Senin, 25 Februari 2013

Kloset Jongkok Mengesankan Orang Korea



MUKHIJAB/"PRLM"

DUA mahasiswa Woosong University, Daejon, Korsel membopong anak-anak balita berjilbab saat pesta seni pada Global Volunteer Program for Students 2012 yang diselenggarakan 17-24 Februari 2013 di Desa Tirtoadi, Mlati, Slemen.*



YOGYAKARTA, (PRLM).- Tradisi kloset jongkok sebagai tempat buang air besar dengan jongkok, menjadi kebiasaan aneh bagi orang Korea Selatan (Korsel). Tak heran, kloset jongkok dianggap sebagai tradisi paling mengejutkan (shock) sekaligus kenangan paling tak terlupakan bagi mereka.

Chanhee Na, mahasiswa jurusan keperawatan Woosong University Daejeon, Korsel, menyatakan terperanjat (shock) melihat kloset jongkok. “Saya dan kawan-kawan shock saat diperlihatkan fasilitas toilet dengan perlengkapan kloset jongkok. Ini pengalaman baru dan tidak pernah dijumpai di Korea,” kata dia, Minggu (24/2/13).

Chanhee bersama 28 mahasiswa menjalani Global Volunteer Program for Students 2012 di Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Sleman, 17 – 24 Februari 2013. Program kerja nyata mahasiswa Korea tersebut bekerjasama dengan Fakulta Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Kegaitan mereka pertukaran budaya, pengenalan bahasa dan kesehatan anak-anak, penghijauan. Mereka belajar dari warga tentang pembuatan kompos secara manual dan pupuk organic dari air kencing sapi.

Pondok wisata menjadi tempat menginap selama empat malam. Mereka mengira pondok wisatawan fasilitas kamar mandi, kamar tidur,dll berstandar internasional. “Kami mendapatkan kamar mandi dengan fasilitas kloset jongkok. Ini tidak terduga,” ujar dia.

Fasilitas lain yang mereka bayangkan perlengkapan mandi dengan shower atau bath tub. Kemjudian, usia mandi mengeringkan rambut dengan hair dryer atau pengering rambut. “Tidak ada shower di kamar mandi, adanya gayung. Sesudah mandi, teman-teman menghidupkan hair dryer, eh listrik padam,” kata Chanhee Na sambil tertawa.

Menurut dia fasilitas kamar mandi dengan kloset jongkok, tanpa shower dan listrik yang minim, menjadi kenangan, bukan sesuatu yang jelek dan memalukan dari desa wisata, melainkan tentang kondisi pedesaan yang cenderung alami. Ini menjadi bahan cerita setibanya di Korea. “Hal lain yang membuat kami takjut adalah buah durian. Buah sangat manis, bau wangi dan sangat mengejutkan lidah kami. Ini tidak pernah ada di Korea,” kata dia.

Dia menyatakan pengalaman di atas menjadi pengalaman menarik bagi teman-teman di kampus dan orang-orang Korea. Pengalaman lainnya sikap terbuka dari warga kepada tamu. “Saya exited (perasaan berbunga-bunga) dengan sambutan warga di desa. Mereka membuat kami seperti di kampong sendiri,” kata dia.

Kepala Desa Tirtoadi, Karjono menyatakan perilaku mahasiswa Korea patut diteledani oleh warga dan mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Indonesia. “Mereka cepat menyesauian dan tidak mengeluh dengan fasilitas di desa. Setiap selesai aktivitas, mereka membersihkan sampah dan merapikan seluruh perangkat yang mereka gunakan, ini tidak pernah dilakukan oleh mahasiswa Indonesia yang menjalani KKN,” ujar dia.

Direktur Aplikasi Sistem and Produk (System Application and Product/SAP Fakultas Ekonomi UII Primata Setyono menyatakan para mahasiswa Korea, termasuk para dosennya, sangat berbunga-bunga melihat kondisi alami di pedesaan. "Mereka tidak menyangka nuansa tradisional masih lekat di pedesaan Yogyakarta." (A-84/A-108)***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar