Jodhi Yudono |
Selasa, 3 Juli 2012 | 03:58 WIB
Oleh
Asep Fathulrahman dan Mansyur
Memilih
patuh hukum adat atau menyelamatkan nyawa, dua-duanya sama penting dan
hal ini juga dipegang oleh warga Baduy Dalam Kabupaten Lebak Banten.
Tapi,
tetap hanya satu pilihan yang dapat diambil Canirah (25) warga Baduy
Dalam dari Kampung Cikertawana di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar,
Kabupaten Lebak, Banten.
Peristiwa pelik ibarat pepatah "Bagai
Makan Buah Simalakama" itu justru terjadi saat dia harusnya bergembira
menyambut kelahiran anak pertama buah perkawinan dengan Jahadi (29),
sang suami tercinta.
Setelah menanti sembilan bulan, bayi yang
dikandung Canirah "memilih" hari Selasa malam tanggal 15 Mei 2012 pukul
22.30 Wib untuk lahir.
Maka untuk menolong persalinan Canirah,
Jahadi bergegas memanggil Ambu (ibu) Paruga (68), "paraji" atau dukun
beranak yang biasa menolong proses persalinan warga Baduy Dalam.
Di
kalangan warga Baduy Dalam sendiri ada banyak paraji semacam bidan.
Biasanya seorang paraji menangani dua sampai tiga kampung warga Baduy
Dalam.
Sebagian paraji, kebanyakan yang masih muda, sudah
berinteraksi dengan Bidan di Puskemas sehingga mereka sudah mengenal
penggunaan obat pencegah infeksi seperti "betadine" dan "pil
antibiotik".
Sebagian lainya, terutama paraji yang sudah senior,
masih menolak obat modern hingga hanya menggunakan ramuan tanaman dan
jampi-jampi dalam menolong persalinan termasuk Ambu Paruga.
Akhirnya proses persalinan pun berlangsung dan alangkah bahagianya Canirah mendapati bayi laki-laki lahir dalam kondisi sehat.
Namun masih ada yang belum tuntas. Plasenta bayi yang ditunggu-tunggu tak kunjung keluar.
Ambu
berupaya keras menolong dengan membaca semua jampi yang dihafalnya,
tapi hari sudah berganti dan ari-ari bayi yang ditunggu tak juga keluar.
Canirah makin keras didera perut mulas, pening, sesak bercampur baur.
Dia mengusulkan agar Ambu berkonsultasi dengan Bidan Desa di Puskesdes Kanekes.
Ambu yang merasa sarat pengalaman memakai ramuan dan jampi-jampi tetap menolak.
Suhu
tubuh Canirah makin tinggi dan hatinya mulai galau apakah akan meminta
pendapat Bidan Puskesdes yang pasti akan memakai metode pengobatan
modern atau tetap patuh pada ketentuan adat seperti yang ditekankan
Ambu.
Proses pengobatan dilakukan Ambu berlangsung hingga hari keempat dan tidak membuahkan hasil.
Harus operasiTak
tega melihat isteri tercinta makin menderita, hari Jumat (18/6) Jahadi
bersama ayahnya Jaro Sana mengambil inisiatif menemui Bidan Eros Rosita
(40) warga Ciboleger yang berjarak sekitar 35 kilometer dari Cikertawana
tanpa akses kendaraan bermotor yang memadai atau hanya bisa ditempuh
dengan berjalan kaki.
Berangkat sebelum matahari terbit dari
Cikertawana, pukul 10.00 Wib Jahadi baru tiba di rumah Bidan Rosita di
Ciboleger, tentu saja dengan berjalan kaki.
"Begitu mendengar
kabar tentang kejadian yang menimpa Canirah, langsung terbayang betapa
menderitanya dia selama empat hari itu dan tak ada cara lain untuk
menolongnya kecuali dia harus menjalani operasi kiret untuk mengangkat
plasenta bayi yang masih tertinggal," kata bidan Rosita yang memang
sudah empat belas tahun mengabdi naik turun gunung mengobati warga Baduy
yang sakit.
Maka dengan meminta tolong dua bidan lainnya Yeni
(33) dan Yuniarsih (31), mereka langsung merencanakan cara untuk
sesegera mungkin bisa mengevakuasi Canirah ke Rumah Sakit Aji Darmo yang
terletak di Rangkas Bitung, Ibukota Kabupaten Lebak.
Kendalanya
sangat banyak. Canirah sudak dalam kondisi kritis. Medan menuju lokasi
selama ini hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki dan tidak pernah
dilalui kendaraan bermotor.
Hukum adat yang mengikat tidak membolehkan semua warga Baduy Dalam untuk naik kendaraan dalam kondisi apa pun termasuk Canirah.
Ketiga
Bidan Desa itu langsung berembug dengan tokoh Baduy Luar Saija dan
"Jaro tangtu" (tokoh Baduy Dalam) Nasina ditambah Jahadi dan Jaro Sana
yang juga "kokolot" (tokoh) Kampung Cikertawana.
Rembugan
berjalan alot dan nyaris menemui jalan buntu karena semua tokoh Baduy
yang berembug bersikukuh bahwa hukum adat "teu meunang dirobah" (tidak
bisa diubah), maka Canirah harus diobati di rumahnya mengingat larangan
naik kendaraan untuk warga Baduy Dalam.
"Tapi semua tokoh itu tak
bisa menjawab saat ditanya `eta Canirah sina hirup atawa diantep sina
paeh` (apakah canirah akan ditolong supaya hidup atau akan dibiarkan
mati)," kata Rosita, peraih penghargaan Bidan Teladan se-Indonesia itu
seraya mengajukan syarat kalau tak boleh dievakuasi maka Jaro harus
sanggup menyediakan listrik di Cikertawana.
"Keur naon eta kudu
aya listrik sagala? (Buat apa harus ada listrik?)" tanya Jaro Nasina.
"Supaya Canirah bisa ditolong agar tetap hidup dengan menyedot plasenta
dalam rahimnya yang hanya bisa dikeluarkan dengan alat vakum yang
memerlukan listrik," jelas Bidan yang juga sempat meraih penghargaan
Danamon dan SCTV award itu.
"Mun kitu mah kami sumerah, pek bae
kumaha Canirah jeung ibu-ibu bidan (Kalau begitu kami serahkan gimana
Canirah dan ibu-ibu bidan)," kata Jaro Nasina.
Setelah melewati
rembugan sekitar tiga jam akhirnya Canirah dievakuasi ke Puskesdes
Kanekes. Pukul 17.00 baru diambil keputusan dengan persetujuan Canirah
untuk berobat ke RSUD Aji Darmo di Rangkas Bitung.
Putusan paling berat terpaksa diambil Canirah - Jahadi untuk melanggar larangan naik kendaraan demi upaya menyelamatkan nyawa.
"Kami
memutuskan untuk memberikan izin pelanggaran hukum adat karena untuk
menyelamatkan nyawa manusia, namun hukum tetap dijalankan setelah proses
penyembuhan selesai dilaksanakan Canirah-Jahadi seperti yang disepakati
para ketua adat bersama pihak keluarga," ujar Ayah Mursid, selaku salah
seorang Ketua Adat (Jaro Tangtu) Suku Baduy Dalam.
Hukuman adat bagi Canirah dan Jahadi menjalani masa pengasingan di luar Baduy selama 40 hari.
Perjuangan
untuk menyelamatkan nyawa Canirah masih terkendala beratnya medan dari
Kanekes menuju Coboleger yang melewati jalan berbatu dan tanjakan sangat
curam.
Kebetulan suami Bidan Yuni yang berprofesi pedagang getah karet memiliki Hardtop bak terbuka dengan penggerak empat roda.
Maka
kendaraan itulah yang digunakan untuk mengangkut Canirah bersama Jahadi
dan ketiga Bidan Desa sampai ke Ciboleger untuk selanjutnya berganti
kendaraan naik ambulan puskesmas.
Tiba di Ciboleger, ujung
perbatasan Baduy Luar, Jahadi masih tak mengalami gangguan dengan
pengalaman pertamanya naik kendaraan bermotor dalam seumur hidup.
Namun saat tiba di jalan aspal dan rombongan harus berganti kendaraan memakai ambulan Puskesmas, Jahadi mengalami stres berat.
"Saya
baru melihat sekali itu efek stres pada orang yang pertama sekali naik
kendaraan dengan kecepatan tinggi, tiap satu jam Jahadi buang air besar
hingga kami berkali-kali harus berhenti," kenang Bidan Rosita.
Setelah minum pil penangkal mabuk perjalanan, kondisi Jahadi lebih stabil.
Tapi rupanya dia punya cara sendiri untuk meredam rasa stres dengan bersembunyi di kolong jok yang diduduki Canirah.
"Kami
semua sempat kaget karena dicari-cari Jahadi menghilang. Setelah kami
panggil dengan suara keras dia menjawab dari bawah jok `keur nyekelan
korsi pamajikan bisi hiber. (sedang memegangi jok tempat isteri, supaya
tidak terbang)" ujar Bidan Ros menirukan teriakan Jahadi.
Setibanya di RSUD Aji Darmo Canirah langsung menjalani operasi pengangkatan plasenta dan perawatan selama 4 hari.
"Saya
kagum dengan ketahanan kondisi tubuhnya yang luar biasa, mana ada 5
hari plasenta dalam rahim yang sudah terinveksi kuman tapi masih bisa
berjalan tegak. Pasien biasa paling kuat hanya satu hari setelah itu
kritis. Karena itu saya percaya sumber
makan an alami serta lingkungan yang tidak tercemar sumber kekuatan luar biasa sehingga kita wajib menjaga
makan an dan lingkungan kita," ujar dr Priyono SPOG yang merawat Canirah.
Sumber :ANT