Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Agustus 2013

Bobotoh Melamar Kekasih di Stadion Si Jalak Harupat





SEORANG bobotoh, Rama Putra, memasangkan cincin kepada kekasihnya Nisma Bilad yang disambut meriah penonton lainnya saat melamar pada waktu istirahat babak pertama kompetisi lanjutan Liga Super Indonesia 2013 antara Persib Bandung melawan Persiram Raja Ampat di Stadion Si Jalak Harupat, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, Sabtu (24/8/2013). Momen membahagiakan tersebut juga dimanfaatkan para bobotoh lainnya untuk merayakan ulang tahun.*

Sabtu, 21 Januari 2012

Tahun Naga Air Sugesti Hidup Paling Kuat

| Jodhi Yudono | Sabtu, 21 Januari 2012 | 15:13 WIB


shutterstock
Lampion


Oleh Frislidia

Pesanan kamar hotel melonjak untuk libur Imlek Masyarakat Tionghoa di kawasan perkampungan China, Kelurahan Pondok, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatra Barat, tak melewatkan pemasangan lampion-lampion merah yang bertuliskan huruf China, guna menyambut Tahun Baru Imlek 2563 yang jatuh 23 Januari 2012.

Tak hanya lampion berbentuk bulat, lampion naga aneka ukuran juga dipajang pada sejumlah rumah masyarakat Tionghoa yang bertuliskan huruf China itu yang memiliki beragam makna. Intinya, doa mohon keberkahan di tahun yang baru.

Kendati belum banyak persiapan, namun panitia perayaan Tahun Baru Imlek di kawasan Pondok Padang (Perkampungan China, red) sudah menyiapkan sejumlah tiang untuk persiapan bazar, dan aneka pertunjukan lomba, di gedung Himpunan Bersatu Teguh (HBT) Padang.

Sekretaris (urusan keluar) HBT Padang Chandra Penata Long, mengatakan warga Tionghoa kini bertekad akan merayakan peringatan Tahun Baru Imlek penuh dengan kesederhanaan.

"Tak ada yang istimewa, perayaan Tahun Baru Imlek 2012 tetap dirayakan bersama isteri dan anak-anak di rumah," ujarnya sesuai tanggalan internasional, Imlek 2563 jatuh pada shio Naga Air.

Shio ini melambangkan kekuatan, kebaikan, keberanian, dan pendirian teguh.

Naga juga merupakan lambang kewaspadaan dan keamanan dari semua makhluk mitologi China, dan makhluk yang tertinggi menjadi raja semua hewan di alam semesta.

Menurut Chandra, sejak dahulunya beribu-ribu tahun silam, dimitoskan bahwa Naga merupakan mahluk sakral dalam agama Konghucu, atau sebagai simbol binatang yang paling kuat.

"Karena itu naga selalu dipasang pada setiap tiang vihara, terutama pada tiang tempat sembahyang Dewa Langit," ujarnya dan diharapkan Shio Naga Air tahun ini tidak hanya kesuksesan pebisnis yang hanya berhubungan dengan unsur air saja, seperti transpotasi air, restoran sampai pedagang air minum isi ulang.

Tapi Naga Air ini --sebagai fengsui, keberuntungan dalam agama Khonghucu-- bagi umatnya diharapkan dapat menjernihkan, mendinginkan berbagai permasalahan yang terjadi.

Dijelaskannya, fengsui `keberuntungan` itu bisa diterapkan mulai dari pembangunan rumah dengan pintu rumah yang harus dibuat sesuai sio Naga Air , dan tentunya akan berbeda lagi dengan sio tahun depan.

Naga Air, katanya lagi, sesuai karakternya adalah hewan yang berwibawa, angkuh dan banyak raja-raja di Tiongkok dahulunya memberi lambang kerajaan dengan naga, baju kebesaran yang juga bergambar naga.

"Konon, jika ada bayi yang lahir pada tahun naga ini, itu artinya sebuah lambang yang bagus bagi sang bayi dengan fengsui atau rezki yang bagus," ujarnya, sio-sio ini selalu menjadi sugesti atau semangat hidup paling kuat bagi warga Tionghoa.

Sedangkan tiap pergantian shio itu disebut Tahun Imlek (Cia Gwee Che It) yang jatuh pada tanggal satu bulan pertama. atau tahun lunar, tahun yang dihitung berdasarkan peredaran bulan, dan dikombinasikan dengan peredaran matahari dan pergantian dari musim dingin ke musim semi.

Selain itu, penanggalan China/Tionghoa terbagi menjadi 12 shio, yakni Tikus-Harimau-Naga-Kuda-Monyet-Anjing-Kerbau-Ular-Kambing-Ayam-Kelinci dan Babi.

Hewan yang terdapat pada shio ini dilambangkan sifatnya. Kemudian terbagi lagi menjadi lima unsur, logam, kayu,air, api dan tanah. Pertemuan pada shio dan unsur yang sama bisa terjadi 60 tahun kemudian.

Peringatan Tahun Baru Imlek di Padang diikuti oleh tiga organisasi warga China, seperti Himpunan Bersatu Teguh (HBT), Himpunan Tjinta Teman (HTT) dan Santo Yusuf. Selain itu juga organisasi warga dari delapan marga antara lain marga Tanju Hok, marga Tan, liem, dan lainnya.

"Selain persiapan pemasangan lampion-lampion dominan warna merah itu, warga Tionghoa Padang juga menyiapkan amplop angpau bergambar naga dengan isian bervariasi yang terkecil Rp 50.000 sampai Rp1 juta per angpau pohon," ujarnya.

Ia menambahkan, pada 15 hari berikutnya (setelah 23 Januari 2012) perayaan Tahun Baru Imlek masuk pada masa ` Cap Goh Me (lima belas atau malam kelima belas imlek yang terakhir). Pada masa cap goh me merupakan ini perayaaan yang cukup ramai.

Sumber : ANT

Menjadi Guru, Untuk Apa?


Rabu, 11 Januari 2012 18:29 WIB



flickr
Ilustrasi

Beruntunglah menjadi guru. Punya orang tua guru, pasangan hidup kita guru, orang tua yang anaknya jadi guru, orang yang teman-temannya guru, mereka memang beruntung. Siapa yang membekali murid untuk bekal hidup mereka di masa depan? Berapa banyak murid-murid yang telah dididik? Jika ukurannya kebermanfaatan untuk sesama, guru adalah orang paling beruntung.

Mulialah guru karena mereka punya peluang untuk menginspirasi siswa agar hidup mereka jauh lebih baik dari gurunya sendiri. Berbahagia lah guru jika kelak murid-murid mereka menjadi orang yang hidupnya sukses nan bermanfaat bagi sesama. Itulah dahsyatnya menjadi guru.

Rugilah orang yang menyepelekan guru. Masyarakat, bangsa, negara yang menyia-nyiakan bahkan mendzalimi guru, sungguh mereka akan mengalami kerugian yang teramat besar. Masa depan suatu bangsa sedang dipertaruhkan. Jangan anggap sepele hal ini.

Hari ini, mari tanyakan pada anak muda Indonesia, siapa di antara mereka yang ingin menjadi guru? Saya teringat dengan paparan Prof. Cheng (The Hong Kong Institute of Education) di event The 2nd East Asian International Conference on Teacher Education Research, Desember 2010 silam. Ada 4 prinsip holistik & berjangka panjang dalam konteks pengembangan dan pendidikan profesi guru, yaitu attracting teacher, developing teacher, empowering teacher, dan retaining teacher.

Prinsip pertama, attracting teacher. Pemerintah di suatu negara harus mampu memberikan kepastian hukum & penghidupan yang layak bagi guru. Status guru tak sebatas diperjuangkan secara de jure. Secara de facto, kehidupan guru memang harus dijamin agar fokus dalam berkarya. Jika syarat ini dipenuhi, maka setiap orang akan memandang profesi guru sebagai sesuatu yang prospektif. Tugas pemerintah selanjutnya, memastikan seleksi yang super ketat agar tidak sembarangan orang bisa menjadi guru.

Prinsip kedua, developing teacher. Lembaga Pendidik & Tenaga Kependidikan (LPTK) musti dikuatkan fungsi kelembagaannya. Kehidupan kampus di universitas keguruan dikondisikan agar mampu membina dan mendidik para calon guru agar benar-benar siap menjadi guru. Konsep pengembangan profesional guru mesti didefinisikan secara operasional.

Berkembangnya kompetensi guru mesti sejalan dengan masa pengabdian mereka, fokus utama dari prinsip ini. Harus ada program pengembangan profesional yang memfasilitasi guru agar mereka tidak pernah berhenti belajar. Bentuk aktivitasnya sangat beragam, dari mulai mengikuti training guru secara berkala, adanya supervisi pembelajaran, sampai keharusan untuk melakukan penelitian tindakan kelas.

Empowering teacher, prinsip ini mensyaratkan adanya upaya untuk memastikan bahwa kinerja guru selalu dapat diukur efektivitasnya. Guru mesti dibantu agar mereka selalu dapat menunjukkan kemampuan terbaiknya. Jika pun ada kendala, kepala sekolah dengan sistem pengembangan profesionalnya selalu setia menemani guru untuk menyelesaikan masalah yang kerap mereka hadapi. Tiada hari tanpa proses pemberdayaan guru.

Rencana karir seorang guru harus dinyatakan secara tegas & tidak multitafsir, aspek penting dalam prinsip retaining teacher. Jika aturan sudah ditetapkan bahwa syarat seorang guru menjadi kepala sekolah, misalnya, perlu waktu mengabdi 10 tahun dengan kualifikasi tertentu. Tapi, ada yang baru setahun sudah bisa menjadi kepala sekolah, apalagi tanpa fit & proper test, ini namanya kecelakaan.

Komitmen dan konsistensi dalam menegakkan aturan main bisa membuat guru termotivasi untuk meningkatkan kualitas diri. Jika tidak, guru akan mengalami demotivasi. Situasi kompetisi tidak akan pernah berlangsung fair. Bahayanya, wrong man on the wrong place jadi sebuah keniscayaan. Guru paham apa yang harus dilakukan jika mereka ingin menjadi kepala sekolah, pengawas sekolah, atau jabatan struktural lainnya yang mempersyaratkan kompetensi guru yang mesti plus.

