Senin, 31 Januari 2011

Mengintip Misteri Anestesi

Senin, 31 Januari 2011 | 07:46 WIB


shutterstock
Ilustrasi

KOMPAS.com — Bila pernah merasakan tindakan bedah atau cabut gigi, tentu Anda sudah tidak asing dengan istilah anestesi. Akan tetapi, meski prosedur anestesi sudah dipakai dalam dunia medis lebih dari 150 tahun, ilmu pengetahuan belum memahami dengan pasti bagaimana obat ini bekerja dalam tubuh.

Sebelum anestesi ditemukan, dokter dan dokter gigi hanya melakukan operasi pasien pada kondisi yang sangat khusus dan mayoritas tidak menggunakan penghilang sakit atau obat penenang.

Begitu mengerikannya operasi di masa dunia kedokteran sebelum mengenal obat bius membuat Darwin memilih untuk menggeluti biologi meski ia sangat berbakat di kedokteran.

Kemudian pada tahun 1864, William TG Morton, seorang dokter gigi, mendemonstrasikan penggunaan ether untuk membuat pasien "tidur" selama tindakan operasi. Praktik ini dengan cepat menyebar. Namun karena dokter-dokter di masa itu belum bisa mengontrol kadar ether yang tepat untuk dihirup, sering kali pasien terbangun di tengah operasi, atau bahkan tidak pernah bangun lagi. Ether juga sangat mudah terbakar.

Dekade berikutnya, para ahli mengenalkan anestesi berbentuk gas yang tidak mudah terbakar. Para ilmuwan kemudian mulai menemukan jenis obat bius yang dimasukkan dalam pembuluh darah dengan dosis terkontrol.

Anestesi biasanya dibawa dalam darah ke saraf di otak kita. Akibatnya, sel-sel saraf akan berhenti menerima dan mengirim sinyal. Karena saraf tidak menerima sinyal, kita tidak merasa sakit. Karena saraf berhenti mengirim sinyal, pasien yang sedang dioperasi tampak "tenang".

Efek samping Meski demikian, sampai dengan tahun 1950, efek samping berbahaya dari anestesi banyak ditemui, misalnya saja gangguan irama jantung, gangguan pernapasan, tekanan darah rendah, mual, dan muntah.

Teknik anestesi modern memungkinkan para pasien bisa melakukan dioperasi dengan aman dan efek samping yang minimal. Seiring perkembangan pengetahuan, anestesi kini juga semakin efektif, bekerja cepat dan bisa dihentikan. Dokter juga bisa memilih anestesi lokal atau total.

Namun, terkadang masih sering didengar cerita mengenai orang yang dibius total bisa mengingat apa yang terjadi di ruang operasi atau percakapan para dokter di ruang operasi. Beberapa juga mengaku bertemu dengan keluarganya yang sudah almarhum ketika mereka dalam kondisi tidak sadar. Misteri ini sampai sekarang belum dimengerti penyebabnya.

Riset yang dilakukan National Insitute of Health mengidentifikasi beberapa komponen yang sering dipakai dalam anetesi, yakni zat penenang, penghilang sakit, penghilang ingatan (amnesia), ketidaksadaran, serta zat penghilang gerakan.

Kini para ilmuwan juga telah mengembangkan obat-obatan yang bisa menyediakan salah satu atau beberapa elemen tersebut secara terpisah sehingga para dokter anestesi bisa membuat regimen penghilang sakit yang disesuaikan dengan pasien dan prosedur yang dilakukan.

Tugas para dokter anestesi sebenarnya bukan hanya mmebuat pasien "tertidur", tetapi juga membantu pasien pulih dari operasinya. Apalagi, proses membuat pasien "tertidur" dan bangun kembali sangatlah berbeda.

Meski anestesi masa kini sudah semakin aman, para ilmuwan terus mencari formula anestesi terbaik. Hal tersebut bertujuan mendesain anestesi yang spesifik dan efektif untuk tiap pasien.

Riset dalam bidang anestesi juga diharapkan bisa menguak misteri tentang sakit, memori, kondisi seperti epilepsi dan koma, serta dunia bawah sadar.

Sumber : LiveScience
Penulis: AN | Editor: Lusia Kus Anna |

Tidak ada komentar:

Posting Komentar