Sabtu, 06 Oktober 2012

Tradisi "Ngaseuk Pare" di Kasepuhan Banten Kidul

Sabtu, 06/10/2012 - 01:32



RETNO HY/"PRLM"
TRADISI "Ngaseuk Pare" yang menandai dimulainya musim tanam padi huma di alun-alun Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar.*



PRLM -- Usai kumandang adzan subuh, ribuan warga adat dari 568 kampung adat Kasepuhan Banten Kidul sudah memenuhi alun-alun Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar yang menjadi Kasepuhan Girang Adat (kampung adat utama. Masing-masing Barisan Olot (sesepuh kampung adat) sibuk mengatur warganya yang terdiri dari kaum lelaki untuk turut serta melakukan tradisi Ngaseuk Pare yang berdasarkan hitungan kalender Sunda maupun Islam jatuh pada hari Jumat (5/10/12).

Sementara Pamingpin Olot memenuhi Imah Gede untuk menunggu keluarnya Abah Ugi Sugriana Rakasiwi selaku Sesepuh Girang yang akan memimpin langsung penyelenggaraan tradisi Ngaseuk Pare. Tradisi yang menandai dimulainya musim tanam padi huma di Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar.

Suasana hikmat terasa saat Abah Ugi Sugriana Rakasiwi keluar dari Imah Gede dan menuju alun alun untuk kemudian memulai perjalanan menuju tanah adat di lereng pegunungan Kendeng salah satu pegunungan di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun. Tanah adat yang berjarak sekitar 2 kilometer lebih ditempuh Abah Ugi serta Pamingping Olot, Barisan Olot dan warga adat ditempuh dengan berjalan kaki dalam waktu 45 menit diiringi tetabuhan kesenian Jipeng (Tanji dan Topeng) menciptakan debu tanah beterbangan.

Tanah ada seluas hampir 7 hektar dalam waktu singkat telah berpagar masyarakat adat. Setelah ada aba-aba, tradisi Ngaseuk Pare pun dilakukan secara serentak dan bersama-sama hingga hanya dalam tempo tidak kurang dari 30 menit acara menanam buah pare (buah padi ditanah huma berlangsung dan masyarakat adat kembali ke Kasepuhan Ciptagelar disambut dengan kesenian Jipeng, Topeng Buhun, dan Dogdog Lojor.

Menurut Aki Karma, salah seorang Baris Kolot, berdasarkan penanggalan tradisi Ngaseuk Pare adalah tradisi yang sudah dilakukan oleh kakek nenek moyang mereka 644 tahun lalu (1368 M). Tradisi Ngaseuk Pare berupa memulai menanam padi jenis beras merah ditanah pangapungan (diatas bukit) dilakukan setiap tahunnya menjadi penanda siklus kehidupan masyarakat adat di Kasepuhan Banten Kidul yang sangat bergantung pada kemurahan Nyi Pohaci Sanghyang Asri.

Tradisi yang dilakukan 20 hari setelah tradisi Seren Taun, merupakan salah satu sisi filosofis masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul dimana seluruh sendi-sendi kehidupan adat didasarkan kepada kalender siklus padi. Mulai dari tradisi Ngaseuk Pare diikuti Sapang Jadian Pare, Selamatan Pare Ngidam, Mapag Pare Beukah, Upacara Sawenan, Syukuran Mipit Pare, Nganjaran atau Ngabukti dan Ponggokan, dijalani masyarakat adat selama tujuh bulan lamanya.
Berbeda dengan pola pertanian intensifikasi, maka siklus panen padi di Kasepuhan hanya dilakukan satu kali setahunnya selama 6 hingga 7 bulan untuk selebihnya di istirahatkan. Masyarakat adat percaya bahwa tanah perlu dipulihkan, dikembalikan untuk mencapai keseimbangan dan keselarasan alam.

Lahan pertanian padi tidak boleh menggunakan bahan kimia, kecuali menggunakan bahan yang tersedia di alam. Tradisi bercocok tamam yang bersahabat dengan alam dan lingkungan telah menunjukan bahwa kearifan lokal mampu mengalahkan modernisasi dimana tanah pertanian masyarakat adat tidak pernah di serang hama seperti sering terjadi di tempat lain yang mempraktekkan pertanian intensif.

Hebatnya lagi, kearifan lokal yang masih terjaga mampu melahirkan varietas bibit padi yang jumlahnya kini mencapai 140 jenis tersebar di setiap kasepuhan. Untuk varietas khusus disimpan di Leuit si Jimat atau leuit (lumbung padi) utama yang terdapat di tengah-tengah Kampung Adat Ciptagelar.

Leuit si Jimat setiap tahunnya mampu menampung hingga 8.700 pocong (ikat) padi. “Leuit si Jimat sekaligus berfungsi seperti “bulog” yang diperuntukkan bagi masyarakat ketika mereka membutuhkan pinjaman padi,” Yoyo Yogaswara yang menjadi penghubung masyarakat adat dengan dunia luar.

Diungkapkan Yoyo, dari akumulasi pengetahuan berabad-abad, lumbung-lumbung masyarakat kasepuhan merupakan bank genetik dari berbagai varietas padi. Seluruh varietas padi ini terawetkan dalam lebih dari 8.000 leuit atau lumbung yang ada di seluruh wilayah kasepuhan.
Setiap keluarga di Kasepuhan Banten Kidul memiliki beberapa lumbung padi kecil, dimana satu lumbung dapat menampung 500 hingga 1.000 pocong padi. Umumnya 1.000-2.000 pocong padi ekuivalen untuk mencukupi kebutuhan konsumsi pangan untuk satu keluarga selama setahun.

Ilmu pengetahuan yang sudah dijalankan secara turun temurun selama 644 tahun sudah banyak dipelajari oleh peneliti dalam maupun luar negeri. Kearifan lokal masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul dinilai mampu bertahan dan relevan dengan kondisi perekonomian yang menerapkan ilmu modern yang dihasilkan para pakar terpelajar. (Retno HY/”PRLM”/A-108)***



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar