Selasa, 30 November 2010

Pembocor Dokumen Rahasia AS Bakal Jadi Pelarian? Ekuador Siap Tampung

Selasa, 30 November 2010, 15:00 WIB


 AP
 Julian Assange


REPUBLIKA.CO.ID, QUITO--Jika pendiri WikiLeaks, Julian Assange, yang kini jadi "musuh" baru Amerika Serikat terusir dari negaranya,  Ekuador siap memberi rumah baginya. Wakil Menteri Luar Negeri Ekuador,  Kintto Lucas, mengatakan bangsanya dengan senang hati untuk menyediakannya.

Pria kelahiran Australia 39 tahun lalu ini telah membuat marah dan malu Washington dengan rilis ratusan ribu file diplomatik yang sensitif. Selama ini ia tinggal di Swedia dengan visa kerja.

Tapi setelah rilis oleh WikiLeaks yang dimulai pada akhir Juli tentang dokumen sensitif dari perang Irak dan Afghanistan, rekayasa hukum dilakukan atasnya. Misalnya, peengadilan Swedia memerintahkan dia ditahan untuk diperiksa dengan tuduhan kekerasan seksual, hal yang dibantahnya.

Assange, yang menjaga rahasia keberadaannya dengan selalu berpindah-pindah ini, juga bisa menghadapi komplikasi hukum di negara asalnya. Jaksa Agung Australia mengatakan pada hari Senin bahwa ia sedang mempelajari pelanggaran hukum yang dilakukannya di luar negeri.

Kintto Lucas mengatakan ia memuji orang-orang seperti  Assange yang selalu menyelidiki dan memberi penerangan "di sudut-sudut gelap informasi".  Lucas mengatakan pemerintah Ekuador  sangat prihatin  dengan apa yang dialaminya.
Red: Siwi Tri Puji B
Sumber: AP

Alat Tsunami Dikembalikan


ANGGOTA Balawista Pangandaran menunjukkan salah satu perlengkapan alat deteksi dini ("early warning system") tsunami berupa pelantang suara yang dipasang di bagian atap Sekretariat Balawista, Pangandaran, beberapa waktu lalu.* NURHANDOKO WIYOSO/"PR"


CIAMIS, (PR).-
Merasa tidak diperhatikan, Bala Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) Pangandaran Kabupaten Ciamis berniat mengembalikan alat deteksi dini (early warning system/EWS) tsunami kepada Dewan Pertimbangan Presiden. 

Keterangan yang dikumpulkan "PR", Senin (29/11), menyebutkan, tindakan tersebut disebabkan selain terbentur tidak adanya anggaran pemeliharaan, juga karena tidak ada kejelasan kepemilikannya.

Terlebih, alat yang sangat penting untuk mendeteksi dini gelombang tsunami, sudah beberapa tahun dibiarkan rusak. Peralatan yang rusak, bukan hanya yang dipasang di kawasan cagar alam Pangandaran, melainkan juga yang ada di Sekretariat Balawista. 

"Terus terang, pada saat pemasangan, kami hanya ketempatan alat. Soal anggaran pemeliharaan tidak tersedia. Padahal, agar optimal, harus dijaga 24 jam," tutur Ketua Balawista Pangandaran Dodo Taryana.

Mereka juga mengaku, pemasangan alat tersebut menjadi beban bagi Balawista karena tidak adanya dukungan anggaran operasional pengoperasian alat yang dipasang pascatsunami 2006.

Didampingi anggota, Herry Haerudin, serta sejumlah anggota bala penjaga pantai Pangandaran, Dodo menambahkan, sejak EWS dipasang, tidak disertai dengan penyerahan mandat. Selain itu, juga tidak mendapat pelatihan pengoperasian ataupun perbaikan apabila terjadi kerusakan.

"Tanpa dibekali dengan pelatihan, kami sangat kesulitan. Kami juga tidak bisa berbuat apa-apa saat alat rusak," katanya.

Dia mengungkapkan, pada saat awal pemasangan, alat tersebut dijaga sehari penuh. Akan tetapi, karena tidak ada biaya operasional, akhirnya jika malam, ditinggal atau tidak ditunggu. (A-101)***

Begini Cara Sel Kanker "Gerogoti" Tubuh

 
 
Shutterstock
Ilustrasi sel kanker



PENNSYLVANIA, KOMPAS.com - Para Ilmuwan di Amerika Serikat menyusun sebuah teori baru mengenai bagaimana sel kanker dapat berkembang biak dan bertahan dalam jaringan tubuh.

Temuan ini dapat membantu para ahli kanker di dunia dalam menyusun diagnosa serta terapi baru untuk menyasar pasien-pasien berisiko tinggi.

Adalah tim peneliti dari Kimmel Cancer Center di  Universitas Thomas Jefferson Pennsylvania, yang berjasa membuat teori baru ini didasarkan pada hasil empat penelitian.

Teori ini juga dapat menjelaskan mengapa begitu banyak pasien kanker merasa tubuh mereka seperti  'digerogoti' secara perlahan. Padahal. ini sebelumnya tidak pernah dapat dimengerti oleh para ahli.

Empat teori baru ini menyodorkan bukti bahwa pertumbuhan sel tumor dan proses metastasis sebenarnya "dipicu" secara langsung atau didukung oleh sel-sel normal. Sel-sel normal dinamakan fibroblasts yang membuat sel kanker bertahan, dan mereka menghasilkan  stroma (jaringan penghubung) yang membungkus sel tumor.

Ketika sel kanker berkembang, jumlah sel stromal ini meningkat dan mereka seperti menggerogoti dirinya untuk menyediakan nutrien daur ulang kepada sel-sel tumor. Inilah yang mengakibatkan pasien kanker kerap kehilangan bobotnya secara signifikan.

Para ahli juga juga menemukan, tanpa nutrien daur-ulang yang disediakan oleh fibroblasts, sel-sel tumor menjadi lebih rapuh dan mudah mati.

Berdasarkan temuan penting ini, para ahli menilai obat-obat kanker yang sifatnya mengganggu hubungan parasit antara sel tumor dan fibroblasts, mungkin efektif dalam terapi.

"Kami kira rahasia bagaimana cara sel kanker berkembang telah terungkap. Ini  membalikkan 85 tahun dogma melampaui riset dan terapi kanker saat ini,"  ungkap Michael P. Lisanti, M.D., Ph.D., peneliti senior dan direktur Jefferson's Department of Stem Cell Biology & Regenerative Medicine.

Mereka menyebut penemuan ini sebagai  The Reverse Warburg Effect.  Penelitian ini juga dipublikasikan dalam journal Cell Cycle edisi September.

"Ini sungguh hebat. Banyak hal yang kita tahu soal kanker berlawanan sebab studi tentang kanker kebanyakan menggunakan sel tumor yang diisolasi. Sekarang kami menempatkan sel-sel kanker kembali dalam lingkungan stromal  Kami melihat bagaimana sel kanker secara kritis tergantung pada fibroblasts demi kelangsungan hidup mereka," ungkap Dr. Lisanti.

Penulis: AC   |   Editor: Asep Candra   |   Sumber : Times of India

Satelit Dunia Islam Segera Menjadi Kenyataan

Selasa, 30 November 2010, 03:09 WIB


blogspot
Satelit



REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN--Menteri Telekomunikasi Iran Reza Taqipour mengatakan Turki, Pakistan dan sejumlah negara Arab menyatakan kesiapannya berkolaborasi dengan Iran dalam desain dan peluncuran satelit dunia Islam. Teheran pertama kali mengumumkan rencana peluncuran satelit bersama OKI dengan nama "Besharat" ke ruang angkasa dengan partisipasi negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) pada Februari 2009.

"Selain Iran, sejumlah negara Arab, Turki, Pakistan dan Malaysia akan berpartisipasi dalam pembangunan dan peluncuran satelit Besharat," kata Taqipour kepada kantor berita Mehr kemarin. Teheran mengatakan negara-negara Islam bisa menggunakan satelit ini untuk melakukan pemetaan secara akurat, sekaligus mengatasi bahaya dan penanggulangan bencana alam.

Pada bulan Oktober, Parlemen Iran meratifikasi undang-undang yang memungkinkan pemerintah meningkatkan upaya untuk merancang dan meluncurkan satelit dan operator satelit. Pada Senin lalu, anggota parlemen Iran memberikan suara yang mendukung RUU Pasal 49 mengenai Rencana pembangunan Iran tahun 2011-2015, yang akan mengizinkan pemerintah mengatur infrastruktur yang dibutuhkan untuk proyek-proyek satelit.

Iran telah bergabung dengan negara-negara yang memiliki keahlian meluncurkan satelit pada tahun 2009 lalu. Hal itu ditandai dengan peluncuran satelit buatan anak negeri, Setelit Omid yang diangkut ke ruang angkasa menggunakan roket Safir. Teheran juga berencana mengirim misi ruang angkasa berawak pertamanya ke luar angkasa pada 2019.

Red: irf
Sumber: Irib

Eniya, Penerima Habibie Award Termuda

Profil Ilmuwan
Selasa, 30 November 2010 | 07:39 WIB



KOMPAS/NAWA TUNGGAL
Dr Eng. Eniya Listiani Dewi, B. Eng, M. Eng



KOMPAS.com - Di antara 4 orang penerima Habibie Award 2010, salah satunya adalah Dr-Eng Eniya Listiani Dewi, peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Ia merupakan penerima Habibie Award termuda.

Karya perempuan kelahiran 14 Juni 1974 tersebut berkisar pada lingkup elektrokimia, suatu cabang ilmu kimia yang berkaitan dengan potensi listrik dan energi. Penelitiannya adalah tentang sel bahan bakar berbasis hidrogen yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi baru yang ramah lingkungan.

Salah satu karya yang mengawali kiprahnya di bidang sel bahan bakar adalah penemuan katalis baru untuk sel bahan bakar. Penemuan tersebut menurutnya adalah sebuah inovasi yang ditemukan secara kebetulan.

"Saya kan kalau sedang eksperimen suka saya tinggal waktu makan siang. Saya pikir kan tidak masalah. Nah, waktu itu ketika saya melihat hasil eksperimen setelah saya tinggal, kok jadinya berbeda, ternyata perbedaan malah jadi inovasi," terang Eniya. Polimer yang terbentuk menjadi terdiri dari 10 penyusun, padahal harusnya ada 2 penyusun.

Dari hasil karya yang kebetulan tersebut, perempuan yang menyelesaikan gelar doktor dari Fakultas Aplikasi Kimiawi, Polimer, Katalis dan Sel Bahan Bakar Waseda University ini meraih beragam penghargaan, termasuk Mizuno Awards dan Koukenkai Awards dari Waseda University dan Polymer Society Japan pada tahun 2003.

Karya terbarunya adalah ThamriON, sebuah membran sel bahan bakar temuannya yang baru saja mendapatkan penghargaan Inovasi Paten dari Ditjen HKI 2010. "Prinsipnya, ThamriON tersebut adalah membran sel bahan bakar yang terbuat dari plastik yang direaksikan dengan asam sulfat. Karena telah direaksikan, maka plastik bisa menghantarkan listrik," ungkapnya.

Nama ThamriON sendiri punya sejarah tersendiri. "Saya kan bekerja di Jalan MH Thamrin Jakarta jadi nama itu saya ambil untuk nama karya saya. Kalau ON sendiri berasal dari kata ion, karena plastiknya bisa jadi menghasilkan ion," terangnya sambil tertawa mengenang penamaan hasil karyanya.

Teknologi sel bahan bakar dan bahan pendukung lain hasil risetnya di kembangkan 80 persen dari material lokal, sehingga biayanya lebih murah. Dengan proses manufaktur secara mandiri, sel bahan bakar yang tersebut telah diterapkan untuk menyalakan perangkat elektronik dan sepeda motor dengan kapasitas 500 Watt.
Untuk mengembangkan proses produksi dan penyimpanan bahan bakar, Eniya bekerja sama dengan berbagai pihak. "Ada Teknik Kimia UGM, Pusat Teknologi Bioindustri, industri polimer dan baterai," ungkap perempuan yang kini menjadi Kepala Perekayasaan Sel Bahan Bakar di BPPT.

Eniya adalah putri pertama dari pasangan Hariyono (alm) dan Sri Ningsih, berasal dari kota Magelang, Jawa Tengah. Ketertarikannya dengan dunia teknologi dan lingkungan sudah ada sejak ia masih duduk di bangku SMA Negeri 1 Magelang.

"Sejak saya SMA, saya sudah tertarik pada hal-hal yang berbau sains dan ramah lingkungan. Waktu itu, kalau mengarang, saya selalu menulis tema-tema teknologi dan isu ramah lingkungan," ujarnya yang sebenarnya lebih menyukai ilmu fisika daripada kimia.

Setelah lulus SMA, ia beruntung dapat memperoleh beasiswa lewat program Science and Technology Advance Industrial Development (STAID) Kementerian Negara Riset dan Teknologi. Ia kemudian melanjutkan pendidikan S-1 ke Waseda University.

Pendidikan strata dua dan tiga ia lanjutkan dengan beasiswa dari lembaga lain. Total masa pendidikan yang ia butuhkan untuk mencapai gelar doktor adalah 10 tahun, berawal dari tahun 1993 hingga tahun 2003.

Salah satu ambisi terbesarnya adalah mewujudkan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan dari bahan hidrogen. "Bahan hidrogen ini sangat berpotensi, bisa diproduksi dari berbagai macam sumber, termasuk biomassa," terangnya. Ambisi tersebut diperoleh setelah melihat pengembangan kota Fukuoka, Jepang yang mengaplikasikan hidrogen sebagai sumber energi.

Hidrogen bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan listrik, bahan bakar kendaraan dan lainnya. "Dengan bahan bakar hidrogen, motor tidak mengeluarkan asap, tapi air murni," jelas Eniya.

Ide Eniya dalam pemakaian hidrogen sebagai sumber bahan bakar juga dipresentasikan dalam 7th Biomass Asia Workshop yang berlangsung di gedung BPPT, Senin (29/11/2010).

Penulis: Yunanto Wiji Utomo   |   Editor: A. Wisnubrata

Senin, 29 November 2010

Awas Antibiotika dalam Daging Ternak!

Senin, 29 November 2010 | 10:55 WIB
 
 Kompas/Lucky Pransiska
Peternakan ayam
 
 
 
BEIJING, KOMPAS.com - Masuknya residu antiobiotika ke dalam tubuh lewat konsumsi daging ternak harus diwaspadai karena dapat meningkatkan kemungkinan berkembangnya bakteri yang resisten terhadap obat-obatan.

Peringatan tersebut diungkapkan beberapa pakar di China menyusul tren penggunaan antiobiotika pada hewan ternak yang makin meningkat.  Laporan menyebutkan, hampir setengah dari antibiotika yang diproduksi di Negeri Tirai Bambu itu diberikan kepada ternak daripada digunakan untuk mengendalikan penyakit pada manusia.

Sekitar  210.000 ton antibiotika yang diproduksi di China setiap tahun, sekitar 97.000 ton di antaranya berakhir dalam tubuh hewan, ungkap Xiao Yonghong, profesor dari  Institute of Clinical Pharmacology of Peking University, seperti dilansir koran People's Daily.

Riset yang digagas Chinese Academy of Social Sciences menemukan, lebih dari  50 persen peternakan di Provinsi Shandong dan Liaoning selalu menambahkan antibiotika pada pakan hewan yang diternakkan.

"Penggunaan antibiotika sudah menjadi lumrah sekarang, yang berujung pada meningkatnya tingkat kematian hewan karena tingkat kekebalan mereka menjadi tertekan. Selain itu, antibiotika kerap merugikan kesehatan seseorang setelah diminum," ujar Qi Guanghai, kepala riset di Akademi Ilmu Agrikultur China.

"Perhatian harus diberikan pada masalah asupan antibiotika melalui konsumsi makanan sehari-hari, karena hal itu dapat meningkatkan kemungkinan bakteri kebal yang berkembang dalam tubuh manusia," ujar Huang Liuyu, direktur  Institute for Disease Prevention and Control of the People's Liberation Army.

Salah satu contohnya adalah bayi seberat 650-gram yang lahir prematur di Guangzhou.  Seperti dilaporkan surat kabar People's Daily, bayi ini mengidap resistensi terhadap tujuh jenis antibiotika, yang diduga kuat akibat dari kebiasaan ibunya setiap hari mengonsumsi daging dan telur yang mengandung residu atau ampas dari antibiotika.

Bulan lalu, di dataran China juga dilaporkan kasus pertama bakteri NDM-1, yang resisten pada hampir semua jenis antibiotika.

Dengan adanya fakta meningkatnya kasus resistensi obat yang terdeteksi di China dan belahan bumi lainnya, Huang mendesak pihak yang berwenang seharusnya memberi perhatian lebih pada masalah ini, dan melakukan regulasi dengan baik pada sektor ini.

"Di Eropa, antibiotika dilarang untuk ditambahkan pada makanan ternah sejak bertahun-tahun dan pelarangan yang sama  akan diimplementasikan di Korea Selatan," ujar  Tu Yan, periset dari Akademi Ilmu Agrikultur China.

China memperkenalkan antibiotika ke dalam industri peternakan dalam upaya pencegahan penyakit pada era 1990-an.  Regulasi tentang tambahan obat-obatan diterbitkan oleh China pada 2002, dan lebih banyak fokus pada penggunaan dosis yang tepat dari jenis antibiotika berbeda pada pakan ternak. Namun regulasi tersebut  tak mengatur tentang supervisi penjualan dan penggunaan antibiotika yang berlebihan.
Penulis: AC   |   Editor: Asep Candra   |   Sumber :asiaone.com

Ratusan Muris SD Budiwangi Belajar Digubuk




CECEP SA/"PRLM"
RATUSAN murid SD Budiwangi Desa Cisempur Kec. Cibinong Kab. Tasikmalaya terpaksa belajar digubuk.*
 
 
TASIKMALAYA, (PRLM),- Ratusan murid SD Budiwangi Desa Cisempur Kec. Cibalong Kab. Tasikmalaya bertahan belajar digubuk sejak 14 bulan lalu, karena sekolah mereka porak poranda akibat gempa 7,3 SR 2 September 2009.

Menurut para guru, mereka sudah tidak nyaman di sana, karena suasananya gerah dan panas, bahkan apabila turun hujan, kegiatan belajar mengajar terpaksa dibubarkan.

Wakil Kepala SD Budiwangi, Ucu Yoyo Mumahamad Zaely, Senin (29/11) mengatakan, kondisi memprihatinkan yang menimpa ratusan siswa SD Negeri Budiwangi itu sudah hampir 14 bulan, dan mereka terpaksa belajar di gubuk darurat, yang dibangun di halaman lapangan sekolah. Mereka kehilangan ruang kelas belajarnya setelah roboh porak poranda akibat gempa tahun lalu yang hingga saat ini masih dibiarkan dan tinggal puing-puingnya saja.

Kondisi seperti itu memaksa sebanyak 185 siswa dari kelas 1 sampai kelas 6 harus tetap bersabar dan menjalani rutinitas belajar dengan kondisi bangunan sekolah alakadarnya. Gubuk untuk belajar itu tanpa dinding, yang dibangun atas inisiatif orang tua siswa dan pihak sekolah setempat.

Sedangkan ratusan siswa masih tetap bertahan bersekolah dan belajar setiap hari, meski dirasakan belajar di tempat tersebut sangat jauh dari sempurna, karena dalam menyerap pelajaran tidak maksimal seperti yang diharapkan para siswa dan pengajar. (A-14/A-120)***

Kualitas Guru tidak Hanya Terkait Program Sertifikasi


SEJUMLAH guru melihat puisi karya siswa SMP se-Kecamatan Kadungora di pelataran SMPN 1 Kadungora, Jln. Raya Mandalagiri, Kec. Kadungora, Kab. Garut, Kamis (25/11). Sebanyak 3.663 puisi karya para siswa dipersembahkan kepada para guru dalam rangka memperingari Hari Guru.* RIRIN N.F./"PR"


BANDUNG, (PR).-
Program sertifikasi mestinya dipandang hanya sebagai salah satu upaya memetakan kualifikasi pendidik dalam bentuk portofolio. Dengan demikian, upaya meningkatkan kualitas tenaga pendidik harus dilakukan dengan menciptakan suasana sekolah dengan guru di dalamnya, betul-betul sebagai sebuah masyarakat pendidik (community of educators). 

"Pemerintah harus sadar bahwa munculnya sebuah kebijakan harus dilihat dalam kerangka luas dan memperhatikan beragam faktor, tidak hanya asal. Kita jangan berpikir dangkal dengan mempersepsi bahwa dengan meningkatkan tunjangan, maka otomatis akan tercipta peningkatan kualitas. Portofolio bukan alat ukur peningkatan kualitas, sebab hanya merupakan gambaran kompetensi yang dimiliki seorang guru pada saat sekarang," ujar pakar pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Prof. Dr. Said Hamid Hasan, Minggu (28/11). 

Ia dimintai pendapat tentang refleksi peringatan Hari Guru Nasional yang jatuh pada 25 November lalu. Salah satu wacana yang mencuat dalam peringatan Hari Guru adalah indikasi penurunan kinerja guru, justru setelah yang bersangkutan telah disertifikasi. Hal ini kian menambah rumit problematika pendidikan di Indonesia.

Sekretaris Sertifikasi Rayon X Jawa Barat, Prof. Uman Suherman, mengakui bahwa dari hasil evaluasi terhadap sertifikasi guru, ada kecenderungan penurunan kinerja pada 10 persen guru yang telah bersertifikat.

Namun, Uman tidak serta merta menyatakan sertifikasi bagi guru gagal atau tidak berdampak. "Uji kompetensi yang dilakukan setiap lima tahun sekali merupakan salah satu upaya untuk mengevaluasi kinerja para guru ini," katanya.

Menurut Said, secara teoretis, memang ada kaitan injeksi dari sisi kesejahteraan akan berdampak pada peningkatkan kualitas. "Namun, itu bukan satu-satunya faktor dan juga bukan yang paling menentukan. Yang terpenting adalah tercipta suasana dan iklim bahwa sekolah benar-benar menjadi pusat transfer pengetahuan dan pendidikan. Di sini harus ada sinergi antarguru, suasana kerja yang mendorong guru selalu termotivasi, termasuk infrastruktur pendidikan yang memadai," katanya.

Masih jauh
Ketua Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) Suparman menguraikan, jika berbicara mengenai kualifikasi guru di Indonesia, apa yang diharapkan pemerintah masih jauh dari kenyataannya. Saat ini, pemerintah mensyaratkan kualifikasi guru harus S-1. Sementara dari 2,7 juta guru di mana 1,5 juta guru adalah guru SD, baru 10 persen berkualifikasi S-1.

"Meski dalam perkembangannya, guru S-1 kini mencapai 50 persen. Ini yang sering kali disampaikan oleh akademisi mengenai kualifikasi guru yang harus S-1, pada akhirnya menyingkirkan guru-guru yang tidak berkualifikasi S1," tuturnya.

Oleh karena itu, pendidikan bermutu di Indonesia masih menjadi perdebatan. Dalam undang-undang, guru disyaratkan harus mampu memberikan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan syarat ideal lainnya. "Apakah guru kita sudah mampu? Ini masih menjadi problem besar." (A-64/A-157)***