Rabu, 31 Desember 2008

Ekspresi Wajah Bawaan Lahir


Bob Willingham 
Perbandingan senyum antara penerima perak yang memiliki penglihatan normal (kanan) dengan yang tidak dapat melihat (tuan netra).


EKSPRESI wajah tak dapat menyembunyikan perasaan dan emosi seseorang. Hal tersebut kelihatannya muncul secara alami tanpa harus dilatih. Berdasarkan penelitiaan teranyar yang dimuat Journal of Personality and Social Psychlogy menunjukkan bahwa ekspresi emosi seseorang ditentukan gen.


Ekspresi wajah seseorang mungkin sudah terbentuk dengan sendirinya dan diturunkan sejak lahir. Faktor meniru atau berlatih tidak terlalu menentukan seperti apa ekspresi seseorang.

Dalam penelitian itu, dibandingkan ekspresi wajah antara orang tuna netar dengan orang yang berpenglihatan normal. Ternyata gerakan otot mukanya relatif sama dan membentuk ekspresi yang serupa.

"Ini menunjukkan bahwa terdapat sifat genetik yang mengatur sumber ekspresi emosi," ujar David Matsumoto, profesor psikologi dari San Fransisco Satte University. Penelitian tersebut menyimpukan bahwa ekspresi wajah tidak ditentukan dari hasil pengamatan.

Bahkan, Matsumoto menemukan baik orang yang berpenglihatan normal maupun penyandang tuna netra sama-sama mengatur ekspresi wajah dengan cara yang sama berdasarkan konteks sosial yang dihadapi. Misalnya ekspresi "senyum sosial" peraih medali perak saat penyerahan medali usai final pertandingan olimpiade.

Senyum yang diperlihatkan peraih perak umumnya hanya mengaktifkan otot mulut. Berbeda dengan senyum bebas (biasa disebut senyum Duchenne) yang juga melibatkan otot sekitar mata dan otot pipi.

"Orang yang kalah menekan bibir bawah ke atas untuk mengendalikan emosinya di wajah," jelas Matsumoto. Tuna netra mustahil memperoleh cara berekspresi seperti itu dari pengamatan yang dilakukan orang lain. Artinya ada faktor genetik yang mengendalikannya. Namun, gen yang mana tentu butuh penelitian lebih lanjut melalui percobaan.


Sumber : PHYSORG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar