Bahasa Indonesia, Basa Sunda, Bahasa Asing, Kamus, Fotografi, Sejarah, Budaya, Dongeng, Teknologi, Kesehatan, Hukum dan Kriminal, Konservasi, Kuliner, Pembangunan, Krisis, Tokoh, Olahraga, Pertanian, Perkebunan, Perikanan, dan Jalan-Jalan. (Indonesian Language, Sundanese Language, Foreign Languages, Dictionary, Photography, History, Culture, Story, Technology, Healthy, Law and Criminal, Conservation, Development, Crisis, Figure, Sports, Agriculture, Plantation, Fishery, and Travelling)
Tampilkan postingan dengan label astronomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label astronomi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 15 Maret 2016
Senin, 12 Januari 2015
Inilah Foto-foto Komet Lovejoy Hasil Jepretan Astronom Amatir Indonesia
Senin, 12 Januari 2015 | 13:59 WIB
Komet Lovejoy yang diabadikan Danang D Saputra dari markas Jogja Astro Club di Yogyakarta pada sabtu (10/1/2014).
KOMPAS.com — Polusi cahaya dan tutupan awan menjadi kendala utama saat harus mengabadikan obyek antariksa yang relatif redup seperti komet Lovejoy. Sejumlah astronom amatir Tanah Air beruntung bisa mengabadikan lawatan sekali seumur hidup komet tersebut.
Salah satu yang berhasil mengabadikan adalah Muhammad Rayhan dari Himpunan Astronom Amatir Jakarta. Ia membidik Lovejoy pada Rabu (7/1/2015) lalu dari Planetarium Jakarta sekitar pukul 01.00 WIB dini hari. Lovejoy tampak sebagai titik dengan pendaran hijau.
Komet Lovejoy diabadikan dari Planetarium Jakarta pada Rbu (7/1/2015) lalu. Nikon D5100, AF Nikkor 70-300mm f/4-5.6G, Vixen Polarie. 16x30sec, ISO 500, 300mm f/5.6. Darks, Flat, Bias applied in DSS, LR & PS6.
Dari Yogyakarta, astronom amatir Danang D Saputra dari Jogja Astro Club berhasil mengabadikan Lovejoy dua kali. Satu foto dihasilkan dengan kamera dan teleskop, sementara yang lain dihasilkan hanya dengan kamera.
Foto hasil jepretan dengan teleskop adalah hasil pengamatan di markas Jogja Astro Club pada Sabtu (10/1/2015). Sementara foto hasil jepretan kamera saja dihasilkan lewat pengamatan dari rumah Danang di Polowidi, Yogyakarta, pada hari yang sama.
Komet Lovejoy yang diabadikan Danang D Saputra dari wilayah Polowidi, Yogyakarta, pada Sabtu (10/1/2014).
Di Bandung, Muflih Arisa Adnan mengabadikan komet Lovejoy dari observatorium Imah Noong di Lembang, Bandung, pada 14 Desember 2014 lalu. Muflih memotret dengan kamera Nikon D5100 yang dipasang ke teleskop Explore Scientific Triplet Appo.
Komet Lovejoy yang diabadikan Muflih Arisa Adnan dari Imah Noong, Lembang, Bandung, pada 14 Desember 2014 lalu.
Terakhir, astronom amatir Juned mengabadikan Lovejoy dari Tangerang Selatan pada Sabtu minggu lalu. Juned mengabadikan Lovejoy yang tampak sebagai titik hijau bersamaan dengan bintang Aldebaran yang menyala merah. Lovejoy diabadikan hanya dengan kamera DSLR.
Penampakan komet Lovejoy yang diabadikan pada Sabtu (10/1/2015) dari Imah Noong, Lembang, Bandung.
Seluruh warga Indonesia berpeluang untuk menyaksikan dan mengabadikan komet Lovejoy. Hingga 4 hari ke depan, Lovejoy akan berada di rasi Taurus. Lovejoy akan menyala hijau, lebih terang dari benda langit lain di rasi itu.
Cara paling mudah mencari Lovejoy adalah menghadapkan kamera ke utara, kemudian mengarahkannya ke atas sekitar 85 derajat. Lovejoy akan berada dalam pandangan mata ketika melihat ke arah tersebut.
Komet Lovejoy ditemukan astronom amatir Australia, Terry Lovejoy, pada 17 Agustus 2014 lewat pengamatan dengan teleskop 0,2 meter Schmidt–Cassegrain. Lovejoy punya nama asli C/2014 Q2, tetapi lebih sering disebut Lovejoy, sesuai nama penemunya.
Terry Lovejoy sendiri sudah menemukan lima komet, salah satunya C/2011 W3, yang juga disebut komet Lovejoy. Penampakan C/2014 Q2 Lovejoy adalah fenomena sekali seumur hidup. Setelah saat ini, komet itu baru akan tampak 8.000 tahun lagi. Jangan lewatkan!
![]() |
| Danang D. Saputra |
KOMPAS.com — Polusi cahaya dan tutupan awan menjadi kendala utama saat harus mengabadikan obyek antariksa yang relatif redup seperti komet Lovejoy. Sejumlah astronom amatir Tanah Air beruntung bisa mengabadikan lawatan sekali seumur hidup komet tersebut.
Salah satu yang berhasil mengabadikan adalah Muhammad Rayhan dari Himpunan Astronom Amatir Jakarta. Ia membidik Lovejoy pada Rabu (7/1/2015) lalu dari Planetarium Jakarta sekitar pukul 01.00 WIB dini hari. Lovejoy tampak sebagai titik dengan pendaran hijau.
![]() |
| Muhammad Reyhan |
Dari Yogyakarta, astronom amatir Danang D Saputra dari Jogja Astro Club berhasil mengabadikan Lovejoy dua kali. Satu foto dihasilkan dengan kamera dan teleskop, sementara yang lain dihasilkan hanya dengan kamera.
Foto hasil jepretan dengan teleskop adalah hasil pengamatan di markas Jogja Astro Club pada Sabtu (10/1/2015). Sementara foto hasil jepretan kamera saja dihasilkan lewat pengamatan dari rumah Danang di Polowidi, Yogyakarta, pada hari yang sama.
![]() |
| Danang D. Saputra |
Di Bandung, Muflih Arisa Adnan mengabadikan komet Lovejoy dari observatorium Imah Noong di Lembang, Bandung, pada 14 Desember 2014 lalu. Muflih memotret dengan kamera Nikon D5100 yang dipasang ke teleskop Explore Scientific Triplet Appo.
![]() |
| Muflih Arisa Adnan |
Terakhir, astronom amatir Juned mengabadikan Lovejoy dari Tangerang Selatan pada Sabtu minggu lalu. Juned mengabadikan Lovejoy yang tampak sebagai titik hijau bersamaan dengan bintang Aldebaran yang menyala merah. Lovejoy diabadikan hanya dengan kamera DSLR.
![]() |
| Juned |
Seluruh warga Indonesia berpeluang untuk menyaksikan dan mengabadikan komet Lovejoy. Hingga 4 hari ke depan, Lovejoy akan berada di rasi Taurus. Lovejoy akan menyala hijau, lebih terang dari benda langit lain di rasi itu.
Cara paling mudah mencari Lovejoy adalah menghadapkan kamera ke utara, kemudian mengarahkannya ke atas sekitar 85 derajat. Lovejoy akan berada dalam pandangan mata ketika melihat ke arah tersebut.
Komet Lovejoy ditemukan astronom amatir Australia, Terry Lovejoy, pada 17 Agustus 2014 lewat pengamatan dengan teleskop 0,2 meter Schmidt–Cassegrain. Lovejoy punya nama asli C/2014 Q2, tetapi lebih sering disebut Lovejoy, sesuai nama penemunya.
Terry Lovejoy sendiri sudah menemukan lima komet, salah satunya C/2011 W3, yang juga disebut komet Lovejoy. Penampakan C/2014 Q2 Lovejoy adalah fenomena sekali seumur hidup. Setelah saat ini, komet itu baru akan tampak 8.000 tahun lagi. Jangan lewatkan!
| Editor | : Yunanto Wiji Utomo |
Rabu, 29 Januari 2014
Dua Kamera Mengamati Bumi dari Ruang Angkasa
Bantu Pengguna Internet
Rabu, 29/01/2014 - 08:15
![]() |
| NASA/"PRLM" |
KEDUA kamera dipasang di salah satu lengan Stasiun Ruang Angkasa Internasional, ISS.*
Para kosmonot Rusia memasangnya sambil berjalan di ruang angkasa selama enam jam, Senin 27 Januari, setelah upaya sebelumnya pada Desember lalu dibatalkan karena masalah teknis.
Kamera -yang dioperasikan perusahaan Kanada, Urthecast- digunakan untuk mengirim gambar hidup dengan resolusi tinggi kepada para pengguna internet.
Dalam pernyataannya, Urthecast mengukuhkan bahwa kedua kamera sudah mengirimkan data ke Bumi.
"Saat pemasangan, kami mampu menyelesaikan semua uji coba yang diperlukan selama perjalanan di ruang angkasa. Pada saat ini semua telemetri yang diterima dan dianalisis sesuai dengan hasil yang diharapkan," tambah Urthecast.
Video dari kamera pertama akan mampu memberikan resolusi satu juta per piksel, sehingga bisa memperlihakan kerumunan orang dan kendaraan bermotor yang sedang jalan.
Sedangkan kamera yang kedua menyediakan gambar diam dengan resolusi lima juta per piksel.
Kedua kamera dibuat oleh Rutherford Appleton Laboratory, RAL, yang berada di Oxfordshire, Inggris.
Urthecast berharap bisa mengembangkan bisnis pencitraan dari ruang angkasa dan salah satu potensi pelanggan adalah kantor berita yang ingin mendapatkan gambar hidup dari peristiwa-peristiwa penting, seperti dari kawasan perang atau bencana.(bbc/A-147)***
Rabu, 04 Desember 2013
5 Planet Berair Ditemukan, Bisakah Kita Mengolonisasinya?
Yunanto Wiji Utomo
Rabu, 4 Desember 2013 | 11:39 WIB
KOMPAS.com — Air ternyata tidak hanya ada di Bumi.
Ilmuwan menemukan tanda keberadaan uap air pada lima planet alien yang
masih terletak di galaksi Bimasakti.
Kelima planet ditemukan dengan bantuan Wide Field Camera 3 pada teleskop antariksa Hubble. Keberadaan planet diungkap dengan metode transit, yakni menganalisis peredupan cahaya bintang saat ada planet yang melintas di mukanya.
Sementara tanda adanya air dilihat dengan meneliti panjang gelombang yang diterima. Air menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu sehingga adanya air bisa dideteksi dengan melihat panjang gelombang yang tidak diterima Hubble.
Kelima planet yang ditemukan masing-masing bernama WASP-17b, HD209458b, WASP-12b, WASP-19b, dan XO-1b. Kelimanya adalah planet gas raksasa.
Meski memiliki air, bukan berarti planet tersebut bisa mendukung kehidupan. Pertama ialah karena semua adalah planet gas. Kedua, planet itu terkunci oleh gravitasi bintangnya. Akibatnya, satu sisi mengalami siang terus-menerus dan sisi lain sebaliknya.
Sisi planet yang mengalami siang selamanya terus dipapar oleh radiasi dari bintang. Sialnya, radiasi yang mengenai satu sisi planet ini disebarkan oleh angin yang kecepatannya melebihi kecepatan suara.
"Planet-planet itu adalah tempat yang sangat keras," kata L Drake Deming, astronom University of Maryland, yang menemukan planet-planet ini, seperti dikutip LA Times, Selasa (3/12/2013)
Keberadaan air atau uap air di planet alien sebenarnya tidak mengejutkan. Ilmuwan telah menemukan beberapa planet yang mengandung air. Ke depan, akan ada James Webb Telescope yang akan membantu ilmuwan mendeteksi air pada planet batuan. Hubble hanya mampu mendeteksi air pada planet gas.
Rabu, 4 Desember 2013 | 11:39 WIB
![]() |
| Ilmuwan menemukan air pada lima planet alien. Sayangnya, planet-planet itu tetap tidak bisa dihuni. |NASA |
Kelima planet ditemukan dengan bantuan Wide Field Camera 3 pada teleskop antariksa Hubble. Keberadaan planet diungkap dengan metode transit, yakni menganalisis peredupan cahaya bintang saat ada planet yang melintas di mukanya.
Sementara tanda adanya air dilihat dengan meneliti panjang gelombang yang diterima. Air menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu sehingga adanya air bisa dideteksi dengan melihat panjang gelombang yang tidak diterima Hubble.
Kelima planet yang ditemukan masing-masing bernama WASP-17b, HD209458b, WASP-12b, WASP-19b, dan XO-1b. Kelimanya adalah planet gas raksasa.
Meski memiliki air, bukan berarti planet tersebut bisa mendukung kehidupan. Pertama ialah karena semua adalah planet gas. Kedua, planet itu terkunci oleh gravitasi bintangnya. Akibatnya, satu sisi mengalami siang terus-menerus dan sisi lain sebaliknya.
Sisi planet yang mengalami siang selamanya terus dipapar oleh radiasi dari bintang. Sialnya, radiasi yang mengenai satu sisi planet ini disebarkan oleh angin yang kecepatannya melebihi kecepatan suara.
"Planet-planet itu adalah tempat yang sangat keras," kata L Drake Deming, astronom University of Maryland, yang menemukan planet-planet ini, seperti dikutip LA Times, Selasa (3/12/2013)
Keberadaan air atau uap air di planet alien sebenarnya tidak mengejutkan. Ilmuwan telah menemukan beberapa planet yang mengandung air. Ke depan, akan ada James Webb Telescope yang akan membantu ilmuwan mendeteksi air pada planet batuan. Hubble hanya mampu mendeteksi air pada planet gas.
Editor : Yunanto Wiji Utomo
Sabtu, 28 September 2013
Batu Antariksa yang Menghujani Rusia
Sabtu, 28/09/2013 - 13:24
MOSKOW, (PRLM).- Foto-foto dari meteorit yang meledak di atas
Rusia pada bulan Februari lalu dan kemudian mendarat di sebuah danau
telah diperlihatkan untuk pertama kalinya.
Batu meteor yang meluncur ke arah belahan timur dan menerangi kota Ural pada tanggal 15 Februari telah melukai 1.500 orang dan memecahkan jendela dan pintu rumah-rumah.
Sebagian dari batuan itu telah ditemukan saat ilmuwan meneliti dasar Danau Chebarkul, seperti dilaporkan The Siberian Times.
"Sebuah potongan meteorit seukuran kepalan manusia telah diangkat dari kedalaman 13 meter di Danau Chebarkul," kata sebuah pernyataan dari Universitas Federal Ural.
Keasliannya telah dikonfirmasi oleh Viktor Grokhovsky, pendiri dan pemimpin ekspedisi meteorit universitas ini yang mengatakan: "Saya menerima gambar obyek ini , yang menurut anggota ekspedisi memiliki sedikit sifat magnetik sedikit dan memiliki kerak cokelat dengan jejak peleburan."
"Saya mengkonfirmasi bahwa ini memang meteorit," tambah Viktor. (Aya/A-107)***
PECAHAN meteorit dari Chebarkul yang ditemukan di dasar danau.*
Batu meteor yang meluncur ke arah belahan timur dan menerangi kota Ural pada tanggal 15 Februari telah melukai 1.500 orang dan memecahkan jendela dan pintu rumah-rumah.
Sebagian dari batuan itu telah ditemukan saat ilmuwan meneliti dasar Danau Chebarkul, seperti dilaporkan The Siberian Times.
"Sebuah potongan meteorit seukuran kepalan manusia telah diangkat dari kedalaman 13 meter di Danau Chebarkul," kata sebuah pernyataan dari Universitas Federal Ural.
Keasliannya telah dikonfirmasi oleh Viktor Grokhovsky, pendiri dan pemimpin ekspedisi meteorit universitas ini yang mengatakan: "Saya menerima gambar obyek ini , yang menurut anggota ekspedisi memiliki sedikit sifat magnetik sedikit dan memiliki kerak cokelat dengan jejak peleburan."
"Saya mengkonfirmasi bahwa ini memang meteorit," tambah Viktor. (Aya/A-107)***
Jumat, 30 Agustus 2013
Kehidupan di Bumi Mungkin "Berasal dari Mars"
Ada Bukti Pembentukan Molekul
Kamis, 29/08/2013 - 11:52
SULIT untuk hidup di Mars saat ini, tapi miliaran tahun lalu kondisinya mungkin berbeda.*
FLORENCE, (PRLM).- Kehidupan mungkin dimulai di Mars sebelum tiba di Bumi, demikian pernyataan seorang ilmuwan di sebuah konferensi sains.
Riset terbaru mendukung gagasan bahwa Planet Merah itu sebenarnya tempat yang lebih baik bagi makhluk biologis miliaran tahun silam dibandingkan dengan bumi saat itu.
Buktinya ada dalam pembentukan molekul kehidupan pertama. Rincian teori ini dipaparkan oleh Prof Steven Benner pada Goldschmidt Meeting di Florence, Italia.
Para ilmuan sejak lama berusaha mengetahui bagaimana atom bisa membuat tiga komponen molekul penting pertama yang dibutuhkan organisme hidup yaitu RNA, DNA dan protein.
Molekul yang membentuk materi genetik jauh lebih kompleks dibandingkan dengan kimia (karbon) organik "pra-biotik" primordial yang diduga muncul di bumi lebih dari tiga miliar tahun lalu dan RNA (ribonucleic acid) adalah yang pertama terbentuk.
Namun, RNA membutuhkan mineral tertentu yang tidak ada di bumi tapi banyak terdapat di Mars, menurut Prof Benner dari Westheimer Institute of Science and Technology di Gainesville, AS. "Hal itu bisa mengindikasikan bahwa kehidupan berawal di Planet Merah sebelum pindah ke bumi melalui meteorit," tambahnya.
Gagasan tersebut sebelumnya pernah dicetuskan ilmuwan lain tetapi mereka tidak bisa memberikan bukti dan ide Prof Benner memberikan aspek baru pada teori bahwa manusia sesungguhnya merupakan mahluk Mars.
Mars diduga dulu memiliki lingkungan yang lebih kering dan hal itu merupakan faktor penting bagi terciptanya kehidupan.
"Mars jauh lebih kering dari Bumi dan lebih teroksidasi. Semakin banyak bukti bahwa kita semua adalah mahluk Mars; bahwa kehidupan dimulai dari Mars dan datang ke Bumi melalui batu," kata dia.
"Kita sangat beruntung karena bisa berakhir di sini, jika nenek moyang hipotetis kita tetap tinggal di Mars, mungkin tidak akan pernah ada cerita untuk dikisahkan," ujarnya.(bbc/A-147)***
Rabu, 17 Juli 2013
Inikah Tanda Adanya Samudra di Mars?
Penulis :
Yunanto Wiji Utomo |Rabu, 17 Juli 2013 | 13:27 WIB
KOMPAS.com — Dengan bantuan wahana Mars Reconnaissance Orbiter (MRO), ilmuwan California Institute of Technology (Caltech) menemukan bekas aliran air di sebuah wilayah Mars yang disebut Aeolis Dorsa, berjarak 1.000 kilometer dari Kawah Gale, tempat wahana Curiosity sekarang menjalankan misinya.
Bekas saluran air itu kerap disebut inverted channel atau saluran yang terbalik. Disebut demikian karena bekas saluran air ini tampak menggunung. Struktur ini terbentuk ketika material seperti batu dan kerikil dibawa arus serta mengumpul dan setelah sungai mengering, pasir dan tanah liatnya tererosi.
Ilmuwan menduga bahwa saluran yang terbalik itu adalah bukti adanya sebuah delta di muara sungai Mars. Adanya delta itu membuat ilmuwan menduga bahwa di belahan utara tempat saluran terbalik ini ditemukan pernah ada samudra yang mencakup sepertiga wilayah Mars.
Benarkah dugaan ilmuwan tersebut? Bagaimana bisa meyakini bahwa struktur yang ditemukan memang terkait dengan adanya delta dan samudra?
"Ilmuwan telah lama punya hipotesis bahwa dataran rendah di belahan utara Mars adalah dasar dari samudra yang dulu pernah ada di Mars, tetapi belum ada satu pun yang menemukan buktinya," kata Mike Lamb, salah satu peneliti yang terlibat riset ini dalam keterangan pers di situs web Caltech yang diunggah Selasa (16/7/2013).
Diterangkan bahwa struktur saluran terbalik itu bisa terbentuk oleh tiga sebab, yaitu aliran air dari banyak sungai yang kemudian bertemu menjadi satu sungai yang lebih besar, aliran air dari satu sungai yang lalu bercabang menjadi banyak sungai, atau disebabkan oleh delta.
Untuk mengetahui sebab paling mungkin, ilmuwan menguak dengan bantuan kamera HiRISE pada wahana MRO yang mampu mendeteksi struktur hingga yang besarnya hanya 25 cm dan mengetahui perubahan ketinggian dengan resolusi 1 meter. Dengan kamera ini, komposisi sedimen, aliran air, dan proses bagaimana sedimen diendapkan bisa diketahui.
Ilmuwan akhirnya menemukan bahwa saluran yang terbalik menyebar, bukan menyatu. Hal ini menunjukkan bahwa saluran itu adalah bagian dari delta sungai.
Delta sungai bukan baru kali ini ditemukan. Namun, delta yang ditemukan kali ini berbeda karena tidak berada di sebuah kawah atau memiliki batas yang jelas. Ini menunjukkan bahwa delta ini lebih terkait dengan adanya badan air yang besar atau samudra.
"Ini mungkin merupakan bukti paling meyakinkan dari adanya delta di wilayah yang tak berbatas, dan delta ini menunjukkan adanya badan air yang besar di belahan utara Mars," kata Roman DiBiase, peneliti lain yang terlibat riset ini. Samudra itu dahulu diperkirakan menutupi seluruh wilayah Aeolis Dorsa seluas 100.000 kilometer persegi.
Ilmuwan berencana untuk terus melakukan penelitian lain untuk memperkuat hipotesis adanya lautan di Mars. Masih mungkin ada kesalahpahaman dari penelitian ini, misalnya karena dahulu sebenarnya ada batas badan air, tetapi seiring waktu tererosi. Hasil riset ini dipublikasikan di Journal of Geophysical Research pada Jumat (12/7/2013).
Editor : Yunanto Wiji Utomo
KOMPAS.com — Dengan bantuan wahana Mars Reconnaissance Orbiter (MRO), ilmuwan California Institute of Technology (Caltech) menemukan bekas aliran air di sebuah wilayah Mars yang disebut Aeolis Dorsa, berjarak 1.000 kilometer dari Kawah Gale, tempat wahana Curiosity sekarang menjalankan misinya.
Bekas saluran air itu kerap disebut inverted channel atau saluran yang terbalik. Disebut demikian karena bekas saluran air ini tampak menggunung. Struktur ini terbentuk ketika material seperti batu dan kerikil dibawa arus serta mengumpul dan setelah sungai mengering, pasir dan tanah liatnya tererosi.
Ilmuwan menduga bahwa saluran yang terbalik itu adalah bukti adanya sebuah delta di muara sungai Mars. Adanya delta itu membuat ilmuwan menduga bahwa di belahan utara tempat saluran terbalik ini ditemukan pernah ada samudra yang mencakup sepertiga wilayah Mars.
Benarkah dugaan ilmuwan tersebut? Bagaimana bisa meyakini bahwa struktur yang ditemukan memang terkait dengan adanya delta dan samudra?
"Ilmuwan telah lama punya hipotesis bahwa dataran rendah di belahan utara Mars adalah dasar dari samudra yang dulu pernah ada di Mars, tetapi belum ada satu pun yang menemukan buktinya," kata Mike Lamb, salah satu peneliti yang terlibat riset ini dalam keterangan pers di situs web Caltech yang diunggah Selasa (16/7/2013).
Diterangkan bahwa struktur saluran terbalik itu bisa terbentuk oleh tiga sebab, yaitu aliran air dari banyak sungai yang kemudian bertemu menjadi satu sungai yang lebih besar, aliran air dari satu sungai yang lalu bercabang menjadi banyak sungai, atau disebabkan oleh delta.
Untuk mengetahui sebab paling mungkin, ilmuwan menguak dengan bantuan kamera HiRISE pada wahana MRO yang mampu mendeteksi struktur hingga yang besarnya hanya 25 cm dan mengetahui perubahan ketinggian dengan resolusi 1 meter. Dengan kamera ini, komposisi sedimen, aliran air, dan proses bagaimana sedimen diendapkan bisa diketahui.
Ilmuwan akhirnya menemukan bahwa saluran yang terbalik menyebar, bukan menyatu. Hal ini menunjukkan bahwa saluran itu adalah bagian dari delta sungai.
Delta sungai bukan baru kali ini ditemukan. Namun, delta yang ditemukan kali ini berbeda karena tidak berada di sebuah kawah atau memiliki batas yang jelas. Ini menunjukkan bahwa delta ini lebih terkait dengan adanya badan air yang besar atau samudra.
"Ini mungkin merupakan bukti paling meyakinkan dari adanya delta di wilayah yang tak berbatas, dan delta ini menunjukkan adanya badan air yang besar di belahan utara Mars," kata Roman DiBiase, peneliti lain yang terlibat riset ini. Samudra itu dahulu diperkirakan menutupi seluruh wilayah Aeolis Dorsa seluas 100.000 kilometer persegi.
Ilmuwan berencana untuk terus melakukan penelitian lain untuk memperkuat hipotesis adanya lautan di Mars. Masih mungkin ada kesalahpahaman dari penelitian ini, misalnya karena dahulu sebenarnya ada batas badan air, tetapi seiring waktu tererosi. Hasil riset ini dipublikasikan di Journal of Geophysical Research pada Jumat (12/7/2013).
Editor : Yunanto Wiji Utomo
Selasa, 16 Juli 2013
Kalender Tertua Ditemukan di Skotlandia
Selasa, 16/07/2013 - 08:36
BIRMINGHAM, (PRLM).- Para arkeolog percaya bahwa mereka telah menemukan 'kalender' tertua di dunia di Skotlandia.
Sekelompok 12 lubang yang baru-baru ini digali di Aberdeenshire muncul untuk meniru dan menyelaraskan fase bulan, sehingga memungkinkan untuk melacak bulan lunar selama setahun.
Peneliti dari Universitas Birmingham, Inggris kini percaya bahwa monumen ini telah berusia 10.000 tahun, mendahului kalender awal yang dikenal berusia 5.000 tahun.
Secara formal perangkat pengukur waktu pertama telah diciptakan di Mesopotamia sekitar 5.000 tahun yang lalu.
Menurut para ahli yang dikutip Mail Online, keselarasan lubang dekat Crathes Castle mendahului penemuan-penemuan tersebut dalam ribuan tahun.
Monumen Mesolithic di Warren Field ini dikatakan telah diciptakan oleh masyarakat pemburu hampir 10.000 tahun yang lalu. Pertama kali digali antara 2004 dan 2006 dan baru-baru ini dianalisis oleh para peneliti dari Universitas Birmingham. (Aya/A-147)***
![]() |
| PA/"PRLM" |
12 lubang yang digali di Aberdeenshire, Skotlandia menirukan fase bulan.*
BIRMINGHAM, (PRLM).- Para arkeolog percaya bahwa mereka telah menemukan 'kalender' tertua di dunia di Skotlandia.
Sekelompok 12 lubang yang baru-baru ini digali di Aberdeenshire muncul untuk meniru dan menyelaraskan fase bulan, sehingga memungkinkan untuk melacak bulan lunar selama setahun.
Peneliti dari Universitas Birmingham, Inggris kini percaya bahwa monumen ini telah berusia 10.000 tahun, mendahului kalender awal yang dikenal berusia 5.000 tahun.
Secara formal perangkat pengukur waktu pertama telah diciptakan di Mesopotamia sekitar 5.000 tahun yang lalu.
Menurut para ahli yang dikutip Mail Online, keselarasan lubang dekat Crathes Castle mendahului penemuan-penemuan tersebut dalam ribuan tahun.
Monumen Mesolithic di Warren Field ini dikatakan telah diciptakan oleh masyarakat pemburu hampir 10.000 tahun yang lalu. Pertama kali digali antara 2004 dan 2006 dan baru-baru ini dianalisis oleh para peneliti dari Universitas Birmingham. (Aya/A-147)***
Jumat, 19 April 2013
Inilah Planet Alien Paling Mirip Bumi
Penulis : Yunanto Wiji Utomo | Jumat, 19 April 2013 | 10:26 WIB
WASHINGTON, KOMPAS.com — Menggunakan teleskop Kepler milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat, ilmuwan menemukan planet-planet yang paling mirip dengan Bumi.
Dua planet ditemukan mengorbit bintang bernama Kepler 62, terletak di zona layak huni, wilayah yang tak terlalu panas ataupun dingin serta diduga memiliki air. Temuan dua planet tersebut dipublikasikan di jurnal Science, Kamis (18/4/2013).
"Dua planet ini adalah kandidat planet terbaik yang mungkin layak huni," kata William Borucki, pemimpin misi investigasi Kepler dari Ames Research Center, NASA.
Dua planet tersebut hanya sedikit lebih besar dari Bumi dan beberapa miliar tahun lebih tua. Planet pertama bernama Kepler 62e, 40 persen lebih besar dari Bumi dan mengorbit bintangnya selama 122 hari. Sementara planet kedua adalah Kepler 62f, 60 persen lebih besar dari Bumi dan mengorbit bintangnya selama 267 hari.
Kedua planet itu mengorbit bintang yang berusia 7 miliar tahun, berjarak 1.200 tahun cahaya dari Bumi, di konstelasi Lyra. Planet itu terletak pada jarak pas sehingga suhunya tak terlalu panas dan tak terlalu dingin, air bisa ditemukan dalam bentuk cair.
Ilmuwan belum mengetahui apakah permukaan kedua planet itu lebih kaya batuan atau perairan. Namun, ilmuwan beranggapan bahwa planet itu punya material yang bisa terkondensasi membentuk padatan, tetapi juga punya cairan dalam jumlah signifikan.
Justin Crepp, asisten profesor fisika dari University of Notre Dame seperti dikutip AFP, Kamis, mengatakan, "Ini adalah obyek paling mirip Bumi yang kami temukan sejauh ini."
Crepp mendeteksi keberadaan bintang Kepler 62 sekitar setahun lalu. Ia kemudian meneliti keberadaan planet yang mengelilinginya dengan metode transit, mengamati peredupan cahaya bintang akibat adanya planet yang melintas di mukanya. Meski Kepler 62e dan f dinyatakan paling mirip Bumi, masih belum diketahui apakah manusia bisa hidup di planet tersebut.
Sementara itu, terdapat planet ketiga yang diduga juga mirip Bumi, bernama Kepler 69c. Thomas Barclay dari Bay Area Environmental Research Institute di California mengatakan bahwa planet itu mungkin dekat dengan bintangnya dan panas seperti Venus.
Temuan Kepler 69c dipublikasikan di Astrophysical Journal, Kamis kemarin. Kepler 69 sendiri terletak 2.700 tahun cahaya dari Bumi di konstelasi Cygnus.
Dengan temuan ini, sekitar 2.700 kandidat dan planet yang telah terkonfirmasi berhasil ditemukan Kepler. Tahun 2011 lalu, Kepler juga menemukan dua planet yang diduga layak huni, bernama Kepler 22b dan Kepler 47c.
Misi Kepler diluncurkan tahun 2009, yang bertujuan mencari planet mirip Bumi sebagai calon tempat tinggal baru manusia.
Ilustrasi
planet Kepler 62f (tampak paling besar) dengan planet Kepler 62e
(tampak bersinar di kanan Kepler 62f). Obyek berwarna kuning adalah
bintang Kepler 62.
WASHINGTON, KOMPAS.com — Menggunakan teleskop Kepler milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat, ilmuwan menemukan planet-planet yang paling mirip dengan Bumi.
Dua planet ditemukan mengorbit bintang bernama Kepler 62, terletak di zona layak huni, wilayah yang tak terlalu panas ataupun dingin serta diduga memiliki air. Temuan dua planet tersebut dipublikasikan di jurnal Science, Kamis (18/4/2013).
"Dua planet ini adalah kandidat planet terbaik yang mungkin layak huni," kata William Borucki, pemimpin misi investigasi Kepler dari Ames Research Center, NASA.
Dua planet tersebut hanya sedikit lebih besar dari Bumi dan beberapa miliar tahun lebih tua. Planet pertama bernama Kepler 62e, 40 persen lebih besar dari Bumi dan mengorbit bintangnya selama 122 hari. Sementara planet kedua adalah Kepler 62f, 60 persen lebih besar dari Bumi dan mengorbit bintangnya selama 267 hari.
Kedua planet itu mengorbit bintang yang berusia 7 miliar tahun, berjarak 1.200 tahun cahaya dari Bumi, di konstelasi Lyra. Planet itu terletak pada jarak pas sehingga suhunya tak terlalu panas dan tak terlalu dingin, air bisa ditemukan dalam bentuk cair.
Ilmuwan belum mengetahui apakah permukaan kedua planet itu lebih kaya batuan atau perairan. Namun, ilmuwan beranggapan bahwa planet itu punya material yang bisa terkondensasi membentuk padatan, tetapi juga punya cairan dalam jumlah signifikan.
Justin Crepp, asisten profesor fisika dari University of Notre Dame seperti dikutip AFP, Kamis, mengatakan, "Ini adalah obyek paling mirip Bumi yang kami temukan sejauh ini."
Crepp mendeteksi keberadaan bintang Kepler 62 sekitar setahun lalu. Ia kemudian meneliti keberadaan planet yang mengelilinginya dengan metode transit, mengamati peredupan cahaya bintang akibat adanya planet yang melintas di mukanya. Meski Kepler 62e dan f dinyatakan paling mirip Bumi, masih belum diketahui apakah manusia bisa hidup di planet tersebut.
Sementara itu, terdapat planet ketiga yang diduga juga mirip Bumi, bernama Kepler 69c. Thomas Barclay dari Bay Area Environmental Research Institute di California mengatakan bahwa planet itu mungkin dekat dengan bintangnya dan panas seperti Venus.
Temuan Kepler 69c dipublikasikan di Astrophysical Journal, Kamis kemarin. Kepler 69 sendiri terletak 2.700 tahun cahaya dari Bumi di konstelasi Cygnus.
Dengan temuan ini, sekitar 2.700 kandidat dan planet yang telah terkonfirmasi berhasil ditemukan Kepler. Tahun 2011 lalu, Kepler juga menemukan dua planet yang diduga layak huni, bernama Kepler 22b dan Kepler 47c.
Misi Kepler diluncurkan tahun 2009, yang bertujuan mencari planet mirip Bumi sebagai calon tempat tinggal baru manusia.
Sumber : AFP
Editor : yunan
Rabu, 03 April 2013
Galaksi Kita Dikelilingi oleh 2.000 Lubang Hitam?
Ciptakan Gelombang Gravitasi
Rabu, 03/04/2013 - 10:39
GALAKSI Bima Sakti mungkin saja dikelilingi oleh 2.000 lubang hitam "lapar".*
SANTA CRUZ, (PRLM).- Galaksi Bima Sakti mungkin dikelilingi oleh 2.000 lubang hitam 'lapar" yang dilepaskan ke luar angkasa karena terbentuk selama miliaran tahun, para peneliti telah mengungkapkan.
Sebuah tim dari Universitas California, Santa Cruz, telah menjalankan simulasi komputer pembentukan galaksi yang menunjukkan galaksi kita bisa dikelilingi oleh fenomena ruang angkasa yang "lapar".
Model mereka didasarkan pada teori bahwa setiap galaksi dibentuk dengan 'benih' lubang hitam di jantungnya.
Seperti halnya proto-galaksi yang bertabrakan dan bergabung, maka pusat lubang hitamnya juga ikut bergabung, yang akhirnya menggabungkan diri menjadi lubang hitam supermasif jutaan kali massa Matahari kita.
Namun, seperti dilaporkan Mail Online, tabrakan antara lubang hitam sebagai galaksi baru mulai berinteraksi menciptakan gelombang gravitasi yang mampu memulai lubang hitam muda dari galaksi inangnya.
Ada konsensus umum bahwa lubang hitam supermasif berada di pusat dari
kebanyakan galaksi.
Bima Sakti diperkirakan berada di wilayah yang dikenal sebagai Sagittarius A * - sumber radio astronomi cerah dan sangat kompak di pusat galaksi. (Aya/A-107)***
Selasa, 02 April 2013
Batu Hijau Aneh, Meteorit Pertama dari Merkurius?
Selasa, 02/04/2013 - 10:24
WASHINGTON, (PRLM).- Para peneliti percaya bahwa mereka mungkin telah menemukan meteorit pertama dari planet Merkurius yang ditemukan di Bumi.
Batu hijau yang tidak biasa, yang disebut NWA 7325, ditemukan di selatan Maroko pada tahun 2012, yang terdiri dari 35 fragmen dengan total seberat 345 gram. Para ahli yakin itu mungkin berasal dari permukaan Merkurius.
Batu hijau gelap ini dibeli oleh dealer meteorit Stefan Ralew, yang mengirim sampel NWA 7325 kepada peneliti Anthony Irving di Universitas Washington, seorang spesialis meteorit .
Irving menemukan bahwa fragmen ini mengandung besi yang sangat sedikit, namun dengan jumlah yang cukup dari magnesium, aluminium, dan silikat kalsium. Hal ini sesuai dengan pengamatan dari pesawat ruang angkasa NASA Messenger dari kerak permukaan Merkurius.
Namun, seperti diberitakan Mail Online, batu itu memiliki jumlah kalsium silikat yang lebih tinggi, menyebabkan Irving berspekulasi fragmen NWA 7325 bisa datang dari bagian yang lebih dalam dari kerak Merkurius, tergali oleh peristiwa tumbukan yang kuat dan diluncurkan ke luar angkasa, dan akhirnya menuju ke Bumi.
"Mungkin sampel dari Merkurius, atau mungkin sampel dari benda yang lebih kecil dari Merkurius tetapi mirip Merkurius," kata Irving, yang meluncurkan temuan baru ini pada Lunar and Planetary Science Conference di Woodlands, Texas, AS.
Irving berpikir bahwa meteorit ini diciptakan dan akhirnya dikeluarkan dari sebuah planet atau objek lain yang mengalirkan magma di permukaannya. Menurut Irving, bukti menunjukkan bahwa batu itu bisa saja dibentuk sebagai 'sampah' di atas magma. (Aya/A-147)***
METEORIT hijau yang jatuh di Maroko pada 2012 mungkin berasal dari planet Merkurius.*
WASHINGTON, (PRLM).- Para peneliti percaya bahwa mereka mungkin telah menemukan meteorit pertama dari planet Merkurius yang ditemukan di Bumi.
Batu hijau yang tidak biasa, yang disebut NWA 7325, ditemukan di selatan Maroko pada tahun 2012, yang terdiri dari 35 fragmen dengan total seberat 345 gram. Para ahli yakin itu mungkin berasal dari permukaan Merkurius.
Batu hijau gelap ini dibeli oleh dealer meteorit Stefan Ralew, yang mengirim sampel NWA 7325 kepada peneliti Anthony Irving di Universitas Washington, seorang spesialis meteorit .
Irving menemukan bahwa fragmen ini mengandung besi yang sangat sedikit, namun dengan jumlah yang cukup dari magnesium, aluminium, dan silikat kalsium. Hal ini sesuai dengan pengamatan dari pesawat ruang angkasa NASA Messenger dari kerak permukaan Merkurius.
Namun, seperti diberitakan Mail Online, batu itu memiliki jumlah kalsium silikat yang lebih tinggi, menyebabkan Irving berspekulasi fragmen NWA 7325 bisa datang dari bagian yang lebih dalam dari kerak Merkurius, tergali oleh peristiwa tumbukan yang kuat dan diluncurkan ke luar angkasa, dan akhirnya menuju ke Bumi.
"Mungkin sampel dari Merkurius, atau mungkin sampel dari benda yang lebih kecil dari Merkurius tetapi mirip Merkurius," kata Irving, yang meluncurkan temuan baru ini pada Lunar and Planetary Science Conference di Woodlands, Texas, AS.
Irving berpikir bahwa meteorit ini diciptakan dan akhirnya dikeluarkan dari sebuah planet atau objek lain yang mengalirkan magma di permukaannya. Menurut Irving, bukti menunjukkan bahwa batu itu bisa saja dibentuk sebagai 'sampah' di atas magma. (Aya/A-147)***
Minggu, 31 Maret 2013
Cincin Saturnus Bantu Memahami Asal-usul Alam Semesta
Sudah Berusia 4 Miliar Tahun
Minggu, 31/03/2013 - 06:17
CINCIN Saturnus telah lama menjadi salah satu yang paling memikat di tata surya.*
PASADENA, (PRLM).- Bulan-bulan dan cincin Saturnus telah lama menjadi salah satu yang paling memikat di tata surya. Namun kini para ilmuwan NASA percaya cincin ini bisa memegang kunci untuk memahami asal-usul alam semesta kita.
Penelitian terbaru berdasarkan data yang dikumpulkan dari pesawat ruang angkasa Cassini, yang mengorbit Saturnus, menunjukkan objek itu terbentuk 4 miliar tahun yang lalu. Berasal dari sekitar waktu planet di lingkungan tetangga kita mulai terbentuk dari nebula protoplanet, awan materi yang masih mengorbit matahari setelah memulainya sebagai bintang.
Seperti ditulis dalam Astrophysical Journal, Gianrico Filacchione, seorang ilmuwan partisipan Cassini di Institut Nasional Astrofisika, Roma, mengatakan: "Mempelajari sistem Saturnus membantu kita memahami evolusi kimia dan fisik dari seluruh sistem tata surya kita."
"Kita tahu sekarang bahwa memahami evolusi ini memerlukan tidak hanya mempelajari bulan tunggal atau cincin, tapi bersama dengan hubungan yang terjalinnya pada objek-objek itu," tambahnya.
Data yang dikumpulkan dari spektrometer pemetaan visual dan inframerah Cassini (VIMS) telah mengungkapkan bagaimana air es dan juga warna - yang merupakan tanda-tanda dari bahan non-air dan organik - didistribusikan di seluruh sistem Saturnus.
Data dari spektrometer di bagian terlihat dari spektrum cahaya menunjukkan bahwa pewarnaan pada cincin dan bulan Saturnus umumnya hanya pada luarnya.
Menggunakan tingkat inframerah, VIMS juga mendeteksi es air yang berlimpah. Para peneliti menyimpulkan bahwa es air telah terbentuk sekitar waktu kelahiran tata surya, karena Saturnus mengorbit matahari pada orbit yang disebut "garis salju."
"Mencermati cincin dan bulan-bulan tersebut dengan Cassini memberi kita pemandangan luas yang luar biasa dari proses rumit di dalam sistem Saturnus, dan mungkin dalam evolusi sistem planet juga," kata Linda Spilker, ilmuwan proyek Cassini, yang berbasis di JPL, Pasadena, AS. (Aya/A-147)***
Selasa, 12 Maret 2013
Beberapa Asteroid Lintasi Bumi Dalam Jarak Dekat
Selasa, 12/03/2013 - 04:55
FLORIDA, (PRLM).- Sebuah asteroid berukuran satu blok kota melewati Bumi dengan jarak relatif dekat menyusul serangkaian obyek antariksa yang melintas termasuk asteroid berukuran satu bus yang meledak di Rusia bulan lalu dan melukai 1.500 orang.
Ditemukan enam hari lalu, Asteroid 2013 ET berdiameter 140 meter melintas pada jarak 965.606 kilometer dari Bumi, atau 2,5 kali jarak dengan bulan. Jarak seperti ini relatif dekat untuk ukuran antariksa.
“Yang menakutkan adalah ini sesuatu yang tidak kita ketahui,” ujar Patrick Paolucci, presiden Slooh Space Camera, dalam penyiaran gambar-gambar asteroid dari sebuah teleskop di Kepulauan Canary.
Dengan kecepatan 41,842 kilometers per hour, asteroid itu dapat menyapu sebuah kota besar jika menimpa Bumi, ujar teknisi teleskop Slooh Paul Cox.
Asteroid 2013 ET hampir delapan kali lebih besar dari asteroid seukuran bus yang meledak di atas Chelyabinsk, Rusia pada 15 Februari. Kekuatan ledakan itu, sama dengan sekitar 440 kiloton dinamit, menimbulkan gelombang kejut yang menghancurkan kaca-kaca jendela dan merusak bangunan, melukai lebih dari 1.500 orang.
Pada akhir minggu juga, sebuah asteroid kecil, diketahui sebagai DA14, lewat pada jarak sekitar 27.680 kilometer dari Bumi, lebih dekat dari jaringan satelit komunikasi dan cuaca yang mengorbit planet ini. “Salah satu alasan mengapa kita menemukan lebih banyak obyek-obyek ini adalah karena lebih banyak orang yang mengamati,” ujar Cox.
Dua asteroid lain, masing-masing berukuran mirip dengan meteor yang jatuh di Rusia, juga melintasi Bumi akhir pekan lalu. Asteroid 2013 EC 20 lewat dengan jarak 150.000 kilometer Sabtu lalu, atau “sepelemparan batu,” ujar Cox.
Pada Minggu (10/3), Asteroid 2013 EN 20 melintas dalam jarak 449.000 kilometer. Keduanya baru ditemukan minggu lalu. “Sistem antariksa ini memang sangat sibuk. Kita tidak kebal terhadap benda-benda ini, jadi seharusnya pemerintah-pemerintah waspada,” ujar Cox.
Kongres Amerika Serikat telah menugaskan lembaga antariksa AS NASA untuk menemukan dan melacak semua benda angkasa dekat bumi yang berdiameter 1 kilometer atau lebih, dan diperkirakan sekitar 95 persennya telah teridentifikasi.
Namun, hanya sekitar 10 persen dari asteroid-asteroid lebih kecil yang telah ditemukan, ujar para ilmuwan NASA.
Upaya ini dimaksudkan untuk memberi para ilmuwan dan insinyur waktu sebanyak mungkin untuk mempelajari apakah ada asteroid atau komet yang menabrak Bumi, sehingga bisa mengirim pesawat atau mengambil langkah untuk menghindari bencana.
Sekitar 100 ton materi dari luar angkasa menghantam Bumi setiap harinya. Para ahli astronomi baru-baru ini memperkirakan sebuah obyek seukuran benda langit yang menimpa Rusia akan menghantam Bumi setiap sekitar 100 tahun. (rtr/voa/A-147)***
![]() |
| NASA/REUTERS/"PRLM" |
DA14, salah satu asteroid yang melewati Bumi baru-baru ini.*
FLORIDA, (PRLM).- Sebuah asteroid berukuran satu blok kota melewati Bumi dengan jarak relatif dekat menyusul serangkaian obyek antariksa yang melintas termasuk asteroid berukuran satu bus yang meledak di Rusia bulan lalu dan melukai 1.500 orang.
Ditemukan enam hari lalu, Asteroid 2013 ET berdiameter 140 meter melintas pada jarak 965.606 kilometer dari Bumi, atau 2,5 kali jarak dengan bulan. Jarak seperti ini relatif dekat untuk ukuran antariksa.
“Yang menakutkan adalah ini sesuatu yang tidak kita ketahui,” ujar Patrick Paolucci, presiden Slooh Space Camera, dalam penyiaran gambar-gambar asteroid dari sebuah teleskop di Kepulauan Canary.
Dengan kecepatan 41,842 kilometers per hour, asteroid itu dapat menyapu sebuah kota besar jika menimpa Bumi, ujar teknisi teleskop Slooh Paul Cox.
Asteroid 2013 ET hampir delapan kali lebih besar dari asteroid seukuran bus yang meledak di atas Chelyabinsk, Rusia pada 15 Februari. Kekuatan ledakan itu, sama dengan sekitar 440 kiloton dinamit, menimbulkan gelombang kejut yang menghancurkan kaca-kaca jendela dan merusak bangunan, melukai lebih dari 1.500 orang.
Pada akhir minggu juga, sebuah asteroid kecil, diketahui sebagai DA14, lewat pada jarak sekitar 27.680 kilometer dari Bumi, lebih dekat dari jaringan satelit komunikasi dan cuaca yang mengorbit planet ini. “Salah satu alasan mengapa kita menemukan lebih banyak obyek-obyek ini adalah karena lebih banyak orang yang mengamati,” ujar Cox.
Dua asteroid lain, masing-masing berukuran mirip dengan meteor yang jatuh di Rusia, juga melintasi Bumi akhir pekan lalu. Asteroid 2013 EC 20 lewat dengan jarak 150.000 kilometer Sabtu lalu, atau “sepelemparan batu,” ujar Cox.
Pada Minggu (10/3), Asteroid 2013 EN 20 melintas dalam jarak 449.000 kilometer. Keduanya baru ditemukan minggu lalu. “Sistem antariksa ini memang sangat sibuk. Kita tidak kebal terhadap benda-benda ini, jadi seharusnya pemerintah-pemerintah waspada,” ujar Cox.
Kongres Amerika Serikat telah menugaskan lembaga antariksa AS NASA untuk menemukan dan melacak semua benda angkasa dekat bumi yang berdiameter 1 kilometer atau lebih, dan diperkirakan sekitar 95 persennya telah teridentifikasi.
Namun, hanya sekitar 10 persen dari asteroid-asteroid lebih kecil yang telah ditemukan, ujar para ilmuwan NASA.
Upaya ini dimaksudkan untuk memberi para ilmuwan dan insinyur waktu sebanyak mungkin untuk mempelajari apakah ada asteroid atau komet yang menabrak Bumi, sehingga bisa mengirim pesawat atau mengambil langkah untuk menghindari bencana.
Sekitar 100 ton materi dari luar angkasa menghantam Bumi setiap harinya. Para ahli astronomi baru-baru ini memperkirakan sebuah obyek seukuran benda langit yang menimpa Rusia akan menghantam Bumi setiap sekitar 100 tahun. (rtr/voa/A-147)***
Kamis, 28 Februari 2013
Seberapa Cepat Lubang Hitam Berputar?
Kamis, 28/02/2013 - 10:41
LUBANG hitam supermasif berputar begitu cepatnya, sehingga
permukaannya bergerak mendekati kecepatan cahaya.*
HARVARD, (PRLM).- Para astronom telah mengukur tingkat perputaran (spin) dari lubang hitam supermasif untuk pertama kalinya.
Bola masif yang berdiameter lebih dari 2 juta mil ini, delapan kali jarak dari Bumi ke Bulan, berputar begitu cepat sehingga permukaannya bergerak hampir mendekati kecepatan cahaya.
"Ini adalah pertama kalinya seseorang telah secara akurat mengukur spin dari lubang hitam supermasif," kata Guido Risaliti dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics (CFA) dan INAF - Observatorium Arcetri.
Terobosan pengukuran ini dibuat dengan menggunakan data baru dari Nuclear Spectroscopic Telescope Array atau NuSTAR, dan satelit sinar-x XMM-Newton milik Badan Antariksa Eropa.
Para astronom ingin mengetahui perputaran lubang hitam karena beberapa alasan. Yang pertama adalah secara fisik, hanya dua angka mendefinisikan lubang hitam, massa dan spin. Dengan mempelajari dua angka tersebut, Anda mempelajari segala sesuatu yang perlu diketahui tentang lubang hitam.
Yang paling penting, perputaran lubang hitam memberikan petunjuk untuk masa lalu dan perpanjangan evolusi galaksi inangnya. "Spin lubang hitam adalah memori, catatan, dari sejarah masa lalu galaksi secara keseluruhan," kata Risaliti seperti dipaparkan dalam Nature baru-baru ini. (Aya/A-107)***
![]() |
| CFA/"PRLM" |
HARVARD, (PRLM).- Para astronom telah mengukur tingkat perputaran (spin) dari lubang hitam supermasif untuk pertama kalinya.
Bola masif yang berdiameter lebih dari 2 juta mil ini, delapan kali jarak dari Bumi ke Bulan, berputar begitu cepat sehingga permukaannya bergerak hampir mendekati kecepatan cahaya.
"Ini adalah pertama kalinya seseorang telah secara akurat mengukur spin dari lubang hitam supermasif," kata Guido Risaliti dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics (CFA) dan INAF - Observatorium Arcetri.
Terobosan pengukuran ini dibuat dengan menggunakan data baru dari Nuclear Spectroscopic Telescope Array atau NuSTAR, dan satelit sinar-x XMM-Newton milik Badan Antariksa Eropa.
Para astronom ingin mengetahui perputaran lubang hitam karena beberapa alasan. Yang pertama adalah secara fisik, hanya dua angka mendefinisikan lubang hitam, massa dan spin. Dengan mempelajari dua angka tersebut, Anda mempelajari segala sesuatu yang perlu diketahui tentang lubang hitam.
Yang paling penting, perputaran lubang hitam memberikan petunjuk untuk masa lalu dan perpanjangan evolusi galaksi inangnya. "Spin lubang hitam adalah memori, catatan, dari sejarah masa lalu galaksi secara keseluruhan," kata Risaliti seperti dipaparkan dalam Nature baru-baru ini. (Aya/A-107)***
Kamis, 03 Januari 2013
Ada 100 Miliar Planet Alien di Galaksi Kita
Penulis : Yunanto Wiji Utomo | Kamis, 3 Januari 2013 | 09:40 WIB
Jumlah eksoplanet yang masuk daftar Habitable Exoplanet Catalog melebihi dugaan.
CALIFORNIA, KOMPAS.com — Studi terbaru menunjukkan bahwa planet alien, sebutan untuk planet di luar tata surya, di galaksi Bimasakti sangat melimpah. Jumlahnya mencapai paling tidak 100 miliar planet!
"Itu jumlah yang mengejutkan jika Anda memikirkannya. Pada dasarnya, ada paling tidak satu planet per bintang," ungkap pimpinan studi, Jonathan Swift, dari California Institute of Technology di California, seperti dikutip Space, Rabu (2/1/2012).
Kesimpulan tersebut diungkapkan setelah Swift mempelajari tata surya Kepler 32 yang berjarak 915 tahun cahaya dari Bumi. Tata surya itu sendiri sebelumnya ditemukan lewat pengamatan dengan teleskop Kepler.
Tata surya Kepler 32 memiliki induk katai M, bintang yang lebih kecil dan dingin daripada Matahari. Menurut penelitian sebelumnya, katai M adalah bintang yang paling umum terdapat di Bimasakti.
Sejauh ini, ada lima planet yang mengorbit Kepler 32. Seluruh planet mengorbit bintangnya dari jarak yang relatif dekat. Astronom berpendapat, tata surya Kepler 32 merepresentasikan tata surya lain di Bimasakti.
Penemuan planet dengan teleskop Kepler dilakukan dengan metode transit. Riset bisa dilakukan jika bintang atau planet sedang menghadap ke teleskop. Keberadaan planet diketahui lewat kedipan cahaya bintang.
Dalam riset ini, Swift melakukan perhitungan, seberapa besar kemungkinan bintang dan planet menghadap teleskop. Lewat perhitungan jumlah selanjutnya didapati bahwa jumlah planet alien di Bimasakti mencapai 100 miliar.
Jumlah 100 miliar tersebut hanya merujuk pada eksoplanet yang mengorbit katai M. Jika ditotal dengan yang mengorbit bintang jenis lain, jumlahnya bisa mencapai 200 miliar.
Studi dipublikasikan di Astrophysical Journal, kemarin. Studi ini juga mengonfirmasi tiga planet di tata surya Kepler 32, masing-masing memiliki diameter antara 0,8-2,7 kali Bumi. Semua planet mengorbit dalam radius jarak 16 juta km dari bintangnya. Bumi sendiri mengorbit Matahari dari jarak 150 juta km.
![]() |
| NASA/ESA/Hubble |
Jumlah eksoplanet yang masuk daftar Habitable Exoplanet Catalog melebihi dugaan.
CALIFORNIA, KOMPAS.com — Studi terbaru menunjukkan bahwa planet alien, sebutan untuk planet di luar tata surya, di galaksi Bimasakti sangat melimpah. Jumlahnya mencapai paling tidak 100 miliar planet!
"Itu jumlah yang mengejutkan jika Anda memikirkannya. Pada dasarnya, ada paling tidak satu planet per bintang," ungkap pimpinan studi, Jonathan Swift, dari California Institute of Technology di California, seperti dikutip Space, Rabu (2/1/2012).
Kesimpulan tersebut diungkapkan setelah Swift mempelajari tata surya Kepler 32 yang berjarak 915 tahun cahaya dari Bumi. Tata surya itu sendiri sebelumnya ditemukan lewat pengamatan dengan teleskop Kepler.
Tata surya Kepler 32 memiliki induk katai M, bintang yang lebih kecil dan dingin daripada Matahari. Menurut penelitian sebelumnya, katai M adalah bintang yang paling umum terdapat di Bimasakti.
Sejauh ini, ada lima planet yang mengorbit Kepler 32. Seluruh planet mengorbit bintangnya dari jarak yang relatif dekat. Astronom berpendapat, tata surya Kepler 32 merepresentasikan tata surya lain di Bimasakti.
Penemuan planet dengan teleskop Kepler dilakukan dengan metode transit. Riset bisa dilakukan jika bintang atau planet sedang menghadap ke teleskop. Keberadaan planet diketahui lewat kedipan cahaya bintang.
Dalam riset ini, Swift melakukan perhitungan, seberapa besar kemungkinan bintang dan planet menghadap teleskop. Lewat perhitungan jumlah selanjutnya didapati bahwa jumlah planet alien di Bimasakti mencapai 100 miliar.
Jumlah 100 miliar tersebut hanya merujuk pada eksoplanet yang mengorbit katai M. Jika ditotal dengan yang mengorbit bintang jenis lain, jumlahnya bisa mencapai 200 miliar.
Studi dipublikasikan di Astrophysical Journal, kemarin. Studi ini juga mengonfirmasi tiga planet di tata surya Kepler 32, masing-masing memiliki diameter antara 0,8-2,7 kali Bumi. Semua planet mengorbit dalam radius jarak 16 juta km dari bintangnya. Bumi sendiri mengorbit Matahari dari jarak 150 juta km.
Sumber :SPACE.COM
Editor :yunan
Jumat, 30 November 2012
Terbukti, Ada Es di Merkurius
Penulis : Yunanto Wiji Utomo | Jumat, 30 November 2012 | 10:57 WIB
WASHINGTON, KOMPAS.com — Tim ilmuwan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyatakan bahwa berdasarkan hasil observasi terbaru dengan wahana antariksa Messenger, Merkurius terbukti memiliki air dalam bentuk es.
"Data terbaru mengindikasikan adanya air dalam bentuk es di bagian kutub Merkurius, menyebar di area seluas Washington dan memiliki ketebalan lebih dari 3,2 km," kata David Lawrence, peneliti NASA yang turut andil dalam riset ini.
Temperatur Merkurius bisa mencapai 427 derajat celsius. Namun, di wilayah kutub utara yang karena kemiringan sumbu Merkurius tak mendapatkan sinar Matahari, temperatur tergolong rendah sehingga memungkinkan adanya es.
Es di kutub utara Merkurius terdapat mulai dari koordinat 85 derajat lintang utara Merkurius. Sementara lapisan es tipis bisa menyebar hingga koordinat 65 derajat lintang utara. Ilmuwan juga percaya bahwa kutub selatan Merkurius memiliki es, tetapi observasi belum dimungkinkan.
Adanya es di Merkurius telah diduga sejak tahun 1991. Saat itu, teleskop di Puerto Riko menemukan adanya bagian yang berwarna terang di kutub planet terdekat dari Matahari itu. Es juga kadang ditemukan di wilayah yang berdasarkan observasi tahun 1970-an merupakan kawah raksasa.
Citra Messenger terbaru mengonfirmasi bahwa bagian berwarna terang itu berada di wilayah dengan suhu rendah yang memungkinkan adanya es. Instrumen spektrometer netron pada Messenger menganalisis konsentrasi hidrogen, bagian dari air, dan menemukan bahwa air dalam bentuk es memang ada.
Studi mengungkap bahwa di wilayah yang paling dingin, lapisan air ada di atas. Namun, di wilayah yang lebih hangat di mana es dilapisi oleh material gelap (isolator panas) yang memiliki kadar hidrogen lebih rendah.
David Paige dari NASA yang juga terlibat di riset ini menyatakan, material gelap itu adalah kunci untuk memahami bagaimana air bisa sampai di Merkurius. Menurutnya, material gelap itu terdiri dari senyawa organik yang berasal dari komet ataupun asteroid yang menumbuk Merkurius.
Sea Solomon, pimpinan riset yang juga astronom di Lamont-Doherty Earth Observatory, Columbia University, mengatakan, "Lebih dari 20 tahun kami bertanya-tanya apakah planet terdekat dari Matahari memiliki es di kutubnya. Messenger memberikan jawaban pasti."
Namun, Solomon juga mengungkapkan bahwa Messenger memberikan pertanyaan baru. "Apakah material gelap di kutub sebagian besar terdiri atas senyawa organik? Apa reaksi kimia yang telah dialami material itu?"
"Adakah wilayah di Merkurius yang memiliki baik air dalam bentuk cair maupun senyawa organik? Hanya dengan penelitian lanjut tentang Merkurius kita bisa berharap mencapai kemajuan dalam menjawab pertanyaan itu," tambah Solomon seperti dikutip AFP, Kamis (29/11/2012).
Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Science Express pada Kamis kemarin. Messenger telah meneliti Merkurius sejak tahun 2011. Pada tahun 2014 dan 2015, Messenger akan melayang lebih dekat di Merkurius sehingga memungkinkan observasi lebih detail.
![]() |
NASA
Bagian berwarna merah adalah kutub utara Merkurius. Wahana Messenger membuktikan bahwa es ada di wilayah itu.
|
WASHINGTON, KOMPAS.com — Tim ilmuwan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyatakan bahwa berdasarkan hasil observasi terbaru dengan wahana antariksa Messenger, Merkurius terbukti memiliki air dalam bentuk es.
"Data terbaru mengindikasikan adanya air dalam bentuk es di bagian kutub Merkurius, menyebar di area seluas Washington dan memiliki ketebalan lebih dari 3,2 km," kata David Lawrence, peneliti NASA yang turut andil dalam riset ini.
Temperatur Merkurius bisa mencapai 427 derajat celsius. Namun, di wilayah kutub utara yang karena kemiringan sumbu Merkurius tak mendapatkan sinar Matahari, temperatur tergolong rendah sehingga memungkinkan adanya es.
Es di kutub utara Merkurius terdapat mulai dari koordinat 85 derajat lintang utara Merkurius. Sementara lapisan es tipis bisa menyebar hingga koordinat 65 derajat lintang utara. Ilmuwan juga percaya bahwa kutub selatan Merkurius memiliki es, tetapi observasi belum dimungkinkan.
Adanya es di Merkurius telah diduga sejak tahun 1991. Saat itu, teleskop di Puerto Riko menemukan adanya bagian yang berwarna terang di kutub planet terdekat dari Matahari itu. Es juga kadang ditemukan di wilayah yang berdasarkan observasi tahun 1970-an merupakan kawah raksasa.
Citra Messenger terbaru mengonfirmasi bahwa bagian berwarna terang itu berada di wilayah dengan suhu rendah yang memungkinkan adanya es. Instrumen spektrometer netron pada Messenger menganalisis konsentrasi hidrogen, bagian dari air, dan menemukan bahwa air dalam bentuk es memang ada.
Studi mengungkap bahwa di wilayah yang paling dingin, lapisan air ada di atas. Namun, di wilayah yang lebih hangat di mana es dilapisi oleh material gelap (isolator panas) yang memiliki kadar hidrogen lebih rendah.
David Paige dari NASA yang juga terlibat di riset ini menyatakan, material gelap itu adalah kunci untuk memahami bagaimana air bisa sampai di Merkurius. Menurutnya, material gelap itu terdiri dari senyawa organik yang berasal dari komet ataupun asteroid yang menumbuk Merkurius.
Sea Solomon, pimpinan riset yang juga astronom di Lamont-Doherty Earth Observatory, Columbia University, mengatakan, "Lebih dari 20 tahun kami bertanya-tanya apakah planet terdekat dari Matahari memiliki es di kutubnya. Messenger memberikan jawaban pasti."
Namun, Solomon juga mengungkapkan bahwa Messenger memberikan pertanyaan baru. "Apakah material gelap di kutub sebagian besar terdiri atas senyawa organik? Apa reaksi kimia yang telah dialami material itu?"
"Adakah wilayah di Merkurius yang memiliki baik air dalam bentuk cair maupun senyawa organik? Hanya dengan penelitian lanjut tentang Merkurius kita bisa berharap mencapai kemajuan dalam menjawab pertanyaan itu," tambah Solomon seperti dikutip AFP, Kamis (29/11/2012).
Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Science Express pada Kamis kemarin. Messenger telah meneliti Merkurius sejak tahun 2011. Pada tahun 2014 dan 2015, Messenger akan melayang lebih dekat di Merkurius sehingga memungkinkan observasi lebih detail.
Sumber :AFP
Editor :yunan
Kamis, 29 November 2012
Lubang Hitam Terbesar, 17 Miliar Kali Massa Matahari
Penulis : Yunanto Wiji Utomo | Kamis, 29 November 2012 | 12:15 WIB
HEIDELBERG, KOMPAS.com — Astronom menemukan lubang hitam yang berukuran luar biasa besar. Massa lubang hitam ini 17 miliar kali massa Matahari!
Lubang hitam tersebut berada di galaksi NGC 1277, berjarak 250 juta tahun cahaya dari Bumi, di konstelasi Perseus. Massa lubang hitam itu jauh lebih besar daripada massa lubang hitam di Bimasakti yang hanya 4 kali massa Matahari.
Remco van den Bosch, astronom dari Max Planck Institute for Astronomy di Heidelberg, Jerman, yang memimpin riset terkejut dengan ukuran dan proporsi antara galaksi dan lubang hitam itu.
Biasanya, lubang hitam hanya 0,1 persen dari galaksi. Saat ini, lubang hitam terbesar secara proporsional dengan galaksinya ada di NGC 4486B, 11 persen dari total massa bintang. Massa lubang hitam NGC 1277 lebih besar lagi, 59 persen dari total massa bintang di galaksi itu.
Apa yang menyebabkan lubang hitam itu begitu besar? Sampai saat ini belum ada jawaban yang memuaskan.
"Kami tak menduga adanya sistem ini, tetapi karena bintang bergerak sangat cepat di pusat galaksi, kami tahu ada lubang hitam yang eksis di galaksi kecil ini," kata Bosch seperti dikutip Discovery, Rabu (28/11/2012).
Bosch mengatakan, dengan penemuan ini, astronom tertarik meneliti bagaimana galaksi terbentuk dan seberapa umum sistem itu di alam semesta.
Yang unik, galaksi dan lubang hitam itu seperti hidup dalam damai. Bintang di galaksi itu tak diganggu selama jutaan tahun. Galaksi ini datar, seperti tak ada bintang baru. Jika lubang hitam memakan bintang, pasti material yang dihasilkan akan memicu pembentukan bintang baru.
Bosch menuturkan, lubang hitam dan galaksi kecil itu mungkin terbentuk tak lama setelah Big Bang. Galaksi dan lubang hitam mungkin terbentuk secara bersamaan.
Bosch menambahkan, "Lubang hitam bisa tumbuh tanpa membentuk banyak bintang baru di galaksi. Kami ingin tahu apakah lubang hitam, atau mungkin juga bintang, memainkan peran aktif dalam hal tersebut."
Terkait keunikan sistem galaksi dan lubang hitam ini, Karl Gebhardt dari University of Texas Austin mengatakan, "Hal itu mungkin berarti bahwa galaksi ini menjalani proses evolusi berbeda dengan lainnya. Mungkin juga berarti bahwa kita harus memperbarui pemikiran tentang evolusi galaksi dan lubang hitam."
MPIA
NGC 1277
HEIDELBERG, KOMPAS.com — Astronom menemukan lubang hitam yang berukuran luar biasa besar. Massa lubang hitam ini 17 miliar kali massa Matahari!
Lubang hitam tersebut berada di galaksi NGC 1277, berjarak 250 juta tahun cahaya dari Bumi, di konstelasi Perseus. Massa lubang hitam itu jauh lebih besar daripada massa lubang hitam di Bimasakti yang hanya 4 kali massa Matahari.
Remco van den Bosch, astronom dari Max Planck Institute for Astronomy di Heidelberg, Jerman, yang memimpin riset terkejut dengan ukuran dan proporsi antara galaksi dan lubang hitam itu.
Biasanya, lubang hitam hanya 0,1 persen dari galaksi. Saat ini, lubang hitam terbesar secara proporsional dengan galaksinya ada di NGC 4486B, 11 persen dari total massa bintang. Massa lubang hitam NGC 1277 lebih besar lagi, 59 persen dari total massa bintang di galaksi itu.
Apa yang menyebabkan lubang hitam itu begitu besar? Sampai saat ini belum ada jawaban yang memuaskan.
"Kami tak menduga adanya sistem ini, tetapi karena bintang bergerak sangat cepat di pusat galaksi, kami tahu ada lubang hitam yang eksis di galaksi kecil ini," kata Bosch seperti dikutip Discovery, Rabu (28/11/2012).
Bosch mengatakan, dengan penemuan ini, astronom tertarik meneliti bagaimana galaksi terbentuk dan seberapa umum sistem itu di alam semesta.
Yang unik, galaksi dan lubang hitam itu seperti hidup dalam damai. Bintang di galaksi itu tak diganggu selama jutaan tahun. Galaksi ini datar, seperti tak ada bintang baru. Jika lubang hitam memakan bintang, pasti material yang dihasilkan akan memicu pembentukan bintang baru.
Bosch menuturkan, lubang hitam dan galaksi kecil itu mungkin terbentuk tak lama setelah Big Bang. Galaksi dan lubang hitam mungkin terbentuk secara bersamaan.
Bosch menambahkan, "Lubang hitam bisa tumbuh tanpa membentuk banyak bintang baru di galaksi. Kami ingin tahu apakah lubang hitam, atau mungkin juga bintang, memainkan peran aktif dalam hal tersebut."
Terkait keunikan sistem galaksi dan lubang hitam ini, Karl Gebhardt dari University of Texas Austin mengatakan, "Hal itu mungkin berarti bahwa galaksi ini menjalani proses evolusi berbeda dengan lainnya. Mungkin juga berarti bahwa kita harus memperbarui pemikiran tentang evolusi galaksi dan lubang hitam."
Sumber :DISCOVERY
Editor :yunan
Jumat, 12 Oktober 2012
Astronom Temukan Planet Berlian "55 Cancri e"
Kamis, 11/10/2012 - 23:33
LONDON, (PRLM).- Para ahli astronomi menemukan satu planet sebesar Bumi yang kebanyakan terdiri atas berlian dan mengorbit satu bintang yang bisa dilihat dengan mata telanjang.
Planet berbatu itu, yang dinamakan "55 Cancri e", mengorbit bintang mirip Matahari sejauh 40 tahun cahaya di konstelasi Cancer dan bergerak sangat cepat sehingga satu tahun di Bumi, di sana hanya 18 jam.
Radiusnya, yang ditemukan oleh satu tim peneliti Prancis-AS, memiliki ukuran dua kali radius Bumi tapi jauh lebih padat dengan massa delapan kali lebih besar. Planet itu juga panas luar biasa, dengan temperatur permukaan mencapai 1.648 derajat Celsius (3.900 derajat Fahrenheit).
"Permukaan planet ini tampaknya ditutupi grafit dan berlian dan bukan air serta granit," kata Nikku Madhusudhan, peneliti Yale yang temuannya akan diterbitkan di Astrophysical Journal Letters.
Studi tersebut, yang dilakukan bersama Olivier Mousis di Institut de Recherche en Astrophysyique et Planetologie di Toulose, Prancis, memperkirakan sedikitnya sepertiga massa planet itu, atau sama dengan sebanyak tiga massa Bumi, mungkin adalah berlian.
Planet berlian telah dilihat sebelumnya tapi sekali ini adalah untuk pertama kali satu planet telah terlihat mengorbit bintang mirip Matahari dan dipelajari sampai terperinci.
"Ini adalah pemandangan sekilas pertama mengenai dunia berbatu dengan kemistri yang sangat berbeda dari Bumi," kata Madhusudhan sebagaimana dikutip Reuters --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Kamis malam. Ia menambahkan temuan mengenai planet yang kaya akan karbon berarti planet berbatu yang berada jauh tak lagi bisa diperkirakan memiliki kandungan kimia, bagian dalam, atmosfir, atau biologi yang sama dengan di Bumi.
David Spergel, seorang ahli astronomi di Princeton University, mengatakan relatif sederhana untuk mempelajari susunan dasar dan sejarah satu bintang segera setelah orang mengetahui usia dan massanya.
"Planet jauh lebih rumit. 'Bumi-super yang kaya akan berlian' ini tampaknya cuma satu contoh mengenai rangkaian temuan yang berlimpah yang menanti kita saat kita mulai menjelajahi planet di sekitar bintang yang berdekatan (dengan Bumi)," katanya. (A-26/rtr).***
NASA/"PRLM"
PLANET berbatu yang dinamakan "55 Cancri e".*
LONDON, (PRLM).- Para ahli astronomi menemukan satu planet sebesar Bumi yang kebanyakan terdiri atas berlian dan mengorbit satu bintang yang bisa dilihat dengan mata telanjang.
Planet berbatu itu, yang dinamakan "55 Cancri e", mengorbit bintang mirip Matahari sejauh 40 tahun cahaya di konstelasi Cancer dan bergerak sangat cepat sehingga satu tahun di Bumi, di sana hanya 18 jam.
Radiusnya, yang ditemukan oleh satu tim peneliti Prancis-AS, memiliki ukuran dua kali radius Bumi tapi jauh lebih padat dengan massa delapan kali lebih besar. Planet itu juga panas luar biasa, dengan temperatur permukaan mencapai 1.648 derajat Celsius (3.900 derajat Fahrenheit).
"Permukaan planet ini tampaknya ditutupi grafit dan berlian dan bukan air serta granit," kata Nikku Madhusudhan, peneliti Yale yang temuannya akan diterbitkan di Astrophysical Journal Letters.
Studi tersebut, yang dilakukan bersama Olivier Mousis di Institut de Recherche en Astrophysyique et Planetologie di Toulose, Prancis, memperkirakan sedikitnya sepertiga massa planet itu, atau sama dengan sebanyak tiga massa Bumi, mungkin adalah berlian.
Planet berlian telah dilihat sebelumnya tapi sekali ini adalah untuk pertama kali satu planet telah terlihat mengorbit bintang mirip Matahari dan dipelajari sampai terperinci.
"Ini adalah pemandangan sekilas pertama mengenai dunia berbatu dengan kemistri yang sangat berbeda dari Bumi," kata Madhusudhan sebagaimana dikutip Reuters --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Kamis malam. Ia menambahkan temuan mengenai planet yang kaya akan karbon berarti planet berbatu yang berada jauh tak lagi bisa diperkirakan memiliki kandungan kimia, bagian dalam, atmosfir, atau biologi yang sama dengan di Bumi.
David Spergel, seorang ahli astronomi di Princeton University, mengatakan relatif sederhana untuk mempelajari susunan dasar dan sejarah satu bintang segera setelah orang mengetahui usia dan massanya.
"Planet jauh lebih rumit. 'Bumi-super yang kaya akan berlian' ini tampaknya cuma satu contoh mengenai rangkaian temuan yang berlimpah yang menanti kita saat kita mulai menjelajahi planet di sekitar bintang yang berdekatan (dengan Bumi)," katanya. (A-26/rtr).***
Jumat, 06 Juli 2012
Peri Tinker Bell" Terlihat Melayang di Antariksa
Jumat, 06/07/2012 - 14:35
ESO/"PRLM"
"TINKER Bell" atau disebut juga "The Bird", tiga galaksi yang menyatu menjadi galaksi raksasa.*
GARCHING, (PRLM).- Sebuah galaksi yang menyerupai peri Tinker Bell
dalam film Peter Pan terlihat di langit oleh Observatorium Selatan Eropa
(ESO), dan gugusan bintang ini sebenarnya adalah kombinasi dari tiga
galaksi, dua berbentuk spiral dan ketiga adalah galaksi yang 'tidak
teratur'.
Astronom dari ESO, seperti dilaporkan Mail Online, percaya ini adalah penggabungan dari tiga galaksi, sistem tiga galaksi raksasa yang perlahan-lahan bertabrakan satu sama lain membentuk satu galaksi masif.
Astronom Petri Väisänen mengatakan, "Contoh penggabungan dari tiga galaksi yang berukuran hampir sama, jarang terjadi." Kami lebih suka menyebutnya Tinker Bell, tetapi para astronom mengenalnya sebagai 'The Bird' (Sang Burung)," tambahnya. (Aya/A-147)***
Astronom dari ESO, seperti dilaporkan Mail Online, percaya ini adalah penggabungan dari tiga galaksi, sistem tiga galaksi raksasa yang perlahan-lahan bertabrakan satu sama lain membentuk satu galaksi masif.
Astronom Petri Väisänen mengatakan, "Contoh penggabungan dari tiga galaksi yang berukuran hampir sama, jarang terjadi." Kami lebih suka menyebutnya Tinker Bell, tetapi para astronom mengenalnya sebagai 'The Bird' (Sang Burung)," tambahnya. (Aya/A-147)***
Senin, 25 Juni 2012
Ini Para Ahli Ekskavasi Gunung Padang
Dari latar geologi, arkeologi, antropologi, astronomi sampai filologi
Para ahli mengambil sampel Gunung Padang Cianjur (VIVAnews/ Muhamad Solihin)
VIVAnews - Temuan bangunan berbentuk piramida di situs
Gunung Padang Cianjur Jawa Barat oleh Tim Bencana Katastropik Purba
telah ditindaklanjuti dengan dibentuknya Tim Terpadu Penelitian Mandiri
Gunung Padang. Dan dalam beberapa bulan terakhir, Tim Terpadu telah
menemukan beberapa fakta seperti adanya ruangan dan timbunan logam di
bawah Situs Gunung Padang Cianjur.
Tim Terpadu ini terdiri dari
ahli dari berbagai lintas ilmu, mulai dari arkeologi, astronomi, sampai
budaya. Prof. Dr. Zaidan Nawawi, M.Si. (Ketua Forum Guru Besar Kebijakan
Publik), salah satu anggota dewan pengarah pada Tim Terpadu,
mengatakan, jika riset ini berhasil membuktikan ada bangunan di bawah
situs, maka untuk pertama kali dalam sejarah para ahli indonesia geolog,
arkeolog, kompleksitas, arsitek, teknik konstruksi, filolog (bahasa),
astronom, sejarawan, sosiolog, budaya dan cabang ilmu lain, mampu
bersinergi dan menghasilkan riset terpadu kelas dunia.
Tim ini bukan saja
memberikan sumbangsih kepada dunia, satu sejarah baru, artefak baru,
bukti baru tentang peradaban dunia yang begitu hebat dan tua, tapi tim
ini juga memberikan sejarah baru untuk Indonesia. "Para peneliti lintas
ilmu dan intitusi mampu bersinergi hingga menghasilkan sesuatu yang
spektakuler, seperti yang mereka temukan di Situs Gunung Padang,” kata
Zaidan dalam siaran pers yang dikirim Tim Katastropik Purba, Jumat 22
Juni 2012.
Selain Zaidan, di Dewan Pengarah Tim Terpadu terdapat
antara lain Prof. Dr. Gumilar Rusliwa Soemantri (Rektor Universitas
Indonesia), Prof Dr. Hasan Jafar (Guru Besar Universitas Indonesia),
Prof. Dr. Harry Truman Simanjuntak (Ahli Paleolitik), Dr. Soeroso, M.P.,
M.Hum. (Arkeolog senior), Acil “Bimbo” Darmawan Hardjakusumah
(budayawan) dan Andi Arief (Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial
& Bencana Alam).
Tim Terpadu ini diisi oleh ilmuwan beken
seperti Dr. Danny Hilman Natawidjadja (Geotek Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia), Dr. Andang Bachtiar (Geolog dan Dewan Penasihat Ikatan Ahli
Geologi Indonesia), Dr (Phil) Lily Tjahjandary (Manajer Penelitian
& Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia), Dr. Ali Akbar, S.S.,
M.Hum. (Ketua Masyarakat Arkeologi Indonesia), Dr. Wahyu Triyoso
(Seismologi Institut Teknologi Bandung), Dr. Undang A. Darsa, M.Hum.
(Filolog), Dr. Pon Purajatnika (Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI)
Jawa Barat), Dr. Andri Hernandi, (Ahli Petrografi), Hokky Situngkir
(Ilmuwan Kompleksitas dari Bandung Fe Institute) dan para peneliti
lainya.
Zaidan juga mengatakan bahwa dalam beberapa kali
perjalanan di luar negeri sewaktu memberikan seminar, dia seringkali
ditanya oleh pihak luar, seperti lembaga riset di Eropa dan kementerian
di Malaysia, apakah membutuhkan bantuan seperti dana atau tenaga ahli.
“Saya kira, seperti yang
pernah dirilis oleh Pak Andi Arief, periset Indonesia masih mampu. Jadi
biarlah mereka (peneliti) merampungkan tugas mereka. Soal tawaran
bantuan dari pihak luar negeri, kita cukup menyampaikan berterima kasih
saja atas maksud baik mereka,” kata Zaidan. (umi)
Langganan:
Postingan (Atom)










.jpg)


.jpg)








