Kamis, 30 Agustus 2012

Menjaring Turis dengan Kopi

Penulis : Ni Luh Made Pertiwi F | Kamis, 30 Agustus 2012 | 09:27 WIB


KOMPAS/DEDI MUHTADI Sejumlah turis Jerman diantar pemandu wisata berpakaian khas adat Naga berjalan-jalan di Kampung Adat Naga awal Mei 2012.  


JAKARTA, KOMPAS.com - Kopi menjadi minuman yang berkaitan erat dengan wisata kuliner sebagai bagian dari wisata minat khusus yang tengah dikembangkan pemerintah Indonesia. Apalagi, Indonesia memiliki beragam cita rasa kopi.

"Kopi kita memang berorientasi untuk ekspor. Kita punya kopi dari potensi Aceh, Sidakalang, Lampung, Jawa, Bali, Flores, Toraja, Wamena," tutur Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sapta Nirwandar di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Selasa (28/8/2012) lalu.

Apalagi, luas areal perkebunan kopi di Indonesia mencapai 1,3 juta hektare. Sebagian besar kebun kopi tersebut dikembangkan sebagai agrowisata kopi yang diminati wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan nusantara (wisnus).

Sapta memberikan contoh pasar wisman asal Eropa. Berdasarkan data kunjungan wisman ke Indonesia dari BPS, ada sekitar 1 juta wisman asal Eropa yang datang ke Indonesia. Sapta menjelaskan kebiasaan orang Eropa yang senang minum kopi.

Sepengetahuan saya, orang Eropa minum kopi minimal 3 kali, minum di pagi, siang, dan sore hari. Bahkan di sela-sela waktu seperti saat coffee break. Di Perancis, saya pernah tinggal di sana, orang Perancis dalam sehari bahkan bisa minum lima kali," ungkap Sapta.

Hal tersebut tentu menjadi pasar besar bagi para petani kopi, produsen kopi, maupun restoran dan kedai yang menyajikan kopi di Indonesia jika para wisman tersebut meminum kopi dari biji kopi asli Indonesia maupun dengan penyajian khas Indonesia.

Sapta menuturkan keunikan kopi Indonesia tak hanya cita rasanya, tetapi juga cara pengolahannya dan penyajiannya. Oleh karena itu, pihaknya gencar mempromosikan Kopi Luwak yang berasal dari Indonesia serta Kopi Tubruk yang merupakan penyajian kopi khas Indonesia. Ia berharap keduanya lebih dikenal masyarakat dunia.

"Di dunia, juga ada perubahan dari peminum teh berat sekarang mulai minum kopi juga. China dan Korea dulu semuanya, 99 persen minum teh. Sekarang mulai gerak minum kopi," ungkapnya.

Hal tersebut, lanjutnya, tercermin pula dengan kedai kopi luwak yang berlokasi di Korea Selatan. Kedai asal Indonesia tersebut bisa menjual satu juta cangkir kopi sehari. Sapta pun berharap dengan promosi mengenai kopi Indonesia, dapat meningkatkan minat wisman untuk datang ke Indonesia mencoba kopi sebagai wisata kuliner.

Editor :I Made Asdhiana

Rabu, 15 Agustus 2012

Jejak Wallace di Ternate yang Dilupakan

Senin, 13 Agustus 2012 | 11:26 WIB


  

 Oleh Ahmad Arif dan M Zaid Wahyudi
KOMPAS.com - Pada Febuari 1858 itu, Alfred Russel Wallace tergeletak di kamar tidurnya, terserang demam, kemungkinan karena malaria. Dari kamarnya di sebuah rumah di Ternate, Maluku Utara, yang disebutkannya tak jauh dari pasar dan benteng, dia menulis surat kepada Charles Darwin. Saat itu, Darwin berada nun jauh di Kepulauan Galapagos.

"Surat dari Ternate" inilah yang kemudian menjadi tonggak penting bagi Darwin untuk menerbitkan bukunya, Origin of Species, pada 1859. Buku ini berisi proses seleksi alam yang memicu evolusi. Dari sini, Darwin dikenal sebagai Bapak Evolusi.

Surat yang dikirim Wallace itu memberi jawaban bagi Darwin tentang fenomena keberagaman hayati: the fittest would survive (individu inferior akan mati dan individu superior akan bertahan).

Surat berjudul ”On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely from the Original Type” itu membuka dialektika tentang siapa yang layak menyandang gelar sebagai penemu teori evolusi. Apakah Wallace lebih dulu atau Darwin? Bukankah Darwin baru menerbitkan teorinya setahun kemudian setelah surat Wallace?

Belakangan, dunia pengetahuan mengakui Wallace adalah penemu teori evolusi bersama-sama dengan Darwin. Sebelumnya, hanya Darwin yang menikmati popularitas sebagai penemu teori evolusi.

Ternate, yang menjadi tempat tinggal Wallace selama empat tahun dalam bertahun-tahun pengembaraannya di Nusantara, menjadi sangat populer. Ternate bukan lagi cengkeh dan pala semata, melainkan juga tempat Wallace menuliskan gagasan cemerlang. ”Surat dari Ternate” adalah khazanah berharga perjalanan pengetahuan modern.

Selama di Ternate, Wallace juga melahirkan karya hebat, di antaranya menemukan perbedaan karakteristik flora dan fauna berdasarkan lempeng bumi.

Sebuah garis maya dibuatnya untuk memisahkan antara flora-fauna di Indonesia bagian timur yang ada di Lempeng Australia dan Indonesia bagian barat yang berada di Lempeng Eurasia. Garis yang kemudian dikenal sebagai Garis Wallace ini terentang sepanjang Selat Makassar dan memanjang ke Selat Lombok.

Garis ini tak hanya mengisahkan jalan hidup flora-fauna antarlempeng yang terpisah laut dalam, tapi juga perbedaan karakteristik manusia yang dapat diamati. Wallace mengelompokkan manusia di Indonesia barat dalam ras Melayu dan ras Papua untuk manusia di Indonesia timur.

Di Maluku-lah kedua ras itu bertemu. Wallace menyebut penduduk di Pulau Obi, Bacan, dan Halmahera sebagai perpaduan ras Melayu dan Papua. Perpaduan inilah yang dibuktikan secara genetik pada 2011 oleh sejumlah ahli genetika Indonesia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat dalam ”Genetic Continuity Across a Deeply Divergent Linguistic Contact Zone in North Maluku, Indonesia.

Jejak Wallace
Walllace menjadikan Ternate sebagai tempat singgah dari pengembaraannya ke Halmahera, yang dulu disebutnya Gilolo (mengacu pada nama Kesultanan Jailolo), hingga ke New Guinea (Papua) dan pulau-pulau gunung api di sekitar Maluku untuk mengumpulkan beragam flora-fauna.

Dengan bersemangat Wallace berkisah tentang kota Ternate, yang dinaungi Gunung Gamalama. ”Letaknya sangat strategis sehingga pemandangan di segala penjuru tampak jelas.... Di balik kota, berdiri gunung api yang lerengnya landai dan tertutup pohon buah-buahan lebat,” tulis Wallace saat baru tiba di Ternate pada 8 Januari 1858.

Wallace juga membanggakan rumah di Ternate yang disewa empat tahun. ”Di samping untuk menyusun koleksi (flora-fauna), rumah itu saya perlukan guna memulihkan kesehatan dan mempersiapkan perjalanan-perjalanan berikutnya,” tulisnya.

Dia pun menggambar denah dan mendeskripsikan rumah yang ditinggalinya di Ternate itu. ”...sehingga memungkinkan pembaca untuk mengenal struktur bangunan di Ternate,” tulis Wallace. Di rumah inilah Wallace menulis ”Surat dari Ternate”.

Sekitar 154 tahun kemudian, jejak pengembaraan Wallace di Ternate nyaris tak meninggalkan jejak, selain gang kecil di Kelurahan Santiong, Ternate Tengah, yang diberi nama Lorong Alfred Russel Wallace.

Persis di samping gang itu, sebuah rumah yang kini dihuni keluarga Paunga Tjandra (63), diduga sebagai rumah tinggal Wallace selama di Ternate. ”Rumah ini dibeli ayah saya dari almarhum H Ucu Bai, warga di sini. Kami awalnya tidak tahu-menahu ini rumah Wallace,” kata Verjon Tjandra (35).

Verjon menunjukkan satu tiang tembok dan bekas sumur yang telah ditutup di pekarangan belakang rumah. ”Bekasnya, ya, hanya ini,” katanya. ”Banyak peneliti, sebagian bule, yang datang akhirnya kecewa karena memang hanya ini yang tersisa.”

Tiadanya jejak Wallace itu juga dikeluhkan Prof Sangkot Marzuki, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Wallacea Indonesia. Ahli genetika ini menulis komentar dalam buku The Malay Archipelago edisi Indonesia, Kepulauan Nusantara (2009).

"Alfred Russel Wallace adalah nama besar dalam jagat ilmu pengetahuan dunia. Namun, melalui bukti-bukti, peninggalan Wallace dengan nyata teraba dan dengan mudah teridentifikasi bahwa dia adalah bagian sejarah bangsa Indonesia...," tutur Sangkot. ”Ternate—tempat ia lama bekerja dan tempat sesungguhnya teori akbar mengenai evolusi lahir—sama sekali bersih dari tanda-tanda yang mengingatkan penemuan paling besar pada abad ke-19 itu. Sayang sekali.”

Pada tahun 2008, Yayasan Wallacea dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia pernah berinisiatif mendirikan monumen Wallace di halaman rumah Paunga. Tujuannya untuk mengangkat kembali nama Wallace di Ternate. Namun, monumen itu hingga kini tak terwujud. Tiadanya kesepakatan harga tanah antara pemilik rumah saat ini dan pemerintah membuat situs sejarah itu terbengkalai.

Nama jalan di depan rumah itu pun sudah diubah. Nama jalan itu diubah menjadi Jalan AR Wallace pada 2008 dari sebelumnya bernama Jalan Nuri. Namun, tahun 2010, namanya diubah lagi menjadi Jalan Juma Puasa hingga sekarang.(Prasetyo Eko P/A Ponco Anggoro)
Ikuti perjalanan ekspedisi Cincin Api Kompas di www.cincinapi.com
Sumber :Kompas Cetak
Editor :Tri Wahono

Mangga Terbaik

KORPORASI

Rabu, 15 Agustus 2012 | 07:56 WIB



Shutterstock 
Ilustrasi  


”Maaf, itu mangga Thailand. Silakan membeli. Namun, setengah jam lagi, istri saya akan membawa mangga terbaik Pakistan. Enaknya tiada tara,” ujar Mohammad Fawzan (34), pedagang buah asal Somalia, di pasar kaget tak jauh dari Stasiun Kereta Api Woolwich Arsenal, London, 9 Agustus lalu.

Begitu istrinya muncul dengan mangga Pakistan, Fawzan langsung berteriak lantang. ”Mangga Pakistan sudah datang. Silakan beli,” ujarnya.

Fawzan tidak hendak menyepelekan mangga dari negara tertentu. Kenyataan lapangan menunjukkan bahwa mangga Pakistan lebih disukai, menyusul Thailand, Vietnam, China, dan Malaysia. Mangga dari Indonesia tidak disebut-sebut. Warga Inggris juga menyukai buah asal benua Asia, seperti semangka, pisang, nanas, pepaya, dan buah naga.

”Buah Indonesia? Pisang dan mangga asal Jawa Timur pernah masuk beberapa waktu lalu, tetapi kemudian lesap. Entah mengapa,” ujar Eliot Emmamuel, rekan Fawzan.

Ilustrasi di atas sekadar menggambarkan keadaan riil. Bicara buah mangga, nilai nominal yang muncul adalah angka-angka yang kecil. Tidak akan mengangkat nilai ekspor sebuah negara.

Namun kalau ekspor buah itu dilakukan secara massal, misalnya menembus sepuluh negara Eropa, angkanya tentu lain. Apalagi kalau disertai buah-buah yang lain, misalnya pisang dan pepaya, tentu angkanya fantastis.

Sekadar gambaran, Belanda yang jadi eksportir bunga tulip mampu meraup miliaran euro tiap tahun. Padahal, yang diekspor hanya bunga tulip. Belanda pun dijuluki ”Negeri Tulip”.

Indonesia kiranya perlu memikirkan mengekspor lebih banyak buah dan sayuran segar ke mancanegara. Ekspor tersebut hendaknya tidak hanya dipandang dari aspek finansial.

Akan tetapi, sebutlah semacam ”awareness” tentang eksistensi Indonesia. Kita suka kalau nama negeri ini diucapkan dengan penuh kekaguman oleh warga dunia karena buah kita enak. Entah itu mangga, pisang, atau nanas.

Begitulah pikiran sederhana yang muncul saat berlangsung Olimpiade 2012 London. Buah yang dijual umumnya buah dari negara lain. Umumnya dari negara-negara Asia, di antaranya Malaysia, Vietnam, Kamboja, Thailand, Pakistan, bahkan India, Banglades, dan Singapura. Bayangkanlah, Singapura juga berjualan buah di Eropa. Hebat.

Di kafe-kafe di sekitar gelanggang Olimpiade London, dijual aneka minuman ringan dengan merek terkenal yang menjadi favorit. Minuman lain, misalnya jus buah dari beberapa negara, juga menjadi minuman yang disukai. Untuk minuman air mineral, evian dari Perancis dan beberapa minuman alami Inggris disukai. Ada minuman alami lain, yakni dari Fiji. Selain kemasannya atraktif, rasanya pun sangat segar.

Fiji, negara kepulauan kecil di Pasifik, mampu menyuguhkan minuman mineral. Memang hanyalah minuman mineral, tetapi ia menjadi bahan percakapan publik dunia. Minuman itu hadir di lima benua. Diam-diam Fiji menjadi produsen minuman mineral yang bermutu dan disukai. Ini iklan gratis untuk Fiji.

