion itu. Ia banyak berkorespondensi dengan ilmuwan, termasuk astronom Perancis, Peter Gassendi.
Gassendi adalah astronom yang juga penasaran dengan gerhana horizontal. Ia memburu fenomena ini dari 1643 hingga 1648 dan hanya sekali melihat.
Tahun 1666, Payen bersama rekannya, Henri Justel dan Ismael Boulliau, pergi ke puncak Montmatre di Paris untuk mengamati fenomena itu. Selenelion diprediksi terjadi pada 16 Juni 1666.
Ekspedisi Payen dan rekannya gagal. Paris berawan. Namun, Payen mendapat laporan pengamatan dari utusan Pangeran Leopold di Florence yang mengamati dari Pulau Gorgona.
Laporan pengamatan itu ditulis oleh seorang akademisi bernama Alessandro Segni. Payen lalu menulis ulasan tentang pengamatan itu dengan judul "Selenelion ou Apparition Luni-Solaire."
Dalam ulasan itulah, istilah "selenelion" pertama kali digunakan. Istilah itu adalah buatan Payen.
Selain menulis ulasan, Payen juga berkorespondensi dengan Robert Hooke, ilmuwan penemu hukum elastisitas dan pioneer penggunaan mikroskop, yang saat itu menjadi kurator eksperimen di Royal Society.
Dalam suratnya, Payen mendorong pembuktian selenelion dan menawarkan dirinya untuk membantu eksperimen bila diperlukan.
Hooke kemudian menjadi salah satu ilmuwan yang menerangkan bahwa selenelion memang bisa diamati manusia karena adanya pembiasan cahaya Matahari.
Penampakan Selenelion
Astrofisikawan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, mengatakan bahwa hari ini, "wilayah Jawa dan Sumatera berpeluang menyaksikan selenelion."
Dari Jakarta, selenelion yang teramati adalah Bulan yang terbit dalam kondisi gerhana dan berwarna merah dan Matahari yang juga semburat merah dan akan tenggelam di barat.
Fenomena ini akan teramati sekitar pukul 17.44-17.45 WIB nanti. Bulan sendiri nanti akan terbit pukul 17.43 WIB sementara Matahari akan tenggelam pukul 17.46 WIB.
Dalam percakapan dengan Kompas.com, Selasa (7/10/2014), Ma'rufin menyebut bahwa fenomena selenelion ini "sangat langka."
Sementara, Thomas mengungkapkan, "ini mungkin pertama kalinya selenelion teramati dari Indonesia."
Belahan Bumi lain yang berpeluang mengamati selenelion diantaranya adalah wilayah Amerika Serikat.
Warga Amerika Serikat bakal menyaksikan selenelion pada pagi hari. Bulan akan tenggelam di sisi barat sementara Matahari terbit di sisi timur.
Dengan langkanya keajaiban alam ini, selenelion yang terjadi bersamaan dengan gerhana senja ini terlalu sayang untuk dilewatkan.
![]() |
| http://olgavovk.com/ |
Diagram mengungkap kemungkinan manusia menyaksikan Matahari dan Bulan yang letaknya berseberangan dalam fenomena selenelion.
KOMPAS.com - Bukan hanya gerhana Bulan total biasa yang bakal terjadi Rabu (8/10/2014) senja ini. Ada fenomena lebih langka yang berpotensi untuk diamati, yaitu selenelion.
Selenelion adalah fenomena di mana Bulan dan Matahari berada dalam posisi saling berseberangan atau berjarak 180 derajat dari sudut pandang manusia di Bumi.
Astronom amatir Ma'rufin Sudibyo mengatakan, selenelion adalah fenomena yang secara geometris sebenarnya tidak mungkin.
Pasalnya, bila Matahari dan Bulan saling berseberangan, keduanya takkan terlihat dari sudut pandang pengamat di Bumi.
Ma'rufin mengungkapkan, selenelion bisa terlihat akibat kemampuan atmosfer tebal Bumi dalam membiaskan cahaya, membuat benda-benda langit terangkat dari posisi aktualnya.
Pembiasan membuat Bulan yang sejatinya sudah tenggelam 4 menit sebelumnya masih tampak ada di ufuk barat dalam pengamatan manusia.
"Demikian juga saat kita lihat Matahari tepat hendak terbit, sejatinya ia baru akan terbit 4 menit kemudian," katanya.
Selenelion bisa terjadi saat senja ataupun fajar. Saat selenelion senja, yang teramati adalah Bulan terbit di timur dan Matahari tenggelam di barat.
Sementara, saat fajar, selenelion yang terlihat adalah Bulan belum tenggelam di ufuk barat saat Matahari sudah terbit di ufuk timur.
Asal-usul Istilah Selenelion
Tak seperti "supermoon" yang populer, istilah selenelion tak banyak dikenal oleh kalangan publik dan astronom amatir.
Catatan William Poole berjudul "Antonie-Francois Payen, the 1666 Selenelion, and a Rediscovered Letter to Robert Hooke" mengungkap asal-usul istilah tersebut.
Dalam catatan yang dipublikasikan di The Royal Society Journal of the History of Science tahun 2007 itu, Poole mengungkap, selenelion dipopulerkan oleh Antonie-Francois Payen.
Selenelion adalah penggabungan dari dua nama Dewa dalam mitologi Yunani, yaitu dewa Bulan yang bernama Selene dan dewa Matahari yang bernama Helios.
Para astronom pada masa lalu menyebut selenelion dengan gerhana horizontal atau gerhana parallax.
Dahulu, para astronom masih berdebat kemungkinan manusia bisa melihat gerhana horizontal. Dan jika bisa, faktor apa yang membuat manusia bisa melihatnya.
Payen yang seorang pengacara sipil tertarik dengan fenomena selenelion itu. Ia banyak berkorespondensi dengan ilmuwan, termasuk astronom Perancis, Peter Gassendi.
Gassendi adalah astronom yang juga penasaran dengan gerhana horizontal. Ia memburu fenomena ini dari 1643 hingga 1648 dan hanya sekali melihat.
Tahun 1666, Payen bersama rekannya, Henri Justel dan Ismael Boulliau, pergi ke puncak Montmatre di Paris untuk mengamati fenomena itu. Selenelion diprediksi terjadi pada 16 Juni 1666.
Ekspedisi Payen dan rekannya gagal. Paris berawan. Namun, Payen mendapat laporan pengamatan dari utusan Pangeran Leopold di Florence yang mengamati dari Pulau Gorgona.
Laporan pengamatan itu ditulis oleh seorang akademisi bernama Alessandro Segni. Payen lalu menulis ulasan tentang pengamatan itu dengan judul "Selenelion ou Apparition Luni-Solaire."
Dalam ulasan itulah, istilah "selenelion" pertama kali digunakan. Istilah itu adalah buatan Payen.
Selain menulis ulasan, Payen juga berkorespondensi dengan Robert Hooke, ilmuwan penemu hukum elastisitas dan pioneer penggunaan mikroskop, yang saat itu menjadi kurator eksperimen di Royal Society.
Dalam suratnya, Payen mendorong pembuktian selenelion dan menawarkan dirinya untuk membantu eksperimen bila diperlukan.
Hooke kemudian menjadi salah satu ilmuwan yang menerangkan bahwa selenelion memang bisa diamati manusia karena adanya pembiasan cahaya Matahari.
Penampakan Selenelion
Astrofisikawan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, mengatakan bahwa hari ini, "wilayah Jawa dan Sumatera berpeluang menyaksikan selenelion."
Dari Jakarta, selenelion yang teramati adalah Bulan yang terbit dalam kondisi gerhana dan berwarna merah dan Matahari yang juga semburat merah dan akan tenggelam di barat.
Fenomena ini akan teramati sekitar pukul 17.44-17.45 WIB nanti. Bulan sendiri nanti akan terbit pukul 17.43 WIB sementara Matahari akan tenggelam pukul 17.46 WIB.
Dalam percakapan dengan Kompas.com, Selasa (7/10/2014), Ma'rufin menyebut bahwa fenomena selenelion ini "sangat langka."
Sementara, Thomas mengungkapkan, "ini mungkin pertama kalinya selenelion teramati dari Indonesia."
Belahan Bumi lain yang berpeluang mengamati selenelion diantaranya adalah wilayah Amerika Serikat.
Warga Amerika Serikat bakal menyaksikan selenelion pada pagi hari. Bulan akan tenggelam di sisi barat sementara Matahari terbit di sisi timur.
Dengan langkanya keajaiban alam ini, selenelion yang terjadi bersamaan dengan gerhana senja ini terlalu sayang untuk dilewatkan.
| Penulis | : Yunanto Wiji Utomo |
| Editor | : Yunanto Wiji Utomo |
Selasa, 08 April 2014
Setu Patok, Gunung Api Purba di Cirebon
Pikiran Rakyat Cetak
![]() |
|
Setu Patok, Kecamatan Mundu Cirebon
|
Dalam buku akar Geografi untuk pelajar SMA dalam rentang
waktu tahun 1962-2012, praktis tidak ada penambhan contoh baru untuk gunung api
maar. Sejak Dr. JA Katili memberikan contoh gunung api maar di
lereng Gunung Lamongan pada tahun 1962, seperti yang terdapat dalam bukunya
Pengantar Ilmu Geologi yang diterbitkan oleh Balai Pendidikan Guru, Departemen
PDK di Bandung (1962). Buku ini menjadi pegangan wajib, yang dibagikan untuk para peserta Pendidika Guru
BI/BII Jurusan Ilmu Bumi.
Sejak tahun itu sampai tahun 2012, tidak ada penambahan
contoh dalam buku-buku ajar dari semua penerbit, paling tidak yang ada di Pulau
Jawa. Semuanya hanya mencontohkan gunung api maar, seperti dicontohkan Katili, yaitu ranu, danau
yang ada di lereng Gunung Lamongan, Jawa
Timur, seperti Ranu Bedali dan Ranu Pakis. Padahal, ada maar di kaki Gunung
Cereme, yaitu Situ Sangiang di Majalengka,Seto Sedong di Kuningan, dan Setu
Patok di Cirebon.
Juga ada maar Bambang, Gembong, dan Gunungrowo di
lereng bawah Gunung Muria. Di kaki
Gunung Gamalama, Ternante, ada Danau Tolire Jaha dan Tolire Kecil. Akibatnya,
pelajar di Majalengka yang dekat dengan Situ Sangiang, dan pelajar di Cirebon
yang dekat dengan Setu Patok, misalnya, tidak tahu bahwa kedua danau itu
merupakan contoh dari bentuk gunung api maar.
Maar itu merupakan bahasa dialek Franken Moselle di
Daun, Jerman, yang berarti genangan air atau danau. Kata asalnya dari Bahasa
Latin adalah mare, yang berarti laut. Sutikno Bronto (2010) menulis maar
adalah gunung api yang memotong batuan dasar di bawah muka air tanah, dan
membentuk kerucut berpenampang landai yang tersusun oleh rempah gunung api
berbutir halus hingga kasar, mempunyai diameter kawah, yang bervariasi antara
100 – 3.000 m, yang terkadang terisi air membentuk danau. Lebih lanjut, Bronto
menulis, “Sebagian besar maar terbentuk oleh letusan hidroklastika, tetapi juga
biasa berakhir dengan letusan magmatik, sehingga terbentuk kerucut sinder atau
kubah lava.”
Setu Patok di Desa Setupatok ini berada 27 km timur laut
Gunung Cereme, atau 7 km di selatan Cirebon danhanya 4 km dari Kecamatan Mundu.
Gunung maar Setu Patok ini dapat
dijadikan contoh gunung api maar.
Banyak yang tidak menyangka bahwa setu patok yang berupa
kerucut skorea atau kerucut sinder yang ada ditengahnya itu bekas letusan
gunung api. Dalam keadaan air danau
penuh, keliling Seto Patok panjangnya 6.875 m, dengan bentangan danau
terpanjang 1.874 m, dan terpendek 696 m. Panjang lingkaran kerucut sindernya
1.340 m.
Jejak gunung api maar ini pada umumnya lebih berupa cekungan
ketimbang kerucut seperti layaknya bentuk gunung api yang kita kenal. Boleh
dibilang, bentuk gunung api maar ini berupa gunung api kerdil karena
kecilnya. Dasar gunungnya hanya satu pertujuh atau satu per delapan gunung
komposit, seperti Gunung Tangkubanparahu, Gunung Merapi,Gunung Semeru, dll.
Gunung api kate ini termasuk ke dalam kelompok gunung api monogenesis,
gunung api yang terbentuk oleh satu periode letusan, karena energinya yang
rendah dengan magma yang kecil, sehingga waktu hidupnya sangat singkat, dan
bentuk gunungnya menjadi kecil.
Bila tidak mengamati keadaan sekeliling danau dan pulau di
tengah danau yang tersusun dari tumpukan material letusan berupa lava yang
sarang atau bom gunung api, yang biasa disebut kerucit sinder atau kerucut
skorea, pasti tidak akan menyangka bahwa Setu Patok ini berupa gunung api maar.
Apalagi sejak tahun 1921, di salah satu tebingnya diperkuat
dengan bendungan agar dapat menampung air dari Ci Telang, Ci Dukuh, dan Ci
Karamat, untuk keperluan irigasi, sehingga banyan yang menyangka ini danau
buatan. Luas Situ Patok 175 ha, pada saat airnya penuh menjadi tujuan rekreasi
air yang menarik. Di sana Anda dapat berperahu mengitari kerucut sinder.
Masyarakat juga banyak yang memancing di sini. Namun, makin ke sini setu ini
semakin mendangkal, sehingga sudah ada bagian yang menjadi sawah, dan
benar-benar menjadi kering pada saat musim kemarau, sehingga dasar danau dapat
dilalui dengan berjalan kaki.
Setu Patok terjangkau dengan mudah dari Kota Cirebon,
Kuningan, Majalengka, dan Indramayu, sehingga sangat baik bila dijadikan laboratorium kebumian. Di bekas letusan
gunung api Holosen ini, para pelajar dapat mengadakan studi lapangan untuk
melihat dari dekat apa yang disebut gunung api maar dalam buku. Penataan
lingkungan danau dengan penanaman pohon-pohon besar khas Cirebon perlu
digalakan agar mendapatkan suasana teduh dan nyaman untuk berkegiatan.
(T. Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi
Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung)***
Langganan:
Postingan (Atom)










