Kamis, 13 November 2008

Kuda-kuda di Jalan Gajah

Hindari Konflik, Kawasan Tamansari dan Ganeca Perlu Ditata

PEMILIK kuda tunggang berlari mendampingi seorang anak yang berkuda berkeliling Jln. Ganeca dan Jln. Gelapnyawang, Kota Bandung, beberapa waktu lalu. Diperkirakan lebih dari setengah abad kuda tunggang hadir di kota Bandung.* HARRY SURJANA/"PR"

Ganesha atau Ganeca dalam kebudayaan Hindu adalah putra Dewa Syiwa Parwati yang berkepala gajah. Ia merupakan dewa kecerdasan, kebijaksanaan, serta pelindung seni dan ilmu pengetahuan. Namanya sering kali digunakan untuk menandakan tempat atau jalan, termasuk di Kota Bandung.

Jalan sepanjang kurang lebih satu kilometer ini tepat berada di depan kampus ITB dengan ujung barat berada di Jln. Tamansari (Kebun Binatang) dan ujung timur berada di Jln. Ir. H. Djuanda (Dago). ITB juga menggunakan Dewa Ganesha sebagai lambang civitas-nya.

Akan tetapi, gajah sama sekali tidak terdapat di Jln. Ganeca. Binatang yang banyak dijumpai di sana justru kuda yang keberadaannya dijadikan sarana rekreasi alami andalan Kota Bandung. Setiap akhir pekan, banyak pengunjung terutama dari luar kota yang datang ke kawasan itu untuk merasakan sensasi berkuda atau naik delman.

Lokasinya yang berdekatan dengan kebun binatang dianggap sangat strategis untuk dijadikan lokasi usaha penyewaan kuda. Pertumbuhan aktivitas masyarakat pun terus meningkat di sekitar jalan ini, seperti penjualan makanan dan minuman.

Diperkirakan, lebih dari setengah abad kuda tunggang hadir di Kota Bandung. Menurut Ginda, salah seorang pengurus perkumpulan Kuda Tunggang dan Keretek Jalan Ganesha, hingga kini, sekitar 120 tukang kuda "beroperasi" dengan rute Jln. Ganeca-Tamansari-Gelapnyawang. Meski begitu, tidak semua tukang kuda datang setiap hari karena kebanyakan berdomisili di Lembang, Kab. Bandung Barat.

"Senin hingga Jumat hanya sekitar 50-60 tukang kuda yang datang. Sabtu dan Minggu jumlahnya meningkat. Saat musim liburan, tukang kuda yang datang lebih banyak lagi karena pengunjungnya pun ramai," kata Ginda.

Bisnis wisata kuda di Jln. Ganeca terdiri atas enam bendi (delman beroda empat) dan tujuh keretek (delman beroda dua yang terbuat atas ban mobil) serta sisanya adalah kuda tunggang. 

Namun, sejak dekade ’90-an, wisata kuda tidak lagi terpusat di Jln. Ganeca. Di beberapa tempat lain juga mulai bermunculan, seperti di Jln. Cilaki dan sekitar Jln. Dipati Ukur (Monumen Perjuangan Jawa Barat). Akibatnya, sejak 2004, wisata kuda di Jln. Ganeca mengalami penurunan pengunjung.

**

Selain menjadi alternatif kegiatan wisata, keberadaan kuda yang bersinggungan langsung dengan pengguna jalan raya kerap kali membawa masalah. Masih segar dalam ingatan ketika beberapa waktu lalu seorang bocah berusia tiga tahun tewas terseret kuda yang ditungganginya setelah kuda itu ditabrak mobil.

Menurut planolog ITB, Hetifah Sjaifudian Siswanda, adanya wisata kuda menjadi salah satu penyebab semakin semrawutnya lalu lintas di sekitar Jln. Ganeca. "Keberadaan kuda-kuda itu sebenarnya dapat menjadi sarana rekreasi ruang terbuka yang sudah sulit ditemukan di Bandung. Tak hanya itu, dengan bersentuhan dengan binatang (kuda), bisa menjadi sarana edukasi yang baik bagi tumbuh kembang anak," ujarnya.

Akan tetapi, kini kondisinya tidak lagi kondusif. Saat ini, hak pejalan kaki, pengguna sepeda, dan kuda wisata di Jln. Ganeca dan Jln. Tamansari terampas oleh kepentingan pengendara mobil dan motor. Bahkan, aturan dan rambu lalu lintas pun banyak yang dibuat agar meleluasakan para pengemudi kendaraan bermotor.

Jln. Tamansari memang merupakan akses utama bagi sebagian besar masyarakat, mahasiswa, anak sekolah, dan pegawai pemerintahan. Untuk itu, Hetifah menyatakan perlunya dibuat satu aturan mengenai lalu lintas di sekitar Jln. Tamansari agar terhindar dari kemacetan yang parah dan lebih jauh lagi dari kecelakaan yang dialami pengguna jalan lainnya.

"Bukan tidak mungkin jika nanti jalur jalan itu dibebaskan dari angkutan umum ataupun kendaraan bermotor lainnya, khususnya pada akhir pekan. Dengan begitu, pada saat itu, orang tua akan lebih leluasa untuk meng-izinkan anaknya menunggangi kuda karena tak khawatir terserempet mobil. Memang, perlu kerja sama banyak pihak seperti, pemda, komunitas masyarakat (karang taruna), pihak kampus, pihak yang mewakili pengemudi angkot, hingga orang tua dan masyarakat sekitar," katanya.

Selain kecenderungan menambah keruwetan dan konflik kepentingan di jalan raya, keberadaan kuda-kuda di Jln. Ganeca juga sedikit memprihatinkan apabila dilihat dari kacamata kesehatan. Kotoran kuda yang merupakan endemik dari bakteri tetanus (Clostridium tetani) banyak berserakan di kawasan itu. Padahal, di sekitarnya banyak penjual makanan, terutama kaki lima. 

Kepala UGD RSHS dr. Tri Wahyu Murni mengatakan, kotoran kuda tidak akan bermasalah bagi manusia selama tidak terdapat infeksi (luka). "Pemakaian celana untuk kotoran kuda pun dapat membantu untuk mengurangi jumlah kotoran di jalanan sehingga memperkecil terjadi penularan bakteri tetanus ke manusia," katanya.

Selain berbahaya bagi manusia, kotoran kuda ternyata juga dapat membahayakan kuda itu sendiri. Menurut Kabag Perawatan Hewan Kebun Binatang Bandung drh. Fathul Bari, jika terisap, kotoran kuda dapat mengiritasi paru-paru karena kandungan amoniaknya yang sangat tinggi. "Memang gejalanya sukar diketahui secara pasti, namun jika mulai parah akan terjadi beberapa gejala, seperti nafsu makan berkurang dan kuda menjadi kurang lincah," ujarnya.

Sementara itu, kuda yang sering bersinggungan dengan kendaraan bermotor berpotensi keracunan timah hitam. Tingginya kadar karbon dioksida di udara serta adanya hujan asam yang sering terjadi belakangan ini juga memberikan dampak negatif terhadap kesehatan kuda. Tidak heran jika dalam jangka lima tahun terakhir banyak kuda yang mati. (Eva Fahas)***

Menyikapi Lahirnya Era Penyiaran TV Digital


Dok Depkominfo / Kompas Images
Seorang tenaga ahli dari Jepang sedang menunjukkan beberapa fitur dan aplikasi dalam siaran TV digital di negeri itu kepada delegasi Indonesia yang sedang melakukan studi banding berkait dengan rencana migrasi TV analog ke digital di Indonesia.


MESKI tak diwarnai dengan perayaan yang gegap-gempita, pada 13 Agustus 2008 Indonesia telah menapak ke pintu teknologi penyiaran televisi digital. Peristiwa itu berupa soft launching siaran TV digital oleh TVRI. Langkah ini jelas akan menjadi lokomotif bagi perubahan yang bakal cukup radikal di bidang penyiaran televisi nasional.

Perubahan atau penyesuaian itu tak hanya di sisi penyedia konten dan infrastruktur penyiaran, tetapi juga di masyarakat. Sudah jamak diketahui bahwa masyarakat makin mengandalkan televisi sebagai media informasi sekaligus hiburan, yang ditandai kian tahun kian meningkat peredaran jumlah pesawat televisi. Saat ini ada sekitar 40 juta unit televisi yang ditonton lebih dari 200 juta orang.

Langkah awal perubahan ini bakal menjadi era baru bagi dunia industri televisi nasional, menggantikan era penyiaran televisi analog yang dimulai pada 17 Agustus 1962 berupa siaran percobaan TVRI dalam acara HUT Proklamasi Kemerdekaan XVII Indonesia dari halaman Istana Merdeka Jakarta. Pada 24 Agustus 1962, TVRI mengudara pertama kalinya dengan acara siaran langsung upacara pembukaan Asian Games IV dari Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Teknologi TV digital dipilih karena punya banyak kelebihan dibandingkan dengan analog. Teknologi ini punya ketahanan terhadap efek interferensi, derau dan fading, serta kemudahannya untuk dilakukan proses perbaikan (recovery) terhadap sinyal yang rusak akibat proses pengiriman/transmisi sinyal. Perbaikan akan dilakukan di bagian penerima dengan suatu kode koreksi error (error correction code) tertentu. Kelebihan lainnya adalah efisiensi di banyak hal, antara lain pada spektrum frekuensi (efisiensi bandwidth), efisiensi dalam network transmission, transmission power, maupun consumption power.

Di samping itu, TV digital menyajikan gambar dan suara yang jauh lebih stabil dan resolusi lebih tajam ketimbang analog. Hal ini dimungkinkan oleh penggunaan sistem Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) yang tangguh dalam mengatasi efek lintas jamak (multipath). Pada sistem analog, efek lintasan jamak menimbulkan echo yang berakibat munculnya gambar ganda (seakan ada bayangan).

Kelebihan lainnya adalah ketahanan terhadap perubahan lingkungan yang terjadi karena pergerakan pesawat penerima (untuk penerimaan mobile), misalnya di kendaraan yang bergerak, sehingga tidak terjadi gambar bergoyang atau berubah-ubah kualitasnya seperti pada TV analog saat ini.

Standar DVB-T dan DAB

Pemerintah telah memutuskan sistem Digital Video Broadcasting-Terrestrial (DVB-T) sebagai standar nasional Indonesia karena dari hasil uji coba yang dilakukan oleh Tim Nasional Migrasi TV dan Radio dari Analog ke Digital, teknologi DVB-T lebih unggul dan memiliki manfaat lebih dibandingkan dengan teknologi penyiaran digital lainnya.

Teknologi ini mampu memultipleks beberapa program sekaligus, di mana enam program siaran dapat ”dimasukkan” ke dalam satu kanal TV berlebar pita 8 MHz, dengan kualitas jauh lebih baik. Ibarat satu lahan, yang semula hanya dapat dimanfaatkan untuk satu rumah, dengan teknologi ini mampu dibangun enam rumah dengan kualitas bangunan jauh lebih baik dan kapasitas ruangan lebih banyak. Di samping itu, penambahan varian DVB-H (handheld) mampu menyediakan tambahan sampai enam program siaran lagi untuk penerimaan bergerak (mobile). Hal ini sangat memungkinkan bagi penambahan siaran-siaran TV baru.

Bagi industri radio, secara logis akan ditentukan penggunaan teknologi DAB (Digital Audio Broadcasting) yang dikembangkan sebagai penyeimbang teknologi DVB-T sebagaimana sudah diimplementasikan di lebih dari 40 negara, khususnya negara-negara Eropa. Teknologi DAB bila dikembangkan menggunakan teknologi Digital Multimedia Broadcasting (DMB), yaitu dengan menambahkan DMB multimedia prosesor, akan mampu menyiarkan konten gambar bergerak sebagaimana siaran TV. Hal ini telah menstimulasi para pelaku industri radio untuk mengembangkan bisnisnya dengan menambah konten berupa gambar bergerak, seperti informasi cuaca, peta jalan, video clip, dan film, sebagaimana yang terjadi di industri televisi.

Berbeda dengan industri TV yang harus secara total bermigrasi ke digital karena tuntutan perkembangan teknologi, migrasi digital dalam industri radio hanya sebuah pilihan karena teknologi radio FM dianggap sudah cukup memiliki kualitas dan efisiensi yang baik. Apalagi belum lama ini pemerintah baru selesai menata ulang alokasi frekuensi radio FM yang berkonsekuensi pada perpindahan frekuensi bagi sebagian besar operator radio dan timbulnya biaya investasi tambahan bagi operator radio tersebut. Teknologi radio FM tetap akan bertahan sampai belasan tahun ke depan.

Pertimbangan migrasi

Implementasi sistem TV digital di Eropa, Amerika, dan Jepang sudah dimulai beberapa tahun lalu. Di Jerman, proyek ini telah dimulai sejak tahun 2003 untuk kota Berlin dan tahun 2005 untuk Muenchen dan saat ini hampir semua kota besar di Jerman sudah bersiaran TV digital. Belanda telah memutuskan untuk melakukan switch off (penghentian total) siaran TV analognya sejak akhir 2007. Perancis akan menerapkan hal sama pada tahun 2010. Inggris sejak akhir 2005 telah melakukan uji coba mematikan beberapa siaran analog untuk menguji penghentian total sistem analog bisa dilakukan pada tahun 2012. Kongres Amerika Serikat telah memberikan mandat untuk menghentikan siaran TV analog secara total pada 2009, begitu pula Jepang pada 2011.

Negara-negara di kawasan Asia juga sudah mulai melakukan migrasi total. Di Singapura, TV digital diluncurkan sejak Agustus 2004 dan saat ini telah dinikmati lebih kurang 250.000 rumah. Di Malaysia, uji coba siaran TV digital juga sudah dirintis sejak 1998 dengan dukungan dana sangat besar dari pemerintah dan saat ini siarannya sudah bisa dinikmati lebih dari 2 juta rumah.

Keputusan pemerintah atas penggunaan DVB-T sebagai standar TV digital terestrial akan menjadi lokomotif terjadinya migrasi dari era penyiaran analog menuju era penyiaran digital di Indonesia. Pilihan ini membuka peluang ketersediaan saluran siaran yang lebih banyak, yang berimplikasi dalam banyak aspek. Untuk itu, peran pemerintah menjadi sangat strategis dalam mempersiapkan pengembangan sumber daya manusia yang mampu mengisi dan menjadi pelaku industri penyiaran digital. Momentum penyiaran digital ini diharapkan dapat menjadi pemicu tumbuh dan berkembangnya kemandirian bangsa.

Peran pemerintah melalui Departemen Komunikasi dan Informatika memang terlihat cukup besar. Banyak hal yang telah dilakukan, antara lain pembentukan tiga working group (WG), yaitu WG Regulasi TV Digital, WG Master Plan Frequency, dan WG Teknologi Peralatan untuk Persiapan Implementasi TV Digital. Selain itu, telah dilakukan pembentukan konsorsium uji coba TV digital, pembagian set-top box (STB) kepada perwakilan masyarakat, sampai dengan kegiatan sosialisasi ke berbagai daerah yang melibatkan beragam unsur masyarakat.

Partisipasi aktif pemerintah dalam implementasi teknologi TV digital ini menjadi penting karena migrasi ini akan menimbulkan revolusi di bidang penyiaran. Tulisan Bambang Heru Tjahjono, ketua WG Teknologi Peralatan Depkominfo di Kompas (12/9), dengan jelas mengajak pentingnya keberpihakan pemerintah dalam pengembangan industri nasional dalam implementasi TV digital ini.

Potensi

Banyak potensi industri nasional yang perlu dikembangkan dan dilibatkan untuk berpartisipasi dalam implementasi TV digital ini, seperti PT INTI, Polytron, Panggung, dan Xirka Chipset yang sudah siap dalam industri STB nasional. Begitu pula PT LEN yang telah memfokuskan diri dalam produksi perangkat transmisi. Di samping itu, ada beberapa production house (PH) yang telah siap dalam memproduksi konten berteknologi digital. Peran aktif mereka perlu disambut dan bahkan dipacu agar dapat memberikan kontribusi yang semakin konvergen menuju implementasi teknologi TV digital ini.

Pemerintah perlu memberikan semacam insentif bagi industri nasional yang ingin berpartisipasi dalam produksi perangkat TV digital agar tidak kalah bersaing dengan pelaku industri dari negara lain yang secara agresif telah masuk ke Indonesia, seperti China dan Korea. Apalagi beberapa industri nasional kita sudah siap untuk melakukan customized produknya agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia, seperti penambahan fitur Electronic Program Guide (EPG) versi Indonesia, Early Warning System (EWS), fitur Interactivity yang lebih baik, dan tidak kalah penting fitur Peoples Meter yang dapat memberikan fungsi viewer rating dan Polling System yang merupakan komponen penting dalam industri siaran TV.

Fitur terakhir ini sangat penting agar industri TV kita tidak berada dalam kondisi ”terjajah” dan sangat bergantung kepada lembaga survei asing, yang akurasi hasil rating-nya belum tentu dapat dipertanggungjawabkan.

Bernardus Satriyo Dharmanto Pemerhati Konvergensi Teknologi

Antivirus AVG Bikin Crash


AVG

JAKARTA, KAMIS – Serba salah deh. Jika tidak pasang antivirus, komputer kita rentan serangan virus. Namun pasang antivirus pun belum tentu aman, sementara kinerja komputer sudah pasti melambat saat antivirus bekerja. 


Akan tetapi karena mencegah lebih baik daripada mengobati, memang sebaiknya kita memasang program antivirus. Dan biasanya antivirus – khususnya yang ternama - bekerja dengan baik. Sayangnya sebuah scanner antivirus gratis yang cukup terkenal, AVG, baru-baru ini justru menciptakan masalah bagi penggunanya. 

Program antivirus itu keliru mendeteksi user32.dll – sebuah komponen vital dalam Windows – sebagai penampung (container) bagi trojan horses PSW.Banker4.APSA atau Generic9TBN. Ketika scanner diaktifkan, AVG mengamsumsikan bahwa file kritikal tersebut adalah virus dan langsung menghapusnya, yang mengakibatkan sistem penggunanya crash. 

Masalah ini muncul gara-gara file definisi virus baru. Karena itu AVG merekomendasikan para pengguna antivirusnya yang menerima definisi update secara otomatis untuk mematikan fitur Auto Update dan membatalkan proses scan yang sedang dijalankannya. 

Awalnya masalah ini terisolir pada sistem Windows XP, tetapi ada juga pengguna Vista yang melaporkannya. Komputer yang terpengaruh sama sekali tidak bisa booting atau akan melakukan rebooting berulang tanpa berhenti. 

Untuk mengatasinya, Anda harus melakukan proses perbaikan yang menyebalkan, yang mencakup instalasi ulang Windows, memperbaiki sistem operasi dengan disk Windows, atau menggunakan disc boot untuk mengambil file-file yang Anda perlukan dari direktori C:-Windows-System32-dllcache. 

AVG 7.5 dan AVG 8.0 terpengaruh oleh definisi file yang kacau ini. Namun ada berita baik: saat ini file tersebut sudah diperbarui.

WIEK

Bubuhkan Nomor Halaman pada Notepad


PCPLUS

Ada cara untuk memberikan nomor halaman pada dokumen yang dibuat dengan si penyunting teks yang amat sederhana bernama Notepad. Caranya seperti ini.


1. Setelah dokumen dibuka dengan Notepad, klik menu [File] > [Page Setup].

2. Setelah mengisi “Paper Size”, “Paper Source”, “Orientation”, dan “Margins”, sekarang lihatlah pada ”Header” dan “Footer”.

3. Jika Anda ingin membubuhkan halaman pada bagian atas halaman, isilah bagian Header. Tapi, kalau Anda ingin nomor halaman muncul di bawah, isikan “Footer”. Isikan salah satu (atau keduanya) dengan “&p”. Anda bisa juga mengisikannya dengan “Halaman &p” agar ketika dokumen dicetak, muncul “Halaman 1”, “Halaman 2”, “Halaman 3” dan seterusnya.

4. Nomor halaman biasanya muncul di tengah. Bila Anda ingin menampilkan halaman tersebut di bagian kiri, maka bubuhkan lagi “&l”. Kalau mau di tengah bubuhkan “&c” atau “&r) untuk membubuhkan nomor halaman di kanan. Contoh penulisannya jadi begini: “&l Halaman &p”.

5. Bukan hanya nomor halaman yang bisa dimunculkan. Anda juga bisa membubuhkan nama file. Bubuhkan “&f” untuk menampilkan nama file. Tambahkan “&t” untuk membubuhkan waktu pembuatan file.

Sumber: PCplus

Rabu, 12 November 2008

Mengatasi Proses Defrag yang Bermasalah


SEAGATEh

Kadang-kadang, ketika kita sedang melakukan defrag harddisk, muncul pesan “Error Defragmenting Drive C, Windows cannot finish defragmentting this drive because it has encountered a problem. Click Help and carry out the instructions for running Scan Disk, and then try defragmenting again”. Setelah itu, proses defrag berhenti.


Jangan langsung panik! Ikuti dulu saran yang diberikan Windows pada pesan kesalahan tadi, yakni menjalankan Scan disk untuk memeriksa kondisi harddisk. Begitu Scan disk selesai, coba defrag lagi. 

Nah, kalau saran Windows sudah dijalankan, tetapi harddisk masih emoh di-defrag, ikuti trik ini.
1. Klik [Start] > [Settings] > [Folder Options…].
2. Pilih tab [View], kemudian klik opsi [Show all files].
3. Tekan [OK] untuk keluar dari jendela “Folder Options”.
4. Klik [Start] > [Find] > [Files or Folders].
5. Ketik “applog” pada kolom “Name:”, dan pada combo box “Look in:” pilih drive [C].
6. Beri tanda centang pada kotak [Include subfolders].
7. Lakukan pencarian dengan mengklik [Find now].
8. Setelah pencarian berakhir, hapuslah semua file yang ditemukan (kecuali folder C:-WINDOWS-applog) kemudian klik ganda folder applog dan hapus seluruh isi folder yang ada di dalamnya.
9. Tutup jendela pencarian dan jalankan kembali Disk Defragmenter.

Sumber: PCplus

Cermati Razia Yang Dilakukan Polisi


TRIBUN BATAM/IMAN

JAKARTA, RABU - Jika pengendara mobil atau motor diberhentikan petugas polantas dan kemudian mengatakan sedang dilakukan razia, jangnan buru-buru menyerahkan surat-surat motor. Terlebih jika Anda tidak melakukan kesalahan, kemudian petugas itu hanya beberapa orang dan tidak dilengkapi plang menandakan razia. 


Operasi atau razia lalu lintas (lalin) yang digelar polisi di jalan-jalan harus dilengkapi surat perintah—biasa disingkat sprint— dari pejabat yang berwenang. Jika tidak dilengkapi surat perintah, patut diduga operasi tersebut liar.

Koordinator Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya, Kompol Sambodo Purnomo, mengatakan operasi lalu lintas yang digelar polisi juga harus dipimpin seorang perwira (minimal berpangkat inspektur dua=Ipda). ”Kalau operasi lalin resmi harus dipasang plang pemberitahuan bahwa ada operasi dan petugas dilengkapi surat perintah dari pejabat berwenang, Jika di wilayah bisa dari kapolsek,” ujar Sambodo di Jakarta, Selasa (11/10).

Ada beberapa aturan yang harus ditaati, lanjut Sambodo jika akan menggelar operasi, baik oleh polisi lalu lintas maupun polisi samapta. Misalnya, harus dipasang plang pemberitahuan kepada pengendara bahwa sedang digelar operasi lalu lintas. ”Target operasinya juga harus jelas, apakah operasi pekat, senjata tajam, narkoba, atau operasi lalu lintas,” ujarnya.

Pengendara yang diperiksa juga berhak menanyakan kepada petugas surat perintah operasi atau menanyakan maksud dari operasi tersebut. ”Kalau tidak ada surat perintah, bisa jadi operasi tersebut liar. Tapi, terkadang plang yang dipasang ketabrak kendaraan yang melintas,” katanya. Operasi resmi, katanya, minimal melibatkan 10 petugas. ”Kalau hanya dua petugas, operasi itu tidak resmi,” ujarnya. 

Operasi yang dinilai tidak resmi sering ditemui di sejumlah ruas jalan di Jakarta. Warta Kota beberapa kali menemui adanya operasi ‘liar’ yang dilakukan polisi di Jalan Manggabesar Raya, Jakarta Barat; Jalan Tubagus Angke, Jakarta Barat; dan Jalan KH Hasyim Asyari, Jakarta Pusat. 

Biasanya dua petugas berdiri di pinggir jalan yang penerangannya minim. Sasarannya adalah pengendara sepeda motor yang tidak memakai helm, ngebut, atau menyerobot lampu lalu lintas. Tapi, sering kali pengendara yang distop karena melanggar aturan lalu lintas tidak pernah dikenai tilang. Penyelesaian dilakukan melalui jalan ‘damai’.

wid

Selasa, 11 November 2008

Tim Indonesia Juara Pertama Overclock Dunia


OC-ARENA.COM
Wajah jawara overclock Master Overclock Arena. Keduanya berhasil mencatatkan rekor 7,5 detik untuk lomba SuperPI 1M.


TAIPEI, SENIN – Akhirnya terbukti juga bahwa overclocker Indonesia memang nomor satu. Dalam MOA (Master Overclock Arena) 2008 yang berakhir pada 9 November lalu di Taipei, pasangan Alva Jonathan dan Rekky dari Indonesia berhasil keluar sebagai juara pertama. 


Alva dan Rekky mencatatkan skor SuperPI 1M 7,5 detik, terbaik di antara 13 tim yang berlaga. Maka pasangan ini pun berhak membawa pulang hadiah pertama berupa uang tunai US$ 3000 dan satu set motherboard MSI Eclipse SLI (chipset Intel X58). 

Juara kedua dan ketiga masing-masing diraih oleh Hipro5 dan Grahellas dari Yunani (7,687 detik), dan Lin Yuan Ming dan Suen Jheng Dong dari Taiwan (7,781 detik). Acara final lomba juga dimeriahkan oleh kehadiran pakar overclocking Taiwan Coolaler dan Janet Hsieh, pembawa acara Discovery Taiwan pada program TV Discovery Channel.

Pada lomba SuperPI 1M di MOA, rekor SuperPI 1M yang dicatatkan oleh lomba serupa oleh merek lain (dan prosesor Intel Quad-Core) juga berhasil dipecahkan oleh 10 tim peserta. Ke-10 tim tersebut menggunakan motherboard MSI P45D3 Platinum dengan prosesor Intel Core 2 Duo E8600 dual-core. 

Total ada 24 peserta yang tergabung dalam 13 tim dari seluruh dunia yang berpartisipasi dalam final kejuaraan overclock MOA yang digelar di ibukota Taiwan ini. Sebelumnya perlombaan penyisihan telah digelar di lebih dari 30 negara. Untuk kawasan Asia Tenggara, tahap penyisihan lomba overclock ini dijuluki IronTech dan dilakukan di Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand. 

Sekadar informasi, perlombaan overclock biasanya diselenggarakan oleh produsen motherboard (seperti Asus, Gigabyte, MSI) dengan bekerjasama dengan pihak-pihak terkait. MOA misalnya, diselenggarakan oleh MSI, Intel dengan dukungan delapan perusahaan lain. Tujuan dari MOA tak lain adalah menciptakan sejarah baru dalam overclocking.

Sebagai kelanjutan dari MOA dan untuk memenuhi tuntutan para peserta lomba, MSI akan meluncurkan paket motherboard/kartu video MOA Commemorative Limit Edition.

WIEK

Senin, 10 November 2008

Bahasa Pejabat dan Media Disorot

Penggunaan Akronim Sudah Kebablasan

MENTERI Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo (kiri) menyerahkan penghargaan kepada para pemenang berbagai lomba dalam menyambut Tahun Bahasa. Penyerahan itu dilakukan pada pembukaan Kongres IX Bahasa Indonesia di Hotel Bumi Karsa, Jakarta, Selasa (28/10) lalu.* MUHAMMAD KADAPI

BERBAGAI persoalan kebahasaan dan kesastraan dibahas pada Kongres IX Bahasa Indonesia di Hotel Bumi Karsa, Jakarta, 28 Oktober - 1 November 2008 lalu. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional sebagai penyelenggara, tidak hanya menerima masukan dari para ahli bahasa, tetapi juga dari berbagai kalangan, karena bahasa Indonesia adalah bahasa nasional milik semua warga negara Indonesia dan pihak-pihak lain yang mencintai bahasa persatuan ini.

Persoalan yang muncul antara lain, perlunya peningkatan metode pengajaran bahasa Indonesia, pelestarian bahasa daerah, perlunya keseragaman dalam penyerapan kata-kata bahasa asing (terutama di media massa), perbaikan bahasa para pejabat, pengutamaan kata-kata bahasa daerah sebagai lema baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penertiban akronim, dan lain-lain. 

Tak tertib berbahasa

Salah satu hal yang menjadi sorotan pada Kongres IX Bahasa Indonesia ini adalah tidak tertibnya bahasa yang digunakan para pejabat dan media massa. Kritikan-kritikan pedas terhadap bahasa para pejabat muncul pada pleno hari pertama, seusai acara pembukaan. Sementara kritikan terhadap media massa, khususnya televisi, muncul pada salah satu sesi khusus untuk bahasa yang digunakan media massa.

Seorang peserta yang berprofesi sebagai guru bahasa Indonesia mengkritik betapa tidak teraturnya bahasa sebagian pejabat di negeri ini. "Ada pejabat yang bicara panjang sekali, tetapi dalam kalimat yang panjang itu, tidak jelas mana predikatnya. Padahal dalam masyarakat yang paternalistik, pejabat adalah panutan masyarakat," kata guru itu.

Disebutkannya pula, beberapa pejabat sering menyebut kata "merubah". Padahal, kata yang benar adalah "mengubah" karena kata dasarnya ubah. Tidak hanya dalam pengucapan, dalam bahasa surat dinas pun kerancuan berbahasa masih terjadi. 

Dengan kesalahan-kesalahan berbahasa yang tergolong mendasar itu, ada yang mengusulkan agar para pejabat itu harus terlebih dahulu mengikuti kursus bahasa Indonesia yang baik dan benar. Konkretnya, muncul pula usulan agar para pejabat di negeri ini harus lulus UKBI (Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia).

Dalam kongres tersebut, pihak Kementerian Sekretaris Negara sepakat agar para pejabat bisa berbahasa dengan baik. Selain itu, dalam penyusunan undang-undang, ahli bahasa akan dilibatkan. 

Sementara itu, bahasa media massa disorot karena belum seragam dalam menggunakan kata-kata serapan dari bahasa asing. Boleh jadi, ketidakseragaman ini karena lambannya Pusat Bahasa meluncurkan kata-kata serapan resmi dari bahasa asing, apalagi KBBI hanya terbit lima tahun sekali, berbarengan dengan pelaksanaan kongres.

Apabila dikaitkan dengan kendala ini, muncul gagasan menarik, bahwa untuk mengimbangi pesatnya perkembangan bahasa, sebaiknya Pusat Bahasa menggunakan KBBI daring (dalam jaringan/online) untuk menyosialisasikan kata-kata serapan baru dari bahasa asing yang memang datang begitu deras.

Kepala Pusat Bahasa Dendy Sugono menyanggah anggapan bahwa lembaganya lamban dalam meluncurkan kata-kata serapan dari bahasa asing. Menurut dia, sudah ada 405.000 ungkapan asing dan kata serapan dalam berbagai bidang ilmu yang sudah dibakukan. Sementara itu, ada 182.000 kata yang masih dalam proses penyelarasan. Namun, menurut dia, kalangan pers jarang menggunakannya.

Akronim kebablasan

Media massa juga dikritik karena terlalu sering menggunakan akronim sehingga sering kali menyulitkan pembaca atau pemirsa. Hal ini antara lain dikeluhkan Ny. Manoppo, seorang dosen senior Universitas Sam Ratulangi Manado. 

"Saya selalu membaca koran. Akan tetapi, belakangan ini saya sering tidak bisa menangkap makna karena bahasa koran terlalu banyak akronimnya. Saya pikir ini merusak kebudayaan bangsa. Apakah nantinya kepribadian kita juga dipendek-pendekkan?" katanya menyindir.

Jumlah akronim belakangan ini dinilai sudah kebablasan. Segala sesuatu dibuat akronimnya, tak peduli hal itu akan memusingkan publik atau tidak. Bahkan ada perkiraan, jumlah akronim itu menyamai atau bahkan melebihi jumlah kata-kata baku bahasa Indonesia.

Ada baiknya kalangan pers memerhatikan keluhan publik ini dengan cara membatasi penggunaan akronim dalam pemberitaan atau artikel. Setidaknya, bila akronim itu terpaksa harus dimuat, pada pemunculan pertama hendaknya dicantumkan kalimat atau arti lengkapnya.

Keprihatinan soal membeludaknya penyingkatan-penyingkatan kata juga dikemukakan pakar telematika Roy Suryo yang membahas topik Peran Media Siber dalam Bahasa Indonesia. Dengan kemampuannya, dia menjadi salah seorang pembicara favorit pada kongres tersebut. 

Selain mengungkap kemajuan teknologi media dalam kontribusinya terhadap kecerdasan berbahasa Indonesia, pria bernama lengkap K.R.M.T. Roy Suryo Notodiprojo itu juga membahas menyeruaknya bahasa SMS yang diwarnai penyingkatan-penyingkatan ekstrem, misalnya huruf "g" bisa berarti gue (saya) atau gak (enggak/tidak), maksi (makan siang), ataupun samsi (sama siapa). Gejala-gejala seperti ini tentu akan merusak bahasa Indonesia. Roy berjanji, dia akan selalu menulis kata-kata dalam SMS dengan bahasa yang baik. 

"Kalau Bapak/Ibu tak sempat bertanya kepada saya dalam forum yang singkat ini, silakan bertanya lewat SMS kepada saya, dan saya akan menjawabnya dengan bahasa yang baik, lengkap, tanpa menyingkat-nyingkat kata seperti itu," kata Roy. (Imam Jahrudin Priyanto/"PR")***