Sabtu, 14 Agustus 2010

Roundtank Kuat Touring hingga Pangandaran

Kamis, 12/08/2010 14:51 WIB

Ditta Aditya Pratama
- detikBandung


Bandung - Siapa sangka Roundtank yang terlihat ringkih dan kuno ternyata mampu dibawa jalan jauh. Komunitas Barudak Roundtank Bandung (BARON) sudah membuktikan ketangguhan Roundtank mereka dengan membawanya sampai ke Senayan, Jakarta hingga Pangandaran Ciamis.

"Terakhir kita ke Pangandaran sekitar 15 jam. Itu juga dipotong iklan alias hujan, dan ada Roundtank yang trouble. Dari 15 yang berangkat, 13 yang sampe. Sisanya kita pulangkan ke Bandung," ujar M. Irfan Agustian (32), Ketua Harian Barudak Roundtank Bandung (BARON).

Memang perjalanan dengan menggunakan roundtank tidak sama dengan perjalanan menggunakan kendaraan bermotor biasa. Banyak perawatan khusus agar Roundtank yang mereka naiki kuat dalam perjalanan jauh.

"Paling penting dalam perawatan itu, bagian kopling harus disemprot oli. Soalnya itu kan aslinya kopling motor yang mestinya terendam oli. Dipasang di Roundtank jadi tidak kena oli, makanya harus rajin disemprot," ungkap Irfan.

Selain itu, trouble yang sering ditemui dalam perjalanan adalah masalah kaki-kaki. Bisa dari ban, ataupun pelek. Wajar, karena menggunakan ban sepeda yang kecil, maka jika menghajar lubang, bisa bikin pelek peyang, atau bearing ban oblak.

"Pokoknya senjata kita tang. Setiap kemana-mana, mesti bawa tang. Jadi ada masalah, langsung kita bongkar, soalnya rata-rata part Roundtank bisa dibongkar pakai tang," ungkap TS (27), anggota BARON lainnya.

Kalau persiapan sudah cukup, biasanya mereka akan memulai perjalanan pada malam hari. Hal ini dilakukan karena jika berjalan di siang hari, mesin Roundtank akan cepat overheat. Jika berjalan di siang hari, mereka harus sering berhenti agar mesin tidak overheat.

"Ya memang kalo kita biasa jalan-jalan malem-malem, walaupun tidak turing, tetap saja jalan malam. Kalo siang itu selain panas, oli sampingnya juga boros. Pasti sedikit-sedikit berhenti, kayak kita waktu ke Sumedang kemarin, lama sampainya soalnya kita banyak istirahat. Padahal, dulu kita pernah tes cepet-cepetan, pernah lho sampe Sumedang 2.5 jam, tapi itu jalan malam ya," jelas Irfan.

Soal kecepatan, mereka mengaku tidak jauh beda dengan motor. Hanya saja tingkat kenyamanan jauh berbeda. Jika dibawa ngebut, Roundtank yang mereka bawa akan bergetar dengan hebatnya hingga membuat duduk semakin tidak nyaman. Apalagi mereka masih menggunakan jok sepeda, dan shockbreaker rata-rata mati.

"Kita bisa kok ngebut sampai 70 km/jam. Tapi getarannya waduh. Soalnya kita gak ada gigi, jadi sama aja kayak pakai motor, tapi dipanteng di gigi 1 terus. Jadi kita mah paling jalan di 30-40 km/jam. Kita nggak usah ngebut-ngebut, santai saja di lajur kiri. Yang penting kita eksis," kekeh Irfan.

(tya/tya)

Foto 50 Budak Seks Dipamerkan di Jakarta

Jugun Ianfu
Jumat, 13 Agustus 2010 | 05:21 WIB
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
Mantan jugun ianfu di Jawa Barat, Ema Kasimah (80), menangis, terkenang akan kisah sedihnya pada masa penjajahan Jepang, saat bercerita dalam Konferensi Aktivis Perempuan Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Jawa Barat, dalam peringatan Hari Ibu, Minggu (21/12/2009).

