Rabu, 17/12/2014 - 13:04
WASHINGTON, DC, (PRLM).- Orang-orang yang memiliki mobil listrik di mana batubara sebagai bahan bakarnya mungkin berpikir mereka telah berkontribusi pada kelestarian lingkungan.
Namun, sebuah studi baru menemukan bahwa kendaraan seperti itu benar-benar membuat udara kotor, dan memperburuk pemanasan global.
Penelitian kontroversial tersebut telah menimbulkan pertanyaan besar atas masa depan mobil-mobil 'hijau'.
"Sayangnya, saat kawat terhubung ke sebuah kendaraan listrik di salah satu ujungnya dan pembangkit listrik tenaga batu bara di ujung lainnya, ada konsekuensi lingkungan yang lebih buruk daripada mengendarai mobil bertenaga bensin normal," kata Ken Caldeira dari Carnegie Institution for Science, yang tidak terlibat dalam penelitian itu tetapi mengapresiasinya.
"Banyak teknologi yang kita anggap sebagai bersih ... tidak lebih baik daripada bensin," kata peneliti Julian Marshall, seorang profesor di Universitas Minnesota.
Kuncinya adalah dari mana sumber listrik mobil 'hijau' tersebut. Jika itu berasal dari batu bara, mobil listrik menghasilkan 3,6 kali lebih banyak jelaga dan asap kematian daripada bensin, menurut studi yang diterbitkan Proceedings of the National Academy of Sciences, baru-baru ini. (Dede Suhaya/A-147)***
SUMBER listrik dari batubara ternyata 3,6 kali lebih polutif daripada bensin.*
WASHINGTON, DC, (PRLM).- Orang-orang yang memiliki mobil listrik di mana batubara sebagai bahan bakarnya mungkin berpikir mereka telah berkontribusi pada kelestarian lingkungan.
Namun, sebuah studi baru menemukan bahwa kendaraan seperti itu benar-benar membuat udara kotor, dan memperburuk pemanasan global.
Penelitian kontroversial tersebut telah menimbulkan pertanyaan besar atas masa depan mobil-mobil 'hijau'.
"Sayangnya, saat kawat terhubung ke sebuah kendaraan listrik di salah satu ujungnya dan pembangkit listrik tenaga batu bara di ujung lainnya, ada konsekuensi lingkungan yang lebih buruk daripada mengendarai mobil bertenaga bensin normal," kata Ken Caldeira dari Carnegie Institution for Science, yang tidak terlibat dalam penelitian itu tetapi mengapresiasinya.
"Banyak teknologi yang kita anggap sebagai bersih ... tidak lebih baik daripada bensin," kata peneliti Julian Marshall, seorang profesor di Universitas Minnesota.
Kuncinya adalah dari mana sumber listrik mobil 'hijau' tersebut. Jika itu berasal dari batu bara, mobil listrik menghasilkan 3,6 kali lebih banyak jelaga dan asap kematian daripada bensin, menurut studi yang diterbitkan Proceedings of the National Academy of Sciences, baru-baru ini. (Dede Suhaya/A-147)***







Hadir
dalam diskusi ini para pemerhati sosial, seniman, budayawan, pemuka
agama, wartawan, serta para pejabat dan birokrat setempat. Di antaranya;
Wali Kota Gunungsitoli, Drs.Martinus Lase, M.Sp, yang juga sebagai
Ketua Panitia Pelaksana Sidang Raya Persatuan Gereja Indonesia (SR-PGI)
XVI – 2014, bersama Bupati Nias Drs.Sokhiatulo Laoli, MM, Bupati Nias
Utara Edward Zega, dan Bupati Nias Barat, Adrianus Aroziduhu Gulo.