Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 September 2014

Belajar Matematika, Belajar Soal Bangsa

Senin, 22 September 2014 | 21:49 WIB


KOMPAS.com ilustrasi


Oleh: Didit Putra Erlangga Rahardjo

Sebuah foto yang menampilkan halaman pekerjaan rumah seorang siswa sekolah dasar diunggah di akun Facebook milik Muhammad Erfas Maulana pada 18 September. Buku tersebut milik adiknya bernama Habibi yang tengah mengerjakan pekerjaan rumah terkait dengan perkalian, tetapi penuh dengan coretan tinta merah dan nilai 20. Artinya, jawabannya hanya benar dua dari 10 soal.

Dalam lembar tersebut terdapat pesan Erfas kepada guru adiknya, mempertanyakan alasan sampai harus menjatuhkan nilai 20. Penyebabnya, dia membantu mengajari adiknya menyelesaikan perkalian sederhana 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 dan dijawab 4 x 6 dan hasilnya 24.
Ternyata, oleh gurunya, perkalian tersebut dianggap salah dan seharusnya dijawab dengan 6 x 4.
Hal serupa terjadi di nomor- nomor selanjutnya, perkalian dari 6 + 6 + 6 + 6 + 6 + 6 + 6 yakni 6 x 7 kembali disalahkan, seharusnya memakai perkalian 7 x 6. Dua nomor yang benar karena kebetulan memakai angka yang sama, 4 x 4 dan 8 x 8.

Foto tersebut beredar secara luas. Dari akunnya saja sudah dibagi sebanyak 6.300 kali dan disebar hingga ke media sosial lain, seperti Twitter dan Path. Muncul perdebatan, sebagian mendukung Erfas yang mengajari adiknya untuk menggunakan jalan lain untuk mencapai hasil perhitungan, sedangkan ada pula yang menyalahkannya karena tidak tertib pada proses.

Seorang pengguna Twitter dengan akun @babyrany juga mengungkapkan pengalaman yang sama. Dia mengajari perkalian dengan cara yang sama yang dipakai Erfas dan menghadapi kejadian serupa, 4 x 2 sama dengan 4 + 4, tetapi dianggap salah, sementara jawaban yang diminta adalah 2 + 2 + 2 + 2.

Pendapat yang berbeda dilontarkan akun @OomYahya yang menyebut apa yang diajarkan para guru sebagai konsep dasar yang sudah banyak dilupakan. Dalam matematika, perkalian 3 x 7 adalah 7 + 7 + 7, bukan 3 + 3 + 3 + 3 + 3 + 3 + 3.

Senada dengan hal tersebut, akun @iwanpranoto milik ahli matematika dari Institut Teknologi Bandung, Prof Dr Iwan Pranoto, menjelaskan bahwa bentuk yang diminta para guru untuk mengajari para murid agar paham mengenai perkalian. Dia mencontohkan perkalian 3 x 4 di buku matematika sekolah di Singapura yang dijelaskan dengan "tiga buah empatan".

Namun, Iwan juga khawatir bahwa para guru salah dalam bertanya atau cara mengoreksi tugas. Apabila menanyakan hasil perkalian 3 x 4 tanpa instruksi lain, artinya sama saja membebaskan para anak untuk menjawab sesuai pengertian mereka.

"Pertanyaan guru seharusnya begini ’Jika 2 x 3 = 3 + 3, tentukan 3 x 4’. Jika dg pertanyaan ini anak jawabnya 3 + 3 + 3 + 3, barulah SALAHKAN," kicaunya.

Meskipun tampak sepele, lembar pekerjaan rumah Habibi bisa menjadi potret pendidikan di Indonesia. Masih banyak ditemukan dogma dan tidak membebaskan para murid untuk bernalar sendiri.


Editor : Laksono Hari Wiwoho
Sumber: KOMPAS SIANG

Ini Beda antara 4 x 6 dan 6 x 4 Menurut Profesor Lapan

Senin, 22 September 2014 | 22:19 WIB

komodomath.com Ilustrasi


KOMPAS.com — Urusan pekerjaan rumah seorang siswa menjadi perdebatan menarik di media sosial. 4+4+4+4+4+4, bila dinyatakan dalam perkalian, 6 x 4 atau 4 x 6?

Banyak yang berpendapat bahwa mengekspresikan 4+4+4+4+4+4 dalam perkalian menjadi 6 x 4 atau 4 x 6 sama saja. Toh hasilnya sama, begitu logikanya. Sebagian menganggapnya sebagai kebebasan bernalar.

Namun, profesor astrofisika dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, mengatakan, antara 4 x 6 dan 6 x 4 memang berbeda.

"Samakah 4 x 6 dan 6 x 4? Hasilnya sama, 24, tetapi logikanya berbeda. Itu adalah model matematis yang kasusnya berbeda. Konsekuensinya bisa berbeda juga," urai Thomas dalam akun Facebook-nya, Senin (22/9/2014).

Thomas menerangkan perbedaan 6 x 4 dengan 4 x 6 lewat sebuah soal cerita.

"Ahmad dan Ali harus memindahkan bata yang jumlahnya sama, 24. Karena Ahmad lebih kuat, ia membawa 6 bata sebanyak 4 kali, secara matematis ditulis 4 x 6. Tetapi, Ali yang badannya lebih kecil, hanya mampu membawa 4 bata sebanyak 6 kali, model matematisnya 6 x 4. Jadi, 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 = 6 x 4, berbeda konsepnya dengan 6 + 6 + 6 + 6 = 4 x 6, walau hasilnya sama 24," terang Thomas.

Lewat kasus ini, Thomas mengajak semua kalangan untuk memahami Matematika dengan logika, bukan menjadi generasi "kalkulator" yang sekadar tahu hasil.

"Dengan kemampuan berlogika, suatu kasus bisa dimodelkan dengan rumusan matematis sehingga mudah dipecahkan," ungkap Thomas.


Penulis: Yunanto Wiji Utomo
Editor : Yunanto Wiji Utomo

Perdebatan soal Angka 4 dalam Perkalian, 4 x 6 atau 6 x 4?

Senin, 22 September 2014 | 20:20 WIB
 
Yunanto Wiji Utomo (Ilustrasi)


KOMPAS.com — Media sosial Twitter dan Facebook sejak Minggu (21/9/2014) diramaikan oleh sebuah perdebatan Matematika, tepatnya tentang operasi perkalian.

Persoalan dimulai dari posting Muhammad Erfas Maulana, mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Universitas Diponegoro. Erfas yang membantu adiknya mengerjakan tugas Matematika mempertanyakan alasan guru menyalahkan jawaban sebuah soal.

Dalam soal tugas itu, guru meminta adik Erfas untuk menyatakan 4+4+4+4+4+4 dalam operasi perkalian.

Adik Erfas menuliskan jawaban bahwa 4+4+4+4+4+4 = 4x6. Jawaban itu, menurut Erfas, seharusnya benar. Namun, ternyata sang guru menyalahkan. Menurut guru, jawaban yang seharusnya adalah 6x4.

Karena posting Erfas, muncullah perdebatan seru di media sosial. Mana yang benar, 4x6 atau 6x4?

Saking serunya perdebatan, profesor Matematika dari Institut Teknologi Bandung, Iwan Pranoto, pun turut berkomentar. Ia memberi sedikit kultwit untuk menjelaskan permasalahan itu.

Menurut Iwan, 4x6 ataupun 6x4 sebenarnya sama. Namun, bisa saja salah bila dilihat dalam konteks tertentu.

Iwan memberi ilustrasi. Ia mencontohkan, bila pertanyaan guru adalah "Jika 2x3 = 3+3, tentukan 3x4", maka jawaban yang seharusnya adalah 4+4+4. "Jika dengan pertanyaan ini anak jawabnya 3+3+3+3, barulah salahkan," katanya lewat akun Twitter-nya.

Namun, Iwan mengungkapkan, bila pertanyaannya hanya 3x4, maka anak bisa menjawab 3+3+3+3 atau 4+4+4. Semuanya benar.

Dengan demikian, didasarkan pada pendapat Iwan, 4+4+4+4+4+4 bisa saja dinyatakan 4x6 atau 6x4 dalam operasi perkalian. Jawaban adik Erfas dalam tugas Matematika-nya seharusnya tidak disalahkan.

"Cara bertanya guru Matematika di Indonesia mungkin salah. Juga cara mengoreksinya salah," katanya.

Iwan mengatakan, saat ini dibutuhkan pembenahan sikap, budaya, dan cara berpikir guru Matematika. "Mengubah sikap guru Matematika yang luwes bernalar merupakan tantangan bagi institusi penyiapan guru kita, LPTK," ungkapnya.

Dalam Matematika, kata Iwan, tidak ada kebenaran, yang ada kesahihan. Jika penalaran sahih, maka bisa diterima walaupun kesimpulannya aneh.

Akar perdebatan Matematika ini bisa jadi adalah kebiasaan untuk hanya menerima pengertian tunggal, ditetapkan oleh penguasa. "Kita tak berdaya menentukan sendiri," kata Iwan.

Iwan menerangkan, tak cuma dalam perkalian. Dalam pembagian pun dikenal dua pengertian berbeda, misalnya, 125 ÷ 5 tentunya lebih cocok diartikan sebagai partisi. Sedangkan 125 ÷ 25 tentunya lebih cocok dinyatakan pengurangan berulang.


Penulis: Yunanto Wiji Utomo
Editor : Yunanto Wiji Utomo





Minggu, 31 Agustus 2014

Mahasiswa Australia Kunjungi Peternakan Domba dan Sapi di Cimaung





SOREANG, (PRLM).- Sejumlah mahasiswa dari Universitas Sturt Australia didampingi staf Kedutaan Besar Australia mengunjungi peternakan domba dan sapi di Desa Cipinang dan Cempaka Mulya, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Sabtu (30/8/2014). Mereka memantau secara langsung kondisi peternakan dan kesehatan hewan di lingkungan peternak.

Sepuluh mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Hewan dan Fakultas Peternakan Universitas Sturt memantau kandang domba dan sapi di kedua desa tersebut. Mereka juga berbincang dengan para peternak untuk mengetahui kondisi hewan ternaknya.

Salah seorang mahasiswa universitas tersebut, Maddy Reid (20) mengungkapkan, terdapat beberapa perbedaan signifikan antara ternak di Indonesia dan Australia. Ternak di Indonesia, menurut dia, lebih banyak dipelihara di kandang, sementara di Australia di alam bebas.

“Akses terhadap air di Indonesia untuk ternak juga cukup jauh. Kalau di Australia sangat mudah. Tapi soal kualitas, saya tidak bisa berkomentar. Soalnya, ini kondisinya berbeda,” katanya di Desa Cipinang, Kecamatan Cimaung.

Meski demikian, mahasiswa tingkat dua Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Sturt itu mengungkapkan, perbandingan kondisi ternak di Indonesia dan Australia akan menjadi pembelajaran untuk mengembangkan peternakan di kedua negara tersebut ke depan. Lebih dari itu, menurut dia, pertukaran pelajar antara Indonesia dan Australia tersebut diharapkan dapat meningkatkan perekonomian warga, khususnya di bidang peternakan dan kesehatan hewan di kedua negara itu.

Sekretaris Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia, Matt Duckworth menuturkan, kunjungan para mahasiswa ke peternakan di Bandung tersebut merupakan bagian dari proyek New Colombo Plan dari Pemerintah Australia. Selain itu, proyek yang sama juga digulirkan dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat dengan Pemerintah Australia sebagai salah satu donaturnya.

Tahun ini, sebanyak 90 mahasiswa Australia terlibat dalam proyek yang sama di Indonesia. Mereka mengunjungi sejumlah peternakan domba dan sapi di berbagai daerah di Indonesia.

“Tujuannya, untuk meningkatkan pola pengembangbiakan ternak dan juga kesehatan reproduksi ternak di kedua negara. Lebih jauh, ini juga menjadi peluang bisnis yang menjanjikan di kedua negara,” katanya.

Fasilitaror PNPM Kecamatan Cimaung, Dedi Kusnadi menambahkan, Desa Cipinang dan Cempaka Mulya merupakan dua daerah peternakan di Cimaung. Di kedua desa itu, menurut dia, ada beberapa kelompok peternak yang masing-masing beranggotakan sepuluh orang.

“Para peternak di kedua desa itu rutin mendapatkan bantuan dari PNPM. Salah satu donaturnya memang dari Australia,” ujarnya. (Cecep Wijaya-"PR"/A_88)

Rabu, 16 Juli 2014

Tahu, Kenapa Perusahaan Jepang "Kepincut" dengan Lulusan Indonesia?


Sabtu, 5 Juli 2014 | 15:31 WIB

M Latief/KOMPAS.com
Masih berdasarkan data Career Office APU, pada 2013 lalu tercatat sebanyak 355 perusahaan Jepang mendatangi APU untuk menggelar rekrutmen tenaga kerja first graduate.


 KOMPAS.com — Kantor Karier (Career Office) Ritsumeikan Asia Pacific University (APU) di Beppu, Jepang, menempatkan para pelajar Indonesia sebagai pelajar paling diincar perusahaan-perusahaan multinasional Jepang. Kemampuan bahasa Jepang dan Inggris para pelajar Indonesia dinilai sangat baik, sebaik kemampuan studi di bidang masing-masing. (Baca: Hebat... Pelajar Indonesia Paling Diincar Perusahaan Jepang!).

Berdasarkan data Career Office Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Jepang, tahun 2013, menunjukkan bahwa job placement rate untuk anak-anak Indonesia pada 2012 mencapai angka 100 persen, sementara pada 2013 lalu turun sedikit hanya 96,7 persen. Pada 2013, sebanyak 73 persen dari total pelajar asal Indonesia di APU pun tercatat paling aktif mencari pekerjaan.

"Jadi, persentase anak Indonesia yang mendapatkan pekerjaan di Jepang itu 65 persen, yang bekerja di Indonesia 17 persen, sedangkan sisanya yang 17,5 persen itu di negara lain atau melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi," kata Masako Posselius, Manager Career Office Ritsumeikan APU, di kantornya di Kampus APU, akhir Juni lalu.

Masih berdasarkan data Career Office APU, pada 2013 lalu, tercatat sebanyak 355 perusahaan Jepang mendatangi APU untuk menggelar rekrutmen tenaga kerja bagi mereka yang baru lulus. Kunjungan dan rekrutmen yang disebut dengan "On Campus Recruiting" itu kerap dijadikan kesempatan bagi para mahasiswa Ritsumeikan APU, khususnya mahasiswa tingkat III dan IV, untuk mulai merancang job hunting.

"Karena pada saat itu para mahasiswa hanya mulai fokus pada akhir masa studinya dan serius dengan aktivitas riset mereka untuk menyelesaikan studi. Sejauh ini, para alumnus dan perusahaan selalu puas dengan capaian anak-anak Indonesia yang mereka rekrut," kata Masako.

Menanggapi hal itu, alumnus Ritsumeikan APU, Ahmad Hadi Royani atau Royan, mengakui bahwa pengalaman berkomunikasi dengan mahasiswa dari berbagai negara di "kampus internasional" Ritsumeikan APU merupakan pengalaman sangat berharga. Dia sepakat bahwa karena bergaul itulah dia menjadi orang yang sangat percaya diri ketika masuk ke dunia kerja di Jepang.

"Pertama dari kemampuan bahasanya, orang Indonesia itu lebih unggul. Kedua, sebagai orang Indonesia, saya dianggap bisa masuk ke budaya orang-orang Jepang itu. Ketiga, kemampuan berkomunikasi orang-orang Indonesia sangat baik, mungkin bisa dibilang sangat luwes. Kita dianggap lebih mengerti perbedaan," ujar Royan, Sales dan Marketing Consultant di Michael Page International Japan, di Tokyo.  




M Latief/KOMPAS.com


Berdasarkan data Career Office Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Jepang, tahun 2013, job placement rate untuk anak-anak Indonesia pada 2012 mencapai angka 100 persen, sementara pada 2013 lalu turun sedikit hanya 96,7 persen.





Royan mengakui, semasa kuliah, pencapaian prestasi akademiknya terbilang biasa saja. Namun, dia termasuk anak yang aktif berorganisasi, menjadi volunter untuk bermacam kegiatan kampus, dan kerja sambilan. Dari situlah keluwesan bergaul, kemampuan berkomunikasi, dan kefasihan berbahasa terasah secara alami. (Baca: Saatnya... Kampus Jadi Ajang "Trial and Error" Bergaul di Dunia Internasional!).

"Secara langsung kita memang tidak dididik menjadi seperti itu karena semuanya berjalan alami ketika menuntut ilmu dan bergiat di kampus. Lingkungan kampus membuat kita seperti itu. Jadi, kalau ke sini cuma belajar, enggak akan dapat apa-apa," ujar Royan.

Track yang benar

Berdasarkan survei Carrier Office Ritsumeikan APU pada 2013 lalu, spesifikasi kebutuhan sumber daya manusia yang diinginkan perusahaan-perusahaan internasional Jepang tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan teknis (skill) dan potensi akademik. Lebih dari itu, beberapa variabel non-teknis (non-skill) sangat mereka butuhkan dari para sarjana lulusan perguruan tinggi (Sekali Lagi... Jangan Lupakan "Non-Skill"!).

"Kepemimpinan, kemampuan menemukan masalah, kemampuan mengeksekusi rencana, memberi inspirasi orang di sekitarnya, suka belajar dan memperbaiki diri, serta punya semangat kerja sama yang tinggi. Kriteria itulah yang utama," kata Dahlan Nariman, Vice Dean of Admission-Associate Professor Ritsumeikan Asia Pacific University (APU).

"Untuk akademik rata-rata GPA atau IPK anak Indonesia itu 3,00. Sementara itu, yang dianggap paling menonjol dari anak-anak Indonesia itu khususnya dari sisi non-akademik. Para mahasiswa Indonesia dinilai paling kreatif untuk urusan non-akademik dan selalu unggul dibanding anak lain," kata Dahlan.

Melihat kenyataan itu, Director Ritsumeikan Tokyo Office, Shiota Kuninari, mengaku sebelumnya tidak pernah terbayangkan bahwa lulusan Indonesia di APU akan seperti saat ini. Pada masa awal berdiri tahun 2000, banyak orang memandang sebelah mata pada APU dengan konsepnya yang dikenal dengan "konsep 50". Kini, ketika industri Jepang maju dan sangat membutuhkan SDM asing, salah satunya dari Indonesia, ia merasa APU sudah berada di track yang benar.

"Saya yakin bahwa APU sudah dijadikan model untuk internasionalisasi pendidikan tinggi di Jepang sehingga pemerintah pun kini mendukung banyak perguruan tinggi di sini untuk go international. Jepang agak terlambat dari segi persaingan global di bidang pendidikan, saya akui itu," ujar Shiota.

Ucapan jujur Shiota itu ternyata diperkuat oleh pernyataan alumnus Ritsumeikan APU lainnya, Taufan Hadi Pandusegoro. Semasa kuliah, Taufan mengaku dirinya tergolong mahasiswa "tukang main". Istilah "tukang main" adalah mahasiswa yang rajin berorganisasi atau melakukan bermacam kegiatan kampus dan biasa saja dalam prestasi akademik.

"Orang Jepang mengakui bahwa anak-anak Indonesia itu sosok yang rajin, stigma itulah yang sering muncul. Padahal, sejak kuliah kita memang sudah terbiasa bekerja, punya inisiatif ketika ada sebuah masalah di keorganisasian. Jadi, kita memang sudah terbiasa, dan ketika masuk ke dunia kerja, itu bukan masalah lagi," kata Taufan, Production Planner di Fujitsu Ltd di Kawasaki, Jepang.


 
M Latief/KOMPAS.com
 Istilah tukang main adalah mahasiswa yang rajin berorganisasi atau melakukan bermacam kegiatan kampus dan biasa saja dalam prestasi akademiknya.


 Taufan menuturkan bahwa sebetulnya banyak perusahaan di Jepang yang secara budaya perusahaan belum terhitung sebagai perusahaan global. Bisa dikatakan, perusahaan-perusahaan itu masih dalam tingkat menuju global, meskipun termasuk perusahaan berskala besar.

"Orang Jepang itu kalau mau melakukan sesuatu yang baru sangat lama berpikirnya, itu karakter mereka. Itulah sebabnya, banyak perusahaan Jepang memilih merekrut lulusan asing atau mahasiswa internasional seperti anak Indonesia untuk bekerja di perusahaan mereka, ketimbang lulusan Jepang. Kita diharapkan bisa mengubah budaya kerja di perusahaan mereka. Jadi, banyak kesempatan terbuka luas untuk anak-anak Indonesia yang ingin berkarya," kata Taufan.



Penulis: Latief
Editor : Latief


Sabtu, 10 Mei 2014

Harvard Akan Berlakukan 'Sumpah Kejujuran'

Untuk tidak Berbuat Curang

 




HARVARD, (PRLM).- Universitas Harvard akan memperkenalkan kode etik kejujuran yang mewajibkan para pelajar berjanji untuk tidak berbuat curang dalam kegiatan belajar.
Ini merupakan pertama kalinya universitas bergengsi di Amerika Serikat ini meminta pelajarnya untuk membuat komitmen publik agar tidak melakukan plagiarisme atau menyontek dalam tugas atau ujian.

Pada 2012, Harvard pernah menghadapi skandal menyontek terbesar di ujian akhir, dan sejumlah mahasiswa yang terlibat dikeluarkan.

Dikenal dengan nama "kode kehormatan", aturan ini sebetulnya bukan hal baru dan sudah dilakukan disejumlah universitas AS untuk meminimalisir aksi menyontek.

Harvard sebelumnya tidak menjadikan kode ini sebagai syarat, tetapi Fakultas Seni dan Ilmu Pengetahuan sudah memutuskan untuk memperkenalkannya dan membuat semacam dewan untuk mengawasi.

Kode ini akan memuat bahwa berbuat curang, plagiarisme, dan ketidakjujuran akademik, atau kekeliruan merepresentasikan ide atau bahasa yang dimiliki oleh orang lan akan menjadi pelanggaran dari standar komunitas.

Pengajuan kode etik baru ini berarti pelajar di Harvard mulai tahun 2015 sudah harus menyetujui "penegasan integritas".

Namun bagaimana janji ini diucapkan dan seberapa sering siswa akan diwajibkan untuk membacanya masih akan diputuskan kemudian.

Harvard, seperti juga sejumlah universitas lain di dunia, tengah menghadapi tantangan untuk mencegah siswa menyalin informasi dari internet dan bagaimana sebuah materi bisa dikutip dengan legal.(bbc/A-147)***

Senin, 09 September 2013

Bongkar Pendidikan Tinggi Kita

Jumat, 30 Agustus 2013 | 10:05 WIB
 

Ilustrasi | Shutterstock

Oleh: Terry Mart

Tulisan Hendra Gunawan (Kompas, 19/8) sangat menarik dan patut disimak semua insan yang terlibat dalam kegiatan pendidikan tinggi.

Hendra mengupas fakta kerdilnya perguruan tinggi (PT) kita dibandingkan dengan PT di negara jiran sekalipun; jangan dulu dibandingkan dengan PT di negara maju. Rayap-rayap kecil di bawah tanah yang sulit terlihat telah menggerogoti akar PT kita sehingga sulit tumbuh meski sudah dirawat dengan perhatian penuh dan penanganan khusus.

Beberapa PT kita sudah berusia lebih dari 50 tahun, tetapi pertumbuhan mutunya tak normal. Karena PT bukanlah pohon yang sembarang dapat ditebang dibuang begitu saja, satu-satunya jalan, ya, membongkarnya.

Jelas dari paparan Hendra, solusi harus radikal, sampai ke akar. Jika tidak, program insentif, hibah, akreditasi, dan sertifikasi tak akan pernah menumbuhkan pohon PT kita sebagaimana pohon di negara tetangga atau di negara maju. Hendra memaparkan delapan masalah. Saya hanya membahas tiga yang urgen: sistem, kualitas dosen, dan dana yang bermuara pada riset di PT.

Benar bahwa semuanya berawal dari sistem perguruan tinggi kita yang kurang/tidak berbasis merit. Sistem perekrutan dosen, sistem penilaian kinerja, hingga sistem kepangkatan kita terlalu manusiawi: beberapa dosen PTN masih tetap menikmati gaji meski hanya datang ke kampus satu-dua kali seminggu. Tak perlu mati-matian riset, asal ada satu-dua di antara berkas yang diajukan terindeks Scopus, seorang dosen dapat menjadi profesor. Di negara maju betapa sulit memperoleh posisi profesor di PT sana.

Mental amtenar

Ada benarnya bahwa kualitas dosen kita rendah karena sistem perekrutan dosen kita tak pernah diperbaiki sejak tempo dulu. Kualitas dosen PTN seharusnya lebih tinggi dari yang lain, tetapi mental amtenar sudah menjelma menjadi salah satu rayap tadi. Meski mengamini ihwal ini, saya masih yakin bahwa cukup banyak dosen kita berkualitas mumpuni untuk bersaing di dunia internasional. Buktinya, banyak dosen kita yang menamatkan S-3 di PT papan atas negara maju dengan hasil riset yang bahkan mencengangkan koleganya di sana. Sayangnya, pembusukan akademis selama puluhan tahun di Tanah Air telah menurunkan kualitas kebanyakan mereka hingga hampir mencapai titik nadir.

Cerita tentang dana riset PT membosankan, tetapi tetap mengherankan mengapa hingga kini pemerintah tak berambisi berinvestasi besar-besaran di PT? Mestinya pemerintah berani karena, jika tidak, PT kita akan makin jauh ketinggalan dari PT di Singapura, Malaysia, Thailand, bahkan Vietnam (”Antara Langit dan Bumi”, Kompas 24 November 2011).

Pemerintah harus berupaya memberi otonomi seluas-luasnya kepada PTN meski bagi sekelompok orang di republik ini, otonomi sudah masuk barang haram karena diterjemahkan dengan kamus yang tak tepat. Sebenarnya tanpa otonomi, PTN akan terus dibebani para amtenar yang menuntut lebih banyak hak dibandingkan dengan menunaikan kewajiban. Dengan otonomi, PTN ditantang membuat sendiri sistem yang sehat, berbasis merit yang dituntut Hendra, yang tidak mengizinkan hidupnya rayap-rayap tadi.

PTN, misalnya, dapat langsung menghukum dosen yang malas atau memberi jabatan profesor untuk yang berprestasi tanpa harus menunggu izin pemerintah. Sistem berbasis merit ini rasanya sulit diciptakan secara nasional karena disparitas mutu PT di Tanah Air yang sangat lebar.

Harus diakui bahwa bukan hanya PTS yang melakukan bisnis pendidikan. PTN pun turut mengais rezeki. Meski bisnis ini halal selama tidak menzalimi orang, kegiatan ini harus dikurangi agar PT mulai berorientasi kepada riset. Tingginya kegiatan pendidikan di PTN yang terlihat dengan tingginya aktivitas para dosen, baik dalam kelas maupun dalam pembuatan perangkat pendidikan, jelas mengindikasikan kelalaian pada riset. Jumlah mahasiswa sarjana dan pascasarjana yang berimbang merupakan syarat mutlak perbaikan kualitas PT, asalkan program pascasarjana tersebut berbasis riset.

Tidak ada pilihan lain, kecuali dosen yang direkrut adalah lulusan terbaik yang ada. Dosen yang direkrut haruslah berjenjang S-3 sehingga dapat langsung masuk ke dunia riset di kelompoknya. Apabila masih S-1 atau S-2, kemungkinan yang bersangkutan pindah bidang sewaktu studi S-3 sehingga menyulitkan pengembangan kelompok riset yang sudah ada.

Dosen yang periset

Perekrutan harus langsung melibatkan departemen bahkan kelompok riset karena hanya mereka yang lebih tahu bidang dan dengan kualifikasi apa seorang pelamar bisa diterima. Harus ditekankan, seorang dosen adalah juga periset sehingga pelamar yang tak berbakat riset hanya akan merepotkan PT di belakang hari. Jadi, perekrutan melalui sistem pegawai negeri seperti yang berlaku saat ini jelas tak tepat. Di sini otonomi PTN mutlak perlu.

Profesor yang sebenarnya adalah profesor paripurna yang sudah didefinisikan dalam UU No 14/2005 tentang Guru dan Dosen (Pasal 49 Ayat 3 dan 4). Meski memiliki ribuan kum, profesor yang ada saat ini belum tentu profesor sebenarnya dan mungkin harus direposisi ke jabatan profesor asosiasi atau madya.

Untuk mendapatkan jabatan paripurna, profesor harus dinilai ulang atau harus melakukan penelitian lebih giat lagi untuk memenuhi tuntutan ayat 3 yang mensyaratkan pengakuan internasional sehingga posisinya jelas setara dengan posisi profesor di negara maju dan dampaknya jelas signifikan dalam menaikkan kualitas PT.

Profesor adalah jabatan, bukan hadiah atau gelar. Yang berhak mendapat jabatan itu ialah mereka yang mampu mengemban tugas jabatan. Pikiran bahwa profesor adalah hak bagi mereka yang telah memiliki sejumlah kum tertentu jelas akan terus mengerdilkan PT.

Pada akhirnya rekomendasi di atas tak dapat dijalankan jika tak ada komitmen pemerintah berinvestasi besar-besaran dalam dunia riset PT. Riset di PT butuh dana sangat besar. Tak semua menghasilkan produk hilir yang langsung dinikmati masyarakat.

Memanggil lulusan terbaik jadi dosen tak mudah jika insentif dan fasilitas yang ditawarkan tak menarik. Namun, dengan PDB lebih dari Rp 1.500 triliun rasanya tak mustahil mewujudkan hal ini. Lagi pula, apa mungkin kita dapat memancing ikan paus dengan umpan ikan teri seperti yang selama ini kita lakukan?


Terry Mart, Pengajar Fisika FMIPA UI
Sumber : KOMPAS CETAK
Editor : Caroline Damanik

Rabu, 17 Juli 2013

Riset Kepariwisataan Dunia dalam Literatur

PROGRAM STUDI

 Selasa, 16 Juli 2013 | 14:43 WIB

 
Baru sejak 1940-an, pariwisata diupayakan oleh sejumlah akademisi dan peneliti untuk diajarkan di universitas-universitas, yang melahirkan definisi-definisi dan teori-teori kepariwisataan serta berbagai penelitian kepariwisataan. | shutterstock.com

 

 Oleh Teguh Amor Patria A.Par, PGDip, MPPar

KOMPAS.com - Belum banyak tulisan sengaja dibuat untuk meninjau perkembangan riset kepariwisataan di dunia, terutama yang dipublikasikan di Indonesia, baik yang ditulis dalam Bahasa Indonesia maupun hasil terjemahan dari bahasa lain. Begitu juga halnya dengan jurnal, walau sudah banyak dipublikasikan di Indonesia, tetapi belum ditemukan satu jurnal yang membahas perkembangan riset kepariwisataan.

Berdasarkan hal itu, tulisan ini sengaja mengangkat dinamika riset kepariwisataan di dunia. Harapannya agar dapat menjadi dasar serta mendorong penulisan yang lebih mendalam tentang topik serupa di masa mendatang.

Penelitian kepariwisataan baru berkembang pada awal abad ke-20 di Eropa. Hingga tahun 1930-an, pariwisata masih dicermati dan dikaji melalui kacamata ilmu-ilmu tradisional lainnya yang lebih tua, lebih berkembang, dan diakui masyarakat luas, seperti ilmu ekonomi, ilmu sosial, ilmu budaya, ilmu geografi, dan lain sebagainya.

Baru sejak 1940-an, pariwisata diupayakan oleh sejumlah akademisi dan peneliti untuk diajarkan di universitas-universitas, yang melahirkan definisi-definisi dan teori-teori kepariwisataan serta berbagai penelitian kepariwisataan. Upaya tersebut baru membuahkan hasil di awal milenium ini, dengan ditetapkannya pariwisata sebagai suatu keilmuan mandiri.

Dari lima literatur (textbook) yang digunakan untuk penulisan ini, semuanya diterbitkan dalam periode waktu relatif baru, yaitu antara 1989 hingga 2006. Hal ini disebabkan masih relatif barunya serta masih langkanya sumber-sumber tertulis yang mengangkat tentang dinamika riset kepariwisataan di dunia. Selain itu, data tentang dinamika riset kepariwisataan masih sangat terbatas.

Dibandingkan dengan bahasan-bahasan lain, seperti aspek-aspek perencanaan dan pengelolaan kepariwisataan, bahasan tentang riset kepariwisataan masih sangat kecil lingkupnya dalam buku-buku teks tentang kepariwisataan. Perbedaan tahun penerbitan buku-buku yang digunakan untuk tulisan ini tidak mencerminkan perkembangan riset kepariwisataan secara kronologis. Masing-masing buku menjelaskan periode waktu dan bahasan tentang riset kepariwisataan masing-masing.

1. Tahun 1989 (Tourism Development-Second Edition (Pearce, Addison Wesley Longman Limited)
Buku ini diterbitkan di Inggris sehingga pemikiran-pemikiran dan studi-studi kasusnya banyak mencerminkan apa yang terjadi di Inggris. Sekedar catatan, kepariwisataan modern lahir pertama kali di Inggris pada abad ke-16 dengan lahirnya the Grand Tourserta dilanjutkan oleh tur terorganisir (organized tour) yang digagas Thomas Cook pada abad ke-19. Hal ini menjadikan Inggris sebagai salah satu negara kiblat riset dan edukasi kepariwisataan terkemuka di dunia.

Beberapa point penting dari buku ini adalah:
- Pariwisata semakin berkembang menjadi sebuah topik penelitian bagi para peneliti dari berbagai disiplin ilmu selama dua puluh tahun terakhir (1970-an dan 1980-an), namun belum diterima secara luas sebagai sebuah ilmu tersendiri. Pariwisata dipandang sebagai sebuah topik yang merupakan bagian dari ilmu geografi, ekonomi, manajemen, sosiologi, antropologi, dan lain-lain.

- Pearce (1979) mengidentifikasi enam area sebagai topik penelitian pariwisata dari ilmu geografi, yaitu pola spasial sediaan (supply spatial pattern), pola spasial permintaan (demand spatial pattern), geografi resor (resort geography), analisis pergerakan dan alur wisatawan (tourist movement and flow analysis), dampak pariwisata (tourism impacts), dan model kawasan wisatawan (tourist destination model). Di tahun-tahun berikutnya (awal 1980-an), muncul topik-topik lebih variatif di sejumlah negara di dunia.

- Dalam ilmu ekonomi, manajemen, dan pemasaran, penelitian yang berhubungan dengan kepariwisataan muncul lebih awal dibanding yang terjadi dalam ilmu geografi (1970-an), namun dalam dekade berikut kemunculannya tidak menunjukkan perubahan signifikan. Kontribusi terhadap penelitian kepariwisataan dari sisi ekonomi dilakukan oleh Gray (1982), yang mengangkat topik pengukuran, analisis biaya-manfaat, alokasi sumber daya, dan pemanfaatan barang-barang publik dalam pengembangan kepariwisataan.


- Dalam sosiologi kepariwisataan, Cohen (1984) mengidentifikasi delapan pandangan sosiologis terhadap pariwisata, yaitu pariwisata sebagai sebuah bidang jasa yang dikomersialkan, perjalanan yang didemokratisasikan, sebuah bentuk kegiatan waktu luang yang modern, sebuah variasi modern dari ziarah tradisional, sebuah pengungkapan tema-tema kebudayaan dasar, sebuah proses bersifat akulturatif, sebuah bentuk dari hubungan-hubungan etnis, dan sebuah bentuk neokolonisasi.

Cohen juga membagi empat isu prinsip, yaitu wisatawan, hubungan antara wisatawan dan penduduk lokal, struktur dan pemfungsian sistem kepariwisataan, dan konsekuensi pariwisata. Menurut Graburn (1983), para ahli antropologi telah berfokus pada studi tentang dampak-dampak pariwisata terhadap penduduk lokal dan juga terhadap studi tentamg wisatawan itu sendiri.

- Dari semua penelitian di tahun 1970-an dan 1980-an, topik mengenai dampak pariwisata terhadap berbagai aspek sesuai latar belakang peneliti adalah yang paling banyak muncul.

2. Tahun 1995 (Tourism Analysis-A Handbook (Smith, Addison Wesley Longman Limited)
Sama seperti buku pertama, buku ini juga diterbitkan di Inggris. Dalam salah satu sub-bab-nya, buku ini membahas sedikit tentang riset kepariwisataan, dengan beberapa point sebagai berikut:

- Melihat riset pariwisata melalui berbagai perspektif, yaitu human experience, social behavior, geographic phenomenon, resources, business, industry, dan intellectual debate.

-
Melihat isu-isu kontemporer dalam riset kepariwisataan.

- Meninjau tantangan-tantangan dalam riset kepariwisataan, seperti kurangnya pengukuran yang dapat dipercaya untuk menjelaskan ukuran dan dampak pariwisata, keberagaman industri pariwisata sehingga menimbulkan pertanyaan apakah pariwisata merupakan sebuah industri tersendiri atau gabungan atas industri-industri terkait, kompleksitas spasial dan wilayah, dan tingginya tingkat fragmentasi.

3. Tahun 2004 (Tourism Management–3rd Edition (Leiper, Pearson Education Australia)
Buku yang diterbitkan di Australia ini ditulis oleh Leiper, salah satu penulis ternama di bidang kepariwisataan yang terkenal dengan model Sistem Pariwisata dari sisi spasial-nya. Buku ini pada umumnya membahas manajemen kepariwisataan yang bersifat komprehensif. Riset kepariwisataan merupakan satu topik yang dibahas dalam salah satu sub-bab-nya, dengan point-point sebagai berikut:

- Riset kepariwisataan dimulai 90 tahun yang lalu.

- Sekitar tahun 1910, Picard dan von Scullard memerhatikan dampak ekonomi yang dihasilkan wisatawan, yang kebanyakan berasal dari Jerman dan Inggris, di Austria dan Swis dan mulai melakukan penelitian.

- Pada 1930-an, sekelompok akademisi membentuk tim pertama yang tertarik untuk mempelajari pariwisata dari berbagai sudut pandang, seperti sosiologi, antropologi, dan ekonomi. Belum ada studi tentang gambaran keseluruhan, namun apabila digabungkan, penelitian-penelitian itu menghasilkan suatu pandangan yang komprehensif dan menyeluruh.

- Tahun 1940, didasari keyakinan dan keinginan untuk menjadikan pariwisata sebagai sebuah subjek di universitas-universitas, mendorong dua profesor di Universitas Berne untuk menciptakan definisi pariwisata secara formal.

- Tahun 1962, the Journal of Travel Research diterbitkan Universitas Boulder, Colorado, AS, sebagai yang pertama dalam hal riset berbasis statistik.

- Pada 1960-an, sebuah program edukasi dan riset pariwisata diluncurkan di Universitas Michigan, AS, di mana Robert McIntosh menulis teks utama pertama di tahun 1972.

- Tahun 1973, Jafar-Jafari mendirikan Annals of Tourism Research di Universitas Wisconsin-Stout, yang menggabungkan beberapa disiplin ilmu.

- Di awal 1970-an, Universitas Surrey di Inggris merupakan pionir dalam program studi pariwisata. Selain itu, universitas ini juga mempublikasikan buku teks yang berpengaruh berjudul Tourism Management.

- Tiga jurnal yang disebut di atas, Journal of Travel Research, Annals of Tourism Research, dan Tourism Management, saat ini dianggap sebagai tiga riset pariwisata utama di dunia.

- Di tahun 1980-an dan 1990-an pariwisata telah menjadi tema riset dan pendidikan di banyak universitas dan kampus di seluruh dunia. Selain itu, banyak juga lembaga kursus yang menyediakan pendidikan keterampilan keterampilan.


- Buku ini juga menyebutkan tentang empat sumber bagi pembelajaran pariwisata, yaitu pengalaman seorang layperson, pengalaman kerja, pelatihan keterampilan, dan riset dan edukasi akademis. Buku itu juga menyebutkan karakteristik keempat sumber itu.

- Buku ini juga menyebutkan tentang tujuan riset dan pendidikan pariwisata.

4. Tahun 2006 (Tourism A Modern Synthesis (Page and Connell, Thomson, London)
Seperti buku ketiga di atas, buku ini juga diterbitkan di Australia dan pada umumnya membahas mengenai manajemen kepariwisataan yang bersifat komprehensif. Riset kepariwisataan merupakan satu topik yang dibahas dalam salah satu sub-bab-nya, dengan point-point sebagai berikut:

- Pariwisata kini sudah dianggap sebagai sebuah subjek studi akademik secara serius.
- Sebelum tahun 1980-an, studi pariwisata dipandang oleh banyak akademisi dan analis sebagai suatu subjek yang dangkal (superficial) dan kurang berharga, tidak seperti subjek-subjek lain seperti sejarah, ekonomi, dan politik. Pariwisata sering dianggap sebagai sebuah subjek pada tingkatan praktisi yang diajarkan untuk pada craft level.

-
Pada 1990-an, hal tersebut berubah. Saat ini, pariwisata diajarkan di banyak sekolah, kampus, politeknik, dan universitas di seluruh dunia, dengan berbagai kualifikasi mulai darilevel sertifikat hingga PhD, dan menjadi dewasa sebagai sebuah subyek.

- Buku-buku teks yang telah membantu pendewasaan pariwisata saat ini kebanyakan ditulis dan diterbitkan pada tahun 1980-an hingga awal 1990-an (walau ada sejumlah kecil di tahun 1970-an dan di awal milenium).

- Buku ini juga menyebutkan tentang Annals of Tourism Research, Tourism Management, dan Journal of Travel Research yang memunculkan pariwisata sebagai sebuah subjek yang serius di tingkat vokasi, sarjana, dan pascasarjana di seluruh dunia.

- Saat ini, edukasi pariwisata dilengkapi dengan kemajuan teknologi, seperti Travel Trade Gazette dan sumber berita kabel seperti TravelMole (www.travelmole.com) di mana temuan-temuan riset juga dipublikasikan. Buku-buku teks pariwisata disebutkan sebagai media penting bagi diskusi tentang pariwisata, konsep, dan pengembangannya.

- Buku-buku teks pariwisata yang tersedia ditulis melalui persepsi Amerika (Mathieson and Wall, 1982; Mill and Morrison, 1985; Murphy, 1985), Eropa (Foster, 1985; Cooper et al. 2005) atau Australasia (Pearce, 1995; Hall at al, 2003) atau Asia (Hall and Page, 2000) dan negara-negara berkembang atau masyarakat asli (Hall dan Page, 1996).

5. Tahun 2006 (Tourism Management–Third Edition (Weaver and Lawton, 2006)
Buku ini diterbitkan di Inggris dan pada umumnya membahas tentang manajemen kepariwisataan bersifat komprehensif. Riset kepariwisataan merupakan satu topik yang dibahas dalam salah satu sub-bab dengan point-point sebagai berikut:

- Pada umumnya, buku ini melihat hambatan-hambatan perkembangan pariwisata sebagai sebuah ilmu, indikasi perkembangannya, urutan platform pariwisata, dan pendidikan tinggi.

- Hambatan-hambatan perkembangan pariwisata mengulas tentang pariwisata yang dipandang sebagai sebuah aktifitas trivial (dangkal), pariwisata skala besar sebagai kegiatan kekinian, pariwisata yang dipandang sebagai studi vokasi, kurangnya definisi yang jelas dan data yang dapat dipercaya, kurangnya teori-teori asli atau tradisi akademis yang kuat.

- Indikasi perkembangan mengulas tentang perkembangan pariwisata dalam sektor universitas, perkembangan jumlah jurnal-jurnal referensi.

- Urutan platform pariwisata meninjau advocacy, cautionary, adaptancy, dan knowledge-based.

- Menjelaskan bagaimana pariwisata sering termarjinalisasi dari disiplin-disiplin lainnya di tahun 1980an, namun kini semakin (walau belum sepenuhnya) dianggap sebagai sebuah keilmuan yang penting.

(Penulis adalah Research Coordinator Hotel Management Department di Binus University)

"Bergabunglah dengan komunitas kelas dunia: www.binus.ac.id

Editor : Latief

 

 

Minggu, 19 Mei 2013

Masjid Lautze, Ekspresi Beribadah Muslim Tionghoa

Oleh: Agus Tri Haryanto-Job
Syiar - Jumat, 8 Februari 2013 | 06:45 WIB
 
Masjid tak harus berdiri megah. Yang utama dari mesjid adalah bisa jadi tempat khusus beribadah. Itulah kesan yang menyeruak dari Masjid Lautze 2. 

 INILAH, Bandung - Masjid tak harus berdiri megah. Yang utama dari mesjid adalah bisa jadi tempat khusus beribadah. Itulah kesan yang menyeruak dari Masjid Lautze 2 di Jalan Tamblong No 27, Kota Bandung.
 
Jika anda ingin melihat masjid yang dibuat etnis Tionghoa, datanglah ke Masjid Lautze 2. Masjid ini memang memiliki keunikan tersendiri dibanding masjid lainnya.

Berdiri sejajar dengan deretan ruko, masjid itu tampak berbeda dengan warna merah mencolok di bagian dindingnya. Dengan desain mirip bangunan kelenteng ini, tak ada yang menyangka kalau tempat tersebut adalah sebuah tempat peribadatan bagi orang Islam.

Sekilas, memang bangunan tersebut tidak tampak sebagai sebuah masjid. Tapi, dengan papan nama bertuliskan ‘Masjid Lautze 2’ memastikan bahwa bangunan tersebut adalah masjid.

Kalau umumnya masjid dibuka setiap waktu salat, Masjid Lautze hanya buka pada waktu-waktu tertentu saja. Dari hari Ahad sampai Jumat, masjid ini hanya buka dari jam sembilan pagi hingga jam empat sore. Jadi pada hari-hari tersebut, masjid ini hanya punya dua waktu salat yaitu Zuhur dan Asar.

Berawal dari tokoh muslim keturunan Tionghoa yang ingin menyediakan tempat untuk salat, Masjid Lautze pun dibangun. “Tahun 1991, Pak Haji Karim Oei yang mendirikan Yayasan Haji Karim Oei (YHKO) di Jalan Lautze no. 89 di Jakarta,” ungkap Jesslyn, Humas Lautze 2.

Nama Lautze sendiri diambil dari nama jalan yang ada di Jakarta, tempat masjid pertama berdiri. “Kala itu, masyarakat sekitar kalau mau salat, yuk kita ke Masjid Lautze, sebetulnya itu nama jalan. Dari itu kita, brand-lah menjadi nama masjid,” jelas Jesslyn.

“Dengan visi dan misi sebagai pusat informasi Islam bagi etnis Tionghoa, enggakmungkin kan hanya ada di Jakarta. Maka dari itu salah satunya kami dirikan juga di Bandung,” imbuh wanita yang senang mengajar privat bagi anak-anak.

Tidak hanya untuk tempat aktivitas beribadat, Masjid Lautze 2 juga mempunyai sejumlah perpustakaan mini di lantai dua. Selain itu,terdapat juga tempat untuk mengaji, mengajar anak-anak, tempat berkonsultasi, dan di depannya terdapat toko.

Masjid Lautze 2 dibangun pada tahun 1997 dan ada perombakan tahun 2007. Dari segi ornamen yang ada di tempat beribadat tersebut, merupakan hasil kreasi Umar Widagdo dari ITB. Hasilnya warna merah mendominasi eksterior, interior, dan lampu bernuansa Cina.

Walau masjid ini didirikan oleh etnis keturunan Tionghoa, namun masjid yang dulu disebut masjid tanpa kubah ini terbuka untuk umum. “Yang sering datang ke sini itu warga pribumi. Malah warga Braga mengakui kalau masjid ini adalah masjid mereka,” tutur Jesslyn.

Mengenai perayaan Imlek Minggu (10/2/2013) ini, Jesslyn mengatakan kalau seseorang sudah berkonvensi menjadi Islam tidak ada sembahyang yang erat dengan ritual kepercayaan. “Tapi ketika kita mau silaturahmi, ketika kumpul keluarga datang saja,” jelasnya. [den]
 

Kamis, 18 April 2013

Hentikan UN Tahun Depan

Diabaikan, Putusan MK UN Bertentangan UU Sisdiknas

 
BANDUNG, (PRLM).- Ketua Umum Persatuan Guru dan Dosen Swasta (PGDS) Republik Indonesia Drs. Sali Iskandar mengatakan UN seharusnya untuk tahun depan dihentikan. Terlebih dengan berbagai permasalahan dalam pelaksanaan UN tahun ini seolah menjadi tsunami pendidikan bagi siswa dan guru khususnya secara psikologis.

Selain itu juga mengacu dalam UU Sistem Pendidikan Nasional No 20/2003 pasal 57 dan 58 bahwa untuk meluluskan peserta didik dilakukan oleh guru. Sementara UN landasannya tidak jelas.

"Kami ingin Presiden SBY mengevaluasi kinerja Mendikbud dengan penyelenggaran UN bukan sekarang saja bermasalah. Padahal putusan MK sudah mengatakan UN sudah bertentangan tapi tetap saja pemerintah melaksanakan UN," kata Sali di Bandung, Rabu (17/4/13).

Dia mengkhawatirkan jika permintaan massa untuk meniadakan UN tidak digubris maka dapat mendatangkan gelombang protes massa yang besar. Dampaknya tidak hanya pada bidang pendidikan tapi juga sosial dan ekonomi. Meskipun begitu, dia meminta agar aspirasi massa disampaikan ke DPR hingga Presiden tanpa perlu melakukan protes besar-besaran.

"Tuntutan utama kalau pemerintah tidak mengeluarkan kebijakan UN dihentikan dikhawatirkan akan ada protes besar. Kalau tidak ditanggapi bagaimana jika guru se- Indonesia mogok. Ini gawat bukan hal sepele," ujarnya. (A-208/A-88)***

Kamis, 11 April 2013

Firman Azhari, Penemu Aplikasi NFC Inspector

Mahasiswa ITB Juara Kaspersky Academy




Hanya butuh sentuhan halus untuk memindahkan data kartu prabayar ke tablet android yang dipegang Firman Azhari. Ia adalah penemu aplikasi bernama NFC Inspector itu.

Temuannya itu telah mengantar mahasiswa S2 Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung tersebut meraih juara pertama Kompetisi Kaspersky Academy tingkat Asia Pasifik dan Timur Tengah di kampus National University of Singapore.

NFC dalam bahasa elektronika adalah kepanjangan dari near field communication atau dalam bahasa sederhana dalam jarak dekat, data antara dua perangkat berbeda bisa dipindahkan.

"NFC bekerja dalam medan dengan jarak dekat, jadi secara efektif kita bisa melakukan komunikasi dengan kartu atau apa pun dalam jarak efektif 1-3 cm," kata Firman dalam wawancara dengan BBC Indonesia.

Menurut Firman, ancaman akan keamanan kartu berbasis NFC muncul setelah banyak produk telepon pintar membenamkan teknologi NFC dalam ponsel terbaru mereka.

Rasa penasaran akan keamanan kartu berbasis NFC seperti kartu prabayar dituangkannya dalam makalah berjudul "Detection of Security Vulnerability in Indonesian NFC Application" yang dilombakan di Singapura.

Meski hasil risetnya terbilang serius, ia mengaku sempat tidak percaya diri setelah melihat karya-karya para peserta lain, Firman justru membuat para juri tercengang setelah berhasil "mencuri" isi kartu tanda mahasiswa Malaysia yang juga berfungsi sebagai kartu perjalanan elektronik untuk bus dan kereta api.

Selain diganjar hadiah uang sebesar $1.000, mahasiswa berusia 23 tahun itu akan maju dalam Kompetisi Kapersky tingkat dunia yang diadakan di Royal Holloway University of London, Inggris.

Ia mengatakan pengguna kartu prabayar di Indonesia tidak perlu khawatir, karena mayoritas terbilang aman. "Di Indonesia kartu berbasis NFC banyak dipakai untuk kartu prabayar yang tidak terhubung dengan simpanan, kalau di negara lain kartu kredit sudah ditanamkan NFC," ujarnya.

Menurut Firman, rentannya pembobolan kartu NFC seharusnya membuat para penerbit kartu menerapkan sistem keamanan mumpuni dan untuk mengikuti tren teknologi khususnya NFC. "Karena kalau tidak di-update informasi tentang kerentanan keamanan bisa jadi tidak diketahui dan akhirnya asal terbit atau asal issue karena cuma mementingkan mudah dan cepat tapi tidak memikirkan sisi keamanannya," kata dia.

Ia menyarankan agar para penerbit kartu melakukan semacam benchmark dengan institusi dalam dan luar negeri, seperti di Eropa. (bbc/A-147)***

Selasa, 09 April 2013

Sukses Pendidikan Bukan pada Kurikulum, melainkan Guru

Penulis : Riana Afifah | Selasa, 9 April 2013 | 14:24 WIB



 Eklektisisme Kurikulum 2013 


JAKARTA, KOMPAS.com - Perubahan kurikulum yang sedang digarap oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini terus mendapat sorotan dari berbagai pihak. Bahkan perubahan kurikulum ini pun diragukan dapat mengubah kondisi pendidikan yang ada di Indonesia saat ini.

Guru SD Insan Kamil, Nunung Siti Nurjanah mengatakan bahwa dirinya setuju kurikulum perlu diubah. Namun, perubahan tersebut harus memiliki landasan kuat dan tidak asal cepat siap saja. Pasalnya, ia menilai keberhasilan pendidikan bukan hanya sebatas masalah kurikulum saja.

"Hal ini sudah sering diungkapkan. Kondisi pendidikan tak akan berubah karena keberhasilan pendidikan bukan hanya masalah kurikulum tapi guru," kata Nunung saat diskusi tentang Kurikulum 2013 di Graha CIMN Niaga, Jakarta, Selasa (9/4/2013).

"Kenapa pemerintah fokus pada kurikulumnya saja? Kenapa tidak mendorong gurunya mengembangkan diri," imbuh Nunung.

Menurutnya, perubahan kurikulum yang didesain sedemikian rupa ini akan sia-sia apabila mindset guru tidak diubah dan guru tidak didorong untuk mengembangkan diri serta mengasah kreativitas.

"Sekarang kurikulum ini dikatakan bertujuan agar anak kreatif tapi kalau gurunya yang tidak kreatif, bisa jalan enggak?" ujar Nunung.

Kemudian, ia menyoroti beberapa perilaku guru yang justru tidak suka dengan anak yang aktif dan banyak bertanya. Padahal, salah satu komponen penilaian pada kurikulum baru ini adalah aktif di kelas dan aktif bertanya tentang pokok bahasan yang sedang diajarkan.

"Ini akan sulit jika guru tidak dilatih intensif. Bukan hanya materi tapi juga sikap dalam mengajar. Sekarang ini kalau ada anak yang agak aktif di kelas langsung dibilang hiperaktif, kalau banyak nanya dibilang cerewet padahal orang pinter lahir dari yang seperti itu," jelas Nunung.

Ia juga berharap agar guru tak sekadar dilatih, dipantau dan diberi panduan saja. Namun, harus ada momen tersendiri di mana guru diingatkan peran utamanya dalam mengajar, membimbing dan mendidik serta terus memperkaya ilmu yang dimilikinya.

"Sekarang kebanyakan guru hanya datang, ngajar, pulang dan sibuk urusan sendiri. Lupa ilmu itu berkembang. Akibatnya guru hanya itu-itu saja yang diberikan dan murid juga tidak berkembang," ungkap Nunung.

Editor : Ana Shofiana Syatiri

Senin, 08 April 2013

Para Pengungkap Kecurangan UN Itu Kini Berjuang Sendiri

Penulis : Luki Aulia | Senin, 8 April 2013 | 08:49 WIB

 
DHONI SETIAWAN/KOMPAS IMAGES
 Illustrasi


KOMPAS.com — "Saya dimarahi dan dimusuhi teman-teman di sekolah. Kata teman-teman, guru-guru jadi kena masalah gara-gara saya. Padahal, saya cuma bicara jujur. Kata ayah dan bunda, kita harus selalu jujur."

Demikian dikatakan Muhammad Abrary Pulungan (14) seusai pemutaran video dokumenter kolaborasi "Temani Aku Bunda" dan diskusi "UN untuk Apa?", Sabtu (6/4/2013) lalu, di XXI Epicentrum, Jakarta. Video dokumenter berdurasi 77 menit yang dibuat selama lebih dari satu tahun itu berkisah tentang pengalaman Abrar yang pernah melaporkan kecurangan ujian nasional (UN) di sekolahnya, SD Negeri 06 Petang, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, dua tahun lalu atau tepatnya Mei 2011.

Pengalaman buruk dan traumatik bagi Abrar itu berawal ketika dua hari sebelum UN ia dan beberapa temannya disuruh oleh salah satu gurunya membuat kesepakatan saling membantu memberikan jawaban soal saat ujian. Dalam kesepakatan tertulis itu, para siswa dilarang memberi tahu siapa pun, termasuk orangtua.

Pada saat ujian, Abrar gelisah saat teman-temannya bebas bertukar jawaban, padahal ada pengawas yang sedang bertugas. "Kita disuruh merahasiakan dari orangtua atau saudara sampai dewasa," kata Abrar di dalam film dengan produser Yayasan Kampung Halaman dan sutradara Tedika Puri Amanda serta Irma Winda Lubis (ibu dari Abrar) itu.

Setelah ujian dan sesampainya di rumah, Abrar tidak tahan dan mengadu ke ibunya sambil menangis.
Mendengar cerita anaknya, Winda pun berang dan meminta sekolah mengakui dan meminta maaf ke publik. Seluruh proses perjalanan Winda mencari kebenaran dan keadilan bagi Abrar tak kunjung berbuah sampai hari ini. Pemerintah daerah melalui dinas pendidikan telah membentuk tim investigasi, tetapi hasilnya nihil.

Keluarga Abrar pun ke sana kemari mengadu ke berbagai lembaga bantuan hukum dan berbagai organisasi pejuang hak anak untuk meminta perlindungan, tetapi sampai kini tanpa kabar.

Segala macam bukti telah diserahkan, termasuk rekaman suara pengakuan guru Abrar kepada orangtua Abrar. Di dalam film terdengar jelas suara guru Abrar yang mengaku meminta para siswa untuk berlaku tidak jujur. Alasannya, ia hanya ingin membantu siswa dan orang tua agar lulus UN.

"Abrar dibilang gurunya kalau ia hanya terlalu sensitif dan kita harus ikut arus orang lain," kata Winda.

Meski perjuangan terasa tanpa ujung, Winda dan suaminya tidak patah arang. Apalagi karena Abrar pun meminta kedua orangtuanya, terutama ibunya, untuk tidak menyerah dan tetap berjuang. "Saya tidak mau ada siswa bodoh dapat nilai bagus. Kalau pemimpinnya orang bodoh, nanti Indonesia bisa roboh," kata Abrar dalam sesi diskusi.

Diusir warga
Kasus serupa pada tahun yang sama juga dialami Alif (14), siswa yang melaporkan kecurangan UN di sekolahnya, SD Negeri Gadel 2, Tandes, Surabaya. Alif juga diminta guru memberikan jawaban soal UN kepada temannya yang tidak tahu.

Kasus ini ramai diperbincangkan hingga keluarga Siami (ibu Alif) diusir warga dari rumahnya karena tidak suka dengan kejujuran Alif. Alif dan keluarganya pun dituding sok jujur oleh guru, orangtua siswa lain, hingga masyarakat sekitar tempat tinggalnya.

"Kami mendidik Alif untuk selalu jujur dan percaya dengan kemampuan sendiri. Tetapi, di sekolah ia malah diajari tidak jujur. Saya dihujat masyarakat dan dianggap sok pahlawan," kata Siami yang datang ke pemutaran film tanpa Alif.

Bagi orangtua siswa lain dan masyarakat setempat, kata Siami, berbagi jawaban soal ujian sudah hal yang lumrah wajar. Guru yang meminta Alif berbagi jawaban itu pun justru dianggap oleh masyarakat hanya berkeinginan membantu siswa agar lulus UN.

Bagi Siami, hal ini tidak bisa dibiarkan dan ia harus bertindak. "Kalau saya diam saja dan tidak berjuang, nanti saya tidak bisa kasih contoh baik ke anak saya," ujarnya.

Sayangnya, seperti halnya Winda, Siami kini juga berjuang sendiri. Setelah satu tahun kasus Alif berlalu, semua dukungan dan bantuan menguap entah ke mana. Padahal, Siami merasa Alif masih membutuhkan bantuan, terutama pendampingan psikologis.

"Yang penting anak saya punya teladan orang dewasa yang berlaku jujur," ujarnya.

Psikolog anak Silmi Kamilah Risman berharap orangtua selalu menanamkan nilai-nilai kejujuran pada anak sejak dini di rumah karena anak sudah mulai mengikuti contoh-contoh yang ada di masyarakat. Orangtua harus tetap kritis meski harus menentang arus.

"Suara-suara y ang kritis itu seperti suara sumbang dalam tim koor yang kompak," ujarnya.

Editor :Marcus Suprihadi

Minggu, 07 April 2013

BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR


Dalam kegiatan “Pintu Terbuka Tahun 1984”, yang diselenggarakan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, muncul sebuah pertanyaan dari salah seorang pengunjung, “Apa dan bagaimanakah wujud bahasa Indonesia yang baik dan benar itu?”

Dalam kesempatan itu kami mencoba menjawab pertanyaan tersebut seadanya dalam arti hanya sebagian kecil wujud bahasa Indonesia yang baik dan benar yang dikemukakan karena, memang, kesempatan itu amat terbatas. Karena terdorong oleh pertanyaan tersebut, kami berusaha menghimpun berbagai pendapta para ahli bahasa Indonesia dan mencari contoh-contoh pemakaian bahasa Indonesia dalam kenyataan sehari-hari.

2.1  Bahasa yang Baik
Bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa Indonesia yangn digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku. Misalnya, dalam situasi santai dan akrab, seperti di warung kopi, di pasar, di tempat arisan, dan di lapangan sepak bola hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang santai dan akrab yang tidak terlalu terikat oleh patokan. Dalam situasi resmi dan formal, seperti dalam kuliah, dalam seminar, dalam sidang DPR, dan dalam pidato kenegaraan hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang resmi dan formal, yang selalu memperhatikan norma bahasa.