Ini sungguh soal kecil, tetapi perlu jadi perhatian pemerintah dan para usahawan. Masak susah mengekspor mangga, pisang, pepaya, dan nanas? Fiji yang ”kecil” saja mampu menembus pasar dunia. Kok, Indonesia dengan jumlah penduduk nomor empat terbesar di dunia tidak mampu? (Abun Sanda)
Sumber :Kompas Cetak
Editor : Erlangga Djumena

Rabu, 01 Agustus 2012

Luar Biasa! Triyatno Rebut Medali Perak

Rabu, 1 Agustus 2012 | 03:35 WIB

Olimpiade London 2012



Yuri Cortez/AFP
Triyatno rebut medali perak  


LONDON, KOMPAS.com — Indonesia berhasil menambah perolehan medali di ajang Olimpiade London 2012. Cabang angkat besi kembali menjadi penyumbang medali bagi kontingen "Merah Putih", kali ini melalui lifter putra Triyatno.

Medali perak berhasil direbut oleh Triyatno setelah ia berjuang keras dalam perlombaan di kelas 69 kilogram putra yang berlangsung di arena Excel London, Rabu (1/8/2012). Triyatno mampu menduduki peringkat kedua dalam klasemen akhir setelah membukukan total angkatan seberat 333 kilogram.

Lifter peraih medali SEA Games 2011 itu awalnya tampil kurang meyakinkan pada angkatan snatch setelah mengangkat beban seberat 145 kg. Tetapi, pada saat angkatan clean and jerk, ia secara dramatis berhasil mengangkat beban seberat 188 kg pada kesempatan ketiga atau terakhir. 

Medali emas di kelas 69 kg putra diraih oleh lifter China, Lin Qingfeng, yang membukukan total angkatan 344 kg. Sementara medali perunggu direbut lifter Romania, Martin Razvan Constantin, dengan angkatan seberat 332 kg.

Lifter Indonesia lainnya yang juga berlaga di kelas ini, Deni, belum mampu unjuk gigi. Peraih perak SEA Games 2011 ini hanya menempati peringkat 12 dengan total angkatan seberat 311 kg.  Deni mengangkat beban 140 kg pada angkatan snatch dan 171 kg pada saat clean and jerk.

Dengan tambahan satu medali perak ini, Indonesia dipastikan akan memperbaiki posisinya dalam peringkat perolehan medali. Perak yang disumbangkan Triyatno juga setidaknya menjaga tradisi medali olimpiade dari angkat besi. Lifter Indonesia, khususnya lifter putra, sudah lama unjuk gigi di olimpiade.
***
Eko Yuli Irawan Raih Medali Perunggu Cabang Angkat Besi

 


REUTERS/"PRLM"
ATLET Indonesia Irawan Eko Yuli menyumbangkan medali pertama kontingen ke Olimpiade London 2012, yaitu medali perunggu pada final angkat berat pria 62 Kg Grup A, Senin (30/7/12) waktu setempat.* 


LONDON, (PRLM).- Eko Yuli Irawan menjadi atlet pertama yang menyumbangkan medali untuk kontingen Merah Putih. Eko Yuli Irawan sukses mengamankan medali perunggu setelah mencatatkan angkatan total 317kg (154 snatch dan 172 clean and jerk), Senin (30/7/12) waktu setempat.

Sementara atlet Korut, Kim Un Guk memenangkan emas cabang angkat besi kelas 62-kilogram putera, sementara Oscar Mosquera dari Kolombia dan Eko Yuli Irawan dari Indonesia merebut medali perak dan perunggu.

Hasil ini mengulangi prestasinya empat tahun lalu pada Olimpiade 2008, Beijing China di mana dia juga mampu meraih medali perunggu. (A-108)***


Minggu, 29 Juli 2012

Penerbang Lakukan Napak Tilas Serangan ke Tangsi Belanda





PENTAK ADICUTJIPTO/"PRLM"
PESAWAT T-33 Charli yang digunakan napak tilas Siswa Sekolah penerbang TNI AU (Sekbangau) dan Sekolah Instruktur Penerbang (SIP) akan take off di Lanud Adi Sutjipto, Minggu (29/7).*
 
 
YOGYAKARTA, (PRLM).- Untuk mengenang peristiwa heroiknya para pendahulu TNI Angkatan Udara, yaitu peristiwa pengeboman tangsi-tangsi militer Belanda yang berada di Kota Salatiga, Semarang dan Ambarawa tepatnya 65 tahun lalu oleh Kadet Penerbang AURI, Siswa Sekolah penerbang TNI AU (Sekbangau) dan Sekolah Instruktur Penerbang (SIP) mengadakan napak tilas peristiwa tersebut di Lanud Adi Sutjipto, Minggu (29/7).

Pesawat yang mereka gunakan dalam pengeboman tangsi Belanda adalah pesawat-pesawat peninggalan Jepang yang sudah rusak dan di perbaiki seadanya oleh para tehnisi AURI di antaranya pesawat Guntei dan Cureng.

Dengan semangat dan keberaniannya para siswa penerbang AURI tersebut, Suharnoko Harbani didampingi gunner-nya menggunakan pesawat Cureng mengebom tangsi Belanda yang berada di Ambarawa, Sutarjo Sigit dan Sutardjo mengebom Salatiga menggunakan pesawat Cureng, sedangkan Mulyono dan Durachman denga pesawat Guntei mengebom Semarang. Walaupun bom-bom yang mereka bawa hanya dipangku dan dijatuhkan dilemparkan dengan tangan secara manual.

Peristiwa pengeboman di pagi buta dimana masih sebagian orang-orang masih terlelap tidur, sangat menggetarkan pihak militer Belanda pada waktu itu, sehingga siang harinya pihak Belanda melakukan patroli udara hingga ke wilayah Yogyakarta dan berpapasan dengan sebuah pesawat Dakota VT-CLA yang disewa pemerintah RI untuk mengangkut obat-obatan dari Malaya, dan pesawat Dakota tersebut ditembak oleh pesawat Kitty Hawk Belanda dan jatuh di Desa Ngoto.

Tertembak jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA yang dipiloti oleh penerbang berkebangsaan Australia tersebut mengakibatkan beberapa penumpangnya tewas. Di antaranya Abdurachman Saleh, Adi Sutjipto dan Adi Soemarmo, dan ketiganya saat ini menjadi nama Pangkalan TNI AU. Dari peristiwa tersebut, setiap tanggal 29 juli di peringati Hari Bakti TNI Angkatan Udara sebagai bentuk penghargaan dan penghargaan atas jasa-jasanya para pahlawan dirgantara.(A-147)***
 

Tsunami Tertua di Nusantara yang Tercatat

KESAKSIAN RUMPHIUS

  Sabtu, 28 Juli 2012 | 17:53 WIB
  
 
 
 
Oleh Prasetyo Eko P/Ahmad Arif

Lonceng-lonceng di Kastel Victoria di Leitimor, Ambon, berdentang sendiri. Orang berjatuhan ketika tanah bergerak naik turun seperti lautan. Tak lama kemudian air laut datang dengan suara bergemuruh. 

Demikian penggalan catatan naturalis Georg Everhard Rumphius tentang gempa dahsyat disusul tsunami yang melanda Pulau Ambon dan Seram pada 17 Februari 1674. Catatan itu dibuat Rumphius pada 1675 dan jadi satu-satunya naskah yang diterbitkannya semasa hidup.

Kastel Victoria di Leitimor itu kini ada dalam kompleks Benteng Victoria, Ambon. Lokasi benteng ini persis di seberang Kantor Gubernur Provinsi Maluku. Saat ini benteng itu dijadikan kompleks perkantoran dan perumahan Komando Daerah Militer XVI/Pattimura.

Catatan Rumphius itu sejauh ini merupakan dokumentasi lengkap tertua yang dibuat tentang gempa dan air laut naik (istilah tsunami belum dikenal saat itu) di Nusantara. Sebelumnya, bahkan hingga ratusan tahun kemudian, kisah tsunami di Nusantara lebih kerap disebutkan dalam cerita lisan.

Awalnya, naskah ini disimpan di Perpustakaan Kerajaan Belanda di Den Haag dalam kategori anonim. Baru pada tahun 1871 ditetapkan bahwa laporan itu dibuat Rumphius. Pada tahun 1998, catatan itu diterbitkan kembali atas transkripsi W Buijze.

MJ Sirks PhD, profesor genetika dari Universitas Groningen dalam tulisan Rumphius, the Blind Seer of Amboina menyatakan, Rumphius begitu terikat dengan Ambon karena selama hampir 50 tahun dia tinggal di sana dan mengalami tragedi sekaligus kebahagiaan dalam pekerjaannya.

Penyaksi buta
Kisah perjalanan Rumphius memang penuh tragedi. Dia menghabiskan masa mudanya di Hanau, Jerman, tempat ayahnya, August Rumpf, menjadi arsitek terkenal. Namun, itu tidak menghalangi ketertarikan Rumphius untuk menjadi petualang. Ia berharap untuk melihat dunia yang lebih besar dari Hanau.

Rumphius pun meminta gurunya, Count Ludwig von Solms Grifenstein-Braunfels, untuk didaftarkan sebagai tentara Republik Venesia.

Namun, setelah naik ke kapal di Holland, bagian barat Belanda, ia sadar telah ditipu. Rumphius ternyata justru dimasukkan menjadi tentara West Indies Company (WIC). Awalnya dia memang akan dikirim sebagai prajurit ke Venesia, namun kapal itu mengubah haluan dan membawa para prajurit itu ke Brasil.

Di tengah jalan, kapal Swarte Raef, yang membawa Rumphius, diserang kapal Portugis. Rumphius kemudian dibawa ke Portugis. Di sana ia dan teman- teman prajuritnya dilatih untuk menjadi tentara Portugis.

Periode ini menjadi titik balik kehidupan Rumphius. Di Portugis, keinginan bertualangnya tersalurkan ke arah lain. Ia mendengar begitu banyak cerita luar biasa tentang dunia timur, dunia tumbuhan yang aneh, dan hewan-hewan asing yang juga aneh. Semua itu membuat keinginan Rumphius untuk menjelajah kian besar.

Setelah meninggalkan Portugis pada 1648 atau 1649, Rumphius kembali ke Hanau. Pada akhir 1652, ia mendaftarkan diri sebagai tentara East Indies Company (EIC). Pada Juni 1653, dia pun mendarat di Batavia dan pada 8 November ia pergi ke Pulau Ambon.

Menjadi tentara ternyata tidak memuaskannya. Gubernur Ambon saat itu, Jacob Hustaerdt, kemudian memberinya tugas sipil. Pada 1662 Rumphius resmi menjadi menjadi pegawai perdagangan di perusahaan EIC.

Pada saat itu juga Rumphius mulai mempelajari hewan dan tumbuhan di Ambon secara sistematis. Selama bertahun-tahun ia mendedikasikan waktu luangnya untuk belajar dan menulis tentang flora dan fauna Ambon.

Rumphius kemudian menjadi pimpinan di Hitu, sebuah daerah di pesisir utara Jazirah Leihitu di bagian utara Pulau Ambon. Di sana ia tinggal bersama keluarganya. Setelah dibebastugaskan dari perusahaan, Rumphius menemukan kebahagiaan dengan meneliti alam.

Namun, pada tahun 1770 Rumphius mengalami tragedi tragis. Dia kehilangan penglihatannya, tanpa ada penjelasan penyebabnya. Kebutaan yang dialami tidak menghalanginya untuk melanjutkan penelitiannya tentang flora dan fauna Ambon.

Dalam ilmu alam, Rumphius menghasilkan tiga kerja besar: Amboinsch Kruidboek, Amboinsch Rariteitkamer, dan Amboinsch Dierboek.

Kruidboek atau ”Herbarium Amboinense” dipandang sebagai karya terbesar Rumphius. ”Di antara tulisan-tulisan itu ada tulisan Rumphius lain yang kurang penting. Akibatnya, Tuan-tuan yang Mulia, ia tidak terlalu merekomendasikannya. Ada yang Amboinsche-Rariteitkamer, yang terdiri dari tiga buku, dan masih ada buku lain, Land-, Lugt-en Zeegedierten dari kepulauan ini...” (dari surat Gubernur Ambon ke Gubernur Jenderal di Batavia pada 20 Mei 1697).

Pada 1679 dan 1680, Gubernur Ambon memberikan asisten yang bernama Daniel Crul untuk membantu kerja Rumphius. Anak Rumphius, Paulus Augustus, juga membantu, setidaknya dari 1686. Rumphius menghasilkan banyak sekali karya sehingga Gubernur Ambon Dirck de Haes menulis, ”Pekerjaan sepertinya telah selesai, dan saat ini ada 1.720 bab termasuk 12 buku.”

Namun, tragedi rupanya tidak menjauh dari Rumphius. Dalam kebakaran besar di Ambon, pada 11 Januari 1670, buku, koleksi, dan manuskrip Rumphius turut hancur. Untungnya sebagian buku utama bisa diselamatkan, namun gambar-gambar yang dibuat Rumphius sebelum tahun 1670 turut dimakan api.

Tragedi terbesar
Bagi Rumphius, tragedi terbesar yang dialaminya terjadi pada 1674, ketika gempa dan gelora tsunami melanda. Bukan hanya karena petaka itu menewaskan 2.322 orang di Pulau Ambon dan Seram, tetapi juga menewaskan istri Rumphius dan salah satu anak perempuannya.

Hila, di dekat Hitu, disebut Rumphius sebagai daerah yang paling menderita. ”Begitu gempa mulai menggoyang, seluruh garnisun, kecuali beberapa orang yang terperangkap di atas (benteng), mundur ke lapangan di bawah benteng, menyangka mereka akan lebih aman. Akan tetapi, sayang sekali tidak seorang pun menduga bahwa air akan naik tiba-tiba ke beranda benteng (Amsterdam),” tulis Rumphius.