Editor: yuli | Sumber : ANT

Angklung Udjo Mengalun hingga Sahara

Kamis, 5 Agustus 2010 | 18:47 WIB
KOMPAS/ARUM TRESNANINGTYAS DAYUPUTRI
Angklung sebagai alat musik tradisional Jawa Barat memiliki daya tarik bagi para wisatawan asing untuk belajar memainkannya seperti terlihat di Saung Angklung Udjo, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (9/10/2009). Pertunjukan angklung dan belajar bermain angklung yang terbuka untuk umum dan digelar setiap hari ini merupakan salah satu upaya untuk melestarikan seni tradisional angklung sebagai kebudayaan Indonesia.


KOMPAS.com — Alunan orkestra rumpun bambu arumba Saung Angklung Udjo dari Kota Bandung, Jawa Barat, menembus pelosok kota-kota di Tunisia, bahkan sampai ke Gurun Sahara.

Tampil dalam berbagai festival yang digelar di Tunisia selama musim panas, kelompok musik Saung Angklung Udjo di bawah pimpinan Taufik Hidayat Udjo menjadi duta budaya yang mendapat sambutan hangat dari masyarakat Tunisia.

Taufik Hidayat Udjo kepada koresponden Antara News di London, Inggris, mengaku bangga bisa membawa harum nama Indonesia hingga ke pelosok Tunisia. "Bermain di setiap teater terbuka yang berada di setiap kota di Tunisia membawa kenangan tersendiri," ujar putra Mang Udjo yang giat memperkenalkan angklung ke berbagai negara.

Taufik Udjo tentu akan lebih bangga bila angklung diakui sebagai warisan dunia tak benda oleh organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan (UNESCO). Taufik sangat berharap, dalam waktu dekat angklung bisa menjadi warisan dunia tak benda UNESCO, seperti batik Indonesia.

Duta Besar (Dubes) RI untuk Tunisia, Muhamad Ibnu Said, menyatakan bahwa kehadiran Saung Angklung Udjo di Tunisia menjadi duta budaya Indonesia dalam rangkaian Perayaan 50 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia dan Tunisia.

Dubes kagum dengan bertebarannya teater terbuka di seluruh pelosok kota di Tunisia. "Senangnya bila di Tanah Air juga ada panggung terbuka yang bisa memberikan hiburan kepada rakyat," ujar diplomat karier itu.

Teater terbuka yang ada di kota-kota Tunisia, meskipun hanya berupa lapangan terbuka dengan panggung dan tempat duduk dari batu dengan dikelilingi tembok, sering kali menampilkan kelompok musik dari berbagai negara.

Angkung Mang Udjo tampil di "Theatre De Plain Air" di kompleks Musee del-Ksour, Medenine, ibu kota provinsi Medenine, sekitar 482 km selatan kota Tunis. Medenine adalah kota kecil yang menjadi starting point jalur wisata Sahara di kawasan Le Sud, Tunisia Selatan.

Di kota itu terdapat beberapa ksour (istana) dan kompleks permukiman serta gudang pertanian suku bangsa Berber yang oleh penduduk setempat dikenal dengan sebutan ghorfa.

Ksour dan ghorfa dapat ditemui di beberapa daerah kawasan selatan Tunisia. Ksour di kota Medenine ini adalah peninggalan abad XVII yang telah beralih fungsi menjadi museum. Museum itu menjadi saksi diplomasi budaya Saung Angklung Udjo.

Direktur Festival du Medenine Mohsen Abdelkadir dan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Medenine Fethi Boukouba serta Asisten Wali Kota dan Delegue Kota Medenine sangat kagum dengan penampilan musik bambu itu.

Kuis Indonesia

Konselor KBRI Tunis Chandra Hasan mengatakan, pementasan musik angklung di kota Medenine merupakan kesempatan yang sangat baik untuk mempromosikan Indonesia kepada masyarakat Tunisia.

Pementasan itu juga diselingi "Kuis Indonesia" yang dibawakan pembawa acara Hidayat Antemas.

Penonton yang menjawab pertanyaan mendapat hadiah berupa kaus yang bertuliskan "Visitez L`Indonesie" dengan gambar wayang kulit dan bendera merah putih. "Kami memesan khusus dari Indonesia untuk promosi," ujar Dubes Ibnu Said.

Pada setiap penampilannya, Saung Angklung Udjo selalu membawakan "Medley Nusantara", yang berisi lagu-lagu rakyat dari Aceh hingga Papua. Angklung Udjo juga membawakan lagu dangdut, musik pop barat, serta lagu-lagu Arab. "Semuanya menarik para pengunjung," ujarnya.

Pada setiap penampilannya, Taufik Udjo membuka pertunjukan dengan irama instrumental berbeat cepat, yang menarik antusiasme penonton. Mereka turut bertepuk tangan mengikuti irama.

Di Tunisia, orkes arumba Saung Angklung Udjo juga membawakan lagu-lagu lokal Tunisia dan lagu-lagu populer Arab dan mendapatkan standing ovation di akhir pertunjukan.

Pada penampilan di kota Gabes, bertempat di Le Theatre de Plain Air, penampilan Angklung Udjo dihadiri Direktur Festival Kota Gabes, Lasaad Boukhcina, dan Kepala Dinas Kebudayaan Propinsi Gabes, Hedi Amri.

Sekretaris I dan Pejabat Fungsi Ekonomi KBRI Tunis, Boy Dharmawan, menyatakan, masyarakat Tunisia benar-benar terhibur oleh kehadiran seniman Indonesia itu.

Lia Laila Sari (20), penyanyi Angklung Udjo, merasa senang dan puas pada pementasannya di Tunisia. "Rasanya puas dan senang sekali. Penontonnya tidak begitu banyak, namun kali ini adalah yang terbaik selama kita pentas di Tunisia," komentarnya.

"Yang paling seru, mereka ikut naik ke panggung untuk menyanyi dan bergoyang bersama," ujar gadis belia yang belajar angklung sejak usia dini.

Untuk menarik penonton, Angklung Udjo juga menyelipkan lagu berbahasa Arab. Lia, yang juga menjadi instruktur angklung interaktif di Saung Angklung Udjo, tampil berduet dengan M Yazid dari KBRI Tunis.

"Namun, di kota Gabes, duet ini berubah menjadi trio karena setiap kali sebuah lagu Arab dimainkan, selalu ada dari penonton yang meminta mikrofon dan ikut menyanyi," ujar M Yazid.

Budaya akrab

Belgacem Abbes, mahasiswa tahun kedua Institut Superieur des Arts et Metiers de Gabes, jurusan ilmu musik, mengungkapkan rasa kagumnya terhadap permainan Saung Angklung Udjo.

"Luar biasa. Sangat menarik melihat kecerdasan dan ketelitian pembuatnya yang dapat mengubah potongan-potongan kayu ini menjadi alat-alat musik yang indah," ujarnya.

Hadir bersama beberapa temannya dari kalangan mahasiswa musik. Belgacem Abbes mengakui musik tradisional Indonesia memiliki repertoire lebih banyak.

"Kami tahu Indonesia begitu kaya akan budaya dan budaya musik, dan kami menunggu hal itu malam ini," katanya.

Abbes berpendapat, kebinekaan Indonesia dengan banyak pulau, suku, dan bahasanya yang melahirkan genre dan notasi musik yang berbeda dari satu daerah ke daerah lainnya.

Repertoir nomor-nomor instrumental yang dibawakan, seperti "Rintak Rebana" dan "Spirit of Peace", katanya, terasa sangat arabesque.

"Ini mungkin menjadi gambaran bahwa Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia, juga menerima budaya Arab-Islam dan mengakulturasikannya ke dalam budaya lokal," kata Abbes.

Sejarah hubungan antara Arab-Islam dan Indonesia memang sangat dekat dan sudah terjalin sejak zaman dahulu.

"Lagu 'Rintak Rebana', notasinya sesuai dengan 'Maqam Hijazi'," tambahnya.

Maqam Hijazi adalah salah satu dari maqamat musik Arab yang melodinya bernada sedih. Musik Arab mengenal maqamat atau tata melodi, di antaranya Bayati, Rast, Nahawand, Jaharka, Sabaa, yang menjadi dasar melagukan Al Quran.

Kamel Bouchmaoui, salah seorang organizer, berujar, "Mumtaaz". Dia memuji penampilan Angklung Udjo yang dapat berinteraksi dengan publik secara baik. "Pementasan ini jadi hidup sekali. Penonton ikut menyanyi dan naik ke panggung untuk bergoyang."

Hannen el-Nouri, salah seorang gadis yang ikut naik bergoyang di panggung, berseru, "Sangat mengesankan. Tidak terlupakan!"

Penulis: JY | Editor: jodhi | Sumber : ANT

Batagor, Bakmi, Bakpia, Bakal Dibukukan dalam Bahasa Rusia

M Syakir/Republika
Salah satu kompleks penjualan kuliner tradisional


REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW--Eksotiknya makanan Indonesia bisa jadi tanpa banding. Hanya, kadang kurang publikasi dan penghargaan dari diri kita sendiri. Orang Rusia kini bukan hanya melirik Bali, tapi juga ingin lebih banyak mencicipi kuliner Indonesia. Karenanya, masakan Indonesia kini dalam proses dibukukan dalam bahasa Rusia.

Sebanyak 5 wartawan Rusia kini sedang berkelana di Indonesia mengikuti program Familiarization Trip (Fam Trip) yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia bekerjasama dengan KBRI Moskow. Di antara peserta Fam Trip, terdapat tim wartawan kuliner dari Locator Press Agency (Food, Wine and Travel) yang khusus meliput kuliner Indonesia.

Selama 11 hari (15-26 Juli) mereka mengendus aneka objek wisata dan makanan di Indonesia guna ditulis di berbagai media. Setelah Jakarta, Bandung, Yogyakarta, kini mereka menuju Bali, Lombok, dan Pulau Komodo.

“Indonesia sangat kaya dengan budaya kuliner. Saya ingin membuat buah buku panduan wisata tentang kuliner Indonesia dalam bahasa Rusia sehingga masyarakat Rusia dapat mengetahuinya sebelum berkunjung ke Indonesia,” tutur Anatoly Gendin, wartawan yang juga Direktur Locator Press Agency (Food, Wine and Travel). “Saya berjanji akan mempromosikan Indonesia di Rusia”, tambahnya.

Selama kunjungan di Indonesia, Locator Press Agency meliput berbagai makanan dan masakan tanah air termasuk cara memasak dan menyajikannya, seperti Soto Betawi, Batagor, Gudeg Yogya, Bakpia Patuk, Sate Ayam dan Kambing, Ayam Goreng, juga Mie Godok. Selain masakan khas Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, Bali dan Lombok, mereka meliput pula makanan dan masakan dari Aceh, Manado, Padang, Makasar, Ujung Pandang, Solo dan Malang. Wartawan tidak hanya mengunjungi restoran atau rumah makan khas Indonesia, tetapi pula mengunjungi pasar tradisional dan kebun, serta bertemu dengan ahli kuliner Indonesia.

Indonesia memiliki aneka ragam masakan yang merupakan warisan dari para leluhur. Sampai saat ini cita rasa masakan-masakan Indonesia terpelihara dengan baik. Promosi cita rasa masakan Indonesia tidak hanya dilakukan di tanah air, “Bahkan promosi tersebut sampai ke luar negeri, seperti Korea, Cina, Singapura, Belanda dan beberapa negara Eropa lainnya” kata pakar kuliner Indonesia, William Wongso dalam pertemuan dengan wartawan kuliner Rusia.

Kepala Sub Direktorat Pengembangan Pasar Kementerian Kebudayaan dan Priwisata RI, Vinsen Jemadu menyampaikan aneka makanan yang akan ditulis ini hanya sebagian kecil dari ribuan makanan khas Indonesia. “Perlu puluhan tahun untuk menyelesaikan pembukuan makanan khas Indonesia,” ujar dia.

Red: irf
Rep: aji surya dari moskow

Kamis, 12 Agustus 2010

Museum Geologi

Setelah lelah berkutat dengan sesaknya para pedagang di Gasibu, aku dan adik-adiku memutuskan untuk istirahat, begitu lewat di depan Gedung Geologi yang masih berada di Jalan Dipenogoro, kok banyak orang lalu lalang. "Ayo masuk!", kata adiku. Aku ikut saja masuk ke halaman gedung Geologi, kemudian adiku berteduh di bawah pohon yang rindang.

