Rabu, 31 Desember 2008

Pedagang Bangkitkan Islam Kembali di Cina

By Republika Newsroom
Rabu, 24 Desember 2008 pukul 13:44:00


QANTARA.DE

Jamaah muslim di Cina usai melaksanakan sholat


GUANGZHOU - Islam kembali datang dan menguat di Guangzhou, salah satu kota pusat perdagangan di Cina, sekaligus tempat pertama kali Islam tiba di daratan tersebt seribu tahun lalu oleh para pedagang.

"Pemahaman saya tentang Islam telah meluas dan mendalam kini," ungkap Jin Lei, seorang muslim dari propinsi Shandong, yang baru pindah ke Guangzhou, seperti yang dikutip oleh China Daily, 23 Desember lalu.

"Ketika saya bertemu dengan muslim dari negara-negara berbeda, saya menjadi tahu jika Islam bukan terbatas pada ritual dan masjid, melainkan cara hidup," tambah Jin Lei.

Guangzhou kini menjadi rumah bagi empat masjid termasuk Majid Huaisheng yang terkenal. Masjid Huaisheng didirikan oleh salah satu paman sekaligus sahabat dekat Rasul Muhammad, Sa'ad bin Abi Waqqas.

Kota juga memiliki sebuah makam yang diyakini makam Sa'ad bin Abi Waqqas. Kini kota itu kembali menjadi pusat tujuan pedagang muslim. Seperti pedagang yang mengenalkan Islam pertama kali ke Cina, mereka kini dihargai karena membangkitkan kembali Guangzhou.

"Situasi sosial komunitas muslim saat ini di Guangzhou, mirip dengan jaman Dinasti Tang," ujar Ma Qiang, asisten profesor studi etnologi dan keagamaan di Universitas Normal Shaanxi.

"Kedua komunitas berbeda tak jauh dengan kondisi saat China pertama kali membuka diri dan memiliki perekonomian makmur," imbuh Ma, seorang cendekia muslim yang menulis komunitas muslim Guangzhou sebagai tema desertasi doktoralnya.

Kota itu sejak lama terkenal sebagai salah satu pusat perdagangan internasional yang menarik pedagang muslim dari Timur Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara selama bertahun-tahun.

"Saya pertama kali datang ke Cina pada 1999. Saya jatuh cinta dengan kota ini dan sejak itu hampir sebagain besar waktu tinggal di sini," aku Mohamed Ali Algerwi, pengusaha Yaman berusia 39 tahun.

"Ia telah mendirikan perusahaan swasta pribadi di Guangzhou dan kini mengekspor aksesoris mobil, keramik, ban, aksesoris kendaraan, dan kosmetik ke negara-negara Arab.

Sementara Abdul Bagi Al-Atwani, 38 tahun juga pengusaha Yaman, mengaku datang pertama kali ke Cina 15 tahun lalu sebagai pelajar. Ia pindah ke Guangzhou pada 1999 dan kemudian memulai bisnsi perdagangan antara Cina dan negara-negara Arab.

"Saya suka Guangzhou. Ini tempat yang baik untuk berbisnis dan tinggal," tutur Al Atwani seraya mengaku memiliki restoran dalam bahasa Cina yang fasih.

Banyak toko di pusat perbelanjaan Guangzhou, meyajikan barang-barang untuk melayani pedagan muslim luar, menyediakan mereka barang-barang Islami, kebutuhan sehari-hari seperti pakaian Arab dan Afrika, bahkan Al Qur'an elektronik.

Tanpa pendatang muslim luar, banyak dari kita menjadi penganggguran," ungkap Fang Qinghaou, pemilik toko di Pusat Komersial Internasional Honghui. "Ketika waktu sholat tiba, mereka kadang sholat di toko saya. Saya bantu menyediakan lembaran papan, atau kertas untuk mereka bersujud," kata Fang

"Saya paham jika mereka memiliki keyakinannya sendiri, namun kita tidak membicarakannya. Kami hanya berbicara bisnis," ujar Fang lagi.

Islam di Guangzhou sendiri sempat menurun pada abad ke-20, dan sensus nasional tahun 2000 lalu mencatat, muslim di wilayah kota itu hanya 9.838, orang. Lalu setelah itu tidak ada laporan lagi.

Kini menurut Asosiasi Islami Guangzhou, jumlah muslim tinggal di kota itu meningkat sekitar 50 ribu hingga 60 ribu orang. Wang Wenji, wakil presiden organisasi tersebut mengatakan lebih dari 10 ribu jamaah melakukan sholat Jumat di empat masjid kota.

