Sabtu, 28 Juni 2008

Penghargaan

Tugas Cendekiawan Mencari Kebenaran


KOMPAS/YUNIADHI AGUNG / Kompas Images
Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama bersama para penerima penghargaan cendekiawan berdedikasi di Jakarta, Jumat (27/6). Penghargaaan diberikan kepada Sajogyo, Satjipto Rahardjo, MT Zen, Soetandyo Wignyosoebroto, dan Thee Kian Wie (kiri ke kanan).



Sabtu, 28 Juni 2008 | 03:00 WIB

Jakarta, Kompas - Dalam perkembangan reformasi menuju negara demokrasi, di Indonesia muncul kecenderungan adanya kesimpangsiuran tujuan dari kalangan ilmuwan, politisi, dan pengusaha.

Tugas utama cendekiawan yang seharusnya adalah mencari kebenaran (search for truth) telah bercampur aduk dengan tujuan politisi, yaitu mencari kekuasaan (search for power).

Kecenderungan tersebut diungkapkan cendekiawan Thee Kian Wie saat memberikan kesan dan pesan di tengah acara penyampaian Penghargaan Kompas untuk Cendekiawan Berdedikasi yang berlangsung di Yan Palace Hotel Santika, Jakarta, Jumat (27/6).

Dalam rangka ulang tahunnya yang ke-43, Kompas memberikan apresiasi melalui penghargaan tersebut untuk pertama kalinya kepada lima cendekiawan yang dinilai memiliki komitmen tinggi dan memiliki asketisisme intelektual. Para penerima penghargaan tersebut adalah Prof Dr MT Zen, Prof Dr Sayogyo, Prof Dr Soetandyo Wignyosoebroto, Prof Dr Satjipto Rahardjo, dan Dr Thee Kian Wie.

Penghargaan diserahkan langsung oleh Pemimpin Umum Kompas Jakob Oetama. Dari jajaran redaksi Kompas hadir Pemimpin Redaksi Bambang Sukartiono dan Redaktur Pelaksana Budiman Tanuredjo bersama unsur pimpinan redaksi lainnya.

Thee Kian Wie dalam pesannya mengingatkan, ”Sekarang ini ada kesimpangsiuran. Ilmuwan yang merupakan cendekiawan tujuan utamanya adalah mencari kebenaran. Politisi tujuan utamanya adalah mencari kekuasaan dan pengusaha adalah mencari keuntungan. Kalau peranannya ini dikaburkan dan diputarbalikkan, bisa berbahaya sekali (bagi bangsa).” Ia menunjukkan indikasi banyaknya penguasa yang masih menggunakan gelar profesor.

Ia mencontohkan keputusan Pemerintah Amerika Serikat pada tahun 1960-an untuk melibatkan diri pada Perang Vietnam tanpa mendengarkan suara ilmuwan. Kebijakan Perang Vietnam tersebut kemudian memakan korban jiwa hingga 50.000-an pemuda Amerika dan tiga jutaan orang Vietnam tanpa ada perlunya. ”Search for truth dan search for power itu adalah dua tujuan yang pada dasarnya tidak compatible (cocok),” katanya.

Sementara itu, Sayogyo menegaskan bahwa masa depan bangsa ini sekarang berada di tangan generasi muda. Sejalan dengan itu, ia telah menyiapkan Sayogyo Center yang dimaksudkan sebagai tempat generasi muda menggodok pemikiran untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Kelima cendekiawan yang selama ini aktif menuangkan pemikiran intelektualnya untuk membangun demokrasi tersebut mengharapkan tugas kecendekiawanan mereka dapat diteruskan oleh generasi muda dan mereka pun berharap tetap bisa mengawal ide tersebut bersama Kompas.

Bagi Satjipto Rahardjo, ”Cendekiawan adalah orang yang berpikir dengan tangannya sehingga menulis adalah pekerjaan cendekiawan.” Satjipto yang aktif menulis di bidang hukum dan kemasyarakatan mengharapkan Kompas tetap bisa menjalankan tugasnya mencerahkan bangsa.

Sementara MT Zen dengan singkat menyebutkan, kompas adalah alat penunjuk arah utara, dan di sana ada pepatah, ”The King goes north....”

Asketisisme kekuasaan
Dalam sambutannya, Jakob Oetama menekankan pentingnya asketisisme dalam berbagai bidang kehidupan. Untuk menggarisbawahi hal itulah, Kompas memberikan penghargaan kepada lima cendekiawan yang memiliki komitmen tinggi tersebut.

Selanjutnya, Jakob menyatakan, ”Tak ada yang meragukan komitmen kaum cendekiawan. Istilah almarhum Sartono Kartodirdjo. Komitmen yang menjadi kebajikan dan sikap hidup yang beliau rumuskan sebagai asketisisme intelektual. Ini luar biasa karena bapak-bapaklah yang turut membangun dan mengembangkan tradisi ini.”

Asketisisme, tambah Jakob, adalah kunci untuk kemajuan bangsa ini. ”Intelektual asketik mengembangkan dan mengontribusikan keahliannya dan (sekarang) terlebih lagi semakin diperlukan asketisisme kekuasaan,” ujarnya.

”Ini masih langka dan harus ada yang merintis,” katanya. Ia menyebut tokoh Mahatma Gandhi, Jawaharlal Nehru (PM India), dan Manmohan Singh (PM India) sebagai tokoh yang asketis.

Indonesia, lanjut Jakob, sebenarnya telah memiliki Bung Hatta, tokoh Masyumi Moh Natsir, serta sosok IJ Kasimo. ”Ada beberapa, tetapi tidak menjadi warisan,” kata Jakob.

Jika kondisi seperti ini berlanjut, maka dalam perjalanan menuju demokrasi ini, akan berlanjut situasi saat ini yang memberi kesan tak pasti, tak menentu, serta tak menggerakkan kebersamaan dan kemauan untuk bangkit bersama.

Karena itu, lanjutnya, komitmen, pencerahan, dan kontribusi para cendekiawan itu melalui berbagai bidang tetap diperlukan. Jakob menyatakan syukur, harian ini dapat turut memperkenalkan kontribusi sosok panutan tersebut kepada masyarakat, yang memang sangat membutuhkan teladan dari para pemimpin di segala bidang. (isw)

Baku vs tidak Baku

TULISAN Hermawan Aksan dalam rubrik Wisata Bahasa mempertanyakan bentuk beberapa kata yang selama ini simpang siur. Di luar masalah baku atau tidak baku, bentuk-bentuk tersebut sebenarnya masing-masing dapat ditelusuri asal-usulnya. Terutama menyangkut alih-eja, harus diakui ada beberapa hal yang perlu dikaji lebih dalam sebelum ditetapkan sebagai pedoman pembakuan.

"Artefak vs artifak"
Kamus-kamus bahasa Inggris pada umumnya menganggap bentuk artifact sebagai bentuk baku sehingga apabila kata ini dialihejaankan menjadi kata Indonesia, bentuk yang tepat adalah artifak.

"Debetor vs debitor vs debitur"
Ini juga soal alih-eja saja. Mereka yang mengatakan bentuk debetor atau debitor baku mungkin berpatokan pada bahasa Inggris, sedangkan orang yang menyatakan bentuk debitur baku barangkali berpedomankan bahasa Belanda. Kata-kata yang beralih-eja dari bahasa Belanda dan berakhiran "-ur" serta telah cukup lama dikenal sebaiknya dibiarkan dan diterima saja (direktur, inspektur, kondektur), sedangkan alih-eja terhadap kata-kata serapan baru ada baiknya berpedomankan bahasa Inggris. Bahasa Inggris memang mengenal kata debit sebagai istilah akuntansi dan sudah diindonesiakan menjadi debit, tetapi tidak mengenal kata debitor sebagai turunannya. Selain itu, dalam bahasa Inggris juga ada kata debt yang telah diindonesiakan menjadi debet. Kata Inggris debt, jika dipersonifikasikan akan menjadi debtor.

Kita tidak dapat menggunakan "-or" seolah-olah sebagai akhiran bahasa Indonesia untuk mengimbuhi kata debet atau debit guna membentuk kata debetor atau debitor. Sebenarnya bentuk yang harus dipilih adalah bentuk yang merupakan alih-eja langsung. Namun khusus dalam kasus ini, kebetulan kata debet atau debit memiliki pasangan yang sudah diindonesiakan pula yaitu kredit (dari credit, Inggris). Dari kata credit diturunkan kata creditor dan dialihejaankan menjadi kreditor. Maka, pasangan yang kira-kira paling tepat bagi kreditor adalah debitor.

"Lohor vs zuhur"
Karena berasal dari bahasa Arab, alih-eja yang tepat sebaiknya berpedomankan pada bahasa asalnya juga. Masalahnya huruf Arab bukan huruf Latin sehingga ada kalanya tidak dapat dihasilkan alih-eja yang disepakati semua pihak. Maka, bentuk baik lohor maupun zuhur, keduanya dapat diterima sebagai kata-kata bersinonim.

"Frasa vs frase"
Karena kebutuhan, bentuk frasa sebagai padanan phrase (bahasa Inggris) sudah lama dipakai. Mengapa bentuk frasa yang dipilih alih-alih frase? Sebab dalam bahasa Melayu, induk bahasa Indonesia, tidak dikenal kata yang berakhir dengan huruf, vokal, atau fonem "-e". Pada waktu itu kata metoda dianggap baku, bukan metode. Zaman berganti, akhirnya kita menerima keberadaan "-e" pada akhir sebuah kata Indonesia dan menyambut pula kehadiran gugus konsonan (pr-, str-, tr-) pada awal kata. Kiranya baik frasa maupun frase dapat diterima. Kalau mesti hanya satu yang diacu sebagai bentuk baku, terpaksa kita memilih sesuai kemutakhiran zaman, frase.

"Paro vs paruh"
Sejak lama bentuk (tulis) yang baku adalah paruh. Mengapa bentuk "paro" muncul? Karena dalam bahasa lisan kata paruh sering terdengar diucapkan "paro".

"Intermeso vs intermezo"
Bahasa Indonesia mengenal fonem, konsonan, dan huruf "z" sehingga intermezzo seyogianya dialihejaankan menjadi intermezo.

"Kapling vs kaveling vs kavling"
Kata ini berasal dari bahasa Belanda, artinya tanah yang sudah disiapkan dan dibersihkan, lalu dibagi-bagi menjadi luas tertentu untuk dibangun rumah di atasnya. Kamus Kata-kata Serapan Asing Dalam Bahasa Indonesia susunan J. S. Badudu menyajikan bentuk kapling. Kiranya bentuk ini dapat diacu sebagai bentuk baku. ***

Lie Charlie
Sarjana tata bahasa Indonesia

Siluman Dalam Sastra Sunda



DALAM cerita-cerita Ambri, gambaran siluman masih sebatas yang tampak dari realitas kehidupan orang-orang lembur. Dan pada cerita-cerita siluman Ki Umbara, walau sudah dikaitkan dengan agama Islam, gambaran siluman masih terasa samar, karena masih terkesan bertarik ulur dengan kepercayaan tradisional.

Siluman ternyata bukan saja milik orang Timur, seperti yang dituduhkan orang Barat. Dalam kesusastraan Inggris, misalnya, Shakespeare menyodorkan tokoh siluman gentayangan ayah Hamlet untuk memberi tahu siapa yang telah membunuhnya. Atau dalam kesusastraan Jerman, Goethe memberi jawaban mengapa Faust bisa menguasai berbagai ilmu yang sangat dahsyat, karena Faust telah menggadaikan jiwanya kepada sang Memphistopeles.

Memang. Cerita seputar siluman juga sama-sama telah mentradisi dalam kehidupan budaya orang Barat. Apalagi di akhir abad ke-18 cerita-cerita siluman itu mewujud suatu genre sastra, yaitu gotik. Istilah gotik mulanya menggambarkan bangunan-bangunan di Eropa pada abad ke-18. Cerita-cerita gotik yang penuh horor itu pun umumnya berlatarkan bangunan-bangunan gotik yang serbabesar, kokoh, tetapi penuh dengan kesunyian dan kengerian. Drakula, siluman yang suka mengisap darah manusia karya Bram Stoker, misalnya tinggal di suatu kastil yang sangat besar dan kokoh namun juga penuh kengerian.

Akan tetapi, bagaimana dengan cerita siluman dalam khazanah budaya orang Sunda? Umumnya orang Sunda, dari dahulu hingga sekarang, memercayai adanya makhluk-makhluk gaib yang mendiami alam gaib. Dengan demikian, tidak aneh bila dari dahulu orang Sunda sangat mengenal cerita-cerita siluman.

Dari dulu misalnya kita diingatkan kepada cerita Sangkuriang yang ngotot mau menikahi ibunya sendiri, Dayang Sumbi. Untuk memenuhi permintaan Dayang Sumbi membendung Sungai Citarum dan membuat perahu untuk melayarinya, Sangkuriang dibantu sepasukan siluman taklukannya. Atau dari daerah Priangan Timur kita mengenal cerita "Onom" yang konon menguasai Rawa Lakbok. Demikianlah yang terbaca dari buku susunan R.A. Danadibrata, Onom jeung Rawa Lakbok (1979).

Moh. Ambri
Dalam jagat sastra Sunda modern, Moh. Ambri (1892-1936) adalah sastrawan yang mulai menulis novel siluman. Beberapa karyanya dapat disebutkan di antaranya Burak Siluman (1932), Ngawadalkeun Nyawa (1933), dan Munjung (1933), dan satu lagi dia timba dari kebudayaan India, Pusaka Ratu Teluh (1932).

Melalui Munjung dan Burak Siluman, misalnya, dengan jelas Ambri menggambarkan kepercayaan orang Sunda terhadap adanya makhluk-makhluk gaib. Munjung menceritakan kepercayaan orang Sunda akan cara-cara menjadi kaya dengan memuja siluman.

Jalan-jalan menjadi seperti ini, antara lain memuja siluman monyet (nyupang), siluman ular (ngipri), siluman babi hutan (nyegik), memuja tuyul (kecit), dll. Yang menarik, cerita Munjung dituturkan melalui percakapan orang-orang kampung yang sedang meronda di gardu.

Penggambaran realistis ini, diulanginya dalam Burak Siluman. Kisahnya dituturkan orang yang bertamu kepada kawannya untuk meminta benih jagung. Dalam percakapan itulah cerita tentang siluman itu dituturkan.

Kisahnya mengenai Nyi Asmanah yang kagembang oleh Arjuna dalam wayang golek. Padahal Arjuna tersebut adalah "burak siluman". Ia pun tergoda lalu tersesat ke alam siluman, hingga mempunyai anak. Ketika ia rindu kepada orang tuanya, ia pun kembali. Namun malang, fajar sudah menjelang. Dengan demikian, ia tak dapat kembali baik ke alam manusia maupun ke alam siluman.

Tentang asal-usul mengapa Ambri mengarang cerita siluman, saya membaca "Surat-surat Moh. Ambri" yang dimuat dalam Pancakaki: Kumpulan Esey (1996). Dari delapan surat Ambri yang diumumkan Ajip Rosidi itu terbaca bahwa Moh. Ambri menganut ilmu kebatinan yang disebut "Ajian Kasumedangan".

Ambri mulai belajar kebatinan karena Nyi Oneng Karnasih, istrinya, sakit keras dan tidak sembuh ketika berobat ke dokter. Atas saran seorang kumitir di Sumedang, ia membawa istrinya berobat ke seorang dukun dan ternyata sembuh. Kejadian tersebut berpengaruh besar kepada Ambri.

Mulai saat itulah ia belajar kebatinan dan hal-hal lain yang bersifat gaib. Ia mulai belajar tirakat, bertapa, berziarah ke tempat-tempat keramat. Oleh karena itu, kepercayaannya akan hal-hal yang mistis dan gaib inilah yang berpengaruh terhadap karya-karyanya yang bertemakan siluman.

Ki Umbara

Selain Ambri, sastrawan Ki Umbara (1914-2005) pun termasuk pengarang yang menulis cerpen siluman. Pengarang yang lahir di Desa Bendungan, Kuningan itu, konon sedari kecil sudah menyukai hal-hal yang berbau gaib. Misalnya, ia sering tidur di kuburan, padahal menurut anggapan orang di kampungnya tempat itu merupakan sarang bangsa siluman. Selain itu, ia pun suka bertanya kepada ajengan, ahli jin, atau dukun beranak. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila di dalam karya-karyanya suka dijumpai jampi-jampi atau jangjawokan yang hidup di lingkungan masyarakatnya.

Ki Umbara mulai mengarang cerpen siluman pada tahun 1963. Yaitu cerpen berjudul "Kasilib" yang dimuat dalam majalah Mangle. Kemudian karyanya tersebut dianugerahi Hadiah Sastra Mangle tahun 1964. Dari sana cerita silumannya kemudian banyak bermunculan. Cerita-cerita silumannya telah dibukukan dalam beberapa antologi. Di antaranya: Diwadalkeun Nyawa (1965), Teu Tulus Paeh Nundutan (1966), Jurig Gedong Setan (2003), dan satu lagi Harewos nu Gaib (2005).

Menurut Ajip Rosidi dalam Eundeuk-eundeukan (1998), Ki Umbara pernah menerangkan bahwa niat mengarang cerita siluman antara lain untuk menghilangkan ketakhayulan di kalangan orang Sunda. Selain itu, ingin menanamkan keyakinan bahwa menjalankan syariat agama seperti salat, puasa, dan lain-lain merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan orang Islam.

Oleh karena itu, karya-karya Ki Umbara sangat kaya dengan nilai-nilai keislaman serta mengandung amanat dakwah islamiah. Maksudnya, tentu saja mengingatkan para pembacanya bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia. Lebih mulia daripada makhluk lainnya, baik jin maupun malaikat. Oleh karena itu, manusia jangan sampai terpengaruh siluman.

Bagaimana gambaran siluman pada cerpen-cerpen Ki Umbara? Dalam antologi Jurig Gedong Setan, misalnya, kita dapat membaca cerpen-cerpen yang mencerminkan kepercayaan orang Sunda bahwa orang yang telah meninggal dengan tidak sempurna sebab mati penasaran atau meninggalnya tidak umum, bila belum disempurnakan suka menjadi ririwa yang bergentayangan, menakut-nakuti, dan menuntaskan rasa penasarannya. Cerpen yang dimaksud antara lain, "Jurig Gedong Sétan", "Ngabedegel", "Kunti," dan "Jurigna Datang".

Bila demikian, bagaimana posisi agama Islam dalam cerpen-cerpen Ki Umbara? Tampaknya nilai-nilai keislaman dijadikan benteng untuk menolak setan, seperti yang dapat kita baca dari "Digusuran Jurig".

Anasir Islam lainnya seperti doa dipakai sebagai jampi untuk mengusir siluman gentayangan, atau yang merasuki manusa. Dan tokoh-tokoh Islam seperti ajengan, kiai, dan merebot diminta untuk mengusir bangsa lelembut yang mengganggu, seperti dalam cerita "Ngabedegel" dan "Kunti".

Rais Purwacarita
Salah seorang pengarang yang meneruskan tradisi cerita siluman dalam sastra Sunda, di antaranya bisa disebut Rais Purwacarita. Setidaknya ini dapat dibuktikan dengan terbitnya buku Dedemit Kiarapait (2004). Buku ini, seakan-akan mengokohkan kembali tradisi cerita siluman Sunda yang telah dirintis para pendahulunya.

Hal pertama yang patut kita cermati dari antologi ini adalah, bergesernya identifikasi siluman. Dalam cerita-cerita Ambri, gambaran siluman masih sebatas yang tampak dari realitas kehidupan orang-orang lembur. Dan pada cerita-cerita siluman Ki Umbara, walau sudah dikaitkan dengan agama Islam, gambaran siluman masih terasa samar, karena masih terkesan bertarik ulur dengan kepercayaan tradisional. Rais dalam hal ini mengidentifikasi siluman sebagai jin yang suka nyiliwuri, mancala putra mancala putri.

Selain itu, melalui cerita-cerita silumannya, Rais telah membawa pandangan baru dalam memandang eksistensi makhluk gaib. Makhluk-makhluk gaib tidak hanya dipandang dalam kerangka berpikir tradisional orang Sunda, melainkan dibawa ke area yang lebih luas, seperti sains.

Umpamanya cerita "Nyi Rambut Kasih" dan "Kalangkang Riwan". Tokoh "Kuring" dalam "Nyi Rambut Kasih" serta sebuah tim dalam "Kalangkang Riwan" dapat mendeteksi sekaligus menangkap eksistensi makhluk gaib, melalui peralatan komputer yang ultramodern. Ya, seperti yang terjadi dalam film "Ghostbuster" saja layaknya.***

ATEP KURNIA
Penulis Lepas tinggal di Bandung.


Bill Gates Berhenti dari Microsoft


GETTY IMAGES/GIUSEPPE CACACE
Bill Gates



SAN FRANCISCO, SABTU - Visinya terhadap komputer agar ada di setiap rumah telah berkembang di dunia, kini Bill Gates memutuskan untuk berhenti pada pekerjaan penuh waktu di Microsoft pada Jumat untuk fokus di bidang kerja amal yang ditujukan memperbaiki perawatan kesehatan dan memberantas kemiskinan di dunia ketiga.
"Selama ini tidak ada sehari pun dalam hidup saya, saya tidak memikirkan tentang Microsoft, hal besar yang telah kami kerjakan dan membantunya," kata Gates, 52, dengan matanya yang agak berkaca-kaca saat berpidato di kegiatan perusahaannya.

Gates mendirikan perusahaannya yang bernilai 260 miliar dolar AS itu pada tahun 1975 dan telah mengalihkan kekayaannya ke dalam yayasan Bill and Melinda Gates. Berkat bantuan orang terkaya di dunia Warren baffet, yayasan itu sekarang menjadi badan amal terbesar di dunia dengan aset hampir 40 miliar dolar AS. Kedua orang kaya itu telah berjanji untuk menyumbangkan seluruh kekayaannya ke yayasan itu sebelum mereka meninggal.

Gates berencana menduduki posisi strategi level tinggi di badan amal itu dan akan menggunakan seluruh pengaruhnya sebagai salah satu orang terkaya di dunia untuk meningkatkan agenda yayasan dalam basis kerja penuh waktu.

Namun ia akan tetap menjadi "non-executive chairman" di Microsoft dan hanya mendedikasikan satu hari sepekan untuk bekerja di perusahaannya. Gates menyerahkan perannya sebagai kepala eksekutif (chief executive) Microsoft kepada mitra kerjanya yang sudah lama Steve Ballmer di tahun 2000, saat Bill Gates menjadi kepala arsitek piranti lunak perusahaan.

Dengan program suksesi terencana, tugas Gates akan diambil alih oleh dua eksekutif Microsoft. Ray Ozzie akan melaksanakan peran yang mengelola manajemen harian, sedang Craig Mundie akan menjalankan peran mengelola rencana jangka panjang.
Ballmer pada Jumat mengakui, meski ada rencana teratur, pendiri perusahaan itu akan meninggalkan perusahaan. "Tidak ada cara apa pun untuk mengatakan terimakasih kepada Bill. Bill adalah sang pendiri. Bill adalah sang pemimpin," kata Ballmer pada acara internal perusahaan itu. "Inilah bayi Bill."
Perusahaan komputer ini, memiliki penguasaan pada piranti lunak sistem pengoperasian windows, yang 90 persen digunakan pada komputer personal di dunia. Perusahaan ini memiliki kapitalisasi pasar sekitar 260 miliar dolar AS dan mempekerjakan lebih dari 78.000 orang di 103 negara.

Sumber : DPA

Kecelakaan Pesawat

Casa-212 TNI Ditemukan Hancur di Dasar Jurang


KOMPAS/AGUS SUSANTO / Kompas Images
Prajurit TNI AD dari Yonif 315 Garuda mencari keberadaan pesawat TNI AU CASSA 2106 yang diduga hilang di Gunung Salak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (27/6).



Sabtu, 28 Juni 2008 | 03:00 WIB

Jakarta, Kompas - Pesawat angkut ringan TNI AU Casa-212 yang hilang ditemukan telah hancur di dasar jurang di antara dua lereng Gunung Salak, Jumat (27/6) sekitar pukul 16.00. Pihak TNI AU belum dapat memastikan apakah lima awak dan 13 penumpang tewas semua, tetapi 18 ambulans sudah disiapkan untuk mengevakuasi korban.

Pesawat yang hilang itu ditemukan di dasar jurang. Sekarang operasi pencarian dihentikan dan diganti dengan operasi evakuasi.

”Paling tidak, malam ini anggota sudah harus ada di lokasi untuk menutup atau mengamankan lokasi. Hal itu agar tidak ada barang yang keluar atau ditaruh di sekitar lokasi yang bisa mengaburkan penyelidikan,” kata Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Madya I Gusti Made Oka di Pangkalan Udara (Lanud) Atang Sandjaja, Bogor, Jumat (27/6) sore.

Oka menyampaikan hal itu setelah Komandan Lanud Atang Sandjaja Marsekal Pertama (TNI) Bambang Margono melaporkan kepadanya bahwa pilot yang mengecek ulang lokasi jatuhnya pesawat sudah memastikan positif menemukan reruntuhan badan pesawat. ”Pilot juga berhasil memotret dengan kamera teleponnya,” kata Margono.

Operasi evakuasi selanjutnya akan diatur di Lanud Halim Perdanakusuma. Korban atau jenazah korban akan dievakuasi lewat darat, Sabtu ini, langsung dari pos SAR di Pasir Gaok untuk kemudian dikirim ke RS Pangkalan TNI AU Dr Esnawan Antariksa di Halim Perdanakusuma. ”Pengendalian operasi selanjutnya di Lanud Halim,” katanya.

Pilot yang memastikan lokasi pesawat jatuh ialah Kapten Jumsari dan Masrukin yang menerbangkan helikopter jenis Bolcow PK-EAH dari PT Air Transport Service, yang ikut dalam operasi pencarian pesawat hilang itu.

Menurut Asops KSAU Marsda Edy Hardjoko, posisi tepat reruntuhan pesawat naas itu adalah 06 derajat s1’34 Lintang Selatan 106 derajat 43’270 Lintang Timur Radial 192 derajat 9 Nautical Mile dari ATS. Ketinggian sekitar 4.200 kaki di atas permukaan laut. ”Wilayahnya di Hutan Tegal Hilir, Kampung Pasir Gaol (Cibitung), Desa Gunung Malang, Tenjolaya,” katanya.

Selain pelaksanaan evakuasi korban dan bangkai pesawat, tim Penyelidikan Penyebab Kecelakaan Pesawat Udara (PPKPU) pun langsung bekerja. ”Tim kami sudah siap untuk langsung bekerja,” kata Ketua PPKPU Marsma (TNI) I Wayan Suwitra.