Jadi, lupakan impian untuk meraih prestasi atau jabatan tertentu jika masih banyak membual daripada berkarya nyata. Jika profesi guru ingin naik kelas, coba praktikkan keempat prinsip tersebut sesuai dengan konteks Indonesia.

Hong Kong bukan Indonesia, begitu pun sebaliknya. Hong Kong secara serius menetapkan kebijakan strategis dan mengembangkan sistem pendidikan guru secara sistematis dan berkelanjutan. Wajar kalau pendidikan mereka selangkah lebih maju dari kita. Indonesia tak usah pesimis karena citra profesi guru kita pernah mengalami masa-masa kejayaan di masa lalu.

Sayangnya itu dulu, catatan sejarah yang mesti dapat dimaknai hikmahnya. Sekarang, apa yang mesti diperbuat? Pemerintah harus mulai tergugah kesadarannya untuk mulai berbenah. Konsep sistem pendidikan guru kita mungkin tak kalah hebat dari negara lain. Persoalannya, apakah konsep tersebut konsisten diterapkan di tataran praktis pendidikan? Jangan-jangan teorinya bagus, praktiknya amburadul. Kondisi yang memilukan sekaligus memalukan.

Kapan pun dan dimana pun mereka berada, guru tetaplah guru, orang yang beruntung dan mulia. Jika hari ini, saya & Anda tetap memilih jalan hidup menjadi guru, meski jaminan hidup dan kepastian hukum dari pemerintah masih menjadi sebuah utopia, mungkin ini bisa masuk kategori keajaiban baru di dunia.

Menjadi guru di Jepang sangat sulit karena memang penghargaan pemerintah kepada guru sangat eksklusif. Ada keseimbangan sempurna antara tuntutan hak dan pemenuhan kewajiban. Guru di Jepang harus tegas memilih, jadi guru atau tidak sama sekali. Tak ada pilihan lainnya. Di Indonesia, kita selalu dibuat ragu untuk menentukan pilihan, jadi guru karena pilihan hidup, jadi guru mumpung sudah lahir UU No. 14 Tahun 2005, jadi guru karena ada peluang untuk bisa menjadi pegawai negeri sipil, atau jadi guru karena tidak ada pilihan lainnya. Sungguh ironi.

Beruntunglah guru-guru yang ada di Indonesia. Mereka sangat sadar bahwa pilihan hidupnya menjadi guru penuh resiko. Meskipun demikian, semoga semangat perjuangan mereka tidak akan pernah luntur untuk mengabdikan hidupnya bagi kelangsungan pendidikan Indonesia. Mengapa bisa demikian? Karena mereka paham bahwa ada yang harus diselamatkan untuk kepentingan masa depan bangsa, yaitu murid-murid mereka, para calon pemimpin bangsa.

Menjadi guru, untuk apa? Kita berharap guru-guru di Indonesia serempak menjawab, ‘Investasi untuk Indonesia’. Siapakah mereka yang paham arti ‘Investasi untuk Indonesia’? Semoga saya, Anda, & mereka yang saat ini menjadi guru di seantero penjuru nusantara.




Asep Sapa'at
Teacher Trainer di Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa
Redaktur: Johar Arif



Kamis, 27 Oktober 2011

Balada Si Pengendara Sepeda Nyoman Minta

| Jodhi Yudono | Selasa, 25 Oktober 2011 | 18:36 WIB





Kompas.com/Jodhi Yudono
Nyoman Minta si pengendara sepeda yang melintas di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat pembukaan ASEAN Fair di Nusa Dua, Senin (24/10).


KOMPAS.com — Panas kian menyengat saat pria pembawa acara yang berseragam merah-merah mengumumkan bahwa tim akrobatik udara dari Kementrian Pertahanan sebentar lagi akan melintas di angkasa Nusa Dua, tempat acara launching ASEAN Fair 2011 berlangsung. Akrobatik udara ini juga dimaksudkan karena bertepatan dengan pertemuan menteri-menteri pertahanan se-ASEAN, acara peresmian akan ditutup dengan pertunjukan akrobat udara (air show) dari Kementerian Pertahanan.

Di panggung kehormatan, tampak Presiden didampingi Ibu Negara Anie Yudhoyono yang asyik memotret rangkaian peristiwa yang berlangsung sejak pukul 09.00 Wita itu. Di belakang Presiden dan Ibu Anie, tampak putra mereka dan tunangannya yang akan menikah bulan depan, yaitu Edhie Baskoro Yudhoyono dan Aliya Rajasa.

Selain calon pengantin itu, hadir pula Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa dan istrinya, Okky Rajasa. Posisi duduk mereka tepat mengapit Presiden dan Ibu Ani. Selain mereka, kursi di posisi depan di panggung utama juga tampak dua tokoh lainnya, yaitu Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu dan suami serta Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan istri.

Sementara itu, di sisi kiri panggung, tampak beberapa menteri yang terlihat kepanasan lantaran sinar pagi menyengat mereka, di antaranya Menko Polhukam Djoko Suyanto dan istri, Menko Kesra Agung Laksono dan istri, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa dan istri, Sekretaris Kabinet Dipo Alam, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, serta Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan. Bahkan, Djoko Suyanto, Sudi Silalahi, dan Dipo Alam menggunakan kacamata hitam untuk menghalau sinar matahari.

Acara akrobatik pesawat yang digelar TNI AU merupakan acara pungkas dari serangkaian acara pembukaan ASEAN Fair yang berlangsung pada Senin (24/10/2011).

Sebelumnya, Presiden telah memukul kentongan, pertanda acara telah resmi dibuka, kemudian dilanjutkan dengan aneka pertunjukan berupa pameran mobil hias yang menggambarkan karakter dari setiap negara anggota ASEAN serta prosesi bleganjur (gamelan yang "berjalan") dan arak-arakan ogoh-ogoh logo "Hello ASEAN". Selain itu, juga diramaikan dengan arak-arakan 30 perkusi Indonesia dan parade 30 penari Indonesia.

Dari arah timur laut, terdengar suara menderu. Lima pesawat udara yang diterbangkan dari Lanud Adisucipti, Yogyakarta, dengan gagah melintas di angkasa Nusa Dua. Tepuk tangan disertai decak kagum terdengar berkali-kali setiap tim akrobatik udara itu melintas dalam berbagai formasi.

Saat semua undangan dan peserta upacara pembukaan ASEAN Fair terkagum-kagum dengan aksi udara para prajurit TNI AU itulah, mendadak seorang lelaki tua dengan sepeda onthel melintas di area acara. Saat mendekati panggung utama, tampak seorang lelaki gondrong berbadan tinggi besar mengejarnya dari belakang. Dan... hups! Lelaki pengejar itu pun berhasil menangkap boncengan sepeda yang berisi muatan kelapa. Dua orang lelaki muncul membantu si gondrong menghentikan laju sepeda. Selanjutnya, sepeda dan penunggangnya bukan cuma berhenti, tapi langsung terguling di jalan beraspal, persis beberapa meter dari tempat duduk kepala negara.

Pengendara sepeda pun langsung digelandang menepi. Dia tak cuma ditanyai oleh aparat keamanan, tetapi juga oleh serombongan wartawan yang langsung mengerumuninya. Maka, diketahuilah, pak tua pengendara sepeda itu bernama Nyoman Minta berusia sekira 60 tahun. Dia adalah petugas Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Badung yang sehari-hari membersihkan kawasan perhotelan Nusa Dua. Saat kejadian itu, tak kurang dari Pangdam Udayana Mayjen TNI Leonard Louk dan Kapolda Bali Irjen Totoy Herawan Indera ikut menanyai langsung.

"Saya mau pulang, saya tidak tahu ada acara Presiden," ujar bapak renta yang di sepeda onthelnya terdapat karung berisi kelapa, kayu dan rumput.

Nyoman berkisah bawah jalur yang dilewatinya di dekat Presiden SBY dalam pembukaan ASEAN Fair adalah rutenya sehari-hari dalam bekerja sebagai petugas kebersihan di area Bali Tourism Development Corporation (BTDC), Nusa Dua.

Kepada para wartawan dan polisi, dia mengaku hendak pulang ke rumahnya di daerah Mumbul di luar area Nusa Dua.

Pak Nyoman pasti tak pernah mengira, kejadian pagi itu akan membuat banyak orang repot, termasuk dirinya. Bayangkanlah, setelah dirinya gagal melintas di jalan yang biasa ia lalui, dirinya pun lalu ditangkap dan diinterogasi. Maklumlah, trauma terhadap bom teroris, apalagi ini di Bali, telah membuat orang gampang bercuriga. Atas nama curiga itu pula, Pak Nyoman pun harus menjalani pemeriksaan oleh petugas keamanan dan polisi.

Pak Nyoman tak repot sendirian setelah kejadian tersebut, sejumlah aparat keamanan, terutama Pasukan Pengamanan Presiden, dibuat kalang kabut. Gara-gara Pak Nyoman bisa melenggang hingga beberapa meter jaraknya dari tempat duduk Presiden, Paspampres pun dipertanyakan kesanggupannya bekerja.

Bagaimana bisa, tempat yang konon telah disterilkan itu masih kebobolan. Bayangkanlah, jika itu bukan Pak Nyoman, melainkan seorang teroris dengan bom sebesar kelapa di boncengan sepedanya.

Menyimak peristiwa ini, rasanya kita justru harus berterima kasih kepada Pak Nyoman. Gara-gara beliau itulah, kita jadi semakin tahu betapa masih lemahnya pengamanan terhadap diri seorang Presiden Republik Indonesia. Gara-gara Pak Nyoman itulah, seharusnya Pasukan Pengamanan Presiden jadi bisa belajar untuk lebih fokus ke pekerjaan ketimbang ikut asyik menonton acara yang juga ditonton oleh tuannya. (JY)

Sabtu, 04 Desember 2010

Nama Sama, Tetapi Lain-lain

STILISTIKA

 

Oleh Ajip Rosidi


Kepada para mahasiswa Osaka Gaidai yang hendak pergi ke Indonesia untuk pertama kalinya, saya selalu mengingatkan mereka tentang macam-macam makanan dan minuman. Saya katakan banyak makanan yang namanya sama, tetapi ternyata di setiap daerah ada variasi yang berlainan satu dengan yang lain. Sebaliknya ada juga makanan yang namanya berlainan, tetapi ternyata wujud dan rasanya sama di daerah yang satu dengan di daerah yang lain. 

Contoh yang sering saya kemukakan adalah kalau memesan minuman di restoran di Singapura (Kuala Lumpur), Bandung dan Yogyakarta. Di Singapura (Kuala Lumpur) kalau kita memesan teh (tea), kita akan mendapat teh manis yang telah dicampur dengan susu. Kalau mau teh tanpa susu, kita harus meminta tea kosong atau tea o. Kalau mau teh tawar, kita harus memesan tea o tak bergula.

Di Bandung kalau kita memesan teh yang kita peroleh adalah teh tawar (tak bergula). Kalau mau minum teh manis, harus tegas disebut minta teh manis. Sebaliknya di Yogyakarta atau di daerah Jawa (Tengah dan Timur), kalau kita memesan teh, yang datang adalah teh manis. Kalau mau minum teh tawar, harus tegas-tegas menyebutkan bahwa kita meminta teh tawar.

Begitu juga dengan makanan. Yang disebut soto, variasinya banyak sekali. Soto bandung, soto banjar, soto makasar, soto kudus, rasanya berlainan. Begitu juga berdasarkan bahannya ada soto babat, soto ayam, soto daging, dan lain-lain. Buat orang Jepang (dan juga buat orang asing lainnya), niscaya hal itu bisa membingungkan. Buat kita sendiri tidak mudah, terutama karena setiap daerah mempunyai nama yang berlainan untuk berbagai jenis makanan. Gado-gado di Jakarta, disebut lotek di Bandung. Padahal apa yang disebut lotek di Bandung, di kampung saya Jatiwangi disebut uleg, karena yang dinamakan lotek di kampung saya adalah semacam pecel di Jawa, yaitu yang bumbunya dikucurkan di atas sayur-sayuran, hanya rasanya lebih masam karena banyak memakai asam. Gado-gado di Jakarta juga ada dua macam, yang diulek di atas coet batu, biasanya dijajakan dalam dorongan walaupun banyak yang mangkal di tempat tertentu di pinggir jalan. Ada juga gado-gado yang kuahnya dikucurkan di atas sayuran yang sudah direbus - biasanya gado-gado itulah yang disediakan di restoran-restoran. Di Jawa disebut pecel. Rasanya tentu berlainan, karena masing-masing mempunyai resep yang berbeda.

Mi yang berasal dari Cina, di Jepang juga dikenal. Disebut ramen. Warnanya kuning. Akan tetapi, ramen di Jepang biasanya direbus dengan tulang babi, sehingga meskipun tidak pakai daging (biasanya pakai daging babi), harus dihindari orang Islam. Di Indonesia, mi terdapat dalam berbagai variasi, tergantung daerahnya. Ada mi kuah (rebus) ada mi goreng. Kebanyakan memakai ayam, tetapi banyak yang memakai baso. Tentang baso ini juga ada yang dibuat dari daging (sapi) atau dari ikan. Ternyata banyak anak Jepang yang menyukai baso.

Ada juga mi jawa yang dimasak secara khusus, di atas anglo dengan arang, biasanya sekali masak untuk satu porsi, sehingga pemesan harus antre lama. 

Variasi makanan yang begitu beragam di Indonesia bisa membingungkan orang Jepang yang pertama kali datang. Akan tetapi sebenarnya bukan hanya orang Jepang atau orang asing lainnya saja yang bisa bingung menghadapi ragamnya makanan di Indonesia. Kita pun orang Indonesia bisa salah. Misalnya kalau di Cirebon kita memesan empal yang datang adalah semacam gulai daging berwarna kuning. Sekarang disebut empal gentong meskipun tidak selalu ditempatkan dalam gentong. Tambahan nama itu baru belakangan muncul, mungkin supaya jangan ketukar dengan gepuk, karena di beberapa tempat di Priangan, gepuk disebut empal juga. 

Kawan saya pernah marah-marah kepada tukang kupat tahu, karena ternyata memakai kecap dan rasanya manis. "Tahu tidak kupat tahu?" katanya berang kepada pedagang kupat tahu baru di pinggir jalan utama di Bandung. Kupat tahu di Bandung atau di Priangan memang tidak pakai kecap dan rasanya tidak manis. Akan tetapi kemudian saya tahu bahwa kupat tahu yang disuguhkan kepada teman saya itu, kupat tahu dari Magelang, yang memang pakai kecap dan rasanya manis. Rupanya kupat tahu Magelang melakukan ekspansi ke Bandung, yang tentu saja tidak dapat diterima oleh orang Bandung asli yang seumur hidup mengenal kupat tahu yang lain cara memasaknya dan lain pula rasanya. 

Akan tetapi, kecuali nama yang sama jenisnya lain, banyak juga yang jenisnya sama atau hampir sama tetapi namanya lain-lain. Dodol di Garut, jenang di Kudus. Ketoprak di Jakarta, lengko di Cirebon. Cendol di Bandung, dawet di Banjarnegara, dan lain-lain.

Saya sendiri pernah kejeblos. Di sebuah restoran di dekat Cikampek saya memesan pecel lele karena mengira ikan lele yang dibakar kemudian dipecel, yaitu dimasukkan ke dalam bumbu santan atau bumbu kecap. Ternyata lele goreng yang disajikan bersama dengan pecel (Jawa = semacam gado-gado). Makanan yang berasal dari Jawa itu sekarang sudah umum baik di Bandung maupun di Jakarta, tetapi ada waktu itu belum populer. 

Padahal sekarang macam-macam masakan daerah kian merebak di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Kalau kita belum mencobanya mungkin kita akan bertemu dengan makanan yang namanya kita kenal namun wujudnya berlainan dengan apa yang sudah kita kenal. Nasi liwet, misalnya, yang dijual di Solo dengan yang dijual di Limbangan, Garut, banyak bedanya. Liwet Solo banyak menggunakan daging ayam yang kadang dimasukkan ke dalam pendil-nya, sedangkan di Priangan yang dimasukkan ke dalam pendil bersama beras itu ikan asin jambal roti atau teri. Bahkan sekarang banyak restoran yang menyuguhkan nasi uduk sebagai liwet. Untung bahwa kebanyakan orang sekarang tidak tahu apa liwet, karena seumur hidupnya tak pernah makan nasi liwet, sehingga nasi uduk itulah yang dianggapnya liwet. Hal demikian tampaknya terjadi juga dengan berbagai makanan asli yang sudah hilang tetapi sekarang dipopulerkan oleh para pengusaha yang menyesuaikannya dengan selera manusia masa kini tanpa mempedulikan apakah sesuai dengan yang aslinya ataukah tidak, yang penting laku.***

Penulis, budayawan.

 http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=166540

Kamis, 25 November 2010

Inilah Awal Kisah Jatuh Cintanya Pangeran William pada Kate Middleton

Kamis, 25 November 2010, 12:23 WIB


 Pangeran William dan Kate Middleton



REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Universitas St Andrews Skotlandia. Kalender menunjukkan tahun 2002. Seorang mahasiswi berusia 20 tahun berjalan di atas catwalk pada sebuah peragaan busana untuk amal.

Mengenakan gaun terbuat dari sutra tipis, mahasiswa itu berjalan melenggak-lenggok. Gaun itu begitu tipisnya sehingga mahasiswa yang menyaksikan fashion show ini bisa melihat -maaf- pakaian dalam berwarna hitam milik sang model. Mahasiswi itu tak lain adalah Kate Middleton yang sekarang menjadi tunangan Pangeran William.

Sementara di kursi barisan depan pengunjung, William yang juga berkuliah di sana asik menyaksikan penampilan para peragawati amatiran tersebut. Pewaris tahta Kerajaan Inggris itu mesti membayar 200 poundsterling atau 315 dolar AS untuk mendapatkan kursi strategis itu. ''Wow, Kate seksi sekali!'' ujar William kepada temannya mengomentari aksi panggung Kate.

Begitulah kisah mula ketertarikan sang pangeran terhadap wanita 'biasa' yang berasal dari kalangan menengah di Inggris itu. Mungkin pada waktu itu, William tak menyangka bahwa mahasiswi yang dikaguminya di atas catwalk itu kelak bakal menjadi pasangannya. Begitu pula dengan Kate yang aksi panggungnya ditujukan untuk menggalang dana amal, eh malah menjadi awal jatuh hatinya William terhadap dirinya.

Pasangan yang baru saling mengenal di kampus itu, usai bertunangan, telah merencanakan pernikahan pada 29 April 2011 di Westminster Abbey. Usai pertunangan, kisah awal jatuh cinta William dan Kate itu pun kembali mencuat.

Tak hanya itu, pakaian yang dikenakan Kate saat peragaan busana itu harganya bisa dibaderol dengan harga selangit. Tak tanggung-tanggung, harganya diperkirakan bisa mencapai 150 ribu dolar AS atau sekitar 1,3 miliar. Harga itu merujuk pada pakaian-pakaian yang pernah dikenakan ibu William, Putri Diana.

''Dengan item (pakaian) kerajaan yang penting seperti ini, jika seseorang mempunyai uang, mereka akan terus mengajukan penawaran. Saya perkirakan harganya sekarang sekitar 10 ribu pounds (15.800 dolar AS). Tapi dalam beberapa tahun mendatang, jika Kate sudah menjadi permaisuri, harganya bisa mencapai 100 ribu pounds (158 dolar AS),'' ungkap Christine Satchett dari Balai Lelang Greasbys London, seperti ditulis Evening Standard dan The Telegraph.

''Harganya bisa naik sepuluh kali lipat, sama seperti yang terjadi pada pakaian Diana,'' tambahnya membandingkan.

Perancang pakaian itu, Charlotte Todd (31), kini tak melanjutkan karirnya sebagai perancang. Usai lulus dari kampus itu, dia bekerja di sebuah akuarium di Bristol, Inggris Barat Daya. Usai fashion show yang 'bersejarah' itu, dia langsung menyimpang pakaian yang dibuat dengan biaya kurang dari 50 dolar AS itu ke lemari di rumah ibunya.

Dengan bangga Todd mengatakan kreasinya itu berperan dalam kisah awal percintaan keluarga kerajaan. ''Saya tak percaya ketika mendengar William dan Kate akan menikah. Ketika saya sadar jika kelak Kate menjadi ratu, maka saya mulai menghargai semuanya,'' ujarnya kepada The Sun.

''Gaun itu menjadi bagian dari sejarah busana, saat William pertama kali jatuh cinta pada Kate, dan itu membuat saya bangga,'' ucap Todd. ''Mungkin kalau pakaiannya tidak tembus pandang, William tak akan memperhatikannya.''

Todd mengatakan tak akan menjual gaun itu. Kelak, dia ingin menyimpannya di sebuah museum. ''Saya tak mau melepasnya. Saya ingin gaun itu kelak menjadi koleksi pakaian kerajaan Kate di masa depan,'' tuturnya.
Red: Budi Raharjo
Rep: AolNews.com

Rabu, 10 November 2010

Hobi (Mengoleksi Striker Pemain Bola buatan Panini)

Perhelatan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan memang sudah lama usai, saya sebenarnya ingin membuat entri hobi mengoleksi striker sepak bola ketika bergulirnya Piala Dunia 2010, ya berhubung banyak pekerjaan yang harus deadline akhirnya baru bisa mengentri cerita ini. Koleksi album striker yang saya punya masih sedikit dibandingkan dengan orang lain yang ternyata jauh lebih banyak dan bervariasi.

Saya mulai mengoleksi stiker yang berhubungan dengan sepak bola ketika kelas 6 SD, waktu itu pas liburan sekolah saya main ke tempat saudara. Tidak berapa lama datang saudara saya memperlihatkan buku (album) yang isinya stiker pemain bola, nama stadion dan maskot dan lain-lain yang diproduksi oleh Panini dari Italia. Momen Piala Dunia 1986 di Meksiko. Saya tertarik dan minta diantar untuk membeli buku dan stikernya. Akan tetapi, album Piala Dunia Meksiko itu tidak bisa terisi semua karena saya jarang membeli stikernya.

Ketika Piala Dunia 1990 di Italia saya tidak mengoleksinya, karena tidak tahu di mana tempat untuk membeli album dan stikernya.

Nah, pas Piala Dunia 1994 di Amerika saya mengoleksi Album dan stikernya tapi bukan produkdi Panini. Albumnya tidak terisi semua, stikernya banyak yang sama (dobel). Sisa stiker yang dobelnya saya tempel di buku untuk kuliah.

Piala Dunia 1998 di Prancis saya tidak mengoleksi album dan stikernya, maklum masa-masa kuliah yang harus menghemat uang. Akan tetapi, merasa terobati karena saya mendapatkan hadiah dari teman saya orang Italia (Analisa Ventura) album stiker Liga Italia "Calciatori" musim kompetisi 1996-1997, meskipun tidak penuh.

Piala Dunia 2002 di Korea dan Jepang saya tidak mengoleksi, saya lupa untuk mengoleksi stiker dan album Piala Dunia. Baru ingat ketika ke Gramedia melihat ada album Piala dunia yang sudah lusuh. "Wah... terlambat", guman saya.

Piala Dunia 2006 di Jerman sama kejadiannya dengan piala dunia 2002, lupa... ketika ingat sudah beberapa bulan kemudian. Mungkin karena sibuk bekerja. "Ya.. sudahlah", itu saja yang terucap di hatiku.

Nah, ketika Piala Dunia 2010, tidak sengaja waktu belanja ke Indomaret di dekat rumah melihat ada album dan stiker piala dunia, karena di Indomart di pajang pernak-pernik Piala Dunia 2010. Ini pun sudah terlambat lagi, tapi beruntunya di daerah tempat tinggalku tidak banyak yang mengoleksi, jadi saya segera membelinya.

"Jika Bapa membeli enam bungkus stiker dapat satu album", begitu si pelayan memberi tahu kepada saya.

Wah, saya langsung saja memberi 15 bungkus, dan diberi 2 album stiker. Pulang ke rumah langsung di buka albumnya langsung stiker saya tempelkan di album. Hari-hari berikutnya saya membeli banyak striker, setelah di Indomaret tempat tinggal saya habis saya bingung mencari ke mana lagi, album stiker masih banyak yang kosong. Momen Piala Dunia sudah selesai jadi sudah mencari stiker, saya coba ke beberapa Indomaret di tempat lain, ternyata stiker sudah habis. Ke pelayan Indomart nya saya tanya di mana lagi yang masih ada stiker piala dunia, pelayannya hanya menggelengkan kepala. Ternyata ada pelayan Indomaret di daerah Cicaheum yang memberi tahu bahwa stiker masih banyak di Indomaret Padasuka. Saya bergegas ke Indomaret Padasuka, saya membeli beberapa bungkus stiker. Yah... ternyata banyak yang sama (dobel) jadi tetap saja album belum terisi. Ada yang memberi tahu stiker masih ada di Indomaret Cipadung, saya cari dan langsung beli beberapa bungkus, ternyata sama juga banyak yang dobel.

"Waduh kalau begini terus bagaimana bisa terisi semua", gumanku dalam hati.

Setelah berlama-lama merenung, saya teringat om google, "wah mudah-mudahan di internet menemukan komunitas pengoleksi stiker piala dunia", pikir saya.

Saya mencari-cari ternyata menemukan, di suatu forum di Kaskus, aduh sayang saya bukan member kaskus jadi susah untuk berinterksi. Setelah lama mencari-cari akhirnya menemukan beberapa member yang mencantumkan alamat email dan nomor hp. Sejak saat itu saya menjadi rajin mengirim email dan sms. Ternyata dapat respon yang bagus, akhirnya saya pun bisa saling barter stiker.

Meskipun sudah berusaha membarter stiker, album stiker Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan tidak bisa terisi semua, masih ada kira-kira 14 stiker lagi yang dibutuhkan. Saya punya banyak yang dobel. Stiker yang dobel belum saya apa-apakan masih disimpan. Yah.. siapa tahu ada yang mau barter lagi. Apabila sudah tidak ada yang mau barter lagi saya mau menempelkannya di album yang kedua.










Jumat, 27 Agustus 2010

Wasiat Ibu Inggit Selalu Diabaikan

Warisan Sejarah

PERTEMUAN Senin (23/8) lalu boleh jadi merupakan awal kembali terbukanya hati seorang Tito Zeni Asmara Hadi (63), putra dari Ratna Djuami (87 ) dan Asmara Hadi, mantan Menteri DPRGR di era Soekarno yang meninggal tahun 1976. Ratna Djuami adalah anak angkat Ibu Inggit Garnasih, istri presiden pertama RI, Soekarno.

Setelah Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak menepati janjinya pada 2003 untuk membangun Rumah Sakit Bersalin Inggit Garnasih di daerah Soreang, cucu Ibu Inggit Garnasih itu memilih untuk menghindar. Pembangunan rumah sakit itu sebenarnya sudah dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2003.

Dia juga menghindar ketika Tim Pembenahan Rumah Sejarah Ibu Inggit Garnasih dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat kembali mengajak rembukan. "Sebenarnya apalagi sih yang diperlukan. Semuanya sudah saya beberkan," ujar Tito, dalam pertemuan dengan Kasi Kepurbakalaan dan Museum pada Bidang Kebudayaan Disparbud Jabar, Drs. Eddy Sunarto, Eha Solihat, dan Tini Rustini, yang berlangsung di Rumah Sejarah Ibu Inggit Garnasih Jalan Ciateul No. 8 (sekarang Jalan Inggit Garnasih No. 8), Bandung.

Namun, setelah diterangkan panjang lebar mengenai maksud dan tujuan serta niat baik Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat untuk mempercepat terwujudnya Rumah Sejarah Ibu Inggit Garnasih, akhirnya hati Tito luluh juga. "Saya akan sangat membantu pemerintah bila ada niat baik untuk apa pun yang berkenaan dengan Ibu Inggit," ujar Tito.

Tito mengatakan, hingga saat ini masih banyak keinginan yang belum dapat dilaksanakan Ibu Inggit, kedua orang tuanya Ratna Djuami dan Asmara Hadi, serta dirinya. Keinginan yang selama ini belum diungkapkan, menurut Tito, lebih karena setiap upaya Ibu Inggit semasa hidup hingga meninggal dunia (13 April 1984) selalu mendapat halangan dari pemerintah.

"Salah satu contoh yang sebenarnya sangat mudah yaitu keinginan Ibu Inggit untuk dimakamkan di daerah Cibintinu, Palasari, Kab. Bandung. Alasan almarhumah, Cibintinu merupakan kawasan yang penuh kenangan antara Ibu Inggit dan Soekarno saat berjalan-jalan dengan ibu saya (Ratna Djuami). Akan tetapi, karena Cibintinu dianggap merupakan tempat pertemuan Soekarno dengan petani Marhaen yang dikhawatirkan sewaktu-waktu akan membangkitkan paham Marhaenisme, jasad Ibu Inggit urung dimakamkan di Cibintinu," ujar Tito.

Karena larangan itu, dengan berat hati Tito dan saudara-saudaranya mencari lokasi lain untuk menguburkan jasad Ibu Inggit. "Saya baru mendapatkan lokasi pukul 23.00 WIB di Pemakaman Umum Porib Caringin," katanya mengenang.

Sepeninggal Ibu Inggit, Ratna Djuami beserta keenam putranya meneruskan usaha membuat jamu dan obat-obatan herbal. Sejumlah perusahaan jamu terkenal dari dalam ataupun luar negeri sudah bersedia untuk memproduksi dan menjadikan nama Ibu Inggit sebagai merek dagang. "Akan tetapi, lagi-lagi muncul larangan yang tidak jelas apa alasannya," ujar Tito.

Beban yang ditanggung Ratna Djuami untuk menghidupi keenam anaknya terlalu berat, sehingga tahun 1985 dia berniat menjual rumah warisan yang dibangun 1920-an itu. Namun, lagi-lagi ada banyak rintangan.

Rumah itu selalu urung dijual. Baru pada 1989, Pemprov Jabar membelinya seharga Rp 300 juta. Dengan pertimbangan, jika rumah itu jatuh ke pihak lain dikhawatirkan akan berubah fungsi. Selain itu, akan menghilangkan pula jejak perjuangan Ibu Inggit sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan yang juga turut andil dalam memerdekakan bangsa ini.

"Alasan lainnya, rumah yang kami tempati ini merupakan rumah pemberian Soekarno yang memiliki nilai sejarah. Ini perlu kami luruskan, rumah ini merupakan hasil jerih payah Ibu Inggit dari berjualan obat-obatan, ramuan kecantikan tradisional, dan rokok kawung. Ditambah bantuan Mr. Sartono, Moh. Thamrin, Sukartono (kakak R.A. Kartini), Tan Tjoei Gien (pemilik toko kain di Jalan Raya Barat), dan Ibu Wardoyo (kakak kandung Bung Karno)," ujar Tito.

**

Setelah rumah itu dilepas ke Pemprov Jabar, ternyata urusannya masih panjang. Suatu lembaga dari Belanda berniat membeli surat-surat warisan Ibu Inggit dan Koesno atau Soekarno. Semisal surat nikah yang bertanggal 24 Maret 1923 dan surat cerai yang bertanggal 29 Januari 1943. Dokumen itu dihargai Rp 2 miliar.

"Andai saja saya dan keluarga tidak memiliki rasa nasionalisme dan tidak ingat wasiat dari almarhumah, serta tergiur uang sebanyak itu, mungkin pada 1990-an sudah saya jual. Akan tetapi, karena wasiat warisan tidak boleh jatuh ke tangan yang tidak bertanggung jawab maka kami tidak melepasnya," ujar Tito.

Khawatir ahli waris sedikit demi sedikit melepaskan warisan Ibu Inggit Garnasih, Pemprov Jabar pada masa Gubernur H.R. Nuryana dan atas desakan almarhum Mashudi, akhirnya menguasai beberapa warisan Ibu Inggit. Pemprov pun menganggarkan dana sebesar Rp 5 miliar dari APBD 2003. Tentunya dengan perjanjian, uang itu bukan untuk memperkaya ahli waris Ibu Inggit, tetapi untuk mewujudkan impian Ibu Inggit Garnasih membangun Rumah Sakit Bersalin di Soreang.

Lagi-lagi, impian Ibu Inggit Garnasih harus sirna karena pemprov urung mencairkan uang itu tanpa alasan jelas. Hal ini mengundang kemarahan Eka Santosa yang kala itu menjabat sebagai Ketua DPRD Jabar, karena merasa dilecehkan. Demikian pula halnya dengan almarhum Mashudi.

Megawati yang saat itu Presiden RI turut mendesak Pemprov Jabar agar menyisihkan anggaran untuk merealisasikan Rumah Sejarah Ibu Inggit. Kala itu Megawati menegaskan, Inggit Garnasih adalah salah seorang tokoh wanita pergerakan kemerdekaan asal Jabar yang harus dihargai. "Kalau bukan kita (pemerintah), siapa lagi yang akan menghargai jasa-jasanya," ujar Megawati.

Waktu terus bergulir, seiring dengan bergantinya pucuk pimpinan di Jabar dan semakin bertambahnya usia Tito Zeni Asmara Hadi, tidak satu pun keinginan Ibu Inggit itu menunjukkan tanda-tanda bakal terwujud. (Retno HY/"PR")***

Kamis, 21 Januari 2010

Balong Food

Pada hari Minggu tanggal 10 Januari 2010, Saudaraku pulang dari Ciamis, tiba di Bandung kira-kira pukul 18.30. Saudaraku memberikan sekarung oleh-oleh. Setelah dibuka ternyata isinya singkong, beras, ada goreng ikan, cobek ikan gurame, dan udang.

Mengenai udang memang merupakan pesanan adikku yang sangat menggemari udang. Yang berbeda dari udang ini bukan dari laut tetapi dari balong (kolam) ikan biasa. Udang-udang ini memang belum saatnya dipanen masih harus menunggu beberapa minggu lagi.

Ternyata udang hasil panen pamanku memang sudah besar dan menggugah selera yang suka udang. Saya hanya bisa menatap udang-udang itu bukan apa-apa kalau makan udang saya bisa terserang alergi. Akan tetapi, begitu udang selesai dibersihkan hingga digoreng, warna udang begitu menggugah selera. Dua adikku begitu bernafsu melahap goreng udang oleh-oleh Saudaraku.

Ibuku membujuk untuk mencoba mencicipi goreng udang, awalnya aku menolak karena risiko alergi yang akan menimpa diriku. Apabila aku memakan hidangan dari laut aku akan menderita alergi. Bujukan ibuku yang membuat hati dan pikiran berubah, aku pun mencoba mencicipi goreng udang.

Satu goreng udang selesai ku makan, memang enak, akhirnya ibuku memberikan dua goreng udang lagi, ku lahap dua goreng udang itu dengan perasaan was-was.

Setelah beberapa jam memang ada rasa gatal-gatal di tubuh tetapi tidak terlalu parah hanya sebagian dan aku berusaha untuk tidak menggaruknya. Ternyata gatal-gatal itu hanya bersifat sementara mungkin hanya perasaanku saja.

Lebih dari tiga hari ternyata alergi itu tidak menerpa diriku.

Memelihara udang di balong (kolam) ikan untuk sementara tidak menimbulkan rasa gatal-gatal. Aku pun menjadi penasaran untuk makan hidangan balong food lagi.

Selamat menikmati!!!!!!



Senin, 18 Januari 2010

Pedagang Favorit

Setiap orang mempunyai pedagang yang dianggapnya favorit, apakah pedagang makanan, minuman, alat elektronik, kendaraan dan masih banyak lagi. Setiap orang punya alasan, apakah karena harganya, barangnya yang bagus (berkualitas), kondisi pedagang (baik, ramah, bisa diajak nego), atau karena jarak (lokasi: dekat, strategis) dan masih banyak alasan lain.

Sama halnya dengan Anda semua, saya juga mempunyai banyak pedagang yang dianggap favorit, akan tetapi untuk kali ini saya hanya mengkhususkan pada pedagang makanan, alasannya ya, karena makanan merupakan kebutuhan yang tidak bisa lepas dari keseharian kita walaupun banyak alasan lain.

Apabila pagi hari, waktunya sarapan di rumah belum tersedia makanan untuk sarapan paling cepat membeli makanan di luar, saya biasa membeli bubur nasi atau kupat tahu. Tukang bubur di sekitar rumah tempat saya tinggal memang banyak tetapi yang ada tukang bubur yang mangkal dekat rumah, harga lumayan terjangkau, rasanya enak.


Begitu pula dengan tukang kupat tahu, ada banyak tukang kupat tahu tetapi hanya ada tukang kupat tahu yang enak dan murah dalam arti terjangkau. Akan tetapi, sang tukang kupat tahu sudah meninggal beberapa bulan yang lalu (akibat kecelakaan lalu-lintas) sekarang digantikan oleh saudaranya. Hasilnya tetap enak dan harganya murah.

Sepulang dari kantor, sore hari ada banyak pedagang yang menjadi favorit tetapi hanya tukang gorengan (bala-bala, gehu, cireng, pisang, dan bandrek), tukang baso tahu serta tukang goreng ayam. Kedua pedagang ini memang menjadi favorit, karena selain harga yang murah, makanannya enak, lokasi juga cukup dekat dengan rumah. Khusus tukang baso tahu meskipun sering keliling tetapi dia mumpunyai beberapa tempat mangkal yang bisa dicari.




Apakah Anda mempunyai pedagang favorit dalam keseharian Anda?

Selasa, 12 Januari 2010

Nikmatnya Bandrek Abah

Sudah banyak orang yang membahas tentang bandrek abah. Saya pun ingin sedikit memberikan cerita  mengenai minuman khas Jawa Barat ini meskipun tidak selengkap orang lain saya hanya mendongeng saja. Pertama mengenal bandrek abah, ketika saya masih bekerja di sebuah bimbingan belajar di Bandung. Waktu itu kondisi sedang lembur, saya tidak sengaja masuk ke ruangan tukang cetak dan ruang operasional di meja ada botol yang sedang dikerubuti oleh para pekerja bagian operasional dan tukang cetak. Di antara mereka ada yang menawari saya untuk mencicipi minuman tersebut. 

"Mad, cobaan geura bandrek abah ngeunah", begitu teman saya menawari.

Saya pun menjadi penasaran dan mengambil gelas, terus saya tuangkan cairan bandrek abah ke dalam gelas. Lalu diseduh menggunakan air panas. Diseruput pelan-pelan, hasilnya memang nikmat.

 "Bandrek abah meulina di mana?", tanya saya kepada teman yang menawari bandrek abah tersebut.

"Di daerah Ciwidey, Mad", jawabnya sambil konsentrasi lagi ke mesin cetak.

"Oh, jauh geuningan sugan teh deukeut", balasku.

Setelah sekian lama tidak menemukan lagi bandrek abah, tahun 2009 sembilan menemukan lagi bandrek abah, ini anugrah karena diberi gratis oleh temanku, Andriana. Awalnya waktu kuliah saya sekelas dengan orang Bale Endah, setelah ngobrol banyak, saya pun nyeletuk. 

"Dri, di Bale Endah mah aya bandrek abah atuh", tanya saya sambil senyum.

"Oh, Pa Ahmad seneng bandrek abah, ke ku saya pang mawakeun atuh", jawab Andriana temanku.

Akan tetapi setelah beres kuliah sampai di wisuda, bandrek abah tak juga hadir dihadapanku. Pikirku ya sudahlah bukan rezekinya barangkali.

Setelah sekian lama, tiba-tiba di facebook ada permintaan pertemanan, setelah dilihat ternyata teman kuliah ku Andriana, setelah di add beberapa hari kemudian dia memuali mengajak obrolan (chat) di facebook. Kontan saya saya tanyakan niatnya yang dulu mau memberi saya bandrek. Akan tetapi, perasaan hati tidak enak juga tiba-tiba menagih bandrek, wah harus mengambil siasat dulu, setelah lama chatting akhirnya kutanyakan maksudku. Ternyata dia masih ingat dan mau merespon. Pada chatting berikutnya dia sudah membeli bandrek abah dan akan diberikan ke saya pada hari Sabtu, tanggalnya lupa lagi. Begitu hari Sabtu saya sudah siap menunggu kedatangannya tiba-tiba ada sms, katanya tidak bisa datang hari itu, di daerah Bale Endah hujannya deras sekali. 

Wah batal lagi dapat rezeki, ya sudah saya pun memakluminya. Beberapa hari kemudian ada sms lagi ke hp saya, ternyata hari Sabtu dia akan ke kantor mengantarkan bandrek abah. Betapa kaget sekaligus senang saya akan mendapat bandrek abah. 

Pada hari Sabtu yang sudah disepakati, saya merasa senang karena akan mendapat bandrek abah. Turun dari bus Damri di Jalan Katapang Kaler, belum sampai ke Jalan Burangrang, hp saya berbunyi, pas dilihat, wah Andriana. Pikirku jadi tidak karuan mudah-mudahan jadi jangan sampai batal lagi.

"Halo, Dri", jawabku.

"Pak Ahmad di mana?, mau ke kantor kan?", jawab dari Andriana.

"Muhun Dri, ayeuna nembe bade dugi ka jalan Burangrang", jawabku.

"Oh kitu, diantosnya", jawab Andriana.

Ketika saya sampai di kantor, mata saya tertuju ke tempat parkiran kantor, tapi mengapa tidak ada motor tamu, yang ada hanya motor kantor saja. Lalu saya sms temanku Andriana. 

"Dri, saya tos dugi di kantor", jawaban di sms ku.

Baru saja sending, terus mau melangkah ke ruang kerja hp saya berbunyi lagi.

"Abdi tos di payun, kadieu we heula abdina moal lami", jawaban dalam sms tersebut.

Saya cepat-cepat ke luar, dan ternyata dia sudah menanti, kami pun terus mengobrol, tetapi tidak lama karena temanku ada keperluan lagi. 

"Nuhun Dri, katampi pisan yeuh bandrekna", jawabku sambil mengangkat kantong keresek hitam yang berisi botol bandrek abah.

"Sami-sami Pak Ahmad, abdi bade teras we, teu tiasa lami", jawab temanku sambil memalingkan badannya terus pergi meninggalkan area halaman kantor.

                                                                     ***


Sesampainya di rumah saya sudah tidak sabar ingin mencoba minuman yang berasal dari jahe ini, kubaca petunjukknya meskipun hanya sekilas. Setelah diseduh, ternyata nikmat. Kalau kata Pa Bondan, maknyusssss.

Setelah beberapa hari saya mengucapkan terima kasih lagi ke temanku Andriana melalui surat di facebook. Esok harinya setiba di kantor ku buka facebook ada inbox, ternyata balasan surat dari Andriana sambil memberikan tips, kalau minum bandrek abah yang paling nikmat yakni ditambah dengan creamer. Saya pun  mencoba saran temanku itu dan ternyata memang lebih nikmat tak terhankan. 

                                                                                    

   

Kalau orang lain memberikan informasi yang lengkap mengenai Bandrek abah-nya, saya hanya bisa memberikan dongeng saja. Mudah-mudahan dongeng saya ini tidak membuat pembaca berkerut dahi atau senyum yang penuh dengan teka-teki di dalam hati pembaca.

Menurut informasi temanku Andriana, harga bandrek abah per botolnya besar dari harga Rp25.000 hingga Rp35.000.  Tersedia di daerah Banjaran, Jl. Raya Rancabali Km 7., daerah Ciwidey, dan di tukang rujak, yakni Rujak Ciherang. Terima kasih Dri.

Selamat menikmati Bandrek Abah!!!!!

      ***

Sabtu, 20 Desember 2008

Membangkitkan Potensi Kreatif Wayang Golek

Oleh Cornelius Helmy

Dede Rukmiarna (48), perajin wayang golek asal Jelekong, Baleendah, Kabupaten Bandung, Jumat (19/12), asyik mewarnai mahkota karakter Bima. Paduan warna mewah, kuning, hijau, dan merah dianggap cocok bagi karakter paling kuat Pandawa Lima itu. Namun, kemewahan tersebut hanya milik golek buatannya. Bagi perajinnya, kemewahan merupakan hal langka.

"Wayang golek buatan saya banyak dibeli pencinta seni luar negeri, seperti Inggris. Minimnya hubungan tetap dengan pembeli luar negeri membuat penjualan tidak bisa dilakukan terus-menerus," katanya.

Potret buram perajin juga mulai dirasakan pelaku seni pertunjukan wayang golek. Menurut koordinator lapangan grup wayang golek Putra Giri Harja III, Hendri Chandra (35), selain pada Idul Fitri dan Idul Adha, wayang golek jarang ditampilkan. Harga belasan juta hingga ratusan juta rupiah untuk sekali pertunjukan dianggap terlalu mahal. Masyarakat cenderung beralih pada pertunjukan organ tunggal atau jaipongan yang lebih murah.

"Biaya besar itu memang harus dikeluarkan untuk banyak hal, di antaranya upah bagi minimal 40 personel beserta infrastruktur pertunjukan, seperti listrik dan dekorasi panggung," katanya.

Hal itu sangat disayangkan karena sebenarnya masyarakat masih meminatinya. Hal itu terbukti ketika grup pedalangannya pentas. Sekitar 1.000 orang pasti menyaksikan. Pementasan terbesar biasanya diadakan di Sukabumi, Subang, dan Kuningan.

Selain itu, peminat wayang golek juga banyak berasal dari luar negeri. Mahasiswa Perancis, Amerika Serikat, hingga Vietnam sengaja datang untuk belajar wayang golek ke Padepokan Giri Harja III di Jelekong. Pesanan wayang golek sebagai cendera mata juga masih berjalan, seperti dari Jepang dan Inggris.

"Kalau saat ini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat gencar memperkenalkan industri kreatif. Saya kira wayang golek seharusnya menjadi bagiannya. Wayang golek adalah warisan budaya yang mempunyai potensi terus berkembang, terutama secara ekonomi," ungkapnya.

Sumber daya baru

Dalang Dadan Sunandar Sunarya, pemimpin grup wayang golek Putra Giri Harja III, melihat, sebagai karya seni, wayang golek seharusnya tidak sekadar menjadi warisan tradisional. Wayang golek pun menyimpan potensi ekonomi besar. Dengan kata lain, wayang golek bisa ditempatkan sebagai sumber daya baru yang harus diolah agar mendatangkan kesejahteraan bagi warga bangsa. Salah satunya ialah aktivitas pembuatan wayang golek yang dilakukan banyak penduduk di sekitar Jelekong.

Karena itu, menjadi tugas perajin dan dalang mencari jalan membuat wayang golek semakin diminati. Perajin bisa melakukannya dengan membuat desain wayang lebih menarik, seperti melalui keberagaman mimik muka dan inovasi kostum. Dalang juga bisa melakukan inovasi dengan pembaruan metode pertunjukan, di antaranya penyajian cerita, penggunaan bahasa, dan pemilihan tema. Semua diharapkan lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

"Semuanya bisa dilakukan tanpa melupakan tiga pakem, estetika, etika, dan logika," katanya.

Dalang kontemporer, Umar Darusman Sunandar, mengatakan, kesenian tradisional dianggap kuno dan membosankan oleh generasi muda. Mereka cenderung akrab dengan kebudayaan baru yang lebih mudah diterima, seperti organ tunggal. Oleh karena itu, dalang diharapkan menyesuaikan diri dengan selera penonton, misalnya melalui penyajian humor segar.

"Mungkin menurut dalang senior, banyolan yang saya bawakan dalam pertunjukan keluar pakem. Namun, saya rasa sah bila tujuan dan esensinya membangun masyarakat," katanya. Wayang golek efektif sebagai sarana penyampaian pesan kepada masyarakat. Pemerintah bisa menggunakannya.

Sabtu, 29 November 2008

Belanda Pun Membendung Laut


Netherlands Water Partnership / Kompas Images 
Maeslantkering yang dibangun di muara Nieuwe Waterweg, yaitu kanal yang menjadi gerbang masuk ke Pelabuhan Rotterdam.
 

Sabtu, 29 November 2008 | 03:00 WIB 


Ahmad Arif

Zeeland, provinsi di ujung selatan Belanda, 1 Februari 1953. Musim dingin masih berlangsung ketika malam itu Laut Utara mengamuk dan mengirim badai. Gelombang setinggi 30 meter mengempas pantai, menghancurkan tanggul-tanggul. Air yang hampir membeku menerjang kota, menewaskan 1.835 orang dan memaksa 110.000 warga mengungsi.

Di tanah yang sama, 55 tahun kemudian. Laut Utara masih sesekali mengirim badai. Daratan di Belanda bagian selatan itu masih tetap lebih rendah daripada laut. Bahkan, perbedaan ketinggian muka daratan dibandingkan laut terus bertambah sebagai dampak pemanasan global. Tetapi, jumlah warga yang tinggal di Zeeland makin banyak.

”Warga merasa aman tinggal di kawasan itu. Proyek Delta Plan telah membentengi daratan dari ancaman Laut Utara,” kata Roy Neijland, Project Officer Netherlands Water Partnership (NWP).

Roy tidak membual. Setelah bencana banjir besar tahun 1953 itu, Belanda berjuang keras memenangi pertarungan melawan alam. Tiga belas bendungan raksasa dibangun secara bertahap selama 39 tahun. Bendungan pertama selesai dibangun pada 1958 di Sungai The Hollandse Ijssel, sebelah timur Rotterdam. Kemudian dibangun bendungan The Ooster Dam (The Oosterschelde Stormvloedkering), yang panjangnya hampir mencapai 11 kilometer. Bendungan ini membentengi seluruh daratan Zeeland yang langsung berhadapan dengan bagian Laut Utara.

Dan, bendungan terakhir yang selesai dibangun adalah The Maeslantkering pada 1997. Siang itu matahari terik. Tetapi, suhu yang mencapai 10 derajat celsius pada pertengahan Oktober 2008 mengirim angin yang mencipta gigil. Saya mengerut, baik oleh karena gigil angin maupun karena ketakjuban saat melihat konstruksi Maeslantkering yang dicipta untuk mengantisipasi bencana.

Maeslantkering dibangun di muara Nieuwe Waterweg, yaitu kanal yang menjadi gerbang masuk ke Pelabuhan Rotterdam. Tanggul ini terdiri dari dua bagian lengan yang masing-masing panjangnya 300 meter. Jika diberdirikan, satu lengan setara dengan ketinggian menara Eiffle di Perancis.

Kedua lengan raksasa Maeslantkering ini bisa dibuka-tutup. Komputer secara otomatis akan menutup gerbang ini jika terjadi badai dari Laut Utara mencapai ketinggian di atas tiga meter. Sejak dibangun, dam ini hanya ditutup sekali pada 8 November 2007. Selebihnya, dam ini menjadi obyek wisata dan pendidikan. Tetapi, lebih dari itu, konstruksi ini adalah bukti keseriusan negara dalam memberi rasa aman kepada warganya.

”Air merupakan bagian dari budaya kami. Dan, kami tidak boleh kalah darinya. Air yang bisa memicu banjir harus bisa dikendalikan dan juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih,” ungkap Roy Neijland.

Roy seperti mewakili tekad warga Belanda dalam menyiasati alam, yang sebenarnya tak terlalu bersahabat terhadap mereka karena sepertiga daratan di Belanda lebih rendah dari muka air laut.

Manajemen bencana

Jika Belanda berhasil membendung laut untuk mengatasi bencana, Indonesia seakan tak berdaya menghadapi bencana yang datang bertubi-tubi. Sebut misalnya banjir pasang di pantai utara Jakarta yang rutin datangnya, banjir tahunan yang melanda sejumlah kawasan di Indonesia, terutama di Jakarta, juga tak teratasi, hingga banjir lumpur di Sidoarjo, Jawa Timur, yang berlarut-larut tanpa kepastian penanganan.

Bahkan, tsunami yang melanda Aceh dan berpotensi terjadi di daerah lain di Indonesia pun masih disikapi setengah hati. Di Aceh, rumah-rumah tetap dibangun di tempat yang sama yang dulu pernah disapu tsunami tanpa ada penghalang untuk menghadapi laut yang sewaktu-waktu mengancam.

”Di Indonesia, nyawa rakyat seakan tak begitu berharga,” kata Amien Widodo, ahli manajemen bencana dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), yang ditemui di Surabaya, beberapa waktu lalu.

Amien geram melihat pemerintah yang lamban memindahkan warga Desa Siring Barat, Kecamatan Porong, Sidoarjo, yang sudah dua tahun hidup di daerah rawan bencana. Ribuan warga di Siring Barat selama dua tahun lebih harus hidup menghirup udara beracun dan ancaman amblesnya tanah karena penurunan muka tanah yang nyata.

Menurut Amien, sebagai negara yang rawan bencana, Indonesia tidak memiliki kepekaan untuk mengelola lingkungan. Padahal, kunci untuk mengurangi dampak bencana adalah dengan melakukan mitigasi bencana.

”Antisipasi pemetaan risiko semestinya sudah dilakukan jauh-jauh hari. Analisa risiko dibuat untuk menggambarkan bencana dan kemungkinan peristiwa susulan,” ujar Amien.

Analisis risiko juga akan menghasilkan kejelasan tugas tiap-tiap pihak jika dampak terus meluas, termasuk prosedur yang harus disiapkan untuk kondisi darurat.

Alam sebenarnya bukan masalah. Tetapi, manusia mesti belajar beradaptasi dengan alam. Dalam hal ini, Belanda adalah contoh negara yang gigih menghadapi tantangan alamnya.

Air adalah problem bagi seluruh Belanda. Nama Netherlands pun sejatinya berasal dari kata Belanda ”neder” yang berarti rendah dan ”land” yang berarti tanah. Karena itu, mereka sudah sejak lama berjuang melawan laut yang terus merangsek ke daratan.

Bendungan pertama dibangun Belanda seribu tahun lalu, danau-danau dikeringkan, polder dibuat, dan ketinggian air dikontrol agar daratan Belanda tetap mengapung. Sebagian dana untuk mengapungkan daratan Belanda itu disedot dari sumber daya alam Nusantara yang dibawa VOC (Perhimpunan Dagang Hindia Belanda) pada abad ke-17 sampai ke-19.

Belanda terus berjuang melawan air hingga kini. ”Saat ini kami berjuang melawan kenaikan muka lautan yang terus bertambah akibat pemanasan global. Kami terus beradaptasi,” ungkap Roy Neijland.

Melalui Komisi Delta, yang dibentuk oleh Pemerintah Belanda, negara ini merancang langkah-langkah teknis guna menghadapi tantangan baru berupa naiknya muka lautan. Program Delta hingga 2050 membutuhkan dana sebesar 1,2 miliar euro sampai 1,6 miliar euro per tahun.

Menurut Roy, salah satu kunci dari penanganan bencana yang diakibatkan air di Belanda adalah konsistensi perencanaan dan keinginan untuk terus mencari solusi terbaik dengan melibatkan semua pihak. Masterplan yang dibuat diaplikasikan. Para ahli dan praktisi diundang untuk mengikuti sayembara guna mencari solusi konstruksi terbaik. Dam Maeslantkering juga dibuat dari desain pemenang sayembara.

Di Indonesia, untuk membuat proyek pengendalian kanal banjir di Jakarta yang sudah dimulai sejak zaman kolonial Belanda pun terseok-seok dan belum selesai hingga sekarang. Sampai kapan kita mau belajar terhadap bencana yang datang bertubi-tubi?

Sabtu, 22 November 2008

Michael Jackson Masuk Islam




Bintang pop Michael Jackson telah masuk Islam dan berganti nama menjadi Mikaeel, ungkap Daily Mail, Jumat. Penyanyi berusia 50 tahun itu dilaporkan menjadi Muslim dalam suatu upacara di rumah temannya di Los Angeles.

Michael Jackson yang dibesarkan dalam agama Saksi Jehovah, disebut-sebut duduk di lantai dan mengenakan topi kecil saat sahadat di kediaman Steve Porcaro, komposer musik pada album Thriller.
Dia tertarik dengan Islam setelah berdiskusi dengan penulis lagu asal Kanada, David Wharnsby dan produser Phillip Bubal.

"Mereka berbicara kepada dia tentang keyakinan mereka dan bagaimana mereka menjadi orang yang lebih baik setelah masuk Islam. Michael segera tertarik. Seorang Imam dipanggil dari masjid dan Michael mengucapkan sahadat," kata seorang sumber.

Saudara Jackson, Jermaine Friday, sebelumnya telah memberi sinyal bahwa sang bintang sedang mempertimbangkan untuk memeluk Islam.

"Ketika saya pulang dari Makkah, saya beri dia banyak buku dan dia bertanya tentang banyak hal mengenai agama saya dan saya bilang Islam itu damai dan indah," kata Friday yang masuk Islam sejak 1989. (ANT)JY

Rabu, 15 Oktober 2008

Laskar Pelangi: Kenapa Sukses?


MILES FILMS
Film Laskar Pelangi diangkat dari novel laris karangan Andrea Hirata.

LASKAR Pelangi memang fenomenal. Antrean penonton yang hendak menonton film ini sampai pertengahan Oktober masih cukup panjang. Padahal film ini sudah diputar cukup lama, sejak 25 September lalu. Sampai pertengahan Oktober ini saja jumlah penontonnya sudah mencapai angka yang fantastis, sekitar 1,5 juta orang!


Begitu pula bukunya. Novel ini sejak diterbitkan pertama kali pada September 2005 oleh PT Bentang Pustaka sudah terjual paling-tidak sebanyak 500 ribu eksemplar, belum termasuk bajakannya. Disebut-sebut inilah karya sastra terlaris sepanjang sejarah Indonesia!

Kisah Laskar Pelangi sendiri memang tidak biasa, berkisar pada kisah kehidupan dan persahabatan 10 orang anak yang bersekolah di SD Muhammadiyah di Pulau Belitong. Di bawah bimbingan ibu guru, Bu Muslimah, dan kepala sekolah, Pak Harfan, anak-anak ini menjalani kehidupannya yang getir, namun tetap dengan penuh keceriaan.

Andrea Hirata dengan sangat inspiratif berhasil mengaduk-aduk emosi pembaca. Pada satu bagian kita bisa dibuat terharu sampai menitikkan air mata, sementara pada bagian lain kita dibuat tersenyum. Deskripsi karakter, tempat, dan peristiwa juga mampu membuat imajinasi melayang. Seakan kita benar-benar ikut bertualang bersama anak-anak Laskar Pelangi ini.

Saya sendiri sempat menggunakan kisah Laskar Pelangi ini sebagai ilustrasi ketika menjadi pembicara pada acara “Olympiade and Conference (OlyCon) 2008” yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pengurus Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur pada 1 Maret 2008 lalu.

Acara yang diselenggarakan di kampus biru Universitas Muhammadiyah Malang itu dihadiri 4500 orang kepala sekolah Muhammadiyah se-Jawa Timur. Di situ saya bicara soal Positioning-Differentiation-Brand (PDB) sekolah-sekolah Muhammadiyah. Sebagai keynote speaker adalah Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. HM. Din Syamsuddin, yang sempat menjuluki saya sebagai “Ayatullah Marketing.”

Sekarang coba kita lihat bagaimana PDB dari Laskar Pelangi ini. Ceritanya memang berpusat pada sebuah SD Muhammadiyah. Namun bagi saya, positioning Laskar Pelangi adalah kisah tentang persoalan nasionalis-religius Indonesia, yang sesuai dengan Pancasila. Brand-nya sendiri, Laskar Pelangi, memperkuat hal ini. Indonesia memang Bhinneka Tunggal Ika, yang berbeda-beda namun justru indah ketika menjadi satu, layaknya sebuah pelangi.

Sementara, diferensiasinya juga sangat mendukung positioning tadi. Pertama, diferensiasi dari sisi isi (content). Kisahnya mengandung nilai-nilai pendidikan, moral, dan spiritual yang universal. Indahnya kehidupan yang penuh kebersamaan, kejujuran, kesederhanaan, sikap pantang menyerah, keuletan, dan kesabaran merupakan nilai-nilai ideal manusia Indonesia.

Hal ini juga ditunjukkan lewat berbagai karakternya yang sangat beragam namun bisa bersahabat erat. Ada tokoh Ikal yang sangat imajinatif dan punya cita-cita ingin pergi ke Paris. Ada Lintang, seorang jenius yang anak nelayan miskin. Ada juga Mahar yang punya talenta seni yang luar biasa. Ada A Kiong yang keturunan Tionghoa. Ada juga Flo, gadis tomboi yang berasal dari keluarga kaya. Jangan lupakan juga kisah cinta monyet antara Ikal dengan A Ling yang merupakan saudara sepupu A Kiong.

Sementara diferensiasi dari sisi konteks (context), Laskar Pelangi ini merupakan kisah kalangan akar-rumput di Pulau Belitong yang pluralis. Suatu entitas masyarakat yang khas Indonesia dan masih jarang atau bahkan belum pernah diungkap sebelumnya. Kemudian diferensiasi dari sisi infrastruktur (infrastructure), yang maksudnya bagaimana Laskar Pelangi ini disampaikan kepada masyarakat luas. Bukunya diterbitkan oleh penerbit dari Jogja, bukan dari Jakarta, dan terbukti bisa meledak ketika terjadi buzz di berbagai komunitas online dan offline.

Sementara dalam pembuatan filmnya, orang-orang yang terlibat menunjukkan keragaman. Mulai dari nama-nama yang sudah sangat berpengalaman seperti Mira Lesmana, Riri Riza, Salman Aristo, Cut Mini, Ikranagara, Slamet Rahardjo, Tora Sudiro, Lukman Sardi, dan lainnya; sampai ke para aktor cilik yang merupakan anak-anak asli Belitong dan baru pertama kalinya main film serta langsung jadi tokoh sentral.

Secara keseluruhan, Laskar Pelangi ini memang sangat cocok dengan kebutuhan bangsa kita yang sangat beragam dan sedang memerlukan persatuan nasionalis-religius seperti ini. Tak heran jika banyak orang yang merasa sangat emosional, baik ketika membaca bukunya ataupun menonton filmnya.

Jadi, di era New Wave Marketing saat ini, PDB yang merupakan kunci dari marketing peranannya semakin tambah krusial. PDB yang kuat akan mendatangkan kesuksesan yang berlipat ganda, seperti yang telah dibuktikan oleh Laskar Pelangi.

--- Ringkasan tulisan ini bisa dibaca di Harian Kompas --

Hermawan Kartajaya


"Hermawan Kartajaya adalah pakar pemasaran dari Indonesia. Sejak tahun 2002, ia menjabat sebagai Presiden World Marketing Association (WMA) dan oleh The Chartered Institute of Marketing yang berkedudukan di Inggris (CIM-UK) ia dinobatkan sebagai salah satu dari "50 Gurus Who Have Shaped The Future of Marketing". Saat ini ia juga menjabat sebagai Presiden MarkPlus, Inc., perusahaan konsultan pemasaran yang dirintisnya sejak tahun 1989. Selain aktif menulis buku-buku seputar dunia bisnis dan pemasaran Indonesia maupun internasional, ia juga kerap diundang sebagai pembicara dalam berbagai forum di berbagai negara." 
(Email : newwave@kompas.co.id)

-----------------------------------------------------------------------------------------------

Dari "Laskar Pelangi" ke Laskar Kreatif
Rabu, 15 Oktober 2008 | 01:06 WIB 


”Pasar (ekonomi kreatif) hanya akan terbentuk jika kita punya IT literacy tinggi dan sebesar-besarnya masyarakat mengakses IT”.

(Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu, INAICTA 2008, 08/8/2008)

Menonton film Laskar Pelangi tak diragukan lagi merupakan pengalaman menggetarkan. Penonton tergetar karena ketegaran menyambut tantangan masa depan yang diperlihatkan anak-anak muda Belitung. Selebihnya, yang menggetarkan adalah panorama alam Indonesia yang diangkat oleh sineas Tanah Air ke layar perak. Segalanya tampak polos, alamiah.

Itu tentu sudah pencapaian yang bagus. Sukses Laskar Pelangi setelah Ayat-ayat Cinta meneguhkan apa yang disampaikan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengenai kebangkitan industri kreatif di Tanah Air. Seperti disampaikan dalam kuliah umum di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) di Tangerang, 5 September silam, sekarang ini ada 14 bidang yang diunggulkan dalam industri kreatif di Indonesia. Hal itu meliputi periklanan; arsitektur; barang seni; kerajinan; desain; mode; permainan interaktif; musik; seni pertunjukan; penerbitan dan percetakan; layanan komputer dan peranti lunak; radio dan televisi; riset dan pengembangan; serta film, video, dan fotografi.

Kita bangga film dan musik bangsa sendiri kini sudah bangkit dan ternyata bila digarap dengan baik mampu menarik hati audiensi di Tanah Air, bahkan di kawasan regional. Benar juga kalau dikatakan bahwa industri kreatif baik untuk dikembangkan karena selain membuka potensi ekonomi juga bisa mengangkat citra bangsa dan menyemaikan sumber daya terbarukan. Indonesia tidak keliru memilih industri ini karena potensi berupa kekayaan seni budayanya amat tinggi.

Apa setelah ”Laskar Pelangi”?

Dari sisi industri, dunia perfilman sebagai salah satu industri kreatif potensial harus tertantang untuk terus melangkah maju. Pada film asing, kini selain cerita yang menyentuh juga dihadirkan animasi dan efek yang diharapkan mampu meningkatkan tingkat kualitas hiburan. Dengan itu pula ibaratnya rentang kemungkinan ekspresi artistik diperluas dan diperdalam.

Sekadar contoh, lalu muncul film seperti sekuel The Jurassic Park, Matrix Revolution, atau Terminator, dan yang belum lama ini Kung Fu Panda. Kita ingat, dalam film Jurassic Park penonton dibuat terpana menyaksikan bagaimana makhluk- makhluk purba yang sudah punah 65 juta tahun silam bisa dibuat hidup lagi, sedemikian hidupnya hingga efek menakutkan dan mencekam amat nyata. Pada Kung Fu Panda, itulah animasi par excellence.

Tetapi, kita paham betul apa yang ada di balik semua kecanggihan itu, dan itu tidak lain tidak bukan adalah teknologi komputer, atau teknologi informasi (TI) pada umumnya. Batasnya adalah imajinasi, ini yang sering dikemukakan para ahli komputer.

Kita berharap film Indonesia setelah Laskar Pelangi juga dapat terus melangkah ke dimensi lebih canggih tanpa meninggalkan cerita yang tetap merupakan unsur utama dalam industri kreatif ini.

Teknologi yang diperlukan

Dalam ungkapan ringkas, lingkup peranan dan keterkaitan industri kreatif dengan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) disampaikan dalam kutipan di awal tulisan ini. Sebagaimana juga dikutip oleh Restituta Ajeng Arjanti (dalam situs QB Creative), Menteri Perdagangan juga menyebutkan tiga aspek penting TIK dalam menciptakan industri kreatif, yakni TIK sebagai industri, TIK sebagai alat untuk menciptakan industri, dan TIK sebagai alat untuk mengerti tentang pasar dan konsumen.

Menperdag bahkan memperlihatkan TIK sebagai jalan keluar bagi permasalahan yang dihadapi industri musik dewasa ini, yakni pembajakan.

Sebagaimana juga disampaikan dalam kuliah di UMN, Mari juga menyebutkan, industri iklan pun beralih ke internet, dalam hal ini melalui milis dan blog, yang juga banyak digunakan untuk ”menghakimi” satu produk baru. Dengan cara ini, iklan tradisional di koran atau TV tak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi untuk menilai satu produk baru.

Berdasarkan ilustrasi di atas, pekerjaan rumah yang tak terelakkan dalam upaya pengembangan industri kreatif adalah menguasai TIK. Di sini pun tiga aktor utama dalam industri kreatif—pemerintah, bisnis, dan lembaga penelitian, atau sering juga disebut triple helix, atau juga ABG (academician, business, government)—punya peran penting masing-masing.

Pemerintah berperanan membuat elemen TIK, termasuk tarif bandwidth untuk akses internet semurah mungkin, sementara lembaga penelitian mendukung penyediaan teknologi dan riset, adapun dunia bisnis berperan memfasilitasi komersialisasi produk industri kreatif.

Hanya dengan inilah kita bisa berharap di bidang film, misalnya, satu hari nanti akan muncul film Indonesia yang didukung rumah animasi yang mengingatkan orang pada DreamWorks Animation yang membuat Kung Fu Panda.

Dalam dunia yang sudah terbuka, penonton film Indonesia tentu juga akan membanding- bandingkan sehingga kalau memang di Amerika pembuatan film didukung oleh komputer dengan prosesor multicore, yang bisa menghadirkan efek dramatik yang membuat orang menahan napas, di sini pun kelak akan muncul tuntutan serupa.

Tanpa akses dan penguasaan terhadap TIK, kegeniusan insan kreatif Indonesia akan terkendala karena kreativitasnya mentok di plafon yang mandek. Dalam kaitan inilah terlihat perlunya melangkah dari Laskar Pelangi ke laskar (industri) kreatif yang didukung oleh TIK, alat yang akan membantu insan animator dan ahli efek memecahkan tantangan artistik.