Senin, 13 Oktober 2008

Presiden Bertemu Artis Laskar Pelangi


By Republika Contributor
Jumat, 10 Oktober 2008 pukul 19:21:00


JAKARTA -- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima para pemain dan pendukung film laris bertema pendidikan Laskar Pelangi di Wisma Negara, Jakarta, Jumat sore.Rombongan para sineas film yang awal pekan ini telah ditonton lebih dari 1,3 juta orang itu diterima oleh Presiden dan Ibu Ani Yudhoyono dengan didampingi oleh menantunya Anissa Pohan dan cucunya Almira Tunggadewi Yudhoyono serta sejumlah menteri kabinet.

Anak-anak yang datang dengan mengenakan pakaian batik itu bergantian bersalaman dengan Presiden Yudhoyono, Ibu Ani dan para menteri sebelum mendengar sedikit penjelasan mengenai sejarah Wisma Negara.Presiden Yudhoyono telah menyaksikan film yang berkisah mengenai perjuangan anak-anak miskin di Belitong untuk memperoleh pendidikan di SD Muhammadiyah setempat bersama guru mereka.

Film Laskar Pelangi dibuat berdasarkan novel populer karya Andrea Hirata, yang disusun berdasarkan pengalaman pribadinya.
Selain menampilkan anak-anak asli Belitong sebagai pemain film, Riri Reza dan Mira Lesmana sang sutradara juga melibatkan sejumlah artis senior Indonesia antara lain Cut Mini, Ikranegara, Jajang C Noer, Lukman Sardi dan Slamet Rahardjo.Laskar Pelangi disebut-sebut sejumlah pihak sebagai potret buram pendidikan di Indonesia.ant/kp

 

Foto: antara

Murid Kelas IV SD Tak Bisa Baca, Guru Papua Bakal Ditatar

JAKARTA, SENIN — World Vision bekerja sama dengan Surya Institute akan memberikan pendampingan intensif kepada 75 guru yang ada di pedalaman Papua. Langkah itu dilakukan untuk memberikan peningkatan kualitas pendidikan di daerah pelosok.

"Untuk World Vision sendiri sudah melakukan pendekatan pendidikan di pelosok-pelosok Papua sejak 30 tahun yang lalu," ujar Direktur Nasional World Vision Indonesia Trihadi Saptoadi sambil menambahkan, kerja sama dengan Surya Institute merupakan kali pertama bagi World Vision Indonesia.

Trihadi mengatakan, dari hasil penelitian World Vision yang dilakukan Wamena, Papua, tahun 2006, banyak ditemukan anak usia sekolah dasar dan sekolah lanjutan tingkat pertama yang putus sekolah. Selain itu, dari hasil penelitian juga menggambarkan kurangnya kemampuan guru dan minimnya metode pengajaran yang baik. "Bayangkan saja, anak kelas IV SD di Wamena belum bisa membaca dan menulis, padahal mereka juga belajar secara formal di sekolah," ujarnya.

Lebih lanjut, Chairman Surya Institute Yohanes Surya menjelaskan, langkah awal pihaknya akan membawa 15 tenaga pendidik yang terpilih dari pedalaman Papua untuk diberikan semacam pendidikan singkat di Surya Institute yang berada di Karawaci.

"Dari 15 tenaga pengajar tersebut, diharapkan setiap pengajar mampu menularkan ilmunya kepada lima pengajar lain yang ada di pelosok Papua sehingga ada 75 tenaga pengajar yang mempunyai kualitas baik," ujar Surya.

Selain tenaga pengajar, Surya Institute juga membidik siswa potensial yang ada di pedalaman Papua untuk dilatih secara intensif. "Potensi anak-anak Papua sebenarnya tidak kalah dengan anak-anak di daerah lain. Salah satu contohnya, Hendrik Metlama yang dapat meraih juara II olimpiade fisika tingkat nasional 2008," katanya.

Sekadar catatan, Hendrik adalah salah satu anak santun WVI yang ditemukan oleh Yohanes Surya dan Hendrik mendapat pendalamam ilmu secara intensif di Surya Institute sampai mampu meraih gelar membanggakan tersebut.

Saat ini Hendrik tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi olimpiade fisika tingkat dunia yang akan dilaksanakan di Korea Selatan, bulan Desember 2008 mendatang. "Di Surya Institute saya diajari banyak hal, terutama di bidang matematika dan fisika. Semoga di Korea Selatan nanti saya dapat meraih hasil yang maksimal," kata Hendrik yang juga hadir dalam acara tersebut.

C11 08

Sabtu, 11 Oktober 2008

Susno Duadji Jadi Kabareskrim Polri


TRIBUN JABAR/DENI DENASWARA
Kapolda Jabar Irjen Pol Susno Duadji.


JAKARTA, SABTU — Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri mengeluarkan keputusan untuk mengangkat Kapolda Jawa Barat Inspektur Jenderal Susno Duadji sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal Polri. "Orangnya konsisten, keras, tegas. dan tidak kompromi (dengan pelaku kejahatan)," kata Hendarso di Jakarta, Sabtu (11/10).


Kapolri mengatakan, Susno nantinya akan diberi kepercayaan memimpin reserse Polri untuk melakukan penegakan hukum. Jabatan Kabeskrim kini lowong karena Bambang Hendarso diangkat menjadi Kapolri.

Jabatan Susno akan ditempati Irjen Pol Timur Pradoppo yang sebelumnya adalah Staf Ahli Kapolri. Jabatan Pradoppo digantikan Brigjen Pol Mathius Salempang yang sebelumnya adalah Karo Analisis Bareskrim Polri. Sementara posisi Salempang digantikan oleh Kombes Pol Didik Prihantono.

IMA 
Sumber : Antara

Martti, Juru Damai yang Sederhana


Oleh Budi Suwarna

Ruang kerja Martti Ahtisaari (71) di kantornya, Crisis Management Initiative atau CMI, sederhana saja. Di sana hanya ada seperangkat sofa dan meja kerja yang dipenuhi tumpukan buku dan kertas. Dari kantor yang sederhana di Helsinki, Finlandia, itu Martti bekerja untuk mendamaikan dunia. Hasilnya sungguh manis. Banyak konflik di dunia, termasuk konflik Aceh, bisa diakhirinya.

Mantan Presiden Finlandia yang pada hari Jumat (10/10) dianugerahi Nobel Perdamaian 2008 itu memang dikenal sebagai pribadi sederhana. Kompas dan TVRI sempat menyaksikan sendiri kesederhanaan Martti ketika menunggunya untuk sebuah wawancara khusus, di awal musim semi, September tahun lalu.

Pagi itu, sekitar pukul 10.00, waktu Helsinki, Martti keluar dari mobil sedannya yang dikemudikan sopir pribadi. Dia berjalan beberapa meter seorang diri sambil menenteng tas kulitnya yang tampak berat sebelum masuk ke kantornya, CMI. Sebagai seorang mantan presiden, tidak ada seorang ajudan atau sekretaris pribadi yang menyertainya.

Pemandangan ini berbeda dengan di Indonesia. Di sini, kita biasa melihat pejabat setingkat bupati pun dikawal ajudan atau sekretaris selama berkegiatan.

Kantor CMI juga sedikit banyak mencerminkan pribadi Martti. Kantor itu bertempat di sebuah gedung kuno dengan lift tua berpintu jeruji besi yang bunyinya berderit-derit jika dioperasikan. Lift itulah yang digunakan Martti untuk mencapai ruang kerjanya di lantai dua atau tiga. Di lantai itu hanya ada dua karyawan perempuan yang sedang bekerja.

Martti tidak membuat kami menunggu terlalu lama untuk wawancara. Sekitar 15 menit setelah dia masuk ke kantornya, Martti menerima kami dengan ramah. Gaya berbicara dan mimiknya datar ketika menjelaskan sesuatu, jauh dari stereotipe politisi yang seringkali berbicara dengan gaya meledak-ledak. Namun, mata Martti selalu tertuju pada lawan bicaranya.

Seperti penampilannya, pandangan-pandangan Martti tentang upaya perdamaian pun sederhana saja dan mudah dipahami semua orang. Dia berkeyakinan bahwa kemiskinan adalah sumber konflik sehingga untuk mengatasi konflik, warga dunia harus dibuat sejahtera dan terdidik.

Dia berkeyakinan semua konflik bisa diatasi. Dia juga yakin seorang mediator hanya perlu menyederhanakan masalah agar sebuah perundingan damai yang ditanganinya berjalan dengan sukses. ”Jangan membuat masalah menjadi lebih rumit. Anda harus bisa menyampaikan masalah mana yang penting untuk diselesaikan,” katanya.

Sesederhana itukah? ”Ya,” katanya. ”Meski proses perundingan tetap saja akan berliku-liku. Namun, setidaknya kami telah berusaha untuk membuat masalah tidak tambah rumit.”

Dia menambahkan bahwa seorang mediator juga harus pandai memilih pintu masuk untuk memulai sebuah negosiasi damai. Untuk kasus Aceh, Martti mengaku masuk dari isu otonomi khusus yang ditawarkan Pemerintah Indonesia.

”Kami kemudian meminta penjelasan apa makna otonomi itu untuk rakyat Aceh? Penjelasan itu kami sampaikan kepada pihak GAM,” ujarnya.

Dengan memilih pintu masuk yang tepat, lanjut Martti, dia bisa menghemat waktu perundingan. Hasilnya memang manis. Konflik Aceh yang telah berlangsung sekitar tiga dekade itu bisa diakhiri secara damai dalam tempo yang tidak terlalu lama.

Namun, dengan rendah hati Martti mengatakan, perdamaian di Aceh bukan semata karena perannya sebagai mediator, melainkan karena pihak-pihak yang bertikai memang ingin damai setelah terjadi bencana tsunami.

Selain di Aceh, Martti berhasil mengakhiri konflik di Namibia dan Kosovo. Dia juga ikut dalam upaya mengakhiri konflik di Irlandia dan Irak.

Karena perannya sebagai juru damai di berbagai lokasi konflik dunia, Martti dianugerahi Nobel Perdamaian 2008. Sebelumnya, awal bulan ini, dia juga mendapat penghargaan dari UNESCO karena telah membaktikan hidupnya untuk perdamaian.

Martti mengaku bekerja untuk proyek perdamaian dunia bersama PBB setidaknya selama 30 tahun. ”Saya telah bekerja bersama lima Sekjen PBB yang berbeda-beda sejak tahun 1977.”

Menjadi pengungsi

Martti lahir di Viipuri (wilayah tersebut kini bernama Vyborg dan masuk ke wilayah Rusia) pada 23 Juni 1937, tiga tahun sebelum Viipuri dianeksasi Uni Soviet. Sejak kecil, Martti telah merasakan susahnya hidup di tengah konflik dan perang.

Ketika itu Perang Dunia II merembet hingga tempat tinggalnya di Viipuri, Martti bersama ibunya, Tyyne, mengungsi ke Kuopio, wilayah timur di Finlandia. Sementara itu, ayahnya yang berprofesi sebagai pegawai negeri terlibat di garis depan pertempuran.

Martti dan ibunya kemudian ditampung sebagai pengungsi di sebuah komunitas petani selama beberapa bulan. Di Kuopio, dia menghabiskan hampir seluruh masa kecilnya.

Menurut Martti, pengalaman pahit masa kecilnya mungkin ada hubungannya dengan motivasinya yang besar untuk terlibat sebagai juru runding di wilayah konflik.

Meski demikian, Martti yang menguasai bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Swedia, dan Finlandia ini mengatakan bahwa dia sebenarnya tidak bercita-cita sebagai juru runding. Semua seakan mengalir begitu saja.

Martti memulai kariernya sebagai guru sekolah dasar. Martti bisa mengajar setelah mengambil pendidikan guru di sebuah universitas di Oulu pada tahun 1959. Dia juga sempat mengajar di Pakistan pada tahun 1960-an.

Tiga tahun kemudian, dia pulang ke Finlandia. Selanjutnya, dia aktif di organisasi-organisasi yang memberikan bantuan ke negara-negara berkembang.

Tahun 1965, dia bergabung dengan Departemen Luar Negeri Finlandia. Selama berkarier sebagai diplomat, dia menghabiskan waktu selama 20 tahun di luar negeri. Dia pernah menjadi duta besar di Tanzania, Mozambik, dan Somalia.

Tahun 1994, Martti terpilih sebagai presiden pertama Finlandia yang dipilih secara langsung. Di bawah kepemimpinannya, Finlandia bergabung dengan Uni Eropa.

Martti mengakhiri jabatannya sebagai presiden pada tahun 2000. Setelah lengser, Martti kembali terjun dalam kegiatan perdamaian dunia. Tahun 2005, dia ditunjuk sebagai Utusan Khusus PBB untuk masalah Kosovo.

Untuk menunjang kerjanya sebagai juru damai, dia membentuk CMI, sebuah organisasi independen nonpemerintah yang bertujuan mendukung dan memelihara perdamaian di sejumlah lokasi konflik. CMI berbasis di Helsinki, Finlandia.

Di luar kariernya sebagai diplomat, kehidupan Martti tidak banyak diulas media massa. Dia hanya disebutkan menikah dengan Eeva Irmeli Hyvärinen pada tahun 1968.

Dari perkawinannya itu, Martti memiliki seorang anak laki-laki bernama Marko Ahtisaari, yang berprofesi sebagai musisi dan produser.

Jumat, 10 Oktober 2008

Manajer PSIS Menyerang Wasit Pertandingan


KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA 

Manajer PSIS Semarang Yoyok Sukawi menyerang wasit Sunarjo Joko, yang memimpin pertandingan antara tuan rumah PSIS Semarang melawan PSMS Medan dalam pertandingan Djarum Liga Super Indonesia di Stadion Jatidiri, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (9/10). PSIS Semarang berkilah bahwa tindakan mereka lakukan karena merasa tidak puas terhadap kepemimpinan wasit Sunarjo Joko. Dalam pertandingan tersebut, kedua tim bermain imbang dengan skor 1-1.

Kamis, 09 Oktober 2008

Mahasiswa ITS Ciptakan Linux Tunanetra


By Republika Contributor
Selasa, 07 Oktober 2008 pukul 16:35:00 



SURABAYA -- Dua mahasiswa D3 Teknik Telekomunikasi Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ITS, Debi Praharadika dan Eko Wahyu Susilo, menciptakan komputer bersistem Linux yang dirancang khusus untuk tunanetra dalam bahasa Indonesia."Pembuatan sistem operasi Linux untuk orang buta itu membutuhkan perjuangan keras karena harus mulai dari nol dengan membuat algoritma sendiri, kemudian keyboard-nya juga khusus dengan tombol huruf braille," kata Debi di Surabaya, Selasa.

Secara garis besar, katanya, cara kerja Linux Tunanetra yakni mengomunikasikan hasil ketikan keyboard ke dalam format suara."Jadi, bila ada suatu naskah diketik dengan keyboard braille maka akan dihasilkan suara sesuai naskah yang diketikkan. Penanganan yang sama juga berlaku ketika komputer hendak dimatikan," katanya.

Namun, katanya, kendala membuat Linux Tunanetra adalah saat membangun database suara yang terdiri atas Natural Language Processing (NLP) dan Digital Signal Processing (DSP)."NLP merupakan kata yang dipotong-potong sesuai bahasa Indonesia. Kita harus merekam satu persatu konsonan, kemudian menggabungkannya sendiri hingga menjadi sebuah kata," ujarnya.

Oleh karena itu, ia berharap program yang diciptakannya itu bisa dimanfaatkan masyarakat luas, terutama kaum tunanetra yang sangat membutuhkan. "Ide untuk membuat terobosan itu bermula saat saya ditanya ibu yang kebetulan mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) Tunagrahita. Ibu bertanya, apakah ada komputer untuk kaum tunanetra," katanya.

Dari pertanyaan ibundanya itulah, Debi akhirnya berniat untuk membuat program Linux bagi tunanetra, kemudian dia mengajak Eko untuk mewujudkannya melalui Tugas Akhir (TA) mereka."Kami tak ingin mengomersilkan terobosan itu, karena itu kami memilih Linux sebagai alternatif," kata mahasiswa yang akan diwisuda pada 12-13 Oktober itu.

Dilindungi Genuine Public License (GPL), karya mereka dapat diakses secara gratis oleh masyarakat."Silakan saja kalau ingin memodifikasi, mengopi, dan menyebarluaskan program Linux tersebut," katanya.

Ia menambahkan, hasil "searching" internet sebenarnya sudah ada orang yang menemukan produk serupa, tapi penemuan itu hanya dalam bahasa Inggris."Saya yang mengurusi system user interface, sedangkan Eko yang mengembangkan text to speech dalam bahasa Indonesia," katanya.ant/kp

Presiden SBY Janji Iklankan Laskar Pelangi


KOMPAS.COM/DHONI SETIAWAN
SBY berbincang-bincang dengan (ka-ki) Andrea, Riri, dan Mira.


JAKARTA, KAMIS - Merasa tercerahkan setelah menonton film Laskar Pelangi arahan sutradara Riri Riza, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merasa perlu untuk ikut mempromosikan film yang diangkat dari karya novel best seller Andrea Hirata itu. Presiden Susilo berharap akan banyak orang yang akan menonton film tersebut sehingga ikut juga tercerahkan dan termotivasi setelah menonton film tersebut. 


"Laskar Pelangi merupakan karya seni berkualitas tinggi. Pesan akan pentingnya pendidikan disampaikan dengan jelas. Oleh karena itu saya akan ikut mengiklankan film ini, agar lebih banyak lagi yang menonton, bahkan hingga ke luar negeri," ujar Presiden Susilo usai menyaksikan film tersebut di Blitz Megaplex, Grand Indonesia, Rabu (8/10) malam. 

Makin banyaknya bermunculan film-film berkualitas yang syarat makna, Presiden Susilo berharap akan memicu kebangkitan ekonomi perfilman dan ekonomi kreatif di negeri ini. "Film nasional telah menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Dan semoga akan lebih banyak lagi orang-orang yang membuat film berkualitas," ujarnya. 

Sementara itu, Andre Hirata, penulis novel yang menjadi bagian dalam kisah tersebut, mengaku tak pernah menyangka kalau kisah hidupnya di masa lalu itu mendapat perhatian besar dari seorang presiden. "Saya senang mendapat apresiasi positif dari presiden. Enggak menyangka akan seperti ini. Karena pada awalnya novel ini bukan untuk difilmkan. Malah tadinya tidak untuk diterbitkan," ungkap Andrea. 

Bagi Andrea, waktu yang diluangkan Presiden Susilo untuk melihat kisah hidupnya dalam sebuah film merupakan momen yang luar biasa baginya. "Presiden membuat nilai-nilai dalam film ini lebih berarti. Dan membuat film Laskar Pelangi memiliki artikulasi yang lebih luas dari bukunya," puji Andrea. (C-03)

Bakal Makin Banyak Orang Kurang Gizi Akibat Krisis Global


By Republika Contributor
Kamis, 09 Oktober 2008 pukul 10:59:00 


WASHINGTON -- Harga bahan bakar dan makanan yang melambung akan menambah 44 juta orang yang kekurangan gizi, demikian laporan yang disiarkan Bank Dunia, Rabu.

Meskipun kenaikan harga bahan bakar dan makanan tak bergejolak dalam beberapa bulan belakangan, harga tetap jauh lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya dan memperlihatkan sedikit tanda penurunan mencolok, demikian antara lain isi laporan itu --yang diberi judul Rising food and fuel prices: addressing the risks to future generations. Jumlah kekurangan gizi di seluruh dunia akan menjadi 967 juta orang.

Keluarga miskin di seluruh dunia terus terdorong ke tebing kelangsungan hidup, sehingga jutaan anak mengalami kerusakan kesehatan yang tak dapat diperbaiki. Saat banyak keluarga mengurangi pengeluaran, juga terdapat resiko sangat besar bagi kondisi pendidikan anak-anak miskin.

"Meskipun perhatian rakyat di negara maju terpusat pada krisis keuangan, banyak orang lupa bahwa krisis kemanusiaan dengan cepat terurai di negara berkembang. Kondisi itu mendorong orang miskin ke tebing kelangsungan hidup," kata Presiden Bank Dunia Robert B. Zoellick.

Ia memperingatkan, "Krisis keuangan hanya akan menambah sulit negara berkembang melindungi rakyat mereka yang paling rentan dari dampak kenaikan harga bahan bakar dan makanan."

Laporan tersebut, yang direncanakan disiarkan Ahad untuk Komite Pembangunan dalam Pertemuan Tahunan Bank Dunia dan IMF, menekankan krisis bahan bakar dan makanan dapat memiliki dampak jangka panjang pada negara dan orang miskin.

Pada Mei, Bank Dunai meluncurkan program keuangan cepat bernilai 1,2 miliar dolar AS guna membantu negara miskin menanggulangi krisis makanan. Sejak itu, sebanyak 850 juta dolar AS telah disediakan untuk mendanai program pembenihan, penanaman pohon dan makanan.

Pada April, Zoellick menyerukan Kesepakatna baru bagi Kebijakan Pangan Global, yang meliputi tindakan jangka pendek, menengah dan panjang untuk memberi bantuan segera bagi petani dan orang miskin dan pada saat yang sama dilakukan peningkatan produksi makanan.- (ant/fif/ah)

Foto Ilustrasi: Corbis