Senin, 03 Desember 2012

La Masia, dari "Belanda" untuk Barca dan Spanyol

Penulis: Okky Herman Dilaga | Senin, 03 Desember 2012 | 05:42 WIB 
 
 
Dok. FC Barcelona
 La Masia, sebuah tempat dekat Stadion Camp Nou, yang menjadi sekolah calon-calon pesepak bola di Barcelona.
 
 
BARCELONA, KOMPAS.com — Sudah bukan rahasia umum jika ciri khas Barcelona terletak pada cara bermain yang disajikan di lapangan hijau. Olah bola, umpan satu-dua, hingga pergerakan pemain Azulgrana akan membuat penonton menggeleng-gelengkan kepala, seakan tidak percaya dengan apa yang dilihat.

Jika ingin mengetahui rahasia dasar permainan seperti itu, maka jawabannya adalah bangunan klasik abad ke-18 yang berada tidak jauh dari Stadion Camp Nou. Di sana akan ditemukan sebuah tempat bernama La Masia. Cikal bakal seorang genius sepak bola macam Xavi Hernandez, Lionel Messi, Andres Iniesta, ataupun Cesc Fabregas bermula dari akademi tersebut.

Uniknya, awal terbentuknya akademi ini bukan atas ide orang Spanyol, negara klub Barcelona dilahirkan, melainkan dari seorang pemain asal Belanda yang pernah bermain dan melatih Azulgrana, Johan Cruyff.

“Pada 15 atau 17 tahun lalu, klub ini kedatangan Johan Cruyff. Pada awal kedatangannya, Cruyff langsung berujar: Ok, anak-anak, mulai dari sekarang kita akan bermain dengan cara sendiri. Selalu ada visi dalam teknik, mengumpan, dan kecepatan berpikir,” ingat eks Pelatih Barcelona, Josep Guardiola, beberapa tahun lalu.

Benar saja apa yang dikatakan sang maestro Belanda tersebut. Kini, hampir dua dekade berselang, cara bermain yang diinginkan Cruyff dapat dinikmati penonton sepak bola di seluruh dunia.

La Masia ditutup
Sebanyak 70 staf termasuk pelatih, dokter, ahli gizi, koki, sampai psikolog menjaga sekitar 75 anak-anak di La Masia yang berusia antara 6 hingga 18 tahun. Barcelona sangat memperhatikan benar keberadaan calon-calon bintang sepak bola tersebut, mulai dari gizi sampai pendidikan formal. Semua dilakukan di La Masia.

Klub Catalan itu ingin menghasilkan pemain yang luar biasa, pemain yang fasih memainkan pola tiki-taka, yaitu umpan pendek yang tajam serta pergerakan cepat. “Pemain yang telah dididik La Masia memiliki sesuatu perbedaan. Filosofi bermain mereka berbeda dengan pemain lainnya,” ucap Guardiola.

Sampai saat ini, telah terdapat sekitar 500 pemain eks akademi La Masia. Tetapi, tidak semua lulusan akademi La Masia sukses sebagai pemain tersohor di dunia. Menurut perhitungan Barcelona, para lulusan akademi La Masia yang sukses hanya berjumlah 10 persen.

Pada Juni 2011, sejarah tempat berdirinya akademi Barcelona berakhir. Ya, La Masia resmi ditutup dan berpindah tempat ke kompleks latihan yang lebih modern, Ciutat Esportivo Joan Gamper. Meski demikian, La Masia bakal tetap dikenang sebagai rumah pemain-pemain terbaik dunia untuk menimba ilmu sepak bola.

"Kiblat" klub-klub Eropa
Meski yang sukses hanya sepersepuluh dari semua lulusan akademi La Masia, tak lantas pengembangan pemain muda ini dianggap gagal. Terbukti, bersama Ajax Amsterdam, Barcelona dianggap sebagai penghasil pemain-pemain berkualitas.

Klub-klub di Eropa macam Arsenal, Chelsea, Manchester United, VfB Stuttgart, maupun Girondins Bordeaux pernah mengirimkan perwakilannya untuk melihat langsung cara kerja akademi La Masia. Hal tersebut ternyata tidak mengagetkan Pep Segura, mantan Direktur Teknik La Masia yang juga pernah menjabat Manajer Pengembangan Akademi di Liverpool.

“Sangat berbeda. Di Inggris tidak ada struktur yang kompetitif seperti halnya di La Masia. Saya tidak membicarakan tentang rendahnya kualitas para pemain muda di sini. Sebab, struktur kompetisi yang bagus akan membantu klub membangun para pemain berkualitas,” jelas Segura.

Diadopsi La Furia Roja
Kemajuan tim nasional Spanyol saat ini juga dianggap beberapa orang merupakan hasil sumbangan akademi La Masia. Bahkan, hal tersebut diakui legenda Madrid, Fernando Hierro. “La Masia sangat penting bagi Spanyol. Ada banyak pemain Barcelona yang sekarang menjadi pilar Spanyol. Kini, Spanyol bermain dengan filosofi bermain yang sama dengan Barcelona,” ujar Hierro.

Pelatih Spanyol, Vicente Del Bosque, juga mengakuinya. “Saya pikir, La Masia telah memberikan kontribusi yang baik untuk Spanyol. Para pemain akademi telah berkembang lewat kerja keras yang dilakukan. Itu semua hasil dari bertahun-tahun investasi yang dilakukan sepak bola Spanyol,” tandas Del Bosque.

Dengan pentingnya peran akademi La Masia bagi Barcelona hingga La Furia Roja, terdapat satu pertanyaan yang mungkin diharapkan pencinta sepak bola di Indonesia. Kapankah Indonesia memiliki akademi sepak bola seperti La Masia di Barcelona?
Editor : Hery Prasetyo
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar