Kamis, 27 Oktober 2011

Balada Si Pengendara Sepeda Nyoman Minta

| Jodhi Yudono | Selasa, 25 Oktober 2011 | 18:36 WIB





Kompas.com/Jodhi Yudono
Nyoman Minta si pengendara sepeda yang melintas di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat pembukaan ASEAN Fair di Nusa Dua, Senin (24/10).


KOMPAS.com — Panas kian menyengat saat pria pembawa acara yang berseragam merah-merah mengumumkan bahwa tim akrobatik udara dari Kementrian Pertahanan sebentar lagi akan melintas di angkasa Nusa Dua, tempat acara launching ASEAN Fair 2011 berlangsung. Akrobatik udara ini juga dimaksudkan karena bertepatan dengan pertemuan menteri-menteri pertahanan se-ASEAN, acara peresmian akan ditutup dengan pertunjukan akrobat udara (air show) dari Kementerian Pertahanan.

Di panggung kehormatan, tampak Presiden didampingi Ibu Negara Anie Yudhoyono yang asyik memotret rangkaian peristiwa yang berlangsung sejak pukul 09.00 Wita itu. Di belakang Presiden dan Ibu Anie, tampak putra mereka dan tunangannya yang akan menikah bulan depan, yaitu Edhie Baskoro Yudhoyono dan Aliya Rajasa.

Selain calon pengantin itu, hadir pula Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa dan istrinya, Okky Rajasa. Posisi duduk mereka tepat mengapit Presiden dan Ibu Ani. Selain mereka, kursi di posisi depan di panggung utama juga tampak dua tokoh lainnya, yaitu Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu dan suami serta Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan istri.

Sementara itu, di sisi kiri panggung, tampak beberapa menteri yang terlihat kepanasan lantaran sinar pagi menyengat mereka, di antaranya Menko Polhukam Djoko Suyanto dan istri, Menko Kesra Agung Laksono dan istri, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa dan istri, Sekretaris Kabinet Dipo Alam, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, serta Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan. Bahkan, Djoko Suyanto, Sudi Silalahi, dan Dipo Alam menggunakan kacamata hitam untuk menghalau sinar matahari.

Acara akrobatik pesawat yang digelar TNI AU merupakan acara pungkas dari serangkaian acara pembukaan ASEAN Fair yang berlangsung pada Senin (24/10/2011).

Sebelumnya, Presiden telah memukul kentongan, pertanda acara telah resmi dibuka, kemudian dilanjutkan dengan aneka pertunjukan berupa pameran mobil hias yang menggambarkan karakter dari setiap negara anggota ASEAN serta prosesi bleganjur (gamelan yang "berjalan") dan arak-arakan ogoh-ogoh logo "Hello ASEAN". Selain itu, juga diramaikan dengan arak-arakan 30 perkusi Indonesia dan parade 30 penari Indonesia.

Dari arah timur laut, terdengar suara menderu. Lima pesawat udara yang diterbangkan dari Lanud Adisucipti, Yogyakarta, dengan gagah melintas di angkasa Nusa Dua. Tepuk tangan disertai decak kagum terdengar berkali-kali setiap tim akrobatik udara itu melintas dalam berbagai formasi.

Saat semua undangan dan peserta upacara pembukaan ASEAN Fair terkagum-kagum dengan aksi udara para prajurit TNI AU itulah, mendadak seorang lelaki tua dengan sepeda onthel melintas di area acara. Saat mendekati panggung utama, tampak seorang lelaki gondrong berbadan tinggi besar mengejarnya dari belakang. Dan... hups! Lelaki pengejar itu pun berhasil menangkap boncengan sepeda yang berisi muatan kelapa. Dua orang lelaki muncul membantu si gondrong menghentikan laju sepeda. Selanjutnya, sepeda dan penunggangnya bukan cuma berhenti, tapi langsung terguling di jalan beraspal, persis beberapa meter dari tempat duduk kepala negara.

Pengendara sepeda pun langsung digelandang menepi. Dia tak cuma ditanyai oleh aparat keamanan, tetapi juga oleh serombongan wartawan yang langsung mengerumuninya. Maka, diketahuilah, pak tua pengendara sepeda itu bernama Nyoman Minta berusia sekira 60 tahun. Dia adalah petugas Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Badung yang sehari-hari membersihkan kawasan perhotelan Nusa Dua. Saat kejadian itu, tak kurang dari Pangdam Udayana Mayjen TNI Leonard Louk dan Kapolda Bali Irjen Totoy Herawan Indera ikut menanyai langsung.

"Saya mau pulang, saya tidak tahu ada acara Presiden," ujar bapak renta yang di sepeda onthelnya terdapat karung berisi kelapa, kayu dan rumput.

Nyoman berkisah bawah jalur yang dilewatinya di dekat Presiden SBY dalam pembukaan ASEAN Fair adalah rutenya sehari-hari dalam bekerja sebagai petugas kebersihan di area Bali Tourism Development Corporation (BTDC), Nusa Dua.

Kepada para wartawan dan polisi, dia mengaku hendak pulang ke rumahnya di daerah Mumbul di luar area Nusa Dua.

Pak Nyoman pasti tak pernah mengira, kejadian pagi itu akan membuat banyak orang repot, termasuk dirinya. Bayangkanlah, setelah dirinya gagal melintas di jalan yang biasa ia lalui, dirinya pun lalu ditangkap dan diinterogasi. Maklumlah, trauma terhadap bom teroris, apalagi ini di Bali, telah membuat orang gampang bercuriga. Atas nama curiga itu pula, Pak Nyoman pun harus menjalani pemeriksaan oleh petugas keamanan dan polisi.

Pak Nyoman tak repot sendirian setelah kejadian tersebut, sejumlah aparat keamanan, terutama Pasukan Pengamanan Presiden, dibuat kalang kabut. Gara-gara Pak Nyoman bisa melenggang hingga beberapa meter jaraknya dari tempat duduk Presiden, Paspampres pun dipertanyakan kesanggupannya bekerja.

Bagaimana bisa, tempat yang konon telah disterilkan itu masih kebobolan. Bayangkanlah, jika itu bukan Pak Nyoman, melainkan seorang teroris dengan bom sebesar kelapa di boncengan sepedanya.

Menyimak peristiwa ini, rasanya kita justru harus berterima kasih kepada Pak Nyoman. Gara-gara beliau itulah, kita jadi semakin tahu betapa masih lemahnya pengamanan terhadap diri seorang Presiden Republik Indonesia. Gara-gara Pak Nyoman itulah, seharusnya Pasukan Pengamanan Presiden jadi bisa belajar untuk lebih fokus ke pekerjaan ketimbang ikut asyik menonton acara yang juga ditonton oleh tuannya. (JY)

Belalang Bingung Menggaruk Kepalanya

Terekam oleh Fotografer

Kamis, 27/10/2011 - 06:06


DAILY MAIL/"PRLM"
Bingung, apa yang mesti dilakukan selanjutnya?


LEICESTERSHIRE, (PRLM).- Dengan mengangkat kaki depannya ke kepala setelah hinggap di atas bunga, belalang ini seakan bingung apa yang mesti ia dilakukan selanjutnya. Bak fotomodel, belalang itu tampak seperti manusia menggaruk kepalanya.

Aksi lucu belalang tersebut berhasil diabadikan fotografer amatir Matt Cole (40) di Cagar Alam Lount, Leicestershire, Inggris. "Selalu menarik untuk memotret binatang atau serangga tengah melakukan sesuatu yang sedikit tidak biasa," kata Matt dari Ashby de la Zouch, seperti dilansir laman dailymail.co.uk, Rabu (26/10).

"Entah belalang itu tengah menggaruk-garuk kepala karena bingung, atau bertanya-tanya apa yang saya lakukan di sana," tambahnya.

Matt menambahkan: "Anda perlu banyak usaha, teknik, dan komposisi untuk melakukannya, namun kadang-kadang Anda membutuhkan sedikit keberuntungan untuk memberikan gambar yang menarik ini." (Aya/A-88)***

Berawal dari Foto Menjadi Gerakan #JembatanAnakBangsa

| Tri Wahono | Selasa, 25 Oktober 2011 | 15:58 WIB


KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
Murid SDNegeri Cicaringin 3, Kecamatan Gunung Kencana, Lebak, Banten meniti kawat baja menyeberang Sungai Ciliman saat berangkat ke sekolah, Rabu (18/5/2011). Lambannya pemerintah membangun infrastruktur membuat mereka harus rela berjalan kaki sejauh enam kilometer pergi pulang untuk mencapai sekolah dan berisiko terjatuh ke sungai.


KOMPAS.com — Siapa tidak terenyuh melihat anak-anak sekolah dasar berseragam putih merah menyeberangi jembatan besi yang membentang di atas sungai tanpa pengaman. Foto yang menggambarkan betapa besar perjuangan anak-anak untuk menuntut ilmu itu menarik simpati banyak orang di jejaring sosial Twitter.

Berawal dari foto tersebut, kini lahir sebuah gerakan sosial dengan tagar #JembatanAnakBangsa. Gerakan yang mulai bergaung pada Selasa (26/10/2011) ini didukung oleh sejumlah tokoh di dunia maya, antara lain, Rene Suhardono (@renecc) dan Fahira Idris (@fahiraidris).

"Manteman, let's do something for these children. Kami sepakat mengadakan fundraising buat #JembatanAnakBangsa. Yuk! http://lockerz.com/s/150073119," tulis Rene di akun Twitter-nya. Ia pun mengajak semua orang untuk mengumpulkan dana bersama untuk membuat jembatan yang layak untuk mereka.

Foto tersebut diambil oleh fotografer Kompas.com Kristianto Purnomo di Desa Cicaringin, Kecamatan Gunung Kencana, Lebak, Banten, pada 18 Mei 2011. Foto yang diberi judul "Meniti Kawat Baja" itu menggambarkan rekaman para murid SDN Negeri Cicaringin 3 yang sedang meniti kawat baja untuk menyeberangi Sungai Ciliman.

Foto tersebut, selain telah dimuat di Kompas Images dan Kompas.com sebagai foto cerita, juga diterbitkan sebagai foto headline di sejumlah koran di lingkungan Kompas Gramedia. Foto itu kemudian berhasil menyabet anugerah Mochtar Lubis Award IV 2011 untuk kategori Foto Jurnalistik.

Selain itu, pada Juli lalu, foto yang sama juga menerima medali perunggu untuk kategori Single, Common Prosperity of Human Beings (Improvement of Human Living and Wellbeing), di ajang Yonhap International Press Photo Awards dan meraih 10 besar untuk kategori Story.

Demi Sertifikasi, Guru Mengajar di Dua Sekolah

Sertifikasi Guru

| Inggried Dwi Wedhaswary | Kamis, 27 Oktober 2011 | 13:36 WIB



shutterstock
Ilustrasi

BANTUL, KOMPAS.com — Guru sekolah dasar di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, diperbolehkan mengajar di dua sekolah guna memenuhi jam mengajar selama 24 jam seminggu sebagai syarat sertifikasi. Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi Bina Program Dinas Pendidikan Dasar Bantul Juwahir mengatakan, banyaknya jumlah guru mata pelajaran tertentu menyebabkan guru tidak memiliki kesempatan jam mengajar yang disyaratkan.

"Ada peraturan bagi guru yang bisa menambah jam mengajar, yaitu mengajar di lain sekolah sederajat yang masih membutuhkan guru," kata Juwahir di Bantul, Kamis (27/10/2011).

Juwahir mengatakan, ada peraturan dari Kementerian Pendidikan Nasional melalui Permendiknas Nomor 39 Tahun 2009 yang mengatur pemenuhan beban kerja bagi guru. Aturan tersebut mengizinkan model mengajar dengan team teaching atau lebih dari dua guru mengajar bersama pada mata pelajaran yang sama. Kedua guru itu akan mendapatkan hitungan jumlah jam pelajaran yang sama.

"Jika mata pelajaran itu sebanyak dua jam pelajaran (2 x 90 menit), maka guru juga tercatat mendapat waktu mengajar tiga jam," katanya.

Menurut dia, di sisi lain, sekolah diperbolehkan mengangkat tenaga kontrak untuk membantu guru mencukupi jam belajar sebagai syarat sertifikasi, asalkan tidak membebani anggaran pendapatan belanja daerah (APBD).

"Kebijakan perekrutan tenaga kontrak tersebut dapat diambil oleh kepala sekolah, tidak harus melalui Pemerintah Kabupaten Bantul karena nantinya akan dibiayai dari pendapatan sekolah," kata Juwahir.

Saat ini banyak guru yang belum memenuhi jam mengajar selama 24 jam dalam satu minggu, sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang sertifikasi guru.

"Perekrutan tenaga kontrak dapat memungkinkan guru untuk menambah jam belajar sehingga membantu mereka mencapai syarat sertifikasi tersebut," ujar Juwahir.

Sumber : ANT

Stan Pijat Indonesia di CITM Ramai Pengunjung

PAMERAN PARIWISATA

Aris Prasetyo | Robert Adhi Ksp | Kamis, 27 Oktober 2011 | 14:01 WIB



Aris Prasetyo/KOMPAS
Stan layanan pijat gratis tak pernah sepi dari pengunjung di acara China International Travel Mart (CITM) 2011, Kamis (27/10/2011), di Kunming, China. Pengunjung bisa menikmati jasa pijat gratis selama lima menit.


KUNMING, KOMPAS.com — Stan pijat Indonesia di acara China International Travel Mart (CITM) 2011 di Kunming, China, ramai dikunjungi pengunjung, Kamis (27/10/2011).

Dibuka sejak pukul 11.30 waktu Kunming atau 10.30 WIB, tercatat hampir 200 pengunjung yang menikmati jasa pijat gratis dari Taman Sari Royal Heritage Spa, sebuah jasa layanan spa dari Mustika Ratu. Setiap pengunjung yang melewati stan milik Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di acara CITM 2011 itu selalu mampir dan mencoba layanan pijat gratis.

Imas Setiawati (21), terapis spa, mengaku sedikit kewalahan karena tamu berdatangan nyaris tanpa henti. "Banyak sekali tamunya. Tapi, saya senang bisa mengenalkannya kepada tamu asing dari berbagai negara," ujar Imas seperti dilaporkan wartawan Kompas Aris Prasetyo dari Kunming, China.

Setiap pengunjung yang menikmati pijat di stan tersebut tidak dipungut biaya alias gratis. Dipijat selama 5 menit membuat badan terasa segar kembali. Aroma terapi yang dibakar menambah kesegaran ketika dipijat.

"Fantastis. Badan saya segar kembali. Nikmat rasanya," ujar Huang Han (16), relawan CITM 2011 yang turut menikmati pijat gratis tersebut. Tak hanya pengunjung pameran dari berbagai negara, wartawan Indonesia yang ikut di acara tersebut tidak ketinggalan merasakan pijat gratis. "Mantap," ujar Meydi Anasari, jurnalis dari Trans TV.

Angklung dan Poco-Poco Menggoyang Los Angeles

Pariwisata

Emilius Caesar Alexey | Robert Adhi Ksp | Kamis, 27 Oktober 2011 | 12:23 WIB




Dok Konjen RI di LA
Ribuan orang sangat bersemangat memainkan angklung di kawasan The Grove, Los Angeles, Rabu (26/10/2011)

LOS ANGELES, KOMPAS.com - Ribuan orang sangat bersemangat memainkan angklung di kawasan The Grove, Los Angeles, Rabu (26/10/2011). Di bawah arahan Mustika Hendraningstyas mereka memainkan lagu tradisional Indonesia dan lagu-lagu barat dengan angklung di tangan masing-masing.

"Pengenalan angklung ke warga AS merupakan bagian dari promosi pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia. Acara Discover Wonderful Indonesiaini merupakan kerjasama antara Kementrian Pariwisata dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Los Angeles," kata Hadi Martono, Konjen KJRI Los Angeles, dalam surat elektronik yang diterima Kompas pada Kamis (27/10/2011).

Selain memainkan angklung, ribuan warga AS itu juga diajak menari poco-poco dan menikmati kuliner khas Indonesia. Setelah itu, mereka dipersilakan untuk melihat promosi lokasi-lokasi wisata Indonesia dan barang-barang kerajinan tanah air.

"Ternyata Indonesia memiliki banyak lokasi wisata yang menarik. Budaya, tarian, musik, dan makanannya juga sangat eksotik dan menggoda. Saya jadi ingin ke Indonesia suatu hari nanti," kata Angela, salah satu pengunjung.

Menurut Konsul Pariwisata KJRI Los Angeles, Edi Suharto, The Grove dipilih sebagai lokasi promosi karena didatangi sekitar 45.000 sampai 50.000 orang setiap hari. Permainan angklung dan tarian poco-poco diperkirakan dapat menyedot pengunjung sampai 15.000 orang.

Selasa, 25 Oktober 2011

Indonesia to Repatriate 4,550 Migrant Workers from Saudi Arabia

Jimmy Hitipeuw | Selasa, 25 Oktober 2011 | 11:06 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com - The Indonesian Consulate General in Jeddah, Saudi Arabia, since September 19 up to October 24, has issued documents in lieu of passports to repatriate 4,550 problematic Indonesian migrant workers from Saudi Arabia, the consulate general said.

"Those who are being repatriated are mostly female workers who worked at the informal sector such as domestic helpers and male ones who work as drivers," the consulate general said in an electronic message received here on Tuesday.

Some of the total have been repatriated by the Saudi government and some 2,000 remaining ones will be returned home from Jeddah using ten flights of Garuda planes.

The ten flights are those which flew hajj pilgrimage to Saudi Arabia on October 30 - 31, 2011. Those who will be repatriated on October 30 - 31, 2011 are now being accommodated at the temporary Madinatul Hujjaj boarding (MH) in Jeddah.