Menurut dia, pesawat Casa-212 yang dimiliki TNI AU sejak tahun 1985 itu tidak dilengkapi kotak hitam. ”Ini, kan, pesawat militer. Tidak semua pesawat militer dilengkapi black box,” katanya. (rts/aha/cok/jos)

2nd NY millionaire gets prison in slavery case (Majikan TKW Indonesia Dihukum 11 Tahun)

By FRANK ELTMAN, Associated Press Writer
Fri Jun 27, 7:24 PM ET


Mahender Sabhnani, center, arrives at U.S. District Court for the sentencing of his wife, Varsha Sabhnani Thursday, June 26, 2008 in Central Islip N.Y. The Sabhnanis were convicted in December of all charges in a 12-count federal indictment that included forced labor, conspiracy, involuntary servitude and harboring aliens. (AP Photo/Mary Altaffer)


CENTRAL ISLIP, N.Y. - A millionaire convicted of helping his wife keep two Indonesian housekeepers as virtual slaves was sentenced Friday to more than three years in prison, ending a trial that shed light on the often little-seen exploitation and abuse of domestic workers.

International perfume maker Mahender Sabhnani, 51, was sentenced to 3 1/3 years and fined $12,500. He was convicted in December on a 12-count federal indictment that included forced labor, conspiracy, involuntary servitude and harboring aliens.

The victims testified that they were beaten with brooms and umbrellas, slashed with knives, and forced to climb stairs and take cold showers for misdeeds that included sleeping late or stealing food from the trash because they were poorly fed.

On Thursday, Sabhnani tearfully watched as his wife, Varsha, was sentenced to 11 years in prison. On Friday, she dabbed her eyes as she saw her husband meet his own fate.

Prosecutors contended Varsha Sabhnani was primarily responsible for inflicting years of abuse on the poorly educated servants.

Her husband, they said, allowed the conduct to take place and benefited from the work the women performed in their $2 million Long Island home. He operated his perfume business from an office next to his home.

"The mister didn't know about it. The mister was nice. The mister didn't hear. The mister didn't shout," said defense attorney Stephen Scaring, recounting the victims' testimony while arguing for home confinement instead of prison.

"He was the master," countered prosecutor Mark Lesko. "By holding slaves, Mahender Sabhnani violated every notion of freedom that we enjoy in America."

"He had to know what was going on under his roof, and he needs to be punished," the prosecutor said.

Judge Arthur Spatt said that although Mahender Sabhnani did not personally inflict abuse, he must have been aware of it.

"He's a success story: The immigrant who came to this country and succeeded in business. He had to know all these dreadful things and did nothing," the judge said.

The husband is originally from India, and the wife from Indonesia. Both are naturalized U.S. citizens.

One of the workers arrived in the Sabhnanis' Muttontown home in 2002; the second came in 2005. The Sabhnanis immediately confiscated the servants' passports and other travel documents, the women testified.

Prosecutors said the "punishment that escalated into a cruel form of torture" ended in May 2007, when one of the women fled early on Mother's Day. She wandered into a Dunkin' Donuts wearing nothing but rags, and employees called police.

The husband pleaded for freedom at his sentencing, saying the couple's four children wonder, "'Who's going to help us? How can we do it on our own?' Every day, I look at fear in their eyes."

The grown children sat stoically in the front row as he spoke.

"This is a case that has been devastating to this family," said Scaring, the defense attorney. "They are mocked, they are ridiculed, they are laughed at."

Mahender Sabhnani was allowed to remain free on $4.5 million bail, with 24-hour security monitoring, until he surrenders Oct. 30. Varsha Sabhnani's bail was revoked after her conviction in December.

A hearing on whether the couple must forfeit their home was postponed until July 11.

Spatt also will decide on how much the women are owed in restitution for back wages. While the servants worked for the Sabhnanis, their relatives in Indonesia were sent about $100 a month; the women received no direct payments.

Prosecutors suggest the women are due more than $1.1 million, including overtime, but defense attorneys said the figure should be much lower. The women are at an undisclosed location in the New York area and are receiving assistance from Catholic Charities.

***



Bertahun-tahun Menyiksa Dua Pekerja Rumah Tangga


/ Kompas Images
Varsha Sabhnani.



Sabtu, 28 Juni 2008 | 03:00 WIB

Central Islip, Jumat - Seorang perempuan jutawan yang selama bertahun-tahun menyiksa dua pekerja rumah tangga asal Indonesia yang disekap bagaikan budak di rumah mewahnya di pinggiran Long Island, New York, hari Kamis (26/6) dijatuhi hukuman penjara 11 tahun.

Varsha Sabhnani (46), yang juga berasal dari Indonesia, dinyatakan terbukti bersalah bersama suaminya, Mahender Sabhnani (51), yang kelahiran India, pada 12 dakwaan, antara lain kerja paksa, konspirasi, dan menyembunyikan imigran gelap. Perkara Mahender telah diputuskan pada Desember 2007.

Sidang memperlihatkan sepintas sebuah masalah pekerja rumah tangga yang dieksploitasi dalam kondisi bagai budak di AS.

Para korbannya memberi kesaksian bahwa mereka dipukuli dengan sapu dan payung, disayat dengan pisau, dan dipaksa menaiki tangga, dan mandi di pancuran air yang membekukan sebagai hukuman. ”Seorang korban dipaksa makan puluhan cabai, kemudian dipaksa makan muntahannya sendiri ketika dia tidak bisa menelan cabai itu,” kata seorang jaksa.

Hakim Distrik AS Arthur Spatt menyebut kesaksian itu ”membukakan mata bahwa hal-hal semacam itu terjadi di negara kita”.

”Dalam kesombongannya, dia memperlakukan Samirah dan Enung tak sebagai manusia,” kata Asisten Jaksa AS Demetri Jones. ”Keadilan bagi para korban, itulah yang diminta pemerintah.”

Panduan penghukuman federal telah merekomendasikan kisaran 12 sampai 15 tahun penjara bagi Sabhnani yang disebutkan sebagai pelaku penyiksaan. Selain hukuman penjara, dia harus menjalani tiga tahun masa percobaan dan denda 25.000 dollar AS.

”Saya hanya ingin mengatakan bahwa saya sangat mencintai anak-anak saya,” kata terdakwa pada pengadilan yang disaksikan anaknya. ”Saya lahir ke bumi ini untuk membantu orang yang membutuhkan.”

Suaminya, yang mempunyai usaha parfum internasional, bebas dengan jaminan sementara menanti penetapan hukumannya hari Jumat. Ia menangis saat menyaksikan pembacaan hukuman bagi istrinya.

Mahender didakwa kejahatan yang sama karena membiarkan perlakuan semacam itu terjadi dan mendapatkan keuntungan dari kerja yang dilakukan kedua pekerja rumah tangganya itu di rumahnya. Dia diperkirakan akan mendapat hukuman penjara yang jauh lebih ringan.

Perbudakan modern

Pihak penuntut berpendapat, dakwaan-dakwaan itu sama dengan sebuah kasus ”perbudakan zaman modern”. Mereka mengatakan, para pekerja rumah tangga itu mendapat ”hukuman yang meningkat menjadi sebuah bentuk penyiksaan yang kejam”, yang berakhir pada bulan Mei 2007 ketika salah seorang pekerja itu melarikan diri. Dia memasuki sebuah toko donat dengan pakaian compang-camping dan karyawan toko itu menelepon polisi.

Kedua pekerja rumah tangga itu, yang keluarganya berada di Indonesia, dibayar sekitar 100 dollar AS per bulan. Mereka tidak menerima gaji, tetapi disiksa dan dipukuli karena bangun kesiangan atau mencuri makanan dari tempat sampah karena tak diberi cukup makan.

Pihak pembela, yang berniat mengajukan banding, mengatakan, kedua perempuan itu mengarang cerita sebagai cara untuk melarikan diri dari rumah itu untuk pekerjaan yang lebih menguntungkan. Pihak pembela juga mengatakan, kedua pekerja rumah tangga itu menjalankan ilmu hitam dan mungkin telah menyiksa diri mereka sendiri sebagai bagian dari ritual.

Pembela Jeffrey Hoffman mengatakan, 175 surat telah diserahkan kepada pengadilan yang merinci perbuatan amal Sabhnani di seluruh dunia. (AP/DI)

Jumat, 27 Juni 2008

Mesin Standar Menunjang Penghematan BBM



PUSING memikirkan harga bensin... pengeluaran membengkak? Beralasan memang, sebab dengan naiknya harga bensin premium dan pertamax belakangan ini cukup menguras kantong pemilik kendaraan. Tidak heran jika saat ini, banyak masyarakat yang mengupayakan cara-cara mengirit bensin pada kendaraannya.

Upaya itu sah-sah saja dilakukan, tetapi yang perlu diperhatikan bahwa penghematan bahan bakar minyak (BBM) dilakukan tidak akan bekerja optimal, bila kondisi mesin kendaraan tidak berada pada setelan ideal sesuai standar pabrik. Artinya, peralatan penghematan BBM itu bisa berfungsi optimal, jika kondisi mesin dikembalikan sesuai standar pabrik.

Hal ini perlu diingat, sebab setelan mesin bisa berubah dalam jangka waktu tertentu, sehingga membuat proses pembakaran campuran bensin dan udara menjadi tidak efisien lagi dan konsumsi BBM menjadi boros. Oleh karena itu, diperlukan perawatan untuk mengembalikan mesin pada kondisi ideal agar pemakaian BBM tetap efisien.

Kondisi kerja mesin kendaraan yang ideal, ditunjukkan dengan rasio campuran udara dan bahan bakar atau air fuel ratio (AFR) bernilai 14,7 : 1. Nilai AFR yang berada di atas angka itu, menunjukkan jumlah kandungan bensin yang lebih sedikit dari udara atau populer diistilahkan dengan kata miskin. Sebaliknya, nilai AFR di bawah angka ideal menandakan jumlah bensin yang lebih besar dari udara atau kaya bahan bakar.

Konsumsi bahan bakar yang paling hemat, berada pada kondisi AFR miskin. Namun, mesin tidak bisa dipatok pada kondisi AFR miskin terlalu lama, karena akan menyebabkan suhu dapur pacu meningkat panas. Sedangkan tenaga mesin paling besar, justru dihasilkan pada saat nilai AFR kaya.

Karena kondisi lalu lintas berbeda-beda, pabrikan mengatur kerja mesin untuk berada pada kondisi AFR bervariasi. Implikasinya, konsumsi BBM bisa diatur tetap hemat dan tenaga mesin tetap besar saat berakselerasi. Untuk mesin injeksi ada empat kondisi AFR yang disediakan komputer, yaitu putaran stasioner, rpm konstan, torsi maksimal, dan akselerasi.

Cara untuk mengetahui apakah mesin kendaraan masih bekerja pada kondisi ideal bisa dilakukan dengan dua metoda, yaitu analisis gas buang dan busi. Metode analisis gas buang dilakukan dengan memakai alat bantu bernama gas analyzer, yang bisa ditemui di bengkel. Alat ini dimasukkan ke dalam lubang knalpot untuk mengukur empat komponen, yaitu karbon monoksida (CO), hidrokarbon (HC), nitrogen oksida (Nox), dan lambda.

Melalui nilai CO, pemilik kendaraan bisa mendapatkan keterangan tentang kondisi mesin. CO yang efisiensi pembakarannya baik berada pada nilai ideal 0,2% - 1,5% untuk mesin injeksi dan 1 - 3,5% mesin karburator. Angka di luar itu menunjukkan mesin kendaraan perlu disetel ulang dan dikembalikan ke kondisi standar.

Kondisi busi juga bisa dijadikan tolok ukur mengetahui nilai AFR. Ujung insulator busi yang berwarna putih atau cokelat muda, tidak ada endapan yang menonjol di tengah elektroda hingga insulator dan ujung elektroda tidak berubah, merupakan tanda-tanda mesin yang berada pada kondisi standar.

Sedangkan ujung insolator berwarna abu- abu gelap atau hitam, menunjukkan kondisi AFR terlalu kaya dan boros BBM. Sementara, insulator berwarna putih dot mirip kapur memperlihatkan AFR yang terlalu miskin, karena ruang bakar berada pada suhu sangat tinggi akibat pasokan BBM yang tidak sebanding dengan udara.

**

TERKAIT mahalnya harga Pertamax dan Pertamax plus, saat ini telah mendorong masyarakat untuk beralih ke premium. Pada prinsipnya, mesin masih bisa menerima penggantian bahan bakar itu bila tidak menunjukkan gejala ngelitik atau knocking. Untuk menghilangkan gejala ngelitik, bisa dilakukan dengan cara mengubah waktu pengapian. Namun, perlu diingat kalau ngelitik masih saja terjadi, artinya mesin kendaraan memang memerlukan bahan bakar beroktan tinggi.

Pada mesin konvensional yang berteknologi karburator, caranya adalah dengan memundurkan waktu pengapian atau crank angle sensor beberapa derajat. Patokan yang dipakai adalah timing light dengan batas 5 - 10 derajat sebelum TMA (titik mati atas).

Berbeda kasusnya dengan mesin injeksi modern, yang sudah dilengkapi perangkat timing pengapian otomatis. Peranti komputer ECU (electronic computer unit) akan memundurkan sendiri waktu pengapian, ketika terjadi gejala ngelitik. Hal ini, karena mobil injeksi sudah memakai knock sensor yang ditempatkan di sekitar ruang bakar untuk memantau gejala ngelitik.

Meski begitu, pada beberapa model yang tingkat rasio kompresinya sangat tinggi, ECU tidak dapat memundurkan waktu pengapian secara ekstrem. Sebab, knock sensor hanya berfungsi mengantisipasi tingkat knocking yang kecil. Artinya, knocking sensor hanya bekerja dalam batas toleransi tertentu saja.

Untuk mengakalinya, bisa memakai alat tambahan yang disebut piggyback ECU. Peranti ini bisa memanipulasi data dari sensor-sensor yang menuju ECU. Perbandingan bahar bakar udara dan juga waktu pengapian bisa diatur. Selain itu, penyesuaian nilai AFR bisa diatur seideal mungkin pada setiap tingkat putaran mesin. Di pasaran beredar berbagai macam merek piggyback ECU dengan kisaran harga Rp 3,5 juta. Piggyback ECU baru bekerja sempurna jika mesin berada pada kondisi sehat. (ovi)***

Gita Gutawa Terlena Angklung


femaleradio.net

JUNI ini ada dua peristiwa yang membuat Gita Gutawa sempat dibuat deg-degan. Peristiwa pertama, saat menunggu pengumuman kelulusan dari SMP 21 Juni lalu. Putri dari komposer Erwin Gutawa ini kembali dibuat deg-degan saat tampil di Saung Angklung Udjo (SAU), Selasa (24/6) lalu.

"Aku ngak nyangka kalau yang datang ke tempat (SAU) akan sebanyak ini dan histerisnya minta ampun," ujar pemilik nama Aluna Sagita Gutawa. Padahal, dirinya tampil bersama Michael Prabawa Mohede atau yang lebih dikenal dengan Mike Idol, pemilik tubuh tinggi besar. Tapi, tetap saja dirinya merasa deg-degan.

Mengenai kelulusannya, penggemar sushi ini, mengaku selain sempat didera perasaan deg-degan dirinya juga dihinggapi perasaan sedih, karena harus berpisah dengan teman-temannya di SMP dan akan bertemu teman baru di SMA. Dirinya berharap, teman-temannya semua lulus dan dapat melanjutkan ke SMA hingga suatu saat bila bertemu lagi bisa berbagi cerita.

Tentang penampilannya di SAU, meski hanya sempat menyanyikan satu lagu Gita benar-benar merasa tersanjung. "Ternyata enak juga menyanyi dengan iringan arumba dan angklung. Suaranya yang khas sangat enak didengerin, sampai waktu latihan sempat salah saja karena keenakan dengerin suaranya," ujar Gita, seraya berharap suatu saat nanti dalam konsernya dapat tampil lebih lama diiringi musik arumba dan angklung. (Retno HY/"PR")***