2.2  Bahasa yang Benar
Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku.

Jika bahasa diibaratkan pakaian, kita akan menggunakan pakaian renang pada saat akan berenang di kolam renang sambil membimbing dan mengajari anak-anak berenang. Akan tetapi, tentu kita akan mengenakan pakaian yang disetrika rapi, sepatu yang mengkilat dan seorang laki-laki mungkin akan menambah dasi yang bagus pada saat ia menghadiri suatu pertemuan resmi, pada saat menghadiri pesta perkawinan rekan sejawat, atau pada waktu menghadiri sidang DPR. Tetapi, akan sangat ganjil jika pakaian, sepatu, dan dasi itu kita gunakan untuk berenang. Demikian juga, kita akan dinilai sebagai orang yang kurang adab jika menghadiri acara dengar pendapat di DPR dengan pakaian renang karena di sana ada ketentuan yang sudah disepakati bahwa siapa pun yang akan menghadiri acara resmi di DPR harus berpakaian rapi. Barangkali, kita masih ingat kasus seorang pengusaha sukses, yang oleh petugas protokol ditolak menghadiri acara dengar pendapat di DPR karena pengusaha yang “nyentrik” inti tidak menggunakan pakaian yang rapi.

Kalau contoh itu dianalogikan dengan pamakaian bahasa, betapa ganjilnya percakapan seorang suami dengan istrinya jika berlangsung seperti berikut.

Suami        :  “Bu, bolehkan Bapak bertanya, apakah Ibu sudah menyiapkan hidangan untuk makan siang hari ini?”
Istri            :  “Ya tentu saja. Saya sudah masak nasi lengkap dengan sayur kesenangan Bapak, dan sekarang silakan Bapak menikmati hidangan itu. Silakan Bapak menikmati hidangan yang sudah disiapkan”.
Suami        : “Mari Bapak cicipi makanan ini. Oh, menurut hemat Bapak, seandainya Ibu menambahkan garam sedikit lagi ke dalam sayur ini, pasti sayur tersebut akan lebih lezat”.
Istri           :  “Mudah-mudahan pada kesempatan lain Ibu dapat membuat sayur lebih enak sesuai dengan saran Bapak.”                      

Lucu sekali ilustrasi itu, bukan?

Sebaiknya, bagaimana pendapat Anda jika seorang mahasiswa (pembicara) bertanya kepada dosennya (pendengar) tentang materi kuliah yang diberikan dosen (objek), pada saat kuliah berlangsung (waktu), di kampus (tempat), dalam situasi belajar-mengajar (resmi), sebagai berikut. “Maaf Mas, gua kepengan usul, coba jelasin dulu dong garis besar kuliah kita, apakah sudah sesuai kurikulum universitas kita?”

Kedua contoh rekaan itu dapat dikatakan tidak tepat. Contoh pertama sangat menggelikan karena pada situasi santai digunakan bahasa yang resmi sehingga terasa kaku; contoh kedua juga sangat tidak tepat karena pada situasi formal digunakan kata-kata dialek dan struktur yang tidak baku (cetak miring) sehingga mirip percakapan di warung kopi. Kedua contoh itu tidak baik dan tidak benar karena bahasa yang digunakan tidak sesuai dengan situasi pemakaian, lagi pula tidak sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku.

Contoh yang lain.
Pemakaian lafal daerah, seperti lafal bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan Batak dalam berbahasa Indonesia pada situasi resmi dan formal sebaiknya dikurangi. Kata memuaskan yang diucapkan (memuasken), kata pendidikan yang dilafalkan (pendidi’an) bukanlah lafal bahasa Indonesia. Kata toko yang dilafalkan (tokok), kata yang dilafalkan (katak) juga tidak benar. Kata ditepati yang dilafalkan (ditépati), kata diteliti yang dilafalkan (ditéliti) tidak cocok dengan lafal kata bahasa Indonesia ragam resmi.

Demikian juga, kata benar yang diucapkan (bénar), teman yang diucapkan (téman) termasuk lafal yang tidak baik. Pemakai bahasa harus berusaha mengurangi seminimal mungkin (kalau tidak sampai seratus persen) pemakaian lafal bahasa daerah tersebut ketika ia berbahasa Indonesia pada situasi serius.

Pemakaian lafal asing sama saja salahnya dengan pemakaian lafal daerah. Ada orang yang sudah terbiasa mengucapkan logis dan sosiologi menjadi (lohis) dan (sosiolohi). Ada lagi pemakai bahasa yang mengucapkan kata sukses dan produk menjadi (sakses) dan (prodak), hati-hati dilafalkan (ati-ati). Kesemuanya itu merupakan pengucapan yang perlu dibenahi jika kita sedang berbicara dalam bahasa Indonesia situasi resmi.

Imbuhan di  yang seharusnya ditulis serangkai ternyata masih banyak ditulis terpisah seperti juga di kata depan yang seharusnya dituliskan terpisah ternyata dituliskan serangkai.

Dalam kalimat yang tertulis jelas di pinggir jalan: Dana Proyek ini berasal dari dana yang di himpun dari pajak yang anda bayar  terdapat  di  imbuhan yang seharusnya serangkai, yakni dihimpun. Sapaan anda seharusnya diawali dengan huruf kapital: Anda. Penulisan sistim dan persepak bolaan yang sering kita jumpai juga tidak sesuai dengan kaidah ejaan kita, yang seharusnya sistem dan persepakbolaan.

Pemakaian kata daripada dalam kalimat Saya tahu persis, daerah ini merupakan daerah basis daripada PKI merupakan pemakaian yang tidak tepat. Ungkapan basis daripada PKI yang termasuk ungkapan yang menyatakan milik tidak perlu menggunakan kata daripada. Dalam ungkapan kemilikan yang lain pun kita tidak perlu mengatakan Pemimpin daripada PLO, ketua daripada KUD, pintu daripada rumah, dan sepatu daripada saya. Dalam bahasa Indonesia baku, kata daripada digunakan dalam konteks perbandingan, seperti Sikap Pemimpin PLO lebih keras daripada sikap Presiden Mesin dalam menghadapi zionis Israel.
               
2.4  Pokok-Pokok Bahasa yang  Benar
Kaidah yang mengatur pemakaian bahasa itu meliputi kaidah pembentukan kata, pemilihan kata, penyusunan kalimat, pembentukan paragraf, penataan penalaran, serta penerapan ejaan yang disempurnakan.

2.5  Upaya untuk Meningkatkan Keterampilan Bahasa dengan Baik dan Benar
Sebenarnya, kesalahan umum pemakaian bahasa Indonesia dalam masyarakat merupakan suatu gejala yang wajar. Kesalahan umum berbahasa Indonesia timbul dalam masyarakat, antara lain, karena bahasa Indonesia sedang berkembang. Penggunaan bahasa Indonesia sedang menuju ke penggunaan bahasa yang standar. Di satu pihak para pakar bahasa menyarankan pemakaian bahasa yang sesuai dengan kaidah, tetapi di pihak lain masyarakat masih terbiasa berbahasa dengan mengabaikan kaidah. Akan tetapi, tidak berarti bahwa sesalahan umum itu harus dibiarkan berlarut-larut. Sudah saatnya, kesalahan itu kita atasi dengan segera.

Untuk mengatasi kesalahan itu dengan segera, para pemakai bahasa harus berupaya meningkatkan keterampilannya dalam memperagakan bahasa Indonesia yang sesuai dengan aturan yang berlaku. Anjuran ini mudah diucapkan, tetapi sukar dilaksanakan karena hal itu semua memerlukan kesadaran dan kemauan para pemakai bahasa Indonesia untuk memperbaiki diri jika ia membuat kesalahan.

Dalam kaitan dengan kesadaran dan kemauan itu, Abas (1987: 190) secara halus, sesuai dengan kata-kata arif orang Parsi, menggolong-golongkan pemakai bahasa menjadi empat kelompok, sebagai berikut.

1) Golongan yang tidak tahu bahwa ia tidak tahu.
2) Golongan yang tahu bahwa ia tidak tahu.
3) Golongan yang tahu bahwa ia tahu.
4) Golongan yang tidak tahu bahwa ia tahu.

Penggolongan itu dapat ditafsirkan seperti berikut. Jika saya termasuk golongan pertama, itu berarti tidak seorang pun boleh menasihati saya supaya saya menggunakan bahasa Indonesia dengan benar. Jika saya termasuk golongan kedua, saya akan menerima nasihat dari siapa pun tentang penggunaan bahasa Indonesia yang benar. Jika saya termasuk golongan ketiga, saya akan merasa puas dengan pengetahuan yang sudah saya miliki tentang pemakaian bahasa yang benar. Jika saya termasuk golongan keempat, saya akan selalu mencari dan bertanya tentang kaidah pemakaian bahasa yang benar karena pengetahuan yang sudah saya miliki terasa masih belum cukup.

Sumber:
Buku 1001 Kesalahan Berbahasa (Bahan Penyuluhan Bahasa Indonesia)
Penyusun: E. Zaenal Arifin dan Farid Hadi
Penerbit Akademika Pressiondo, Jakarta 1991