Bahasa Indonesia, Basa Sunda, Bahasa Asing, Kamus, Fotografi, Sejarah, Budaya, Dongeng, Teknologi, Kesehatan, Hukum dan Kriminal, Konservasi, Kuliner, Pembangunan, Krisis, Tokoh, Olahraga, Pertanian, Perkebunan, Perikanan, dan Jalan-Jalan. (Indonesian Language, Sundanese Language, Foreign Languages, Dictionary, Photography, History, Culture, Story, Technology, Healthy, Law and Criminal, Conservation, Development, Crisis, Figure, Sports, Agriculture, Plantation, Fishery, and Travelling)
Kamis, 05 Maret 2009
(Susahnya) Membuang sampah pada tempatnya!!!!!!!!
Orang tua kepada anaknya, "Nak, buanglah sampah pada tempatnya!".
Apakah terpikir oleh kita, bagaimana seandainya si anak yang bertanya kepada orang tuanya.
"Ibu , ayah sudahkan membuang sampah pada tempatnya, kok ade belum lihat?"
Apakah orang tua akan memberikan jawaban yang jujur atau berbohong!
Selama ini kita hanya bisa menyuruh orang lain untuk membuang sampah pada tempatnya. Akan tetapi, apakah diri kita juga sudah melaksanakan membuang sampah pada tempatnya. Sudah seharusnya para orang tua itu memberikan contoh nyata cara membuang sampah, jangan hanya bisa menyusuh!
Apakah kita sadar dengan membuang puntung rokok, bungkus permen, dan bekas makanan dari balik jendela mobil adalah contoh nyata dari para orang tua kita!
Membuang sampah memang dianggap sepele, justru karena sepele maka menjadi bermasalah. Kota Bandung sudah mengalaminya semenjak terjadinya longsor TPA Leuwigajah, Pemerintah Kota Bandung kebingungan membuang sampah. Tidak harus menunggu lama maka terjadilah "Bandung Lautan Sampah".
Orang nomor satu di Indonesia pun turut memberi teguran, karena menjelang diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika (KAA).
Walikota pun kebingungan bagaimana mengatasi masalah sampah di Kota Bandung. Muncul ide membuat Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
Akan tetapi, ide PLTSa pun ditentang warga karena lokasinya yang berdekatan dengan permukiman.
Mengapa Pemerintah Kota Bandung, begitu ragunya untuk bekerja sama dengan Institusi Pendidikan terkemua seperti ITB, Unpad, dan UPI untu memecahkan kebuntuan menanggulangi masalah sampah.
Kesadaran warga Kota Bandung juga masih rendah, masih banyak yang tidak peduli dengan kebersihan lingkungannya. Mengapa setiap turun hujan selalu terjadi banjir di Kota Bandung.
Warga pun dengan enteng menjawab sudah biasa tempatnya jadi langganan kebanjiran.
Banyak selokan atau got yang mampet, warga Kota Bandung terkesan tidak acuh terhadap lingkungannya yang kotor. Apabila banjir sudah melanda, baru warga Kota Bandung sibuk, seolah-olah menjadi warga yang peduli dengan kebersihan lingkungan.
Selain got dan selokan yang mampet, penyebab lainnya trotoar jalan dijadikan tempat untuk berjualan/usaha. Kemudian mereka membuang sampahnya ke selokan tersebut.

Ada kabar menarik dari adikku, ketika temannya (pegawai Dinas Kebersihan Kota Bandung) yang melakukan pelatihan teknis masalah sampah ke Jepang. Menurut orang Jepang, kondisi Kota Bandung saat ini sama dengan kondisi Jepang 40 tahun yang lalu.

Lalu apakah kita harus menunggu selama itu untuk membuat masyarakat sadar akan kebersihan. Waduh, delapan kali pemilu di Indonesia. Ganti pemimpin belum tentu akan memprioritaskan masalah sampah. Yang dibahas lebih penting masalah ekonomi, pendidikan pertahanan dll., masalah sampah mungkin ada diurutan kesekian.
Memang sudah ada institusi yang memberlakukan cara membuang sampah, yakni dengan cara memisahkan sampah organik dan nonorganik. Akan tetapi, masih banyak warga Kota Bandung yang belum paham dengan pemisahan tersebut.
Ada sebagian warga kota yang sudah memisahkan sampah organik dan nonorganik. Akan tetapi, karena tempat pembuangan sampahnya hanya satu dan hanya itu-itu juga tempatnya, jadi percuma karena tetap saja oleh tukang sampahnya tetap disatukan sampah organik dan nonorganiknya. Hal ini menjadi usaha yang sia-sia.

Di musim penghujan ini, apakah warga kota akan pasrah dengan datangnya banjir menghampiri tempat kediaman kita dan cukup mengatakan "Ini musibah tahuhan".
Setelah tempat kita terkena banjir, lantas kita memelas ke pemerintah kota meminta bantuan, bahwa rumahnya dan segala harta bendanya raib dibawa oleh banjir.

Mudah-mudahan generasi kita yang akan datang bisa menyelesaikan krisis susahnya membuang sampah.
Sebenarnya cara penanganan sampah sudah banyak yang berhasil, terutama di negeri orang! Mengapa kita tidak belajar dari mereka yang sudah berhasil menangani masalah sampah.
http://www.sjrecycles.org/residents/rec_garb.asp
Semoga warga kota bisa lebih peduli lagi dengan kebersihan.
Semoga warga kota tidak membuang sampah sembarangan.
Berikan contoh nyata kepada putra-putri kita bagaimana cara membuat sampah!
Selasa, 27 Januari 2009
Akankah kita ditipu oleh mereka lagi?

Pemilihan calon legislatif tinggal 3 bulan lagi. Genderang pertarungan sudah ditabuh oleh para caleg. Segala cara dilakukan agar bisa terpilih, baik pendatang baru maupun yang sudah merasakan enaknya jadi anggota legislatif ikut bertarung lagi.

Fenomena ini begitu membahana, hingga masyarakat kebingungan, karena saking banyaknya partai dan banyaknya calon anggota legislatif semuanya memberikan janji dan kata-kata manis layaknya iklan sebuah produk.

Untuk menjadi calon anggota legislative memang tidak begitu sulit berikut persyaratannya:
Berdasarkan pada Undang-Undang No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh seseorang untuk bisa mengajukan diri sebagai calon legislatif / caleg, yaitu sebagai berikut di bawah ini :
1. Warga Negara
2. Berumur / Berusia Minimal 21 Tahun
3. Bertempat Tinggal di Wilayah NKRI (Negara Kesatuan Repubik
4. Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
5. Minimal Tamat / Lulus SMA atau sederajat
6. Setia kepada Pancasila, UUD 1945 dan Cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945
7. Sehat Jasmani dan Rohani
8. Bersedia bekerja penuh waktu/full time
9. Terdaftar sebagai pemilih pada pemilu
10. Anggota Parta Politik
11. Siap bersedia tidak praktek notaris, akuntan dan advokat
12. Pegawai / Anggota PNS, TNI, Polri, BUMN, BUMD harus mengundurkan diri
13. Bersedia tidak rangkap jabatan negara, badan negara, bumd dan bumn
14. Tidak pernah masuk penjara dengan ancaman pidana
15. Dicalonkan di satu lembaga perwakilan dan satu daerah pemilihan
16. Cakap berbicara, menulis dan membaca dalam Bahasa Indonesia
17. Bisa Membaca Al-Quran (khusus caleg lokal NAD)
- Sumber : UU Nomor 10 / 2008 Republik
Menurut Anda apakah masih ada yang kurang mengenai syarat menjadi caleg ini?
Silakan pikirkan sendiri…? He…he…

Begitu mudahnya persyaratan untuk menjadi caleg, maka berbondong-bondonglah warga


Sejauh ini belum ada mekanisme yang jelas mengenenai seleksi calon legislatif, yang ada sekarang ini baru sebatas laporan masyarakat kepada KPUD/KPU mengenai sang calon yang dianggap cacat atau curang.
Sudah bukan cerita baru, kalau mereka pekerjaanya tidur dan jalan-jalan, meskipun memang ada yang benar-benar bekerja, tapi kenyataanya saudara-saudara sudah lebih dari tahu bagaimana tindak tanduk anggota dewan yang terhormat itu.
Baru-baru ini stasiun TV swasta menayangkan program Uji Kandidat, ternyata hasilnya sungguh luar biasa para calon anggota tersebut banyak yang tidak tahu mengenai keberadaan wilayahnya, fantastis. Ketika diuji materi UUD45 juga banyak yang tidak tahu! Wow, hebat. Para calon diuji dalam sesi tanya jawab pun memberikan penjelasan yang tidak kalah ngawurnya, dramatis sekali.
Selamat memilih.............
Rabu, 31 Desember 2008
Pedagang Bangkitkan Islam Kembali di Cina
Rabu, 24 Desember 2008 pukul 13:44:00

QANTARA.DE
Jamaah muslim di Cina usai melaksanakan sholat
GUANGZHOU - Islam kembali datang dan menguat di Guangzhou, salah satu kota pusat perdagangan di Cina, sekaligus tempat pertama kali Islam tiba di daratan tersebt seribu tahun lalu oleh para pedagang.
"Pemahaman saya tentang Islam telah meluas dan mendalam kini," ungkap Jin Lei, seorang muslim dari propinsi Shandong, yang baru pindah ke Guangzhou, seperti yang dikutip oleh China Daily, 23 Desember lalu.
"Ketika saya bertemu dengan muslim dari negara-negara berbeda, saya menjadi tahu jika Islam bukan terbatas pada ritual dan masjid, melainkan cara hidup," tambah Jin Lei.
Guangzhou kini menjadi rumah bagi empat masjid termasuk Majid Huaisheng yang terkenal. Masjid Huaisheng didirikan oleh salah satu paman sekaligus sahabat dekat Rasul Muhammad, Sa'ad bin Abi Waqqas.
Kota juga memiliki sebuah makam yang diyakini makam Sa'ad bin Abi Waqqas. Kini kota itu kembali menjadi pusat tujuan pedagang muslim. Seperti pedagang yang mengenalkan Islam pertama kali ke Cina, mereka kini dihargai karena membangkitkan kembali Guangzhou.
"Situasi sosial komunitas muslim saat ini di Guangzhou, mirip dengan jaman Dinasti Tang," ujar Ma Qiang, asisten profesor studi etnologi dan keagamaan di Universitas Normal Shaanxi.
"Kedua komunitas berbeda tak jauh dengan kondisi saat China pertama kali membuka diri dan memiliki perekonomian makmur," imbuh Ma, seorang cendekia muslim yang menulis komunitas muslim Guangzhou sebagai tema desertasi doktoralnya.
Kota itu sejak lama terkenal sebagai salah satu pusat perdagangan internasional yang menarik pedagang muslim dari Timur Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara selama bertahun-tahun.
"Saya pertama kali datang ke Cina pada 1999. Saya jatuh cinta dengan kota ini dan sejak itu hampir sebagain besar waktu tinggal di sini," aku Mohamed Ali Algerwi, pengusaha Yaman berusia 39 tahun.
"Ia telah mendirikan perusahaan swasta pribadi di Guangzhou dan kini mengekspor aksesoris mobil, keramik, ban, aksesoris kendaraan, dan kosmetik ke negara-negara Arab.
Sementara Abdul Bagi Al-Atwani, 38 tahun juga pengusaha Yaman, mengaku datang pertama kali ke Cina 15 tahun lalu sebagai pelajar. Ia pindah ke Guangzhou pada 1999 dan kemudian memulai bisnsi perdagangan antara Cina dan negara-negara Arab.
"Saya suka Guangzhou. Ini tempat yang baik untuk berbisnis dan tinggal," tutur Al Atwani seraya mengaku memiliki restoran dalam bahasa Cina yang fasih.
Banyak toko di pusat perbelanjaan Guangzhou, meyajikan barang-barang untuk melayani pedagan muslim luar, menyediakan mereka barang-barang Islami, kebutuhan sehari-hari seperti pakaian Arab dan Afrika, bahkan Al Qur'an elektronik.
Tanpa pendatang muslim luar, banyak dari kita menjadi penganggguran," ungkap Fang Qinghaou, pemilik toko di Pusat Komersial Internasional Honghui. "Ketika waktu sholat tiba, mereka kadang sholat di toko saya. Saya bantu menyediakan lembaran papan, atau kertas untuk mereka bersujud," kata Fang
"Saya paham jika mereka memiliki keyakinannya sendiri, namun kita tidak membicarakannya. Kami hanya berbicara bisnis," ujar Fang lagi.
Islam di Guangzhou sendiri sempat menurun pada abad ke-20, dan sensus nasional tahun 2000 lalu mencatat, muslim di wilayah kota itu hanya 9.838, orang. Lalu setelah itu tidak ada laporan lagi.
Kini menurut Asosiasi Islami Guangzhou, jumlah muslim tinggal di kota itu meningkat sekitar 50 ribu hingga 60 ribu orang. Wang Wenji, wakil presiden organisasi tersebut mengatakan lebih dari 10 ribu jamaah melakukan sholat Jumat di empat masjid kota.
Kapasitas masjid yang tak mampu menampung keseluruhan jamaah, seringkali membuat warga muslim sholat di trotoar depan sekitar masjid. "Pertama kali penduduk lokal bingung melihat para jamaah. Namun kini mereka telah terbiasa dengan pemandangan itu," ujar Bai Lin, imam Masid Xiaodongying.
"Penduduk di Guangzhou sangat berpikiran terbuka," kata Bai lagi.
Sehingga tidak heran bila di kota itu banyak pula ditemukan restoran halal, terutama di area konsentrasi muslim, yang menawarkan masakan Arab, Cina, Afrika, dan Thailand./it
Konvensi Besar "Kebangkitan Islam" di Kanada
Kamis, 25 Desember 2008 pukul 13:59:00

MECCA.COM
Suasana bazar pada konvensi "Reviving the Islamic Spirit," tahun 2007 lalu.
TORONTO - Muslim di Kanada bakal punya hajatan besar. Konvensi tahunan besar berjudul "Reviving the Islamic Spirit" atau Membangkitkan Spirit Islam yang menghadirkan pembicara muslim dari penjuru akan saja diselenggarakan di Kanada 26 Desember esok.
"Dengan rata-rata pengunjung 15 ribu partisipan per tahun, konvensi ini menjadi pusat perhatian berbagai kelompok berbeda", ujar Nadir Shirazi, sekretaris pers acara konvensi tersebut seperti yang dikutip oleh IslamOnline.
Ribuan orang dari seluruh penjuru Amerika Utara akan mengalir ke Toronto pada hari Jumat mendatang untuk mengikuti pembukaan konferensi tiga hari tersebut.
Acara yang diorganisais grup para aktivis pemuda Muslim Kanada--yang dianggap sebagai perkumpulan muslim terbesar di Kanada, menggemakan semangat konvesi serupa di AS, yakni Kovensi Masyarakat Islami Amerika Utara.
Tahun ketujuh konvensi kali ini bertema "Menjawab panggilan Tuhan, Pembawa pesan, Menempatkan Prioritas Ajaran Nabi bagi Muslim di Barat,"
Acara itu nanti akan diikuti bazar dengan penjual dari seluruh Amerika Utara menjajakan dan mempromosikan produk serta layanan mereka. "Ini tentu akan menggerakkan aktivitas ekonomi di dalam kota," ujar Shirazi.
Sebuah konser juga bakal digelar di akhir acara, dengan pertunjukkan nasheed, termasuk artis Pakistan ternama, Junaid Jamshed dan penyanyi Inggris Mesut Kurtis. Penyelenggara berharap hasil besar tahun ini mengingat konvensi jatuh saat libur Natal di Kanada.
Sejak diselenggarakan pertama kali di tahun 2003, konvensi tersebut menjadi salah satu konferensi muslim penting di Amerika Utara. Pengunjung bertambah setiap tahun, mulai dari 3.500 orang pada konferensi pertama, hingga 15 ribu orang pada konferensi terakhir 2007 tahun lalu. Jumlah itu pun diprediksi akan meningkat pada tanggal 26 Desember nanti.
Sejumlah ulama muslim dari berbagai belahan dunia akan menjadi pembicara di konvensi tersebut. Mereka diantaranya ialah Hamza Yusuf, dan Yahya Rhodus dari AS, Tariq Ramadan dari Swiss, lalu Jamal Badawi dari Kanada sendiri, dan Tareq Suwaidan asal Kuwait.
"Dengan membawa berbagai warna pembicara ke Toronto, salah satu kota dengan ragam perbedaan terkaya di dunia, kami berharap mampu membangun institusi nyata dan berarti untuk hidup bersama dan berkontribusi di Kanada," ujar Fouzan Khan, pendiri dan direktur konvensi tahunan itu.
Selama tujuh tahun berlangsung, konvensi tersebut juga menjadi perhatian tokoh-tokoh non Muslim, termasuk jurnalis ternama Inggris Robert Fisk, aktivis politik sekaligus rabi Amerika Michael Lerner, dan politisi plus pemain kriket Pakistan, Imran Khan.
Penyelenggara juga meyakini keragaman yang diberikan tiap pembicara berbeda mencerminkan wujud nyata masyarakat muslim Kanada yang memiliki rasio 1,9 % dari 32,8 juta populasi total penduduk.
"Muslim di Kanada adalah warga global, dan lebih terhubung dengan kemanusiaan seluruh dunia dari pada sebelumnya," ungkap Khan.
Dalam sebuah survei terakhir menyebutkan jika hampir seluruh muslim bangga menjadi warga negara Kanada dan lebih berpendidikan dibanding populasi pada umumnya./it
Sepeda Motor Listrik Honda E4-01 Diproduksi 2010

MOTOR PLUS/GIZMAG
JAKARTA, SELASA – Pabrikan motor Honda Jepang, Honda Motor Company (HMC) bakal merampungkan proyek roda dua bertenaga listrik atau electric motorcycle (EM) pada 2010. Konsep ini sesuai sesuai dengan kampanye Honda demi lingkungan hidup yang sudah diteriakkan lima tahun silam.
Hal ini disampaikan oleh Presiden Direktur HMC Takeo Fukui yang dikutip salah satu website roda dua di dunia, pertengahan Desember lalu. “Motor listrik akan meredam zat berbahaya seperti C02. Tahap awal akan diproduksi motor listrik untuk kebutuhan jarak pendek. Dua tahun ke depan, jadwal penting untuk menduniakan motor listrik Honda,” ungkap Fukui.
Sekitar 3 – 4 tahun silam, Honda memang gencar memperkenalkan motor listrik. Ajang Tokyo Motor Show (TMS) dimanfaatkan sebagai kampanye EM. Ambil contoh Honda E4-01 mulai dipajang di TMS 2004 yang kemudian dikembangkan terus dari Honda Griffone dengan basis mesin 900 cc. Beratnya, di bawah 200 kg.
Ucapan Fukui bisa jadi maklumat yang kemungkinan berimbas ke Indonesia. Direktur Marketing PT Astra Honda Motor Johannes Loman belum memberi jawab positif. “Kami belum bisa memaastikan hal ini. Sepanjang teknologi itu (motor listrik, red) cocok untuk Indonesia, kami akan mempelajarinya,” tegas Loman. (Niko)
Ekspresi Wajah Bawaan Lahir

Bob Willingham
Perbandingan senyum antara penerima perak yang memiliki penglihatan normal (kanan) dengan yang tidak dapat melihat (tuan netra).
EKSPRESI wajah tak dapat menyembunyikan perasaan dan emosi seseorang. Hal tersebut kelihatannya muncul secara alami tanpa harus dilatih. Berdasarkan penelitiaan teranyar yang dimuat Journal of Personality and Social Psychlogy menunjukkan bahwa ekspresi emosi seseorang ditentukan gen.
Ekspresi wajah seseorang mungkin sudah terbentuk dengan sendirinya dan diturunkan sejak lahir. Faktor meniru atau berlatih tidak terlalu menentukan seperti apa ekspresi seseorang.
Dalam penelitian itu, dibandingkan ekspresi wajah antara orang tuna netar dengan orang yang berpenglihatan normal. Ternyata gerakan otot mukanya relatif sama dan membentuk ekspresi yang serupa.
"Ini menunjukkan bahwa terdapat sifat genetik yang mengatur sumber ekspresi emosi," ujar David Matsumoto, profesor psikologi dari San Fransisco Satte University. Penelitian tersebut menyimpukan bahwa ekspresi wajah tidak ditentukan dari hasil pengamatan.
Bahkan, Matsumoto menemukan baik orang yang berpenglihatan normal maupun penyandang tuna netra sama-sama mengatur ekspresi wajah dengan cara yang sama berdasarkan konteks sosial yang dihadapi. Misalnya ekspresi "senyum sosial" peraih medali perak saat penyerahan medali usai final pertandingan olimpiade.
Senyum yang diperlihatkan peraih perak umumnya hanya mengaktifkan otot mulut. Berbeda dengan senyum bebas (biasa disebut senyum Duchenne) yang juga melibatkan otot sekitar mata dan otot pipi.
"Orang yang kalah menekan bibir bawah ke atas untuk mengendalikan emosinya di wajah," jelas Matsumoto. Tuna netra mustahil memperoleh cara berekspresi seperti itu dari pengamatan yang dilakukan orang lain. Artinya ada faktor genetik yang mengendalikannya. Namun, gen yang mana tentu butuh penelitian lebih lanjut melalui percobaan.
Sumber : PHYSORG
Pendidikan di Indonesia Masih Menyedihkan

Sepanjang tahun 2008, dunia pendidikan di Indonesia tidak ditandai perubahan berarti, sehingga membuat wajah pendidikan tetap menyedihkan. Persoalan-persoalan yang sejak lama muncul mewarnai wajah pendidikan negeri ini, belum menunjukkan penyelesaian ke arah yang lebih baik.
Demikian disampaikan mantan Ketua Komite Aksi Mahasiswa Unpad (KAMU) Oky Syeiful Harahap di depan peserta "Malam Renungan Pendidikan 2008" yang diselenggarakan Forum Aktivis Bandung (FAB) di Sekretariat FAB, Senin (29/12).
Disebutkan Oky, tahun 2008 ditandai dengan dua fenomena penting di dunia pendidikan. Pertama, keputusan konstitusi mengenai keharusan pemerintah mengalokasikan anggaran sedikitnya 20 persen untuk bidang pendidikan. "Keputusan tersebut seolah-olah berpihak pada dunia pendidikan, padahal nyatanya tidak sama sekali," ujarnya.
Kemudian, fenomena kedua yang cukup krusial terjadi tahun ini ialah saat DPR mengesahkan Rancangan Undang Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP) menjadi Undang-undang di tengah kontroversi dan penolakan yang masih ramai. "Sudah sejak lama pemerintah senang membuat peraturan baru hingga jumlahnya bertumpuk. Akan tetapi, tidak satu pun yang diterapkan dengan baik," ujarnya.
Ia mencontohkan, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) , hingga kini tujuannya sama sekali tidak jelas. Untuk itu, pengesahan UU BHP ini semestinya dijadikan momentum untuk bergerak menuntut adanya perubahan demi pendidikan Indonesia yang lebih baik lagi," tutur Oky.
Tidak responsif
Pakar hukum dari Universitas Pasundan Bandung Anthon Freddy Susanto menyatakan, banyaknya penolakan yang muncul pascapengesahan UU BHP menunjukkan aturan tersebut sama sekali tidak responsif karena sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai yang ada di masyarakat.
"Lama-lama aturan tersebut akan makin represif dan ujung-ujungnya akan berakibat pada tindak kekerasan yang menimpa lembaga pendidikan. Kalau sudah demikian, kembali masyarakat yang akan dirugikan," kata Anthon. Kearifan lokal yang dimiliki masyarakat pun akan makin tergerus kapitalisme pendidikan.
Menurut Anthon, pendidikan di Indonesia semestinya jangan terlalu terpaku pada kebijakan regulasi. Sebab, Indonesia sudah dibanjiri produk hukum di bidang pendidikan yang masih rapuh dan miskin implementasi. Sementara semakin banyaknya undang-undang seolah memperlihatkan nilai moral yang terkandung di masyarakat selama ini tidak baik.
Semestinya Indonesia berkaca pada Jepang, Korea, dan Cina. Di ketiga negara tersebut, sistem pendidikan yang disusun pemerintah dapat berjalan seiring dengan pendidikan yang dilaksanakan berdasarkan kearifan lokal yang ada.
Dalam kesempatan yang sama, Anggota Komisi D DPRD Kota Bandung Arif Ramdani mengurai empat hal yang merupakan permasalahan di Kota Bandung. Keempat permasalah tersebut berada di kebijakan, fungsi DPRD, kebijakan di tingkat Dinas Pendidikan, dan juga satuan tingkat pendidikan.
Permasalahan kebijakan ditandai dengan banyaknya peraturan yang tidak sinkron antara satu dengan yang lain. Kemudian, permasalahan pada fungsi DPRD terlihat saat penentuan besaran anggaran untuk pendidikan. "Selama ini yang memiliki wewenang membahas untuk kemudian menentukan besaran anggaran ialah panitia anggaran. Semestinya komisi terkait perlu pula dilibatkan, karena mereka yang tahu permasalahan di dunia pendidikan untuk kemudian menentukan besaran anggaran yang dibutuhkan hingga akhirnya memudahkan dalam hal menjalankan fungsi pengawasan," kata Arif. (A-184)***