Tampilkan postingan dengan label Global Warming. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Global Warming. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Februari 2014

Orproject Berencana Membuat Gelembung Raksasa Mengatasi Polusi

Taman Berisi Kebun Raya

 



ORPROJECT/"PRLM"
UNTUK mengatasi polusi udara, Orproject akan membangun taman tertutup gelembung.*



LONDON, (PRLM).- Saat Asia tengah berjuang untuk mengatasi semakin meningkatnya masalah pencemaran, sebuah perusahaan percaya proyeknya yang tampak seperti fiksi ilmiah bisa mengatasi masalah tersebut.

Orproject, sebuah biro desain London, ingin membangun sebuah taman tertutup dalam 'gelembung' raksasa, dan mengatakan tempat bermain sekolah ini bisa tertutup dalam sistem udara bersih versi yang lebih kecil.

Taman tersebut, seperti dilaporkan Daily Mail, Jumat (28/2/2014), akan berisi kebun botani besar, dan harus benar-benar tertutup dari dunia luar, dengan udara sangat bersih yang dipompa ke dalamnya.

"Taman ini berisi kebun raya, udara di dalamnya bersih, suhu dan kelembaban akan dikendalikan sepanjang tahun," kata perusahaan.

Untuk membuat struktur yang tidak biasa ini, perusahaan harus menulis sebuah algoritma yang mensimulasikan perkembangan pembuluh darah di daun atau sayap kupu-kupu. (Aya/A-107)***

Kamis, 12 September 2013

Pemburu Badai Berhasil Mengabadikan "Supercell" Tornado




SOLENT NEWS/"PRLM"

PEMBURU badai, Marko Korosec, tidak bisa mempercayai penglihatannya saat kepergok dengan formasi awan supercell yang menakutkan.*
 
 
TEXAS, (PRLM).- Awan badai menggantung di atas ladang menghijau dan jalanan sepi, sebuh ancaman yang akan memulai kehancuran.

Seperti pesawat ruang angkasa yang melayang di atas bumi, formasi awan silinder ini saat menyentuh bumi akan membentuk putaran badai tornado yang akan memorakporandakan apapun yang dilewatinya.

Seorang pemburu badai Marko Korosec (31) berada di sebuah ekspedisi di Amerika Serikat selama 26 hari saat ia berhadapan dengan formasi awan paling menakutkan ini.

Seperti dilaporkan laman Mail Online, Rabu (11/9/2013) Marko, seorang administrator sistem untuk informasi cuaca jalanan, berhasil menjepret tiga badai di Lembah Tornado di Texas, Kansas, dan Colorado.

Dari jarak 1km ia mengamati adegan itu setidaknya satu jam pada suatu waktu, mengatakan tornado itu merobek pohon dan kabel telepon pada lintasannya. Kondisi unik di lembah ini mengindikasikan bahwa tornado sering terbentuk sini.

Udara hangat dan lembab dari Teluk Meksiko bertemu udara dingin dan kering dari Pegunungan Rocky dan Kanada, secara intens menciptakan badai penghasil tornado yang dikenal sebagai supercell.

Badai-badai supercell mengandung pilar berputar, yang disebut mesocyclone, memberikan awan-awan ini bentuk lingkaran mirip pesawat ruang angkasa. (Aya/A-147)***

Minggu, 19 Mei 2013

Inohong dan Unsur Warga Bandung Desak Pembatalan IMB di Babakan Siliwangi






BANDUNG, (PRLM).- Para inohong serta beberapa unsur masyarakat di Kota Bandung akan mendatangi Balai Kota Bandung, Senin (20/5/2013) siang. Mereka akan melakukan serangkaian aksi untuk mendesak Pemkot Bandung mencabut Izin Mendirikan Bangunan (IMB) restoran di kawasan Babakan Siliwangi.

"Isu mengenai Babakan Siliwangi ini sudah meresahkan. Ini adalah kota kita yang kondusif, harus tetap dijaga, jangan sampai isu ini merusak suasana Kota Bandung yang kondusif," kata Ketua Paguyuban Pasundan Didi Turmudzi, ketika ditemui usai diskusi dan konsolidasi dukungan untuk mempertahankan fungsi Baksil sebagai hutan kota, di Gedung Pasca Sarjana Universitas Pasundan Jln. Sumatera no. 41 Bandung, Sabtu (18/5/2013) siang.

Didi mengatakan, aksi yang akan dilakukan Senin mendatang diharapkan bisa menggoyahkan pemkot untuk tetap mengizinkan adanya pembangunan restoran di Babakan Siliwangi. "Pemerintah bekerja untuk rakyat, kalau ada desakan dari rakyat seharusnya didengarkan," ujarnya.

Seniman Tisna Sanjaya yang juga hadir dalam acara kemarin, juga mengatakan bahwa aksi yang akan dilakukan Senin depan akan dimulai pukul 10.10 WIB dari Babakan Siliwangi. "Kami akan mencopot 10 seng yang memagari Baksil, kemudian mengaraknya dengan jempana," kata Tisna.

Dia juga mengatakan, akan mendatangi gedung dewan dalam waktu dekat, karena memandang bahwa hingga saat ini tidak ada anggota dewan yang pro terhadap konservasi Babakan Siliwangi tanpa diikuti adanya pembangunan fisik.

"Bukannya tidak percaya (pada anggota dewan-red.), tapi realitasnya begitu, mereka hanya mementingkan kelompoknya, dan tidak mementingkan lingkungan hidup," ucap Tisna. (A-175/A_88)***

Rabu, 28 November 2012

Ancaman dari Mencairnya Permafrost

Rabu, 28 November 2012 | 09:38 WIB

 Geological Survey Canada 
Penampang lintang permafrost  



DOHA, KOMPAS.com - Ancaman datang dari ”melelehnya” permafrost karena gas rumah kaca yang membeku demikian lama akan lepas ke atmosfer. Pelepasan gas rumah kaca dalam jumlah besar itu akan mempercepat proses pemanasan global, pemicu perubahan iklim.

”Potensi dampak menghangatnya permafrost pada iklim, ekosistem, dan infrastruktur sudah demikian lama diabaikan,” kata Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB (UNEP) Achim Steiner, Selasa (27/11/2012), di Doha, Qatar.

Steiner membacakan laporan dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim itu di depan Konferensi Perubahan Iklim PBB Pertemuan Para Pihak ke-18 (COP-18)/Konferensi Para Pihak untuk Pertemuan Protokol Kyoto ke-8 (CMP-8).

Permafrost, lapisan tanah yang membeku, ada di daerah Siberia dan Kanada, sebagian China, serta di sebagian wilayah AS.

Permafrost yang tak lagi beku akan melepaskan gas rumah kaca metana dan karbon dioksida dari tumbuhan yang tersimpan ribuan tahun. Gas rumah kaca itu akan meningkatkan pemanasan global yang selanjutnya akan memicu ”melelehnya” permafrost.

Deklarasi aset alam


Di Jakarta, kemarin, untuk pertama kalinya secara formal peran masyarakat adat dan unsur masyarakat lain dalam mengelola aset alam diakui. Pengakuan dituangkan dalam deklarasi yang ditandatangani pihak pemerintah, masyarakat (adat), unsur koperasi, dan pengusaha.

Penandatanganan dilakukan di tengah-tengah diskusi ”Melampaui Karbon: REDD+ Menuju Pembangunan yang Berkelanjutan dan Berkeadilan Sosial”.

Menurut Ketua Satgas REDD+ (Pengurangan Emisi Melalui Deforestasi dan Degradasi Lahan) Kuntoro Mangkusubroto, ”Soal REDD+ bukan soal karbon semata. Bicara REDD+ adalah bicara kemiskinan.”

Saat ini ada 40 juta orang di sekitar hutan yang hidup di bawah garis kemiskinan, berpendapatan di bawah 1 dollar (sekitar Rp 10.000) per hari. (AFP/ISW)
Sumber :Kompas Cetak
Editor : yunan

Jumat, 21 September 2012

Gas Metana Lepas, Kondisi Bumi Darurat

PENYUSUTAN ES ARKTIK


Jumat, 21 September 2012 | 08:30 WIB


AFP/DANIEL BELTRA
MY Arctic Sunrise, kapal milik organisasi lingkungan hidup Greenpeace, sedang mendokumentasikan penyusutan lapisan es di kawasan Samudra Arktik, Selasa (11/9). Lapisan es di kawasan Arktik dekat Kutub Utara itu menyusut drastis dan mencatat rekor terendah dalam sejarah tahun ini.



NEW YORK, KOMPAS.com - Bumi dalam keadaan darurat karena pelepasan gas metana dari lapisan es abadi (permafrost) di kawasan kutub yang terus mencair. Efisiensi gas metana dalam menahan radiasi panas Matahari 25 kali lebih kuat dari gas karbondioksida.

Keduanya merupakan gas rumah kaca (GRK) penyebab pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim. Ada enam jenis GRK yang diidentifikasi para ahli sebagai penyebab pemanasan global. Keenamnya dihasilkan dari aktivitas manusia membakar bahan bakar fosil, dari sampah, serta dari mencairnya lapisan es.

”Penurunan luas lapisan es, antara tahun 1979 dan 2012 sebesar 13 persen per dekade, lebih cepat dari penyusutan enam persen per tahun antara tahun 1979 dan 2000,” ujar ahli kelautan Wieslaw Maslowski dari US Naval Postgraduate School.

Angka tersebut lebih buruk dari perkiraan para ahli sebelumnya. Namun, menurut ahli iklim dari Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) James Hansen, ”Ada kesenjangan antara apa yang diketahui para ahli dan publik. Kita dalam kondisi darurat Bumi.”

”Jika tren ini berjalan terus, pada akhir dekade ini kita tidak punya laut es lagi,” tambah Maslowski.

Terjebaknya panas Matahari akan memperburuk kondisi perubahan iklim karena suhu atmosfer dan permukaan Bumi berubah.

Emisi gas metana akibat mencairnya permafrost akan mengakibatkan kenaikan suhu permukaan laut. Akibatnya, akan semakin banyak GRK yang lepas karena semakin banyak es mencair.

Menurut ahli lingkungan dari Earth Institute Universitas Columbia, Peter Schlosser, dampak mencairnya es di pucuk kutub sulit dipastikan. Namun, ”Arktik merespons lingkungan dengan cepat dan lebih parah dampaknya dari wilayah lain di bumi ini.”

Dia mengungkapkan, dengan mencairnya es di Arktik, peran aktivitas manusia terhadap perubahan global semakin nyata.

”Di masa depan akan lebih besar lagi dampaknya,” katanya. Jalur laut di utara yang terbuka diincar untuk menjadi jalur pelayaran, sementara aktivitas pengeboran minyak di kawasan tersebut diprediksi akan meningkat. Kedua aktivitas tersebut akan memperparah kondisi Arktik. (AFP/AP/ISW)

Sumber :Kompas Cetak
Editor :Egidius Patnistik


 

Rabu, 28 Desember 2011

Tujuh hutan mangrove Indonesia menjadi percontohan

Selasa, 20 Desember 2011 18:29 WIB | 1540 Views


Hutan mangrove (bakau). (FOTO ANTARA/Seno S.)


Jakarta (ANTARA News) - Direktorat Jenderal Bina Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Perhutanan Sosial (BPDAS dan PS) Kementerian Kehutanan dan Japan International Cooperation Agency (JICA) di Jakarta, Selasa, menandatangani kerja sama dalam pengelolaan tujuh kawasan hutan mangrove atau bakau yang akan dijadikan percontohan di lingkup ASEAN.

"Ketujuh area model itu menjadi lokasi pembelajaran mangrove komunitas ASEAN dan internasional," kata Direktur Bina Rehabilitasi Hutan dan Lahan, Ditjen BPDAS dan PS, Kemenhut, Billy Indra.

Ketujuh kawasan hutan mangrove yang akan menerapkan mekanisme "share learning" itu berlokasi di Surabaya, Lampung, Bali Barat, Alas Purwo (Banyuwangi), Balik Papan, Tarakan, dan Jepara.

Selain lokasi pembelajaran, ketujuh kawasan tersebut juga menjadi tempat pengembangan kemampuan ekonomi masyarakat lokal dari hutan mangrove.

Berdasarkan survei yang dilakukan JICA, masing-masing area mempunyai keunggulan komparatif yang berbeda-beda.

Chief Advisor JICA, Takahisa Kusano, mencontohkan mangrove Surabaya dan Balikpapan, memiliki keunggulannya dalam sistem ekonomi pesisir terpadu. Mangrovenya berfungsi merehabilitasi lahan bekas tambak, pengurangan erosi, dan ekowisata.

Sementara itu, kawasan mangrove Tarakan dan Alas Purwo yang merupakan bagian dari kawasan konservasi Taman Nasional Alas Purwo yang memiliki keunggulan dari atraksi wisata alam.

Kerja sama pengembangan mangrove antara Indonesia dan Jepang melalui JICA, kata Billy, sudah terjalin sejak 1991. Kerja sama itu terbagi menjadi empat fase, yaitu fase pertama (1991-1999) melalui rehabilitasi mangrove di Bali dan fase kedua (2001-2006) melalui pembangunan pusat informasi mangrove di Bali.

Sementara fase ketiga (2007-2010) melalui survei dan pemilihan tujuh area percontohan mangrove Indonesia di ASEAN dan fase keempat (2011 ? 2014) melalui penandatanganan kerjasama, dan proyek konservasi mangrove pada tujuh "project sites" tersebut.

(A027)


Editor: Suryanto

COPYRIGHT © 2011

Kanibalisme pada Beruang Kutub Meningkat

Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Jumat, 9 Desember 2011 | 12:04 WIB


Jenny Ross
Kanibalisme pada Beruang Kutub


SAN FRANSISCO, KOMPAS.com - Selain memangsa anjing laut, beruang kutub juga kadang memangsa jenis atau anaknya sendiri. Perilaku itu tak banyak dijumpai sebelumnya. Namun berdasarkan laporan terbaru Jenny Ross, seorang fotografer, di jurnal Arctic bulan ini, perilaku itu semakin sering dijumpai.

Apa sebabnya? Ross menjelaskan bahwa selama iklim di kutub menghangat, beberapa es di kepulauan Svalbard mencair dan patah. Bagi beruang kutub, saat itu adalah saat sulit karena sulit bagi mereka untuk berburu anjing laut.

"Jadi, saat itu, beruang kutub muda adalah sumber makanan yang mungkin bagi beruang kutub dewasa. Ketika iklim terus memanas di Artik dan es meleleh lebih awal di musim panas, frekuensi predasi dalam satu spesies meningkat," jelas Ross seperti dikutip Daily Mail, Kamis (8/12/2011).

Ross menambahkan bahwa beruang kutub pun mulai mencari alternatif makanan lain. "Di darat, beruang kutub mencari sampah dan makanan manusia. Mereka juga mulai memakan burung laut dan telurnya. Tak ada satu pun dari alternatif itu yang bisa mendukung mereka," katanya.

Salah satu momen induk beruang kutub yang memakan anaknya diabadikan Ross saat melakukan ekspedisi ke kepulauan Svalbard. Ia melihat bagaimana induk beruang kutub menggigit anakan dengan gigi dan kekuatan rahangnya, melemparnya ke permukaan es dan akhirnya memakannya.

Sementara ada banyak kondisi yang memacu mencairnya es di kutub, seperti perubahan iklim, beruang kutub menjadi sangat terancam. Kini bukan hanya soal kemampuan adaptasi mereka di suhu yang lebih tinggi, tapi soal krisi bahan makanan yang memacu kanibalisme dan bisa berujung pada kepunahan. Harus ada tindakan untuk mengatasinya.

Sumber :Daily Mail

Kamis, 25 November 2010

Radiasi Wi-Fi Rusak Pohon?

Rabu, 24 November 2010 14:58 WIB


 Ilustrasi (ANTARANews/Ardika)


Jakarta (ANTARA News) - Email anda menyakiti pepohonan...bisa jadi lho. Sebuah penelitian baru mengatakan bahwa radiasi dari jaringan wi-fi ternyata merupakan musuh pepohonan.

Pohon yang berada dekat dengan router nirkabel mengalami kerusakan kulit dan daun-daunnya menua, kata studi yang dilakukan di Belanda.

Seperti dikutip Daily Mail, kesimpulan itu akan menimbulkan kekhawatiran bahwa radiasi wi-fi juga dapat berpengaruh pada tubuh manusia. Kesimpulan ini juga mendukung para orang tua yang menginginkan router nirkabel tidak dipasang di sekolah.

Kota Alphen aan den Rijn di Belanda memerintahkan penelitian tesebut setelah pihak berwenang menemukan fenomena yang tak terjelaskan di pepohonan.

Peneliti mengambil 20 pohon dan selama tiga bulan membuat mereka terpapar pada enam sumber radiasi.

Pohon yang berada paling dekat dengan sumber wi-fi menunjukkan tanda-tanda "bersinar seperti timah hitam". Artinya, daun-daun itu segera mati. Radiasi wi-fi juga menghambat pertumbuhan tanaman jagung.

Di Belanda, 70 persen dari semua pohon di daerah perkotaan menunjukkan gejala yang sama, dibandingkan dengan 10 persen pada lima tahun lalu. Pohon di kawasan hutan tidak terpengaruh.

Para ilmuwan dari Universitas Wageningen mengatakan perlu studi lebih lanjut untuk mempertegas temuan mereka.

Badan kesehatan Belanda mengeluarkan pernyataan yang menekankan bahwa studi ini hanya kesimpulan awal dan belum ada konfirmasi melalui survei ulang.

Ilmuwan lain juga ragu dengan penelitian itu. Marvin Ziskin, profesor radiologi dan fisika medis di Temple University di Philadelphia, mengatakan: "Hal-hal seperti ini telah ada dari dulu. Tidak ada yang baru tentang emisi wi-fi. Tidak ada bukti ilmiah untuk mendukung bahwa sinyal-sinyal ini menimbulkan kekhwatiran."

(A038/A038/BRT)
COPYRIGHT © 2010

Kamis, 17 Juli 2008

Cara Mudah Mengurangi Pemanasan Global


GAS rumah kaca (GRK) sebenarnya muncul secara alami di lingkungan. GRK adalah gas-gas seperti CO2, N2O, CH4 yang ada di atmosfer yang menyebabkan efek rumah kaca. Efek rumah kaca (ERK) adalah kenaikan suhu akibat pantulan panas dari bumi diperangkap oleh GRK. Dalam keadaan normal dan seimbang, ERK ini amat berguna bagi kehangatan di bumi sehingga kehidupan nyaman. Tanpa GRK dan ERK yang normal dan seimbang, temperatur rata-rata bumi akan menjadi 33 derajat Celsius lebih dingin.


Akan tetapi, sekarang konsentrasi GRK menjadi lebih banyak akibat ulah manusia, seperti pembakaran bahan bakar minyak, penggundulan hutan, serta menimbun sampah sehingga berdampak terjadinya pemanasan global.

Pemanasan global adalah peristiwa peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi akibat peningkatan jumlah emisi GRK di atmosfer. Pemanasan ini akan diikuti dengan perubahan iklim, seperti peningkatan curah hujan di beberapa belahan bumi sehingga menimbulkan bencana banjir dan longsor. Sebaliknya di belahan bumi yang lain mengalami musim kering yang berkepanjangan.

Beberapa dampak pemanasan global terhadap kehidupan manusia di antaranya, lahan pertanian kehilangan kesuburannya, iklim menjadi tidak menentu dan mengganggu pertanian serta ketahanan pangan, sedangkan nelayan akan terganggu karena meningkatnya intensitas badai.

Lebih jauh lagi, desa pantai terancam abrasi dan tenggelam karena perubahan muka air laut. Kenaikan permukaan laut hingga 15-95 cm diperkirakan akan menenggelamkan daerah pantai pada tahun 2100. Pemanasan global juga meningkatkan jumlah tanah kering dan kritis yang potensial menjadi gurun karena kekeringan yang berkepanjangan, mencairnya gletser di kutub namun terjadi krisis air di bumi, serta tatanan kehidupan perekonomian masyarakat rusak karena meningkatnya bencana alam. Juga akan meningkatkan frekuensi kebakaran hutan, memusnahkan berbagai jenis keanekaragaman hayati.

Selain itu, pemanasan global berdampak besar bagi kesehatan manusia. Salah satu penyakit yang kerap muncul akibat iklim yang tidak menentu adalah mewabahnya penyakit paru-paru. Bahkan sebuah riset menunjukkan, kenaikan suhu 1o C menyebabkan naiknya angka kematian menjadi 300.000 per tahun akibat penyakit dan mutu makanan mengandung bahan kimia.

Menghemat BBM
Salah satu solusi untuk mengurangi pemanasan global adalah dengan mengefisienkan penggunaan BBM dan gas. Beberapa di antaranya yang dapat dilakukan dengan mudah yaitu memilih produk dalam negeri karena produk impor akan membutuhkan BBM yang lebih banyak. Mengemudikan kendaraan dengan benar (ecodriving) juga akan menghemat BBM. Misalnya, tidak mengemudi dengan agresif dan pindah ke gigi yang lebih tinggi secepat mungkin juga jangan terlalu cepat saat pindah ke gigi yang lebih rendah.

Buat janji untuk pergi bersama dalam satu mobil dengan keluarga atau teman untuk menghemat BBM, jangan pergi sendiri-sendiri dengan mobil masing-masing jika arah tujuan sama atau sejalan. Bisa pula dengan bepergian dengan kendaraan umum yang sangat menghemat BBM karena dapat membawa banyak penumpang (bis, kereta api, angkot) dibandingkan dengan mobil pribadi. Berjalan kaki atau bersepeda di samping itu sangat baik untuk kesehatan, juga dapat menyelamatkan bumi dari polusi kendaraan bermotor.

Hijaukan pepohonan
Cara lainnya tentu saja melestarikan hutan alam. Keberadaan pepohonan berfungsi untuk menjaga keseimbangan pasokan air dan juga menjaga kualitas udara dengan menyerap polutan udara seperti CO2 yang dapat mengurangi kadar GRK. Pohon adalah pabrik oksigen bagi makhluk hidup. Satu pohon besar dapat menyumbangkan oksigen untuk dua orang. Akar pohon berfungsi menyerap dan menyimpan air sehingga membantu kita terhindar dari banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Pepohonan yang rindang dapat berfungsi sebagai AC alami karena dapat menurunkan suhu udara di sekitarnya.

Jika masyarakat masih saja kekurangan air untuk kebutuhan sehari-harinya, saat ini memang sulit untuk mendapatkan kualitas air yang bagus. Meski begitu, kita masih bisa menggantungkan kebutuhan akan air terhadap ketersediaan air hujan. Beberapa cara untuk menampung air hujan di antaranya membuat sumur resapan di bawah talang rumah, di halaman rumah atau di taman-taman kota. Dapat pula menggunakan konsep biopori yang semakin marak digalakkan juga merupakan cara yang baik.

Biopori berfungsi untuk mengatasi banjir karena meningkatkan daya resapan air. Serta untuk mengatasi sampah karena dapat mengubah sampah organik menjadi kompos. Selain itu, biopori dapat mengurangi emisi dari kegiatan mengompos sampah organik secara terbuka. Adanya biopori akan menggemburkan dan menyuburkan tanah, dan juga akan mengatasi masalah timbulnya genangan air yang dapat menjadi sarang nyamuk demam berdarah. (Eva Fahas)***

Sabtu, 07 Juni 2008

Pemanasan Global Pengaruhi Psikologis Anak


KOMPAS/LASTI KURNIA
Anak-anak belajar tahapan menanam pohon, mulai dari mencampur kompos hingga memasukkan tanaman dan menyiramnya. Kegiatan itu berlangsung pada hari terakhir Green Festival di Parkir Timur Senayan, Jakarta, Minggu (20/4).



JAKARTA, SABTU - Pemanasan global (global warming) tidak hanya memberikan pengaruh bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak. Global warming ternyata juga dapat memengaruhi psikologis anak. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Psikolog anak, Fabiola Priscilla Setiawan, MPsi, menjelaskan, kondisi lingkungan yang semakin buruk dapat menghambat anak dalam mengambangkan kecerdasan naturalisnya. "Anak tidak lagi mengenal berbagai flora dan fauna. Kita bisa melihat 90 hingga 95 persen karang mati di Kepulauan Seribu. Bencana seperti banjir dan kebakaran akan membuat anak mengalami stres yang kronik, bahkan trauma karena kehilangan keluarga, tempat tinggal, atau menderita luka fisik dan psikis yang parah. Padahal, dengan kondisi lingkungan yang rusak, bencana alam lebih sering terjadi," papar psikolog yang akrab disapa Febi ini dalam sebuah seminar tentang global warming dan pengaruhnya pada bakat anak, di Jakarta, Sabtu (7/6).

Selain itu, global warming yang ditandai dengan cuaca yang tak menentu, misalnya temperatur yang panasnya luar bisa dapat menyebabkan gagal panen. Akibatnya, akan muncul kelaparan dan malnutrisi serta munculnya berbagai penyakit. "Hal ini akan menghambat anak dalam memperolah pendidikan, mendapatkan dan menyerap stimulasi, maupun mewujudkan beragam potensi kecerdasan dan bakat yang dimilikinya," kata Febi.

Dalam bidang psikologi, sudah dilakukan penelitian yang menunjukkan bahwa memanasnya suhu udara dapat memengaruhi kondisi emosi seseorang sehingga anak menjadi lebih mudah marah, cenderung agresif atau merusak dibandingkan dengan orang yang tinggal di lingkungan yang nyaman.

Positif

Di antara sekian banyak efek yang harus diwaspadai, ternyata global warming juga bisa mendatangkan pengaruh positif jika memandangnya dari sisi yang lain. Efek global warming yang meresahkan justru bisa digunakan sebagai fenomena yang mendorong kita untuk mendidik anak-anak lebih peka, bertanggung jawab, dan termotivasi untuk menjaga lingkungan dan bumi.

"Ibu-ibu atau para orangtua bisa mengenalkan isu global warming melalui berbagai media buku cerita, website, dan bisa menjadi model atau contoh buat anak kita," kata Febi.

Cara lainnya, mengajarkan cara hidup yang bisa menumbuhkan rasa sayang anak terhadap bumi. Febi mencontohkan beberapa hal yang bisa diajarkan kepada anak, yaitu mengajarkan untuk mematikan lampu yang tidak digunakan dan menyalakan AC hanya jika diperlukan.

Selain itu, lanjut Febi, menggunakan kantung kain daripada kantung plastik, menghemat penggunaan kertas, mempelajari cara mendaur ulang kertas secara sederhana, membawa botol air sendiri daripada membeli botol air plastik yang baru, dan menggunakan kain daripada tisu.

ING

Jumat, 06 Juni 2008

Global warming strange to many

Adianto P. Simamora , The Jakarta Post , Jakarta | Fri, 06/06/2008 1:15 AM | Headlines


Students of the Bogor Institute of Agriculture (IPB) stage a demonstration at the Hotel Indonesia traffic circle on Thursday to promote energy conservation awareness. The rally was held to mark World Environment Day. (JP/Ricky Yudhistira)


What exactly are greenhouse gas emissions? That was the first question a teacher asked during a forum on climate change held to mark World Environmental Day here Thursday.

Siti Zulfah, who teaches at an elementary school in Menteng, Central Jakarta, said she found it difficult to explain global warming to her students because of her own background and lack of knowledge.

"Climate change has become a much-discussed topic among students, but could you explain to us exactly what greenhouse gas emissions are and how do we deal with the impacts of climate change?" she asked.

The discussion was presented by Amanda Katili, an advisor to State Minister for the Environment Rachmat Witoelar. Amanda recently attended a training session on climate change under the direct tutelage of Nobel Peace Prize co-winner Al Gore, whose documentary on global warming, An Inconvenient Truth, won an Academy Award.

About 100 university lecturers and teachers from elementary, junior high and high schools attended the discussion.

Timoty Daud, a teacher from a high school in Jakarta, also asked a very basic question about global warming: "What are some websites that explain climate change issues?"

Amanda said she appreciated the "active" participants and thanked them for their "great questions".

In her presentation, Amanda screened colorful slides illustrating the impacts and scientific data about global warming, ranging from melting ice caps to massive floods in China.

"All these slides belong to Al Gore, I just selected the pictures that are appropriate for you to help you understand climate change more easily," she told the participants.

She insisted that global warming was real and all countries in the world had experienced its effects.

"Indonesia is not an exception; we are also very vulnerable to climate change. We just have to look at the recent flooding in Jakarta or other environmental events to see the impacts of climate change," she said.

She said teachers could involve themselves in mitigation and adaptation efforts in their capacity both as individuals and as members of institutions.

"Just start small, but think big," she said.

Amanda said to mitigate climate change, teachers could reduce the use of paper, which could lead to a decrease in deforestation.

"Don't take a bath with warm water because it uses more energy. Have your children take public transport to school and turn off the lights whenever you leave a room," she said.

"By doing this, you are doing your part in cutting greenhouse gas emissions, including carbon dioxide. The gases that trap heat in the atmosphere are called greenhouse gas emissions," Amanda told the participants.

After two hours of discussion, the teachers walked around the Jakarta Convention Center to look at an environmental exhibition themed "CO2 -- Kick the habit! Toward a low carbon economy".

Dozens of mining, plantation and automotive companies furnished their booths in green with the message writ large: "Kick the carbon dioxide habit to protect the earth".

Carbon dioxide, mainly caused from the burning of fossil fuels, is considered one of the greatest contributors to climate change.

Climate change issues have become more well-known in Indonesia since the world's biggest climate change conference, with about 10,000 delegates, was held in Bali last year.

The conference produced the Bali road map, which aims to pave the way for the world to take action to reduce greenhouse gas emissions and deal with the effects of rising temperatures.

President Susilo Bambang Yudhoyono marked World Environmental Day with a call for people to plant trees as part of the effort to tackle climate change.

Rabu, 04 Juni 2008

City Dwellers Are Greener

A study shows urban life produces less carbon per capita, but some cities are greener than others

By Matt Ransford
Posted 06.03.2008 at 12:40 pm


New York Skyline: Photo by William Warby (CC Licensed)


The Brookings Institute has released a study this week in which residents of the 100 largest metropolitan areas are shown to produce 14 percent less carbon dioxide emissions per capita than the national average. The reasons for the discrepancy point to population density. As one nears an urban center commute times are shortened, mass transit options are increased, and dwelling spaces get smaller, leading to less individual emissions on average. That's not to say all cities are created equal. Metro areas in the eastern US were responsible for greater CO2 emissions due to the area's reliance on coal for electricity generation; they were lower in the West largely because the weather keeps heating costs minimal (for more, see our list of America's 50 Greenest Cities)

The West was also affected by exceptionally high electricity and gasoline prices, leading more metropolitan residents to consume less simply due to cost concerns. On the whole, the nation's CO2 emission has been steadily on the rise, climbing 9.1 percent in the first five years of the millennium. Again, the metropolitan average was a few notches lower at 7.5 percent. While it will come as no surprise to anyone that energy costs are making suburban and rural living more expensive, the data in the Brookings report may point to a coming trend of the necessity of denser, more urban living.

Senin, 26 Mei 2008

Beting Es Arktik Retak Sepanjang 16 Kilometer


LOVEEARTH.COM
Keluarga beruang kutub berjalan di hamparan es yang mulai mencair di kawasan Artik dalam film Earth.



Senin, 26 Mei 2008 | 16:19 WIB

JAKARTA, SENIN - Bukti-bukti terganggunya lapisan es di Kutub Utara akibat pemanasan global terlihat dari retakan baru pada beting es Arktik. Retakan tersebut baru diketahui pada ekspedisi terakhir yang dilakukan para ilmuwan bersama militer Kanada.

Jalur retakan yang panjangnya lebih dari 16 kilometer terlihat di Ward Hunt yang merupakan salah satu kawasan beting es terbesar di sana. Meski belum terlihat pergerakan, retakan tersebut dapat memicu terpisahnya beting es ke lautan bebas saat musim panas.

"Saya sangat terkejut melihat retakan baru ini," ujar Derek Mueller, ilmuwan dari Universitas Trent, Kanada. Ia mengatakan hal tersebut merupakan proses pemecahan beting es seperti sebuah jigsaw meskipun potongan-potongannya masih saling berikatan dan belum terpisah.

Jika proses pemecahan ini terus berlangsung bukan mustahil potongan-potongan tersebut akan tercerai-berai. Tahun lalu, Pulau Es Ayles yang merupakan beting es raksasa seluas Kota Manhattan telah pecah menjadi dua. Masing-masing potongannya kini telah bergerak sejauh 640 kilometer ke arah selatan dari posisi sebelumnya.

Tahun lalu juga tercatat sebagai rekor melelehnya es Arktik. Jumlah es yang tersisa sepanjang musim panas tahun lalu 23 persen lebih kecil dari rekor sebelumnya. Semua ilmuwan saat ini tengah memantau dampak yang terjadi di kutub utara pada musim panas tahun ini.

WAH
Sumber : BBC

Kamis, 08 Mei 2008

Danau Terbesar di Dunia "Mendidih"


Hulton Archive
Danau Baikal, di Siberia, Rusia, merupakan danau air tawar terbesar di Asia terdalam di dunia.


Kamis, 1 Mei 2008 18:08 WIB

NEW YORK, KAMIS - Suhu rata-rata Danau Baikal, danau air tawar terbesar di Asia dan terdalam di dunia yang terletak di Siberia, Rusia mengalami kenaikan lebih cepat daripada kenaikan rata-rata suhu udara di dunia selama 60 tahun terakhir. Hal tersebut menyebabkan nasib hewan-hewan unik yang hidup di perairan tersebut dalam keadaan terancam punah.

Kenaikan suhu di danau tersebut mencapai 1,21 derajat Celcius sejak 1946 akibat perubahan iklim atau hampir tiga kali lebih cepat daripada kenaikan suhu udara global. Hal tersebut dikatakan Marianne More, seorang profesor di Wellesley College di Massachusetts, AS, salah satu penulis dari karya tulis ilmiah yang akan dipublikasikan dalam jurnal "Global Change Biology" edisi Mei 2008.

Danau yang mengalami perubahan temperatus secara cepat itu memiliki 20 persen ikan air tawar yang ada di dunia yaitu sekitar 2.500 spesies yang tak dapat ditemukan di tempat lain di dunia. Bahkan, di antaranya terdapat satu-satunya anjing laut air tawar.

Jika tren naiknya temperatur tak dapat dicegah, lapisan es dapat hilang seluruhnya dari permukaan danau tersebut. Moore mengatakan, anjing laut air tawar yang membesarkan anak-anak mereka di atas lapisan es dapat sangat menderita karena hal tersebut. Anak-anak anjing laut air tawar juga lebih rentan terhadap serangan predator jika tak ada lagi gua-gua es sebagai tempat terlindungi.

"Perubahan dari mata rantai bahan makanan juga telah berubah. Jumlah zooplankton multiseluler yang biasanya hidup di air yang jauh lebih hangat telah meningkat menjadi 335 persen sejak 1946, sementara jumlah chlorophyl telah meningkat 300 persen sejak tahun 1979," kata Moore. Selain itu jumlah diatom yang hidup di es yang kemudian mati dan menjadi makanan bagi organisma kecil yang hidup di dasar danau juga makin berkurang.

"Berkurangnya lapisan es akan memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan dengan pemanasan global itu sendiri," tandas Moore. Penemuan tersebut juga berarti hal yang lebih buruk dapat terjadi pada danau-danau yang lebih kecil lainnya. Selama ini, para ilmuwan berangapan volume air yang banyak di danau tak mudah terpengaruh dampak dari pemanasan global, namun kenyataanya sangat rentan.

WAH
Sumber : Antara