Bahasa Indonesia, Basa Sunda, Bahasa Asing, Kamus, Fotografi, Sejarah, Budaya, Dongeng, Teknologi, Kesehatan, Hukum dan Kriminal, Konservasi, Kuliner, Pembangunan, Krisis, Tokoh, Olahraga, Pertanian, Perkebunan, Perikanan, dan Jalan-Jalan. (Indonesian Language, Sundanese Language, Foreign Languages, Dictionary, Photography, History, Culture, Story, Technology, Healthy, Law and Criminal, Conservation, Development, Crisis, Figure, Sports, Agriculture, Plantation, Fishery, and Travelling)
Selasa, 08 Agustus 2023
Beli Ikan Mas di Pasar Ciparay #shorts #ikanmas
Senin, 01 Mei 2023
Gowes ke Warnur Cibodas Kutawaringin, Soreang
Minggu, 09 April 2023
Minum Air Kelapa Muda (Dawegan/Dewegan)
Bagi warga Jawa Barat kata "Dawegan" sudah tidak asing di telinga, namun bagi yang di luar Jawa Barat agak aneh terdengarnya. Dawegan atau kadang menyebutnya dewegan itu artinya kurang lebih "kelapa muda". Apabila buah kelapanya sudah tua tidak disebut lagi dawegan/dewegan. Buah kelapa yang masih muda terkadang isinya seperti lendir kalau kita kerok pakai sendok. Akan tetapi, itu enak sekali, kelapa yang seperti lendir itu sering disebut lumeho, terdengar jorok sih karena bentuknya menyerupai leho, atau ingus.
![]() |
| Murak (mengupas) dawegan/dewegan |
![]() |
| air kelapa muda (dawegan/dewegan) |
Di bumi nusantara ini banyak buah kelapa, apalagi yang daerah pesisir pantai pasti banyak buah kelapa, setiap daerah punya nama dan ciri khas masing-masing dalam penamaan kelapa muda. Saya tidak tahu persis apa nama kelapa muda di setiap daerah di Indonesia ini. Mungkin ada yang bisa membantu, apa nama atau sebutan lain untuk kelapa muda di setiap daerah di Indonesia.
Berikut link video minum air kelapa muda atau dawegan/dewegan.
Rabu, 29 Maret 2023
Kue Balok
Nama Kue Balok bagi orang Bandung dan Jawa Barat sudah tidak asing lagi terdengarnya. Akan tetapi, orang-orang dari daerah lain selain Bandung dan Jawa Barat banyak yang belum tahu apa itu Kue Balok. Bentuknya mirip seperti kue Bandros atau kue pancong kalau orang Jakarta menyebutnya demikian. Kue balok lebih tebal dan besar. Cara memasak atau membuatnya pun agak sedikit berbeda dalam hal pembakarannya. Di Kota Bandung banyak tempat yang bisa dijumpai orang berjualan kue Balok.
Bagi sebagian penggemar olahraga, terutama olahraga sepeda di Kota Bandung sudah sangat familiar dengan kue balok. Adakalanya tempat jualan kue balok dijadikan destinasi untuk berkulineran.
1. Di daerah Lembang, Balok Jayagiri, Mang Ayi
2. Di daerah Pangalengan Balok
3. Di Soreang, Balok Soreang, Balok Abah Away.
Berikut videonya.
Masih banyak tempat yang menjual kue balok di sekitaran Kota Bandung dan di luar Kota Bandung.
Rabu, 24 Desember 2014
Rhenald Kasali: Mengapa Tak Ada Nasi Goreng Enak di Hotel?
![]() |
| Warta Kota/Celestinus Trias HP |
WARTA KOTA, JAKARTA - Tentang hal ini saya punya lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Dan saya ingin para chef-lah yang menjawab. Mahasiswa studi perhotelan dan pemilik hotel juga boleh mereka-reka jawabannya.
Tapi poin-nya jelas. Sulit kita mendapatkan kuliner Nusantara yang benar-benar lezat di berbagai hotel. Jangankan rasanya, tampilannya saja seringkali membuat saya malu pada tamu saya. Kadang saya berpikir, kalau kita saja merasa janggal dengan tampilan dan rasanya, bagaimana pikiran wisatawan asing ya?
Sewaktu saya protes, sejumlah orang membantah hal itu terjadi di hotel miliknya. Tetapi begitu saya mencicipi hidangannya, ternyata sama saja. Kurang pas!
Untuk menyajikan kuliner Nusantara, mungkin mereka perlu mengubah haluan. Dari mencari chef yang berpengalaman memasak di kapal pesiar atau di restoran luar negeri kepada para chef lokal yang ada di berbagai warung di Nusantara ini.
Di sebuah hotel bintang lima di dekat Bundaran HI Jakarta pekan lalu, saya mengambil emping goreng yang baru dimasak. Bayangkan, goreng emping saja, mereka tidak tahu caranya. Masih keras sudah diangkat.
Soto Madura di Luar Lebih Enak
Saya baru saja menuliskan masukan di VIP Lounge Garuda Indonesia di Bandara Juanda. Entah mengapa, sejak menempati ruangan baru yang lebih luas, rasa makanan di ruang VIP ini tak karuan. Pecel sayuran yang disajikan layu. Gorengan tempe terlihat tidak fresh. Rasanya tidak senikmat tempe goreng yang biasa kita nikmati.
Saya lalu mengambil rempeyek yang ada di dalam toples kaca. Selain plastiknya yang agak kumal, saya tak melihat kacangnya. Kata penjaganya, itu peyek kacang dan teri. Tapi begitu saya rasakan, ikan terinya juga tidak saya temukan.
Andaikan saya tak terburu-buru masuk ke dalam, saya pasti lebih memilih untuk menikmati soto Bangkalan yang ada di teras luar bandara. Rasanya jauh lebih nikmat dari makanan yang disajikan pengelola VIP Lounge. Padahal VIP Lounge adalah bisnis yang sangat menguntungkan dan menjadi incaran banyak orang. Tetapi mengapa tak ada satupun VIP Lounge yang menyajikan kuliner nusantara dengan penuh semangat?
Itu tak hanya tampak di Bandara Juanda, melainkan merata di hampir semua Bandara Nusantara, apakah itu di Cengkareng, Bali, Batam, ataupun di Makasar. Tak tampak keinginan pengelola menampilkan keunggulan kuliner kita dengan penuh suka cita.
Ini berbeda benar dengan kesungguhan bangsa Thailand. Hal serupa juga tak terlihat pada VIP lounge yang dikelola perusahaan-perusahaan telekomunikasi maupun perbankan. Saya lebih memilih makan bakso di warung Oasis yang berbayar ketimbang menikmati kuliner di ruang VIP.
Roti-rotinya bukanlah roti yang berkualitas bagus, isinya tidak menarik. Rebusannya juga tak enak, tak memenuhi selera. Mie gorengnya terlalu berminyak. Pisang yang ada di dalam penganan tradisionalnya tidak manis. Keras dan belum masak.
Sop Buntut Hotel Borobudur
Bagaimana di hotel-hotel kita? Saya tak menutup mata bahwa dulu kita sangat memuji sop buntut yang disajikan di Bogor Café Hotel Borobudur. Tetapi selebihnya, saya kira Anda sepakat dengan saya. Kalau kita mau menikmati ikan bakar, lebih baik pergi ke warung ikan bakar bertenda di tepi jalan ketimbang makan di lobi-lobi hotel di kota Makasar sekalipun. Jangan heran kalau kebanyakan hotel di daerah hanya ramai dipenuhi pagi hari karena breakfastnya sudah dipaket dengan tarif hotel.
Jangankan ikan bakar yang masaknya super mudah itu, pisang goreng dan nasi goreng saja tak ada yang benar-benar bisa kita nikmati di hotel-hotel berbintang kita. Minimnya spirit kewirausahaan telah membuat banyak juru masak hanya bekerja sesuai SOP tanpa menyadari bahwa mereka "menjual" brand Indonesia.
Kadang saya berpikir, hotel telah merekrut orang-orang yang tidak tepat. Tetapi kadang saya mendengar jawaban bahwa rata-rata chef yang dipekerjakan hotel berbintang empat – lima bukanlah chef yang mengerti selera kita. Kalau tidak orang Prancis, pasti bangsa lain. Tetapi bukankah di situ juga bekerja orang-orang Indonesia yang mengerti selera kita. Masa iya membuat nasi goreng yang enak saja tidak bisa?
Kadang juga saya mendengar terjadi ketidaksinkronan antara yang memasak dengan bagian pengadaan. Jadilah bagian pembelian mengadakan pisang yang belum masak, yang meski disimpan tiga hari belum layak dibuat menjadi pisang goreng. Pisang keras itu disamarkan dengan tepung, keju dan coklat agar lebih terlihat berselera.
Buah-buahan Nusantara pun digantikan oleh buah-buahan standar yang ada di seluruh dunia: apel, anggur, pepaya, nanas dan melon. Melonnya pun, bagian manisnya sudah dipotong, ditinggalkan bagian dasar yang masih padat. Padahal kita punya buah-buahan tropis yang kaya dan selalu ada pada musimnya: duku, mangga, manggis, srikaya, jamblang, kecapi, nangka, cempedak dan sebagainya. Mengapa takut dengan baunya kalau di Thailand saja bisa?
Minimnya protes konsumen, lemahnya perhatian aparatur pembuat kebijakan, serta kemalasan para chef untuk mempelajari kuliner Nusantara telah mengakibatkan kita lebih banyak makan roti dengan selai dan cokelat ketimbang bubur ayam atau nasi goreng. Anak-anak kita pun memilih makan spageti, omelet atau cereal ketimbang jajanan pasar buatan lokal.
Maka saya gembira ketika salah seorang gubernur di Sulawesi memberi kewajiban agar hotel-hotel setempat menyajikan kuliner lokal. Kalau tak mau juga, katanya ijinnya akan dicabut. Boleh juga lah. Tetapi saya kira kita tak bisa membangun kuliner nusantara dengan sekadar ada saja.
Kalau chef-chef kita mau belajar, maka mereka harus keluar dari kampusnya. Di kampus mereka cuma belajar penyajian, tekstur dan tampilan. Soal rasa, hanya ada di pemilik rumah makan yang rasanya sudah teruji. Jadi mungkin Kementerian Pariwisata bisa membina nasi jamblang mang Dul di Cirebon agar mendapatkan kontrak di hotel-hotel berbintang. Hal serupa juga pada kuliner-kuliner Nusantara lainnya.
Saya kira lebih baik beri tempat pada mereka yang sudah teruji oleh pasar untuk dinaikkan kelasnya. Hotel wajib membantu penampilan dan kebersihannya sehingga semakin banyak orang yang dapat menikmati kuliner nusantara ini. Selamat berwisata kuliner.
Prof Rhenald Kasali dalah Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Pria bergelar PhD dari University of Illinois ini juga banyak memiliki pengalaman dalam memimpin transformasi, di antaranya menjadi pansel KPK sebanyak 4 kali, dan menjadi praktisi manajemen. Ia mendirikan Rumah Perubahan, yang menjadi role model dari social business di kalangan para akademisi dan penggiat sosial yang didasari entrepreneurship dan kemandirian. Terakhir, buku yang ditulis berjudul Self Driving: Merubah Mental Passengers Menjadi Drivers
Rabu, 10 April 2013
Es Potong Jadul nan Menyegarkan
JAKARTA, KOMPAS.com - Saat berada di kawasan Kota Tua Jakarta, jangan hanya sekedar jalan-jalan. Cicipi juga aneka jajanan yang banyak dijual oleh pedagang kaki lima. Nah pelesiran siang bolong, paling enak sambil menikmati es potong.
Suyoto, penjual es potong, mengaku telah berjualan lebih dari sepuluh tahun di kawasan Kota Tua Jakarta. Es berukuran kira-kira sepuluh senti ia jual dengan harga Rp 3.000 saja.
"Saya jual dari dulu. Dari harganya masih Rp 7," tuturnya.
Suyoto sangat ramah saat menjajakan dagangannya kepada pembeli. Ia selalu menyebutkan seluruh rasa es potong yang ia miliki kepada pembelinya.
"Mau rasa apa, Neng? Ada duren, alpukat, ketan item, cokelat, kacang ijo," jelasnya kepada dua orang pelanggan saat akan membeli es potong.
Ia membuat es potong dari bahan yang sangat sederhana, yaitu santan. Bahan lain ditambahkan sesuai dengan rasanya, yaitu cokelat, durian, kacang hijau, alpukat, dan ketan hitam.
"Cukup pakai santan yang kental banget, tambahin tepung honkue juga," ujar Suyoto.
Untuk menjaga es potong agar tetap beku, ia memberikan es batu dan garam di dalam gerobaknya. Dulu, ada banyak penjual es potong sepertinya yang mangkal di sana. Tetapi setelah mengalami penertiban oleh aparat keamanan, tinggal dirinya dan beberapa orang saja yang masih bertahan.
| KOMPAS.com/Fitri Prawitasari |
Ia pun mengakui beberapa hari ini pengunjung ke Kota Tua Jakarta mengalami penurunan, maka hal ini pun berdampak pada berkurangnya penjualannya. "Beberapa hari ini sepi, tapi kalau Sabtu-Minggu masih lumayan ramai," katanya.
Ikuti twitter Kompas Travel di @KompasTravel
Selasa, 02 April 2013
Yuk, Lihat Aneka Produk Makanan dan Minuman
JAKARTA, KOMPAS.com - Pameran Food & Hotel Indonesia 2013 kembali hadir. Tahun ini akan bertempat di JIEXPO, Kemayoran, Jakarta, pada tanggal 10-13 April 2013.
"Industri pariwisata memperlihatkan pertumbuhan kedatangan pengunjung yang telah menggairahkan ledakan di segmen perhotelan dengan kenaikan tingkat hunian hotel, dan berbagai rantai hotel domestik dan internasional meluncurkan properti baru mereka di Indonesia," ungkap Senior Project Manager Pameran Food & Hotel Indonesia 2013, Wiwiek Roberto, pada jumpa pers di Jakarta, Selasa (2/4/2013).
Wiwiek mengungkapkan Pameran Food & Hotel Indonesia 2013, bertujuan untuk melayani kebutuhan industri pariwisata dan hotel yang tengah berkembang. Pameran tersebut menampilkan bidang makanan, minuman, dan perhotelan.
![]() |
| FITRI PRAWITASARI |
Pameran ini diikuti 1.300 peserta dari 39 negara, di antaranya Amerika Serikat, Australia, Brasil, Italia, Korea Selatan, Singapura, Taiwan, Turki, dan Indonesia. Sementara itu, terdapat 9 negara paviliun internasional.
Selain, itu dalam pameran tersebut terdapat kegiatan Indonesia Barista Competition, Indonesia Salon Culinaire, Wine Master Classes, dan Coffee Seminar and Workshop. Dalam Salon Culinaire, seperti kompetisi memasak untuk koki profesional dan koki junior. Ada pula kompetisi ice carving dan fruit carving.
![]() |
| KOMPAS/FRANS SARTONO |
"Ada kompetisi chef. Pesertanya campur lokal dan mancanegara. Nantinya menu yang harus dimasak ada dua jenis, dengan konsep lesehan menu nusantara. Apalagi pertumbuhan chef sekarang banyak," kata Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenparekraf, Firmansyah Rahim.
Ikuti twitter Kompas Travel di @KompasTravel
Senin, 01 April 2013
Aceh Kenduri Sepanjang Hari
Oleh Budi Suwarna & Ahmad Arif
KENDURI tak mengenal musim di Aceh. Bahkan, di kala perang, kenduri tetap berjalan. Begitulah, lewat kenduri orang Aceh saling mengikatkan diri.
Aroma kenduri Maulid tercium di awal pagi di Desa Pupu, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya, pertengahan Februari lalu. Lepas subuh, Aisyah (51) dan Mardianah (38) sibuk menyiapkan aneka masakan yang akan dibawa ke meunasah (musala) tempat kenduri berlangsung. Tangan mereka cekatan membungkus nasi berbentuk kerucut dengan daun pisang batu.
Nasi itu lantas disusun meninggi di atas sebuah nampan bersama aneka lauk terbaik, mulai telur balado, rendang, kuah sup, hingga kari itik. Semakin tinggi isi nampan itu menunjukkan makin mapan si pembuat secara ekonomi. Nurdin, Kepala Museum Aceh, mengatakan, orang-orang kaya dulu menyusun hingga tujuh lapis lauk di atas nampan hidangan untuk dibawa ke meunasah.
Sekitar pukul 11.00, nampan berisi aneka masakan buatan Aisyah dan Mardianah dibawa ke meunasah. Di sana sudah ada belasan nampan lain yang disumbangkan warga. Dengan iringan doa, tetamu menyantap hidangan yang tersedia. Jika tidak habis, tetamu wajib membawa pulang hidangan. ”Kalau sampai ada sisa, kami bisa marah. Sebab, makanan yang kami hidangkan adalah sedekah,” kata Aisyah.
Maulid adalah salah satu kenduri wajib yang dirayakan besar-besaran di Aceh. Snouck Hurgrounje dalam buku Aceh di Mata Kolonialis menyebutkan, Maulid di Aceh tidak hanya terkait peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga terkait ketaatan kepada Kerajaan Turki yang melindungi Kesultanan Aceh. Sultan Turki berpendapat, Aceh yang letaknya cukup jauh dari Turki tidak perlu mengirimkan upeti setiap tahun. Sebagai gantinya, Sultan memerintahkan Aceh menunjukkan ketaatannya dengan memperingati Maulid setiap tahun secara bersama-sama.
Itulah yang terjadi hingga kini. Desa-desa bergantian menggelar kenduri Maulid. Mereka saling mengundang dan mengunjungi. Jika sebuah desa menggelar kenduri Maulid, semua warga ikut terlibat. ”Ada yang menyumbang makanan, ada yang menyumbang tenaga demi menjamu tamu,” ujar Geucik (kepala desa) Pupu, Idris Yusuf.
Peringatan Maulid di Aceh merentang hingga empat bulan. Tahun ini, peringatan Maulid dimulai akhir Januari dan berakhir April nanti. Sepanjang waktu itu, ada saja kampung yang menggelar kenduri. Ketika berkunjung ke rumah Cut Rahmi di Montasik, Aceh Besar, ia mengundang kami untuk menghadiri kenduri esok harinya. Undangan serupa datang ketika kami bertandang ke rumah Cut Nyak Mizar di Meulaboh, Aceh Barat.
Maulid tidak hanya berlangsung di masa damai. Pada masa konflik antara GAM dan Pemerintah RI memanas, tentara-tentara GAM yang bergerilya di hutan tidak ketinggalan menggelar Maulid. Azhar Abdurrahman, mantan tentara GAM yang kini menjabat Bupati Kabupaten Pidie Jaya mengenang, setiap musim Maulid tiba, ia dan beberapa temannya berburu rusa.
Jika rusa tak didapat, mereka turun ke kampung untuk meminta sumbangan kambing kepada kerabat dan memesan bumbu kari. Daging rusa atau kambing itu lantas dimasak dengan bumbu kari lengkap di markas besar GAM di wilayah Lamno. Sejenak mereka melupakan perang dan beralih pesta kari.
”Itulah saat paling menyenangkan di dalam hutan. Buat kami Maulid itu wajib digelar pada masa damai ataupun perang,” ujar Azhar menegaskan. Tidak hanya Maulid, Azhar juga menggelar kenduri lainnya pada masa perang. Ketika anaknya berusia 40 hari, Azhar menyelinap ke rumahnya hanya untuk menggelar kenduri menjejakkan kaki anak ke tanah.
Kenduri galau
Begitulah, ada sederet kenduri yang biasa digelar masyarakat Aceh. Ada kenduri yang terkait dengan perayaan agama Islam, seperti Isra Miraj, Nuzulul Quran, dan Asyura. Ada kenduri yang terkait dengan daur hidup seseorang seperti kelahiran, sunatan, pernikahan, hingga kematian. Ada pula kenduri petani dan kenduri nelayan. Orang membangun rumah pun menggelar kenduri. Pindah rumah, mereka bikin kenduri lagi.
“Pokoknya, orang Aceh punya banyak alasan untuk membuat kenduri. Ketika hati senang karena dapat uang, orang Aceh bikin kenduri. Ketika hati galau pun kami bikin kenduri,” kata Reza Idria, antropolog dari IAIN Ar Raniri, Banda Aceh.
Ia mencontohkan, seorang kerabatnya yang bermimpi bertemu almarhum orangtuanya. Wajah almarhum terlihat masam. ”Besoknya dia bikin kenduri selamatan untuk almarhum. Buat orang Aceh kenduri itu bermakna sedekah. Semakin sering kenduri, semakin sering sedekah,” kata Reza.
Tidak mengherankan jika orang Aceh sepanjang tahun sibuk menggelar atau menghadiri undangan kenduri. ”Dalam dua minggu ini saya sudah menghadiri delapan kenduri, mulai dari akikah, pernikahan, maulid, hingga kenduri arisan,” ujar Reza yang mengaku sering kewalahan dengan aneka undangan kenduri.
Kalau Reza kewalahan, Rahman justru tidak. Dia dan teman-teman bahkan membentuk ”pasukan pemburu kenduri” yang kerjanya mengejar ke mana kenduri pergi. ”Lumayan bisa makan gratis,” katanya.
Sebanyak apa pun undangan kenduri yang datang, orang Aceh berusaha untuk memenuhinya. Pasalnya, kata Reza, kenduri adalah mekanisme sosial orang Aceh untuk saling mengikatkan diri dan saling mengunjungi. Agar ikatan sosial makin kuat, adat membuat setiap kampung saling bergantung. Di Gampong Lam U, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, misalnya, setiap meunasah hanya boleh memiliki dua kuali meski mereka sebenarnya memerlukan empat kuali.
”Tujuannya agar ketika masak kari untuk kenduri, pengurus meunasah meminjam kuali kepada meunasah lain,” ujar Reza.
Dewa anggur
Tradisi kenduri di Aceh telah berumur panjang. Anthony Reid dalam buku Menuju Sejarah Sumatera menuliskan, raja-raja kesultanan Aceh biasa menggelar aneka kenduri dan perayaan megah yang disertai aneka hiburan termasuk untuk menjamu utusan asing. Meskipun, menurut Snouck Hurgrounje, (ketika itu) masyarakat Aceh kebanyakan masih kurang makan.
Reid menambahkan, ketika menjamu utusan Inggris, Thomas Best, Sultan Iskandar Muda menyuguhkan paling tidak 400 jenis makanan dan minuman yang cukup untuk santapan beratus-ratus prajurit. Begitulah, kenduri dan perayaan besar sekaligus digunakan untuk memperlihatkan kemegahan dan kejayaan kerajaan.
Orang asing yang melihatnya akan terpukau seperti yang diperlihatkan John Davis, petualang Inggris yang datang ke Aceh pada abad ke-16. Ia geleng-geleng kepala melihat kemewahan pesta yang digelar Sultan Aceh dari pagi hingga petang. ”Raja seperti ’dewa anggur’ dan sukacita,” katanya.
Rabu, 27 Maret 2013
Indonesia Berpotensi sebagai Destinasi Pecinta Kopi
Akiong, pemilik Kedai Kopi Ake, tengah membuat kopi untuk pelanggannya. Kedai ini berada di Tanjung Pandan, Belitung, dan disebut-sebut sebagai kedai kopi tertua di kota tersebut.
JAKARTA, KOMPAS.com – Indonesia memiliki cita rasa kopi yang beragam. Tak heran jika Indonesia berpotensi sebagai destinasi pecinta kopi.
"Ya, kita sudah bisa jadi destinasi kopi. Kopi kita punya dari ujung Aceh sampai ujung Papua. Beda misalnya kalau kayak kopi Kolombia ya kopi Kolombia. Kita beda, cita rasa itu berbeda-beda setiap daerah," jelas Veronica Herlina dari Asosiasi Kopi Spesial Indonesia saat ditemui di sela-sela kompetisi Indonesian Barista Competition 2013 di Jakarta, beberapa waktu yang lalu.
![]() |
| DOK TONI WAHID |
Ia menuturkan, susah mengatakan "Kopi Indonesia". Sebab mulai dari Aceh sampai Papua memiliki karakteristik berbeda-beda. Menurutnya citarasa yang beragam ini yang bisa mengangkat nama Indonesia melalui kopi.
Veronica mengakui perkembangan konsumsi kopi sendiri di Indonesia terutama kopi specialty mengalami perkembangan, baik dari hulu ke hilir, terutama di Jakarta.
"Jakarta makin banyak kafe dan kedai kopi. Ada peningkatan baik di level kebun, roaster, bahkan sampai barista. Semakin banyak kafe, semakin banyak konsumsi kopi," tutur Veronica.
![]() |
| KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES |
Ia menambahkan masyarakat Indonesia sudah semakin sadar untuk mengonsumsi kopi lokal dari Indonesia. Sementara dunia sudah melirik kopi Indonesia, apalagi Indonesia masuk dalam tiga besar pengekspor kopi di Indonesia.
"Orang kĂta semakin pintar memilih kopi dan mengenal cita rasa khas kopi dari masing-masing daerah di Indonesia. Mulai punya kesukaan sendiri-sendiri, misalnya suka kopi Flores," ungkapnya.
| KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES |
Setidaknya, lanjut Veronica, Indonesia sudah main di tingkat dunia untuk urusan kopi. Ia melihat merek-merek besar dunia untuk roaster dan grainer sudah mulai masuk Indonesia karena menangkap potensi tersebut.
Kopi dari Indonesia bisa dirunut mulai dari Aceh seperti kopi gayo dan kopi takengon, lalu kopi mandailing dari Sumatera Utara, kopi lampung, kopi jawa dari Kawah Ijen, kopi kintamani, kopi toraja, kopi flores, sampai kopi wamena.
Masing-masing kopi tersebut memiliki citarasa dan karakteristik tersendiri. Nah, kopi manakah favorit Anda?
Ikuti twitter Kompas Travel di @KompasTravel
Sabtu, 21 Juli 2012
Rendang Diminati Warga Spanyol
Acara yang digelar di Hotel Melia Princesa, Madrid dan di Hotel Melia Los Lebreros di Sevilla itu, tidak hanya menampilkan berbagai makanan khas Indonesia. Tapi, kedua chef tersebut juga sengaja mendekor ruangannya seperti di Indonesia.
“Banyak sekali makanan yang disajikan, mulai dari rendang, sop buntut, gado-gado, iga bakar, sate, nasi goreng, es dawet, jajan pasar dan lainnya. Namun, saat itu daging khas Padang lah yang paling banyak digemari,” tutur Counsellor KBRI Madrid, Theodorus Satrio Nugroho.
“Semuanya sangat mengesankan, apalagi saat saya datang seakan berada di tanah air,” Satrio menambahkan.
Sementara itu, Pekan Gastronomi Indonesia telah berhasil menyedot perhatian warga disekitarnya. Dikabarkan acara tersebut dihadiri oleh ratusan pengunjung.
“Kurang lebih sekitar 300 orang menikmati berbagai masakan dan minuman khas Indonesia. Namun yang lebih penting, promosi melalui media massa di mana sekitar 50 media memberitakan gastronomi Indonesia baik di Madrid ataupun di Sevilla,” katanya.
Pekan gastronomi Indonesia ini merupakan kegiatan kedua kalinya. Sebelumnya pada bulan Januari lalu juga dilaksanakan kegiatan sejenis. (Net/CA-11/A-107)***
Selasa, 03 April 2012
Hiks, Indonesia Belum Masuk Daftar 10 Negara Asia dengan Jajanan Terlezat
Ada sekitar 10 kota di Asia yang disebut-sebut CNN memiliki jajanan ala kaki lima yang lezat. Kota-kota itu di antaranya adalah Penang, Singapura, Seoul, Xi'an, Manila, Phnom Penh. Selain itu, ada pula Taipei, Bangkok, FUkuoka, dan Hanoi.
Mereka juga membuat semacam voting untuk menentukan kota mana yang terbaik pilihan pembaca CNN.
Bagaimana dengan Indonesia? Tak ada satu pun kota di Tanah Air yang masuk dalam daftar ini. Padahal, sebenarnya kita pun tak kalah dengan urusan kuliner Nusantara. Hmmm....
Sabtu, 07 Januari 2012
Puluhan Wisatawan Belanda Belajar Bikin Kue Ali
Oleh: Dian Prima
Jabar - Selasa, 3 Januari 2012 | 20:18 WIB
INILAH.COM, Bogor - Puluhan wisatawan asal Belanda berkunjung ke Kampung Wisata Cikaret Kecamatan Bogor Selatan Kota Bogor. Kedatangan wisatawan Belanda tersebut diterima Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Cabang Kota Bogor Bagus Karyanegara.
Dalam kunjungannya, rombongan wisatawan mancanegara tersebut melihat secara dekat proses pembuatan sandal. Selain itu mengunjungi pengrajin kue ali atau yang lebih dikenal dengan nama kue cincin. Kue ini merupakan salah satu makanan khas Bogor.
Selain itu, wisatawan asal Negeri Kincir Angin tersebut juga mengunjungi proses pembuatan wayang golek sekaligus menikmati secara langsung pertunjukan wayang golek dengan durasi 10 menit. Setelah itu mereka meninjau produksi boneka poty yang terbuat dari sabut kelapa.
Selanjutnya, rombongan melanjutkan perjalanan untuk melihat kegiatan masyarakat Kelurahan Cikaret yakni kegiatan Posyandu. Di sana mereka melihat alat-alat yang berkaitan dengan kesehatan dan buku-buku serta permainan anak-anak.
Perjalanan rombongan dilanjutkan dengan melihat tempat penampungan air yang didistribusikan ke rumah-rumah warga. Tur wisatawan dari Belanda berakhir di Sanggar Kompepar yang lokasinya sangat strategis, karena bisa melihat pemandangan Gunung Salak dan persawahan .
Pada kesempatan tersebut Ketua HPI Kota Bogor Bagus Karyanegara memberikan cinderamata berupa gantungan kunci. Bagus mengatakan, pihaknya telah mencatat pada 2012 sudah banyak terdaftar rombongan wisatawan lainnya yang akan berkunjung kembali ke Kampung Wisata Cikaret.
“Para wisatawan Belanda selama melakukan kunjungan di Kampung wisata Cikaret merasa terkesan. Mereka pun siap membantu mempromosikan Kampung Wisata Cikaret Kota Bogor di negaranya,“ jelas Bagus, Selasa (3/1/2012).[jul]
Tahu Bunkeng Perintis Tahu Sumedang
Tahu Bunkeng di Sumedang.
KOMPAS.com - Dalam perjalanan dari Cirebon menuju Bandung, kami melewati kota Sumedang. Memasuki kota ini pasti akan melihat tahu Sumedang dimana-mana, dari cuma penjaja kaki lima sampai rumah makan. Pastinya anda mengetahui tentang kelezatan Tahu Sumedang, tahu berwara coklat dan berasa sedikit asin itu memang sangat terkenal bahkan menjadi ikon dari kota asalnya, Sumedang. Aromanya pun sangat khas. Bisa dimakan langsung begitu saja atau mau dikombinasikan dengan lontong juga boleh-boleh saja.
Ke Sumedang kali ini kami mampir ke Tahu Bunkeng yang sangat legendaris itu, perintis tahu Sumedang sejak tahun 1917. Sudah hampir seabad ya, hebat euy. Awalnya ini dirintis oleh seorang imigran China bernama Ong Kino, beliau membuat tahu yang kemudian mendapat tanggapan yang bagus di masyarakat hingga laris manis terjual tahunya. Dan selanjutnya di teruskan ke anaknya yang bernama Boen Keng, kemudian berlanjut terus ke anaknya yang bernama Ukim. Nah sekarang di pegang oleh salah satu anak dari Bapak Ukim, yang bernama Bapak Suriadi. Jadi sudah generasi keempat yang menangani Tahu Bunkeng ini.
Lontong, cocok dinikmati bersama tahu bunkeng.
Dan di Sumedang juga sudah ada 4 tempat yang menjual Tahu Bunkeng. Pusatnya berada di Jalan 11 April nomor 53, Sumedang. Dan ada satu outlet yang berada di Bandung. Tahu Bunkeng ini sampai sekarang masih dibuat sendiri, supaya terjaga kualitasnya. Disini sangat laris sekali, dalam sekejap tumpukan tahu yang sudah matang pun habis terjual. Banyak sekali orang luar kota yang melewati Sumedang mampir disini hanya untuk membeli tahunya, contohnya ya seperti saya ini.
Tahu Bunkeng di Sumedang.
Tahu yang aromanya khas, sedikit asin, lembut isinya, dan agak renyah kulit tahunya. Enaknya memang disantap dalam keadaan panas, dengan cabe rawit, atau sambal kecap cabai rawit juga enak. Nah yang khas di Bunkeng selain tahunya adalah sambalnya. Enak banget untuk dicocol dengan tahunya. Yummyy... raos pisan euy.
Cobain deh teman-teman, makan tahu Bunkeng yang asli Sumedang. Rasanya memang berbeda dengan tahu sumedang yang ada di Jakarta. Dalam hitungan menit saya sudah menghabiskan 10 buah tahu he-he... Saya memang doyan banget makan tahu sumedang. Top deh Tahu Bunkeng. Selamat mencoba teman-teman. (Ita)
Sumber : www.doyanmakan.com
Tahu Sumedang, Lezat berkat Air Tampomas
Cornelius Helmy
”Ngeunah ieu kadaharan teh. Mun dijual pasti payu (Makanan ini enak. Kalau dijual pasti laku).” Itulah ucapan Bupati Sumedang Pangeran Aria Soeriatmadja saat pertama kali mencicipi tahu goreng buatan Ong Kino tahun 1917.
Puluhan tahun kemudian tahu sumedang menjadi jenis makanan tradisional yang terkenal sekaligus menjadi penyambung hidup masyarakat Sumedang, Jawa Barat.
Bupati Sumedang (1883-1919) itu adalah pemimpin paling dicintai rakyat yang ilmu agamanya terkenal kuat. Keteladanan itu juga membuat masyarakat yakin, setiap perkataan sang bupati pasti terkabul. ”Saciduh metu, saucap nyata” (sekali meludah berhasil, sekali mengucap jadi kenyataan), kalimat kiasannya dalam bahasa Sunda.
Salah satu tuahnya turun pada usaha pembuatan tahu di Kabupaten Sumedang. Ia juga dijuluki ”Pangeran Mekkah” karena wafat saat menunaikan ibadah haji di Mekkah pada usia 70 tahun. Ia juga merupakan bupati pendiri sekolah pertanian pertama di Indonesia tahun 1941 dan Bank Prijaji pada 1901.
Suatu hari, dalam perjalanan menuju tempat peristirahatannya di Situraja, Sumedang, Soeriatmadja mencicipi tahu buatan Ong Kino yang dijual di depan rumahnya di pinggir Jalan Tegal Kalong, Sumedang (kini menjadi Jalan 11 April), sekitar tahun 1917. ”Petuah” itu pun meluncur dari mulutnya.
Hingga 95 tahun kemudian, doa bupati ke-20 Sumedang itu terbukti langgeng. Diiringi etos kerja tekun dan telaten ala masyarakat Tionghoa, usaha tahu pun berkembang. Tenaga pribumi diajak ikut serta sehingga ilmu tahu tersebar luas. Kini, keahlian membuat tahu menjadi bekal hidup banyak warga Sumedang.
Dengan kerenyahan, tekstur khas, dan melibatkan ribuan orang Sumedang, tahu menjadi produk khas. Asal berukuran 3 cm x 3 cm atau 2,5 cm x 3 cm, berwarna coklat muda, kulit berintik, renyah, dan gurih, di seluruh Indonesia biasanya dinamai tahu sumedang. Padahal, tidak semua penjual atau cara pembuatannya dilakukan orang Sumedang.
”Cur cor”
Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran Nina Herlina Lubis mengatakan, pasca-penghapusan larangan tinggal, sekitar tahun 1856, banyak orang Tionghoa mulai masuk Priangan Timur, termasuk Sumedang. Berdasarkan sensus tahun 1930, jumlah orang Tionghoa di Sumedang 905 jiwa. Bandingkan dengan orang Eropa yang berjumlah 258 jiwa.
Celah bisnis dikembangkan perantau Tionghoa, Ong Kino, yang tiba di Sumedang awal abad ke-20. Awalnya, istri Ong Kino membuat tahu guna menuntaskan kegemaran makan suaminya. Perlahan, enaknya tahu mulai dikenal masyarakat Sumedang dan dijual di depan rumahnya. Warga Tionghoa lainnya juga ikut menjual tahu menggunakan merek Palasari dan Ojolali.
Berada di kaki Gunung Tampomas, Sumedang tidak pernah kekurangan air tanah. Air terus mengalir. Cur cor, kalau kata orang Sunda. Kualitas air Sumedang sangat cocok untuk membuat tahu. Sama seperti kebanyakan daerah penghasil tahu di China Selatan, air di Sumedang berkalsium, membuat tahu kenyal tanpa pengawet.
Selain anugerah alam, pengelolaan bahan dan cara masak khas Tionghoa juga menjadi kunci selanjutnya. Pemilik Toko Bungkeng, Suryadi, mencontohkan cara membuat tahu jadi padat berisi. Ia mengatakan, awal menggoreng adalah proses penting. Minyak harus benar-benar panas sebelum tahu dimasukkan.
Cara khusus lain juga dilakukan untuk menghasilkan tahu berkulit berintik. Ia mengatakan, tahu harus dimasukkan dalam keadaan basah. Dulu, untuk menambah kenikmatan, tahu digoreng menggunakan minyak kacang tanah. Akan tetapi, sekarang minyak kacang tanah berkualitas sulit didapatkan.
”Nyaris tidak ada rahasia. Selebihnya hanya kedelai yang digiling. Hasil gilingan dikukus menjadi tahu dan dimasukkan ke air garam. Setelah itu tinggal digoreng,” katanya.
Kebersihan alat dan kontrol gilingan kedelai juga tak kalah penting. Pemilik perusahaan tahu Mirasa Sindang Sari, Hernawan Safari, mengatakan, kebersihan alat penting karena sisa kedelai bisa membuat seluruh adonan baru menjadi asam. ”Mencicipi contoh adonan setiap hari juga harus dilakukan untuk menjaga kualitas dan rasa,” katanya.
Setia
Hujan belum juga berhenti mengguyur Sumedang, akhir pekan pada pengujung tahun 2011, saat sekitar 200 tahu di Toko Bungkeng habis terjual dalam waktu seperempat jam. Pembelinya mayoritas warga Sumedang yang sepertinya ingin melewatkan sisa hari yang dingin itu sembari makan tahu ditemani segelas teh manis panas.
Darso (56), warga Cipasang, Cibugel, Sumedang, mengatakan hanya membeli tahu buatan asli Sumedang sejak 20 tahun lalu. Kekenyalan dan kerenyahan tahu menjadi pemikatnya. Tahu juga tidak mudah asam dalam satu-dua hari. ”Tahu yang baru selesai digiling dan langsung digoreng adalah yang paling nikmat. Saat hujan, kenikmatannya lebih terasa,” katanya.
Dedi (57), pelayan di Toko Bungkeng, mengatakan, saat musim libur panjang, 10.000 tahu seharga Rp 400 per tahu terjual per hari. Pembelinya mengular di depan toko dari pagi hingga sore. Wisatawan luar negeri dari Singapura dan Malaysia pun ada di antara mereka.
”Kami harus membuat nomor antrean. Bisa sampai seribu nomor per hari,” kata Dedi. Di pinggiran jalan Bandung-Sumedang, Unjang (38) merasakan hal serupa. Saat musim libur, pedagang ini bisa menjual hingga 2.000 tahu per hari. Jumlah itu jauh lebih besar ketimbang produksi pada hari biasa yang sekitar 500 tahu per hari.
Sumber : Kompas Cetak
Rabu, 28 Desember 2011
Rujak Dodol, dari Hah sampai Huh Hahh
PRLM -- Inovasi pada olahan dodol, makanan khas Garut yang legit nan manis, seolah tak pernah berhenti. Para pengrajin dodol terus menerus berkarya, demi memantapkan dodol sebagai makanan asli Kota Intan.
Rupa-rupa dodol Garut, diantaranya adalah dodol wijen, dodol nanas, dodol tomat, dodol durian, dodol coklat, dan masih banyak lagi jenis-jenisnya. Kini, dodol tak hanya hadir dalam rasa manis menggigit. Adalah PD Pusaka JS, menghadirkan rasa baru dodol, yaitu pedas.
Mulanya, Teti Maryati, pemilik usaha pembuatan dodol, menyimpan sisa buah-buahan yang sudah diolah menjadi rujak ke dalam lemari pendingin. "Sisa rujak dibikin jadi es saja enak, apalagi kalau dibuat dodol. Akhirnya, kita coba-coba untuk mengolah rujak menjadi dodol," katanya saat ditemui "PR" di Jln. Suci-Ahmad Yani No. 455 Desa Suci Kec. Karangpawitan Kab. Garut, Minggu (20/11).
Ide pembuatan dodol rasa pedas sudah ada di benak Teti sejak 2 tahun lalu. Namun, Teti baru mulai mencoba-coba sejak awal 2011 lalu.
Komposisi rujak dodol, diantaranya buah-buahan segar terdiri dari mangga kaweni, pepaya, nanas, ditambah kismis, bumbu rujak, sampai kacang oven. Adonan buah-buahan segar yang diparut halus, dimasak dalam wajan dodol sambil ditambah gula dan bumbu rujak serta potongan cabe merah. Jika sudah matang, dicampurkan kacang oven tumbuk kasar untuk menambah selera.
Sedikitnya butuh 3 kali percobaan bagi PD Pusaka JS untuk mendapatkan komposisi yang pas agar buah-buahan dalam rujak tidak jadi "mati rasa". "Tiap buah harus terasa, jangan sampai salah satunya lebih menonjol," ucap Teti.
Adonan rujak yang diolah jadi dodol dibungkus dengan plastik bening. Diakui Teti, dirinya masih mencari kemasan yang pas agar rujak dodol makin menarik. Bahkan, dia sudah mengurus hak paten produk rujak dodol agar tak dapat ditiru produsen dodol lain.
Kehadiran rujak dodol menambah varian dodol yang selalu dicari wisatawan sebagai buah tangan jika berkunjung ke Garut. Harga jual yang dipatok sekitar Rp 25.000/kg saja.
"Rasanya yang pedas dan segar dari buah-buahan menjadi pilihan dari rasa dodol yang tidak hanya manis saja, banyak yang suka," tutur Teti.
Dalam sehari, dia dapat mengolah adonan rujak dodol hingga 1 kuintal. Pemasaran dodol selain di lokal Garut, juga merambah ke sejumlah daerah seperti Bogor, Jakarta, sampai Jawa Timur. Bahkan, saat ini sedang dijajaki untuk ekspor rujak dodol ke Jepang.
Melihat antusias pembeli, rujak dodol terus diulik. Kini, rujak dodol hadir dalam 3 level rasa pedas. Yaitu level 'Hah' untuk rasa pedas biasa, level 'Seuhah' untuk pedas sedang, serta level 'Huh Hah' untuk rasa pedas tingkat tinggi.
"Rasa pedas dibuat bertingkat untuk melayani seluruh permintaan pembeli. Ada yang suka pedas banget, ada juga yang pedas biasa. Semua permintaan kami sediakan," ujarnya.
PD Pusaka JS menginduk pada PD Pusaka, perusahaan dodol yang sudah eksis di Kab. Garut sejak 1970-an. Perusahaan dodol tersebut termasuk usaha rumahan di Garut yang terbilang sukses menggarap dodol sebagai penganan utama produk mereka.
Awalnya mencari sensasi baru, kini rujak dodol menjadi salah satu ikon produk dodol Pusaka. Namun, inovasi dodol sepertinya takkan berhenti sampai 'Huh hah' saja, produsen dodol akan terus berkarya untuk mencipta dodol dengan rasa-rasa yang baru. (Ririn N.F./das/"PRLM")***
Senin, 29 Agustus 2011
Kentalnya Bubur Ayam Mang Oyo
Ni Luh Made Pertiwi F | Josephus Primus | Sabtu, 27 Agustus 2011 | 19:25 WIB
bubur ayam mang oyo
KOMPAS.com - Menu pilihan santap pagi biasanya sangat bervariasi. Tetapi menu bubur adalah salah satu yang paling cocok menurut kami. Nah, mumpung berwisata di kota kembang Bandung, kami langsung ke satu tempat penjual bubur ayam yang sudah sangat terkenal. Namanya Bubur Ayam Mang H. Oyo Tea, Anda pernah dengar?
Menurut informasi yang kami dapatkan, awalnya Bubur Ayam Mang Oyo berada di Jalan H Wasyid depan RS Sartika Asih, dekat Sekolah PGII. Lalu alamat sekarang ada di Jl. Taman Sari 118/56, Bandung. Saat ini Bubur Ayam Mang Oyo sudah lebih mudah dicari di Bandung, karena tersebar di beberapa titik di Bandung. Wah, sampai buka cabang di Yogyakarta lho. Hebat euy!
Nah, di Bubur Ayam Mang Oyo ada yang istimewa dan unik lho. Bubur ayam disajikan di piring plastik lalu kita miringkan, bahkan kita balik buburnya nempel dan tidak jatuh. Memang buburnya cukup kental dan lebih mengenyangkan dibanding bubur lain. Ini menjadi daya tarik tersendiri di tempat ini. Bahkan, keunikan itu sering didemokan oleh para pelayan Bubur Ayam Mang Oyo. Memang informasi ini juga sudah menyebar dari beberapa tahun yang lalu.
Tentang beras yang digunakan di Bubur Ayam Mang Oyo, ternyata beras dari hasil sawah pribadi yang berada di Majalengka. Beliau memiliki sawah seluas 2 hektar. Bila beras bukan dari Majalengka, konon katanya bubur akan menjadi lebih encer.
Bubur Ayam Mang Oyo sudah ada sejak kira-kira 1978. Saat itu, memang sedang ada program dari pemerintah, “memasyarakatkan olahraga, mengolahragakan masyarakat”. Dari situ Mang Oyo mempunyai ide untuk berjualan bubur ayam, karena biasa orang yang habis berolah raga pagi, sangat cocok untuk menyantap bubur.
Nah, saatnya mencoba bubur ayam di Mang Oyo ini, buburnya memang kental dan lebih padat. Lalu untuk pelengkapnya, di sini juga dibuat unik dengan singkatan seperti atel untuk ayam telur, acak untuk ayam cakwe, serta apel untuk ati ampela he-he... Kreatif banget ya.
Tentunya enak, kita cocok banget sama Bubur Ayam Mang H. Oyo Tea. Kami pesan bubur ayam komplet (ati ampela plus telor). Hidangan itu disajikan sangat menarik, bubur dengan topping potongan ati ampela ditambah satu butir telur rebus yang sudah dipotong jadi dua, lalu diberi suwiran ayam dan cakwe. Sementara, kerupuk, kacang, dan daun seledri disajikan di tempat terpisah. Mantap banget deh bubur ayam Mang Oyo ini.
Ini juga salah satu kuliner di Bandung yang harus Anda coba ya. Apalagi untuk sarapan pagi cocok banget. (Yudi)
Sumber : www.doyanmakan.com
Senin, 04 Juli 2011
Ciamis Maju ke Tingkat Nasional Festival Makanan Tradisional
Ketua TP PKK Kab. Ciamis Hj. Tri Astuti Komara (dua dari kanan) berfoto bersama Gubernur Jabar, H. Ahmad Heryawan dan Ketua TP PKK Provinsi Jawa Barat, Ny. Netty Prasetyani Heryawan ,usai menerima penghargaan sebagai Juara I Ethnic Food Festival tahun 2011 tingkat Provinsi Jawa Barat di Ciwalk Bandung, Jum'at (1/6) lalu.*
CIAMIS, (PRLM).- Kabupaten Ciamis berhak mewakili Provinsi Jawa Barat dalam Festival Keanekaragaman Makanan Berbahan baku Lokal (Ethnic Food Festival) tahun 2011 tingkat nasional. Hal itu menyusul prestasi yang ditorehkan Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Ciamis sebagai juara pertama Festival Keanekaragaman Makanan Berbahan Baku Lokal tingkat Jabar di Bandung.
Ketua TP PKK Kabupaten Ciamis Tri Astuti Komara mengungkapkan makanan maupun masakan tradisional yang disajikan seluruhnya berasal dari tatar Galuh Ciamis. Aneka masakan yang ditampilkan dan mendapat respons sangat baik dalam festival tersebut, di antaranya Gurame gulung isi daun singkong, Burung Waliwis goreng tepung ganyong, satelit (sate kulit), galendo rasa coklat. Serta untuk kategori minuman, menampilkan lahang sari nanas.
"Makanan tersebut cukup familier di tengah masyarakat. Kerja keras kami selama ini yang terus berupaya menggali khasanah makanan tradisional berbahan baku lokal, telah membuahkan hasil. Prestasi yang kami raih merupakan kebanggaan tersendiri bagi warga tatar Galuh Ciamis," ujar Ketua TP PKK Ciamis, Tri Astuti Komara, Sabtu (2/7) di Ciamis.
Festival keanekaragamanan makanan berbahan baku lokal, ungkapnya, berlangsung pada hari Jumat (1/7) di kawasan ciwalik, Bandung. Selain mendapat juara satu kategori makanan tradisional, tambahnya, Ciamis juga berhasil meraih juara pertama untuyk kategori Welcome drink. "yang lebih membanggakan, ternyata kami mendapat dua kejuaraan sekaligus, yaitu untuk kategori makanan tradisonal juga untuk minuman. Atas prestasi tersebut, Ciam,is berhak mewakili Jabar untuk maju ke tingkat nasional," tuturnya.
Tri Astuti yang juga istri Buapti Ciamis Engkon Komara menambahkan potensi makanan tradisional yang berbahan baku lokal, masih banyak yang belum digali. Upaya untuk menggali serta menciptakan kreasi baru makanan tradisional, lanjutnya, sering dilakukan dalam berbagai kegiatan.
"Banyak sekali bahan baku lokal yang bisa dijadikan sebagai makanan tradisional. Misalnya tepung ganyong, sagu, galendo, pisang, sukun, singkong dan lainnya. Kami juga terus kampanye keanekaragamanan makanan berbahan baku lokal, seperti untuk jamuan tamu dan lainnya," ujarnya. (A-101/das)***
Rabu, 26 Januari 2011
Warung Kenangan Pasar Cihapit
Rabu, 26 Januari 2011 | 08:24 WIB
Oleh: Putu Fajar Arcana
SIANG itu, sebagian menu yang disajikan di atas meja panjang sudah habis. Padahal, waktu baru menunjukkan pukul 12.30. Bu Eha si pemilik warung sudah duduk santai di kursi dekat meja di bagian kiri warung kecil itu. Namun, pembeli masih saja mengalir….
Di antara pembeli itu ada Kusmana (40-an), seorang guru SMP di Bandung. Boleh dikata, ia satu di antara begitu banyak pelanggan setia Warung Nasi Bu Eha yang lokasinya ”tersembunyi” dalam keramaian Pasar Cihapit, Kota Bandung.
”Saya makan di sini sejak tahun 1988, sampai sekarang rasa masakannya tidak berubah dan lekat di lidah,” tutur Kusmana, awal Desember 2010.
Pengertian pelanggan setia warung ini harus ditarik sejak masa awal kemerdekaan Indonesia dulu. Warung ini dibuka tahun 1947 oleh Ibu Nok, ibu kandung Bu Eha. Dan sejak itu orang-orang Belanda yang masih ”tertinggal” di Indonesia menjadi pelanggan yang pertama-tama. Bu Eha cerita, dulu warung ini memiliki beberapa menu yang disukai orang-orang Belanda.
”Ada yang namanya kentang ongklok. Itu kentang rebus dikocok dalam tangkup piring terus ditambah susu murni. Ada juga kastrol, kacang merah plus daging. Tapi sekarang menu-menu itu sudah tidak dijual lagi,” kata Bu Eha. Orang tua yang sudah berumur 80 tahun ini menolak menyebutkan nama aslinya. ”Sudah pokoknya Eha saja,” katanya.
Warung Nasi Bu Eha sekarang sebagian besar menyediakan menu berbasis masakan Sunda. Anda bisa mendapatkan soto bandung, gepuk daging, gulai kepala ikan kakap, udang goreng, perkedel, rendang, ayam goreng, pepes jamur, pepes ati ampela, ati sapi, dan beberapa menu lain. ”Saya mah tidak hafal…” kata Bu Eha. Pokoknya, tambahnya, menu di sini lengkap. ”Dan yang makan juga dari Sabang sampai Merauke sejak dulu.”
”Paling istimewa menunya sambel dadak, segerrr…” tutur Atasi Amin (45), pelanggan setia lainnya. Sambal ini sebenarnya tidak beda dengan sambal khas Sunda. Ia diracik dari bahan-bahan seperti cabai, tomat, terasi, dan jeruk limau. Cara penyajiannyalah yang menarik. ”Kalau ada yang pesan baru dibikin secara mendadak. Makanya sambal ini disebut sambel dadak,” tutur H Subagja (60-an), keponakan Bu Eha, yang juga setia mendampingi bibinya selama berjualan.
”Oh ia sih tidak digaji, senang-senang saja. Orang dia sudah punya dua rumah makan kok,” kata Bu Eha mengenai keponakannya. Subagja membenarkan kalau ia memiliki dua outlet rumah makan Ampera di Kota Bandung. ”Ya di sini sambil jaga Bu Eha,” kata Subagja tersenyum.
Prasmanan
Seluruh menu di warung ini disajikan dalam meja panjang yang terbuka. Pada ujung paling kiri terdapat nasi lalu disusul begitu banyak menu. Para pembeli tinggal mengambil piring, kemudian nasi, dan selanjutnya silakan pilih menunya, sepuas-puasnya bila perlu. Kalau mau sambel dadak tinggal bilang. Enam orang karyawan akan dengan sigap membantu kita.
Tugas Bu Eha menghitung berapa potong lauk yang telah Anda santap. Menu-menu itu dihargai Rp 8.000-Rp 12.000 per potong/porsi. Setidaknya Anda hanya akan menghabiskan tidak lebih dari Rp 20.000 untuk sekali makan di sini.
Cara penyajian prasmanan seperti ini, kata Bu Eha, tidak pernah berubah sejak zaman Guntur Soekarnoputra dan Megawati Soekarnoputri menjadi mahasiswa di Bandung. Sejak era 1950-an sampai 1970-an, warung Bu Eha menjadi tempat makan favorit seluruh mahasiswa di Bandung. Di antara mereka ada maestro Jeihan Sukmantoro, para bekas pejabat seperti Adi Sasono, Dibyo Widodo, Bagir Manan, serta beberapa lainnya.
Bahkan, beberapa di antaranya, kata Bu Eha, khusus datang dari Belanda dengan anak dan cucu mereka. ”Masih ada kadang yang suka datang dari Netherlands kemari untuk bernostalgia karena dulu suka makan di sini,” kenang Bu Eha.
Bu Eha sudah berada di warungnya sejak pukul 04.30. Ia kemudian memimpin enam karyawannya memasak. Khusus daging gepuk sudah direbus selama empat jam sejak sore hari untuk kebutuhan keesokan harinya. Pada pukul 06.00, pelanggan sudah bisa menyantap menu-menu di atas meja untuk sarapan. ”Biasanya kalau pagi pelanggan dari pegawai seperti hakim, jaksa, guru, karyawan bank, yang sarapan di sini,” ujar Bu Eha.
Warung kecil yang tampak sederhana ini bisa menghabiskan lebih dari 50 kilogram beras serta Rp 1 juta, khusus untuk membeli daging dan 30-60 ekor ayam. ”Pokoknya kita belanja bahan bisa lebih dari Rp 3 juta sehari,” tutur Bu Eha.
Karena pembeli terus-menerus mengalir, siang ini saya cuma kebagian sepotong ayam goreng dan sayur sop. Tak apalah. Bukan soal rasa yang penting, tetapi menikmati kenangan demi kenangan yang mengalir di tempat ini.…
Sumber :
Kompas Cetak























