Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Maret 2023

Pasar Sehat Soreang

 Pasar Sehat Soreang


Soreang, kini punya pasar yang lebih baik dari kondisi sebelumnya, tempatnya lebih nyaman.

Berikut link videonya....



Mari berbelanja ke Pasar Sehat Soreang...

 

Selasa, 16 April 2013

Koin Bertuliskan "Tidak Ada Tuhan Selain Allah" Dilelang




DINAR emas bersejarah dari tahun 690 M ini dicetak di Damaskus oleh dinasti Umayyah.*
 
 
LONDON, (PRLM).- Koin pertama yang yang bertuliskan "Tidak ada Tuhan selain Allah" ditawarkan ratusan ribu poundsterling dalam sebuah lelang.

Dinar emas bersejarah dari tahun 690 M ini dicetak di Damaskus oleh dinasti Umayyah, kerajaan Arab pertama, yang membentang dari Spanyol di barat hingga ke India di timur pada puncak kejayaannya.

Koin, yang beratnya 0,15 ons dan sedikit lebih besar dari koin 5 penny ini, muncul sebanyak 56 dinar emas yang berusia antara 690 - 750 M, diharapkan terjual seharga 500.000 poundsterling dalam lelang bulan depan.

Andre Di Clement, kepala koin Islam di pusat lelang Baldwin, London, mengatakan: "Apa yang membuat koin ini begitu penting adalah bahwa mereka berasal dari kerajaan Arab pertama."

"Di bawah Umayyah dunia Islam menyebar dari India ke Spanyol. Salah satu hal yang mereka lakukan adalah menghapuskan koin daerah taklukkan dan memperkenalkan sistem koin sendiri," ujarnya, seperti dikutip Daily Mail.

"Koin-koin ini, dan koin seperti ini, akan digunakan untuk membiayai pembangunan kerajaan Umayyah. Setiap tahun koin baru dibuat. Pada saat itu mereka jauh lebih maju di dunia. Ini adalah koin Islam yang paling dicari, koin-koin ini diperkenalkan pada periode ekspansi," tambahnya. (Aya/A-147)***

Kamis, 11 April 2013

Pengembangan Usaha Gula Kelapa di Pangandaran Masih Terbuka Luas



SEORANG perajin gula kelapa di Desa Cikembulan, Sidamulihtengah, wilayah daerah otonom baru (DOB) Kabupaten Pangandaran, tengah menunggu nira yang baru disadapnya, Rabu (10/4).*



PANGANDARAN,(PRLM).-Pengembangan usaha gula kelapa di wilayah daerah otonom baru (DOB) Kabupaten Pangandaran masih terbuka luas. Salah satu wilayah yang terus menggali potensi gula kelapa atau gula merah di antaranya Kecamtan Padaherang, Kalipucang, Cimerak dan termasuk kecamatan Sidamulih.

Berkembangnya industri rumah tangga pembuat gula kelapa tersebut, telah memberikan nilai positif bagi warga yang tinggal di wilayah tersebut. Tidak hanya sekadar mampu menyerap banyak tenaga kerja, akan tetapi juga meningkatkan kesejahteran perajin kelapa atau gula merah.

Hanya saja potensi besar gula kelapa masih belum digali secara maksimal. Setidaknya saat ini baru sekitar dua puluh persen dari seluruh pohon kelapa yang diambil niranya untuk gula kepala.

"Sebenarnya potensi gula keapa masih sangat terbuka, saat ini saja baru sekitar dua puluh persen pohon kelapa yang diambil niranya. Apabila persentasi yang disadap niranya ditingkatkan, maka tingkat kesejahteraan petani gula kelapa juga bakal semakin meningkat, " tutur Ketua Asosisasi Gula Kelapa Priangan (AGKP) H .Yos Rosbi, yang didampingi Wakil Sekrtaris Abdul Aziz, Rabu (10/4).

Dia mengungkapkan bahwa seperti halnya daerah lain, potensi industri atau perajin gula kelapa di wilayah kecamatan Sidamulih masih sangat terbuka luas.

Hal itu selain karena kondisi lingkungan alam yang cocok untuk pertumbuhan pohon kelapa, juga masih tebuka lahan untuk ditanami tersebut.

Hanya saja, saat ini masih sangat banyak pohon yang belum disadap atau diambil niranya. Jumlah pohon juga berkurang seiring dengan adanya kebutuhan akan batang pohon kelapa untuk kepentingan lain, dengan demikian, Yos menambahkan perlu ada peremajaan pohon kelapa.

"Tidak hanya pohon banyak saja, akan tetapi ketrampilan perajin gula kelapa juga perlu ditingkatkan. Selain itu juga harus ada kepedulian pedagang serta pengusaha gula kelapa terhadap nasib perajin gula kelapa, karena mereka sangat rentan dan berisiko tinggi terhadap kecelakaan kerja," katanya.

Bentuk kepedulian tersebut diwujudkan dalam Asosiasi Gula Kelapa Priangan (AGKP) yang meliputi wilayah Ciamis, Tasikmalaya dan Sumedang.

Anggotanya tidak hanya petani kelapa, akan tetapi juga pemilik kebun, petani penderes atau penyadap, termasuk cendekiawan yang peduli terhadap nasib petani penderes gula kelapa.

Aziz menambahkan banyak penderes yang mengalami kecelakaan ketika sedang melaksanakan perkerjaannya, tidak hanya jatuh dari pohon, akan tetapi juga risiko lain seperti tersiram nira panas.

Untuk membantu meringankan perajin, AGKP juga memberikan bantuan atau santunan kepada petani penderes. Anggaran yang digunakan untuk memberikan santunan berasal dari hasil menyisihkan dana asosiasi.

"Kami memberikan santnan kepada anggota AGKP yang mendapatkan musibah tanpa sedikitpun membebani petani penderes. Misalnya anggota meninggal mendapat santunan Rp 1 juta, selain itu jika kecelakaan sampai cacat juga mendapat santunan, termasuk yang tersiram nira panas," kata Aziz.

Pada bagian lain dia menambahkan bahwa produksi kerajinan rumah tangga gula kelapa di wilayah Priangan timur mencapai 450.000 kilogram per hari atau 12.500 ton per bulan.
kegiatan produksi gula kelapa tersebut melibatkan sedikitnya 37.500 petani penderes.

"Untuk industri rumahan tersebut tentu melibatkan tenaga kerja lain, tidak hanya suami akan tetapi juga istri maupun anak. yang pasti kerajinan home indutri gula kelapa mampu menyerap tenaga kerja yang sangat banyak, sehingga dapat mengurangi angka pengangguran," tuturnya.

Aziz juga menjhelasan bahwa usaha gula kepala lebih menguntungkan apabila dibandingkan dengan menjual kelapa butiran. Misalnya dari 40 ohon kelapa, penderes atau perjain gula kepala mendapatkan gula rata-rata 16 kilogram per hari, sedangkan apabila diambol kelapa hanya mendapat 400 butir kelapa.

"Keuntungan lain usaha gula kelapa juga menciptakan pemerataan penghasilan bagi pemilik pohon kelapa. Tidak semua perajin memiliki pohon kelapa, sehingga menyewa kepada pemilik pohon untuk diambil niranya," jelasnya.

Selain memberikan santunan, ia mengungkapkan sejumlah pengusaha juga memberkan bantuan langsung keopada penderes. Bantuan tersebut misalnya berupa tempat pembuatan gula kelapa, menyediakan pohon yang hendak disadap.

"Dengan demikian perajin hanya menyada nira dan hasilnya dijual kepada pengusaha tersebut," tambah Aziz.

Terpisah salah seorang perajin gula kelapa di Desa Cikembulan, Riwan dan Sahidi mengungkapkan mendapat bantuan berupa bangunan untuk prodksi gula kepala dari H. Yos Rosbi. untuk menjalankan usahanya tersebut, keduanya mendapatkan 30 pohon kelapa yang setiap hari mampu menghasilkan rata-ata 13 - 13 kilogram gula kelapa per hari.

"Istilahnya saya hanya menyediakan tenaga saja. Tempat pembuatan gula sudah disediakan, demikian pula dengan pohonnya. Hasilnya juga siap ditampung dengan harga relatif bagus. Terus terang saya sangat terbantu dengan usaha gula kepala ini," tuturnya disela merebus nira yang baru disadapnya.

Saat ini harga gula kelapa Rp 7.800 per kilogram. Harga tersebut lebih murah dibandingkan sebelumnya yang mencapai Rp 8.000 per kilogram.

Riwan mengungkapkan harga tertinggi gula kelapa yang dialaminya mencapai Rp 12.000 per kilorgam, sedangkan paling rendah Rp 7.000.

"Harga gula memang fluktuatif, kadang tinggi, tetapi sebaliknya juga turun. bagi saya yang hanya lulusan SD kerja sebagai perajin gula kelapa sudah sangat beruntung," tuturnya,(A-101/A-89)***

Android Bikin Google Diserang 17 Perusahaan


 
 
Aditya Panji/KompasTekno
Google
 
 KOMPAS.com - Perusahaan teknologi besar, termasuk Microsoft, Nokia dan Oracle, meningkatkan tekanan kepada regulator Uni Eropa agar menindak Google secara tegas. Dalam persaingan bisnis mesin pencari di internet dan ponsel pintar, Google dianggap berlaku tidak adil (antitrust).

Mulanya, penyelidikan dugaan perlakuan bisnis tak adil ini, terfokus pada mesin pencari Google versi komputer pribadi. Komisaris Persaingan Dagang Uni Eropa Joaquin Almunia, kemudian menerima keluhan lain tentang sistem operasi mobile Android.

Google dituduh menggunakan Android untuk mengalihkan lalu lintas mesin pencari.

Pengaduan ini diajukan oleh FairSearch, organisasi yang di dalamnya terdapat 17 perusahaan teknologi yang tidak puas dengan perlakuan Google dalam berbisnis.

Selain Microsoft, Nokia dan Oracle, FairSearch juga digawangi oleh perusahaan situs web wisata online Expedia dan Tripadvisor, sampai situs perbandingan harga Twenga (Perancis) dan Foundem (Inggris).

"Google menggunakan sistem operasi Android sebagai "Trojan Horse" untuk menipu mitra, memonopoli pasar ponsel, dan mengontrol data konsumen," kata kuasa hukum FairSearch Thomas Vinje, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (9/4/2013).

Dikarenakan sistem operasi Android sedang menguasai pasar ponsel pintar dunia dan tren teknologi sedang bergeser ke arah mobile, FairSearch khawatir Google mengulangi kecurangan dengan memanfaatkan Android.

Regulator Uni Eropa berjanji menyelesaikan pengaduan ini pada semester kedua tahun 2013. Namun, para pengadu ingin agar regulator bisa bekerja lebih cepat.

Jika terbukti melakukan persaingan bisnis yang tidak adil, Google bisa dikenakan denda oleh regulator Uni Eropa mencapai 5 miliar dollar AS, atau sebesar 10 persen dari pendapatan Google tahun 2012.

Di Amerika Serikat (AS), pengaduan serupa pernah ditujukan kepada Google. Tapi kala itu, Google meraih kemenangan pada Januari 2013 ketika Komisi Perdagangan Federal AS menghentikan penyidikan setelah mengkaji jutaan halaman dokumen selama 19 bulan.

Dalam siaran pers, Google menarik kesimpulan dari keputusan Komisi Perdagangan Federal AS, bahwa layanannya baik untuk pengguna dan baik dalam kompetisi bisnis.

Editor: Reza Wahyudi
 

Rabu, 10 April 2013

Pramugari EgyptAir Kini Berjilbab

Rabu, 10 April 2013, 15:10 WIB

Pramugari EgyptAir kini berjilbab.


REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Maskapai penerbangan Mesir EgyptAir mengizinkan pramugarinya berjilbab dalam penerbangan ke negara-negara Arab.

Seperti dikutip dari Al Arabiya, Rabu (10/4), Wakil Direktur EgyptAir Abdel Aziz Fadel mengatakan, perusahaan menyebut kebijakan itu akan berlaku luas, menyusul aturan dibolehkannya penyiar berita di televisi pemerintah mengenakan jilbab yang tidak menutupi wajah.

Meski banyak Muslimah Mesir mengenakan jilbab, pemerintahan Husni Mubarak melarang penggunaan jilbab di televisi pemerintah dan tempat-tempat umum. Presiden Mursi berulang kali mengatakan, mereka tidak akan menerapkan larangan simbol-simbol Islam dengan ketat.

EgyptAir mendesain jilbab khusus yang disesuaikan dengan seragam. Pramugari yang memakai jilbab pertama kali saat melayani perjalanan haji dari Jeddah ke Madinah. Kemudian, berkembang saat melayani perjalanan ke negara-negara Arab.

Fadel mengatakan, jilbab tidak mempengaruhi kinerja para pramugari dan bisa menjadi pilihan pakaian. Pemakaian jilbab di perusahaan penerbangan bukan hal baru. Sejumlah maskapai di negara Muslim membolehkan pramugarinya mengenakan jilbab.

Reporter : Ani Nursalikah
Redaktur : Karta Raharja Ucu

MICE Wisatawan Domestik Sumbang Rp 60 Triliun

Di Jabar Berikan Kontribusi 15 Persen



BANDUNG, (PRLM).- Sebanyak 245 juta wisatawan domestik telah menyumbangkan pemasukan bagi Indonesia dengan total kontribusi sebesar Rp 100 triliun dalam sektor pariwisata sepanjang Tahun 2012. Dari total kontribusi tersebut, 60 persen atau sekitar Rp 60 triliun merupakan pemasukan dari wisatawan domestik yang melakukan meeting, incentive, convention, dan exhibition (MICE).

Demikian disampaikan CEO Rajamice, Panca R. Sarungu kepada wartawan pada Press Conference Indonesia MICE and Corporate Travel Mart di Harris Hotel and Convention Festival Citylink, Jln. Peta, Bandung pada Rabu (10/4/2013). “Dari nilai Rp 60 triliun tersebut, transaksi dari MICE di Jabar memberikan kontribusi sekitar 15 persen atau sekitar Rp 9 triliun,” katanya.

Sementara itu, daerah di Jabar yang paling diminati untuk MICE adalah Bandung. Menurutnya, Bandung merupakan kota terfavorit kedua setelah Bali untuk kegiatan tersebut. “Kota pertama yang diminati adalah Bali, selanjutnya Bandung, dan yang ketiga adalah Yogyakarta,” kata Panca. Bahkan menurutnya, dari sekitar 250 hotel yang ada di Bandung, 70 persen telah memiliki fasilitas untuk MICE.

Dengan demikian, tidak heran bila pemasukan hotel yang fokus terhadap kegiatan MICE justru mendapatkan pemasukan yang lebih besar dari kegiatan tersebut. “Pemasukan dari MICE 500 persen lebih banyak daripada pemasukan dari aktivitas menginap. Sebabnya, MICE akan lebih mengoptimalkan fasilitas hotel sehingga memperbesar pemasukan hotel,” kata Panca.

Ketika ditanyakan mengenai kontribusi terbesar untuk MICE, Panca mengatakan, saat ini pihak perusahaan menyumbang sekitar 70 persen untuk kegiatan tersebut. Sementara sisanya adalah lembaga pemerintah, asosiasi, dan partai politik. “Oleh karena itu, pada kegiatan hari ini kami lebih banyak mendatangkan pihak perusahaan sebagai pembeli,” ujarnya.

General Manager Harris Hotel and Convention Festival Citylink, Anton Susanto mengatakan, saat ini perbandingan pemasukan di hotel yang fokus di MICE adalah 60 : 40 antara kegiatan MICE dengan aktivitas untuk menginap. “Namun demikian, untuk hotel yang belum fokus pada kegiatan MICE, ya kebalikannya, 40 : 60,” ucapnya.

Pada hotel tersebut, Anton mengungkapkan kontribusi terbesar MICE didapatkan dari lembaga pemerintah. “Dulu relatif seimbang, tapi lambat laun lembaga pemerintah memberikan kontribusi lebih besar dibandingkan dengan perusahaan. Sebabnya, kecepatan pembayaran saat ini sudah tidak menjadi kendala dan hal tersebut menjadikan transaksi lebih cepat. Sekitar 2 minggu segala sesuataunya sudah rampung,” tutur Anton. (A-207/A-147)***

Rabu, 27 Maret 2013

Indonesia Berpotensi sebagai Destinasi Pecinta Kopi

Penulis : Ni Luh Made Pertiwi F | Rabu, 27 Maret 2013 | 11:40 WIB
 
Kompas.com/Ni Luh Made Pertiwi F.
Akiong, pemilik Kedai Kopi Ake, tengah membuat kopi untuk pelanggannya. Kedai ini berada di Tanjung Pandan, Belitung, dan disebut-sebut sebagai kedai kopi tertua di kota tersebut. 



JAKARTA, KOMPAS.com – Indonesia memiliki cita rasa kopi yang beragam. Tak heran jika Indonesia berpotensi sebagai destinasi pecinta kopi.

Orang kta semakin pintar memilih kopi dan mengenal cita rasa khas kopi dari masing-masing daerah di Indonesia.
-- Veronica Herlina

"Ya, kita sudah bisa jadi destinasi kopi. Kopi kita punya dari ujung Aceh sampai ujung Papua. Beda misalnya kalau kayak kopi Kolombia ya kopi Kolombia. Kita beda, cita rasa itu berbeda-beda setiap daerah," jelas Veronica Herlina dari Asosiasi Kopi Spesial Indonesia saat ditemui di sela-sela kompetisi Indonesian Barista Competition 2013 di Jakarta, beberapa waktu yang lalu.
  
DOK TONI WAHID
 Johny Poluan, pemilik Kedai Kopi dan Bakpau Kwang Koan, menyeduh kopi dengan cara tradisional.


Ia menuturkan, susah mengatakan "Kopi Indonesia". Sebab mulai dari Aceh sampai Papua memiliki karakteristik berbeda-beda. Menurutnya citarasa yang beragam ini yang bisa mengangkat nama Indonesia melalui kopi.

Veronica mengakui perkembangan konsumsi kopi sendiri di Indonesia terutama kopi specialty mengalami perkembangan, baik dari hulu ke hilir, terutama di Jakarta.
"Jakarta makin banyak kafe dan kedai kopi. Ada peningkatan baik di level kebun, roaster, bahkan sampai barista. Semakin banyak kafe, semakin banyak konsumsi kopi," tutur Veronica.
 
KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES

 Hadi Lesmono, memilih biji kopi di Graha Kopi miliknya, Bintaro, Pondok Jagung, Tangerang Selatan, Kamis (9/2/2012). Bermula dari hobi meminum kopi, Hadi kemudian mulai mengumpulkan aneka biji kopi nusantara. Beberapa kopi nusantara seperti kopi Sidikalang, Papua, Toraja dan Luwak ada di warung kopi miliknya.


Ia menambahkan masyarakat Indonesia sudah semakin sadar untuk mengonsumsi kopi lokal dari Indonesia. Sementara dunia sudah melirik kopi Indonesia, apalagi Indonesia masuk dalam tiga besar pengekspor kopi di Indonesia.

"Orang kíta semakin pintar memilih kopi dan mengenal cita rasa khas kopi dari masing-masing daerah di Indonesia. Mulai punya kesukaan sendiri-sendiri, misalnya suka kopi Flores," ungkapnya.

 
KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES
 Barista atau peracik kopi menyeduh kopi menggunakan syifon di Caffe La Tazza, Electronic City, kawasan SCBD, Jakarta, Kamis (2/2/2012). Cafe ini menjual aneka jenis kopi dari berbagai daerah di nusantara seperti kopi Aceh, Lampung, Jawa, Bali, Flores, luwak, hingga Papua.



Setidaknya, lanjut Veronica, Indonesia sudah main di tingkat dunia untuk urusan kopi. Ia melihat merek-merek besar dunia untuk roaster dan grainer sudah mulai masuk Indonesia karena menangkap potensi tersebut.

Kopi dari Indonesia bisa dirunut mulai dari Aceh seperti kopi gayo dan kopi takengon, lalu kopi mandailing dari Sumatera Utara, kopi lampung, kopi jawa dari Kawah Ijen, kopi kintamani, kopi toraja, kopi flores, sampai kopi wamena.

Masing-masing kopi tersebut memiliki citarasa dan karakteristik tersendiri. Nah, kopi manakah favorit Anda?

Ikuti twitter Kompas Travel di @KompasTravel
Editor : I Made Asdhiana

Selasa, 15 Januari 2013

Jadi Miliuner Berkat Pengalaman Surfing di Indonesia

Penulis : L Sastra Wijaya | Selasa, 15 Januari 2013 

smh.com.au
  Pengalaman surfing di Indonesia menjadi kunci sukses Woodman.


SYDNEY, KOMPAS.com  - Sebuah rencana yang muncul setelah melakukan surfing di berbagai pantai di Indonesia dan Australia 10 tahun lalu telah membuat Nick Woodman menjadi miliuner di Amerika Serikat. Pria berusia 36 tahun tersebut berhasil menciptakan kamera yang bisa diikatkan ke tubuh sehingga bisa mengabadikan momen ketika sedang melakukan surfing.

Woodman adalah pendiri dan sekarang direktur perusahaan GoPro, dan bulan lalu, perusahaan teknologi Foxconn membeli 8,88 persen saham perusahaan Woodman bernilai 200 juta dolar AS.

Menurut laporan Sydney Morning Herald, Woodman masih menjadi pemilik saham mayoritas, dan bilapun dia hanya memegang saham 51 persen, dia sekarang menjadi miliuner terbaru Amerika Serikat dengan nilai kekayaan paling sedikit 1.15 miliar dollar AS.

Berasal dari San Diego, California, Woodman memulai bisnis dengan mendirikan perusahaan pemasaran bernama FunBag di awal tahun 2000-an. Pada awalnya, prospeknya bagus, namun ketika "hancurnya" berbagai perusahaan yang menggunakan internet, dia mengalami kebangkrutan. Dia mendapat inspirasi lagi di tahun 2002, dan memutuskan untuk membuat sesuatu yang segera bisa mendatangkan keuntungan. Sebuah ide bisnis muncul ketika dia melakukan surfing di Indonesia dan Bali selama lima bulan.

Woodman sudah lama frustasi karena dia tidak bisa mengambil gambar bagus dirinya maupun teman-temannya ketika mereka sedang beraksi melakukan surfing. Menurut laporan koresponden Kompas di Australia L. Sastra Wijaya, para surfer ketika biasanya menggunakan kamera sekali pakai yang diikat dengan karet ke tangan mereka, namun kemudian terlepas ketika sedang meluncur. Woodman ingin menciptakan tali elastis yang kuat sehingga bisa mengikat kamera ke tubuh pengguna yang berpartisipasi dalam cabang-cabang olahraga petualangan ekstrim.

Guna membiayai proyek ini, Woodman dan istrinya membeli 600 ikat pinggang yang dibuat dari kulit kerang di Bali. Harga setiap ikat pinggang itu hanya 1.90 dollar (Rp 19 ribu). Ketika kembali ke Amerika Serikat, Woodman menjual ikat pinggang ini di pantai-pantai California seharga 60 dolar (Rp 600 ribu). Dengan uang itu, dan pinjaman sebanyak 35 ribu dollar dari ibunya, Woodman menciptakan tali ikat pertama bagi kamera GoPro, dan diperlukan waktu dua tahun untuk menyempurnakannya.

Tanda-tanda keberhasilan mulai terjadi di tahun 2004 ketika sebuah perusahaan Jepang membeli 100 kamera di sebuah pameran perdagangan olahraga petualangan. Akhirnya Woodman mulai mendesain kamera dan peralatan tambahan lainnya, sehingga para atlet seperti para pembalap mobil bisa merekam diri sendiri ketika sedang membalap.

Dengan perkembangan internet, mereka yang menggunakan GoPro mulai mengirim pengalaman mereka online dan iklan dari mulut ke mulut ini dengan cepat menyebar. Sekarang kamera GoPro dan peralatannya dijual seharga 300 dollar (Rp 3 juta), dan perusahaannya sudah mempekerjakan 150 orang dan Woodman menjadi miliuner baru di Amerika Serikat.
 
Editor :Rusdi Amral

Kamis, 13 September 2012

Andris, Mengangkat Beras Garut Lewat Nasi Liwet Instan

Kamis, 13 September 2012 | 09:43 WIB

 TRIBUNJABAR 
Andris mengangkat pamor beras Garut melalui nasi liwet instan.  



KOMPAS.com - Di pasaran, beras asal Garut masih kalah pamor dengan beras Cianjur atau beras Thailand. Padahal, beras garut memiliki sejumlah kelebihan dibanding beras jenis lainnya.

Beras garut dikenal memiliki warna lebih putih, lebih pulen setelah dimasak, dan memiliki rasa manis, dibanding jenis beras lainnya. Namun, banyak pedagang yang menyembunyikan identitas beras Garut dan menggantinya dengan nama beras Cianjur yang tertera pada karungnya.

Kondisi inilah yang membuat Andris Wijaya (32), warga Desa Samarang, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, berusaha menaikkan pamor beras Garut tanpa menyembunyikan nama asli berasnya. Andris ingin masyarakat mengenal beras Garut dan menyukai beras tersebut.

Andris memang tidak bisa melakukan promosi besar-besaran untuk mempopulerkan beras garut. Namun, alumnus D3 Politeknik ITB Jurusan Teknik Mesin tahun 2001 ini memiliki sejumlah ide atau cara lain untuk mempopulerkan beras garut.

Minat warga luar Kabupaten Garut yang semakin tinggi dan berminat menjadikan Kabupaten Garut sebagai tujuan wisata dijadikan alat untuk mencapai tujuan tersebut. Menurut Andris, beras Garut harus diolah dan dikemas sedemikian rupa sehingga jadi oleh-oleh favorit para wisatawan.

Berbekal resep nasi liwet keluarga, pengetahuan yang dimilikinya, dan minat wisatawan yang tinggi atas oleh-oleh khas Garut, Andris membuat nasi liwet instan.

Mesin heuleur milik almarhum ayahnya dia modifikasi menjadi mesin yang bisa menggiling padi menjadi lebih baik. Dengan penggilingan sebanyak tiga kali menggunakan mesin tersebut, beras Garut bisa matang dengan waktu memasak selama 20 menit saja.

Berbagai bumbu dan rempah resep keluarganya dikeringkan sehingga tidak dibutuhkan pengawet dan bisa bertahan sampai 8 bulan. Begitupun dengan pelengkap nasi liwet seperti ikan teri, asin jambal roti, petai, dan jengkol. Semuanya dikeringkan dan dikemas serapi dan sebersih mungkin.

Beras Garut, rempah, bumbu, minyak sayur, dan pelengkapnya, disusun dalam sebuah kemasan dus berlabel "Liwet 1001". Melaui sejumlah distributornya dan para wisatawan yang membeli produknya, Andris memasarkan beras Garut ke sejumlah kota besar di Indonesia. Bahkan, produknya dinikmati juga di Timur Tengah dan sejumlah negara Asia lainnya.

"Akhirnya tidak hanya dijadikan oleh-oleh. Tapi lebih banyak dikonsumsi warga kalangan menengah atas yang menyukai nasi liwet di restoran-restoran dan ingin memasaknya dengan cara praktis di rumah. Bahkan, nasi liwet ini sudah dipesan banyak oleh para calon haji," kata Andris saat ditemui di pusat produksi Liwet 1001 di Desa Samarang, Rabu (12/9/2012).

Untuk memasaknya, beras, bumbu, minyak sayur, dan pelengkapnya, tinggal dimasukkan ke penanak nasi elektronik (rice cooker). 250 gram beras liwet instan dimasak dalam 600 mililiter air selama 20 menit sedangkan 500 gram beras dimasak dalam 850 mililiter air selama 25 menit.

Setelah itu, nasi liwet pun bisa langsung dinikmati. Aroma dan rasa nasi liwet ini, tuturnya, tidak kalah dengan nasi liwet di restoran. Nasi dari beras Garut pun tersaji dengan keadaan pulen dan berukuran besar serta lezat.

Karenanya, sejumlah hotel dan restoran di Garut telah jadi pelanggan tetapnya. Minimal, hotel dan restoran itu memesan beras Garut dari tempatnya dan menggunakan bumbu liwet sendiri.

Andris yang meluncurkan produk tersebut pada Juli 2011 ini pun mendapat penghargaan dari Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan, pada Anugerah Inovasi Jawa Barat (AIJB) 2012, kategori bidang pangan kategori perorangan. Ia pun semakin termotivasi memasarkan beras garut.

Kini Andris bisa memproduksi 2.000 produk Liwet 1001 per hari dan mendapat omzet Rp 20 juta per hari. Ia pun membina 200 petani padi di Kecamatan Samarang, Bayongbong, dan Tarogong, yang menanam beras garut jenis sarinah, serta mempekerjakan 60 warga di rumah industrinya. (sam/Tribun Jabar)
 
Editor : Erlangga Djumena

Rabu, 15 Agustus 2012

Mangga Terbaik

KORPORASI

Rabu, 15 Agustus 2012 | 07:56 WIB



Shutterstock 
Ilustrasi  


”Maaf, itu mangga Thailand. Silakan membeli. Namun, setengah jam lagi, istri saya akan membawa mangga terbaik Pakistan. Enaknya tiada tara,” ujar Mohammad Fawzan (34), pedagang buah asal Somalia, di pasar kaget tak jauh dari Stasiun Kereta Api Woolwich Arsenal, London, 9 Agustus lalu.

Begitu istrinya muncul dengan mangga Pakistan, Fawzan langsung berteriak lantang. ”Mangga Pakistan sudah datang. Silakan beli,” ujarnya.

Fawzan tidak hendak menyepelekan mangga dari negara tertentu. Kenyataan lapangan menunjukkan bahwa mangga Pakistan lebih disukai, menyusul Thailand, Vietnam, China, dan Malaysia. Mangga dari Indonesia tidak disebut-sebut. Warga Inggris juga menyukai buah asal benua Asia, seperti semangka, pisang, nanas, pepaya, dan buah naga.

”Buah Indonesia? Pisang dan mangga asal Jawa Timur pernah masuk beberapa waktu lalu, tetapi kemudian lesap. Entah mengapa,” ujar Eliot Emmamuel, rekan Fawzan.

Ilustrasi di atas sekadar menggambarkan keadaan riil. Bicara buah mangga, nilai nominal yang muncul adalah angka-angka yang kecil. Tidak akan mengangkat nilai ekspor sebuah negara.

Namun kalau ekspor buah itu dilakukan secara massal, misalnya menembus sepuluh negara Eropa, angkanya tentu lain. Apalagi kalau disertai buah-buah yang lain, misalnya pisang dan pepaya, tentu angkanya fantastis.

Sekadar gambaran, Belanda yang jadi eksportir bunga tulip mampu meraup miliaran euro tiap tahun. Padahal, yang diekspor hanya bunga tulip. Belanda pun dijuluki ”Negeri Tulip”.

Indonesia kiranya perlu memikirkan mengekspor lebih banyak buah dan sayuran segar ke mancanegara. Ekspor tersebut hendaknya tidak hanya dipandang dari aspek finansial.

Akan tetapi, sebutlah semacam ”awareness” tentang eksistensi Indonesia. Kita suka kalau nama negeri ini diucapkan dengan penuh kekaguman oleh warga dunia karena buah kita enak. Entah itu mangga, pisang, atau nanas.

Begitulah pikiran sederhana yang muncul saat berlangsung Olimpiade 2012 London. Buah yang dijual umumnya buah dari negara lain. Umumnya dari negara-negara Asia, di antaranya Malaysia, Vietnam, Kamboja, Thailand, Pakistan, bahkan India, Banglades, dan Singapura. Bayangkanlah, Singapura juga berjualan buah di Eropa. Hebat.

Di kafe-kafe di sekitar gelanggang Olimpiade London, dijual aneka minuman ringan dengan merek terkenal yang menjadi favorit. Minuman lain, misalnya jus buah dari beberapa negara, juga menjadi minuman yang disukai. Untuk minuman air mineral, evian dari Perancis dan beberapa minuman alami Inggris disukai. Ada minuman alami lain, yakni dari Fiji. Selain kemasannya atraktif, rasanya pun sangat segar.

Fiji, negara kepulauan kecil di Pasifik, mampu menyuguhkan minuman mineral. Memang hanyalah minuman mineral, tetapi ia menjadi bahan percakapan publik dunia. Minuman itu hadir di lima benua. Diam-diam Fiji menjadi produsen minuman mineral yang bermutu dan disukai. Ini iklan gratis untuk Fiji.

Ini sungguh soal kecil, tetapi perlu jadi perhatian pemerintah dan para usahawan. Masak susah mengekspor mangga, pisang, pepaya, dan nanas? Fiji yang ”kecil” saja mampu menembus pasar dunia. Kok, Indonesia dengan jumlah penduduk nomor empat terbesar di dunia tidak mampu? (Abun Sanda)
Sumber :Kompas Cetak
Editor : Erlangga Djumena

Sabtu, 07 Juli 2012

Masyarakat Rusia Gemar Mie Instan Indonesia




NET/"PRLM"
MIE instan produk Indonesia sangat digemari masyarakat Rusia, Karena hal tersebut, kini pengusaha mie instan di Indonesia siap membangun pabrik di Rusia.*
 
 
MOSKWA, (PRLM).- Hampir sebagian besar masyarakat rusia menyukai mie instan produksi Indonesia. Karena hal tersebut, kini pengusaha mie instan di Indonesia siap membangun pabrik di Rusia
“Ternyata mie produksi Indonesia sangat populer dan digemari di Rusia. Sementara itu, Wakil Perdana Menteri Rusia Dmitry Rogozin meminta khusus kepada kita untuk membangun pabriknya,” tutur Duta Besar RI di Rusia Djauhari Oratmangun.

Tidak hanya itu, untuk menjalin hubungan kerjasama yang baik, Pemerintah Rusia menawarkan ekspor langsung gandum ke Indonesia. Untuk pengantinya, mereka juga meminta Indonesia untuk berinvestasi membangun pabrik mie instan dan ekspor minyak sawit Indonesia ke Rusia ditingkatkan.

“Nanti, saya akan berdiskusi dengan pengusaha mie instan di Indonesia. Karena, menurut saya ini peluang yang sangat baik. (CA-11/Net/A-107)***
 

Gula Cakar, Gula Olahan Khas Majalengka




TATI PURNAWATI/"PRLM"
GULA cakar untuk campuran minum kopi atau teh sebagai pengganti gula putih atau gula merah. Belakangan produsen gula cakar semakin sedikit seiringd engan semakin mahalnya harga gula putih dan bahan bakar*
 
 
 
MAJALENGKA, (PRLM).- Gula cakar mungkin tidak dikenal di daerah lain dan hanya di kenal di Kabupaten Majalengka. Gulanya berwarna merah berbentuk persegi ukurannya sekitar 3 cm X 4 Cm.
Gula tersebut terbuat dari gula putih dicampur soda atau jaman dulu dengan sabun beko yag berwarna kehitaman agar bisa mengembang, tak heran kalau gula ini berlubang namun lubang-lubangnya kecil, selain itu menggunakan jat pewarna yang pada umumya berwarna merah.

Gula ini biasa digunakan masyarakat Majalengka untuk menyeduh teh manis atau kopi tumbuk pahit, gulanya mudah larut hanya hitungan detik. Gula ini lebih banyak digunakan oleh masyarakat generasi tua atau masyarakat pinggiran yang fanatik akan gula untuk campuran minum teh dan kopi.

Namun bagi sebagian masyarakat juga ada yang sengaja memanfaatkan gula cakar ini untuk penyelenggaraan hajatan seperti yang dilakukan Ara warga Kelurahan Munjul dan Wawan warga Kelurahan Cijati. Mereka memilih gula cakar untuk para pekerjanya dengan alasan menggunakan gula tersebut lebih efektif dan efisien, karena ketika harus menyeduh kopi tinggal memasukkan satu gula ke dalam gelas kemudian dibanjur air, hanya dengan satu detik saja gula sudah larut.

Sebagian anak-anak ada yang sengaja memakan gula tersebut secara langsung dengan cara digigit sedikit demi sedikit karena gulanya sedikit keras.

Cara membuat gula cakar itu sendiri menurut beberapa pedagang adalah, gula putih kemudian di godok menggunakan zat pewarna makanan, kalau jaman dulu cianci. Saat menggodok dicampur dengan soda agar mengembang atau muncul pori-pori kasar. Jaman dulu untuk pengembangnya menggunakan sabun batangan seperti beko. Setelah itu dimasukkan ke loyang ukuran besar sekitar 1 m X 1 m atau ukuran lebih besar, kemudian dikerati saat masih hangat, jika tidak maka gula akan mengeras dan sulit dikerat.

Konsumen gulan cakar ini belakangan semakin terbatas di samping produsen gula inipun semakin sedikit terkait dengan semakin mahalnya harga gula dan bahan bakar, sehingga banyak produsen yang berhenti beroprasi.

Menurut keterangan Wawan, Nana, Usman dan Acim produsen gula cakar, dulu masyarakat yang memproduksi gula cakar di Majalengka cukup banyak. Di Majalengka Kulon saja lebih dari dua orang. Selain itu di Cibatu, Munjul, dan kelurahan Tonjong.

“Sekarang sih tinggal beberapa orang saja, paling di Tonjong, Cibatu, Munjul dan Majalengka, paling tidak lebih dari lima orang. Yang berjualan di psar juga jarang hanya pagi hari,” ungkap Wawan.

Tidak jelas siapa yang pertama kali membuat gula cakar tersebut, namun ada informasi yang menyebutkan orang pertama yang membuat gula cakar adalah Tong Teng di kelurahan Tonjong, setelah itu para pekerjanya mengembangkan usaha.

Wawan membuat gula cakar karena usaha turun temurun dari orang tuanya yang sudah membuat gulan cakar sejak tahun 1970 setelah bekerja di perusahaan gula cakar Tong Teng di Kelurahan Tonjong tahun 1965. (C-28/A-108)***
 

Senin, 02 Juli 2012

BPPT Dorong Pusat Ekstrak Herbal Nasional

Senin, 2 Juli 2012 | 09:12 WIB


Kompas/Iwan Setiyawan
Pekerja memilah obat herbal yang baru dikemas di pabrik PT Deltomed Laboratories yang sudah memiliki standard CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik) di Desa Nambangan, Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, Selasa (1/6). 
 
 
Jakarta, Kompas - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi mendorong pembentukan industri pusat ekstrak nasional bagi bahan-bahan alam sebagai obat. Itu penting untuk standardisasi bahan baku obat herbal, sekaligus mendukung kemandirian obat.

”Saat ini lebih dari 90 persen bahan baku obat harus diimpor. Belum ada keberpihakan pemerintah untuk kemandirian obat,” kata Deputi Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi Listyani Wijayanti, Minggu (1/7), di Jakarta.

Salah satu badan usaha milik negara pernah mengusahakan ekstraksi bahan-bahan alam untuk obat atau lebih dikenal sebagai jamu itu. Kapasitas industrinya besar, tetapi tidak didukung kebijakan sebagai pusat ekstrak nasional.

”Sekarang industri ekstraksi itu tidak lagi beroperasi,” kata Listyani. Pusat ekstraksi nasional akan menyuplai bahan baku obat herbal bagi industri. Itu mengurangi ketergantungan penggunaan bahan baku obat impor.

96 persen

Menurut ahli farmasi Iwan Dwiprahasto dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ketergantungan bahan baku obat impor mencapai 96 persen. Dari 204 industri, sejumlah 171 industri domestik dan 33 indus- tri internasional, tidak menempatkan investasinya untuk bahan baku.

Investasi industri farmasi masih mengutamakan aktivitas pengemasan, promosi, dan penetrasi pasar. Padahal penyediaan bahan baku untuk obat herbal memiliki peluang sangat besar.

Pemanfaatan obat herbal sebagai obat tradisional, lanjut Iwan, masih menempati komposisi 80 persen untuk pelayanan kesehatan primer di Asia dan Afrika. Sebanyak 70 persen hingga 80 persen orang Eropa bahkan pernah menggunakan obat herbal.

Listyani mengatakan, sistem dan teknologi untuk membangun pusat ekstrak nasional sudah disiapkan BPPT bersama konsorsium lainnya. Kebutuhan terhadap pusat ekstrak nasional dipengaruhi adanya keragaman kondisi alam produksi bahan-bahan baku tersebut.

”Lingkungan dan iklim yang berbeda-beda berpengaruh terhadap kandungan bahan baku obat herbal sehingga untuk menjaga keajekan kualitas diperlukan standar,” kata dia. Kini, untuk merealisasikannya ada di tangan pemerintah. (NAW)

Sumber :Kompas Cetak
Editor :Lusia Kus Anna
 

Sabtu, 30 Juni 2012

Budidaya Jarak, Harga Bagus 4 Bulan Sudah Panen


Perwakilan Bionas di Indonesia Darningsih menyebutkan pilot project pengembangan bahan bakar bio jarak, kerja sama dengan Biomas digelar di Majalengka. - ekowidaryanto.lecture.ub.ac.id 


Oleh:
Jabar - Jumat, 29 Juni 2012 | 10:55 WIB 
 
 INILAH.COM, Bandung - Perwakilan Bionas di Indonesia Darningsih yang juga pengusaha di Jawa Barat menyebutkan pilot project pengembangan bahan bakar bio jarak, kerja sama dengan Biomas digelar di Majalengka.

Saat ini, kata dia, sudah ada sekitar 20 petani pendeder benih jarak jenis unggul itu untuk selanjutnya disebarkan ke seluruh daerah di Jawa Barat.

"Jarak bisa tumbuh di mana saja di Jabar, empat bulan sudah berbuah dan usia pohonnya sangat panjang bisa lebih 50 tahun. Di sisi lain, harga beli jarak saat ini cukup bagus Rp3.300,00 per kilogram," kata Darningsih.

Wanita paruh baya yang berhasil menggandeng Bionas melebarkan sayapnya di Jawa Barat itu menyatakan sudah melakukan MoU dengan perusahaan produsen tekstil dan produk tekstil yang bersedia untuk memanfaatkan bahan bakar bio produksi mereka.

"Saat ini, sudah ada perusahaan yang siap menggunakan bio solar dari jarak itu peminatnya cukup besar. Diharapkan dalam satu dua tahun ke depan, produksi biofuelnya sudah bergulir," katanya.

Bahan bakar bio itu, kata Darningsih diharapkan bisa memangkas biaya produksi bagi pabrik dan juga bagi pengguna kendaraan bermotor.

Sementara itu Ketua Kadin Jawa Barat Agung Suryaman Sutrisno menyambut baik program pemberdayaan tanaman jarak untuk menjadi bahan bakar bio itu. Ia juga mengapresiasi masuknya investor yang akan mengembangkan sektor pengadaan bahan bakar alternatif itu.

"Tentunya perlu fokus dan adanya kesungguhan dari berbagai pihak baik yang para pelaku sektor hulu, hilir dan juga dukungan dari pemerintah. Harus terpadu dan kontinuitasnya terjamin, sehingga tidak ada lagi tanaman jarak yang tidak termanfaatkan," kata Agung menambahkan.[ito]

Selasa, 03 April 2012

Hiks, Indonesia Belum Masuk Daftar 10 Negara Asia dengan Jajanan Terlezat

Kamis, 29 Maret 2012, 12:22 WIB



Warung kuliner di Pasar Lereng, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat
 
 
REPUBLIKA.CO.ID, Kuliner boleh dibilang menjadi andalan sejumlah negara di Asia untuk menarik minat wisatawan. Maka, situs berita CNN baru-baru melansir daftar 10 kota di Asia yang punya makanan kaki lima terlezat di dunia.
Ada sekitar 10 kota di Asia yang disebut-sebut CNN memiliki jajanan ala kaki lima yang lezat. Kota-kota itu di antaranya adalah Penang, Singapura, Seoul, Xi'an, Manila, Phnom Penh. Selain itu, ada pula Taipei, Bangkok, FUkuoka, dan Hanoi.

Mereka juga membuat semacam voting untuk menentukan kota mana yang terbaik pilihan pembaca CNN.

Bagaimana dengan Indonesia? Tak ada satu pun kota di Tanah Air yang masuk dalam daftar ini. Padahal, sebenarnya kita pun tak kalah dengan urusan kuliner Nusantara. Hmmm....

Redaktur: Endah Hapsari
Sumber: cnn
 

Sabtu, 21 Januari 2012

Kasus Megaupload, Pelajarannya bagi Indonesia

Wicaksono Surya Hidayat | Sabtu, 21 Januari 2012 | 09:05 WIB


Logo Megaupload

KOMPAS.com — Megaupload adalah perusahaan yang berbasis di Hongkong, sementara pendirinya berlokasi di Selandia Baru. Kenapa bisa dijerat oleh hukum di AS?

Kasus ini menarik untuk diperhatikan bagi pengelola situs atau layanan online di Indonesia yang mungkin waswas akan terkena dampak dari sebuah hukum di AS (atau negara lain).

Berikut adalah sedikit penjelasan mengenai kasus Megaupload yang dikutip dari ArsTechnica.

Prinsip kejadian

Megaupload memang secara resmi sebuah perusahaan yang berbasis di Hongkong. Pendiri dan karyawannya juga tinggal secara fisik di Selandia Baru.

Nah, menurut tulisan di ArsTechnica, yang patut diperhatikan dalam hal ini adalah nexus-nya, atau lebih sederhananya, prinsip "di mana terjadinya kerugian."

Megaupload dianggap sebagai sebuah situs yang, meski tidak berbasis di AS, tetapi ditujukan bagi warga AS dan menimbulkan kerugian kepada pihak-pihak yang ada di AS.

Dokumen dakwaan pada Megaupload menyebutkan, perusahaan itu menyewa 1.000-an server di AS, sebanyak 525 di antaranya ada di Virginia.

Kemudian, kebanyakan transaksi di situs itu juga dilakukan lewat PayPal, perusahaan AS. Jumlahnya, menurut Pemerintah AS, lebih dari 110 juta dollar AS.

Pendapatan iklan Megaupload didapatkan dari Google AdSense (hingga 2007) dan AdBrite. Keduanya perusahaan AS.

Megaupload membayar penggunanya yang melakukan upload paling populer. Dalam dakwaan itu disebutkan, termasuk di antaranya merupakan penduduk Virginia, AS.

Logika dari dokumen itu, dengan mengirimkan uang ke alamat di AS, Megaupload memahami bahwa mereka berbisnis di AS dan terikat dengan yurisdiksi AS.

Kesimpulannya: kerugian pelanggaran hak cipta terjadi di Virginia, dari server di Virginia, dan perusahaan itu mendapatkan, serta mengirimkan uang ke warga Virginia. Maka dari itu, ia terikat hukum federal di Virginia.

Tentu masalah yurisdiksi ini akan jadi salah satu bahan pembelaan terhadap Megaupload di persidangan kelak.

Bagaimana dengan Indonesia?

Selama perusahaan web di Indonesia tidak berbisnis langsung atau menargetkan pengguna di AS, bisa jadi hukum di AS tak akan "menyentuhnya".

Paling tidak hal itu bisa membuat tenang pengelola layanan online yang sempat waswas dengan adanya berbagai aturan di AS, termasuk Stop Online Pircay Act yang sempat ramai.

Namun, bukan berarti mereka "tak tersentuh" sama sekali. Penegakan hukum hak atas kekayaan intelektual juga ada di Indonesia. Dengan demikian, hal terbaik adalah berusaha menghindari pelanggaran sebisa mungkin.

Sumber : ArsTechnica

Rabu, 28 Desember 2011

Asin Jambal Roti Lebih Mahal dari Daging Sapi

Minggu, 25/12/2011 - 21:37



NURHANDOKO/"PRLM"
CECEP (kanan) pedagang ikan asin bersama dengan Ahdi (58), salah seorang perajin yang sudah hampir 30 tahun membuat ikan asin jambal roti, menunjukkan ikan asin jambal roti kualitas super yang...


CIAMIS, (PRLM).- Bagi penggemar ikan asin tentu kenal dengan ikan asin jambal roti. Ikan asin tersebut memang memiliki tempat tersendiri bagi penyuka ikan yang dikeringkan dan pengawetannya hanya dengan ditaburi garam.

Keberadaan ikan asin jambal roti saat ini juga naik daun, setidaknya sering disertakan menjadi pelengkap nasi timbel khas Sunda. Potongan kecil ikan asin dipadukan dengan ikan ayam, sambal serta lalaban.

Belakangan ini harga ikan asin jambal roti menunjukkan tren relatif stabil, berkisar antara Rp 65.000 - Rp 85.000 untuk kualitas super. Naiknya harga jambal roti juga tidak bisa dipisahnya dengan semakin berkurangnya pasokan ikan manyung dan ikan kadukang yang menjadi bahan baku ikan asin jambal roti.

Bagi perajin ikan asin di Pangandaran, Kabupaten Ciamis, kebutuhan bahan mentah ikan manyung tidak bisa dipenuhi oleh nelayan lokal, sehingga harus didatangkan dari luar wilayah seperti Cirebon, Pekalongan dan daerah lain yang memiliki pelabuhan samudra. Sedangkan untuk ikan kadukang, selain dari luar, sebagian di antaranya berasal dari hasil tangkapan nelayan tradisional di Pangandaran.

"Memang banyak perajin ikan asin jambal roti di Pangandaran, akan tetapi sebagian besar bahan bakunya masih didatangkan dari luar. Manyung dari Cirebon, PPekalongan dan daerah lain, sedangkan kadukang ada beberapa yang dari hasil tangklapan nelayan lokal," tutur Cecep (47) pemilik kios ikan asin di kawasan Pantai Timur Pangandaran.

Dia mengatakan, dibandingkan ikan asin lainnya, jambal roti menjadi buruan wisatawan yang datang ke Pangandaran. Akibat banyaknya permintaan, di lain pihak pasokan terbatas, menjadikan harga ikan asin jambal roti lebih mahal dibandingkan lainnya. Karena keterbatasan pasokan, menjadikan pedagang harus memiliki simpanan atau stok banyak.

"Menghadapi libur tahun baru ini pedagang sudah menyetok (menyimpan) jambal roti dalam jumlah cukup. Saya punya stok satu ton lebih. Biasanya kalau libur panjang stoknya bisa lebih banyak lagi. Soal harga memang juga tergantung persedaiaan, kalau stok menipis harganya bisa menembus Rp 90.000 - Rp 95.000 untuk kualitas super," ungkap Cecep yang didampingi salah seorang perajin ikan asin jambal roti, Ahdi (58).

Di kawasan wisata Pangandaran banyak dijumpai penjual asin jambal roti. Ikan asin terseut tidak hanya didagangkan dengan cara dijual dikos, akan tetapi juga di asongkan di sekitar tepi pantai atau di depan hotel. Selain itu juga banyak perajin ikan asin yang memilih menjual sendiri ikan hasil olahannya.

Ahdi yang sudah tiga puluh tahun menggeluti pembuatan ikan asin jambal roti, mengungkapkan bahwa pada dasarnya membuat ikan asin jambal roti relatif mudah, yang penting adalah bagaimana membuat perbandingan kebuthan garam dengan bahan baku ikan. Berapa takaran yang pas, kata dia, kadang kala tidak sama untuk setiap perajin, alasannya karena diperoleh dari hasil pengalaman.

Ada dua cara membuat ikan asin jambal roti dengan bahan baku ikan manyung dan kadukang. Cara pertama pembuatan ikan asin jambal roti adalah, sebelum diberi garam, terlebih dahulu isi perut ikan dikeluarkan ata dibersihkan, selanjuytnya ditaburi garam. Sedangkan cara kedua adalah terlebih dahulu memotong bagian kepala ikan, serta membuang isinya tanpa harus membelah perut ikan. Setelah bagian dalamnya dibersihkan, kemudian bagian perutnya diberi garam selama tiga hari atau sesuai dengan kondisi ikan. Sebelum dijemur, terlebih dahulu dibersihkan serta badannya dibelah.

Saat ini, lanjut dia, harga ikan kadukang mencapai Rp 24.000 per kilogram basah, sedanghkan ikan manjung mencapai Rp 18.000 per kilogram basah. Dari satu kilogram ikan, ghhanya menghasilkan ikan asin sebesar tiga ons. Untuk satu kali proses pembuatan ikan asin, membutuhkan waktu paling cepat satu minggu, yaitu tiga sampai empat hari perendaman ikan hingga garam meresap ke dalam daging ikan, serta pengeringan yang masihg mengandalkan sinar matahari. "Kalau matahari terik bisa tiga sampai empat hari baru kering, sedangkan jika mendung bisa lebih lama lagi," kata Ahdi.

Ia juga membuka rahasia ikan jambal roti kualitas super juga diperoleh dari ikan yang super pula, dalam arti ikannya masih segar atau belum terkena es. Sedangkan untuk kualitas biasa, umumnya berasal dari bahan baku ikan yang sebelumnya telah direndam es untuk menjaga kesegarannya. Garam yang dipergunakan juga harus garam krosok atau krital.

Biasanya untuk menghasilkan jambal roti kualitas super, jelas dia adalah memakai cara kedua atau memasukkan garam ke dalam perut ikan, selanjutnya dibelah menjelang dijemur. Tanda-tanda jambal roti super, menurut Ahdi yang juga memasok produksinya kepada pedagang asongan ikan asin jambal roti, dapat dilihat dari warna daging relatif lebih cerah, serta bagian dagingnya empuk dan renyah.

"Untuk kualitas super, orang sini mengatakan dagingnya renyah. Ada pula yang kualitas super tetapi warga dagingnya agak kekuningan, karena kandungan lemaknya yang sangat banyak. Yang pasti rasanya lebih lembut apabila dibandingkan dengan yang biasa, tidak cocok untuk balado, sebab hancur," tuturnya. (A-101/das)***

Budidaya Ikan Mujaer Lebih Menjanjikan

Selasa, 27/12/2011 - 02:21



WILUJENG KHARISMA/"PRLM"

BEBERAPA Jaring terapung muajer di Desa Telagajaya, Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang, Senin (26/12). Budibaya Ikan Mujaer bisa menjadi pilihan bagi petambak lainnya yang sedang mengalami...


KARAWANG, (PRLM).- Petambak Desa Telagajaya, Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang banyak yang beralih dari petambak udang ke ikan mujaer. Hal tersebut dilakukan karena mujaer lebih tahan terhadap kondisi air dan cuaca buruk.

"Kami terus merugi saat menanam benih udang karena sering mati akibat kondisi air yang jika terkena air hujan lebih banyak lebih dari lima puluh persen benih udang yang kami sebar selalu mati. Namun pengembangan budi daya ikan mujaer dengan teknik keramba jaring apung," ucap salah seorang petambak, Naja (42), Senin (26/12).

Hanya saja, kata Naja, pengembangan budidaya ikan mujaer dengan teknik keramba jaring terapung membutuhkan dukungan, terutama modal untuk berinovasi kisaran Rp 100-150 juta dengan keadaan keramba sebanyak 6 lubang, atau berukuran keramba sepanjang 60 meter dan lebar 4 meter.

“Ini modal awal untuk membangun keramba selebihnya jika budidaya sudah berjalan modal tidak akan sebanyak itu. Modal tersebut lebih murah daripada modal untuk menanam benih udang," katanya.

Naja mengatakan petani jaring apung menghabiskan biaya awal berkisar Rp 100 jutaan, di antaranya untuk fisik kontruksi keramba, seperti jaring madang, besi dan drum besi, menghabiskan dana berkisar Rp 37 juta. Sementara untuk biaya benih ikan berkisar Rp 20 juta, dan pakan pelet berkisar 21 ton untuk pakan selama 6 bulan sebesar Rp 137 juta.

Saat ini, kata Naja, perkembangkan budi daya ikan mujaer masih berukuran bibit, sehingga mengantisipasi perubahan cuaca di tahun mendatang petani perlu mempersiapkan keramba tambahan. Pasalnya, tambahan keramba untuk kebutuhan para petani jaring terapung di Kecamatan Pakisjaya akan diusulkan pada instansi terkait.

"Syukurlah, ikan yang kita kembangkan itu bersahabat dengan alam. Ikan tidak banyak yang mati, boleh dibilang hanya 10% dari benih yang ditabur. Itu juga hanya dikarenakan termakan oleh ular,” tutur Ucang (40), petambak lainnya.

Ucang optimis sekitar 80% benih ikan budi daya mampu berkembang lebih baik dan efektif para prosesnya dengan dukungan yang cukup. “Pengembangan ikan menggunakan keramba jaring apung secara intensif itu, kita adopsi dari pengembangan ikan budidaya di daerah lainnya," katanya.

Lebih lanjut Ucang mengatakan tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat atau lempung, tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang atau dinding kolam. (A-186/A-88)***

Kamis, 27 Oktober 2011

Stan Pijat Indonesia di CITM Ramai Pengunjung

PAMERAN PARIWISATA

Aris Prasetyo | Robert Adhi Ksp | Kamis, 27 Oktober 2011 | 14:01 WIB



Aris Prasetyo/KOMPAS
Stan layanan pijat gratis tak pernah sepi dari pengunjung di acara China International Travel Mart (CITM) 2011, Kamis (27/10/2011), di Kunming, China. Pengunjung bisa menikmati jasa pijat gratis selama lima menit.


KUNMING, KOMPAS.com — Stan pijat Indonesia di acara China International Travel Mart (CITM) 2011 di Kunming, China, ramai dikunjungi pengunjung, Kamis (27/10/2011).

Dibuka sejak pukul 11.30 waktu Kunming atau 10.30 WIB, tercatat hampir 200 pengunjung yang menikmati jasa pijat gratis dari Taman Sari Royal Heritage Spa, sebuah jasa layanan spa dari Mustika Ratu. Setiap pengunjung yang melewati stan milik Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di acara CITM 2011 itu selalu mampir dan mencoba layanan pijat gratis.

Imas Setiawati (21), terapis spa, mengaku sedikit kewalahan karena tamu berdatangan nyaris tanpa henti. "Banyak sekali tamunya. Tapi, saya senang bisa mengenalkannya kepada tamu asing dari berbagai negara," ujar Imas seperti dilaporkan wartawan Kompas Aris Prasetyo dari Kunming, China.

Setiap pengunjung yang menikmati pijat di stan tersebut tidak dipungut biaya alias gratis. Dipijat selama 5 menit membuat badan terasa segar kembali. Aroma terapi yang dibakar menambah kesegaran ketika dipijat.

"Fantastis. Badan saya segar kembali. Nikmat rasanya," ujar Huang Han (16), relawan CITM 2011 yang turut menikmati pijat gratis tersebut. Tak hanya pengunjung pameran dari berbagai negara, wartawan Indonesia yang ikut di acara tersebut tidak ketinggalan merasakan pijat gratis. "Mantap," ujar Meydi Anasari, jurnalis dari Trans TV.

Rabu, 12 Oktober 2011

Pameran Kriya Awi “Awi Goes to Mall” Menarik Perhatian Pengunjung

Selasa, 11/10/2011 - 17:34


RETNO HY/"PRLM"
KEPALA Seksi Perlindungan Museum Negeri Jawa Barat Sri Baduga, Dra. Nita Julianita, menerangkan kepada pengunjung tentang nama dan fungsi alat yang dipamerkan di pameran Kriya Awi “Awi Goes to...

BANDUNG,(PRLM).- Hari pertama penyelenggaraan pameran Kriya Awi “Awi Goes to Mall” yang menampilkan tujuh puluh lebih koleksi Museum Negeri Jawa Barat Sri Baduga, di lantai satu Bandung Indah Plaza Jalan Merdeka mengundang perhatian. Berbagai benda koleksi dari bambu berusia puluhan bahkan ratusan tahun yang dipamerkan tidak hanya dilihat, tetapi juga dipegang dan dimainkan.

“Ini benar-benar sangat luar biasa dan merupakan terobosan sangat bagus yang dilakukan museum (Sri Baduga). Kalau disimpan terus di museum dan tidak dipamerkan seperti ini, saya yang sudah berusia enam puluh benar-benar sudah lupa akan alat-alat yang dulu sering digunakan kakek nenek dan ayah ibu,” ujar Hadi Sucipto (63) warga Jalan Tubagus Ismail yang mengaku sudah lupa nama perkakas ataupun alat-alat rumah tangga dan perdagangan yang dipamerkan.

Bukan hanya Hadi Sucipto, sejumlah pengunjung juga mengalami hal yang sama. Semisal alat-alat perdagangan, sudung, naya, buleng, cireng, sumbul dan lainnya. “Kami benar-benar tidak menyangka kalau apresiasi dari pengunjung BIP ini begitu tinggi hingga mereka bertahan berjam-jam untuk bertanya semua barang yang dipamerkan. Mereka kembali mengingat-ingat dan mencoba mengenang akan masa lalu saat peralatan dari bambu masih menjadi alat bantu sebelum adanya alat-alat dari plastik,” ungkap Kepala Seksi Perlindungan Museum Negeri Jawa Barat Sri Baduga, Dra. Nita Julianita, kepada PRLM disela-sela kegiatan.

Dikatakan Nita, pameran Kriya Awi “Awi Goes to Mall” yang akan berlangsung hingga Minggu (16/10) mendatang selain menampilkan koleksi museum (Sri Baduga)dari bambu, juga menggelar aneka seni tradisi. Kesenian-kesenian yang ditampilkan untuk menghibur pengunjung diantaranya, kesenian kecapi suling, tembang Sunda Cianjuran, Celempungan, angklung dan lainnya. (A-87/kur)***