Sumber : antara

Truk Lindas Bocah Dua Kali agar Tewas

| Egidius Patnistik | Selasa, 25 Oktober 2011 | 09:59 WIB


Daily Mail
Ibu Maoke Xiong tampak duduk tertegun di dekat jenazah putranya yang diduga dilindas truk hingga dua kali.


CHENGDU, KOMPAS.com — Seorang pengemudi truk menabrak bocah pria umur lima tahun dengan truknya. Bukan berhenti, truk itu malah mundur, menggilas bocah itu lagi demi memastikannya tewas. Aksi keji itu dilakukan guna menghindari biaya rumah sakit bagi anak itu yang akan lebih mahal dibanding kompensasi kematian yang harus dibayar kalau ia tewas.

Insiden memuakkan itu terjadi Desa Yunfeng, Luzhou, Provinsi Sichuan, di China barat, ketika Ao Yong, si sopir truk, menabrak Maoke Xiong saat bocah itu tengah berjalan kaki ke sekolah, demikian laporan Daily Mail, Selasa (25/10/2011). Tragedi itu terjadi Kamis pekan lalu ketika Ao Yong sedang mengangkut semen dari kota Chongqing menuju Luxian.

Seorang saksi mata, Shifen Zhang, berkata, "Saya melihat truk itu mundur sedikit dan kemudian maju lagi. Xiong jadi terperangkap di roda dan truk itu terus maju sekitar sepuluh meter." Seorang pelintas lainnya mengatakan, sopir truk itu melompat dari ruang kemudi setelah menabrak anak itu. Mereka menyatakan, Yong kemudian bertanya, "Berapa banyak (uang) yang harus saya bayar".

Namun, Yong membantah telah menggilas bocah itu dua kali demi memastikannya tewas. Harian China Daily dalam situsnya, Senin, melaporkan, penyelidikan polisi tidak menemukan bukti bahwa anak itu dilindas dua kali. Sementara para ahli medis, kata harian itu, menemukan Maoke Xion meninggal karena cedera otak traumatis dan mereka menyimpulkan, anak itu ditabrak selagi berdiri. Masih menurut polisi, si sopir telah menggunakan rem darurat dan truknya mengalami gesekan panjang sebelum berhenti.

Masih menurut versi polisi, seperti dikutip China Daily, berbeda dengan adegan tanpa perasaan yang ditunjukkan dua pengemudi dan belasan pelintas dalam kasus yang menimpa Yue Yue di Guangdong, yang dilindas dua truk dan diabaikan belasan pelintas, Ao yang berusia 35 tahun dari Luxian, merupakan orang pertama yang menelepon polisi. Saat keluar dari truk, kata polisi, Ao menemukan Xiong terjebak di bawah roda depan. Karena kondisi bocah itu parah, sopir tersebut tidak berani memindahkannya dan dia segera menghubungi polisi.

Menurut Daily Mail dan China Daliy, selama tujuh jam jenazah bocah malang itu tidak dipindahkan dari kolong truk. Dalam adegan yang menyayat hati, ibu bocah itu tampak duduk tertegun di dekat jenazah putranya. Polisi mengatakan, tubuh bocah itu tidak segara dipindahkan segera karena penduduk desa yang marah menuntut kompensasi langsung dari si pengemudi.

Serangkaian kasus mengerikan seperti itu telah menimbulkan perdebatan di China soal moralitas bangsa itu yang sepertinya semakin tak peduli dengan sesama yang menderita atau mengalami kemalangan. Ledakan ekonomi yang dialami negara itu selama beberapa dekade terakhir telah disalahkan dalam mendorong materialisme di masyarakat.

Kompensasi untuk korban kecelakaan yang meninggal dunia dilihat banyak orang China lebih murah ketimbang harus membayar biaya perawatan rumah sakit. Rezim Komunis negara itu tidak menyediakan layanan kesehatan gratis bagi 1,3 miliar warganya.

Ketakutan akan tagihan biaya medis yang tinggi juga diduga menjadi alasan di balik nasib tragis yang menimpa Yue Yue, gadis cilik berusia dua tahun yang ditabrak lari hingga dua kali, dan diabaikan belasan orang yang lewat di pasar kota Foshan yang sibuk pada Kamis dua pekan lalu. Berdasarkan gambar dalam rekaman video pemantau, Yue Yue ditabrak dua kendaraan dan dibiarkan sekarat. Adegan itu dilihat oleh jutaan orang di internet dan memicu kemarahan.