Kamis, 03 Juli 2008

Gagal Testing SNMPTN Karena Tertipu "Teman"

CHAIRUL Amri (18), sedang diwawancara setelah ketahuan menjadi korban penipuan pada Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2008, Rabu (2/7), di Sekretariat SNMPTN Panlok Bandung, Jln. Ganeca Bandung.* NURYANI/"PR"

GARA-GARA ditipu teman sendiri, seorang calon peserta Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), Chairul Amri (18) tidak dapat mengikuti tes SNMPTN. Alumni SMAN 12 Bandung tersebut gagal ikut tes karena ternyata tidak terdaftar sebagai peserta SNMPTN.


Chairul, warga Kawaluyaan Bandung ini membeli formulir bukan di tempat penjualan resmi. Dia justru membeli formulir dari seseorang bernama Ervan, yang belum lama dia kenal.

"Ketika saya datang ke lokasi ujian di kampus YPKP di Jln. P.H.H. Mustofa, ternyata kursinya sudah ada yang nempatin. Saya juga enggak berani masuk karena saya tidak punya kartu tanda peserta," kata Chairul di Sekretariat SNMPTN Panlok Bandung, Jln. Ganeca Bandung, Rabu (2/7).

Chairul menceritakan, dia membeli formulir kepada Ervan karena terlambat membeli formulir secara kolektif di sekolahnya. Dia pun mengaku tidak tahu jelas informasi mengenai SNMPTN 2008 ini.

Ketika bertemu dengan Ervan, dia mendapat tawaran untuk membeli formulir kelompok IPS seharga Rp 200.000,00. "Katanya, dia enggak jadi ikut ujian di Bandung, tapi sudah telanjur membeli formulir. Jadi formulirnya saya beli," ujarnya.

Ketika hendak mengembalikan formulir yang telah dia isi, Chairul diajak Ervan yang mengaku alumni SMAN 5 Bandung untuk mengembalikannya di ITB. Sayangnya, lokasi yang dituju bukanlah lokasi pengembalian formulir yang seharusnya. 

"Saya juga tidak tahu berapa nomor peserta saya karena kartunya ada di dia. Ketika saya telefon nanya lokasi dia bilang di YPKP, dan kartunya mau dikasih pada saat ujian. Tapi sampai sekarang enggak ada, handphone-nya juga enggak bisa dihubungi lagi," ujarnya penuh penyesalan. 

Sekretaris Eksekutif SNMPTN Panlok Bandung, Asep Gana Suganda mengatakan, Chairul merupakan korban penipuan orang-orang yang memanfaatkan situasi. Hal tersebut, kata dia, karena calon peserta tidak memperoleh informasi yang benar mengenai SNMPTN. "Solusinya ya dia ikut lagi seleksi tahun depan," ujarnya. (Nuryani/"PR") ***

Peminat SMK Membeludak

SEJUMLAH siswa SMP dari berbagai daerah mengantre untuk mendaftar pada penerimaan siswa baru di SMKN 2 Bandung, Jln. Ciliwung Kota Bandung, Rabu (2/7).* KRISHNA AHADIYAT

BANDUNG, (PR).-

Jumlah peminat yang mendaftar ke sekolah menengah kejuruan (SMK) pada penerimaan siswa baru (PSB) tahun ajaran 2008-2009 membeludak. Berdasarkan pemantauan "PR", Rabu (2/7), di beberapa SMK terjadi antrean yang cukup panjang. Para calon siswa SMK ini tak hanya menyerahkan syarat administrasi, tetapi langsung melaksanakan tes kesehatan dan buta warna. Antrean panjang ini terjadi di SMKN 9, SMKN 13, dan SMKN 12 Bandung.

Antrean di SMKN 9 Jln. Soekarno-Hatta KM 10 Bandung berlangsung sejak Rabu pagi. Para calon siswa dan orang tua siswa menunggu giliran untuk menyerahkan berkas administrasi, kemudian calon siswa akan mengikuti tes buta warna, tes kesehatan, serta tes minat dan bakat. Menurut Ketua Panitia PSB SMKN 9 Ramsida, jumlah pendaftar sudah mencapai 700-an siswa, padahal kuota sekolah ini hanya 403.

"Jumlah pendaftar tahun ini sangat tinggi dan di luar perkiraan. Bahkan, para calon siswa ini tak hanya datang dari Kota Bandung, ada juga dari Ciwidey, Rancaekek, sampai Jawa Tengah. Hal ini disebabkan SMK menjanjikan siswanya memiliki keterampilan yang spesifik dan tujuan akhirnya adalah langsung bekerja atau membuka lapangan pekerjaan," tutur Ramsida.

Uyun, orang tua dari Susana Putri yang mendaftar ke SMKN 9 mengatakan, sangat bersyukur karena anaknya ingin sekolah di kejuruan. "Walaupun biayanya lebih mahal, tetapi nantinya anak saya punya keahlian khusus. Sehingga bisa langsung bekerja atau membuka salon. Susana sangat tertarik pada tata kecantikan," ungkap Uyun.

Situasi tidak jauh berbeda tampak pula di SMKN 12 Bandung. Hingga hari ketiga PSB, sudah terdaftar sedikitnya 620 siswa. Jumlah tersebut sudah melebihi daya tampung yang tersedia, yaitu 432 kursi untuk lima pilihan keahlian yang ada. 

Diakui Ketua Panitia PSB SMKN 12 Bandung Samsiah, jumlah pendaftar saat ini meningkat dibandingkan dengan tahun lalu yang jumlahnya tidak sampai 500 siswa. Samsiah menduga, gencarnya promosi di beberapa media mengenai keunggulan SMK menjadi salah satu pemicu meningkatnya animo masyarakat untuk menyekolahkan anak mereka di SMK.

Sementara itu, di beberapa SMK swasta, seperti SMK Bina Warga dan SMK Tadika Puri, terlihat lengang. Tidak ada antrean di kursi pendaftaran. Meski demikian, panitia tiap-tiap sekolah tetap optimistis memperoleh siswa lebih banyak dari tahun sebelumnya.

"Biasalah kalau hari-hari ini agak sepi. Sekarang kan para orang tua masih mendahulukan sekolah yang negeri. Meski pendaftar masih sedikit, kami tetap optimistis mencapai target penambahan minimal 100 siswa," kata Ketua Panitia PSB SMK Bina Warga, Bunyamin Furqon. Tahun lalu SMK di Jln. Buahbatu tersebut menerima 164 siswa baru.

Masih sepi
Jika panitia PSB di SMKN kewalahan menerima siswa baru, hal berbeda terjadi di sebagian besar SMAN Kota Bandung. Sejak pendaftaran dibuka Senin (30/6) lalu, jumlah pendaftar tidak mengalami peningkatan yang signifikan. Seperti yang terjadi di SMAN 3, SMAN 5, SMAN 6, SMAN 8, dan SMAN 21. 

Di SMAN 8 Bandung, jumlah pendaftar baru mencapai 70-an siswa. Menurut Humas SMAN 8 Bandung Eha Julaeha, sebagian besar calon pendaftar masih memantau passing grade yang dikeluarkan PSB online. "Kami memperkirakan, Jumat dan Sabtu besok, jumlah pendaftar akan meningkat pesat," ujar Eha.

Sementara itu, untuk mempermudah pendaftar, SMAN 5 memasang layar proyektor di lokasi pendaftaran. Layar tersebut memuat urutan data pendaftar lengkap dengan nilainya. Hingga Rabu (2/7), jumlah pendaftar yang masuk baru 37 siswa. Dengan perincian nilai tertinggi 37,35 dan nilai terendah 32,50. 

Dihubungi secara terpisah, Ketua Lembaga Advokasi Pendidikan (LAP) Dan Satriana mengatakan, penyediaan komputer atau layar informasi ini sudah seharusnya dilakukan di setiap sekolah. Sebab, masyarakat perlu mengetahui info terakhir yang bisa dilihat ketika hendak mendaftar.

Menurut Dan, situs PSB online belum bisa memberikan info yang cukup bagi orang tua siswa, karena masih ada keterbatasan di sana-sini, terutama kecepatan dalam meng-update data dari sekolah.

"Disdik juga semestinya memiliki tim investigasi atau desk khusus yang menampung keluhan-keluhan dari orang tua. Dengan begitu, orang tua bisa langsung mengadu jika ternyata menemukan kecurangan. Sekarang kan orang tua bingung kalau ingin mengadu," katanya. (A-157/ CA-165/ CA-184/ CA-187)***

Rabu, 02 Juli 2008

Konstruksi Rangka Baja Pertama


BANGUNAN bangsal Sekolah Luar Biasa (SLB) Cicendo merupakan bangunan pertama di Bandung yang menggunakan rangka baja.* RETNO HY/"PR"

"Dank zij de toezegging van een legaat, groot f50.000 door de Gemeenteraad van Bandung, dat door wijlen de Heei K.A.R. Bosscha aan dit college was nagelaten, kon met de bouw van een nieuw Instituut worden begonnen" (Berkat kebaikan mendiang Tuan K.A.R. Bosscha yang menyerahkan uang sebesar f50.000 kepada Dewan Kota Praja Bandung, untuk diwakafkan kepada badan-badan amal maka pendirian gedung sekolah beserta asrama baru dapat dimulai). 


SELAIN Bosscha Strennwach (Observatorium Bosscha), ada bangunan monumental lain di Kota Bandung yang diwariskan Karel Albert Rudolf Bosscha. Bangunan itu adalah Mereeniging voor Onderwijs aan Doofstomme Kinderen in Indonesia atau disebut bangunan Doofstommen Instituut (Lembaga Bisu dan Tuli), yang sekarang menjadi Gedung Sekolah Luar Biasa (SLB) Cicendo Bandung. 

Gedung itu didirikan Wali Kota Bandung Ir. J.E.A van Wolzogen Kuhr dengan biaya dari K.A.R. Bosscha, Sang Raja Teh Priangan yang mengangkat Ny. A.C. de Jonge Baronesse van Wassermaer, istri Gubernur Jenderal sebagai pelindung. Lembaga Bisu Tuli di Bandung itu diresmikan 18 Desember 1933.

Gedung yang peletakan pertamannya dilakukan Geboren Barronesse van Wassenaar, istri Gubernur Jenderal D.C. de Jonge, pada 16 Mei 1933 itu termasuk istimewa karena merupakan bangunan pertama yang menggunakan sistim rangka baja murni. 

"Bahkan, bila ditelusuri lebih jauh, SLB Cicendo bukan hanya merupakan bangunan pertama dengan konstruksi rangka baja di Indonesia, bisa jadi di Asia," ujar Drs. Eddy Sunarto, Kasi Pengembangan Budaya Daerah Subdin Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, yang juga Koordinator Pengumpulan Data Pengajuan dan Penetapan Bangunan Cagar Budaya Sekolah Luar Biasa (SLB) Cicendo.

Berdasarkan penelusuran tim yang terdiri dari Dra. Erni Nurtiningsih, Dra. Heni Rif`ati Fajria, dan Dra. Eha Solihat, pada masa kepemimpinan Residen Priangan J.H.B. Kunaeman, Doofstommen Instituut atau yang kini disebut SLB Cicendo, didirikan 3 Januari 1930 atas prakarsa Ny. C.M. Roelfsema Wesling, istri Dr. H.L. Roelfsema, seorang ahli penyakit telinga, hidung, dan tenggorokan (THT). Sementara untuk asrama siswa menempati rumah Roelfsema sendiri di Jalan Riau No. 20. 

Minat masyarakat dari berbagai daerah luar Jawa untuk menyekolahkan anaknya di Doofstommen Instituut terus meningkat. Hal itu juga berdampak pada tingkat hunian asrama yang dikelola Jongbloed, hingga terpaksa pindah ke Oude Hospitaalweg (Jln. Rumah Sakit) No. 27.

**

Sekolah Luar Biasa (SLB) Cicendo yang terletak di Jln. Cicendo No. 2 RT 01 RW 01 Kel. Babakan Ciamis Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung, berdiri di atas tanah dengan luas 8.180 meter persegi. Bangunan yang belum diketahui siapa arsiteknya itu berarsitektur tradisional modern, terlihat pada bentuk atap dan kerangkanya. 

Bubungan atas dibentuk rata dan tidak ada pertemuan dengan bubungan samping, tetapi dibentuk ventilasi (rohang). Bubungan samping (sudut) dibentuk agak melengkung, seperti pada atap rumah tradisional Jawa Barat. 

Pada bagian kaki bangunan diberi batu kali, seperti pada bangunan masa Kolonial Hindia Belanda. "Tetapi sangat disayangkan kondisi sekarang telah diberi cat berwarna hitam tidak warna natural seperti aslinya. Sedangkan dinding dibuat dari susunan bata dengan diberi lepa dan cat tembok berwarna putih. Pada pertemuan antara bagian kaki dan badan bangunan diberi pinggul dari serbuk batu yang diberi semen putih," ujar Eddy.

Material besi hampir mendominasi bagian pintu dan jendela. Setiap daun pintu terbagi dalam 5 baris panel (kolom), setiap baris terdapat 2 panel (kolom). Pada baris paling bawah terbuat dari pelat besi setinggi bagian kaki bangunan, setengahnya lagi (2 kolom) menggunakan kaca es yang tidak tembus pandang tetapi tembus cahaya.

"Melihat tahun pembangunan (1933) SLB Cicendo Bandung, jelas termasuk dalam kategori benda cagar budaya yang dilindungi UUI No. 5 /1992 tentang Mengandung Nilai Sejarah, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan, ditinjau dari historis-arkeologis," ujar Eddy.

Sayangnya, pengajuan bangunan artefaktual SLB Cicendo sebagai bangunan cagar budaya, sejak Juni 2006, belum kunjung ditandatangani Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala. 

Lambatnya surat penetapan dikhawatirkan akan semakin menambah deretan bangunan cagar budaya yang beralih fungsi atau diubah bentuk konstruksi di Kota Bandung. Jika itu terjadi, siapa yang salah? (Retno H.Y./"PR")***

Harian Kontan Pelopori Koran Digital di Indonesia


Kontan
Halaman depan Kontan Digital (e-paper).


JAKARTA, RABU - Mulai hari ini, Harian Kontan tak hanya tersedia dalam edisi cetak, namun juga dapat diakses dalam versi digital. Semua halaman Kontan kini dapat dibaca dengan bentuk yang sama persis dengan edisi cetak di depan layar komputer.  


"Penyediaan edisi digital tidak hanya menyesuaikan dengan perkembangan teknologi tapi juga memenuhi permintaan pembaca," ujar Yopie Hidayat, Pemimpin Redaksi Harian Kontan saat dihubungi melalui telepon, Rabu (2/7). Ia mengatakan perkembangan teknologi seperti e-paper memungkinkan koran digital dapat diakses dengan mudah. 

Pembaca tidak perlu memiliki akses Internet broadband untuk dapat menikmati e-paper Kontan ini. Pembaca juga tidak perlu men-download karena sederhana, ringan, dan sudah disesuaikan dengan kemampuan browser web.

Yopie optmistis kehadiran koran digital (e-paper) Harian Kontan tidak akan mengikis edisi cetak, namun justru menambah peluang pembaca baru. Ia mengatakan target pembaca Kontan Digital tidak sekadar pasar menengah ke atas yang memiliki akses Internet pribadi, namun juga anak-anak muda yang makin lekat dengan Internet.

"Anak-anak muda nggak begitu doyan baca koran tradisional yang pakai kertas jadi kami perluas target pembaca Kontan melalui media digital," ungkapnya. Kontan versi digital ini dapat diakses di www.kontan.co.id dan untuk sementara bisa dibaca secara cuma-cuma. 

Fitur yang disediakan dalam layanan tersebut juga interaktif sehingga memudahkan pembaca memperoleh informasi. Antara lain fitur thumbnail yang menampilkan preview semua halaman, kirim ke teman lewat email, fitur cetak halaman hingga fitur pencarian berdasarkan keyword di semua halaman. Lebih dari itu, pembaca juga dapat melakukan pencarian tidak hanya di satu edisi saja tapi di seluruh arsip Kontan digital.

Dalam waktu dekat, Kontan juga akan meluncurkan situs web resminya, yang didukung oleh KOMPAS.com. Layanan tersebut akan menyediakan informasi bisnis dan keuangan yang di-up date selama 24 jam.

WAH

Sikapi Hati-hati Kelas Internasional

Pius Suratman, "KI tak Berjalan Paralel dengan Peningkatan Kualitas PT"

 

SEORANG mahasiswa asal Malaysia menjelaskan materi kuliah tentang sistem kardiovaskuler kepada rekan-rekannya saat tutorial dengan dosen sebagai fasilitator pada Twinning Program di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) Jatinangor, Selasa (1/7). Program tersebut merupakan kerja sama FK Unpad dengan Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Setiap tahunnya FK UNPAD menerima 150 mahasiswa asal Malaysia.* USEP USMAN NASRULLOH


BANDUNG, (PR).-
Rintisan pembukaan kelas internasional (KI) di berbagai perguruan tinggi (PT) di Indonesia, termasuk Jawa Barat, tidak selalu berbanding sejajar dengan akselerasi peningkatan kualitas PT. Bahkan, jika tidak diwaspadai dan dikelola dengan profesional, bisa saja KI itu mencerabut para peserta kuliah akar budaya yang membangun identitas karakter yang kokoh.

Demikian pemikiran pakar pendidikan dari Universitas Katholik Parahyangan (Unpar) Bandung, Pius Suratman Kartasasmita, Ph.D., yang dimintai pendapat di Bandung, Selasa (1/7). 

Pius mengakui, KI bisa membawa para peserta kuliah berinteraksi baik secara fisik maupun mental dengan aktor-aktor pembelajar yang melewati batas negara. Hal tersebut tidak hanya melibatkan pergerakan fisik mahasiswa ataupun dosen, tetapi juga pengetahuan yang dihasilkan dari proses belajar tersebut. Namun, apa pun definisi yang digunakan dengan kelas internasional, tidak berbanding sejajar dengan akselerasi peningkatan kualitas PT. 

"Dalam dunia di mana arus globalisasi begitu deras, dengan motor utamanya ekonomi pasar yang kapitalistik, hampir tidak ada satu aspek kehidupan yang luput dari cara hidup kapitalisme, termasuk dunia pendidikan dan bahkan institusi organisasi keagamaan," ungkap Pius.

Oleh karena itu, pilihan mendirikan KI atau tidak kembali berpulang kepada aktor-aktor pendidikan itu sendiri. Kelas internasional dapat menjadi berkah karena memungkinkan para peserta kuliah memiliki wawasan dan bersikap inklusif. "Namun, jika tidak diwaspadai dan dikelola secara profesional, kelas-kelas internasional dapat menjadi the killing field yang efektif untuk mencerabut para peserta kuliah dari akar budaya yang membangun identitas karakter yang kokoh," katanya menguraikan.

Ia menambahkan, pelabelan KI jangan sebatas menjadi lips stick sebuah PT untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. "Cuma ada satu orang asing sudah disebut kelas internasional. Padahal tidak menjamin, kuliah di kelas internasional akan memiliki kepintaran dan keahlian lebih," kata Pius. 

Kualitas sejajar

Di sisi lain, Pembantu Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof. Dr. Chaedar Alwasilah, M.A., mengatakan, KI menjadi upaya untuk menyejajarkan kualitas pendidikan nasional dengan standar global serta mendapatkan pengakuan dari dunia pendidikan internasional. 

Akan tetapi, menurut dia, langkah tersebut juga harus diikuti kebijakan proteksi dari PT agar kehadiran kelas internasional tidak mematikan kelas reguler dan lulusannya tidak mendominasi pasar kerja di tingkat lokal. "Pembukaan KI ini akan memacu universitas untuk menjadi unggul dalam penyajian kurikulum dan pengajaran sekaligus sarana untuk memosisikan dirinya dalam dunia pendidikan global," katanya.

Dia menilai pembukaan KI bukan merupakan sarana untuk mengeruk uang atau industrialisasi pendidikan. "Jangan sampai kita melarang orang yang punya uang untuk mendapatkan kualitas pendidikan lebih baik, nanti mereka malah kabur sekolah ke luar negeri. Bagi mereka yang mampu, boleh mengikuti kelas ini. Sementara untuk kelas reguler tetap dibuka untuk mereka yang tidak mampu secara ekonomi," katanya.

Harga mahal yang dikenakan kepada para peserta KI, menurut Chaedar, dapat membantu upaya subsidi silang pembiayaan pendidikan lebih maksimal. KI harus dilapisi dengan kebijakan yang melindungi kelas reguler agar nantinya tidak terlalu banyak lulusan KI yang membanjiri persaingan pasar kerja di Indonesia. (CA-168/CA-187)*** 
Penulis:

Dari Perkebunan, Observatorium, Hingga Sekolah Luar Biasa

Warisan Sang "Preangerplanter" untuk Priangan


"IMAH hideung" yang dibangun oleh K.A.R. Bosscha adalah perkampungan buruh pemetik teh di perkebunan Malabar. Bosscha meneruskan perkebunan teh tersebut dari Firma John Peet & Co pada tahun 1869.* RETNO HY/"PR"


Karena jasa-jasanya, K.A.R. Bosscha diangkat sebagai warga kehormatan Kota Bandung dan namanya diabadikan sebagai nama jalan di utara Bandung.

Semula, kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh K.A.R. Bosscha, diartikan sebagai politik balas budi terhadap negara jajahan yang sudah banyak memberikan kekayaan terhadap Belanda. Namun, secara perlahan pandangan tersebut lenyap dengan sendirinya, ketika berbagai peninggalan Bosscha sangat dirasakan manfaatnya, bahkan hingga kini.

P ada 10 Januari 1928, kapal Kertosono milik Rotterdamsche Llyod berlabuh di Pelabuhan Batavia. Kedatangan kapal Kertosono yang membawa refraktor dobel Zeiss dengan diameter 60 mm dan panjang 11 meter, mengakhiri masa penantian panjang Karel Albert Rudolf Bosscha dan Dr. J. Voute, yang memesan dan langsung membelinya dari Carl Zeiss Jena lengkap dengan meridian circle dari Askania Werk, Jerman pada 1921.

Jadi, reflektor itu baru datang 7 tahun sejak K.A.R. Bosscha memesan atau delapan tahun sejak Nederland Indische Sterrenkundige (NISV) atau Perhimpunan Ilmu Astronomi Hindia Belanda pertama kali menggelar rapat, 12 September 1920 di Hotel Homann Bandung.

Disaksikan Gubernur Jenderal Nr. A.C.D. de Graeff, pada 7 Juni 1928, Bosscha juga menyerahkan teleskop Banberg 37 cm kepada Himpunan Ilmu Astronomi Hindia Belanda. Juga diserahkan bantuan subsidi dari Departemen Angkatan Laut pemerintah Belanda sebesar Nf 18.000, suatu jumlah yang sangat besar waktu itu. Dana itu diperuntukkan membantu kelancaran pengoperasian observatorium.

Namun K.A.R. Bosscha sendiri tidak dapat menikmati semua jerih payahnya. Sejak dibangunnya kompleks observatorium di Lembang pada 1922 dan diresmikan pada 1 Januari 1923 oleh Gubernur Jenderal Mr. D. Fock, Sang "Preangerplanter" (juragan perkebunan di Priangan) belum sempat berkunjung karena menderita sakit akibat terjatuh dari kuda kesayangannya dan pada 26 November 1928, Bosscha meninggal dunia.

Kalangan astronomi yang pernah datang ke Bosscha Strennwach (observatorium Bosscha) ataupun mereka yang pernah menuntut ilmu di Fakultas Astonomi ITB dan lainnya, menjadikan kisah perjalanan K.A.R. Bosscha dengan sepak terjangnya di NISV, sebagai bagian dari ilmu pengetahuan. Sebab, setelah Institute Teknologi Bandung berdiri tahun 1959, Bosscha menjadi bagian dari ITB. Sejak itu, Observatorium Bosscha berfungsi sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal Astronomi di Indonesia, yang kemudian melahirkan para astronom Indonesia.

**

Jauh sebelum Bosscha Strennwach dibangun, sang "Preangerplanter", kelahiran ST Gravenhage, Den Haag 15 Mei 1865, yang semula datang ke tanah Priangan pada 1887 untuk mempelajari tanaman teh di Sukabumi itu, sudah banyak menyumbangkan pikiran, tenaga, dan dana bagi kepentingan-kepentingan sosial dan pembangunan Kota Bandung.

Berkat kecintaannya kepada alam Priangan yang indah, pada 1869 Bosscha menerima tawaran Firma John Peet & Co. untuk meneruskan perkebunan teh di kaki Gunung Malabar. Untuk selanjutnya mengganti pohon teh dengan bibit baru teh Assam, yang hingga kini membawa Indonesia ke jajaran penghasil teh terbaik dunia.