Kapasitas masjid yang tak mampu menampung keseluruhan jamaah, seringkali membuat warga muslim sholat di trotoar depan sekitar masjid. "Pertama kali penduduk lokal bingung melihat para jamaah. Namun kini mereka telah terbiasa dengan pemandangan itu," ujar Bai Lin, imam Masid Xiaodongying.

"Penduduk di Guangzhou sangat berpikiran terbuka," kata Bai lagi.

Sehingga tidak heran bila di kota itu banyak pula ditemukan restoran halal, terutama di area konsentrasi muslim, yang menawarkan masakan Arab, Cina, Afrika, dan Thailand./it

Konvensi Besar "Kebangkitan Islam" di Kanada

By Republika Newsroom

Kamis, 25 Desember 2008 pukul 13:59:00

MECCA.COM

Suasana bazar pada konvensi "Reviving the Islamic Spirit," tahun 2007 lalu.



TORONTO - Muslim di Kanada bakal punya hajatan besar. Konvensi tahunan besar berjudul "Reviving the Islamic Spirit" atau Membangkitkan Spirit Islam yang menghadirkan pembicara muslim dari penjuru akan saja diselenggarakan di Kanada 26 Desember esok.

"Dengan rata-rata pengunjung 15 ribu partisipan per tahun, konvensi ini menjadi pusat perhatian berbagai kelompok berbeda", ujar Nadir Shirazi, sekretaris pers acara konvensi tersebut seperti yang dikutip oleh IslamOnline.

Ribuan orang dari seluruh penjuru Amerika Utara akan mengalir ke Toronto pada hari Jumat mendatang untuk mengikuti pembukaan konferensi tiga hari tersebut.

Acara yang diorganisais grup para aktivis pemuda Muslim Kanada--yang dianggap sebagai perkumpulan muslim terbesar di Kanada, menggemakan semangat konvesi serupa di AS, yakni Kovensi Masyarakat Islami Amerika Utara.

Tahun ketujuh konvensi kali ini bertema "Menjawab panggilan Tuhan, Pembawa pesan, Menempatkan Prioritas Ajaran Nabi bagi Muslim di Barat,"

Acara itu nanti akan diikuti bazar dengan penjual dari seluruh Amerika Utara menjajakan dan mempromosikan produk serta layanan mereka. "Ini tentu akan menggerakkan aktivitas ekonomi di dalam kota," ujar Shirazi.

Sebuah konser juga bakal digelar di akhir acara, dengan pertunjukkan nasheed, termasuk artis Pakistan ternama, Junaid Jamshed dan penyanyi Inggris Mesut Kurtis. Penyelenggara berharap hasil besar tahun ini mengingat konvensi jatuh saat libur Natal di Kanada.

Sejak diselenggarakan pertama kali di tahun 2003, konvensi tersebut menjadi salah satu konferensi muslim penting di Amerika Utara. Pengunjung bertambah setiap tahun, mulai dari 3.500 orang pada konferensi pertama, hingga 15 ribu orang pada konferensi terakhir 2007 tahun lalu. Jumlah itu pun diprediksi akan meningkat pada tanggal 26 Desember nanti.

Sejumlah ulama muslim dari berbagai belahan dunia akan menjadi pembicara di konvensi tersebut. Mereka diantaranya ialah Hamza Yusuf, dan Yahya Rhodus dari AS, Tariq Ramadan dari Swiss, lalu Jamal Badawi dari Kanada sendiri, dan Tareq Suwaidan asal Kuwait.

"Dengan membawa berbagai warna pembicara ke Toronto, salah satu kota dengan ragam perbedaan terkaya di dunia, kami berharap mampu membangun institusi nyata dan berarti untuk hidup bersama dan berkontribusi di Kanada," ujar Fouzan Khan, pendiri dan direktur konvensi tahunan itu.

Selama tujuh tahun berlangsung, konvensi tersebut juga menjadi perhatian tokoh-tokoh non Muslim, termasuk jurnalis ternama Inggris Robert Fisk, aktivis politik sekaligus rabi Amerika Michael Lerner, dan politisi plus pemain kriket Pakistan, Imran Khan.

Penyelenggara juga meyakini keragaman yang diberikan tiap pembicara berbeda mencerminkan wujud nyata masyarakat muslim Kanada yang memiliki rasio 1,9 % dari 32,8 juta populasi total penduduk.

"Muslim di Kanada adalah warga global, dan lebih terhubung dengan kemanusiaan seluruh dunia dari pada sebelumnya," ungkap Khan.

Dalam sebuah survei terakhir menyebutkan jika hampir seluruh muslim bangga menjadi warga negara Kanada dan lebih berpendidikan dibanding populasi pada umumnya./it

Sepeda Motor Listrik Honda E4-01 Diproduksi 2010


MOTOR PLUS/GIZMAG

JAKARTA, SELASA – Pabrikan motor Honda Jepang, Honda Motor Company (HMC) bakal merampungkan proyek roda dua bertenaga listrik atau electric motorcycle (EM) pada 2010. Konsep ini sesuai sesuai dengan kampanye Honda demi lingkungan hidup yang sudah diteriakkan lima tahun silam.

Hal ini disampaikan oleh Presiden Direktur HMC Takeo Fukui yang dikutip salah satu website roda dua di dunia, pertengahan Desember lalu. “Motor listrik akan meredam zat berbahaya seperti C02. Tahap awal akan diproduksi motor listrik untuk kebutuhan jarak pendek. Dua tahun ke depan, jadwal penting untuk menduniakan motor listrik Honda,” ungkap Fukui.

Sekitar 3 – 4 tahun silam, Honda memang gencar memperkenalkan motor listrik. Ajang Tokyo Motor Show (TMS) dimanfaatkan sebagai kampanye EM. Ambil contoh Honda E4-01 mulai dipajang di TMS 2004 yang kemudian dikembangkan terus dari Honda Griffone dengan basis mesin 900 cc. Beratnya, di bawah 200 kg.

Ucapan Fukui bisa jadi maklumat yang kemungkinan berimbas ke Indonesia. Direktur Marketing PT Astra Honda Motor Johannes Loman belum memberi jawab positif. “Kami belum bisa memaastikan hal ini. Sepanjang teknologi itu (motor listrik, red) cocok untuk Indonesia, kami akan mempelajarinya,” tegas Loman. (Niko)

Ekspresi Wajah Bawaan Lahir


Bob Willingham 
Perbandingan senyum antara penerima perak yang memiliki penglihatan normal (kanan) dengan yang tidak dapat melihat (tuan netra).


EKSPRESI wajah tak dapat menyembunyikan perasaan dan emosi seseorang. Hal tersebut kelihatannya muncul secara alami tanpa harus dilatih. Berdasarkan penelitiaan teranyar yang dimuat Journal of Personality and Social Psychlogy menunjukkan bahwa ekspresi emosi seseorang ditentukan gen.


Ekspresi wajah seseorang mungkin sudah terbentuk dengan sendirinya dan diturunkan sejak lahir. Faktor meniru atau berlatih tidak terlalu menentukan seperti apa ekspresi seseorang.

Dalam penelitian itu, dibandingkan ekspresi wajah antara orang tuna netar dengan orang yang berpenglihatan normal. Ternyata gerakan otot mukanya relatif sama dan membentuk ekspresi yang serupa.

"Ini menunjukkan bahwa terdapat sifat genetik yang mengatur sumber ekspresi emosi," ujar David Matsumoto, profesor psikologi dari San Fransisco Satte University. Penelitian tersebut menyimpukan bahwa ekspresi wajah tidak ditentukan dari hasil pengamatan.

Bahkan, Matsumoto menemukan baik orang yang berpenglihatan normal maupun penyandang tuna netra sama-sama mengatur ekspresi wajah dengan cara yang sama berdasarkan konteks sosial yang dihadapi. Misalnya ekspresi "senyum sosial" peraih medali perak saat penyerahan medali usai final pertandingan olimpiade.

Senyum yang diperlihatkan peraih perak umumnya hanya mengaktifkan otot mulut. Berbeda dengan senyum bebas (biasa disebut senyum Duchenne) yang juga melibatkan otot sekitar mata dan otot pipi.

"Orang yang kalah menekan bibir bawah ke atas untuk mengendalikan emosinya di wajah," jelas Matsumoto. Tuna netra mustahil memperoleh cara berekspresi seperti itu dari pengamatan yang dilakukan orang lain. Artinya ada faktor genetik yang mengendalikannya. Namun, gen yang mana tentu butuh penelitian lebih lanjut melalui percobaan.


Sumber : PHYSORG

Pendidikan di Indonesia Masih Menyedihkan

Refleksi "Malam Renungan Pendidikan 2008"

 

ASAP hitam dari ban yang terbakar mengepul saat seorang mahasiswa berorasi pada aksi menolak Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (BHP) di depan Gedung Sate Jln. Diponegoro Kota Bandung, Rabu (24/12). Disahkannya UU BHP oleh DPR memicu aksi penolakan oleh mahasiswa di seluruh Indonesia.* ADE BAYU INDRA/"PR"


BANDUNG, (PR).-
Sepanjang tahun 2008, dunia pendidikan di Indonesia tidak ditandai perubahan berarti, sehingga membuat wajah pendidikan tetap menyedihkan. Persoalan-persoalan yang sejak lama muncul mewarnai wajah pendidikan negeri ini, belum menunjukkan penyelesaian ke arah yang lebih baik.

Demikian disampaikan mantan Ketua Komite Aksi Mahasiswa Unpad (KAMU) Oky Syeiful Harahap di depan peserta "Malam Renungan Pendidikan 2008" yang diselenggarakan Forum Aktivis Bandung (FAB) di Sekretariat FAB, Senin (29/12).

Disebutkan Oky, tahun 2008 ditandai dengan dua fenomena penting di dunia pendidikan. Pertama, keputusan konstitusi mengenai keharusan pemerintah mengalokasikan anggaran sedikitnya 20 persen untuk bidang pendidikan. "Keputusan tersebut seolah-olah berpihak pada dunia pendidikan, padahal nyatanya tidak sama sekali," ujarnya.

Kemudian, fenomena kedua yang cukup krusial terjadi tahun ini ialah saat DPR mengesahkan Rancangan Undang Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP) menjadi Undang-undang di tengah kontroversi dan penolakan yang masih ramai. "Sudah sejak lama pemerintah senang membuat peraturan baru hingga jumlahnya bertumpuk. Akan tetapi, tidak satu pun yang diterapkan dengan baik," ujarnya.

Ia mencontohkan, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) , hingga kini tujuannya sama sekali tidak jelas. Untuk itu, pengesahan UU BHP ini semestinya dijadikan momentum untuk bergerak menuntut adanya perubahan demi pendidikan Indonesia yang lebih baik lagi," tutur Oky.

Tidak responsif

Pakar hukum dari Universitas Pasundan Bandung Anthon Freddy Susanto menyatakan, banyaknya penolakan yang muncul pascapengesahan UU BHP menunjukkan aturan tersebut sama sekali tidak responsif karena sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai yang ada di masyarakat.

"Lama-lama aturan tersebut akan makin represif dan ujung-ujungnya akan berakibat pada tindak kekerasan yang menimpa lembaga pendidikan. Kalau sudah demikian, kembali masyarakat yang akan dirugikan," kata Anthon. Kearifan lokal yang dimiliki masyarakat pun akan makin tergerus kapitalisme pendidikan.

Menurut Anthon, pendidikan di Indonesia semestinya jangan terlalu terpaku pada kebijakan regulasi. Sebab, Indonesia sudah dibanjiri produk hukum di bidang pendidikan yang masih rapuh dan miskin implementasi. Sementara semakin banyaknya undang-undang seolah memperlihatkan nilai moral yang terkandung di masyarakat selama ini tidak baik.

Semestinya Indonesia berkaca pada Jepang, Korea, dan Cina. Di ketiga negara tersebut, sistem pendidikan yang disusun pemerintah dapat berjalan seiring dengan pendidikan yang dilaksanakan berdasarkan kearifan lokal yang ada.

Dalam kesempatan yang sama, Anggota Komisi D DPRD Kota Bandung Arif Ramdani mengurai empat hal yang merupakan permasalahan di Kota Bandung. Keempat permasalah tersebut berada di kebijakan, fungsi DPRD, kebijakan di tingkat Dinas Pendidikan, dan juga satuan tingkat pendidikan.

Permasalahan kebijakan ditandai dengan banyaknya peraturan yang tidak sinkron antara satu dengan yang lain. Kemudian, permasalahan pada fungsi DPRD terlihat saat penentuan besaran anggaran untuk pendidikan. "Selama ini yang memiliki wewenang membahas untuk kemudian menentukan besaran anggaran ialah panitia anggaran. Semestinya komisi terkait perlu pula dilibatkan, karena mereka yang tahu permasalahan di dunia pendidikan untuk kemudian menentukan besaran anggaran yang dibutuhkan hingga akhirnya memudahkan dalam hal menjalankan fungsi pengawasan," kata Arif. (A-184)***

Tahun, Semesta, dan Kehidupan

Oleh NINOK LEKSONO

NASA Goddard Space Flight Center
Bumi dipotret dari ruang angkasa.


“Mungkin Tuhan menciptakan Alam Semesta bagi kemaslahatan kita.” (Fisikawan Andrei Linde, Discover, 12/08)

Dalam beberapa jam lagi, Matahari terakhir tahun 2008 akan tenggelam di ufuk barat, dan warga dunia pun berpesta menyambut datangnya Tahun Baru. Inilah peristiwa yang mengulangi apa yang terjadi, setahun silam, dua tahun silam, sepuluh tahun silam, seabad silam, satu milenium silam, dan sejuta tahun silam… bahkan semiliar tahun silam sekalipun. Seperti kita petik dari ilmu astronomi, sistem Matahari-Bumi yang melahirkan konsep tahun—yaitu periode atau kurun waktu sekali Bumi mengelilingi Matahari—sudah lahir sekitar 4,5 miliar tahun silam.

Seperti inilah ”rutin” yang akan dijalani penduduk Bumi selama sekitar empat miliar tahun lagi, yakni sebelum Matahari mengembang menjadi bintang raksasa merah yang akan memanggang Bumi.

Menjadi pertanyaan menarik, masihkah kehidupan ada di Bumi saat itu? Atau manusia sudah bertransformasi menjadi makhluk pengelana antariksa? Pertanyaan itu masuk akal karena bahkan sekarang pun kondisi lingkungan di Bumi mulai tampak menurun akibat aktivitas manusia.

Tahun dan ”tahun”

Dengan jarak rerata dari bintang induk Matahari 150 juta kilometer, Bumi perlu 365 hari untuk sekali mengelilingi Matahari. Itulah satu tahun kita. Bagi planet Merkurius yang berjarak 57,5 juta kilometer dari Matahari, satu tahun di sana tidak 365 hari, tetapi 87,9 hari Bumi. Lalu satu tahun untuk Venus hanya 224,7 hari Bumi. Sementara itu, satu tahun untuk planet luar, yang jaraknya dari Matahari lebih besar dari Bumi, yakni Mars 686,9 hari Bumi, Jupiter 11,9 tahun Bumi, Saturnus 29,5 tahun Bumi, Uranus 84 tahun Bumi, Neptunus 164,8 tahun Bumi, dan Pluto 247,9 tahun Bumi. Ibaratnya, untuk merayakan Tahun Baru di Pluto—seandainya manusia bisa hidup di planet yang jauhnya 40 kali jarak Matahari-Bumi ini—diperlukan tempo 247,9 tahun!

Di Bumi, jangka waktu selama itu telah diisi oleh berbagai kemajuan teknologi dan peradaban yang luar biasa. Kalau saat ini di Pluto ada perayaan menyambut Tahun Baru, maka perayaan tahun baru sebelumnya terjadi tahun 1760 Bumi, satu dekade sejak awal Revolusi Industri di Inggris. Kita sudah menyaksikan betapa hebatnya perkembangan zaman sejak Revolusi Industri hingga hari ini.

Ya, ketika berbicara tentang tahun, yang berarti juga tentang waktu, manusia Bumi pun mau tidak mau harus berbicara tentang jarak. Jaraklah yang sebenarnya membuat manusia seperti tak berdaya—karena kecilnya—di hadapan kosmos yang mahaluas.

Dalam ketidakberdayaan menghadapi jarak, manusia telah memperlihatkan keteguhannya untuk tidak mau menyerah. Melalui wahana antariksa seperti Pioneer 10 (diluncurkan tahun 1972) dan Pioneer 11 (1973), mata manusia telah dibawa ke jarak lebih jauh dari planet Mars sehingga citra planet raksasa Jupiter secara close-up pun bisa dibuat.

Wahana Voyager bahkan melangkah lebih jauh. Setelah diluncurkan tahun 1977, Voyager 2 menjadi wahana buatan manusia pertama yang mendekati planet Uranus dan Neptunus, sementara Voyager 1 yang menempuh arah berlainan kini telah memasuki ruang antarbintang.

Namun, harus diakui, meski ciptaannya telah berhasil menjangkau ruang antarbintang, jarak sekitar 10 miliar kilometer tersebut masih sangat-sangat kecil untuk ukuran kosmos.

Sekadar perbandingan, bintang terdekat dari Bumi, Alpha Centauri, sudah berjarak 4,5 tahun cahaya, padahal satu tahun cahaya—yakni jarak yang ditempuh cahaya dalam satu tahun—adalah sekitar 9,5 triliun kilometer. Bisa kita hitung berapa triliun kilometer jarak Alpha Centauri ke Bumi.

Bisa juga kita hitung berapa jarak dalam kilometer dari Matahari kita yang ada di salah satu lengan Galaksi Bima Sakti (Milky Way) ke pusat Galaksi yang jauhnya 30.000 tahun cahaya. Juga bisa kita hitung jarak galaksi terdekat, yakni Andromeda, yang jauhnya 2 juta tahun cahaya.

Bak debu

Di hadapan kosmos, Bumi dan manusia ibarat debu yang dimensinya demikian kecil. Namun, Sang Maha Pencipta rupanya memberikan kelebihan yang sungguh besar kepada manusia. Ini diwujudkan dengan munculnya temuan ilmiah terakhir yang memperlihatkan bahwa alam semesta tercipta untuk kehidupan. Jadi, bukan kehidupan menyesuaikan diri dengan alam semesta, tetapi justru alam semestalah yang menyesuaikan diri untuk kehidupan.

Pemahaman baru ini muncul setahap demi setahap di kalangan astronom yang mempelajari kosmos. Astronom yang bekerja di kegelapan malam di observatorium Cile yang amat gelap dan tinggi merasakan dirinya bukan warga Bumi, tapi warga Galaksi. (The sensation of being on Earth faded away, she recalled. ”I was a citizen of the Galaxy.” Dari ”Space -The Once and Future Frontier”/NG)

Adanya kedekatan, meskipun terpisahkan oleh jarak mahajauh, seperti menyiratkan bahwa kehidupan merupakan ”anak kandung” alam semesta. Dalam penjelasannya kepada Tim Folger (Discover, Desember 2008), fisikawan visioner Andrei Linde dari Universitas Stanford di Palo Alto, California, menyebutkan, sifat-sifat dasar alam semesta secara ajaib pas untuk kehidupan. Kalau hukum fisika yang berlaku diubah sedikit saja—di alam semesta ini—maka kehidupan yang kita kenal ini tidak akan pernah ada.

Ambil dua contoh. Atom terdiri dari proton, neutron, dan elektron. Kalau proton 0,2 persen lebih berat, ia akan tidak stabil dan akan meluruh jadi partikel lebih simpel. Atom lalu tidak akan eksis, demikian pula kita. Kalau gravitasi sedikit saja lebih kuat, bintang-bintang akan mengerut lebih kuat, membuatnya lebih kecil, panas, dan padat. Bintang tidak akan bertahan miliaran tahun, tetapi akan terbakar habis bahan bakarnya dalam jutaan tahun, lalu padam jauh sebelum kehidupan punya peluang untuk berevolusi.

Ada banyak contoh yang memperlihatkan bahwa alam semesta punya sifat ramah terhadap kehidupan sehingga para fisikawan sulit menganggapnya hanya sebagai kebetulan.

Kita hidup dalam satu waktu dan tempat khusus di alam semesta di mana kehidupan mungkin terjadi. (Ini dikenal sebagai Prinsip Antropik Lemah). Sementara Prinsip Antropik Kuat menegaskan bahwa hukum-hukum fisika memang bias (amat pro) terhadap kehidupan. Freeman Dyson, fisikawan di Institute for Advanced Study di Princeton, lebih gamblang lagi mengatakan bahwa Prinsip Antropik Kuat menyiratkan, ”alam semesta tahu kita akan datang”.

Kalau memang ini soalnya, tampaknya ada titah khusus yang diamanatkan kepada kehidupan, dan khususnya kepada manusia dari alam semesta, atau dari Penciptanya. Menjadi kewajiban kitalah untuk secara cerdas menangkap amanat tersebut. Ini tentu lebih serius daripada sekadar mengulang ritual setiap tahun tatkala Matahari di hari terakhir bulan Desember tenggelam di ufuk barat./*

Kartu Merah di Detik Ketiga


Mohammad Resha Pratama - detiksport


Ilustrasi (AFP)


 
London - Mencetak sebuah rekor belum tenta menyenangkan, setidaknya ini berlaku bagi seorang David Pratt. Rekor kartu merah tercepat di sepakbola tingkat senior harus ia terima dalam sebuah pertandingan.

Rekor tak menyenangkan tersebut dia ukir ketika timnya, Chippenham Town, klub Southern Premier League, sebuah kompetisi semi profesional di Inggris, berlaga melawan rival sesama peserta liga itu, Bashley, Sabtu (27/12/2008) lalu.

Kick off babak pertama berjalan tiga detik, Pratt melakukan sebuah tekel keras ke pemain Bashley Chris Knowles. Wasit pun tanpa ampun langsung mengusirnya dari lapangan. Chippenham harus bermain dengan 10 orang selama 89 menit dan 57 detik waktu normal, dan akhirnya tunduk dari Bashley dengan skor 1-2.

Pratt sendiri sangat kecewa atas pelanggaran yang dilakukannya dan tidak menyangka harus meninggalkan lapangan scepat itu. Namun, ia mengakui keputusan wasit dengan mengakartu merahkannya itu benar adanya.

"Saya sangat terpukul dengan apa yang diputuskan oleh wasit tapi wasit berpikir itu kartu merah. Jadi saya harus menerimanya," imbuh pemain berusia 21 tahun itu kepada BBC.

Terkait dengan rekor yang ia cetak tersebut, Pratt pun tak senang menerimanya dan segera ingin melupakannya."Rekor dunia ini buka sesuatu yang besar bagiku, sesuatu yang tidak harus dibanggakan."

Pratt memecahkan rekor yang telah bertahan 18 tahun milik mantan pemain Bologna, Giuseppe Lorenzo. Lorenzo diusir wasit pada detik ke-10 karena memukul lawan pada sebuah pertandingan Seri A.

Di daratan Inggris pun, sebuah rekor kartu merah tercepat pernah dipegang oleh mantan kiper Sheffield Wednesday, Kevin Pressman. Pada tahun 2000, Pressman dikeluarkan oleh sang pengadil di detik ke-13 karena memegang bola di luar kotak penalti.

Dan di tahun yang sama, di Liga Amatir Inggris, seorang pemain bernama Lee Todd juga harus dikartumerah di detik ke-2 pertandingan berjalan akibat memaki wasit dengan kata kasar.

( arp / arp )

Cigadung, Bukit Beracun Sianida

Coba ingat-ingat lagi, apakah yang dimakan itu keripik kentang ataukah keripik gadung? Bisakah membedakan dengan cepat, mana keripik kentang dan mana keripik gadung? Kadang sulit membedakannya, apalagi bila irisannya sama tipisnya.

Atau, bisa jadi keripik gadung yang kita makan itu berasal dari Desa Citangtu, Kecamatan Kuningan, Kabupaten Kuningan. Masyarakat di desa ini sudah membudidayakan gadung sebab peluangnya jauh lebih menguntungkan. Keripik gadung mempunyai pasar yang potensial seperti DI Jakarta dan Bandung. Setiap tahunnya, petani gadung dari Desa Citangtu mampu menjual keripik gadung siap saji sebanyak 100-150 ton per sekali panen. Dengan harga yang menjanjikan dan stabil, ternyata tidak kalah dengan harga padi, singkong, atau ubi jalar. 

Gadung (Dioscorea hispida DENNST) yang pernah bercitra sebagai bahan makanan orang miskin yang kelaparan, kini menjadi makanan ringan orang gedongan. 

Bagi orang tua yang pernah mengalami masa-masa sulit beras, makan gadung menjadi pilihan. Ketika sawah tak memberikan hasil karena gagal panen, rakyat pergi ke hutan. Bukan untuk membabat hutan atau untuk menjarah kayu, tetapi untuk mencari umbi gadung. Ketika hutan alam masih utuh, belum dijadikan hutan produksi dan kebun sayur seperti sekarang, hutan benar-benar menjadi sumber pangan masyarakat. 

Gadung sudah sangat dikenal di berbagai daerah dengan nama yang berbeda-beda. Di tatar Sunda dikenal dengan nama gadung, yang tumbuh liar di berbagai tempat. Begitu pun tumbuh subur di hutan alami di perbukitan sekeliling Bandung atau di lereng-lereng gunung yang melingkung Bandung.

Di tatar Sunda banyak tempat yang bernama Cigadung, begitu pun di utara Bandung. Kawasan yang asalnya berupa perbukitan dengan tumbuhan alami, di lantai hutan di perbukitan itu tumbuh gadung.

**

Gadung merupakan tanaman sejenis umbi-umbian dengan batangnya yang berduri, merambat, dan relatif tanpa gangguan, sebab babi hutan pun tak suka. Dalam satu batang gadung, umbinya bisa mencapai puluhan seukuran rantang yang agak pipih, sampai-sampai tanah di atasnya menggunung, bahkan pecah-pecah. 

Umbinya berwarna putih kekuningan dan daunnya berbulu halus. Saat kemarau, daun gadung meranggas, ini pertanda umbi gadung sudah siap untuk digali, untuk dipanen. 

Tidak seperti singkong, umbi gadung tidak dapat dikonsumsi atau dimasak secara langsung karena umbi gadung mengandung racun atau zat alkaloid yang disebut dioscorin (C13H19O2N). Racun ini bila dikonsumsi dengan kadarnya rendah, dapat menyebabkan pusing. Bila kandungan racunnya cukup banyak, bisa mengakibatkan mabuk gadung. 

Racun yang terkandung dalam umbi gadung itu harus dihilangkan terlebih dahulu sebelum dimakan. Racun dioscorin itu dapat dihilangkan dengan beberapa cara yang khusus, seperti yang dilakukan di daerah Pameungpeuk, Kabupaten Garut. Cara ini dapat menghilangkan kadar racun dalam umbi gadung sehingga layak dikonsumsi. 

Langkah-langkah itu adalah sebagai berikut: umbi gadung diiris dengan pisau yang tajam dan tipis, lalu dilumuri dengan abu sambil sedikit diremas-remas hingga lunak, dan dijemur di terik matahari sampai kering. Kemudian irisan gadung itu dicuci di air mengalir. Masukkan irisan gadung yang telah dicuci ke keranjang dan direndam dalam air mengalir selama 3-4 hari. Setiap hari irisan itu diaduk-aduk. Setelah 3-4 hari, cuci sampai bersih, lalu cuci lagi dengan air garam. Angkat dan tiriskan. 

Untuk mendapatkan kepastian bahwa umbi gadung sudah tidak beracun, biasa diberikan dahulu pada ternak. Apabila ternak yang memakan umbi gadung tersebut tidak menunjukkan gejala apa-apa, berarti umbi gadung tersebut sudah tidak mengandung racun. Namun sebaliknya, apabila ternak yang memakannya menunjukkan gejala pusing-pusing, berarti umbi gadung masih mengandung racun. 

Proses perendaman umbi gadung dalam air harus diulang sehingga racunnya benar-benar hilang. Melalui perendaman ini, selain melarutkan senyawa linamarin dan lotaustralin, juga dapat memacu pertumbuhan mikroorganisme yang dapat menguraikan racun gadung menjadi asam organik. 

Bila dinilai sudah aman, masyarakat yang sudah menanti ingin segera mengonsumsinya, gadung yang telah ditiriskan itu langsung dikukus. Setelah matang, kukusan irisan gadung ditaburi dengan parutan kelapa. Wah, sedap sekali. Atau, irisan gadung yang telah ditiriskan tadi kemudian dijemur di bawah terik matahari sampai kering. 

Gadung sudah teruji dapat memenuhi kebutuhan energi tubuh dan enak bila kandungan racunnya sudah dinetralkan. Asam sianida atau asam biru baru timbul saat jaringan umbi gadung dikupas atau diiris. Bila jaringan rusak, dua senyawa prekursor, yaitu linamarin dan lotaustralin, akan kontak dengan enzim linamarase dan oksigen udara hingga menjadi glukosa dan sianohidrin. 

Sianohidrin, pada suhu kamar dan kondisi basa (pH di atas 6,8), akan terpecah membentuk racun sianida (HCN) dan aseton. Namun, senyawa linamarin dan lotaustralin sangat mudah larut dalam air dan tidak tahan panas sehingga mudah dihilangkan. Oleh karena itu, proses menghilangkan racun yang dilakukan masyarakat sudah tepat. Dengan cara itu, residu HCN yang mematikan itu tinggal 1-10 mg per kg gadung. Residu itu dapat dihilangkan dengan proses pemanasan yang cukup saat gadung dimasak atau digoreng. Gadung pun aman dikonsumsi.

Terjadinya keracunan saat mengonsumsi gadung karena tidak diproses dengan baik. Beberapa pengalaman menunjukkan, dapat dicegah dengan makanan berkadar asam amino esensial dan iodin tinggi, seperti ikan asin atau sumber protein lain, dan sayuran.

**

Sudah lama umbi yang mengandung racun sianida ini berkhasiat dan dapat digunakan dalam pengobatan, seperti banyak diuraikan dalam buku K. Heyne (1927). Ini merupakan tantangan para ahli obat untuk memublikasikan hasil-hasil penelitiannya, agar masyarakat secara mandiri dapat mengobati dirinya sendiri. Kita tidak peduli terhadap potensi yang dimiliki bangsa ini. Namun begitu dipatenkan orang lain, baru kita ngeh. Baru kita kebakaran jenggot, lalu diam lagi.

Beberapa contoh penyakit yang oleh masyarakat dapat diobati dengan gadung adalah: penyakit kusta (lepra), kencing manis, nyeri empedu, keputihan, mulas, nyeri haid, radang kandung empedu, rematik, bahkan kapalan (obat luar). Akarnya pun berkhasiat sebagai obat rematik, kencing nanah, dan disentri.

Gadung yang selama ini identik dengan makanan warga miskin, ternyata telah naik daun menjadi makanan cemilan orang gedongan. Gengsinya pun akan semakin naik lagi bila gadung dapat diolah menjadi obat-obatan, yang selama ini terabaikan. (T. Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung)***