Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Maret 2023

Musim Panen Padi di Sutam Ciparay

Menjelang bulan Ramadhan kerap kali bertepatan dengan musim panen padi di daerah Sutam, Ciparay, Kab. Bandung. 

Buruh tani bergembira menyambut musim panen padi ini karena punya stok makan buat munggahan. Musim penghujan dengan curah hujan yang intensitasnya tinggi banyak sawah-sawah warga yang rebah, dan sebagian kena banjir. Akan tetapi, petani padi masih bisa memanen padinya.

Berikut link cuplikan videonya..

Musim Panen Padi di Sutam Ciparay






Sabtu, 22 November 2014

Pembangunan Waduk Jatigede Hampir Selesai





BANGUNAN terowongan pengelak di kawasan projek Waduk Jatigede di Kec, Jatigede, Kab. Sumedang, sudah selesai dibangun dan terlihat kokoh, beberapa waktu lalu. Terowongan pengelak tersebut, siap menyalurkan air ke saluran irigasi pesawahan di wilayah pantura (pantai utara).*
 
 
SUMEDANG, (PRLM).- Satuan Kerja (Satker) Pembangunan Projek Waduk Jatigede, hingga kini masih menunggu rencana pencairan dana kerahiman dari Presiden Jokowi (Joko Widodo) untuk pemindahan warga OTD (orang terkena dampak) pembangunan Waduk Jatigede.

Ketika dana kerahiman sudah diterima warga OTD hingga mereka semuanya pindah dan keluar dari lokasi genangan, tak lama bangunan Waduk Jatigede bisa digenangi. Sebab, proses pembangunan fisik Waduk Jatigede berjalan lancar bahkan pengerjaannya hampir selesai.

“Jadi, kita tunggu saja pencairan dana kerahiman dari Pak Presiden Jokowi. Rencananya, dana kerahiman termasuk semua anggaran pembiayaan terkait pembangunan Waduk Jatigede beserta programnya akan dicairkan tahun 2015 nanti,” ujar Kepala Satker Pembangunan Projek Waduk Jatigede, Airlangga Mardjono ketika dihubungi melalui telefon, di Sumedang, Jumat (21/11/2014).

Ia mengatakan, terkait pembangunan fisik Waduk Jatigede, hingga kini berjalan lancar tanpa ada masalah. Bahkan sampai sekarang, progres pembangunannya hampir selesai hingga mencapai 99,43 persen.

Kalau pun masih ada yang perlu dibangun, jenis pekerjaannya dinilai bukan pekerjaan pokok. Pekerjaan tersebut, yakni gantry crane dan plugging. Gantry crane, yakni membangun alat penggerak saringan sampah di intake PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air).

Sementara plugging, yaitu pemasangan beton penutup pada terowongan pengelak. Terlebih, pengerjaan plugging baru bisa dikerjakan apabila waduk sudah digenangi.

“Jadi yang belum dikerjakan, cuma pembangunan gantry crane dan plugging saja. Itu pun, bukan pekerjaan inti. Progres pembangunan fisik Waduk Jatigede, secara umum tinggal finishing,” ujar Airlangga.

Sehubungan pembangunan Waduk Jatigede hampir selesai, lanjut dia, dalam waktu yang tak lama, secara fisik, tubuh bendungan sudah siap digenangi. Namun, mengingat semua pembiayaannya dianggarkan pada tahun 2015, sehingga penggenangannya bisa dilaksanakan tahun depan.

“Pembangunan fisik hampir selesai. Untuk penggenangannya, tinggal menunggu pemindahan warga. Kami berharap, setelah dana kerahiman turun dan diterima warga OTD, mereka bisa segera pindah sehingga Waduk Jatigede bisa secepatnya digenangi. Kalau sudah digenang, mudah-mudahan air waduknya bisa langsung dimanfaatkan untuk mengairi pesawahan pada musim kemarau tahun depan,” tuturnya.

Menurut dia, terkait pemindahan para OTD, Menko Perekonomian saat rapat di Jakarta meminta gubernur dan bupati membantu proses pemindahannya supaya berjalan aman dan lancar.
“Pada waktunya nanti, kami berharap pak gubernur dan bupati membantu pemindahan warga sesuai arahan Pak Menko,” kata Airlangga.

Menanggapi pencairan dana kerahiman dari Presiden Jokowi untuk warga OTD, Ketua LSM Perkotdam Jatiber (Perkumpulan Komunikasi Orang Terkena Dampak Jatigede Bersatu), Djaya Albanik, menolak tegas dana kerahiman tersebut.

Pasalnya, dana kerahiman untuk pemindahan warga OTD, dinilai tidak sesuai Permendagri No. 15/1975 tentang program relokasi dan pembayaran ganti rugi lahan warga OTD yang terlewat pembebasan lahan.

Relokasi dan pembayaran ganti rugi pembebasan lahan yang terlewat itu, bagian dari tuntutan warga OTD dalam penyelesaian dampak sosial dan lingkungan pembangunan Waduk Jatigede.
“Karena tak sesuai aturan Permendagri No.15/1975, kami menolak dana kerahiman dari Pak Jokowi untuk pemindahan tersebut. Minggu ini, kami akan mengajukan penolakan ke pemerintah pusat,” ujar Djaya. (Adang Jukardi/A-89)***

Rabu, 08 Oktober 2014

Peneliti Australia Temukan Obat Tumor dari Buah Arbei Langka







BRISBANE, (PRLM).- Para peneliti Australia terkejut dengan perkembangan yang ditunjukkan obat tumor yang berasal dari buah arbei, yang hanya ditemukan di ujung utara negara bagian Queensland.

Studi 8 tahun yang dipimpin Dr. Glen Boyle, dari Institut Penelitian Medis QIMR Berghofer di Brisbane, menemukan sebuah senyawa dalam buah arbei yang bisa mematikan tumor kepala dan leher serta benih tumor.

Obat percobaan yang dibuat dari buah arbei tersebut, yakni EBC-46, sejauh ini telah diujicobakan pada 300 binatang termasuk kucing, anjing dan kuda.

Dr. Glen mengatakan, 75% dari kasus yang ia kerjakan menunjukkan bahwa tumor itu hilang dan tak pernah muncul lagi.

“Ada senyawa dalam biji arbei – untuk memurnikan senyawa ini adalah proses yang sangat rumit dan mengapa ia ada di sana, kami tak tahu,” jelasnya.

Ia menguraikan, “Senyawa itu bekerja dengan 3 cara: membunuh sel tumor secara langsung, memotong pasokan darah dan mengaktivasi sistem pertahanan tubuh untuk membersihkan kerusakan yang ditimbulkan tumor.”

Tak ada efek samping, namun apa yang mengejutkan para peneliti adalah betapa cepat senyawa itu bekerja: obat mulai memberikan efek dalam 5 menit dan tumor hilang dalam beberapa hari.

“Hal yang mengejutkan bagi kami dan hal yang tak sering kami lihat adalah kecepatan dari reaksi obat ini. Biasanya, ketika anda menangani tumor, dibutuhkan beberapa minggu agar hasilnya terlihat, namun ini sangat cepat,” tutur Dr. Glen.

Ia menambahkan, “Ada warna keunguan di area itu, di lokasi tumor sendiri, dan anda melihatnya dalam 5 menit dan ketika anda kembali keesokannya tumornya menjadi hitam dan ketika kembali beberapa hari kemudian, tumornya telah hilang.”

Buah arbei itu terdapat pada pohon ‘blushwood’, yang hanya tumbuh di ujung utara Queensland.
“Untuk tempat bertumbuh, pohonnya sangat pemilih. Saat ini, hanya ada di dataran Atherton dan mereka mencoba untuk mengembangkan pohon itu ke tempat lain karena pasti lebih bagus kalau bisa menumbuhkannya di perkebunan lain,” jelas Dr. Glen.

Ia mengatakan, hasil dari percobaan klinis menunjukkan bahwa obat ini bisa efektif digunakan pada pasien manusia.

Namun Dr. Glen memperingatkan, obat ini hanya bisa digunakan pada tumor yang dapat diakses dengan suntikan langsung dan tidak efektif pada kanker yang sudah menyebar.

Ia mengatakan, obat ini akan menjadi opsi perawatan tambahan ketimbang pengganti dari kemoterapi atau operasi.

“Pada pasien yang sudah tua misalnya, yang tak bisa lagi menjalani kemo atau tak bisa lagi mendapat anastesi, obat ini bisa digunakan untuk merawat tumor jenis itu dan mudah-mudahan memperbaiki kualitas hidup masyarakat,” tuturnya.

Perusahaan bioteknologi, QBiotics, telah mendapat persetujuan etik untuk memulai percobaan obat ini pada manusia. (abc/A-89)***

Rabu, 15 Januari 2014

Bandung Kembangkan Pertanian Kota

Tiap RW Tanam Pohon Produktif

 




BANDUNG, (PRLM).- Meski memiliki julukan kota kembang, dengan jumlah penduduk yang besar dan pembangunan yang pesat, Bandung tak lagi memiliki banyak lahan hijau.
Untuk itu, pemerintah setempat mengembangkan urban farming atau pertanian perkotaan mulai tahun ini, dimana para keluarga di setiap Rukun Warga atau RW wajib menanam berbagai tanaman produktif yang bernilai ekonomis bagi keluarga. Tanaman produktif tersebut yaitu termasuk sayur-sayuran seperti tomat, cabe rawit, kangkung, bawang daun, dan caisim.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung, Ely Wasliah mengatakan, program yang sepenuhnya diprakarsai oleh pemerintah kota Bandung tersebut akan menyasar seluruh warga. Pemerintah kota sendiri akan memberikan bantuan sarana seperti bibit, pupuk, dan pot-pot atau rak-rak tanaman, ujarnya.

“Dari urban farming ini karena nanti yang akan dikembangkan di sana itu di antaranya adalah komoditas sayuran, jadi kebutuhan pangan sayuran untuk rumah tangga tersebut dipasok dari lahan pekarangannya sendiri. Kami bantuannya nanti dalam bentuk barang, benih, pupuk, juga ada rak-rak vertikultur yang memang cocok dikembangkan di lahan pekarangan,” ujarnya.

Dalam program urban farming, masyarakat dapat bercocok tanam di pekarangan masing-masing dengan memanfaatkan lahan yang ada. Meski lahan yang dimiliki sempit, masyarakat bisa menanam tanaman dengan sistem vertical garden, atau menanam secara vertikal di dinding dengan menggunakan rak-rak tanaman yang disusun berderet.

“Kalau misalnya satu RW semuanya rumah ini mengembangkan urban farming, jadi lingkungan itu akan nyaman, asri, hijau, menambah kontribusi terhadap Ruang Terbuka Hijau, RTH dari privat. Kalau yang di jalan-jalan yang taman-taman kan fasilitasnya RTH umum, publik. Kalau kami RTH privat, RTH yang ada di masyarakat,” kata Ely.

Jayadi, Ketua RW di kawasan Margahayu Raya, Kota Bandung mengatakan, dengan program ini lingkungan warga menjadi semakin hijau dan asri. Warga pun dapat menikmati hasil cocok tanam mereka sendiri.

“Di taman, di halaman rumah masing-masing, di sekolah, dan di tempat olahraga lapangan voli. Lingkungan jadi hijau, bagus dipandang, ada hasilnya, kelihatannya juga indah,” ucapnya.

Warga Kota Bandung pun menyambut baik program pertanian perkotaan ini. “Untuk nambah-nambah oksigen lah, artinya lingkungan kan jadi tidak terlalu panas. Kalau tidak ada pohon kan kita kepanasan,” ujar seorang warga bernama Umi.

Yang lain mengatakan program ini memudahkan mereka dalam memasak dan membuat lebih hemat. “Satu hijau; kedua ada manfaatnya seperti tanaman (sayuran), setidaknya kita mengurangi beli di warung-warung,” tutur Eli.

Konsep urban farming telah ada di beberapa negara. Salah satunya di Montreal, Kanada, dengan nama Lufa Farm yaitu konsep pertanian perkotaan di atas atap atau rooftop farming. Di Indonesia, konsep urban farming yang diwajibkan untuk seluruh warga baru ada pertama kali di Kota Bandung. Diharapkan konsep ini bisa menjadi budaya baru yang tak hanya bermanfaat secara ekologi tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan estetika. (voa/A-147)***

Selasa, 09 April 2013

Waduk Cirata


Waduk Cirata merupakah satu danau buatan yang dibangun dengan cara membendung Sungai Citarum. Pembangunan waduk dengan luas 43.777,6 ha yang terdiri atas 37.577,6 ha wilayah daratan dan 6.200 ha wilayah perairan ini direalisasikan pada 19 Mei 1984. Waduk yang dikelilingi perbukitan ini terbilang cukup besar karena genangannya tersebar di tiga Kabupaten, meliputi Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Cianjur, dan Purwakarta.

Saat air Sungai Citarum dan Cisokan mulai menggenangi Cirata pada 1 September 1987, sebanyak 6.335 keluarga harus merelakan tanah kelahiran mereka menjadi genangan air. Selain itu, ada sebanyak 3.766 keluarga lain yang terpengaruh proyek itu. Warga yang terpengaruh proyek secara langsung maupun tidak langsung, sebagian besar memilih kegiatan ekonomi baru di sekitar waduk dan sebagian kecil memilih bertransmigrasi atau kegiatan ekonomi terarah.

Fungsi utama waduk ini adalah sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang awalnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan listrik di Jawa-Bali. Namun akhirnya, berbagai kegiatan lainnya turut berkembang di kawasan ini. Mulanya, pada tahun 1986 diaplikasikan sebuah teknologi budi daya jaring apung di Waduk Cirata. Hal tersebut dilakukan guna memberikan lapangan kerja bar bagi penduduk yang terkena dampak proyek pembangunan PLTA tersebut. Pada tahun 1999, perkembangan jumlah keramba apung berkembang pesat hingga 28.739 unit.

Budi daya perikanan dengan teknologi jaring apung di Waduk Cirata ini tidak bergantung pada musim karena memiliki debit air yang stabil sehingga meski musim kemarau datang, kegiatan budi daya ikan tetap berjalan. Sekitar 30 persen ikan-ikan tawar di wilayah Jawa Barat berasal dari hasil budi daya perikanan di Waduk Cirata.

Seiring dengan berjalannya waktu, tak hanya budi daya perikanan yang dijadikan lahan ekonomi bagi penduduk sekitar. Keindahan panorama alam Waduk Cirata pun dikembangkan menjadi potensi pariwisata, seperti berperahu, memancing, atau sekadar untuk berfoto-foto dan menikmati keindahannya.

Akan tetapi, berdasarkan penelitian tahun 1996-2000, waduk ini mengalami sedimentasi tinggi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum Tengah. Hingga tahun 2000, endapan di Waduk Cirata sudah mencapai 62,8 juta m3. Sementara batas ekstrem yang dirancang bagi endapan di waduk tersebut volumenya 79,3 juta m3. Khusus tahun 2001 sedimentasi di Waduk Cirata mencapai 15 juta m3. Akibat sedimentasi yang parah, pada tahun 2009 diperkirakan sisa usia Waduk Cirata tinggal enam puluh tahun lagi, sedangkan dalam skenario normal, Waduk Cirata bisa bertahan hingga delapan puluh tahun lagi.
(Mayang Ayu Lestari/Periset “PR”)***




Ilustrasi: Fian Afandi/”PR”

Lokasi                              : Kecamatan Manis, Kabupaten Bandung Barat
Luas Area                        : 6.200 ha
Lokasi Ketinggian             : 221 mdpl
Daya Tampung                  :  2.165 miliar m3
Kedalaman                       : 106 m

Jumat, 05 April 2013

Waduk Jatigede Memproduksi 110 Megawatt Listrik

Mengairi 90.000 Hektare Sawah

 



BANDUNG, (PRLM).- Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan pembangunan Waduk Jatigede yang sudah dimulai sejak 1960-an ini sudah mencapai progres sekitar 72 persen. Waduk terbesar kedua di Indonesia setelah Jatiluhur ini akan mengirigasi rentang 90.000 hektare sawah yang terjamin airnya bisa dua kali panen. Selain itu, waduk Jatigede juga bisa mencegah banjir, memproduksi 110 megawatt listrik.

Djoko yang ditemui usai pertemuan dengan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan di Gedung Sate, Jumat (5/4/2013) mengatakan pemerintah akan bekerja keras agar pembangunan waduk tetap sesuai dengan jadwal yang sudah direncanakan. Dengan begitu, masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Jabar dapat merasakan manfaatnya.

“Jadi, waduk ini luar biasa manfaatnya mendukung pembangunan dan kesejahteraan masyarakat khususnya di Jabar. Ini nantinya menjamin adanya air untuk irigasi pada musim kemarau, lalu air pada musim hujan ditampung, sehingga tidak terjadi banjir. Menurut rencana, akhir tahun ini sekitar September dan Oktober akan mulai digenangi. Peresmiannya awal 2014 masih realistis. Memang berat tetapi akan bekerja keras untuk itu,” kata Djoko. (A-199/A-147)***

Rabu, 27 Maret 2013

Sawah Apung Miliki Prospek Cerah




SAWAH apung yang diprakarasi oleh Taruna Tani Mekar Bayu yang bekerjasama dengan Ikatan Petani Pengendali hama Terpadu Indonesia (IPPHTI), saat panen perdana, Kamis (14/3).*

 

CIAMIS,(PRLM).- Keberadaan sawah apung memiliki prospek cerah terus dikembangkan untuk mengatasi kesulitan petani di wilayah Kecamatan Padaherang, Kalipucang dan sekitaranya yang selama ini selalu mengalami kesulitan untuk menanam padi.

Hal itu disebabkan karena ratusan hektar persawahan di wilayah tersebut selalu terendam banjir untuk jangka waktu hingga berbulan lamanya.

"Awalnya banyak masyarakat yang meragukan terobosan sawah apung, akan tetapi dengan bukti panen perdana sawah apung beberapa waktu lalu, terus terang menggugah kami untuk mengembangkan atau memeperluas sawah apung. Selain produksinya lumayan banyak, keunggulan lainnya setiap tahun petani bisa menanam padi. Beda dengan kondisi saat ini dalam satu tahun mungkin hanya sekali panen, setelah lima hingga enam kali tanam," tutur Camat Padaherang, Kabupaten Ciamis Dede Saeful Uyun, Selasa (26/3).

Dia mengatakan bagi warga padaherang dan sekitarnya menanam padi dengan cara sawah apung merupakan teknologi baru. Sebab selama ini petani tidak memanfaatkan persawahannya yang terendam banjir. "Padahal kejadian tersebut terus berulang setiap tahun, akan tetapi petani seolah menyerah begitu saja dengan keadaan. Syukur alhamdulillah akhirnya Taruna Tani Mekar Bayu Desa Ciganjeng membat terobosan baru, membuat sawah apung," katanya.

Dede Saeful Uyun menambahkan selain sawah apung, petani masih bisa menambah penghasilan dengan menebar ikan di persawahannya. Hanya saja, ia menambahkan salah satu tantangan yang masih perlu diatasi adalah mengubah pola pikir petani. Dari yang semula menjadi petani konvensional menjadi petani sawah apung dengan mina ikan.

"Yang sulit justru mengubah pola pikir masyarakat. Dan saya optimis sedikit demi sedikit akan berhasil," ujarnya.

Pembuatan sawah apung di Desa Ciganjeng, Kecamatan Padaherang itu sendiri diprakarasi oleh Taruna Tani Mekar Bayu yang bekerjasama dengan Ikatan Petani Pengendali hama Terpadu Indonesia (IPPHTI), panen perdana sawah apung dilakukan pada hari Kamis (14/3).

Perlakuan atau pemeliharaan sawah apung tidak jauh berbeda dengan sawah konvensional atau yang ditanam di atas tanah. Sawah apung pertama yang dikelola oleh kelompok tersebut hanya seluas seratus bata.

Yang membedakan dengan sawah konvensioanal atau di atas tanah adalah hanya media tanamnya. Sawah apung di tanam di atas rakit yang diberi sabut kelapa, jerami serta tanah.

Rakit berfungsi agar sawah menjadi terapung, sehingga tidak terpengaruh oleh ketinggian banjir. Perbedaan lainnya pada saat panen, tanaman padi yang baru disabit tidak bisa langsung dirontokkan di tempat tersebut, akan tetapi harus dibawa ke darat.

Ketua Taruna Mekar Bayu Desa Ciganjeng, Tahmo Cahyono (38) mengaku pada awalnya sempat mendapat cemooh beberapa warga yang menyangsikan keberadaan sawah apung. Akan tetapi dalam perjalanan waktu, lanjut dia, masyarakat mendukung langkah yang dilakukan kelompoknya.

"Tantangan berat pertama adalah banyak yang merasa ragu, akan tetapi akhirnya dengan upaya keras, kami bisa membuktikan tantangan tersebut. Yang semula ragu sekarang justru berniat untuk ikut mencoba," ujarnya. (A-101/A-26).***

Sabtu, 30 Juni 2012

Budidaya Jarak, Harga Bagus 4 Bulan Sudah Panen


Perwakilan Bionas di Indonesia Darningsih menyebutkan pilot project pengembangan bahan bakar bio jarak, kerja sama dengan Biomas digelar di Majalengka. - ekowidaryanto.lecture.ub.ac.id 


Oleh:
Jabar - Jumat, 29 Juni 2012 | 10:55 WIB 
 
 INILAH.COM, Bandung - Perwakilan Bionas di Indonesia Darningsih yang juga pengusaha di Jawa Barat menyebutkan pilot project pengembangan bahan bakar bio jarak, kerja sama dengan Biomas digelar di Majalengka.

Saat ini, kata dia, sudah ada sekitar 20 petani pendeder benih jarak jenis unggul itu untuk selanjutnya disebarkan ke seluruh daerah di Jawa Barat.

"Jarak bisa tumbuh di mana saja di Jabar, empat bulan sudah berbuah dan usia pohonnya sangat panjang bisa lebih 50 tahun. Di sisi lain, harga beli jarak saat ini cukup bagus Rp3.300,00 per kilogram," kata Darningsih.

Wanita paruh baya yang berhasil menggandeng Bionas melebarkan sayapnya di Jawa Barat itu menyatakan sudah melakukan MoU dengan perusahaan produsen tekstil dan produk tekstil yang bersedia untuk memanfaatkan bahan bakar bio produksi mereka.

"Saat ini, sudah ada perusahaan yang siap menggunakan bio solar dari jarak itu peminatnya cukup besar. Diharapkan dalam satu dua tahun ke depan, produksi biofuelnya sudah bergulir," katanya.

Bahan bakar bio itu, kata Darningsih diharapkan bisa memangkas biaya produksi bagi pabrik dan juga bagi pengguna kendaraan bermotor.

Sementara itu Ketua Kadin Jawa Barat Agung Suryaman Sutrisno menyambut baik program pemberdayaan tanaman jarak untuk menjadi bahan bakar bio itu. Ia juga mengapresiasi masuknya investor yang akan mengembangkan sektor pengadaan bahan bakar alternatif itu.

"Tentunya perlu fokus dan adanya kesungguhan dari berbagai pihak baik yang para pelaku sektor hulu, hilir dan juga dukungan dari pemerintah. Harus terpadu dan kontinuitasnya terjamin, sehingga tidak ada lagi tanaman jarak yang tidak termanfaatkan," kata Agung menambahkan.[ito]

Sabtu, 10 September 2011

35 Ribu Hektar Sawah di Jabar Kekeringan, 6 Ribu Hektar Puso

Distan: Musim Kemarau 2011 Lebih Parah dan Merata


USEP USMAN NASRULLOH/"PRLM"
TANAH retak-retak menandakan kekeringan di area persawahan yang baru ditanami padi umur sekitar sebulan di Kampung Lebakwangi, Desa Sekarwangi, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Jumat (9/9). 

BANDUNG, (PRLM).- Dinas Pertanian Prov. Jabar mengkategorikan, musim kemarau tahun 2011 lebih parah dan lebih merata ketimbang musim kemarau tahun 2010. Di musim kemarau 2011 yang nyaris dua bulan tanpa hujan sama sekali, mengakibatkan kekeringan melanda hampir merata di seluruh kota dan kabupaten di Jabar.

Kepala Dinas Pertanian Prov. Jabar Endang Suhendar menuturkan, akibat kemarau berkepanjangan itu, hingga September 2011 ada 35 ribu hektar sawah yang kekeringan. Sementara yang mengalami puso sekitar 5.800 sampai 6.000 hektar. "Yang paling parah ialah di Indramayu. Di sana, lahan sawah yang mengalami puso mencapai 3.873 hektar dan yang kekeringan lebih dari 12.000 hektar. Memang tahun ini level kekeringannya berkali-kali lipat dibanding tahun lalu," katanya saat dihubungi wartawan, Jumat (9/9) siang, di Kota Bandung.

Endang menambahkan, wilayah pantai utara memang kawasan yang paling parah terkena efek musim kemarau yang berkepanjangan dan nyaris tanpa hujan. "Selain Indramayu, wilayah pantura yang cukup parah dilanda kekeringan ialah Subang, Karawang, dan Cirebon," ujarnya.

Dengan panjangnya musim kemarau tersebut, Pemprov. Jabar mulai merumuskan manajemen pertanian. Fungsinya, untuk mengantipasi kerugian yang dilanda petani saat memasuki musim kemarau dan musim hujan.

"Musim kemarau dan hujan adalah hal yang biasa. Namun pola tanam yang tidak tepat, bakal merugikan petani. Setiap musim, ada manfaat dan kerugiannya. Ada tanaman-tanaman yang memang cocok ditanam di musim kemarau, dan di musim hujan. Sekarang tinggal bagaimana kita memenej pola tanam yang sesuai dengan musim," ujar Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, di Gedung Sate, Kota Bandung, Jumat siang.

Heryawan menuturkan, musim kering pun dibutuhkan untuk sejumlah komoditi tanaman. Contohnya pohon mangga gedong gincu. "Musim hujan tidak cocok untuk gedong gincu. Musim hujan tahun lalu, para petani gedong gincu merugi karena hasil pohonnya tidak maksimal. Hampir 75 persen petani mangga gedong gincu di Indramayu dan sekitarnya merugi," ujarnya.

Selain mangga gedong gincu, ada beberapa komoditas tanaman yang cocok ditanam di musim kemarau atau musim yang panas dan sinar mataharinya panjang. "Seperti tomat, semangka, dan lainnya. Di sisi lain, musim kemarau pun merugikan sejumlah komoditas seperti padi," ujarnya.

Heryawan menambahkan, di musim kemarau, ketika irigasi mengering, harus tepat memilih tanaman yang cocok. Begitu juga saat air melimpah, jangan sampai salah memilih tanaman. "Karena itu harus ada manajemen pertanian yang mengatur pola tanam. Ini yang akan kami sarankan kepada petani di Jabar," ujarnya.

Untuk manajemen pertanian tersebut, tentunya Pemprov. Jabar, dalam hal ini Dinas Pertanian Jabar, mesti berkoordinasi dengan sejumlah instansi. "Mesti melibatkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika," kata Heryawan. (A-128/das)***

Minggu, 04 September 2011

Si Buruk Rupa yang Ampuh

HERBAL: Mengkudu


DADANG SUTARJAN/"PRLM"
MENGKUDU atau pace merupakan tumbuhan yang banyak menyimpan kandungan zat aktif yang berguna untuk mengobati berbagai penyakit.*

PRLM -- FISIKNYA memang tak menarik. Pohon dan rantingnya ceking seakan begitu berat menyangga daun-daunnya yang lebar. Pun dengan buahnya, bundar berkerut, bentol-bentol seperti borok, dan berbau busuk menyengat. Meski begitu, ternyata mengkudu (Morinda citrifolia) menyimpan kandungan zat aktif yang berguna untuk mengobati berbagai penyakit.

Tumbuhan yang di Pasundan disebut cangkudu dan di Tanah Jawa disebut pace, ini termasuk jenis kopi-kopian dan merupakan tumbuhan asli Indonesia. Dapat tumbuh di daerah dataran rendah sampai ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut. Khasiat buah mengkudu yang membuatnya sangat populer adalah kemampuan zat aktif alkaloid proxeroninnya dalam menghambat dan mengatasi perkembangan sel kanker.

Buah mengkudu juga terbukti mampu melancarkan kinerja kelenjar-kelenjar di dalam tubuh, mampu meningkatkan proses penyerapan zat nutrisi yang dibutuhkan tubuh dan membantu menghambat perkembangan tumor atau kanker, serta mampu mempercepat penyembuhan jaringan kulit yang rusak terbakar atau luka.

Khasiat lain yang telah terbukti secara empiris, di antaranya buah mengkudu cukup mujarab untuk mengatasi hipertensi, diabetes mellitus, kolesterol, memperbaiki kinerja ginjal, mengurangi gejala alergi. Di samping itu, kandungan adaptogini yang ada di dalamnya membuat buah ini bisa dikonsumsi secara rutin untuk menyegarkan badan.

Jus buah mengkudu efektif untuk menyembuhkan kanker, gangguan pencernaan, diabetes mellitus, depresi, stress, darah tinggi, dan mampu meningkatkan daya seksual. Buah mengkudu banyak mengandung protein. Sari buah mengkudu berkhasiat merangsang sistem kekebalan tubuh, mengatur fungsi sel jaringan tubuh yang rusak dan sekaligus memberi nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Berikut beberapa ramuan buah mengkudu untuk pengobatan:

Hipertensi: siapkan satu buah mengkudu yang sudah masak di pohon dan satu sendok makan madu. Buah mengkudu diperas untuk diambil airnya., kemudian dioplos dengan madu sampai merata dan disaring. Diminum dan diulangi dua hari sekali.

Diabetes mellitus: siapkan dua buah mengkudu yang sudah masak di pohon dan satu potong gula batu. Buah mengkudu diperas untuk diambil airnya, kemudian kedua bahan tersebut dioplos sampai merata dan disaring. Diminum dan diulangi dua hari sekali.

Demam, masuk angin, influenza: siapkan satu buah mengkudu dan satu rimpang lengkuas. Kedua bahan tersebut direbus dengan dua gelas air sampai mendidih hingga tinggal satu gelas, kemudian disaring. Diminum dua kali sehari, pagi dan sore.

Batuk: siapkan satu buah mengkudu dan setengah genggam daun poo (bujanggut). Kedua bahan tersebut direbus dengan dua gelas air sampai mendidih hingga tinggal satu gelas. Kemudian disaring, diminum dua kali sehari, pagi dan sore.

Sakit perut: 2-3 lembar daun mengkudu ditumbuk halus. Ditambah garam dan diseduh dengan air panas. Setelah dingin disaring dan diminum.

Menghilangkan sisik pada kulit: siapkan buah mengkudu yang sudah masak di pohon. Bagian kulit yang bersisik digosok dengan buah mengkudu tersebut sampai merata dan dibiarkan selama 5-10 menit, kemudian dibersihkan dengan kain bersih yang dibasahi dengan air hangat. (Ki Suta)***

Kamis, 25 November 2010

Penyuluhan Pertanian Harus Digalakkan Lagi

Kamis, 25 November 2010 06:22 WIB


 Pengunjung mengamati hasil pertanian organik dalam pameran Agro and Food 2010 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Jumat (28/5).


Banjarmasin (ANTARA News) - Pemerintah diminta gerakan kembali Penyuluh Pertanian dalam pengertian luas di Kabupaten Kotabaru, yang menjadi salah satu sentra perikanan laut di Kalimantan Selatan (Kalsel).

Permintaan itu dikemukakan H Hasmy Fadillah Akbar, anggota DPRD Kalsel dari Partai Golkar di Banjarmasin, Kamis, setelah melakukan reses ke Kotabaru, kabupaten paling timur di provinsi tersebut belum lama ini.

Dalam reses di Kotabaru, wakil rakyat dari tersebut menerima berbagai keluhan dan permasalahan masyarakat nelayan di kabupaten yang berbatasan dengan Selat Makassar dan Laut Sulawesi serta Laut Jawa itu.

Permasalahan yang dikemukakan warga setempat saat dialog, antara lain para nelayan sebagian besar belum terjangkau petugas Penyuluh Pertanian atau petugas teknis lainnya.

Hal itu terbukti dengan tidak berkembangnya kelompok usaha masyarakat nelayan serta minimnya pengetahuan terhadap teknis pengolahan hasil perikanan yang bisa memberi nilai tambah menjadi modal bagi pengembangan usaha lain.

Wakil rakyat daerah pemilihan (dapil) VI Kalsel yang meliputi Kabupaten Tanah Laut, Tanah Bumbu dan Kotabaru itu, menyarankan pemerintah membuka dan mengembangkan lapangan kerja baru yang dapat menampung tenaga kerja yang menganggur.

"Lapangan kerja baru dimaksud seperti pengembangan industri rumah tangga, kerajinan pengolahan ikan asin yang berkualitas dan lainnya sehingga dapat menambah pendapatan keluarga," katanya didampingi Ketua Fraksi Partai Golkar H Puar Junaidi.

Saran alumnus Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarbaru itu, sehubungan dengan temuannya saat reses di "Bumi Sa-ijaan" Kotabaru tersebut.

Sebagai contoh, usaha rumah tangga seperti pembuatan ikan asin dengan prinsip "good Processing Practise" sebenarnya cukup potensial di Kotabaru, tambah pensiunan pejabat Dinas Pertanian Kalsel itu.

"Namun fasilitas pemerintah untuk usaha rumah tangga masih sangat kurang, sehingga banyak tenaga kerja khususnya wanita yang tidak termanfaatkan," kata Hasmy Fadillah Akbar.

Sementara Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kalsel, menambahkan, saat reses di Kotabaru, anggotanya itu mengadakan pertemuan dengan konstituen/masyarakat di Desa Tanjung Lalak Utara dan Desa Tanjung Lalak Selatan, Kecamatan Pulau Laut Kepulauan.

Tujuan reses itu sendiri untuk mengidentifikasi dan memahami permasalahan yang dihadapi masyarakat pada dua desa di Kotabaru tersebut, demikian Puar Junaidi. (SHN/K004)

COPYRIGHT © 2010

Taryana Agak "Gila" Gara-gara Ubi

Profil Usahawan

Kamis, 25 November 2010 | 10:31 WIB


farm3.static.flickr.com
Warga Jepang makin gandrung makan ubi madu asal Indonesia. Hasil bumi dari Cilembu, Sumedang itu, prospeknya cerah lho! 
 
 

KOMPAS.com — Taryana (35) mengaku nekat waktu memutuskan belajar budidaya ubi pada tahun 1998-1999 di Jepang, tepatnya di Prefektur Gunma. Padahal, ia tak bisa bahasa Jepang. ”Di Jepang, saya sudah seperti romusa, sering dimaki pekerja lain supaya bekerja sempurna,” kenangnya.
Tak ada yang tak mungkin kalau mau berusaha meski saya rasanya sudah agak gila gara-gara ubi
Namun, gemblengan itu pula yang membuat Taryana sadar untuk bekerja keras. Singkat kata, tak ada yang menggerakkan Taryana untuk ngotot merantau, hingga ke Jepang sekalipun, selain kesenangannya meneliti ubi.

Selain memasarkan ubi, petani warga Desa Cilembu, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, itu sering melakukan eksperimen sederhana. ”Meski hasilnya hancur, tak apa-apa asalkan pengetahuan bertambah. Saya belajar sehingga tak melakukan kesalahan yang sama,” ujarnya.

Ia, misalnya, pernah menghasilkan 15 ton ubi pada tahun 2006. Akan tetapi, semua ubi terkena jamur. Semua itu dilakukan hanya untuk belajar. Taryana juga pernah punya mitra bisnis yang menanamkan modalnya untuk mengekspor ubi. Namun, negara-negara tujuan ekspor menolak.

”Di Malaysia dan Singapura, ubi tidak diterima. Ubi sebanyak 60 ton terkena lanas. Kejadian itu sekitar 10 tahun lalu. Saya rugi besar hingga Rp 500 juta,” katanya.

Pasang surut
Akibat kegemarannya meneliti, Taryana mengalami pasang surut usaha. Sejak tahun 1994 ia berkebun ubi. Saat itu Taryana memiliki lahan seluas 1 hektar yang menghasilkan 20 ton ubi per bulan. Tahun 1995, ia mampu meluaskan lahannya hingga menjadi 3 hektar.

”Waktu itu hasil panen bisa mencapai 50 ton per bulan. Sekarang saya hanya punya lahan sekitar 4.000 meter persegi. Hasilnya sekitar 10 ton per minggu,” tuturnya.

Lahan yang lain dijual karena beberapa kali ia menderita kerugian. Berkali-kali Taryana jatuh, tetapi tak juga kapok. Meski demikian, berkat pengetahuannya, ia mulai menuai hasil. Ubi yang dihasilkan saat ini sudah lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu, yaitu sekitar 2,5 ton per minggu.

Selain itu, bukan pelanggan sembarangan yang menjadi pembeli rutin ubi Taryana. Toko-toko dan beberapa supermarket ternama memesan ubi tersebut. ”Sekarang lima supermarket di Jakarta sudah memesan ubi secara rutin,” tuturnya.

Tenaga kerja yang terserap juga sudah bertambah, dari lima orang pada tahun 2009 menjadi 20 orang saat ini. Taryana mengaku sudah berkebun secara turun-temurun. Ia tak ingat persisnya. Namun, paling tidak kakek Taryana sudah menanam ubi.

”Saya bertekad terus bertani ubi dan belajar. Setidaknya saya ingin menjaga orisinalitas genetis ubi cilembu,” kata Taryana yang lahir di Cilembu itu. Ia tetap optimistis untuk menghasilkan ubi yang unggul dan memajukan usahanya.

”Tak ada yang tak mungkin kalau mau berusaha meski saya rasanya sudah agak gila gara-gara ubi,” Taryana berseloroh. Berkat ketekunannya, ia pernah menerima penghargaan sebagai Taruna Teladan dari Kontak Tani Nelayan Andalan dan bertemu Presiden Soeharto pada tahun 1995.

”Tetapi, saya belum berhasil. Setidaknya saya menargetkan bisa menghasilkan ubi sebanyak 10 ton per hari,” tuturnya merendah. (dwi bayu radius)


Kompas Cetak
Sumber :
Editor: A. Wisnubrata

Varietas Tahan Hama Itu yang Kami Minta

Pertanian

 
Mesin penggiling padi itu menderu. Tubuhnya terus saja mengeluarkan asap yang berkepul. Hari itu, si mesin bertugas menggilas padi yang baru saja dipanen di Desa Pasirkemuning, Kecamatan Telagasari, Kabupaten Karawang. 
Tiga petani secara bergantian memasukkan padi ranggeuyan ke "mulut" mesin.

Pada suatu ketika, mesin itu mogok. Padi yang berada di dalam tubuh mesin terpaksa dimuntahkan kembali. Tampaknya ia hendak menyampaikan interupsi bahwa dia pun memerlukan istirahat. Betapa tidak, tiga hari berturut-turut, mesin itu bekerja seharian penuh.

Kendati demikian, Hasim (50) dan dua kawannya bersikeras memaksa mesin untuk terus bekerja. "Soalnya, meskipun sudah tiga hari menggiling padi, hasilnya jauh dari harapan," ungkap Hasim mengeluh.

Ia mengatakan, biasanya, satu karung gabah yang dihasilkan bisa mencapai berat lima puluh kilogram. Namun, saat ini, sekarung gabah memiliki berat tak lebih dari dua puluh kilogram. Hasim mengatakan, dua hektare lahan yang digarapnya diserang hama wereng. Bulir padi pun hampa sehingga berat gabah berkurang. "Dari satu hektare lahan, saya hanya bisa dapat dua ton," katanya.

Turunnya produksi akibat serangan hama wereng diakui Sasmita Alkaidar, Kepala Bidang Tanaman dan Pangan pada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Karawang. Untuk produksi gabah di musim gadu 2010, hingga 15 November 2010, produksi mencapai 610.760 ton gabah kering panen (GKP). Angka itu dicapai dari realisasi panen di lahan seluas 91.957 hektare. Jumlah itu, kata Sasmita, akan terus bertambah karena masih ada sisa areal yang belum dipanen dari total areal tanam seluas 97.144 hektare.

Namun, rata-rata produksi dari capaian musim gadu itu turun tajam dari musim sebelumnya. Biasanya, rata-rata produksi gabah pada musim rendeng mencapai 7,3 ton per hektare, lalu turun di musim gadu menjadi 6,6 ton per hektare. Penurunan itu, diakui Sasmita, karena serangan hama wereng yang cukup parah. Berdasarkan data, sedikitnya terdapat 690 hektare lahan yang mengalami puso (gagal panen). Terdapat 530 hektare lahan yang gagal panen akibat kerdil rumput dan 89 hektare disebabkan hama wereng cokelat.
**

berlatarkan kenyataan tersebut, para petani pun bertanya kepada petugas penyuluh. Pasalnya, mereka menanam varietas-varietas padi yang digadang-gadang tahan terhadap serangan hama, termasuk wereng. Varietas-varietas dimaksud adalah Ciherang, Cilamaya Muncul, Mekongga, Hibrida, Inpari 10, dan Sintanur. Pada kenyataannya, semua varietas padi itu tak tahan hama.

"Kami tidak bisa menjawab pertanyaan petani. Pada kenyataannya, semua varietas itu memang tidak tahan hama. Kendati demikian, kami juga tidak bisa menyarankan petani untuk menggunakan varietas lokal yang belum disertifikasi," kata Sasmita.

Ternyata, para petani menemukan jawaban secara tak sengaja. Berdasarkan pengalaman sejumlah petani, varietas lokal --yang notabene belum disertifikasi oleh pemerintah-- itu malah lebih tahan terhadap serangan hama. Produksinya pun melimpah, melampaui varietas yang dirilis oleh pemerintah tadi. Sayangnya, petani tidak bisa bebas membeli benih itu karena yang boleh diperjualbelikan hanyalah varietas yang telah bersertifikat.

Para petani di Desa Lemah Duhur, Kecamatan Tempuran, Ijam Sujana menyebutkan, varietas yang "unggul" itu sering kali dikenal dengan sebutan Sidenok, Manohara, dan Shogun. Ijam yang juga anggota Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Provinsi Jawa Barat, mengungkapkan bahwa masih banyak lagi penamaan untuk varietas lokal itu. "Varietas lokal itu bisa bertahan dari serangan hama. Meskipun kena, tidak sampai diserang kerdil rumput dan kerdil hampa," ungkapnya.

Ijam menyarankan varietas lokal itu mesti diajukan untuk diteliti di Balai Pengawasan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura. Bagaimanapun, pada saat anomali cuaca seperti ini, petani hanya bisa menggantungkan harapan kepada varietas unggul tahan wereng (VUTW). "Petani itu ujung tombak ketahanan pangan. Kalau tidak dicari penemuan baru varietas, petani khawatir tidak bisa menyediakan pangan untuk dirinya, keluarga, dan orang lain," ujarnya. (Dewiyatini/"PR")***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=165358