Minggu, 19 Oktober 2008

Agama Islam akan Diajarkan di Sekolah-sekolah Jerman


By Republika Contributor
Jumat, 17 Oktober 2008 pukul 15:02:00 


CAIRO — Pemerintah Jerman, secara prinsip, menyetujui pengajaran agama Islam di sekolah-sekolah Jerman sebagai usaha untuk lebih memuluskan kerukunan di dalam masyarakat, wartawan Deutsche Welle melaporkan. Di sekolah-sekolah Jerman, selama ini hanya diajarkan agama Judaisme, Katolik, dan Protestan.

"Dalam waktu dekat, agama Islam akan diajarkan di sekolah-sekolah Jerman," kata Menteri Dalam Negeri Wolfgang Schaeuble sebagai kesimpulan dari sebuah Konprensi Islam yang disponsori pemerintah Jerman.

Dengan akan diajarkannya agama Islam di sekolah-sekolah, akan membantu orang-orang Islam di Jerman untuk tidak lagi mengirimkan anak-anak mereka untuk belajar agama Islam ke sekolah informal. "Dengan adanya kurikulum pengajaran agama Islam di sekolah-sekolah ini, akan tercipta sebuah kompetisi yang sehat," lanjutnya.

Mendagri Jerman itu juga memberikan dukungan terhadap pembangunan masjid raya di Jerman yang akan dapat menampung jemaah Islam yang kian bertambah di samping pembangunan lahan makam Islam. 'Ini merupakan sebuah langkah maju yang kita lakukan secara bertahap," kata Mendagri.

Konprensi Islam yang digelar bersama antara pemerintah Jerman dan wakil-wakil muslim pada bulan September lalu dimaksudkan untuk mencari pemecahan berbagai masalah bagi sekitar 3,4 juta muslim agar bisa menjadi mainstream di masyarakat. Agama Islam di Jerman kini menduduki peringkat ke tiga dalam pemeluknya setelah Protestan dan Katolik.

Kaum muslim menyambut gembira usaha pemerintah Jerman untuk memasukan agama Islam dalam kurikulum di sekolah-sekolah Jerman. "Ini sebuah terobosan," kata Bekir Alboga, juru bicara Persatuan Jemaah Muslim di sana.
  
"Kita sangat gembira. Sebab sejak tahun 1980 kaum muslim di sini sudah mengajukan permintaan agar agama Islam bisa masuk dalam kurikulum di sekolah-sekolah Jerman. Kami sangat berterima kasih, Menteri Dalam Negeri, menanggapi hal ini dengan sangat positif."
 
Tapi bagaimanapun, kaum muslim di sana menyadari tenaga-tenaga pengajar untuk proyek besar ini masih sangat kurang. Di Jerman saat ini hanya ada 120 guru yang memberian kursus-kursus agama Islam. Pemuka agama Islam mengharapkan, agar universitas-universitas di Jerman mengikuti Universitas Munster yang telah memberikan pelatihan-pelatihan bagi guru-guru yang akan mengajar agama Islam di sekolah-sekolah. (IoL/ah)

 

Mendagri Jerman, Wolfgang Schaeuble (IoL)

Sabtu, 18 Oktober 2008

Ditemukan, Planet Terpanas di Jagad Raya


ESO
Ilustrasi tiga planet asing yang terekam spektograf HARPS di Observatorium La Silla, Chili.


JAKARTA, JUMAT - Dalam usaha perburuan planet-planet di luar tata surya kita, para peneliti menemukan planet yang dianggap paling panas. Planet bernama WASP-12b itu menyala dalam suhu 2.200 derajat Celcius, dan mengorbit bintangnya lebih cepat dan lebih dekat dibanding planet lain.


Planet tersebut mengitari bintangnya dalam sehari. Sebagai perbandingan, planet di tata surya kita yang paling cepat mengorbit Matahari adalah Merkurius, yang mengorbit Matahari sekali dalam 88 hari.

Untuk mencapai waktu orbit sedemikian cepat, planet itu berada sangat dekat dengan bintangnya, dengan jarak sekitar 3,4 juta kilometer atau hanya 2 persen dari jarak Bumi ke Matahari.

"WASP-12b adalah benda langit yang menarik karena ia memiliki waktu putar terpendek sekaligus menjadi planet terpanas," kata Don Pollacco dari Queen's University di Irlandia Utara, yang merupakan salah satu peneliti proyek SuperWASP (Super Wide Angle Search for Planets).

WASP-12b adalah planet gas, sekitar 1,5 kali massa Jupiter dan ukurannya hampir dua kali lipatnya. Planet yang mengelilingi sebuah bintang sejauh 870 tahun cahaya dari Bumi ini penting terutama karena memberi gambaran sedekat apa jarak sebuah planet dengan tanpa menjadi hancur.

"Ada batasan jarak karena semakin dekat sebuah planet terhadap bintangnya, pengaruh radiasinya makin kuat dan dalam satu titik, planet tersebut akan hancur mendidih karena panas bintangnya," ujar Pollacco. "Sebelumnya, orang-orang menduga sebagai sesuatu yang mustahil sebuah planet bisa memutari bintangnya dalam sehari dan bisa sedekat itu."

Planet ini juga sedemikian panas sehingga suhunya mirip dengan suhu beberapa bintang. Walau begitu, ia bukanlah sebuah bintang karena massanya tidak cukup besar untuk menghasilkan reaksi panasnuklir yang menjadi ciri sebuah bintang.

wsn 
Sumber : LIVESCIENCE

Pemerintah Perlu Kaji Ulang Penggajian Lulusan D-3

Soal Kesiapan Kerja, D-3 dan S-1 Layak Bersaing

BANDUNG, (PR).-
Pemerintah perlu mengkaji ulang penggolongan gaji karyawan lulusan program D-3. Selain betujuan memacu peningkatan jumlah mahasiswa politeknik, kebijakan tersebut juga akan mendorong ketersediaan tenaga kerja terampil yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Demikian pendapat Koordinator Koordinasi Perguruan tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah IV Jawa Barat-Banten Prof. Dr. Rochim Suratman dan Direktur Politeknik LP3I Bandung Adriza di Bandung, Jumat (17/10). 

Menurut Rochim peminat program D-3 tidak akan meningkat selama diskriminasi pemberian gaji di dunia kerja antara lulusan diploma dengan S-1 tidak ditinjau ulang. Pasalnya selama ini lulusan SMA/SMK masih cenderung memilih melanjutkan studi ke S-1 dengan harapan saat masuk ke dunia kerja akan mendapat gaji lebih baik ketimbang lulus dari D-3. Padahal dari aspek kesiapan terjun ke dunia kerja, antara lulusan D-3 dan S-1 layak bersaing.

"Sampai sekarang D-3 belum dianggap menjanjikan oleh sebagian besar masyarakat karena dipandang program tanggung. Tamatan perguruan tinggi enggak, lulusan SMK juga enggak. Ketika kerja, gaji awal mereka pun hanya setara golongan 2B atau satu level di atas lulusan SMA (2A). Sementara lulusan S-1 sudah 3A," ujarnya.

Melihat kenyataan tersebut menurut Rochim, sulit bagi pemerintah mengajak masyarakat menggalakkan program kejuruan seperti diploma selama sistem ketenagakerjaannya belum mendukung. "Kalau mau fair, dalam profesi tertentu harusnya tidak perlu ada dikotomi antara D-3 dan S-1. Biarkan kedua lulusan yang berbeda itu bersaing memperebutkan satu tempat," tutur Rochim.

Bila melihat basis kurikulum dan hakikat didirikannya pogram diploma, lulusan D-3 lebih siap bekerja. Sebab perbandingan teori dan praktik selama kuliah adalah 40:60 sehingga mahasiswa D-3 lebih banyak dilatih mengenal berbagai persoalan di lingkungan kerja dibandingkan dengan mahasiswa S-1.

"Saya kira program D-3 sangat tepat untuk menjawab kebutuhan dunia industri karena itulah keunggulan D-3 dibandingkan dengan S-1. Pemerintah pun menyadari sekolah kejuruan dan politeknik adalah solusi mencetak tenaga kerja andal. Tapi kalau tidak didukung kesejahteraan yang baik, orang juga tidak akan tertarik," tuturnya. 

Sampai saat ini, dari 300.000 mahasiswa di Jabar Banten, jumlah mahasiswa D-3 kurang lebih 90.000-100.000. Untuk program diploma seperti kebidanan, keperawatan, ekonomi, dan ilmu komputer, pertumbuhannya mencapai 7-12 persen. 

Kesamaan hak

Hal senada diungkapkan Adriza. Menurut dia, diskriminasi imbal jasa antara D-3 dan S-1 di dunia kerja menunjukkan bahwa pemerintah kurang serius dalam mendorong kemajuan program kejuruan. Di lain sisi ada keinginan pemerintah mencetak lulusan politeknik yang terampil, namun infrastruktur belum mendukung ke arah tersebut.

"Prospek lulusan D-3 selalu menjanjikan bagi dunia industri karena mahasiswa diploma terlatih sejak di bangku kuliah. Ironisnya terkadang kami melihat ada ketimpangan imbal jasa karena karyawan dari lulusan D-3 yang dibayar lebih rendah dari lulusan S-1 walau bobot kerjanya sama," ujarnya.

Menurut Adriza seharusnya pemerintah perlu melihat fakta di lapangan bahwa lulusan D-3 memiliki kompetensi yang tidak kalah dibandingkan dengan karyawan dari lulusan S-1. Dengan demikian pemerintah bisa mengambil kesimpulan apakah masih pantas lulusan D-3 mendapat gaji jauh lebih rendah dibandingkan dengan lulusan S-1. (CA-166)***

Kamis, 16 Oktober 2008

Cartridge Inkjet HP untuk Selamatkan Ginjal


JAKARTA, KAMIS – Teknologi inkjet ternyata bukan hanya untuk printer. Perusahaan printer ternama HP telah sepakat untuk melisensikan paten inkjet-nya untuk dipakai dalam sistem pengobatan gagal ginjal. Begitu sebut Charlie Chapman (Director of IP Licensing, HP) seperti dikutip CNET. 

Loh, apa hubungan HP dengan dunia kesehatan yah? Hmm, sebenarnya tahun lalu HP juga sudah melakukan hal serupa: melisensikan teknologi inkjet-nya untuk pemberian vaksin. 

Bedanya, kali ini HP mengijinkan Home Dialysis Plus, sebuah perusahaan baru yang sedang mencari dana bernama, untuk menggunakan teknologi manajemen fluida yang dipakai di printer inkjet HP. HP menggunakan teknologi itu untuk menghitung secara tepat campuran tinta dan air, yang kemudian dimasukkan ke printer melalui sepotong kertas. Home Dialysis Plus akan menggunakannya untuk mencampur air keran dan solusi konsentrat dialisis pada batas yang dikhususkan untuk para pasien sehingga dapat diberikan di rumah, bukan di pusat perawatan seperti rumah sakit. 

Para pasien yang membutuhkan cuci darah tiga kali seminggu sekali pada dasarnya harus bertahan hidup sampai perawatan berikutnya, begitu kata CEO HP Plus Michael Baker. Perawatan di rumah sebenarnya lebih ideal, tetapi sampai saat ini sulit untuk mendapatkan campuran yang tepat dari air dan cairan dialisis. 

Menurut Baker, teknologi cetak HP memecahkan masalah tersebut. “Teknologi ini memungkinkan kita menciptakan campuran dalam sekejap begitu perawatan dilakukan,” katanya. Sistem HD Plus juga menggunakan sistem loading yang biasa ditemukan pada printer. Mirip pada cartridge tinta, campuran konsentrat dialisis berada dalam modul-modul, yang ditempelkan ke sistem perawatan seperti halnya memasukkan cartridge tinta ke printer. 

Menurut HD Plus, produk yang menggunakan teknologi HP ini akan selesai dalam waktu 18 bulan sampai 2 tahun, dan harus lulus uji FDA sebelum bisa digunakan secara massal.

WIEK

Rabu, 15 Oktober 2008

Soundtrack 'Laskar Pelangi' Kalahkan 'Ayat-ayat Cinta'


Yulia Dian - hotMusic

Laskar Pelangi, AAC (ist.) 
 
Jakarta - Kesuksesan film 'Laskar Pelangi' mengingatkan kita pada demam 'Ayat-ayat Cinta' yang terjadi beberapa bulan lalu. Kini soundtrack film mereka pun jadi buruan. Lewat versus detikmusic, ternyata soundtrack 'Laskar Pelangi' mengalahkan 'Ayat-ayat Cinta'.

Sebanyak 364 responden bergabung dalam polling yang digelar selama seminggu tersebut. 81,1% di antaranya yaitu 306 suara memilih soundtrack 'Laskar Pelangi' sebagai jagoan mereka.

Sementara sisanya yaitu 58 suara atau 18,9% memilih soundtrack 'Ayat-ayat Cinta' yang dibawakan Rossa, Sherina juga Ungu. Bukan hanya lagu yang dikemas dalam album tersebut. Beberapa scoring adegan pun ikut ditambahkan. 

Kedua album soundtrack ini punya daya pikat yang berbeda. Sesuai dengan kisah filmnya, 'Ayat-ayat Cinta' lebih banyak mengetengahkan masalah cinta.

Sedangkan di album 'Laskar Pelangi' begitu banyak lirik yang berkisah seputar persahabatan dan asa meraih mimpi. Album tersebut diramaikan Nidji, Sherina, Gita Gutawa, Netral, Float dan banyak lagi. 
 (yla/yla)

Rhoma Irama Menggoyang Amerika


Laporan wartawan Kompas Tjahja Gunawan Diredja dari Washington DC, Amerika  

WASHINGTON, SELASA- Udara malam yang dingin di Wisma Indonesia di Washington DC Amerika Serikat, Senin malam waktu setempat (13/10) malam tadi, nyaris tidak terasa, karena sekitar 250 warga Indonesia yang tinggal di sekitar Ibu Kota AS itu, dihibur oleh Raja Dangdut Rhoma Irama.

Pada kesempatan itu, Bang Haji, demikian Oma Irama biasa dipanggil, menyanyikan sekitar 20 lagu seperti di antaranya Darah Muda, Begadang, Judi, Gali Lubang Tutup Lubang. Gedung Utama Wisma Indonesia yang beralamat di 2700 Tilden Street NW, Washington, DC 2008, itu terasa gegap gempita karena warga Indonesia bergoyang.

Tidak ketinggalan Duta Besar Indonesia untuk AS Sudjadnan Parnohadiningrat dan Wakil Dubes Salman Alfarisi serta para pejabat Kedutaan Besar Republik Indonesia di AS, ikut menyaksikan suguhan musik dangdut dari Bang Haji. Bahkan, kata Sudjadnan, sebenarnya dia penggemar berat lagu dangdut Oma Irama.

Waktu mahasiswa dulu. Saya sengaja naik kereta dari Yogyakarya ke Jakarta untuk menyaksikan aksi Raja Dangdut kita Oma Irama. Jabatan saya sebagai Dubes Indonesia di AS mungkin akan berakhir tapi Oma Irama sebagai Raja Dangdut tetap akan dikenang masyarakat selamanya, kata Sudjadnan yang disambut tepuk tangan hadirin.

Seluruh hasil penjualan dari pertunjukan musik dangdut itu, akan digunakan untuk keperluan dana kemanusiaan di Indonesia. Tiket masuk yang dijual 30 dollar AS sebanyak 250 lembar terjual habis. Bahkan banyak warga Indonesia yang tidak kebagian tiket. Terlaluuuu !!!

Kedatangan Bang Haji ke Negeri Paman Sam rupanya bukan hanya untuk menghibur warga Indonesia di Washington, tetapi atas undangan Departemen Musik University of Pittsburgh Amerika untuk tampil dal am sebuah seminar tentang "Islam, Terorisme, dan Kebudayaan Pop".

"Selama ini ada stigma bahwa Islam adalah teroris. Saya tegaskan Islam bukan teroris. Di Indonesia banyak orang yang tidak berdosa yang meninggal akibat serangan teroris seperti serangan bom di Bali sebanyak dua kali, serta serangan teroris ke Hotel (JW) Marriott Jakarta serta Kedutaan Besar Australia di Jakarta," ujarnya.

Kemudian, Bang Haji menyebutkan beberapa dalil dalam Al-Quran yang isinya mengutuk serangan terorisme tersebut. Barang siapa membunuh orang yang tidak berdosa sama dengan membunuh semua manusia. Menuru Oma Irama, dalam Islam memang ada perintah untuk perang namun itu dalam rangka mempertahankan diri.  

"Kamu boleh berjalan di jalan Allah kalau kamu diperangi, tapi dalam medan perang yang defensif itu kamu tidak boleh melampaui batas." Jadi, kata Oma Irama, terorisme bukan masalah agama tetapi masalah politik.

Pandangan Oma Irama soal Islam, terorisme, dan kebudayaan pop di Indonesia yang dipresentasikan dalam seminar itu akan disebarluaskan oleh University of Pittsburgh dan dijadikan buku.

foto:KOMPAS/TJAHJA GUNAWAN

Laskar Pelangi: Kenapa Sukses?


MILES FILMS
Film Laskar Pelangi diangkat dari novel laris karangan Andrea Hirata.

LASKAR Pelangi memang fenomenal. Antrean penonton yang hendak menonton film ini sampai pertengahan Oktober masih cukup panjang. Padahal film ini sudah diputar cukup lama, sejak 25 September lalu. Sampai pertengahan Oktober ini saja jumlah penontonnya sudah mencapai angka yang fantastis, sekitar 1,5 juta orang!


Begitu pula bukunya. Novel ini sejak diterbitkan pertama kali pada September 2005 oleh PT Bentang Pustaka sudah terjual paling-tidak sebanyak 500 ribu eksemplar, belum termasuk bajakannya. Disebut-sebut inilah karya sastra terlaris sepanjang sejarah Indonesia!

Kisah Laskar Pelangi sendiri memang tidak biasa, berkisar pada kisah kehidupan dan persahabatan 10 orang anak yang bersekolah di SD Muhammadiyah di Pulau Belitong. Di bawah bimbingan ibu guru, Bu Muslimah, dan kepala sekolah, Pak Harfan, anak-anak ini menjalani kehidupannya yang getir, namun tetap dengan penuh keceriaan.

Andrea Hirata dengan sangat inspiratif berhasil mengaduk-aduk emosi pembaca. Pada satu bagian kita bisa dibuat terharu sampai menitikkan air mata, sementara pada bagian lain kita dibuat tersenyum. Deskripsi karakter, tempat, dan peristiwa juga mampu membuat imajinasi melayang. Seakan kita benar-benar ikut bertualang bersama anak-anak Laskar Pelangi ini.

Saya sendiri sempat menggunakan kisah Laskar Pelangi ini sebagai ilustrasi ketika menjadi pembicara pada acara “Olympiade and Conference (OlyCon) 2008” yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pengurus Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur pada 1 Maret 2008 lalu.

Acara yang diselenggarakan di kampus biru Universitas Muhammadiyah Malang itu dihadiri 4500 orang kepala sekolah Muhammadiyah se-Jawa Timur. Di situ saya bicara soal Positioning-Differentiation-Brand (PDB) sekolah-sekolah Muhammadiyah. Sebagai keynote speaker adalah Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. HM. Din Syamsuddin, yang sempat menjuluki saya sebagai “Ayatullah Marketing.”

Sekarang coba kita lihat bagaimana PDB dari Laskar Pelangi ini. Ceritanya memang berpusat pada sebuah SD Muhammadiyah. Namun bagi saya, positioning Laskar Pelangi adalah kisah tentang persoalan nasionalis-religius Indonesia, yang sesuai dengan Pancasila. Brand-nya sendiri, Laskar Pelangi, memperkuat hal ini. Indonesia memang Bhinneka Tunggal Ika, yang berbeda-beda namun justru indah ketika menjadi satu, layaknya sebuah pelangi.

Sementara, diferensiasinya juga sangat mendukung positioning tadi. Pertama, diferensiasi dari sisi isi (content). Kisahnya mengandung nilai-nilai pendidikan, moral, dan spiritual yang universal. Indahnya kehidupan yang penuh kebersamaan, kejujuran, kesederhanaan, sikap pantang menyerah, keuletan, dan kesabaran merupakan nilai-nilai ideal manusia Indonesia.

Hal ini juga ditunjukkan lewat berbagai karakternya yang sangat beragam namun bisa bersahabat erat. Ada tokoh Ikal yang sangat imajinatif dan punya cita-cita ingin pergi ke Paris. Ada Lintang, seorang jenius yang anak nelayan miskin. Ada juga Mahar yang punya talenta seni yang luar biasa. Ada A Kiong yang keturunan Tionghoa. Ada juga Flo, gadis tomboi yang berasal dari keluarga kaya. Jangan lupakan juga kisah cinta monyet antara Ikal dengan A Ling yang merupakan saudara sepupu A Kiong.

Sementara diferensiasi dari sisi konteks (context), Laskar Pelangi ini merupakan kisah kalangan akar-rumput di Pulau Belitong yang pluralis. Suatu entitas masyarakat yang khas Indonesia dan masih jarang atau bahkan belum pernah diungkap sebelumnya. Kemudian diferensiasi dari sisi infrastruktur (infrastructure), yang maksudnya bagaimana Laskar Pelangi ini disampaikan kepada masyarakat luas. Bukunya diterbitkan oleh penerbit dari Jogja, bukan dari Jakarta, dan terbukti bisa meledak ketika terjadi buzz di berbagai komunitas online dan offline.

Sementara dalam pembuatan filmnya, orang-orang yang terlibat menunjukkan keragaman. Mulai dari nama-nama yang sudah sangat berpengalaman seperti Mira Lesmana, Riri Riza, Salman Aristo, Cut Mini, Ikranagara, Slamet Rahardjo, Tora Sudiro, Lukman Sardi, dan lainnya; sampai ke para aktor cilik yang merupakan anak-anak asli Belitong dan baru pertama kalinya main film serta langsung jadi tokoh sentral.

Secara keseluruhan, Laskar Pelangi ini memang sangat cocok dengan kebutuhan bangsa kita yang sangat beragam dan sedang memerlukan persatuan nasionalis-religius seperti ini. Tak heran jika banyak orang yang merasa sangat emosional, baik ketika membaca bukunya ataupun menonton filmnya.

Jadi, di era New Wave Marketing saat ini, PDB yang merupakan kunci dari marketing peranannya semakin tambah krusial. PDB yang kuat akan mendatangkan kesuksesan yang berlipat ganda, seperti yang telah dibuktikan oleh Laskar Pelangi.

--- Ringkasan tulisan ini bisa dibaca di Harian Kompas --

Hermawan Kartajaya


"Hermawan Kartajaya adalah pakar pemasaran dari Indonesia. Sejak tahun 2002, ia menjabat sebagai Presiden World Marketing Association (WMA) dan oleh The Chartered Institute of Marketing yang berkedudukan di Inggris (CIM-UK) ia dinobatkan sebagai salah satu dari "50 Gurus Who Have Shaped The Future of Marketing". Saat ini ia juga menjabat sebagai Presiden MarkPlus, Inc., perusahaan konsultan pemasaran yang dirintisnya sejak tahun 1989. Selain aktif menulis buku-buku seputar dunia bisnis dan pemasaran Indonesia maupun internasional, ia juga kerap diundang sebagai pembicara dalam berbagai forum di berbagai negara." 
(Email : newwave@kompas.co.id)

-----------------------------------------------------------------------------------------------

Dari "Laskar Pelangi" ke Laskar Kreatif
Rabu, 15 Oktober 2008 | 01:06 WIB 


”Pasar (ekonomi kreatif) hanya akan terbentuk jika kita punya IT literacy tinggi dan sebesar-besarnya masyarakat mengakses IT”.

(Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu, INAICTA 2008, 08/8/2008)

Menonton film Laskar Pelangi tak diragukan lagi merupakan pengalaman menggetarkan. Penonton tergetar karena ketegaran menyambut tantangan masa depan yang diperlihatkan anak-anak muda Belitung. Selebihnya, yang menggetarkan adalah panorama alam Indonesia yang diangkat oleh sineas Tanah Air ke layar perak. Segalanya tampak polos, alamiah.

Itu tentu sudah pencapaian yang bagus. Sukses Laskar Pelangi setelah Ayat-ayat Cinta meneguhkan apa yang disampaikan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengenai kebangkitan industri kreatif di Tanah Air. Seperti disampaikan dalam kuliah umum di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) di Tangerang, 5 September silam, sekarang ini ada 14 bidang yang diunggulkan dalam industri kreatif di Indonesia. Hal itu meliputi periklanan; arsitektur; barang seni; kerajinan; desain; mode; permainan interaktif; musik; seni pertunjukan; penerbitan dan percetakan; layanan komputer dan peranti lunak; radio dan televisi; riset dan pengembangan; serta film, video, dan fotografi.

Kita bangga film dan musik bangsa sendiri kini sudah bangkit dan ternyata bila digarap dengan baik mampu menarik hati audiensi di Tanah Air, bahkan di kawasan regional. Benar juga kalau dikatakan bahwa industri kreatif baik untuk dikembangkan karena selain membuka potensi ekonomi juga bisa mengangkat citra bangsa dan menyemaikan sumber daya terbarukan. Indonesia tidak keliru memilih industri ini karena potensi berupa kekayaan seni budayanya amat tinggi.

Apa setelah ”Laskar Pelangi”?

Dari sisi industri, dunia perfilman sebagai salah satu industri kreatif potensial harus tertantang untuk terus melangkah maju. Pada film asing, kini selain cerita yang menyentuh juga dihadirkan animasi dan efek yang diharapkan mampu meningkatkan tingkat kualitas hiburan. Dengan itu pula ibaratnya rentang kemungkinan ekspresi artistik diperluas dan diperdalam.

Sekadar contoh, lalu muncul film seperti sekuel The Jurassic Park, Matrix Revolution, atau Terminator, dan yang belum lama ini Kung Fu Panda. Kita ingat, dalam film Jurassic Park penonton dibuat terpana menyaksikan bagaimana makhluk- makhluk purba yang sudah punah 65 juta tahun silam bisa dibuat hidup lagi, sedemikian hidupnya hingga efek menakutkan dan mencekam amat nyata. Pada Kung Fu Panda, itulah animasi par excellence.

Tetapi, kita paham betul apa yang ada di balik semua kecanggihan itu, dan itu tidak lain tidak bukan adalah teknologi komputer, atau teknologi informasi (TI) pada umumnya. Batasnya adalah imajinasi, ini yang sering dikemukakan para ahli komputer.

Kita berharap film Indonesia setelah Laskar Pelangi juga dapat terus melangkah ke dimensi lebih canggih tanpa meninggalkan cerita yang tetap merupakan unsur utama dalam industri kreatif ini.

Teknologi yang diperlukan

Dalam ungkapan ringkas, lingkup peranan dan keterkaitan industri kreatif dengan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) disampaikan dalam kutipan di awal tulisan ini. Sebagaimana juga dikutip oleh Restituta Ajeng Arjanti (dalam situs QB Creative), Menteri Perdagangan juga menyebutkan tiga aspek penting TIK dalam menciptakan industri kreatif, yakni TIK sebagai industri, TIK sebagai alat untuk menciptakan industri, dan TIK sebagai alat untuk mengerti tentang pasar dan konsumen.

Menperdag bahkan memperlihatkan TIK sebagai jalan keluar bagi permasalahan yang dihadapi industri musik dewasa ini, yakni pembajakan.

Sebagaimana juga disampaikan dalam kuliah di UMN, Mari juga menyebutkan, industri iklan pun beralih ke internet, dalam hal ini melalui milis dan blog, yang juga banyak digunakan untuk ”menghakimi” satu produk baru. Dengan cara ini, iklan tradisional di koran atau TV tak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi untuk menilai satu produk baru.

Berdasarkan ilustrasi di atas, pekerjaan rumah yang tak terelakkan dalam upaya pengembangan industri kreatif adalah menguasai TIK. Di sini pun tiga aktor utama dalam industri kreatif—pemerintah, bisnis, dan lembaga penelitian, atau sering juga disebut triple helix, atau juga ABG (academician, business, government)—punya peran penting masing-masing.

Pemerintah berperanan membuat elemen TIK, termasuk tarif bandwidth untuk akses internet semurah mungkin, sementara lembaga penelitian mendukung penyediaan teknologi dan riset, adapun dunia bisnis berperan memfasilitasi komersialisasi produk industri kreatif.

Hanya dengan inilah kita bisa berharap di bidang film, misalnya, satu hari nanti akan muncul film Indonesia yang didukung rumah animasi yang mengingatkan orang pada DreamWorks Animation yang membuat Kung Fu Panda.

Dalam dunia yang sudah terbuka, penonton film Indonesia tentu juga akan membanding- bandingkan sehingga kalau memang di Amerika pembuatan film didukung oleh komputer dengan prosesor multicore, yang bisa menghadirkan efek dramatik yang membuat orang menahan napas, di sini pun kelak akan muncul tuntutan serupa.

Tanpa akses dan penguasaan terhadap TIK, kegeniusan insan kreatif Indonesia akan terkendala karena kreativitasnya mentok di plafon yang mandek. Dalam kaitan inilah terlihat perlunya melangkah dari Laskar Pelangi ke laskar (industri) kreatif yang didukung oleh TIK, alat yang akan membantu insan animator dan ahli efek memecahkan tantangan artistik.

Senin, 13 Oktober 2008

Meriah, Pesta Penikahan Arif-Gina


STRIKER Persib, Zaenal Arif (kedua kanan) mengikrarkan ijab kabul pernikahan terhadap Gina Selviani Vera (21) di Masjid Agung Garut, Minggu (12/10). Wali Kota Bandung Dada Rosada (kedua kiri) menjadi saksi dari pihak mempelai pria.* RIKA/"PR"

JIKA ada pesta pernikahan yang layak dinobatkan sebagai yang terbesar di Garut tahun ini, mungkin resepsi Zaenal Arif dan Gina Selviani Vera (21) jawabannya. Sedikitnya, 2.000 undangan mereka sebar, baik secara fisik, maupun sms. Alhasil, lebih dari 4.000 tamu memadati Graha Intan Balarea, Jln. Patriot 13-15, Garut, tempat resepsi berlangsung.


Sejak "pintu" undangan dibuka, tamu tak putus-putusnya mengalir. Jejalan tamu undangan yang mengantre untuk menyampaikan doa restu dan ucapan selamat seakan tak habis-habisnya. Bukan hanya dua barisan, antrean tamu yang cukup panjang mencapai lebih dari tujuh baris dan baru surut beberapa menit menjelang pukul 14.00 WIB.

Saat menuju lokasi resepsi, pasangan yang menyelesaikan prosesi akad nikah sekitar pukul 9.20 WIB di Masjid Agung Garut itu juga menarik perhatian massa. Dengan menumpangi Jeep Willys, kedua mempelai yang terpaut usia enam tahun itu diarak ratusan anggota Viking.

Pernikahan sesama anak pertama yang memilih Minggu (12/10) sebagai hari istimewanya itu memang berlangsung mewah dan meriah. Pengantin yang tak lupa menyertakan serangkaian upacara adat dalam acara resepsinya itu berhasil menuai decak kagum, dengan banyaknya orang yang antusias menghadiri upacara pernikahan mereka.

Namun, mungkin tak banyak yang tahu. Di tengah ingar-bingar resepsi mewah itu, seperti pernikahan lain pada umumnya, tetesan air mata haru tak luput mewarnai. Bahkan, ia hadir membasahi pipi mempelai pria saat bersujud di hadapan orang tuanya, seusai menunaikan ijab kabul yang menghadirkan Dada Rosada sebagai saksi. 

Air mata pengantin pria itu pun disambut tangisan haru sejumlah keluarga yang hadir di Masjid Agung Garut. Kondisi serupa sempat terjadi malam harinya, saat digelar acara siraman di kediaman Gina, yang akrab disapa Ghege. Bedanya, malam itu, air mata Gina dan keluarga yang mengalir deras. Mereka mengaku teringat akan mendiang ayah Gina, Agus W.K. (alm.).

Terlepas dari kemewahan dan keharuan yang menyelimuti hari pertama mereka sebagai suami istri, ada hakikat lain yang dinilai lebih penting. Arif mengaku lega telah memperistri Gina yang menurut dia berbeda dengan wanita lain dan mampu melengkapi kekurangan yang ada di dirinya.

"Alhamdulillah sudah resmi. Gina sangat berarti bagi saya. Tanpa dia, saya bukan apa-apa. Dia motivator saya. Saya yakin, dia adalah yang terbaik," ujar striker Persib yang mengaku akan mengambil cuti selama satu pekan untuk berbulan madu ke Bali itu.

Walaupun tidak menjanjikan akan mendongkrak kariernya yang sedang lesu, Arif berharap, keberadaan Gina sebagai pendampingnya bisa mendorong dia untuk lebih baik. Pemain kelahiran 1981 itu mengaku masih enggan membahas posisinya yang akhir-akhir ini lebih sering menghuni bangku cadangan, dengan alasan ingin menikmati dahulu kebahagiaan sebagai pengantin baru.

Hal senada dilontarkan sang istri. Ia meminta agar suaminya diberi sedikit keleluasaan dulu untuk menghirup manisnya hari-hari awal gerbang pernikahan. Ditanya tentang kesiapannya menjadi istri pemain yang kerap ditinggal untuk menjalani laga tandang dan kerap dikerumi banyak fans wanita, Gina mengaku sudah siap.

"Sejak pacaran satu tahun lalu pun saya sudah siap. Saya sudah biasa ditinggal. Soal fans juga sama. Saya harus memahami posisi suami saya. Dia seperti ini tidak lepas dari keberadaan fans," ujar Gina yang berprofesi sebagai presenter dan sempat menjadi finalis Mojang Jajaka Jawa Barat 2005 itu.

Kini keduanya telah resmi menjadi sepasang suami istri. Mahar berupa perhiasan emas seberat 150 gram telah diberikan Arif pada istrinya. Rumah di kompleks Batu Indah Bandung pun sudah siap ditempati. Namun, kemewahan pernikahan hanyalah suatu simbol. Bahtera kehidupan rumah tangga telah menanti untuk dikayuh bersama. Mampukah mereka mengarungi derasnya kehidupan? (Rika Rachmawati/"PR")***