Rabu, 10 Oktober 2012

Amra Babic, Wali Kota Berjilbab Pertama di Eropa

Politik

 
Rabu, 10 Oktober 2012 | 11:41 WIB



  ELVIS BARUKCIC / AFP Wali kota Visoko, Bosnia, Amra Babic menjadi perempuan berjilbab pertama yang menjadi wali kota di Bosnia dan Eropa. 


SARAJEVO, KOMPAS.com — Kota Visoko di Bosnia akhirnya memiliki wali kota baru. Dalam pemilihan wali kota yang digelar Minggu (7/10/2012), warga kota akhirnya memilih Amra Babic, seorang perempuan berjilbab, menjadi pemimpin mereka. Babic menjadi perempuan berjilbab pertama yang menjadi wali kota di Bosnia dan Eropa.

"Ini adalah kemenangan demokrasi. Warga kota menunjukkan kedewasaan mereka karena memilih saya yang tak hanya seorang perempuan, tetapi perempuan yang mengenakan jilbab," kata Amra Babic.

"Pemilihan ini bisa menjadi model untuk Eropa, khususnya bagi Bosnia, di mana budaya Barat dan Timur bertemu di negeri ini," tambah dia.

Babic (43) meraup 30 persen suara dalam pemilihan di kota kecil berpenduduk 40.000 orang itu.

"Ajaran Islam terhadap perempuan sangat jelas. Islam memberikan tempat bagi perempuan dalam sistem pelayanan publik dan bagi mereka yang menafsirkannya dengan benar bahwa seperti itulah perempuan di mata Islam," tambah Babic, yang tergabung dalam Partai Aksi Demokratik (SDA), partai Muslim terbesar di Bosnia.

Babic juga yakin bahwa perempuan seperti dirinya tetap memiliki tempat di antara negara-negara Eropa modern.

"Saya yakin jilbab saya tidak akan menjadi penghalang. Eropa akan memahami bahwa jilbab terkait identitas seseorang yang juga memiliki toleransi terhadap hak orang lain," paparnya.

Sebelum menjadi wali kota, ibu dari tiga anak ini menjabat sebagai menteri keuangan di Kanton—semacam provinsi—Zenica, Bosnia tengah.

Sekitar 40 persen dari 3,8 juta penduduk Bosnia beragama Islam. Sedangkan etnis Serbia yang memeluk Kristen Ortodox berjumlah 31 persen dan 10 persen lainnya adalah etnis Kroasia yang memeluk Katolik Roma.

Saat Bosnia masih menjadi wilayah Yugoslavia yang komunis, penggunaan jilbab dan penutup kepala lainnya dilarang. Namun, setelah Yugoslavia bubar dan Bosnia menjadi negeri independen, sebagian perempuan Bosnia mengenakan jilbab.

"Saya tak akan pernah mencampurkan politik dan agama. Jika saya memiliki kekuatan untuk melindungi hak saya maka saya akan mencari kekuatan untuk melindungi hak orang lain," janji Babic.

Babic yang kehilangan suaminya dalam perang Bosnia 1992-1995 membuat dirinya memahami peliknya situasi jika politik bercampur sentimen agama. Dan, selama beberapa tahun dia memimpin asosiasi keluarga Muslim yang menjadi korban perang.

Sumber :AFP
Editor :Ervan Hardoko

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar