Bahasa Indonesia, Basa Sunda, Bahasa Asing, Kamus, Fotografi, Sejarah, Budaya, Dongeng, Teknologi, Kesehatan, Hukum dan Kriminal, Konservasi, Kuliner, Pembangunan, Krisis, Tokoh, Olahraga, Pertanian, Perkebunan, Perikanan, dan Jalan-Jalan. (Indonesian Language, Sundanese Language, Foreign Languages, Dictionary, Photography, History, Culture, Story, Technology, Healthy, Law and Criminal, Conservation, Development, Crisis, Figure, Sports, Agriculture, Plantation, Fishery, and Travelling)
Selasa, 08 Agustus 2023
Beli Ikan Mas di Pasar Ciparay #shorts #ikanmas
Minggu, 09 April 2023
Minum Air Kelapa Muda (Dawegan/Dewegan)
Bagi warga Jawa Barat kata "Dawegan" sudah tidak asing di telinga, namun bagi yang di luar Jawa Barat agak aneh terdengarnya. Dawegan atau kadang menyebutnya dewegan itu artinya kurang lebih "kelapa muda". Apabila buah kelapanya sudah tua tidak disebut lagi dawegan/dewegan. Buah kelapa yang masih muda terkadang isinya seperti lendir kalau kita kerok pakai sendok. Akan tetapi, itu enak sekali, kelapa yang seperti lendir itu sering disebut lumeho, terdengar jorok sih karena bentuknya menyerupai leho, atau ingus.
![]() |
| Murak (mengupas) dawegan/dewegan |
![]() |
| air kelapa muda (dawegan/dewegan) |
Di bumi nusantara ini banyak buah kelapa, apalagi yang daerah pesisir pantai pasti banyak buah kelapa, setiap daerah punya nama dan ciri khas masing-masing dalam penamaan kelapa muda. Saya tidak tahu persis apa nama kelapa muda di setiap daerah di Indonesia ini. Mungkin ada yang bisa membantu, apa nama atau sebutan lain untuk kelapa muda di setiap daerah di Indonesia.
Berikut link video minum air kelapa muda atau dawegan/dewegan.
Rabu, 29 Maret 2023
Kue Balok
Nama Kue Balok bagi orang Bandung dan Jawa Barat sudah tidak asing lagi terdengarnya. Akan tetapi, orang-orang dari daerah lain selain Bandung dan Jawa Barat banyak yang belum tahu apa itu Kue Balok. Bentuknya mirip seperti kue Bandros atau kue pancong kalau orang Jakarta menyebutnya demikian. Kue balok lebih tebal dan besar. Cara memasak atau membuatnya pun agak sedikit berbeda dalam hal pembakarannya. Di Kota Bandung banyak tempat yang bisa dijumpai orang berjualan kue Balok.
Bagi sebagian penggemar olahraga, terutama olahraga sepeda di Kota Bandung sudah sangat familiar dengan kue balok. Adakalanya tempat jualan kue balok dijadikan destinasi untuk berkulineran.
1. Di daerah Lembang, Balok Jayagiri, Mang Ayi
2. Di daerah Pangalengan Balok
3. Di Soreang, Balok Soreang, Balok Abah Away.
Berikut videonya.
Masih banyak tempat yang menjual kue balok di sekitaran Kota Bandung dan di luar Kota Bandung.
Kamis, 04 April 2013
Dari Rondo sampai Merauke...
100 Hari Keliling Indonesia
Penulis : Ni Luh Made Pertiwi F | Kamis, 4 April 2013 | 09:07 WIB
KOMPAS.com - Perjalanan mengarungi Pulau Sumatera, tentu baru lengkap jika menyambangi pulau terujung, Sabang di Aceh. Tim Kompas TV melakukan perjalanan menjelajahi Indonesia dalam rangka program "100 Hari Keliling Indonesia".
Mereka telah lama meninggalkan Pulau Sumatera, namun ada kisah-kisah menarik yang tersisa. Dari Jakarta mereka menyusuri Pulau Sumatera melalui jalur darat dan laut dengan angkutan umum.
Anggun Wicaksono, salah satu tim "100 Hari Keliling Indonesia", mengingat kembali perjalanan itu menuju Sabang. Ia menuturkan, mereka naik kapal cepat menuju Pulau Sabang dengan tarif sekitar Rp 160.000 per orang.
"Di Sabang, kami keliling naik motor sewaan, harganya Rp 80 ribu per hari," katanya kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Rabu (3/4/2013).
Sesampai di Pulau Sabang, ia mengaku hawa yang terasa begitu menyenangkan, serasa benar-benar berlibur. Apalagi, jalanan di Pulau Sabang teraspal dengan baik, jalanan pun begitu mulus.
"Sabang itu pokoknya cantik. Tapi kami lalu ke Pulau Rondo, ini pulau terluarnya, lebih luar dari Pulau Sabang," kata Anggun.
Untuk menuju Pulau Rondo, mereka pun menumpang kapal patroli AL. Perjalanan memakan waktu dua jam. Di Pulau Rondo terdapat pos penjagaan perbatasan TNI AL dan TNI AD.
"Pulau Rondo itu keren banget. Tapi di jalan, karena tidak ada dermaga, kami turun di tengah laut. Naik perahu karet yang bocor. Jadi sembari ngayuh yah sambil ngeluarin air," cerita Anggun.
Suasana menegangkan memang sempat dirasakan apalagi arus laut kala itu begitu kencang. Namun, sesampai di pulau, nuansa berbeda mereka rasakan.
"Kami membawa barang-barang logistik. Orang-orang TNI menyambut kami dengan sukacita. Jadinya agak mengharukan karena mereka bergantung pada logistik yang kami bawa. Mereka baru dapat logistik sebulan sekali dari teman-teman mereka yang pergi ke Pulau Sabang," jelasnya.
Di Pulau Rondo, ia dan tim pun naik ke atas bukit menuju pos penjagaan. Mereka perlu menapaki sekitar 500 anak tangga dengan kemiringan 75 derajat.
"Capek pasti. Tapi di sana kami ketemu Tugu Nol Kilometer yang sebenarnya," tutur Anggun.
Ya, Tugu Nol Kilometer memang identik dengan yang berada di Pulau Sabang. Maka, lanjut Anggun, lagu "Dari Sabang Sampai Merauke" pun mereka ubah liriknya.
"Kami nyanyinya jadi 'Dari Rondo Sampai Merauke...'," ujar Anggun sambil tertawa.
Dalam program "100 Hari Keliling Indonesia", Ramon akan memulai perjalanan dari Jakarta, menuju Sumatera, kemudian Kalimantan. Lalu berlanjut ke Sulawesi, Papua, Ambon, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Bali. Perjalanan kemudian berakhir di Pulau Jawa, tepatnya kembali di Jakarta.
Tak hanya sekadar panorama dan segala keindahan bumi Indonesia yang akan diangkat.
Melainkan juga sisi budaya, masalah sosial, dan masalah lingkungan, sampai problematika transportasi yang dihadapi Ramon selama perjalanan.
Ikuti twitter Kompas Travel di @KompasTravel
Selasa, 02 April 2013
Yuk, Lihat Aneka Produk Makanan dan Minuman
JAKARTA, KOMPAS.com - Pameran Food & Hotel Indonesia 2013 kembali hadir. Tahun ini akan bertempat di JIEXPO, Kemayoran, Jakarta, pada tanggal 10-13 April 2013.
"Industri pariwisata memperlihatkan pertumbuhan kedatangan pengunjung yang telah menggairahkan ledakan di segmen perhotelan dengan kenaikan tingkat hunian hotel, dan berbagai rantai hotel domestik dan internasional meluncurkan properti baru mereka di Indonesia," ungkap Senior Project Manager Pameran Food & Hotel Indonesia 2013, Wiwiek Roberto, pada jumpa pers di Jakarta, Selasa (2/4/2013).
Wiwiek mengungkapkan Pameran Food & Hotel Indonesia 2013, bertujuan untuk melayani kebutuhan industri pariwisata dan hotel yang tengah berkembang. Pameran tersebut menampilkan bidang makanan, minuman, dan perhotelan.
![]() |
| FITRI PRAWITASARI |
Pameran ini diikuti 1.300 peserta dari 39 negara, di antaranya Amerika Serikat, Australia, Brasil, Italia, Korea Selatan, Singapura, Taiwan, Turki, dan Indonesia. Sementara itu, terdapat 9 negara paviliun internasional.
Selain, itu dalam pameran tersebut terdapat kegiatan Indonesia Barista Competition, Indonesia Salon Culinaire, Wine Master Classes, dan Coffee Seminar and Workshop. Dalam Salon Culinaire, seperti kompetisi memasak untuk koki profesional dan koki junior. Ada pula kompetisi ice carving dan fruit carving.
![]() |
| KOMPAS/FRANS SARTONO |
"Ada kompetisi chef. Pesertanya campur lokal dan mancanegara. Nantinya menu yang harus dimasak ada dua jenis, dengan konsep lesehan menu nusantara. Apalagi pertumbuhan chef sekarang banyak," kata Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenparekraf, Firmansyah Rahim.
Ikuti twitter Kompas Travel di @KompasTravel
Minggu, 02 Desember 2012
Orang Tasikmalaya Menyebutnya "Kelom Geulis"
![]() |
| Kompas Images/Ni Luh Made Pertiwi F |
KOMPAS.com – Jika Cinderella memiliki sepatu kaca, maka orang Tasikmalaya mempunyai sepatu kayu. Selintas memang mengingatkan pada bakiak ala Jepang. Walau dengan alas sepatu yang berbeda.
Bentuknya seperti pada umumnya selop, hanya saja terbuat dari kayu. Kelom geulis, begitu orang Tasikmalaya menyebutnya. Dalam Bahasa Sunda, “kelom” berarti “alas kaki”, sementara “geulis” berarti “cantik”.
“Kalau pakai kelom nanti jadi cantik,” begitu kelakar seorang teman sambil sibuk memilih kelom di Toko Shelly yang berada di Jalan Tamansari Gobras No. 42 A.
Di Toko Shelly, aneka kelom cantik memanjakan pembelinya, tentu terutama kaum hawa. Selop menjadi dominan dan favorit. Warna dominan tentu saja warna tanah seperti cokelat tua dan cokelat muda.
Umumnya, kayu yang dipakai adalah kayu damar, kayu mahoni, dan kayu albasia. Namun, di Toko Shelly, kreasi selop yang biasanya hanya behiaskan sulaman pun menemukan wujud yang makin kreatif. Penggunaan bahan kulit sintetis, lalu warna-warna berani seperti ungu terang dan hijau menyala.
Selain model selop untuk wanita, ada pula kelom untuk pria. Selain itu, aneka hak untuk kelom wanita pun beragam. Ada hak yang tinggi di belakang ala high heels namun tak runcing. Ada pula model wedges.
Harga sangat terjangkau, per pasang mulai dari Rp 40.000. Beberapa selop klasik yang menjadi favorit diberi harga mulai dari Rp 50.000. Ainun, pemilik Toko Shelly juga tak segan-segan memberikan harga diskon, terutama jika membeli dalam jumlah banyak.
Sabtu, 31 Desember 2011
Jelang Tahun Baru, Polisi Akan Rekayasa Jalur di Kota Bandung
BANDUNG,(PRLM).- Guna mengantisipasi kepadatan arus lalu lintas di Kota Bandung ketika malam pergantian tahun, akan dilakukan langkah rekayasa jalan pada Sabtu (31/12). Nantinya, akan diberlakukan sistem buka tutup jalan, dan pengalihan arus lalu lintas.
“Akan ada sistem buka tutup jalan pada jalan yang rawan kemacetan pada malam tahun baru nanti,” ucap Kepala Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Kota Besar Bandung Ajun Komisaris Besar Kemas Ahmad Yamin, di Mapolrestabes Bandung, Jumat (30/12).
Untuk sistem buka tutup, menurut Yamin, akan dilakukan selama 30 hingga 60 menit, melihat situasi kepadatan. Yaitu seperti di Jalan Sukajadi-Jalan Eyckman hingga Jalan Sukajadi-Jalan Sindang Sirna (Flamboyant).
Kemudian jika terjadi kepadatan seperti di sepanjang Jalan Merdeka (BIP), maka akan diberlakukan pengalihan arus lalu lintas. Untuk kendaraan yang dari arah Jalan Cihampelas-Jalan Wastukencana, akan dialihkan mulai dari Jalan Wastukencana-Sister City, dan mulai dari Jalan Pajajaran-Jalan Cicendo.
Untuk di Jalan Dago mulai dari Simpang Dago hingga Jalan Merdeka-Jalan Aceh, seluruh kendaraan dilarang parkir. Kemudian, ditempatkan personil di setiap persimpangan. Yakni, tidak hanya melibatkan personil Polrestabes Bandung, tetapi Dalmas, dan Brimob.
Tidak hanya di pusat kota. Pengalihan pun akan dilakukan ketika terjadi kepadatan dari arah Kota Bandung menuju Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Nantinya, arus lalu lintas dari arah utara atau Lembang, akan dibelokan ke kanan, yaitu Jalan Kolonel Masturi.
Sedangkan arus lalu lintas dari Jalan Sersan Bajuri atau Kampung Gajah yang akan menuju Ledeng, itu dibelokkan ke Pondok Hijau kemudian mengambil Jalan Geger Kalong, Jalan Surya Sumantri dan Jalan DR Djundjunan (Pasteur).
“Nantinya pun kami mengimbau kepada masyarakat untuk tidak memarkirkan kendaraannya di badan jalan. Seperti di Jembatan layang Pasupati, kemudian Jalan IR H Djuanda (Dago) mulai dari Simpang Dago hingga Jalan Merdeka. Lalu di sepanjang Jalan Asia Afrika atau alun-alun, dan sepanjang Jalan Diponegoro (Gasibu).
Dalam kesempatan itu, Yamin pun melarang masyarakat untuk membawa delman atau sado masuk ke Kota Bandung. Hal itu, melihat dari kejadian tahun sebelumnya. "Kami akan melarang sado atau delman masuk ke dalam Kota Bandung. Dan, kami pun akan melakukan penyekatan agar itu tidak terjadi,” jelasnya.
Penyekatan agar delman tidak masuk, akan dilakukan di Jalan Mochamad Toha - Mochamad Ramdan (Patung Ikan-red.), lalu Jalan Buah Batu - Jalan Pelajar Pejuang 45, dan Jalan Kopo - Jalan Lingkar Selatan. (A-195/A-89)***
Rabu, 28 Desember 2011
Kehangatan Rumah Cantik Perancis di Kota Bandung
Asmila Boutique Hotel
KOMPAS.com – Di tengah berjamurannya hotel di Kota Bandung, hotel-hotel butik turut meramaikan peta perhotelan di kota ini. Sebuah rumah di tepi Jalan Dr. Setiabudhi No. 54, Bandung, Jawa Barat, pun disulap menjadi hotel butik dengan nuansa warna dominan yaitu warna biru.
Asmila Boutique Hotel terletak tepat di seberang persis factory outlet Rumah Mode. Seperti konsep hotel butik pada umumnya, suasana cantik yang ingin dihadirkan pihak hotel kepada tamu. Selain juga usaha untuk menciptakan atmosfer kedekatan dengan tamu. Sehingga tamu bisa merasa seakan berada di rumah sendiri.
Hal ini diperlihatkan dengan front office yang hanya berupa meja pendek sehingga tak membuat jarak dengan tamu. Konsep serasa di rumah nan cantik ini pun dilengkapi konsep go green. Setiap kamar tidak menggunakan karpet dan bebas asap rokok.
Konsep ramah lingkungan juga terlihat dari lahan parkir yang tidak menggunakan aspal agar tanah dapat menyerap air. Lalu furnitur yang tidak menggunakan bahan dari kulit. Sementara air mineral yang disediakan di kamar merupakan produk lokal dari Jawa Barat.
Saat melangkah masuk ke kamar, kecantikan ala Perancis menghangatkan kamar. Bed runner ala pola toile Perancis. Sofa-sofa empuk dengan detail cantik berpadu dengan meja kayu dan cermin bernuansa etnik. Secara keseluruhan memang menampilkan kesan mewah dan romantis ala bistro Perancis.
Asmila Boutique memiliki tipe kamar deluxe room dan suite. Perbedaan kedua kamar ini hanya terletak di kamar suite yang terdiri dari dua ruangan yaitu living room dan bed room. Harga kamar mulai dari Rp 1,5 juta per malam. Walau tampil seperti rumah Perancis yang cantik, hotel ini tetap memiliki kolam renang dan fasilitas meeting room.
Selain itu, terdapat area teras semi outdoor dengan pemandangan ke arah Jalan Setiabudhi. Saat malam, lampu-lampu kota menampilkan pemandangan yang apik. Area ini sangat cocok untuk tempat romantic dinner.
Secara keseluruhan hotel ini memang cocok untuk berbulan madu. Walau begitu untuk keluarga pun cocok, apalagi hotel ini memiliki kamar yang didesain untuk penyandang cacat yang berada di lantai satu.
Apakah Anda selalu gemas ingin mengambil aneka minuman dan makanan di dalam mini bar? Nah silahkan Anda ambil sepuasnya di mini bar yang disediakan di setiap kamar di Asmila Boutique Hotel ini. Karena makanan dan minuman yang terdapat di dalam mini bar sudah termasuk dalam harga kamar. Setiap kamar juga difasilitasi internet gratis bahkan jasa mencuci mobil setiap harinya.
Banyak Jalur Menuju Kota Bandung
Didit Putra Erlangga Rahardjo | Nasru Alam Aziz | Minggu, 25 Desember 2011 | 19:51 WIB
Hotel Preanger adalah salah satu karya CP Wolff Schoemaker, arsitek kenamaan Belanda, yang masih berdiri di Kota Bandung, Jawa Barat.
BANDUNG, KOMPAS.com -- Untuk mencapai Bandung, Jawa Barat, ada banyak jalur yang bisa dilalui oleh pengguna kendaraan yang datang dari Jakarta. Pengetahuan sederhana ini ternyata belum meluas, sehingga banyak yang memilih untuk memadati gerbang tol Pasteur yang menjadi gapura Kota Bandung.
Hal itu dikemukakan Kepala Humas Jasa Marga Purbaleunyi, Iwan Mulyawan, Minggu (25/12/2011).
Iwan menyebutkan, kini ada sekitar 65.000 unit kendaraan yang melintasi Purbaleunyi ke arah Bandung. Padahal akhir pekan biasa hanya sebanyak 40.000 unit. Ruas tol tersebut menjadi patokan untuk kendaraan yang datang dari arah Jakarta.
Ada tujuh gerbang tol yang terdapat di sekeliling Kota Bandung, mulai dari Pasteur, Baros, Pasirkoja, Kopo, M Toha, Buah Batu, dan Cileunyi.
Baros cocok digunakan untuk mencapai daerah utara seperti Lembang, sementara Kopo bisa digunakan untuk mencapai tempat wisata di Bandung, selatan seperti Kawah Putih Ciwidey. Gerbang Cileunyi bisa dipakai bila ingin menuju ke arah Garut, Tasikmalaya, atau Sumedang.
Iwan mencontohkan, wisatawan yang ingin berkunjung ke wahana dalam ruangan, Trans Studio Bandung, bisa menggunakan gerbang tol Buah Batu dan hanya menempuh perjalanan enam kilometer di wilayah selatan yang relatif lebih lengang. Sebaliknya, bila keluar dari Pasteur, jarak yang ditempuh sepanjang 10 kilometer dan harus tertahan di keramaian pada pusat kota.
Untuk libur Natal hingga Tahun Baru ini, pihak Jasa Marga sudah mengantisipasinya dengan membuka seluruh loket tol. Dengan demikian, antrean pengguna tol yang keluar bisa dikurangi.
Hotel Bertarif Murah dan Nyaman di Bandung
Hotel Malaka, Bandung
KOMPAS.com – Melangkah ke lobby, antara ruang makan untuk sarapan, lalu meja front office maupun sofa-sofa santai untuk tempat tamu menunggu, bergabung jadi satu tanpa sekat-sekat. Melongok ke atas, tampak jejeran kamar-kamar. Sekilas seakan berada di sebuah kos-kosan.
Hotel Malaka ini berada di Jl. Halimun No. 36, Palasari, Bandung. Hotel ini tergabung dalam jaringan grup Kagum Hotel. Konsepnya sudah sangat jelas saat Anda masuk ke dalam hotel ini, yaitu hotel Bed & Breakfast, yang bisa dikategorikan budget hotel.
Oleh karena itu, hotel ini cocok untuk Anda yang memang datang ke Bandung untuk tujuan pelesir. Jika Anda mencari hotel di Bandung untuk sekadar tempat beristirahat atau tidur di malam hari dan sarapan, hotel ini bisa jadi pilihan.
Harganya murah, mulai dari Rp 300.000. Namun kamarnya tak menunjukkan kualitas rendah. Tetap saja kamar mungil ditata dengan apik. Dengan jendela besar di satu sisinya dan lukisan sederhana di dinding lainnya.
Lalu, kamar mandi dengan shower yang memanjakan tamu. Air dari shower cepat sekali panas, tak perlu menunggu lama. Memang terkesan hal sepele, namun di saat Anda lelah menyusuri kota Bandung dan melepas penat dengan mandi segar, air yang cepat panas jadi perhatian lebih.
Sementara bathtub disediakan untuk jenis kamar. Sedangkan, tempat tidur dengan bantal sekelas bintang 5, jadi jaminan mutu untuk tidur yang nyenyak. Setiap kamar pun difasilitasi dengan televisi LCD lengkap dengan channel internasional dan internet gratis.
Karena merupakan hotel Bed & Breakfast, maka Anda tidak akan menemukan kolam renang di hotel ini. Tetapi, sempatkan berenang jika wisata belanja di Bandung merupakan agenda utama Anda? Ya, hotel ini dekat dengan beberapa tempat wisata seperti factory outlet di Jalan Riau maupun Pasar Baru.
Rabu, 12 Oktober 2011
Liburan ala Backpacker untuk Mengenal Indonesia
PRLM - JUMAT (22/9) pekan lalu, Edo (26) tergesa-gesa menyelesaikan pekerjaannya di sebuah kantor di Bandung. Aneka macam baju dan peralatan naik gunung terkemas rapi dalam tas ransel warna hitam yang ia simpan di kolong meja kerja. Tatkala jam kerja berakhir, bersama lima orang rekannya, Edo segera bergegas ke Terminal Leuwipanjang dan bertolak ke Pelabuhan Merak, Provinsi Banten menggunakan bus umum.
Di Merak, puluhan rekannya sesama backpacker sudah menunggu untuk bersama-sama menyeberangi Selat Sunda menuju Pelabuhan Bakauhuni menggunakan kapal laut. “Kami mau ke Gunung Krakatau,” ujarnya.
Bagi karyawan kantoran seperti Edo, perjalanan wisata murah di akhir pekan dengan gaya ala backpacker adalah sungguh menyenangkan. Selain murah, waktu yang dihabiskan tidak terlalu lama sehingga tidak menyita jatah cuti tahunan dari kantornya yang hanya diberikan tak lebih dari dua minggu per tahunnya. Tak ketinggalan, perjalanan seperti itu dapat mengakomodasi jiwa mudanya yang masih haus dengan agenda petualangan.
Di Merak, Edo segera berbaur dengan berbagai rekan yang baru dikenalnya pada saat itu. Mereka yang umumnya berusia muda kemudian saling berkenalan dan mengungkapkan jati diri seperlunya.
Salah satu peserta, Nia (32) adalah juga karyawan swasta yang bekerja di daerah industri Bekasi. Nia mengaku bergabung karena tahu dari teman. Sementara, yang lainnya ada yang mengaku tahu dari situs jejaring sosial seperti facebook dan twitter.
Dengan merogoh uang sebesar Rp 395.000, Edo dan Nia sudah dapat menikmati perjalanan selama tiga hari dua malam ke Gunung Krakatau dan pulau-pulau sekitarnya. Selain naik gunung, agenda perjalanan yaitu menginap di Pulau Sebesi dan snorkeling (berenang menggunakan alat pelindung pengindra di dalam air laut sehingga dapat menikmati indahnya panorama terumbu karang dan ikan-ikan) di beberapa pulau lainnya.
Harga tersebut sudah termasuk ongkos kapal laut Merak-Bakauheuni, sewa penginapan sederhana di Pulau Sebesi, retribusi pendakian gunung dan cagar alam, sewa kapal motor nelayan, makan minum selama perjalanan, dan sewa alat snorkeling.
Aneka jurus menekan biaya perjalanan adalah ciri khas kaum backpacker. Segala macam cara dilakukan dari mulai berburu tiket murah, penginapan termurah, tempat makan murah, dan sebagainya yang diusahakan diatur dengan biaya terendah.
Umumnya, mereka melakukan perjalanan seorang diri karena di situlah letaknya seni perjalanan ala backpacker. Namun, tak selamanya perjalanan solo seperti itu berlangsung lancar dan memuaskan.
Misalnya, Edo harus merogoh uang Rp 3,5 juta untuk sewa kapal motor sederhana nelayan untuk berlayar ke Gunung Krakatau dan pulau-pulau lainnya di Selat Sunda jika ia melakukan perjalanan solo. Jika dilakukan bersama-sama, Edo dapat berbagi biaya sewa dengan teman-teman sesama backpacker lainnya untuk sewa kapal.
Koordinator perjalanan, Wahyu Fritz mengatakan bahwa perjalanan kali itu ke Gunung Krakatau cukup mendapat respon yang antusias dari para backpacker. Sebab, perjalanan tergolong komplit dari mulai naik gunung, snorkeling di laut, hingga santai di pantai. “Pesertanya sekarang tergolong kebanyakan, ada 44 orang. Biasanya kami batasi 25 orang saja,” ujarnya.
Sehari-hari, Fritz adalah karyawan bank swasta di Jakarta. Ia bersama isterinya, Frily, kerap menyelenggarakan perjalanan bersama ke pulau-pulau terpencil yang menarik bagi para petualang muda. “Pada dasarnya saya dan istri memang senang jalan-jalan, kemudian banyak teman yang meminta dikoordinir perjalanan, awalnya teman-teman yang sudah kenal saja, tapi kemudian sekarang meluas dari mulut ke mulut,” ujar Fritz yang sedang mengagendakan perjalanan berikutnya ke Pulau Belitung.
Menurut Yudi, pengelola komunitas Wisata Gaya, perjalanan ke pulau-pulau kecil dan terpencil Indonesia semakin ramai pada dua dan tiga tahun terakhir. Ia sendiri memulai aktivitasnya sebagai penyelenggara perjalanan sejak tiga tahun lalu ke Pulau Tidung di Kepulauan Seribu.
Awalnya, masyarakat luas hanya mengenal beberapa pulau saja di area Kepulauan Seribu yang menarik dikunjungi seperti Pulau Bidadari. Namun, pengelolaannya cenderung diperuntukkan bagi kelas atas karena tergolong mahal. Maklum, hanya hotel dan cottage mewah yang dibangun di pulau-pulau tersebut. Sementara, pulau-pulau lainnya yang dihuni penduduk tidak dapat menikmati cipratan rezeki dari sektor pariwisata.
Namun, setelah makin banyak pengunjung ke Pulau Tidung, membuat sektor pariwisata di pulau tersebut mulai menggeliat. Kuncinya, akses informasi, promosi, dan transportasi dibuat mudah dan terjangkau. Buktinya, sekarang Pulau Tidung dan beberapa pulau lainnya di gugusan Kepulauan Seribu menjadi semakin populer sebagai destinasi wisata lokal.
Baik Yudi maupun Fritz mengaku semakin mengagumi keindahan alam Indonesia sejak menekuni hobi perjalanan ke pulau-pulau kecil. Sayang, hal itu belum banyak diketahui orang Indonesia sendiri karena minimnya informasi, promosi, dan sulitnya akses transportasi.
Indonesia sebagai sebuah negeri dengan ribuan gugusan pulau sesungguhnya memang menawarkan pesona alam yang indah. Bagi sebagian besar anak-anak muda di kota besar seperti Jakarta dan Bandung yang terbiasa dengan kehidupan di darat, kadang kenyataan Indonesia sebagai negara kepulauan itu belum bisa dipahami kecuali jika sudah melakukan perjalanan ke pulau-pulau itu.
Oleh karena itu, kehadiran komunitas backpacker seperti ini turut membantu membuka akses promosi melakukan perjalanan ke pulau-pulau kecil di tanah air. (Lina Nursanty/”PRLM”/A-88)***
Senin, 29 Agustus 2011
Kentalnya Bubur Ayam Mang Oyo
Ni Luh Made Pertiwi F | Josephus Primus | Sabtu, 27 Agustus 2011 | 19:25 WIB
bubur ayam mang oyo
KOMPAS.com - Menu pilihan santap pagi biasanya sangat bervariasi. Tetapi menu bubur adalah salah satu yang paling cocok menurut kami. Nah, mumpung berwisata di kota kembang Bandung, kami langsung ke satu tempat penjual bubur ayam yang sudah sangat terkenal. Namanya Bubur Ayam Mang H. Oyo Tea, Anda pernah dengar?
Menurut informasi yang kami dapatkan, awalnya Bubur Ayam Mang Oyo berada di Jalan H Wasyid depan RS Sartika Asih, dekat Sekolah PGII. Lalu alamat sekarang ada di Jl. Taman Sari 118/56, Bandung. Saat ini Bubur Ayam Mang Oyo sudah lebih mudah dicari di Bandung, karena tersebar di beberapa titik di Bandung. Wah, sampai buka cabang di Yogyakarta lho. Hebat euy!
Nah, di Bubur Ayam Mang Oyo ada yang istimewa dan unik lho. Bubur ayam disajikan di piring plastik lalu kita miringkan, bahkan kita balik buburnya nempel dan tidak jatuh. Memang buburnya cukup kental dan lebih mengenyangkan dibanding bubur lain. Ini menjadi daya tarik tersendiri di tempat ini. Bahkan, keunikan itu sering didemokan oleh para pelayan Bubur Ayam Mang Oyo. Memang informasi ini juga sudah menyebar dari beberapa tahun yang lalu.
Tentang beras yang digunakan di Bubur Ayam Mang Oyo, ternyata beras dari hasil sawah pribadi yang berada di Majalengka. Beliau memiliki sawah seluas 2 hektar. Bila beras bukan dari Majalengka, konon katanya bubur akan menjadi lebih encer.
Bubur Ayam Mang Oyo sudah ada sejak kira-kira 1978. Saat itu, memang sedang ada program dari pemerintah, “memasyarakatkan olahraga, mengolahragakan masyarakat”. Dari situ Mang Oyo mempunyai ide untuk berjualan bubur ayam, karena biasa orang yang habis berolah raga pagi, sangat cocok untuk menyantap bubur.
Nah, saatnya mencoba bubur ayam di Mang Oyo ini, buburnya memang kental dan lebih padat. Lalu untuk pelengkapnya, di sini juga dibuat unik dengan singkatan seperti atel untuk ayam telur, acak untuk ayam cakwe, serta apel untuk ati ampela he-he... Kreatif banget ya.
Tentunya enak, kita cocok banget sama Bubur Ayam Mang H. Oyo Tea. Kami pesan bubur ayam komplet (ati ampela plus telor). Hidangan itu disajikan sangat menarik, bubur dengan topping potongan ati ampela ditambah satu butir telur rebus yang sudah dipotong jadi dua, lalu diberi suwiran ayam dan cakwe. Sementara, kerupuk, kacang, dan daun seledri disajikan di tempat terpisah. Mantap banget deh bubur ayam Mang Oyo ini.
Ini juga salah satu kuliner di Bandung yang harus Anda coba ya. Apalagi untuk sarapan pagi cocok banget. (Yudi)
Sumber : www.doyanmakan.com
Jakarta-Bandung Hanya 80 Menit
Suasana ruas tol Palimanan -Kanci, Cirebon, Minggu (28/8/2011) lancar, setelah terjadi antrean panjang pada malam hingga dinihari.
BANDUNG, KOMPAS.com- Jalur mudik Jakartra-Bandung, Senin (29/8/2011) pagi ini dalam kondisi sepi. Kompas hanya membutuhkan waktu 1 jam 20 menit (80 menit) dari Jalan Radio Dalam Jakarta Selatan menuju kawasan Pasteur, Bandung.
Berangkat dari Radio Dalam pukul 8.30 dan tiba di Pasteur pukul 9.50, rata-rata kecepatan sekitar 120 kilometer per jam. Di tanjakan tol Purwakarta-Padalarang-Pasteur kecepatan bahkan rata-ratanya 100 kilometer per jam.
Umumnya, lalu lintas di tol didominasi oleh kendaraan pribadi. Sangat sedikit bus yang melintas. Sementara itu, truk yang melintas hanyalah pengangkut bahan pokok, atau tangki premium.
Perjalanan hari Senin ini sebenarnya bisa lebih lancar bila mobil-mobil pemudik mau menggunakan lajur kiri dan tidak bertahan di lajur kanan. Sebab, hal itu menghambat kelancaran lalu lintas dan memaksa kendaraan lain harus menyalip dari lajur kiri setelah frustrasi memaksa mobil-mobil itu untuk menyingkir ke lajur kiri.
Beberapa mobil pemudik bahkan sebenarnya cenderung membahayakan dengan bawaan yang terlampau banyak di atap mobil. Juga dengan kaca-kaca mobil yang malah ditutup kain batik, sehingga mempersempit pandangan ke jalan raya.
Senin, 04 Juli 2011
Berkunjungan di Sekolah SMA di Kota Jeonju, Korea Selatan
Dokumentasi Pribadi Milik Sansan.
Sabtu, 27 November 2010
WWF Jelajahi Karst Citatah dan Sungai Citarum
"Kita hidup di alam, sudah sepatutnya mengenal dan melestarikannya," kata Maitra Widiantini, Senior Fundraising Manager WWF.
Dalam kegiatan bertajuk Ngariung di Alam Bandung, mereka menjelajahi stone garden, dan Gua Pawon. Juga penjelajahan Sungai Citarum ke Gua Sangyang Poek. (A-195/kur)***
Jumat, 12 November 2010
Hore! Orang Bernama Lela Bisa Makan Gratis di Pecel Lele Lela
Kamis, 11/11/2010 13:05 WIB
Bandung - Banyak yang mengira, nama Pecel Lele Lela merujuk pada nama pemilik rumah makan yang bernama Lela. Tapi ternyata, Lela merupakan singkatan dari Lebih Laku atau Lebih Laris. Tapi bagi Anda pemilik nama Lela, boleh bersenang hati. Karena Anda bisa makan gratis seumur hidup di Pecel Lele Lela manapun.
"Pecel Lele Lebih Laku, jadi Lela. Itu lebih jadi doa agar lele jadi lebih laku atau lebih laris," ujar pemilik usaha pecel Lele Lela Rangga Umara (31) saat ditemui dalam acara launching Pecel Lele Lela ke-23 yang berada di Jalan Surya Sumantri Nomor 17B Bandung, Rabu (10/11/2010).
Meski tak ada hubungannya dengan nama Lela, namun pengunjung yang memiliki nama Lela justru beruntung. "Karena dengan nama Lela (Lebih Laku) beneran membawa berkah. Jadi kami memberi apresiasi bagi yang punya nama Lela. Gratis makan seumur hidup. Pokoknya yang namanya Lela terjamin deh. Tapi nggak berlaku untuk
Lela-ki (pria-red) ya," canda Rangga.
Tak hanya bagi pemilik nama Lela. Pengunjung yang berulang tahun saat datang ke Pecel Lele Lela juga bisa makan gratis. Caranya, tunjukkan saja KTP atau tanda pengenal Anda pada pramusaji di Pecel Lele Lela.
Ada lagi yang unik di Pecel Lele Lela. Saat makan di Pecel Lele Lela, jangan lupa mengabadikannya dengan kamera. Karena ada program Ekspresi Makan Lele. Di mana, foto yang terpilih akan mendapat hadiah berupa kaos yang juga dipakai oleh para pramusaji di Pecel Lele Lela.
Upload foto Anda di Facebook lalu tag ke aku facebook Pecel Lela yang memiliki alamat email pecellelelela@gmail.com
"Kalau biasanya di rumah makan lain yang dipajang adalah foto-foto artis, di sini kita mau membuat experience bagi pengunjung untuk merasa seperti artis," tutup Rangga.
(tya/ern)
Balap Sepeda "So Nice Tour de Jabar", 29 November
Mengusung misi beach to beach tour, Pengurus Daerah Ikatan Sport Sepeda Indonesia (Pengda ISSI) Jawa Barat akan menggelar lomba balap sepeda "So Nice Tour de Jabar 2010", 29 November - 3 Desember.
Sabtu, 28 Agustus 2010
Pantai Tanjung Pakis
DERETAN pohon cemara menghiasi Pantai Tanjung Pakis di Desa Tanjung Pakis, Kecamatan Tanjung Jaya, Kabupaten Karawang. Pantai Tanjung Pakis tak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi kulinernya pun cukup "kajojo" di mata para wisatawan.* SYAMSUL BACHRI/"PR"
Langit pagi Pantai Tanjung Pakis begitu cerah. Biru dihiasi awan putih berarak. Burung-burung laut pun dengan anggunnya melayang-layang di angkasa biru, seperti sedang menikmati hangatnya belaian sang mentari.
Bak lukisan alam, pagi itu pesisir Pantai Tanjung Pakis begitu indah dan hangat. Pohon-pohon cemara yang berderet rapih di sepanjang pesisir pantai, tampak hijau dan asri. Sesekali, seperti seorang penari, cemara-cemara itu bergoyang-goyang diterpa embusan angin laut.
Jalur pendestrian sepanjang pesisir pantai, yang diapit deretan warung makanan dan pohon-pohon cemara, begitu tertata apik. Pasir pantai yang terhampar luas dan lumayan bersih, sesekali diterjang gulungan ombak yang saling berkejaran. Begitu indah dan damai.
Sentuhan profesional
Pantai Indah Tanjung Pakis ini, sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi daerah tujuan wisata yang bisa diandalkan. Betapa tidak, potensi alamnya layak jual, akses jalan dari kota terdekat Karawang sudah terhubung, dan faktor pendukung lainnya sudah ada. Tinggal menunggu apa lagi?
Kalau tidak secepatnya melakukan perubahan dan terobosan baru, Pantai Tanjung Pakis selamanya tak akan menjadi daerah tujuan wisata. Selamanya akan diam statis. Ngeuyembeu, kata orang Sunda.
Akses jalan menuju pantai harus segera diperbaiki. Ini sangat penting, sebab mana ada wisatawan yang mau tersiksa di perjalanan. Jangan sampai ada pengunjung yang mengurungkan niatnya berwisata karena jalan jelek. Atau, kapok datang lagi.
Fasilitas parkir pun harus diperhitungkan, baik itu untuk kendaraan roda dua maupun empat. Apalagi, jika ada pengunjung yang menggunakan bus besar atau truk. Jika tak diantisipasi dengan baik, permasalahan parkir bisa menjadi bumerang bagi Pantai Tanjung Pakis sendiri.
Dan, karena Tanjung Pakis merupakan wisata pantai, maka tempat mandi dan bilas harus benar-benar diperhatikan.
Sarana pendukung lainnya relatif cukup. Menurut Emi Tarman, istri pengelola objek wisata Pantai Tanjung Pakis, sudah ada 4 penginapan dan sekitar 170 warung makanan dan minuman yang beroperasi di Pantai Tanjung Pakis. "Warung-warung ini sudah tertata rapi dan bersih. Dan, keindahan pemandangan pantai tidak terganggu," katanya.
Selain penginapan dan warung makanan, di Pantai Tanjung Pakis pun Anda bisa menikmati aneka permainan, seperti speed boat, ATV, voli pantai, sepak bola pantai, berenang, panggung hiburan, dan kawasan agrowisata.
Penghijauan sepanjang pesisir pantai harus terus digalakan. Selain untuk lebih memperindah pantai, juga sebagai sarana untuk berteduh para pengunjung dan benteng penahan abrasi laut.
Jika pembenahan di berbagai sektor terus dilakukan, insya Allah Pantai Tanjung Pakis akan menjadi objek wisata pantai kebanggaan Kabupaten Karawang khususnya, dan Jawa Barat umumnya.
Pantai Tanjung Pakis ini berada di Desa Tanjung Pakis, Kecamatan Tanjung Jaya, Kabupaten Karawang. Lokasinya lumayan jauh dari Kota Karawang, sekitar 80 km. Dari Kecamatan Rengasdengklok sekitar 50 km. Dari kompleks candi purbakala (Candi Jiwa, Candi Blandongan, Candi Serut, Candi Sumur, dan 20 candi lainnya), masih harus menempuh perjalanan sekitar 30 km. Kondisi jalan lumayan beraspal, sebagian lagi berupa jalan beton.
Bandeng bakar
Ternyata, Pantai Tanjung Pakis tak hanya dikenal karena keindahan alamnya, kulinernya pun cukup kajojo di mata para wisatawan. Bandeng Bakar bumbu sambel kecap, yang khas dari Pantai Tanjung Pakis. Menu khas andalan objek wisata Pantai Tanjung Pakis ini, menurut Heri, pemilik warung sekaligus penjual bandeng bakar, harganya relatif terjangkau. Hanya Rp 25.000 per ekor ukuran besar. "Seharga itu, sudah siap santap plus dengan sajian nasi putihnya," katanya.
Bandeng bakar ini banyak sekali penikmatnya. Apalagi pas liburan atau Lebaran, pengunjung dari luar Karawang, banyak yang berburu kuliner khas Tanjung Pakis ini. "Kalau pas liburan atau Lebaran, kami selalu kewalahan melayani para penikmat Bandeng Bakar ini," katanya.
Berkah dari menu Bandeng Bakar ini membawa keberuntungan sendiri bagi Heri dan keluarganya. Jika libur Lebaran tiba, rata-rata per hari, Heri mampu meraup omzet sekitar Rp 500.000. "Lumayan Pak, mungkin berkah Lebaran," katanya. (Syamsul Bachri-PDR/"Pikiran Rakyat" )***
Melon Asin dari Tanjung Pakis
Anda pernah merasakan melon rasa asin manis? Jika belum, tengoklah kawasan agrowisata melon dan semangka yang lokasinya tak jauh dari Pantai Tanjung Pakis, Karawang. Sekitar 200 meteran dari bibir pantai.
Kawasan agrowisata ini memang agak unik. Lokasinya saja di bibir pantai. Yang ditanamnya melon yang dagingnya berwarna oranye dan semangka merah tanpa biji. Luas kawasan agrowisatanya lumayan luas, sekitar 2 hektare, tetapi yang sudah diberdayakan baru sekitar setengah hektare.
Selain itu, konsep penjualannya mirip-mirip dengan sistem penjualan stroberi di Ciwidey dan Lembang, yaitu petik sendiri. Bayangkan memetik melon dan semangka sendiri. Besar-besar dan lumayan berat lagi buahnya.
Nah, yang agak unik dari agrowisata Tanjung Pakis ini, melon oranyenya memiliki rasa yang agak unik, manis tetapi rasa asinnya cukup dominan. Padahal, menurut Suyitno (42), pengelola agrowisata Tanjung Pakis, tanaman buah melon oranye ini selalu disiram memakai air tawar, yang sengaja diambil dari luar desa. "Karena rasa melonnya yang agak unik ini, agrowisatanya ini banyak dikunjungi para wisatawan yang sedang berlibur di Pantai Tanjung Pakis. Mereka memetik sendiri melonnya. Ada yang memetik melon untuk dimakan di tempat, dan tidak sedikit pula yang membawanya pulang sebagai oleh-oleh," tutur Suyitno.
Masalah harga relatif terjangkau. Untuk melon oranye dipatok seharga Rp 8.000/kg dan semangka merah tanpa biji Rp 4.000/kg. "Berat buahnya bervariasi, paling besar mencapai 4 kg/buah dan paling kecil 1,7 kg/buah," katanya.
Berminat mencicipi sensasi melon rasa asin? Kalau ada waktu, cobalah berwisata ke Pantai Tanjung Pakis. Wisata alam dan kuliner ini bisa memberi sensasi tersendiri. (Syamsul Bachri-PDR/"Pikiran Rakyat")***
Jumat, 27 Agustus 2010
Inilah 10 Hotel Romantis di Dunia
TEMPO Interaktif, London - Baru-baru ini penggemar butik hotel yang dikenal dengan julukan Mr & Mrs Smith (www.mrandmrssmith.com) mengadakan pilihan tentang hotel paling romantis di dunia. Mereka memilih 10 hotel yang memiliki kriteria di antaranya ketenangan, suasana eksotis, dan aristokrat. Mereka melansir ke-10 hotel itu Jumat lalu (20/08). Satu diantara 10 hotel itu adalah hotel di Bali.
Berikut daftar 10 hotel itu:
1. La Reserve Ramatuelle, St Tropez, Perancis
Lokasinya berada di sebuah bukit di atas laut Mediterania dan St Tropez megayachts. Hotel kesohor di kalangan penggemar spa. Terdiri 23 kamar tidur, penuh kesederhanaan, terang, interior putih dan jendela panjang dari lantai hingga ke langit-langit. Sinar matahari yang masuk berpadu dengan pemandangan laut bak menonton di panggung.
2. Eagles Nest, Selandia Baru
Terdiri dari 5 vila yang terpencil dan tersembunyi di semenanjung hijau di utara Teluk Selandia Baru. Pemandangan Kepulauan, paduan desain modern dan pemandangan laut
3. Capella Singapura, Singapura
Memiliki 112 kamar berlokasi di Pulau Sentosa. Meskipun mudah dicapai dengan mobil melalui jalan lintas dari pulau utama, suasananya cukup metropolis. Rumput yang subur di halaman, hiasan merak dan berseni. Setiap kamarnya memiliki tempat terbuka bak teras, sangat tepat melihat keindahan Laut Cina Selatan.
4. Barbarigo Palazzo, Venice, Italia
Memiliki 18 kamar yang memadukan kamar kerja modern. Menawarkan pemandangan kanal yang syahdu. Empat poster bahenol di kamar tidur menambah kesan dramatis, langit-langit berasap, dan cermin yang memantulkan cahaya dari air, memberi kesan sensual.
5. Samudra Selatan Lodge Kangaroo Island, Australia
Di sini pengunjung bisa menikmati sampanye dan makanan kecil dengan dikelilingi kanguru. Berlokasi di Australia Selatan dinilai setara dengan Aussie Kepulauan Galapagos. Sepanjang garis pantai yang indah 21 perusahaan menawarkan spa, bar dan restoran yang sarat tema lingkungan yaitu panorama laut yang dramatis.
6. Ninh Van Bay, Nha Trang, Vietnam
Lokasinya di pantai selatan Vietnam. Menawarkan 58 villa dengan pilihan hutan, puncak bukit, pantai , dan tepi air bebatuan. Pengunjung bisa menikmati perjalanan dari tempat tidur berkanopi ke kolam renang pribadi atau turun tangga langsung ke pantai. Enam sentuhan spa yang terkenal salah satunya pijat ala Vietnam.
7. St James's Hotel & Club, London
Lokasinya di perkotaan, sangat canggih. Aksesori baru yaitu lampu kristal kaca Murano dengan karya seni yang mengesankan dan bahan sensual.
8. Uma Ubud, Bali, Indonesia
http://cms.como.bz/pictures/thumbnails/umaub_home06.jpg
Terletak di bukit Uma Ubud di pedesaan. Pedalaman Ubud seolah memiliki misi ingin meremajakan pengunjung. Pemandangan lembah yang luar biasa, suara satwa liar yang menenangkan dan jerami yang indah. Kawasan sawah yang hijau dan subur, bisa dimanfaatkan untuk yoga setiap hari. Dan sebuah kolam utama yang dikelilingi oleh pepohonan yang dihuni kera. Di sini sangat mudah untuk berkomunikasi dengan alam. Terdapat 29 kamar memiliki kamar mandi yang seksi, berada di luar ruangan, paviliun yang terbuka untuk bersantai, kolam koi yang tenang dan pemandangan sungai. Di sana pengunjung bisa melihat kabut menjelang matahari terbit.
9. The Standard NY, New York.
Terdapat 337 kamar, tiga dinding kaca dari lantai ke langit-langit sehingga pengunjung dapat menyerap pemandangan matahari terbenam dari kamar mandi. Ornamen bak mandi yang kontemporer menawarkan bak cekung terbuka berdinding kaca, cocok untuk berkencan. Terdapat taman yang cantik di tepi sungai yang bisa dikelilingi dengan sepeda keren milik hotel hitam.
10. Satri House, Luang Prabang, Laos
Terdapat 25 kamar yang elegan, masing-masing dengan dekorasi ala Asia Tenggara. Pengunjung dapat termenung seharian. Barang-barang seni dan antik, termasuk Buddha berlapis emas dan lemari dengan vernis Cina, menambahkan sentuhan galeri sangat aristokrat. Dengan dua kolam renang, spa kecil dan restoran menggoda pengunjung dapat mengeksplorasi keindahan Luang Prabang. Ada juga kawasan pedesaan di sekitar Sungai Mekong, Kuil dan biarawan berpakaian safron.
Reuters I Akbar Tri Kurniawan
Kamis, 12 Agustus 2010
Museum Geologi
Melihat banyak orang masuk ke dalam gedung jadi penasaran ingin masuk. Aku mengajak adiku masuk ke Museum Geologi. Begitu akan masuk, di pintu gedung ada satpam, "wah harus lapor sepertinya, pikirku". Akan tetapi, saat masuk gedung sang satpam langsung menyuruh kami mengisi buku tamu. Setelah itu, adiku mengajak nonton film dokumenter Tsunami, ternyata bagus juga filmnya. Begitu selesai nonton, aku mengajak adiku berkeliling melihat koleksi yang ada di Museum Geologi. Bagus juga koleksi-koleksinya, banyak yang saya pelajari. Pengunjung Museum Geologi cukup banyak. Tidak ketinggalan juga ada beberapa anak sekolah yang sedang mencatat apa yang mereka lihat, saya pikir kemungkinan itu tugas dari sekolahnya.
Sebenarnya masih banyak yang ingin saya dilihat tetapi karena waktu sudah terlalu siang, jadi aku dan adiku segera memutuskan untuk pulang. Suatu saat saya ingin kembali melihat koleksi-koleksi yang ada di Museum Geologi. Sebagai oleh-oleh saya berikan foto-foto hasil kunjungan ke Museum Geologi Bandung.
Mohon maaf, untuk sementara hanya sebagian foto yang saya upload! Mudah-mudahan di kemudian hari foto bisa ditambah lagi. Terima kasih.



















