Rabu, 27 Mei 2009

Wahai Warga Bandung?

Kondisi transportasi Kota Bandung, kian hari semakin semerawut saja. Kejadian kesemerawutan bisa dijumpai di setiap sudut kota. Fenomena ini sudah dianggap biasa oleh warga Bandung sendiri. Mengapa hal ini bisa terjadi di Kota Bandung? Apakah warga Bandung sudah tidak peduli lagi dengan kenyamanan kotanya sendiri, terutama masalah transportasi ataukah pemerintah kota yang sudah pusing mengatur warganya yang dirasa membandel. Apakah pemerintah kota sudah benar-benar bekerja untuk warganya dengan serius??



Situasi dan kondisi yang begitu rumit, berbagai kepentingan bercampur aduk. Ketegasan pemerintah kota adakalanya hanya terjadi sesaat saja, setelah itu menghilang seperti ditelan oleh angin. Pemerintah kota sudah berupaya mengkaji permasalahan transportasi tapi pelaksanaanya selalu menghadapi kendala. Berbagai kendala yang dihadapi pemerintah kota semakin kusut saja. Dari kekusutan kendala yang dihadapi pemerintah kota yang paling utama adalah kesadaran warga Kota Bandung yang begitu rendah.




Banyak contoh rendahnya kesadaran warga Kota Bandung berkaitan dengan penggunaan sarana transportasi. Angkot yang berhenti dengan tidak mempedulikan pengguna jalan yang lain, begitu pula dengan pengendara sepeda motor yang tidak mau mengalah kepada angkutan kota ketika angkutan kota hendak menurunkan penumpang meskipun sopir angkot sudah memberi tanda tetap saja pengguna sepeda motor dengan “memaksa“ membunyikan klakson untuk mendahului angkutan kota dari sebelah kiri.



Begitu pula ketika kita akan menyeberang jalan di Kota Bandung menjadi semakin menakutkan dan berbahaya. Pemerintah kota sudah menyediakan jembatan penyeberangan dan sarana penyeberangan yang lainnya seperti zebra cross, masih banyak pengguna jalan yang tidak peduli dengan penyeberang jalan meskipun penyeberang jalan itu sudah berjalan di zebra cross yang nota bene dilindungi oleh undang-undang. Akan tetapi, banyak yang tidak peduli atau memang sudah tidak peduli lagi.


Masyarakat kita semakin dimanjakan dengan kendaraan roda dua (baca: sepeda motor) yang begitu mudah didapatkan yakni dengan cara mencicil atau kredit. Di sisi lain membantu rakyat kecil untuk memudahkan dalam beraktivitas tetapi di sisi yang lain pengusaha jasa angkutan kota semakin merana. Jumlah penumpang semakin berkurang adakalanya mereka harus menempuh cara dengan tidak wajar seperti mencari penumpang melebihi atau menabrak batas jalur trayek karena penumpang sudah semakin sedikit dijalur atau trayek yang biasa para sopir angkutan kota lalui.


Kehadiran bus kota yang disediakan pemerintah kota sebenarnya membantu masyarakt kecil dalam beraktivitas sehari-hari. Akan tetapi, sebagian besar masyarakat yang lain menganggap kehadiran bus kota justru mengurangi pendapatan mereka terutama para pemilik jasa angkutan kota dan para sopir. Hal ini yang sering menimbulkan perselisihan antara pemerintah kota dan para pemilik jasa angkutan kota. Padahal adanya trasportasi massal begitu dibutuhkannya oleh masyarakat kecil.


Hingga saat ini masalah ini belum bisa terselesaikan dengan baik, memang hal ini begitu rumit karena banyaknya kepentingan yang terbagi-bagi.


Permasalahan menjadi semakin rumit tatkala infrastruktur jalan sudah tidak memadai lagi di Kota Bandung, banyaknya pedagang pasar tumpah di waktu pagi hari, juga banyaknya PKL yang memakai badan jalan dan trotoar membuat kesemerawutan di mana-mana.


Pagi dan sore hari jalan semakin menyempit dikuasai oleh para PKL. Pemerintah kota dengan cara yang sudah tidak asing lagi yakni menggusur PKL untuk menertibkan PKL. Sejauh ini belum ada solusi yang efektif dan dirasa adil bagi sebagian pihak.


Kenyamanan berpergian dengan kendaraan umum di Kota Bandung menjadi hal yang langka. Banyaknya kendaraan pribadi menjadi semakin semerawutnya kondisi jalanan di Kota Bandung. Kebijakan pemerintah kota dalam penyediaan sarana transportasi publik secara massal selalu ditentang oleh warganya sendiri. Mengapa hal ini bisa terjadi????


Banyak orang yang selalu membandingkan dan membanggakan kondisi yang nyaman dalam hal berkendaraan di negara tetangga kita atau bahkan di negara yang lain. Mengapa di negara orang lain begitu mudah, nyaman, dan teraturnya, menggunakan sarana publik terutama dalam berkendaraan dan sarana transportasinya.




Pekerjaan rumah ini yang sampai sekarang tidak bisa diselesaikan walaupun pergantian pemimpin sudah berganti beberapa kali. Mereka hanya bisa memberikan janji ketika berkampanye, setelah terpilih penyakitnya kambuh yakni penyakit “Lupa”.


Harus memulai dari mana membenahi kondisi di Kota Bandung, infrastuktur, aturan/kebijakan, pembenahan ekonomi, pendidikan, sosial budaya ??? Atau yang mana dahulu…????? Masalah sampah…????

Wuih…. Rumit…..

Kamis, 30 April 2009

Peninggalan Sejarah

Setelah Pemilu Legislatif, kami berlibur di Pangandaran, Ciamis. Sebelum pulang saya bersama teman saya menyempatkan diri jalan-jalan ke Cagar alam. Banyak peninggalan sejarah di area cagar alam tersebut. Seperti biasanya orang-orang di Indonesai tingkat kepedulian untuk melindungi dan memelihara peninggalan sejarah sangat rendah, hanya segelintir orang saja yang peduli. 

Padahal, di Jabar ada Unpad yang nota bene punya Jurusan Sejarah, di Fakultas Sastra bahkan di Universitas-universitas lain juga punya Jurusan Sejarah. Mengapa lulusannya tidak diberdayakan untuk memelihara peninggalan sejarah. Jadi, lulusan Jurusan Sejarah dari berbagai universitas di Indonesia sebenarnya bekerja di mana? Mungkin Anda punya jawabannya.

Inilah sedikit gambar peninggalan sejarah di daerah Ciamis.

Gua Jepang

Situs Batu Kalde

Situs Karang Kamulyan

Kamis, 05 Maret 2009

Privat Bahasa Korea dan Bahasa Jepang

Yang berminat belajar Bahasa Korea dan Jepang silakan hubungi email yang tertera di gambar!

(Susahnya) Membuang sampah pada tempatnya!!!!!!!!

Setiap orang sudah mengetahui dan memahami bahwa kalau sampah harus dibuang pada tempatnya! Akan tetapi, apakah setiap orang sudah melaksanakannya? Silakan jawab masing-masing. Selama ini, orang tua, guru, saudara, bahkan teman selalu memberitahukan "Buanglah sampah pada tempatnya".

Orang tua kepada anaknya, "Nak, buanglah sampah pada tempatnya!".
Apakah terpikir oleh kita, bagaimana seandainya si anak yang bertanya kepada orang tuanya.

"Ibu , ayah sudahkan membuang sampah pada tempatnya, kok ade belum lihat?"

Apakah orang tua akan memberikan jawaban yang jujur atau berbohong!

Selama ini kita hanya bisa menyuruh orang lain untuk membuang sampah pada tempatnya. Akan tetapi, apakah diri kita juga sudah melaksanakan membuang sampah pada tempatnya. Sudah seharusnya para orang tua itu memberikan contoh nyata cara membuang sampah, jangan hanya bisa menyusuh!

Apakah kita sadar dengan membuang puntung rokok, bungkus permen, dan bekas makanan dari balik jendela mobil adalah contoh nyata dari para orang tua kita!

Membuang sampah memang dianggap sepele, justru karena sepele maka menjadi bermasalah. Kota Bandung sudah mengalaminya semenjak terjadinya longsor TPA Leuwigajah, Pemerintah Kota Bandung kebingungan membuang sampah. Tidak harus menunggu lama maka terjadilah "Bandung Lautan Sampah".

Orang nomor satu di Indonesia pun turut memberi teguran, karena menjelang diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika (KAA).

Walikota pun kebingungan bagaimana mengatasi masalah sampah di Kota Bandung. Muncul ide membuat Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
Akan tetapi, ide PLTSa pun ditentang warga karena lokasinya yang berdekatan dengan permukiman.

Mengapa Pemerintah Kota Bandung, begitu ragunya untuk bekerja sama dengan Institusi Pendidikan terkemua seperti ITB, Unpad, dan UPI untu memecahkan kebuntuan menanggulangi masalah sampah.

Kesadaran warga Kota Bandung juga masih rendah, masih banyak yang tidak peduli dengan kebersihan lingkungannya. Mengapa setiap turun hujan selalu terjadi banjir di Kota Bandung.
Warga pun dengan enteng menjawab sudah biasa tempatnya jadi langganan kebanjiran.

Banyak selokan atau got yang mampet, warga Kota Bandung terkesan tidak acuh terhadap lingkungannya yang kotor. Apabila banjir sudah melanda, baru warga Kota Bandung sibuk, seolah-olah menjadi warga yang peduli dengan kebersihan lingkungan.

Selain got dan selokan yang mampet, penyebab lainnya trotoar jalan dijadikan tempat untuk berjualan/usaha. Kemudian mereka membuang sampahnya ke selokan tersebut.


Ada kabar menarik dari adikku, ketika temannya (pegawai Dinas Kebersihan Kota Bandung) yang melakukan pelatihan teknis masalah sampah ke Jepang. Menurut orang Jepang, kondisi Kota Bandung saat ini sama dengan kondisi Jepang 40 tahun yang lalu.

Lalu apakah kita harus menunggu selama itu untuk membuat masyarakat sadar akan kebersihan. Waduh, delapan kali pemilu di Indonesia. Ganti pemimpin belum tentu akan memprioritaskan masalah sampah. Yang dibahas lebih penting masalah ekonomi, pendidikan pertahanan dll., masalah sampah mungkin ada diurutan kesekian.

Memang sudah ada institusi yang memberlakukan cara membuang sampah, yakni dengan cara memisahkan sampah organik dan nonorganik. Akan tetapi, masih banyak warga Kota Bandung yang belum paham dengan pemisahan tersebut.

Ada sebagian warga kota yang sudah memisahkan sampah organik dan nonorganik. Akan tetapi, karena tempat pembuangan sampahnya hanya satu dan hanya itu-itu juga tempatnya, jadi percuma karena tetap saja oleh tukang sampahnya tetap disatukan sampah organik dan nonorganiknya. Hal ini menjadi usaha yang sia-sia.

Di musim penghujan ini, apakah warga kota akan pasrah dengan datangnya banjir menghampiri tempat kediaman kita dan cukup mengatakan "Ini musibah tahuhan".

Setelah tempat kita terkena banjir, lantas kita memelas ke pemerintah kota meminta bantuan, bahwa rumahnya dan segala harta bendanya raib dibawa oleh banjir.

Mudah-mudahan generasi kita yang akan datang bisa menyelesaikan krisis susahnya membuang sampah.

Sebenarnya cara penanganan sampah sudah banyak yang berhasil, terutama di negeri orang! Mengapa kita tidak belajar dari mereka yang sudah berhasil menangani masalah sampah.

http://www.sjrecycles.org/residents/rec_garb.asp

Semoga warga kota bisa lebih peduli lagi dengan kebersihan.
Semoga warga kota tidak membuang sampah sembarangan.
Berikan contoh nyata kepada putra-putri kita bagaimana cara membuat sampah!

Selasa, 27 Januari 2009

Akankah kita ditipu oleh mereka lagi?


Pemilihan calon legislatif tinggal 3 bulan lagi. Genderang pertarungan sudah ditabuh oleh para caleg. Segala cara dilakukan agar bisa terpilih, baik pendatang baru maupun yang sudah merasakan enaknya jadi anggota legislatif ikut bertarung lagi. Ada yang dulunya anggota legislatif daerah (DPRD), bertarung supaya bisa jadi anggota legislatif pusat (DPR RI).

Rentang masa kampanye yang begitu lama, para kontestan berupaya mengenalkan dirinya, ada yang pakai stiker, poster, baligo, spanduk, dan kalender.


Fenomena ini begitu membahana, hingga masyarakat kebingungan, karena saking banyaknya partai dan banyaknya calon anggota legislatif semuanya memberikan janji dan kata-kata manis layaknya iklan sebuah produk.


Untuk menjadi calon anggota legislative memang tidak begitu sulit berikut persyaratannya:

Syarat Menjadi Calon Anggota Legislatif / Caleg DPR DPD DPRD Undang-Undang No.10 Tahun 2008

Berdasarkan pada Undang-Undang No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh seseorang untuk bisa mengajukan diri sebagai calon legislatif / caleg, yaitu sebagai berikut di bawah ini :

1. Warga Negara Indonesia / WNI

2. Berumur / Berusia Minimal 21 Tahun

3. Bertempat Tinggal di Wilayah NKRI (Negara Kesatuan Repubik Indonesia)

4. Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

5. Minimal Tamat / Lulus SMA atau sederajat

6. Setia kepada Pancasila, UUD 1945 dan Cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945

7. Sehat Jasmani dan Rohani

8. Bersedia bekerja penuh waktu/full time

9. Terdaftar sebagai pemilih pada pemilu

10. Anggota Parta Politik

11. Siap bersedia tidak praktek notaris, akuntan dan advokat

12. Pegawai / Anggota PNS, TNI, Polri, BUMN, BUMD harus mengundurkan diri

13. Bersedia tidak rangkap jabatan negara, badan negara, bumd dan bumn

14. Tidak pernah masuk penjara dengan ancaman pidana lima tahun atau lebih

15. Dicalonkan di satu lembaga perwakilan dan satu daerah pemilihan

16. Cakap berbicara, menulis dan membaca dalam Bahasa Indonesia

17. Bisa Membaca Al-Quran (khusus caleg lokal NAD)

- Sumber : UU Nomor 10 / 2008 Republik Indonesia


Menurut Anda apakah masih ada yang kurang mengenai syarat menjadi caleg ini?

Silakan pikirkan sendiri…? He…he…


Begitu mudahnya persyaratan untuk menjadi caleg, maka berbondong-bondonglah warga Republik Indonesia ini mendaftarkan diri. Setelah lolos seleksi dan di screening oleh panita (KPUD/KPU), tak ayal lagi para calon segera mempromosikan dirinya dengan tujuan agar dikenali oleh pemilih, dan harapannya bisa terpilih menjadi anggota dewan yang terhormat. Tidak peduli caranya bagaimana, mereka mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk biaya promosi tersebut, ada yang mengaku habis uang 10 juta, ada yang habis 200 juta, mungkin ada yang lebih dari 200 juta. Sudah bisa kita bayangkan berapa banyak uang yang terbuang begitu saja dalam hitungan detik. Dikala mereja jor-joran mempromosikan diri, ada hal yang lebih penting dan sudah menjadi berita sehari-hari yakni ada sekolah yang rusak dan ambruk, ada rakyat yang kelaparan, butuh perawatan dan penggusuran tempat usaha, dan masih banyak lagi. Seakan para calon tidak peduli dengan kejadian yang menimpa saudara-saudaranya.

Kalau diperhatikan para calon ini sebelumnya tidak pernah terdengar kabarnya bahwa beliau-beliau ini memang orang-orang yang berpresatasi, minimal untuk wilayahnya di tingkat yang paling dasar dari RT hingga Kecamatan. Akan tetapi, mereka dengan bangga dan narsis memperkenalkan dirinya melalui media cetak hampir di sepanjang jalan.

Sejauh ini belum ada mekanisme yang jelas mengenenai seleksi calon legislatif, yang ada sekarang ini baru sebatas laporan masyarakat kepada KPUD/KPU mengenai sang calon yang dianggap cacat atau curang.

Ada yang menggunakan ijazah palsu, terlibat kasus kriminal, terlibat kasus narkoba, dan calon di bawah umur. Padahal mereka itu akan menjadi anggota dewan terhormat.

Contoh lainnya, banyaknya artis yang menjadi caleg, yakni tidak mau mengguanakan nama aslinya sesuai aturan KPU, alasanya pemilihnya tidak akan tahu mereka yang sebenarnya siapa. Dalam hal ini para artis yang enggan menggunakan nama yang sebenarnya saja mereka itu sudah tidak jujur terhadap dirinya dan rakyatnya, apalagi jika nanti terpilih kejujurannya sudah pasti diragukan.