Air itu sedemikian tinggi hingga melampaui atap rumah dan menyapu bersih desa. Batuan koral terdampar jauh dari pantai. Sebanyak 1.461 orang tewas di Hila.

Sedangkan di Hitu, menurut Rumphius, air laut naik hingga setinggi 3 meter dan menyeret rumah-rumah kompeni. Sedikitnya 36 orang tewas.

Dengan rinci Rumphius mengisahkan kondisi desa-desa di Ambon dan Seram yang hancur akibat peristiwa itu. Sedikitnya ada 11 desa yang dideskripsikan Rumphius.

Desa-desa itu terentang di sepanjang pesisir utara Jazirah Leihitu, mulai dari Larike di ujung barat hingga Tial di ujung timur. Di Pulau Seram yang tercatat adalah tempat-tempat di daerah Huamual, seperti Tanjung Sial dan Luhu. Catatan lain juga berasal dari Oma di selatan Pulau Haruku dan Pulau Nusa Laut.

Dalam khazanah mitigasi bencana, catatan Rumphius ini merupakan warisan penting karena memberi kesaksian bahwa Nusantara memiliki riwayat gempa dan tsunami yang sangat panjang. Jauh sebelum tsunami dahsyat melanda Aceh pada 26 Desember 2004, Rumphius telah menuliskan tentang bencana sejenis di bagian timur Nusantara.

Sayangnya, catatan rinci Rumphius itu tak banyak diketahui masyarakat Ambon dan Seram. Nama Rumphius bahkan tidak begitu dikenal.

”Tidak banyak yang tahu tsunami yang katanya dicatat Rumphius. Kalau gempa di sini memang sering terasa, tapi masyarakat tidak lari ke bukit, malah diam di tempat,” kata Damri Lating (49), warga Hila.
Hal senada diungkapkan Said Lumaela (52), warga Kaitetu, desa yang bersebelahan dengan Hila. ”Pernah dengar tentang Rumphius, tetapi tidak tahu itu soal apa,” katanya.
(M Zaid Wahyudi/A Ponco Anggoro)
 
Sumber :Kompas Cetak
Editor :Jodhi Yudono
 

Minggu, 22 Juli 2012

Mengapa Sandal Jepit Harus Rutin Dicuci?

Penulis : Felicitas Harmandini | Sabtu, 21 Juli 2012 | 22:15 WIB



Setelah sehari-hari sandal jepit dipakai berjalan di luar rumah, Anda bisa membayangkan apa saja yang telah menempel di sol maupun permukaannya.






KOMPAS.com - Sandal jepit mungkin sudah menjadi sahabat terdekat Anda untuk berjalan-jalan. Tetapi pernahkah terpikir untuk mencuci sandal jepit Anda? Padahal, setelah sehari-hari sandal jepit diajak "mencium" aspal, Anda bisa membayangkan apa saja yang telah menempel di sol maupun permukaannya. Dari permukaannya yang sudah mulai dekil saja Anda sudah tahu jawabannya.

"Ketika berjalan di jalanan dengan alas kaki seperti sandal jepit, kaki Anda bisa terpapar berbagai kotoran, dari kotoran manusia seperti muntahan, dahak, atau tinja binatang, yang pasti mengandung mikrobakteri, dan berbagai kotoran lain seperti makanan atau cairan yang sudah tergodok panas matahari," ujar Philip Tierno, PhD, direktur bidang mikrobiologi dan imunologi klinis di New York University Langone Medical Center, dan penulis buku  Secret Life of Germs.

Menurutnya, ada berbagai jenis kuman dan bakteri yang bisa Anda temukan di jalanan, seperti norovirus, staph aureus, beberapa tipe streptococcus, E. coli, dan jenis yang kebal dari obat-obatan seperti Pseudomonas, Klebsiella pneumonia, MRSA. “Panasnya udara musim panas bisa bertindak seperti inkubator," katanya.

Berbagai kuman dan bakteri tersebut bisa berpindah tempat ketika Anda memungut sandal jepit dan memasukkannya ke kantong kresek untuk menggantinya dengan high heels Anda. Nah, tak usah dibayangkan lagi bila kaki Anda sedang lecet atau terluka. Kuman dan bakteri pasti lebih leluasa menerobos masuk ke dalam kaki.

Saat memasukkan sandal jepit ke dalam kantong kresek, jangan lupa mencuci tangan dengan bersih setelahnya. "Karena Anda sudah terpapar sesuatu yang lebih buruk, yaitu organisme, ke tangan Anda," jelas Tierna. Ia menambahkan, 80 persen dari penyakit menular ditularkan melalui sentuhan langsung maupun tak langsung, seperti ketika Anda mencium, atau memungut sepatu yang kotor, kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut.

Paparan kuman atau bakteri ini memang tak akan membunuh Anda, tapi paling tidak akan menyebabkan gangguan kesehatan seperti keracunan makanan, diare, atau iritasi mata (bila Anda mengucek mata). Lagipula, kulit kita sebenarnya dirancang untuk melindungi diri dari terinfeksi kuman, demikian menurut Jeannette Graf, MD, profesor klinis bidang dermatologi di Mount Sinai Medical Center in Manhattan. Kapalan pada kulit, yang terbentuk akibat lapisan kulit mati, justru menjadi pertahanan tubuh terdepan.

“Kulit kita membentuk peptida antimikroba yang melawan bakteri dan virus, serta banyak patogen yang berbeda," tutur Graf.

Bersihkan secara rutin
Tak sulit sebenarnya bila Anda ingin mencegah terjadinya kontaminasi bakteri ini. Cucilah sandal jepit secara rutin. Masukkan semua koleksi sandal jepit Anda ke dalam ember yang sudah diisi air dingin atau hangat, lalu tambahkan sedikit deterjen. Rendam selama sekitar satu jam, lalu aduk-aduk sandal menggunakan tongkat seolah sedang menggilingnya di dalam mesin cuci.

Jika hasilnya tak cukup bersih, mau tak mau Anda memang harus menyikatnya. Gunakan sikat gigi bekas dan sabun cuci piring atau dengan sedikit baking soda.


Sumber: YouBeauty
Editor :
Dini

Sabtu, 21 Juli 2012

"Hard Disk" Super Bisa Tahan hingga 10 Juta Tahun

Penulis: Oik Yusuf | Sabtu, 21 Juli 2012 | 12:16 WIB

 neowin.net


KOMPAS.com Sebuah hard disk berkualitas bagus bisa bertahan selama beberapa tahun. Akan tetapi, pada akhirnya medium penyimpanan data mekanik ini akan mengalami kerusakan yang berpotensi menghancurkan semua data di dalamnya.

Perkiraan masa hidup hard disk (mean time between failure/MTBF atau waktu jeda sebelum kerusakan) sudah ditetapkan semenjak keluar dari pabrik, biasanya dalam hitungan ratusan ribu jam.

Lalu, bagaimana agar data yang disimpan dalam hard disk tetap awet dalam jangka waktu lama? Nah, tim riset dari dinas pengendalian limbah nuklir Perancis ANDRA telah membuat prototype sebuah hard disk yang masa hidupnya sangat panjang, mencapai 10 juta tahun.

Tujuan diciptakannya hard disk super awet itu adalah memberi informasi kepada orang-orang di masa depan yang kebetulan menemukan lokasi pembuangan limbah nuklir ANDRA. Isi informasinya lebih kurang menjelaskan perihal limbah nuklir yang terkubur di lokasi tersebut dan cara penanganan yang benar.

Hard disk super ini terbuat dari safir dan informasi di dalamnya direkam lewat pahatan platinum. Piringan penyimpan data berjumlah dua buah, masing-masing berdiameter 20 cm. Ongkos pembuatannya mencapai 25.000 dollar AS atau sekitar Rp 236 juta. Perkiraan umur hard disk itu diperoleh melalui simulasi penuaan dengan merendamnya di cairan asam keras.

Selain jenis material, perbedaan hard disk super ini dengan hard disk biasa mencakup metode perakaman datanya. Hard disk biasa merekam data digital dalam pola magnetik, sementara hard disk bikinan ANDRA menyimpan data dalam bentuk pahatan gambar berukuran sangat kecil.

Satu piringan bisa menampung sekitar 40.000 gambar. Orang-orang di masa depan nantinya tak akan butuh komputer untuk membaca data di dalamnya. Yang diperlukan hanyalah sebuah mikroskop.

Biarpun telah membuat hard disk yang sangat awet, masih ada satu masalah yang harus dipecahkan oleh para peneliti ANDRA sebelum memajangnya di tempat pembuatan limbah nuklir. "Kami belum tahu informasinya harus ditulis dalam bahasa apa," ujar Patrick Charton dari ANDRA.

Persoalan yang satu ini memang agak pelik karena bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi pasti akan banyak berubah dalam waktu jutaan tahun. Sementara informasi dalam hard disk tersebut harus bisa dimengerti oleh siapa pun yang menemukannya di masa depan, itu pun kalau masih berwujud manusia.
Sumber :Neowin
Editor :Wicaksono Surya Hidayat