Melihat banyak orang masuk ke dalam gedung jadi penasaran ingin masuk. Aku mengajak adiku masuk ke Museum Geologi. Begitu akan masuk, di pintu gedung ada satpam, "wah harus lapor sepertinya, pikirku". Akan tetapi, saat masuk gedung sang satpam langsung menyuruh kami mengisi buku tamu. Setelah itu, adiku mengajak nonton film dokumenter Tsunami, ternyata bagus juga filmnya. Begitu selesai nonton, aku mengajak adiku berkeliling melihat koleksi yang ada di Museum Geologi. Bagus juga koleksi-koleksinya, banyak yang saya pelajari. Pengunjung Museum Geologi cukup banyak. Tidak ketinggalan juga ada beberapa anak sekolah yang sedang mencatat apa yang mereka lihat, saya pikir kemungkinan itu tugas dari sekolahnya.

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya dilihat tetapi karena waktu sudah terlalu siang, jadi aku dan adiku segera memutuskan untuk pulang. Suatu saat saya ingin kembali melihat koleksi-koleksi yang ada di Museum Geologi. Sebagai oleh-oleh saya berikan foto-foto hasil kunjungan ke Museum Geologi Bandung.


Mohon maaf, untuk sementara hanya sebagian foto yang saya upload! Mudah-mudahan di kemudian hari foto bisa ditambah lagi. Terima kasih.

Selasa, 10 Agustus 2010

Wisata Belanja Hari Minggu ke Gasibu Bandung

Seingat saya sewaktu masih SMP hingga SMA, mendengar kata Gasibu sudah langsung berujar tempat berolahraga umum depan Gedung Sate, selain tempat olahraga sering digunakan sebagai tempat latihan paskibraka, tempat kegiatan kegubernuran, tempat hiburan, atau tempat pameran.

Gasibu yang letaknya di Jalan Diponegoro berhadapan dengan Gedung Sate, tempat Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat Berkantor. Seiring berpacunya waktu, Gasibu yang dahulunya tempat berolahraga massal kini beralih fungsi menjadi tempat berjualan massal. Saya juga tidak mengerti mengapa sarana olahraga bisa berubah fungsi menjadi tempat berjualan. Kalau yang berjualan di sekitar Gasibu banyak, tetapi pada hari Minggu menjadi luar biasa, banyak sekali yang berjualan, hingga tidak ada lagi tempat untuk berolahraga, jangankan untuk berolahraga, jalan menuju Gasibu saja sudah macet.

Adiku sering pergi ke Gasibu, membeli baju, sepatu, serta pernak-pernik. Pada hari Minggu, 8 Agustus 2010 aku diajak oleh adikku ke Gasibu. Aku ikut karena penasaran dengan kondisi Gasibu, seperti apa sih kondisinya. 

Dari rumah aku dan 2 adiku naik angkot jurusan Cileunyi-Cicaheum, turun di Cicaheum ganti angkot, naik angkot lagi jurusan Cicaheum-Ciroyom. Jalan Suci (Surapati-Cicaheum) menjadi lebih lebar tapi sayang tidak ada pohon-pohon rindang di pinggir jalannya. Baru pukul 9 pagi tapi sudah terasa panas. Mengapa setelah memperbaiki jalan tidak lagi menanam pohon agar menjadi teduh seperti ketika aku masih SMP. 

Angkot baru sampai Pusdai tetapi sudah terjebak kemacaetan, kami akhirnya memutuskan untuk turun dari angkot, begitu juga dengan penumpang yang lain segera turun dari angkot. 

Trotoar jalan sudah penuh oleh para pedagang, pinggir jalan sudah penuh oleh kendaraan roda dua yang dijaditan tempat parkir. Adiku mulai melihat ke kanan dan ke kiri apa saja yang sekiranya akan dibeli. Perjalanan menjadi lambat saking sesaknya oleh orang yang lalu lalang, ada yang sekadar melihat-lihat, ada yang membeli barang, ada yang sedang makan, pokonya penuh sesak. 

Menelusuri trotoar jalan sampai ke Jalan Diponegoro, wah penuh perjuangan. Ternyata ada beberapa  jalan yang sengaja ditutup. Keringat semakin bercucuran, adiku asyik mencari barang yang diinginkannya. Ini baru satu tempat, Gasibu, memang kalau hari Minggu di kota Bandung ada beberapa tempat berjualan seperti pasar tumpah, seperti, Samsat, Metro, dan Unpad Jatinangor. Mungkin masih banyak tempat yang menjadi pasar tumpah yang saya tidak tahu.

Untuk meminimalisasi penasaran, saya tampilkan dalam bentuk foto, apa yang terjadi pada Hari Minggu di daerah Gasibu, Bandung. Selamat menikmati....!!!!

 











Anda yang belum pernah ke Gasibu pada hari Minggu, silakan datang, hati-hati ada copet yang selalu mengintai Anda, tidak hanya uang yang jadi sasaran hp pun jadi sasaran empuk para "ahli kerajinan tangan" tersebut!

Selamat berbelanja....!!!!!!!!!!!!!!!!!!!


Rabu, 04 Agustus 2010

Berwisata ke Jogjakarta dan Magelang

Sekian lama berkutat dengan keyboard, monitor, dan printer serta setumpuk kertas yang membuat kondisi jasmani dan rohani menurun. Pada hari Jumat tanggal 23-25 Juli 2010 bersama keluarga besar sekantor akhirnya bisa menikmati liburan. Tempat yang menjadi tujuan wisata kami adalah Jogjakarta dan Magelang. Anda sekalian sudah bisa menebak kalau saya menyebutkan nama daerah itu. Benar, tujuan kami ke Candi Prambanan, Keraton Jogjakarta, dan terakhir ke Candi Borobudur.

Perjalanan menuju daerah Jateng merupakan hal yang pertama bagi saya, ketika SMP ada acara study tour ke Jogjakarta tidak bisa ikut, maklum tidak punya uang. Alhamdulilah, saya bisa menikmati acara liburan ke Jogjakarta dan sekitarnya dengan gratis.

Perjalan Bandung-Jogjakarta memang melelahkan, pagi hari kira-kira pukul lima sudah mulai memasuki daerah Jogjakarta, aromanya sudah mulai terasa. Saya mulai mengalihkan pandangan mata ke kiri dan ke kanan ternyata suasana kota Jogja memang beda dengan Bandung. Sepanjang trotoar jalan memasuki jantung kota tidak melihat pedagang di atas trotoar jalan, kalaupun ada yang berjualan menjorok kedalam tidak di atas trotoarnya. Setiap sudut kota terlihat bersih. Berbeda dengan kota Bandung, yang berjualan di atas trotoar sudah begitu banyak, mereka tidak peduli lagi dengan fungsi trotoar yang sebenarnya, selain dipakai untuk berjualan trotoar di kota Bandung berfungsi juga sebagai lalu lintas kendaraan roda dua. Begitu semrautnya kota Bandung.

Begitu asyiknya melihat kondisi kota Jogja, teman saya berujar, "Kok tidak ada angkot ya?" Mendengar teman saya berujar seperti itu saya baru menyadari, sepanjang jalan saya tidak menemukan angkot. Sekali lagi hal ini berbanding terbalik dengan kota Bandung yang saya cintai, angkot di mana-mana sungguh menyedihkan. Banyak sebenarnya yang ingin saya ceritakan tetapi biarlah gambar-gambar ini yang mewakili sambungan cerita saya.







Semoga senang menikmati gambar-gambar amatir saya.....

Terima kasih

Kamis, 04 Februari 2010

Datang-Pergi-Datang Lagi?

Perpisahan yang tidak bisa dielakkan lagi. Dirimu telah membantu ketenaran Persib kembali diperhitungkan di persepakbolaan Indonesia. Meskipun dirimu tidak main penuh satu putaran kompetisi. Dirimu sekarang sudah pergi, mudah-mudahan dirimu bisa kembali ke Persib di musim kompetisi yang akan datang.

Foto-foto dari www.simamaung.com