Masih ingatkah saudara, bahwa, calon Kapolri, Gubernur Bank Indonesia, Ketua KPU, Panglima TNI, Ketua MA, dan masih banyak lagi yang akan menjadi Ketua di bumi pertiwi ini harus melalui tahapan fit and profer test dari anggota dewan kita yang terhormat?

Terus, bagaimana dengan para calon anggota legislatif kita. Siapa yang berwenang memberikan fit and profer test terhadap mereka?

Para anggota dewan selalu mem-fit and profer test orang lain, akan tetapi calon anggota legislatifnya sendiri tidak ada yang mem-fit and profer test?

Apakah hal ini adil?

Mekanisme ini yang justru belum ada di negeri yang dikatakan negeri demokrasi! Adakah lembaga yang berwenang melakukannya, sebagaimana halnya anggota dewan mem-fit and profer test orang lain?

Apakah saudara-saudara mau ditipu lagi untuk waktu lima tahun ke depan?

Sudah bukan cerita baru, kalau mereka pekerjaanya tidur dan jalan-jalan, meskipun memang ada yang benar-benar bekerja, tapi kenyataanya saudara-saudara sudah lebih dari tahu bagaimana tindak tanduk anggota dewan yang terhormat itu.

Baru-baru ini stasiun TV swasta menayangkan program Uji Kandidat, ternyata hasilnya sungguh luar biasa para calon anggota tersebut banyak yang tidak tahu mengenai keberadaan wilayahnya, fantastis. Ketika diuji materi UUD45 juga banyak yang tidak tahu! Wow, hebat. Para calon diuji dalam sesi tanya jawab pun memberikan penjelasan yang tidak kalah ngawurnya, dramatis sekali.

Sampai ada yang mengeluarkan fatwa haram terhadap mereka yang golput! Apa maksud dari fatwa golput itu sendiri? Hanya saudara-saudara yang bisa menilainya.

Inikah calon-calon anggota dewan terhormat yang akan mewakili kita di tempat yang begitu sejuk nan nikmat?

Jawabannya ada pada diri Anda masing-masing?

Selamat memilih.............

Rabu, 31 Desember 2008

Pedagang Bangkitkan Islam Kembali di Cina

By Republika Newsroom
Rabu, 24 Desember 2008 pukul 13:44:00


QANTARA.DE

Jamaah muslim di Cina usai melaksanakan sholat


GUANGZHOU - Islam kembali datang dan menguat di Guangzhou, salah satu kota pusat perdagangan di Cina, sekaligus tempat pertama kali Islam tiba di daratan tersebt seribu tahun lalu oleh para pedagang.

"Pemahaman saya tentang Islam telah meluas dan mendalam kini," ungkap Jin Lei, seorang muslim dari propinsi Shandong, yang baru pindah ke Guangzhou, seperti yang dikutip oleh China Daily, 23 Desember lalu.

"Ketika saya bertemu dengan muslim dari negara-negara berbeda, saya menjadi tahu jika Islam bukan terbatas pada ritual dan masjid, melainkan cara hidup," tambah Jin Lei.

Guangzhou kini menjadi rumah bagi empat masjid termasuk Majid Huaisheng yang terkenal. Masjid Huaisheng didirikan oleh salah satu paman sekaligus sahabat dekat Rasul Muhammad, Sa'ad bin Abi Waqqas.

Kota juga memiliki sebuah makam yang diyakini makam Sa'ad bin Abi Waqqas. Kini kota itu kembali menjadi pusat tujuan pedagang muslim. Seperti pedagang yang mengenalkan Islam pertama kali ke Cina, mereka kini dihargai karena membangkitkan kembali Guangzhou.

"Situasi sosial komunitas muslim saat ini di Guangzhou, mirip dengan jaman Dinasti Tang," ujar Ma Qiang, asisten profesor studi etnologi dan keagamaan di Universitas Normal Shaanxi.

"Kedua komunitas berbeda tak jauh dengan kondisi saat China pertama kali membuka diri dan memiliki perekonomian makmur," imbuh Ma, seorang cendekia muslim yang menulis komunitas muslim Guangzhou sebagai tema desertasi doktoralnya.

Kota itu sejak lama terkenal sebagai salah satu pusat perdagangan internasional yang menarik pedagang muslim dari Timur Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara selama bertahun-tahun.

"Saya pertama kali datang ke Cina pada 1999. Saya jatuh cinta dengan kota ini dan sejak itu hampir sebagain besar waktu tinggal di sini," aku Mohamed Ali Algerwi, pengusaha Yaman berusia 39 tahun.

"Ia telah mendirikan perusahaan swasta pribadi di Guangzhou dan kini mengekspor aksesoris mobil, keramik, ban, aksesoris kendaraan, dan kosmetik ke negara-negara Arab.

Sementara Abdul Bagi Al-Atwani, 38 tahun juga pengusaha Yaman, mengaku datang pertama kali ke Cina 15 tahun lalu sebagai pelajar. Ia pindah ke Guangzhou pada 1999 dan kemudian memulai bisnsi perdagangan antara Cina dan negara-negara Arab.

"Saya suka Guangzhou. Ini tempat yang baik untuk berbisnis dan tinggal," tutur Al Atwani seraya mengaku memiliki restoran dalam bahasa Cina yang fasih.

Banyak toko di pusat perbelanjaan Guangzhou, meyajikan barang-barang untuk melayani pedagan muslim luar, menyediakan mereka barang-barang Islami, kebutuhan sehari-hari seperti pakaian Arab dan Afrika, bahkan Al Qur'an elektronik.

Tanpa pendatang muslim luar, banyak dari kita menjadi penganggguran," ungkap Fang Qinghaou, pemilik toko di Pusat Komersial Internasional Honghui. "Ketika waktu sholat tiba, mereka kadang sholat di toko saya. Saya bantu menyediakan lembaran papan, atau kertas untuk mereka bersujud," kata Fang

"Saya paham jika mereka memiliki keyakinannya sendiri, namun kita tidak membicarakannya. Kami hanya berbicara bisnis," ujar Fang lagi.

Islam di Guangzhou sendiri sempat menurun pada abad ke-20, dan sensus nasional tahun 2000 lalu mencatat, muslim di wilayah kota itu hanya 9.838, orang. Lalu setelah itu tidak ada laporan lagi.

Kini menurut Asosiasi Islami Guangzhou, jumlah muslim tinggal di kota itu meningkat sekitar 50 ribu hingga 60 ribu orang. Wang Wenji, wakil presiden organisasi tersebut mengatakan lebih dari 10 ribu jamaah melakukan sholat Jumat di empat masjid kota.

Kapasitas masjid yang tak mampu menampung keseluruhan jamaah, seringkali membuat warga muslim sholat di trotoar depan sekitar masjid. "Pertama kali penduduk lokal bingung melihat para jamaah. Namun kini mereka telah terbiasa dengan pemandangan itu," ujar Bai Lin, imam Masid Xiaodongying.

"Penduduk di Guangzhou sangat berpikiran terbuka," kata Bai lagi.

Sehingga tidak heran bila di kota itu banyak pula ditemukan restoran halal, terutama di area konsentrasi muslim, yang menawarkan masakan Arab, Cina, Afrika, dan Thailand./it

Konvensi Besar "Kebangkitan Islam" di Kanada

By Republika Newsroom

Kamis, 25 Desember 2008 pukul 13:59:00

MECCA.COM

Suasana bazar pada konvensi "Reviving the Islamic Spirit," tahun 2007 lalu.



TORONTO - Muslim di Kanada bakal punya hajatan besar. Konvensi tahunan besar berjudul "Reviving the Islamic Spirit" atau Membangkitkan Spirit Islam yang menghadirkan pembicara muslim dari penjuru akan saja diselenggarakan di Kanada 26 Desember esok.

"Dengan rata-rata pengunjung 15 ribu partisipan per tahun, konvensi ini menjadi pusat perhatian berbagai kelompok berbeda", ujar Nadir Shirazi, sekretaris pers acara konvensi tersebut seperti yang dikutip oleh IslamOnline.

Ribuan orang dari seluruh penjuru Amerika Utara akan mengalir ke Toronto pada hari Jumat mendatang untuk mengikuti pembukaan konferensi tiga hari tersebut.

Acara yang diorganisais grup para aktivis pemuda Muslim Kanada--yang dianggap sebagai perkumpulan muslim terbesar di Kanada, menggemakan semangat konvesi serupa di AS, yakni Kovensi Masyarakat Islami Amerika Utara.

Tahun ketujuh konvensi kali ini bertema "Menjawab panggilan Tuhan, Pembawa pesan, Menempatkan Prioritas Ajaran Nabi bagi Muslim di Barat,"

Acara itu nanti akan diikuti bazar dengan penjual dari seluruh Amerika Utara menjajakan dan mempromosikan produk serta layanan mereka. "Ini tentu akan menggerakkan aktivitas ekonomi di dalam kota," ujar Shirazi.

Sebuah konser juga bakal digelar di akhir acara, dengan pertunjukkan nasheed, termasuk artis Pakistan ternama, Junaid Jamshed dan penyanyi Inggris Mesut Kurtis. Penyelenggara berharap hasil besar tahun ini mengingat konvensi jatuh saat libur Natal di Kanada.

Sejak diselenggarakan pertama kali di tahun 2003, konvensi tersebut menjadi salah satu konferensi muslim penting di Amerika Utara. Pengunjung bertambah setiap tahun, mulai dari 3.500 orang pada konferensi pertama, hingga 15 ribu orang pada konferensi terakhir 2007 tahun lalu. Jumlah itu pun diprediksi akan meningkat pada tanggal 26 Desember nanti.

Sejumlah ulama muslim dari berbagai belahan dunia akan menjadi pembicara di konvensi tersebut. Mereka diantaranya ialah Hamza Yusuf, dan Yahya Rhodus dari AS, Tariq Ramadan dari Swiss, lalu Jamal Badawi dari Kanada sendiri, dan Tareq Suwaidan asal Kuwait.

"Dengan membawa berbagai warna pembicara ke Toronto, salah satu kota dengan ragam perbedaan terkaya di dunia, kami berharap mampu membangun institusi nyata dan berarti untuk hidup bersama dan berkontribusi di Kanada," ujar Fouzan Khan, pendiri dan direktur konvensi tahunan itu.

Selama tujuh tahun berlangsung, konvensi tersebut juga menjadi perhatian tokoh-tokoh non Muslim, termasuk jurnalis ternama Inggris Robert Fisk, aktivis politik sekaligus rabi Amerika Michael Lerner, dan politisi plus pemain kriket Pakistan, Imran Khan.

Penyelenggara juga meyakini keragaman yang diberikan tiap pembicara berbeda mencerminkan wujud nyata masyarakat muslim Kanada yang memiliki rasio 1,9 % dari 32,8 juta populasi total penduduk.

"Muslim di Kanada adalah warga global, dan lebih terhubung dengan kemanusiaan seluruh dunia dari pada sebelumnya," ungkap Khan.

Dalam sebuah survei terakhir menyebutkan jika hampir seluruh muslim bangga menjadi warga negara Kanada dan lebih berpendidikan dibanding populasi pada umumnya./it

Sepeda Motor Listrik Honda E4-01 Diproduksi 2010


MOTOR PLUS/GIZMAG

JAKARTA, SELASA – Pabrikan motor Honda Jepang, Honda Motor Company (HMC) bakal merampungkan proyek roda dua bertenaga listrik atau electric motorcycle (EM) pada 2010. Konsep ini sesuai sesuai dengan kampanye Honda demi lingkungan hidup yang sudah diteriakkan lima tahun silam.

Hal ini disampaikan oleh Presiden Direktur HMC Takeo Fukui yang dikutip salah satu website roda dua di dunia, pertengahan Desember lalu. “Motor listrik akan meredam zat berbahaya seperti C02. Tahap awal akan diproduksi motor listrik untuk kebutuhan jarak pendek. Dua tahun ke depan, jadwal penting untuk menduniakan motor listrik Honda,” ungkap Fukui.

Sekitar 3 – 4 tahun silam, Honda memang gencar memperkenalkan motor listrik. Ajang Tokyo Motor Show (TMS) dimanfaatkan sebagai kampanye EM. Ambil contoh Honda E4-01 mulai dipajang di TMS 2004 yang kemudian dikembangkan terus dari Honda Griffone dengan basis mesin 900 cc. Beratnya, di bawah 200 kg.

Ucapan Fukui bisa jadi maklumat yang kemungkinan berimbas ke Indonesia. Direktur Marketing PT Astra Honda Motor Johannes Loman belum memberi jawab positif. “Kami belum bisa memaastikan hal ini. Sepanjang teknologi itu (motor listrik, red) cocok untuk Indonesia, kami akan mempelajarinya,” tegas Loman. (Niko)