Rabu, 26 Januari 2011

Warung Kenangan Pasar Cihapit

Editor: I Made Asdhiana
Rabu, 26 Januari 2011 | 08:24 WIB


Suasana di Warung Nasi Bu Eha di Pasar Cihapit, Bandung.

Aneka laukyang disajikanprasmanan di Warung Nasi Bu Eha di Pasar Cihapit, Bandung.
KOMPAS/PRIYOMBODO




Oleh: Putu Fajar Arcana

SIANG itu, sebagian menu yang disajikan di atas meja panjang sudah habis. Padahal, waktu baru menunjukkan pukul 12.30. Bu Eha si pemilik warung sudah duduk santai di kursi dekat meja di bagian kiri warung kecil itu. Namun, pembeli masih saja mengalir….

Di antara pembeli itu ada Kusmana (40-an), seorang guru SMP di Bandung. Boleh dikata, ia satu di antara begitu banyak pelanggan setia Warung Nasi Bu Eha yang lokasinya ”tersembunyi” dalam keramaian Pasar Cihapit, Kota Bandung.

”Saya makan di sini sejak tahun 1988, sampai sekarang rasa masakannya tidak berubah dan lekat di lidah,” tutur Kusmana, awal Desember 2010.

Pengertian pelanggan setia warung ini harus ditarik sejak masa awal kemerdekaan Indonesia dulu. Warung ini dibuka tahun 1947 oleh Ibu Nok, ibu kandung Bu Eha. Dan sejak itu orang-orang Belanda yang masih ”tertinggal” di Indonesia menjadi pelanggan yang pertama-tama. Bu Eha cerita, dulu warung ini memiliki beberapa menu yang disukai orang-orang Belanda.

”Ada yang namanya kentang ongklok. Itu kentang rebus dikocok dalam tangkup piring terus ditambah susu murni. Ada juga kastrol, kacang merah plus daging. Tapi sekarang menu-menu itu sudah tidak dijual lagi,” kata Bu Eha. Orang tua yang sudah berumur 80 tahun ini menolak menyebutkan nama aslinya. ”Sudah pokoknya Eha saja,” katanya.

Warung Nasi Bu Eha sekarang sebagian besar menyediakan menu berbasis masakan Sunda. Anda bisa mendapatkan soto bandung, gepuk daging, gulai kepala ikan kakap, udang goreng, perkedel, rendang, ayam goreng, pepes jamur, pepes ati ampela, ati sapi, dan beberapa menu lain. ”Saya mah tidak hafal…” kata Bu Eha. Pokoknya, tambahnya, menu di sini lengkap. ”Dan yang makan juga dari Sabang sampai Merauke sejak dulu.”

”Paling istimewa menunya sambel dadak, segerrr…” tutur Atasi Amin (45), pelanggan setia lainnya. Sambal ini sebenarnya tidak beda dengan sambal khas Sunda. Ia diracik dari bahan-bahan seperti cabai, tomat, terasi, dan jeruk limau. Cara penyajiannyalah yang menarik. ”Kalau ada yang pesan baru dibikin secara mendadak. Makanya sambal ini disebut sambel dadak,” tutur H Subagja (60-an), keponakan Bu Eha, yang juga setia mendampingi bibinya selama berjualan.

”Oh ia sih tidak digaji, senang-senang saja. Orang dia sudah punya dua rumah makan kok,” kata Bu Eha mengenai keponakannya. Subagja membenarkan kalau ia memiliki dua outlet rumah makan Ampera di Kota Bandung. ”Ya di sini sambil jaga Bu Eha,” kata Subagja tersenyum.

Prasmanan
Seluruh menu di warung ini disajikan dalam meja panjang yang terbuka. Pada ujung paling kiri terdapat nasi lalu disusul begitu banyak menu. Para pembeli tinggal mengambil piring, kemudian nasi, dan selanjutnya silakan pilih menunya, sepuas-puasnya bila perlu. Kalau mau sambel dadak tinggal bilang. Enam orang karyawan akan dengan sigap membantu kita.

Tugas Bu Eha menghitung berapa potong lauk yang telah Anda santap. Menu-menu itu dihargai Rp 8.000-Rp 12.000 per potong/porsi. Setidaknya Anda hanya akan menghabiskan tidak lebih dari Rp 20.000 untuk sekali makan di sini.

Cara penyajian prasmanan seperti ini, kata Bu Eha, tidak pernah berubah sejak zaman Guntur Soekarnoputra dan Megawati Soekarnoputri menjadi mahasiswa di Bandung. Sejak era 1950-an sampai 1970-an, warung Bu Eha menjadi tempat makan favorit seluruh mahasiswa di Bandung. Di antara mereka ada maestro Jeihan Sukmantoro, para bekas pejabat seperti Adi Sasono, Dibyo Widodo, Bagir Manan, serta beberapa lainnya.

Bahkan, beberapa di antaranya, kata Bu Eha, khusus datang dari Belanda dengan anak dan cucu mereka. ”Masih ada kadang yang suka datang dari Netherlands kemari untuk bernostalgia karena dulu suka makan di sini,” kenang Bu Eha.

Bu Eha sudah berada di warungnya sejak pukul 04.30. Ia kemudian memimpin enam karyawannya memasak. Khusus daging gepuk sudah direbus selama empat jam sejak sore hari untuk kebutuhan keesokan harinya. Pada pukul 06.00, pelanggan sudah bisa menyantap menu-menu di atas meja untuk sarapan. ”Biasanya kalau pagi pelanggan dari pegawai seperti hakim, jaksa, guru, karyawan bank, yang sarapan di sini,” ujar Bu Eha.

Warung kecil yang tampak sederhana ini bisa menghabiskan lebih dari 50 kilogram beras serta Rp 1 juta, khusus untuk membeli daging dan 30-60 ekor ayam. ”Pokoknya kita belanja bahan bisa lebih dari Rp 3 juta sehari,” tutur Bu Eha.

Karena pembeli terus-menerus mengalir, siang ini saya cuma kebagian sepotong ayam goreng dan sayur sop. Tak apalah. Bukan soal rasa yang penting, tetapi menikmati kenangan demi kenangan yang mengalir di tempat ini.…
Sumber :
Kompas Cetak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar