Selasa, 02 Oktober 2012

IPB Kembangkan "Database" Jamu

Selasa, 2 Oktober 2012 | 09:26 WIB



KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Pegawai di tempat penyembuhan alternatif di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, meracik obat herbal, Sabtu (3/12). Tanaman obat ini berasal dari sejumlah daerah di Indonesia, termasuk sarang semut dari Papua.


BOGOR, KOMPAS.com - Dalam upaya memperkuat peran jamu dan tanaman herbal dalam pengobatan medis di Indonesia, Pusat Studi Biofarmaka Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan database jamu berbasis teknologi informasi.

Kepala Pusat Studi Biofarmaka (PSB) IPB Prof Latifah K Darusman menjelaskan, saat ini tidak kurang dari 15.000 tanaman herbal yang dapat tumbuh di Indonesia. Penyusunan database ini akan dilakukan IPB bekerjasama dengan para ilmuwan dari Nara Institute of Science and Technology (NAIST) Jepang.

"Saat ini, Pusat Studi Biofarmaka IPB tengah mengembangkan database jamu dan tanaman herbal berbasis teknologi informasi untuk penguatan peran jamu di Indonesia," katanya pada acara lokakarya "Jamu-Informatics" yang mengusung tema "Menggali Pengetahuan dari Database Jamu Menggunakan Teknik Bioinformatika" di IPB International Convention Center Bogor, Senin (1/10/2012) kemarin.

Latifah menjelaskan, "Jamu Informatics" atau database jamu ini masih dalam tahap pengembangan dengan rincian database berjumlah sekitar 5.310 jamu, 797 produsen dan 654 tanaman atau 1.133 herbal. Data jamu yang disediakan merupakan data yang sudah terdaftar di Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Selain database berbagai jamu yang ada di Indonesia, melalui "Jamu Informatics" juga akan ditampilkan referensi hasil-hasil penelitian terhadap jamu yang terdapat dalam database.

Dalam lokakarya yang juga menghadirkan narasumber dari NAIST Jepang Dr Shigehiko Kanaya dan berbagai kalangan dari akademisi, instansi dan para wiraswasta itu, salah satu peserta bernama Wawan dari Kampung Jamu Organik, Cikarang, Kabupaten Bekasi menyampaikan pembuatan database jamu itu akan sangat berguna jika diaplikasikan di perusahaannya.

Menurut dia, saat ini ada sekitar 300 jenis tanaman herbal yang dikembangkan di perusahaannya yang juga tercatat di BPOM. Wawan mengatakan, meski perusahaannya bergerak dalam hal budi daya, tapi "Jamu Informatics" dianggapnya penting untuk diimplementasikan.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Bisnis dan Komunikasi IPB Dr Arif Imam Soeroso mengimbau masyarakat untuk senantiasa membiasakan minum jamu. Ia berharap produk jamu dapat berhasil mengangkat Indonesia di mata Internasional, karena saat ini ada sekitar 300 tanaman sedang dilakukan upaya pengembangan untuk menjadi obat dan sekitar 10 produk yang sudah ada di pasar.




Sumber :Antara
Editor : Asep Candra

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar