![]() |
| di dekat air mancur |
Bahasa Indonesia, Basa Sunda, Bahasa Asing, Kamus, Fotografi, Sejarah, Budaya, Dongeng, Teknologi, Kesehatan, Hukum dan Kriminal, Konservasi, Kuliner, Pembangunan, Krisis, Tokoh, Olahraga, Pertanian, Perkebunan, Perikanan, dan Jalan-Jalan. (Indonesian Language, Sundanese Language, Foreign Languages, Dictionary, Photography, History, Culture, Story, Technology, Healthy, Law and Criminal, Conservation, Development, Crisis, Figure, Sports, Agriculture, Plantation, Fishery, and Travelling)
Kamis, 21 September 2023
Ke Masjid Al Jabbar Malam Hari #shorts #masjidaljabbarbandung #samsunga50
Senin, 01 Mei 2023
Gowes ke Warnur Cibodas Kutawaringin, Soreang
Minggu, 09 April 2023
Minum Air Kelapa Muda (Dawegan/Dewegan)
Bagi warga Jawa Barat kata "Dawegan" sudah tidak asing di telinga, namun bagi yang di luar Jawa Barat agak aneh terdengarnya. Dawegan atau kadang menyebutnya dewegan itu artinya kurang lebih "kelapa muda". Apabila buah kelapanya sudah tua tidak disebut lagi dawegan/dewegan. Buah kelapa yang masih muda terkadang isinya seperti lendir kalau kita kerok pakai sendok. Akan tetapi, itu enak sekali, kelapa yang seperti lendir itu sering disebut lumeho, terdengar jorok sih karena bentuknya menyerupai leho, atau ingus.
![]() |
| Murak (mengupas) dawegan/dewegan |
![]() |
| air kelapa muda (dawegan/dewegan) |
Di bumi nusantara ini banyak buah kelapa, apalagi yang daerah pesisir pantai pasti banyak buah kelapa, setiap daerah punya nama dan ciri khas masing-masing dalam penamaan kelapa muda. Saya tidak tahu persis apa nama kelapa muda di setiap daerah di Indonesia ini. Mungkin ada yang bisa membantu, apa nama atau sebutan lain untuk kelapa muda di setiap daerah di Indonesia.
Berikut link video minum air kelapa muda atau dawegan/dewegan.
Selasa, 15 Maret 2016
April, Pariwisata Aceh Dipromosikan di TMII
![]() |
| Tari Seudati di Taman Pekan Kebudayaan Aceh (PKA), Banda Aceh, Selasa (20/10/2015). |
"Insya Allah pada kegiatan tersebut akan kita optimalkan untuk mempromosikan wisata Aceh," kata Kepala Disbudpar Aceh, Reza Fahlevi di Banda Aceh, Senin (14/3/2016).
Reza menjelaskan pada HUT ke-41 TMII di Jakarta yang akan berlangsung 17 sampai 24 April akan ada pameran dari 23 kabupaten/kota di provinsi ujung paling barat Indonesia itu.
![]() |
| Pengunjuk menikmati kari kambing di Warung Kari Kambing Stadion, Desa Mon Geudong, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe, Aceh, Kamis (28/1/2016). |
Menurut Reza, dalam kegiatan tersebut juga mengusung tema Aceh dan para pengelola juga akan menggunakan motif Aceh. Selain itu juga akan ada tarian massal "Ratuh Jaroe" dengan penari sekitar 4.000 orang dan ada parade budaya serta kuliner Aceh.
Reza menjelaskan, dengan adanya kegiatan tersebut menjadi sebuah kesempatan bagi Pemerintah Aceh dan Kabupaten/Kota untuk meningkatkan promosi wisata pada tahun 2016 untuk tingkat nasional khususnya melalui kegiatan di TMII.
Reza menambahkan, pihaknya optimistis upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menyejahterakan masyarakat akan terwujud seiring meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan yang datang ke provinsi ujung paling barat Indonesia itu.
| Editor | : I Made Asdhiana |
| Sumber | : Antara |
Sabtu, 03 Oktober 2015
Minggu, 08 Maret 2015
Wow, Kapal Pesiar Terbesar Sejagat Segera Berlayar!
![]() |
| The Telegraph Travel |
KOMPAS.com – Royal Caribbean telah meresmikan rancangan terbaru kapal pesiar terbesar di dunia yang mempunyai berat kotor sekitar 227.000 ton.
Raksasa dengan 16 dek, kapal ini disebut Harmony of the Seas, di mana akan mempunyai ruang untuk tamu sebanyak 5.479 kabin dari haluan hingga ke buritan. Allure of the Seas dan Oasis of the Seas, saat ini berbagi gelar kapal pesiar terbesar di dunia dengan berat kotor masing-masing setiap kapal yaitu 225.282 ton.
Menurut Royal Caribbean, untuk membangun kapal ini dibutuhkan biaya sebesar 1,35 miliar dollar AS dan dijadwalkan untuk melakukan pelayaran perdananya pada bulan April 2016. Kapal mewah ini akan dilengkapi tiga wahana seluncur air, robot bartender (yang juga dapat ditemui di kapal terbaru, Quantum of the Seas), dan komedi putar yang dibuat secara tradisional.
Tempat untuk kuliner akan memiliki dua konsep, Izumi Hibachi & Sushi dan Sabor Modern Mexican, dan Starbucks. Pihak kapal pesiar mengklaim bahwa di tempat kuliner ini juga akan memiliki koneksi internet tercepat di laut.
![]() |
| The Telegraph Travel |
Seperti, dua kapal lain di kelasnya, Harmony akan dibagi menjadi tujuh “area” yaitu Central Park, Royal Promenade, Boardwalk, kolam renang dan area olahraga, Vitality (spa dan fitnes), tempat hiburan, dan zona remaja. Zona tersebut diharapkan dapat berbagi dengan fitur umum lainnya di kapal, seperti simulasi selancar dan flying fox.
Royal Carribean memiliki dua kapal lagi yang sedang dibangun yaitu Anthem of The Seas yang akan diresmikan April dan Ovation of the Seas, yang juga akan mengawali debutnya April 2016. Tiga kapal baru akan meningkatkan jumlah kapal perusahan hingga 25.
Mayoritas kapal berlabuh di Florida, tapi Anthem of the Seas dan Quantum of the Seas akan berlabuh di Southampton pada musim panas mendatang.
| Penulis | : Wahyu Adityo Prodjo |
| Editor | : I Made Asdhiana |
| Sumber | : the telegraph |
Rabu, 17 Desember 2014
Warga AS Bentuk "The Indonesianist Community"
![]() |
| VOA |
WASHINGTON, KOMPAS.COM - Tinggal di Indonesia telah menjadi sebuah pengalaman yang tidak terlupakan bagi kebanyakan warga Amerika Serikat. Salah satunya adalah Chris Crow yang saat ini tinggal di Washington DC dan bekerja di universitas John Hopkins.
Tinggal di Indonesia selama tiga tahun dan pernah mendapat beasiswa dari pemerintah Amerika untuk mengajar bahasa Inggris selama satu tahun di sebuah SMA negeri di desa Paperu, Maluku telah memperkuat ikatan warga AS, Chris Crow, dengan Indonesia.
Inilah yang membuatnya tertarik untuk bergabung dengan 'the Indonesianist Community' dan akhirnya menjadi ketua dari klub perkumpulan warga internasional yang memiliki ketertarikan terhadap Indonesia ini. Hingga kini anggota dari milis the Indonesianist Community sudah mencapai sekitar 160 orang.
“(Organisasi) itu dibangun oleh teman saya, namanya Brian Kraft. Dia sekarang sudah pindah ke Jakarta lagi. Dia kerja di sana sebagai konsultan,” papar Chris kepada VOA Indonesia dengan bahasa Indonesia yang sangat fasih.
Klub ini berdiri karena banyaknya warga di sekitar Washington DC, baik warga AS mau pun internasional yang tertarik dengan Indonesia, baik dari segi politik, bahasa, atau pun hal lainnya. “Jadi (Brian) membuat klub ini supaya mereka bisa berkumpul, ngobrol, dan saling kenal. Juga untuk menyebar kesadaran tentang Indonesia di Washington DC dan di Amerika,” ujar Chris.
Kegiatan dari the Indonesianist Community ini juga sangat beragam. Namun yang paling populer adalah klub bahasa. “Itu sekitar 15 orang yang tertarik belajar bahasa Indonesia dan mereka berkumpul setiap minggu,” jelas Chris.
Pertemuan untuk klub bahasa ini biasanya dilakukan di restoran di daerah Washington, DC di mana para anggota yang hadir datang untuk melatih kemampuan bahasa Indonesia mereka. “Baik orang yang baru mulai, mau pun yang sudah cukup lancar,” lanjut Chris.
Selain klub bahasa, the Indonesianist Community juga kerap kali mengadakan seminar yang menghadirkan pembicara yang memiliki hubungan dengan Indonesia. Biasanya para tamu yang hadir adalah profesional yang memiliki hubungan kerja dengan Indonesia. “Misalnya dari kementerian luar negeri Amerika atau dari Think Thank, NGO (Non-Governmental Organizations), kan di Indonesia ada banyak,” jelas Chris.
Pengalaman Tinggal di Indonesia
Mengenai pengalamannya tinggal di Indonesia, khususnya di Maluku, Chris mengaku sangat senang. “Pantainya sangat indah dan airnya bersih dan jernih. Bisa lihat jauh (ke) dalam air, bisa snorkeling, berenang dan juga ada goa yang bisa dijelajahi,” papar pria penggemar soto betawi dan minuman bandrek ini. “Banyak kegiatan yang menarik, khususnya kegiatan yang berkaitan dengan alam,” lanjutnya.
Chris juga sangat menikmati interaksinya dengan warga setempat, bahkan selama mengajar di Maluku, ia tinggal bersama keluarga lokal. “Di sana orangnya juga sangat ramah. Saya senang sekali tinggal setahun di sana,” kenang mantan kontestan Asing Star di Indonesia ini.
Selama di Indonesia, Chris sudah pernah berkunjung ke berbagai tempat seperti Yogyakarta, Lombok, Makassar, Surabaya, Bandung, Bogor, dan Jakarta. Sedikit mengherankan ketika mengetahui bahwa Chris belum pernah berkunjung ke Bali, yang sering menjadi tujuan wisata pertama warga internasional. “Tiga tahun di Indonesia belum ke Bali,” kata Chris sambil tertawa. “Saya kurang tertarik sama tempat yang turis banget kayak gitu ya. Rasanya mungkin kayak Australia kadang-kadang,” lanjutnya.
Di antara semua tempat, ibu kota Jakarta menjadi favoritnya. “Di Jakarta saya betah sekali. Itu gara-gara komunitasnya. Orang-orang di Jakarta sangat ramah kayak di seluruh Indonesia, tapi di Jakarta lebih banyak orangnya dan lebih bermacam-macam,” papar pria yang hobi naik ojek untuk menghindari kemacetan Jakarta bersama Gebong, tukang ojek langganannya.
Lagi-lagi Chris mengungkapkan kekagumannya terhadap orang-orang Indonesia. “Orang Indonesia menurut saya paling ramah di dunia. Benar-benar luar biasa,” kata Chris.
Kepada teman-teman di Indonesia, Chris sempat berbagi tips kepada mereka yang ingin belajar Bahasa Inggris. “Kalau kalian ingin belajar bahasa Inggris coba aja datang ke tempat yang banyak bule supaya bisa latihan, karena kalo nggak berani latihan pasti nggak belajar,” papar Chris menutup wawancara dengan VOA.
| Editor | : Egidius Patnistik |
| Sumber | : VOAINDONESIA |
Rabu, 08 Oktober 2014
Wisata Alam Citumang Tawarkan Sensasi Berbeda
PARIGI,(PRLM).- Kini, Objek Wisata Alam Citumang, di Desa Bojong, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, telah menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi turis. Khususnya bagi mereka yang ingin mencari sensasi tempat wisata berbeda di Pangandaran.
Selama ini, pengujung yang datang ke Pangandaran mayoritas hanya menghabiskan waktu di Pantai Pangandaran, Pantai Batukaras, atau Green Canyon. Tetapi, dengan kehadiran Citumang itu menjadi daya tarik tersendiri.
Dikatakan Maman Sukirman, selaku Petugas Pengelola Objek Wisata Alam Citumang saat ini pengunjung yang datang ke tempat itu rata-rata dapat mencapai 100 orang pada hari biasa. Tetapi, memasuki hari libur atau libur panjang dapat mencapai lebih dari 300 orang.
"Citumang telah menjadi tujuan wajibnya wisatawan ke Pangandaran. Kebanyakan mereka datang ke sini, karena sudah jenuh atau ingin mencari suasana baru dari Pantai Pangandaran," ujarnya, Selasa (7/10/2014).
Maman menjelaskan, Citumang memang memiliki keunikan tersendiri. Sebab, aliran sungainya berwarna hijau kebiruan. Kemudian ada gua berukuran besar serta air terjun. Lalu ada gua di balik air terjunnya.
Pengunjung pun dapat melakukan aktifitas body rafting di sana. Dengan waktu hampir mencapai dua hingga tiga jam.
Selain body rafting, kini pengelola pun terus berbenah tempat tersebut. Yakni dengan membuat kolam buatan berukuran kecil.
"Body rafting hanya dapat dilakukan oleh remaja dan dewasa. Namun, banyak juga anak-anak kecil yang ingin merasakan sensasi di sini. Untuk itu kami membuatkan kolam kecil," jelasnya.
Lokasi kolam kecil untuk anak-anak kini sedang dibuat dekat dengan kali Citumang. Dan, airnya pun tetap dari aliran Citumang.(M. Ilham Pratama/A-147)***
Kamis, 02 Oktober 2014
Perajin Batik Kasumedangan Minta Diperhatikan Pemerintah
Kurang Berkembang
Kamis, 02/10/2014 - 05:53“Jika ketiga kebutuhan itu dibantu oleh Pemkab Sumedang, insya Allah, usaha perajin batik kasumedangan akan berkembang maju. Terus terang, selama ini, para perajin kurang perhatian dan bantuan dari pemerintah,” kata salah seorang perajin batik kasumedangan, Ina Mariana (57) pemilik “Sanggar Batik Wijaya Kusumah” di rumah produksinya di Jalan Pangeran Kornel, Kelurahan Pasanggrahan Baru, Kec. Sumedang Selatan, Rabu (1/10/2014).
Menurut dia, bantuan modal untuk para perajin tersebut, sehubungan produksi batik di Sumedang membutuhkan biaya tinggi dibanding daerah lainnya, seperti halnya Cirebon. Biaya tinggi tersebut, di antaranya akibat relatif mahalnya upah kerja serta tingginya ongkos pembelian bahan baku kain batik berikut peralatannya.
“Upah kerja membuat batik tulis di Sumedang per hari rata-rata Rp40.000, sedangkan di Cirebon bisa Rp12.000. Begitu juga upah memproduksi batik cap. Di Sumedang per lembar Rp 4.000, sedangkan di Cirebon hanya Rp1.000. Jadi, perbandingan upah kerja antara Sumedang dengan Cirebon sangat jauh,” ujar Ina.
Selain tingginya upah kerja, lanjut dia, juga mahalnya ongkos pembelian bahan baku. Karena di Sumedang tidak ada grosir besar yang menjual bahan baku kain batik, terpaksa para perajin membelinya ke Cirebon atau Pekalongan, Jawa Tengah. Kondisi itu, otomatis menaikan harga jual produk.
Harga batik kasumedangan satu warna minimal Rp60.000 per potong. Sementara batik Cirebon jauh lebih murah seharga Rp40.000 per potong. Bahkan masih bisa dijual Rp100.000 per tiga potong.
“Akibatnya, penjualan batik kasumedangan hanya orang-orang tertentu. Untuk membuka pasar seluas-luasnya, seharusnya harga batik kasumedangan bisa bersaing dengan daerah lainnya dan terjangkau oleh masyarakat umum. Akan tetapi, kami tidak mampu menekan harga produk semurah itu, karena mahalnya biaya produksi,” tuturnya. (Adang Jukardi-"PR"/A-88)***
Sabtu, 10 Mei 2014
Obyek Wisata Balong Keramat Darmaloka Kumuh
![]() |
| Nuryaman/"PRLM" |
KUNINGAN, (PRLM).- Kawasan obyek wisata Balong Keramat Darmaloka, di Desa Darma, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, belakangan ini terlihat kumuh.
Genangan air jernih mengalir di sejumlah kolam keramat serta area tempat istirahat dan lalu lalang pengunjung di kawasan obyek wisata itu, sering dinodai sampah berserakan.
Selain itu, di kolam-kolam serta kawasan obyek wisata itu, kini banyak dilintasi pipa paralon terpasang semrawut penyalur air ke perumahan penduduk.
Bahkan, di salah satu kolam keramat di anataranya terdapat sebentang pipa berdiameter puluhan centi meter milik Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Kuningan, terpasang begitu saja melintasi bagian tengah genangan kolam.
Tidak hanya itu, area terbuka di kawasan obyek wisata itu juga banyak yang ditumbuhi rumput liar dan rumpun semak belukar. Padahal, obyek wisata itu selama ini merupakan salah satu obyek wisata di Kabupaten Kuningan yang kerap dipromosikan Pemkab Kuningan.
Kumuhnya kondisi di kawasan obyek wisata itu juga diakui Wakil Ketua Kelompok Penggerak Pariwisata Darmaloka Odik.
"Ya, begini lah keadaannya saat ini. Sering bala oleh sampah yang berserakan, dan kolam-kolam keramat di antaranya sekarang jadi kolam paralon seperti ini," ujar Odik, yang sedang memimpin gerakan operasi bersih sampah di kawasan obyek wisata tersebut, Jumat (9/5/2014).
Gerakan opsih sampah di kawasan obyek wisata itu, menurut Odik, dalam beberapa bulan terakhir telah dijadikan agenda rutin pihaknya setiap hari Jumat.
Gerakan rutin jumat bersih di obyek wisata itu menurut Odik, selain melibatkan masyarakat anggota Kompepar Darmaloka, juga diikuti oleh sejumlah personel Lembaga Swadaya Masyarakat Katumbiri dari Cirebon yang akhir-akhir ini sedang melakukan kegiatan pendampingan upaya peningkatan sumber daya manusia Kompepar Darmaloka.
Odik dan salah seorang tokoh masyarakat setempat Rudi O'ang Ramdani, menyebutkan, tingkat kunjungan wisatawan ke obyek wisata itu belakangan ini juga terbilang minim. Kecuali pada suasana lebaran idul fitri atau pada hari-hari raya Islam.
Sementara itu, Balong Keramat Darmaloka, konon merupakan bekas peninggalan zaman Walisanga dalam rangka penyebaran Islam ratusan tahun silam.
Lokasi obyek wisata peninggalan zaman Walisanga itu, berada di tepi lintasan jalan jalur Cirebon-Kuningan-Cikijing, Majalengka-Ciamis. berjarak sekitar 13,5 Km ke arah selatan dari ibu kota Kabupaten Kuningan.
Di kawasan obyek wisata itu, terdapat lima kolam (balong) keramat. Terdiri atas Balong Ageung, Balong Bangsal, Balong Beunteur, Bale Kambang, dan Balong Panyipuhan atau kolam sumber air Cibinuang.
Balong-balong keramat di Darmaloka itu selalu berair jernih dan menjadi sumber air yang cukup subur. Sejak dulu hingga saat ini, kolam-kolam keramat di Darmaloka dihuni dan menjadi habitat ikan Kancra Bodas yang biasa disebut juga "ikan dewa" sejenis dengan yang ada di obyek wisata Kolam Cibulan dan Cigugur.
Kawasan obyek wisata Darmaloka memiliki total luas area sekitar 3 Hektare, dinaungi pepohonan tropis yang rindang dan menyejukan. Di komplek Balong Keramat Darmaloka terdapat makam Syekh Rama Gusti yang konon ditugaskan oleh Walisanga untuk menyebarluaskan agama Islam di daerah tersebut.
Sayang, berbagai potensi daya tarik kawasan obyek wisata yang juga sering dikunjungi peziarah itu, saat ini kurang terpelihara. Di samping itu keberadaanobyek wisata itu belum terpasilitasi infrastruktur jalan dan tempat parkir kendaraan yang memadai.(Nuryaman/"PR"/A-89)***
Minggu, 20 April 2014
Curug Bojong, Niagara Versi Kecil di Pangandaran
Belum Banyak Diketahui
Kamis, 17/04/2014 - 03:09Tempat tersebut adalah Curug Bojong, Dusun Cihandiwung, Desa Sukahurip, Kecamatan/Kabupaten Pangandaran. Objek wisata itu baru resmi dibuka pada September 2013. Namun, sejak dibuka untuk umum, masih banyak orang tidak mengetahuinya.
Keindahan dari objek tersebut adalah Curug Bojong. Tebing indah itu memiliki ketinggain 30 meter, dengan lebar 35 meter. Kemudian kedalaman air pada tebingnya mencapai delapan meter. Sedangkan lebar dari aliran Sungai Cibojong tersebut empat meter.
Pengunjung yang datang ke lokasi tersebut adalah untuk beraktifitas di Curug Bojong. Mereka bisa berenang di kolam batu alami, dan juga berelaksasi di sana.
Lokasi tersebut berjarak sekitar enam kilometer dari Objek Wisata Pantai Pangandaran, atau empat kilometer dari Jalan Raya Pangandaran tepatnya dari Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran. (A-195/A_88)***
Kamis, 27 Maret 2014
Pangandaran Memiliki Objek Wisata Baru "Gua Sinjang Lawang"
Lebih Bagus dari Green Canyon
Kamis, 27/03/2014 - 10:07
PARIGI,(PRLM).- Kabupaten Pangandaran memiliki objek wista baru. Lokasi itu pun di klaim jauh lebih bagus dari Green Canyon atau Cukang Taneuh.
Objek wisata baru tersebut adalah Gua Sinjang Lawang, di Dusun Parinenggang, Desa Jadimulya, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran.
Menariknya dari Gua Sinjang Lawang, terdapat gua berukuran besar dan panjang. Panjang gua tersebut mencapai 500 meter, kemudian lebar gua 65 meter, dan ketinggian gua sekitar 60 meter.
Gua tersebut pun dialiri air yang berwarna kehijauan. Dengan kedalaman air sekitar 1,5 meter hingga 2,5 meter. Di dalam gua tersebut, kita dapat bermain body rafting, berenang menyusuri gua tersebut.
Uniknya gua tersebut adalah dari atas sinar matahari dapat masuk. Dan memantulkan beragam warna ketika mengenai dinding gua yang dipenuhi oleh stakaltit.
“Indah sekali ketika kita berada di dalam gua. Selain dapat berenang menyusuri gua dengan pelampung, kita bisa melihat dinding gua yang berawarna-warnai karena terpantul sinar matahari dari luar,” ujar Penjabat Bupati Kabupaten Pangandaran Endjang Naffandy ketika berkunjung ke lokasi itu, Kamis (27/3/2014).
Endjang mengatakan, lokasi itu akan dikembangkan dan dibenahi. Kemudian berkerjasama dan koordinasi dengan Perum Perhutani selaku pemilik lahan. (A-195/A-107)***
Selasa, 03 Desember 2013
Pelepasan Penyu di Perairan Bojongsalawe, Pangandaran
Ketua dari tempat konservasi anak penyu tukik, Didin Syaefudin (57) mengatakan, penyu yang dilepas pada kesempatan itu adalah jenis sisik dan tempayan.
“Yang dilepas oleh kita saat ini adalah tujuh ekor. Terdiri dari dua ekor yang berusia 17 bulan, satu ekor 15 bulan, lalu satu ekor berusia dua tahun, dan tiga ekor yang berusia lima bulan,” ucapnya. (A-195/A_88)***
Rabu, 25 September 2013
Tradisi Nyangku Akan Jadi Ikon Wisata Budaya Kab.Ciamis
Diungkapkan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Ciamis, Drs. Sobar Sugema, M.Pd., saat ini Pemkab Ciamis telah menyiapkan berbagai langkah upaya dan strategis dalam menggali berbagai potensi yang akan menghasilkan PAD dari sektor pariwisata.
“Pasca hilangnya PAD dari (pariwisata) Pangandaran, kita mulai mengambil sejumlah langkah untuk mengembangkan potensi wisata budaya, yang selama ini baru Cagar Budaya Karangkamulyan dan Astana Gede Kawali dikenal masyarakat,” ujar Sobar ditemui disela-sela Sosialisasi Pewarisan Seni Tradisional Gondang Buhun Kampung Adat Kuta, Selasa (24/9) bertempat di Alun-alu Kecamatan Tambaksari, Kab. Ciamis.
Kampung Adat Kuta dan Gegersunten di Karangpaninggal, Kec. Tambaksari, menurut Sobar, memiliki potensi untuk dikembangkan untuk salah satu tujuan wisata budaya.
“Seperti halnya kampung adat pada umumnya di Jawa Barat, Kampung Adat Kuta maupun Gegersunten memiliki kegiatan tradisi pada waktu tertentu seperti Kampung Adat Ciptagelar (Kab. Sukabumi) atau Kampung Naga (Kab. Tasikmalaya),” ujar Sobar.
Selain kedua kampung adat tersebut, menurut Sobar Pemkab Ciamis juga akan lebih menata dan mengembangkan wisata budaya yang sudah berlangsung dan dikenal selama ini. Seperti tradisi Nyangku di Panjalu, tradisi Nyepuh di Ciomas, tradisi Ngikis di Karangkamulyan dan Nyiar Lumar di Astana Gede.
“Bahkan kemungkinan kami akan menjadikan Situ Lengkong dan Panjalu dengan tradisi Nyangkunya akan menjadi ikon wisata budaya dan relijius Kab. Ciamis. Karena selama ini tradisi tersebut sudah dikenal dan banyak dikunjungi wisatawan domestik,” ujar Sobar.(A-87/A-107)***
Rabu, 17 Juli 2013
Terowongan Wilhelmina Terpanjang di Indonesia
Selain sebagai sarana transportasi massal darat, jalur yang dibuka dan dibangun pada 1911 dikatakan sebagai kereta api wisata. Sebab, pemangdangan yang disuguhkan pada jalur sepanjang 82,385 kilometer itu bagus dan indah. Mulai dari pegunungan, terowongan, jembatan, hingga panorama laut Pangandaran.
Di jalur tersebut, ada satu stasiun kelas 3, empast stasiun kelas 2, dan tiga stasiun kelas 1. Kemudian, pada jalur ini pun terdapat terowongan dan jembatan terpanjang. Untuk terowongan ada tiga, yaitu Terowongan Hendrik 100 meter, Terowongan Juliana 250 meter, dan Terowongan Wilhelmina 1.116 meter.
Sedangkan untuk jembatan, yaitu Jembatan Cikacepit dengan panjang 1.250 meter, lebar 1,70 meter, dan ketinggian sekitar 100 meter dari permukaan tanah. dan, Jembatan Ciputrapinggan. Untuk Terowongan Wilhelmina, dan Terowongan Cikacepit adalah yang terpanjang di Indonesia.
Kepala Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop II Bandung, Bambang S Prayitno mengatakan, nantinya dengan ada rencana akan diaktifkannya kembali jalur kereta tersebut, diakui akan membantu roda perekonomian masyarakat. “Tentu ini akan membantu jika kereta api tersebut kembali beroperasi. Pertama, perekonomian masyarakat di sekitar kereta api dapat terdongkrak. Dan, juga ini akan menjadi jalur wisata heritage,” jelasnya.
Dikatakan Bambang, jika jalur tersebut diaktifkan kembali akan mendatangkan banyak keuntungan dan manfaat. Khususnya bagi Kabupaten Pangandaran yang baru saja menjadi Daerah Otonom Baru (DOB). Terutama bagi masyarakat. Sebab, selain banyak yang merindukan ingin menaiki kereta api di jalur tersebut. kereta api dapat menjadi salah satu pilihan alat transportasi.
“Kita ketahui Pangadaran sudah menjadi destinasi wisata baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Nantinya, mereka yang hendak ke Pangandaran dapat menggunakan kereta api dari Banjar, dan mendapatkan pengalaman indah. Yaitu melihat panorama alam,” ucapnya.
Seperti diketahui, jalur tersebut memiliki jembatan dan terowongan terpanjang di Indonesia. Yaitu Jembatan Cikacepit, dan Terowongan Wilhelmina. “Nantinya, kita tidak hanya sebagai heritage yang dipertahankan dari jalur tersebut. tetapi pelayanan kepada masyarakat. Tentu kita harus menambah dan meningkatkan dari yang dahulu sudah ada,” ucapnya.
Menurut dia, seperti Stasiun Pangandaran dan Cijulang, itu akan tetap dipertahankan keaslian bangunannya. Namun, akan ada pengembangan.(A-195/A-147)***
Riset Kepariwisataan Dunia dalam Literatur
PROGRAM STUDI
Selasa, 16 Juli 2013 | 14:43 WIB
Oleh Teguh Amor Patria A.Par, PGDip, MPPar
KOMPAS.com
- Belum banyak tulisan sengaja dibuat untuk meninjau perkembangan riset
kepariwisataan di dunia, terutama yang dipublikasikan di Indonesia,
baik yang ditulis dalam Bahasa Indonesia maupun hasil terjemahan dari
bahasa lain. Begitu juga halnya dengan jurnal, walau sudah banyak
dipublikasikan di Indonesia, tetapi belum ditemukan satu jurnal yang
membahas perkembangan riset kepariwisataan.
Berdasarkan hal itu,
tulisan ini sengaja mengangkat dinamika riset kepariwisataan di dunia.
Harapannya agar dapat menjadi dasar serta mendorong penulisan yang lebih
mendalam tentang topik serupa di masa mendatang.
Penelitian
kepariwisataan baru berkembang pada awal abad ke-20 di Eropa. Hingga
tahun 1930-an, pariwisata masih dicermati dan dikaji melalui kacamata
ilmu-ilmu tradisional lainnya yang lebih tua, lebih berkembang, dan
diakui masyarakat luas, seperti ilmu ekonomi, ilmu sosial, ilmu budaya,
ilmu geografi, dan lain sebagainya.
Baru sejak 1940-an,
pariwisata diupayakan oleh sejumlah akademisi dan peneliti untuk
diajarkan di universitas-universitas, yang melahirkan definisi-definisi
dan teori-teori kepariwisataan serta berbagai penelitian kepariwisataan.
Upaya tersebut baru membuahkan hasil di awal milenium ini, dengan
ditetapkannya pariwisata sebagai suatu keilmuan mandiri.
Dari
lima literatur (textbook) yang digunakan untuk penulisan ini, semuanya
diterbitkan dalam periode waktu relatif baru, yaitu antara 1989 hingga
2006. Hal ini disebabkan masih relatif barunya serta masih langkanya
sumber-sumber tertulis yang mengangkat tentang dinamika riset
kepariwisataan di dunia. Selain itu, data tentang dinamika riset
kepariwisataan masih sangat terbatas.
Dibandingkan dengan
bahasan-bahasan lain, seperti aspek-aspek perencanaan dan pengelolaan
kepariwisataan, bahasan tentang riset kepariwisataan masih sangat kecil
lingkupnya dalam buku-buku teks tentang kepariwisataan. Perbedaan tahun
penerbitan buku-buku yang digunakan untuk tulisan ini tidak mencerminkan
perkembangan riset kepariwisataan secara kronologis. Masing-masing buku
menjelaskan periode waktu dan bahasan tentang riset kepariwisataan
masing-masing.
1. Tahun 1989 (Tourism Development-Second Edition (Pearce, Addison Wesley Longman Limited)
Buku
ini diterbitkan di Inggris sehingga pemikiran-pemikiran dan studi-studi
kasusnya banyak mencerminkan apa yang terjadi di Inggris. Sekedar
catatan, kepariwisataan modern lahir pertama kali di Inggris pada abad
ke-16 dengan lahirnya the Grand Tourserta dilanjutkan oleh tur
terorganisir (organized tour) yang digagas Thomas Cook pada abad ke-19.
Hal ini menjadikan Inggris sebagai salah satu negara kiblat riset dan
edukasi kepariwisataan terkemuka di dunia.
Beberapa point penting dari buku ini adalah:
-
Pariwisata semakin berkembang menjadi sebuah topik penelitian bagi para
peneliti dari berbagai disiplin ilmu selama dua puluh tahun terakhir
(1970-an dan 1980-an), namun belum diterima secara luas sebagai sebuah
ilmu tersendiri. Pariwisata dipandang sebagai sebuah topik yang
merupakan bagian dari ilmu geografi, ekonomi, manajemen, sosiologi,
antropologi, dan lain-lain.
- Pearce (1979) mengidentifikasi
enam area sebagai topik penelitian pariwisata dari ilmu geografi, yaitu
pola spasial sediaan (supply spatial pattern), pola spasial permintaan
(demand spatial pattern), geografi resor (resort geography), analisis
pergerakan dan alur wisatawan (tourist movement and flow analysis),
dampak pariwisata (tourism impacts), dan model kawasan wisatawan
(tourist destination model). Di tahun-tahun berikutnya (awal 1980-an),
muncul topik-topik lebih variatif di sejumlah negara di dunia.
-
Dalam ilmu ekonomi, manajemen, dan pemasaran, penelitian yang
berhubungan dengan kepariwisataan muncul lebih awal dibanding yang
terjadi dalam ilmu geografi (1970-an), namun dalam dekade berikut
kemunculannya tidak menunjukkan perubahan signifikan. Kontribusi
terhadap penelitian kepariwisataan dari sisi ekonomi dilakukan oleh Gray
(1982), yang mengangkat topik pengukuran, analisis biaya-manfaat,
alokasi sumber daya, dan pemanfaatan barang-barang publik dalam
pengembangan kepariwisataan.
- Dalam sosiologi kepariwisataan,
Cohen (1984) mengidentifikasi delapan pandangan sosiologis terhadap
pariwisata, yaitu pariwisata sebagai sebuah bidang jasa yang
dikomersialkan, perjalanan yang didemokratisasikan, sebuah bentuk
kegiatan waktu luang yang modern, sebuah variasi modern dari ziarah
tradisional, sebuah pengungkapan tema-tema kebudayaan dasar, sebuah
proses bersifat akulturatif, sebuah bentuk dari hubungan-hubungan etnis,
dan sebuah bentuk neokolonisasi.
Cohen juga membagi empat isu
prinsip, yaitu wisatawan, hubungan antara wisatawan dan penduduk lokal,
struktur dan pemfungsian sistem kepariwisataan, dan konsekuensi
pariwisata. Menurut Graburn (1983), para ahli antropologi telah berfokus
pada studi tentang dampak-dampak pariwisata terhadap penduduk lokal dan
juga terhadap studi tentamg wisatawan itu sendiri.
- Dari semua
penelitian di tahun 1970-an dan 1980-an, topik mengenai dampak
pariwisata terhadap berbagai aspek sesuai latar belakang peneliti adalah
yang paling banyak muncul.
2. Tahun 1995 (Tourism Analysis-A Handbook (Smith, Addison Wesley Longman Limited)
Sama
seperti buku pertama, buku ini juga diterbitkan di Inggris. Dalam salah
satu sub-bab-nya, buku ini membahas sedikit tentang riset
kepariwisataan, dengan beberapa point sebagai berikut:
- Melihat riset pariwisata melalui berbagai perspektif, yaitu human experience, social behavior, geographic phenomenon, resources, business, industry, dan intellectual debate.
- Melihat isu-isu kontemporer dalam riset kepariwisataan.
-
Meninjau tantangan-tantangan dalam riset kepariwisataan, seperti
kurangnya pengukuran yang dapat dipercaya untuk menjelaskan ukuran dan
dampak pariwisata, keberagaman industri pariwisata sehingga menimbulkan
pertanyaan apakah pariwisata merupakan sebuah industri tersendiri atau
gabungan atas industri-industri terkait, kompleksitas spasial dan
wilayah, dan tingginya tingkat fragmentasi.
3. Tahun 2004 (Tourism Management–3rd Edition (Leiper, Pearson Education Australia)
Buku
yang diterbitkan di Australia ini ditulis oleh Leiper, salah satu
penulis ternama di bidang kepariwisataan yang terkenal dengan model
Sistem Pariwisata dari sisi spasial-nya. Buku ini pada umumnya membahas
manajemen kepariwisataan yang bersifat komprehensif. Riset
kepariwisataan merupakan satu topik yang dibahas dalam salah satu
sub-bab-nya, dengan point-point sebagai berikut:
- Riset kepariwisataan dimulai 90 tahun yang lalu.
-
Sekitar tahun 1910, Picard dan von Scullard memerhatikan dampak ekonomi
yang dihasilkan wisatawan, yang kebanyakan berasal dari Jerman dan
Inggris, di Austria dan Swis dan mulai melakukan penelitian.
-
Pada 1930-an, sekelompok akademisi membentuk tim pertama yang tertarik
untuk mempelajari pariwisata dari berbagai sudut pandang, seperti
sosiologi, antropologi, dan ekonomi. Belum ada studi tentang gambaran
keseluruhan, namun apabila digabungkan, penelitian-penelitian itu
menghasilkan suatu pandangan yang komprehensif dan menyeluruh.
-
Tahun 1940, didasari keyakinan dan keinginan untuk menjadikan pariwisata
sebagai sebuah subjek di universitas-universitas, mendorong dua
profesor di Universitas Berne untuk menciptakan definisi pariwisata
secara formal.
- Tahun 1962, the Journal of Travel Research
diterbitkan Universitas Boulder, Colorado, AS, sebagai yang pertama
dalam hal riset berbasis statistik.
- Pada 1960-an, sebuah
program edukasi dan riset pariwisata diluncurkan di Universitas
Michigan, AS, di mana Robert McIntosh menulis teks utama pertama di
tahun 1972.
- Tahun 1973, Jafar-Jafari mendirikan Annals of
Tourism Research di Universitas Wisconsin-Stout, yang menggabungkan
beberapa disiplin ilmu.
- Di awal 1970-an, Universitas Surrey di
Inggris merupakan pionir dalam program studi pariwisata. Selain itu,
universitas ini juga mempublikasikan buku teks yang berpengaruh berjudul
Tourism Management.
- Tiga jurnal yang disebut di atas, Journal of Travel Research, Annals of Tourism Research, dan Tourism Management, saat ini dianggap sebagai tiga riset pariwisata utama di dunia.
-
Di tahun 1980-an dan 1990-an pariwisata telah menjadi tema riset dan
pendidikan di banyak universitas dan kampus di seluruh dunia. Selain
itu, banyak juga lembaga kursus yang menyediakan pendidikan keterampilan
keterampilan.
- Buku ini juga menyebutkan tentang empat sumber
bagi pembelajaran pariwisata, yaitu pengalaman seorang layperson,
pengalaman kerja, pelatihan keterampilan, dan riset dan edukasi
akademis. Buku itu juga menyebutkan karakteristik keempat sumber itu.
- Buku ini juga menyebutkan tentang tujuan riset dan pendidikan pariwisata.
4. Tahun 2006 (Tourism A Modern Synthesis (Page and Connell, Thomson, London)
Seperti
buku ketiga di atas, buku ini juga diterbitkan di Australia dan pada
umumnya membahas mengenai manajemen kepariwisataan yang bersifat
komprehensif. Riset kepariwisataan merupakan satu topik yang dibahas
dalam salah satu sub-bab-nya, dengan point-point sebagai berikut:
- Pariwisata kini sudah dianggap sebagai sebuah subjek studi akademik secara serius.
-
Sebelum tahun 1980-an, studi pariwisata dipandang oleh banyak akademisi
dan analis sebagai suatu subjek yang dangkal (superficial) dan kurang
berharga, tidak seperti subjek-subjek lain seperti sejarah, ekonomi, dan
politik. Pariwisata sering dianggap sebagai sebuah subjek pada
tingkatan praktisi yang diajarkan untuk pada craft level.
- Pada
1990-an, hal tersebut berubah. Saat ini, pariwisata diajarkan di banyak
sekolah, kampus, politeknik, dan universitas di seluruh dunia, dengan
berbagai kualifikasi mulai darilevel sertifikat hingga PhD, dan menjadi
dewasa sebagai sebuah subyek.
- Buku-buku teks yang telah
membantu pendewasaan pariwisata saat ini kebanyakan ditulis dan
diterbitkan pada tahun 1980-an hingga awal 1990-an (walau ada sejumlah
kecil di tahun 1970-an dan di awal milenium).
- Buku ini juga
menyebutkan tentang Annals of Tourism Research, Tourism Management, dan
Journal of Travel Research yang memunculkan pariwisata sebagai sebuah
subjek yang serius di tingkat vokasi, sarjana, dan pascasarjana di
seluruh dunia.
- Saat ini, edukasi pariwisata dilengkapi dengan
kemajuan teknologi, seperti Travel Trade Gazette dan sumber berita kabel
seperti TravelMole (www.travelmole.com) di mana temuan-temuan riset
juga dipublikasikan. Buku-buku teks pariwisata disebutkan sebagai media
penting bagi diskusi tentang pariwisata, konsep, dan pengembangannya.
-
Buku-buku teks pariwisata yang tersedia ditulis melalui persepsi
Amerika (Mathieson and Wall, 1982; Mill and Morrison, 1985; Murphy,
1985), Eropa (Foster, 1985; Cooper et al. 2005) atau Australasia
(Pearce, 1995; Hall at al, 2003) atau Asia (Hall and Page, 2000) dan
negara-negara berkembang atau masyarakat asli (Hall dan Page, 1996).
5. Tahun 2006 (Tourism Management–Third Edition (Weaver and Lawton, 2006)
Buku
ini diterbitkan di Inggris dan pada umumnya membahas tentang manajemen
kepariwisataan bersifat komprehensif. Riset kepariwisataan merupakan
satu topik yang dibahas dalam salah satu sub-bab dengan point-point
sebagai berikut:
- Pada umumnya, buku ini melihat
hambatan-hambatan perkembangan pariwisata sebagai sebuah ilmu, indikasi
perkembangannya, urutan platform pariwisata, dan pendidikan tinggi.
-
Hambatan-hambatan perkembangan pariwisata mengulas tentang pariwisata
yang dipandang sebagai sebuah aktifitas trivial (dangkal), pariwisata
skala besar sebagai kegiatan kekinian, pariwisata yang dipandang sebagai
studi vokasi, kurangnya definisi yang jelas dan data yang dapat
dipercaya, kurangnya teori-teori asli atau tradisi akademis yang kuat.
-
Indikasi perkembangan mengulas tentang perkembangan pariwisata dalam
sektor universitas, perkembangan jumlah jurnal-jurnal referensi.
- Urutan platform pariwisata meninjau advocacy, cautionary, adaptancy, dan knowledge-based.
-
Menjelaskan bagaimana pariwisata sering termarjinalisasi dari
disiplin-disiplin lainnya di tahun 1980an, namun kini semakin (walau
belum sepenuhnya) dianggap sebagai sebuah keilmuan yang penting.
(Penulis adalah Research Coordinator Hotel Management Department di Binus University)
"Bergabunglah dengan komunitas kelas dunia: www.binus.ac.id”
Rabu, 26 Juni 2013
Gurano Bintang dari Tanjung Mangguar
![]() |
Tanah Hijau Diapit Langit dan Laut Biru. | KOMPAS/YUNAS SANTHANI AZIS
|
"Yang kami dapatkan dalam beberapa hari adalah angin nan sepoi dan tenang". Apa yang dialami Afred Russel Wallace saat berlayar di lepas pantai Kepala Burung, Papua Barat, 155 tahun lampau, itu pulalah yang kami terima.
Bersama lima anggota tim WWF Indonesia (peneliti dan juru kamera profesional), Kompas menyusuri perairan Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC), 22-29 Mei. Kapal kami adalah Tuturuga milik WWF Indonesia, kapal berlunas ganda sepanjang 12 meter dengan dua mesin berkekuatan total 500 tenaga kuda.
Di atas Tuturuga (penyu dalam bahasa lokal), Bardin Tandiono si kapten kapal asal Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, dan segelintir awaknya membawa kami menyusuri laut yang tengah setenang telaga, sejauh 540 kilometer lebih. Dari dermaga Gunung Botak, lima jam ke selatan Manokwari, Papua Barat, hingga Nabire di Papua.
![]() |
| Laut sebening kaca.KOMPAS/YUNAS SANTHANI AZIS |
TNTC, kawasan konservasi seluas 1,45 juta hektar, hampir 90 persen adalah laut. Selama tujuh hari, tim WWF memonitor lokasi tempat ikan berpijah, juga mendokumentasikan keindahan kawasan: pulau tak berpenghuni, gosong, terumbu karang, laguna, dan kampung-kampung kecil di bibir pantai yang pendek dan sempit.
Kampung Napan Yaur di sisi barat Tanjung Mangguar, misalnya, hanya terdiri atas 30-an rumah dengan luas tak sampai setengah lapangan bola. Namun, di lepas pantai tanjung itu pula kami temukan raksasa laut, gurano bintang atau hiu paus (Rhincodon typus).
Sejak lama gurano bintang kerap ditemukan nelayan di perairan TNTC. Laut yang kaya akan plankton dan ikan puri (teri) makanan gurano membuat ikan terbesar di dunia itu menjadikan Teluk Cenderawasih rumah mereka. (Yunas Santhani Azis)
![]() |
| Teripang Si Sumber Nafkah. KOMPAS/YUNAS SANTHANI AZIS |
Rabu, 10 April 2013
MICE Wisatawan Domestik Sumbang Rp 60 Triliun
Di Jabar Berikan Kontribusi 15 Persen
Rabu, 10/04/2013 - 14:06Demikian disampaikan CEO Rajamice, Panca R. Sarungu kepada wartawan pada Press Conference Indonesia MICE and Corporate Travel Mart di Harris Hotel and Convention Festival Citylink, Jln. Peta, Bandung pada Rabu (10/4/2013). “Dari nilai Rp 60 triliun tersebut, transaksi dari MICE di Jabar memberikan kontribusi sekitar 15 persen atau sekitar Rp 9 triliun,” katanya.
Sementara itu, daerah di Jabar yang paling diminati untuk MICE adalah Bandung. Menurutnya, Bandung merupakan kota terfavorit kedua setelah Bali untuk kegiatan tersebut. “Kota pertama yang diminati adalah Bali, selanjutnya Bandung, dan yang ketiga adalah Yogyakarta,” kata Panca. Bahkan menurutnya, dari sekitar 250 hotel yang ada di Bandung, 70 persen telah memiliki fasilitas untuk MICE.
Dengan demikian, tidak heran bila pemasukan hotel yang fokus terhadap kegiatan MICE justru mendapatkan pemasukan yang lebih besar dari kegiatan tersebut. “Pemasukan dari MICE 500 persen lebih banyak daripada pemasukan dari aktivitas menginap. Sebabnya, MICE akan lebih mengoptimalkan fasilitas hotel sehingga memperbesar pemasukan hotel,” kata Panca.
Ketika ditanyakan mengenai kontribusi terbesar untuk MICE, Panca mengatakan, saat ini pihak perusahaan menyumbang sekitar 70 persen untuk kegiatan tersebut. Sementara sisanya adalah lembaga pemerintah, asosiasi, dan partai politik. “Oleh karena itu, pada kegiatan hari ini kami lebih banyak mendatangkan pihak perusahaan sebagai pembeli,” ujarnya.
General Manager Harris Hotel and Convention Festival Citylink, Anton Susanto mengatakan, saat ini perbandingan pemasukan di hotel yang fokus di MICE adalah 60 : 40 antara kegiatan MICE dengan aktivitas untuk menginap. “Namun demikian, untuk hotel yang belum fokus pada kegiatan MICE, ya kebalikannya, 40 : 60,” ucapnya.
Pada hotel tersebut, Anton mengungkapkan kontribusi terbesar MICE didapatkan dari lembaga pemerintah. “Dulu relatif seimbang, tapi lambat laun lembaga pemerintah memberikan kontribusi lebih besar dibandingkan dengan perusahaan. Sebabnya, kecepatan pembayaran saat ini sudah tidak menjadi kendala dan hal tersebut menjadikan transaksi lebih cepat. Sekitar 2 minggu segala sesuataunya sudah rampung,” tutur Anton. (A-207/A-147)***
Jumat, 05 April 2013
Indonesia Diperkirakan Raup Rp 3,34 Triliun dari ITB Berlin
JAKARTA, KOMPAS.com — Dengan menjadi Official Partner Country ITB Berlin 2013, pameran wisata terbesar di dunia, Indonesia diharapkan dapat mendatangkan wisatawan mancanegara (wisman) lebih banyak ke dalam negeri.
Menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Elka Pangestu, estimasi devisa yang akan diperoleh Indonesia dari hasil partisipasi ITB Berlin adalah sekitar Rp 3,34 triliun. Angka ini diperoleh dari hasil kuesioner yang dibagikan ke 93 peserta Paviliun Indonesia ITB Berlin 2013.
Dari survei tersebut dihasilkan estimasi, berasal dari rata-rata appointment yang tercatat antara peserta paviliun dan industri yang hadir (sebagian besar industri pariwisata Eropa) dalam pertemuan business to business, mencapai 27 pertemuan.
Angka 27 pertemuan ini kemudian dikalikan dengan rata-rata perolehan per pertemuan, yaitu 11.896 wisman. Sementara itu, asumsi pengeluaran wisman per kunjungan adalah 1.133 dollar AS. Hal ini berarti diprediksikan bahwa Indonesia dapat menerima kunjungan lebih dari 300.000 wisman dari hasil ITB Berlin.
"Ada dua hasil dari ITB Berlin yang juga akan menyumbang. Wholesaler terbesar di Jerman akan mendatangkan 27 operator tur dan buyer besar, serta media ke Bali di bulan Mei. Ini bisa untuk mengejar momentum musim panas dan libur akhir tahun ini. Mereka dari Jerman dan negara lain di Eropa," jelas Mari saat jumpa pers di Jakarta, Kamis (4/4/2013).
Selain itu, ada kerja sama peningkatan charter flight dari Rusia. Destinasi yang mereka incar adalah Solo dan Bali. "Bukan hanya charter flight ini yang kabar gembira. Saya senang karena adanya diversifikasi produk. Mereka memilih Solo, tidak hanya Bali. Karena selama ini Rusia biasanya ke Bali," katanya.
Juga terjadi dua kesepakatan di bidang investasi pariwisata saat ITB Berlin. Sementara itu, saat ITB Berlin berlangsung, hadir dua kepala negara dari Jerman dan Indonesia.
"Ini kali pertama ITB Berlin dikunjungi dua kepala negara sekaligus. Paviliun kita juga menang 'second best' untuk kategori Asia Pasifik. Ya, kita berharap dari ITB Berlin ada dampak peningkatan kunjungan wisman," ungkap Mari.
Ikuti twitter Kompas Travel di @KompasTravel















.jpg)