Sebelum membangun Wisma Malabar pada 1894 untuk tempat tinggalnya, empat tahun sebelumnya Bosscha membangun perkampungan buruh pemetik teh dengan membangun Imah Hideung berikut pasar dan sarana lain layaknya perkampungan. Dilanjutkan dengan membangun Vervoloog (SD Malabar II) pada 1901 dan membangun pabrik teh Malabar dan Tanara. Tidak kalah pentingnya adalah pembangunan PLTA Cilaki dan Citamaga serta sejumlah danau (situ) sebagai penampung air.

K.A.R. Bosscha, tidak hanya dikenal dalam dunia perkebunan dan budi daya teh, sumbangsihnya juga diberikan untuk pembangunan Societeit Concordia (Gedung Merdeka), dewan penyantun Tehnische Hogeschool (kini ITB), Doofstommen Instituut (Lembaga Pendidikan Anak-anak Tuli Bisu) sekarang SLB Cicendo, serta Bala Keselamatan di Jalan Jawa dan mendirikan Institut Kanker pertama.

Selain itu, ia juga turut andil dalam pembangunan Telefoon Maatschappij voor Bandung en Preanger (kini PT INTI), serta kompleks Nederlands-Indische Jaarbeurs yang kini menjadi Makodam Siliwangi. Sebelum akhir hayatnya, K.A.R. Bosscha juga pernah menjadi Ketua Biro Spesialis Teh Hindia Belanda (1910) dan Ketua Pertanian Percobaan (1917).

**

Sumbangan lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah mengubah satuan metrik. Dialah yang pertama kali memperkenalkan satuan hektare dan kilometer untuk menggantikan hitungan satuan tradisional bata, tumbak, pal, dan bahu di bumi Parahyangan. Karena jasa-jasanya, K.A.R. Bosscha diangkat sebagai warga kehormatan Kota Bandung dan namanya diabadikan sebagai nama jalan di utara Bandung.

Semula, kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh K.A.R. Bosscha, diartikan sebagai politik balas budi terhadap negara jajahan yang sudah banyak memberikan kekayaan terhadap Belanda. Namun, secara perlahan pandangan tersebut lenyap dengan sendirinya, ketika bernagai peninggalan Bosscha sangat dirasakan manfaatnya, bahkan hingga kini.

Bahkan, keyakinan masyarakat pribumi semakin besar akan kebaikan K.A.R. Bosscha, ketika menjelang akhir hayatnya meminta jasadnya tidak dikirimkan ke negeri asalnya "Kincir Angin" Belanda. Dalam wasiatnya ia meminta untuk dimakamkan di petak hutan kecil tempatnya sering beristirahat di antara pohon saninten, rasamala, puspa, dan anggrit.

Sebagai penghormatan, melalui GB (Besluit van den Gouverneur-Generaal) tertanggal 7 Juli 1927 No. 27 Staatsblad 99, pemerintah menetapkan kawasan makam Bosscha sebagai kawasan cagar alam.

Bahkan, di dekat nisan Bosscha, bukan bendera merah putih biru yang tertancap, tetapi bendera merah putih kecil yang tertancap. Entah siapa yang memasangkannya.

Bagaimanapun, K.A.R. Bosscha telah mewariskan perkebunan teh berikut pabriknya, serta laboratorium ilmu pengetahuan yang masih layak dipakai oleh negeri ini. Ia merupakan representasi pemilik modal yang membuka usaha perkebunan di negeri jajahan sekaligus segelintir bangsa Belanda yang berhasil menjalankan politik balas budi dengan bangsa jajahannya, sebagaimana yang dipintakan Van de Venter kepada Ratu Belanda Wihelmina. (Retno H.Y./"PR"/dari berbagai sumber)***

Selasa, 01 Juli 2008

Lima Harimau Sumatera Dipindahkan dari Aceh ke Lampung

Laporan Wartawan Kompas, Helena Fransisca


SERAMBI/M ANSHAR
Tim Taman Safari Indonesia tengah melakukan pemeriksaan kesehatan seekor harimau sumatera yang sudah dikarantina selama 8 bulan di Kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Aceh, Banda Aceh, Kamis (26/6). Lima ekor harimau sumatera yang diduga pernah memangsa manusia di kawasan hutan Aceh itu selanjutnya akan di translokasikan ke kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan di Lampung.




BANDARLAMPUNG, JUMAT - Departemen Kehutanan melalui Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Departemen Kehutanan mentranslokasikan atau memindahkan lima ekor harimau sumatera atau Panthera tigris sumatrae dan satu ekor buaya asal Nanggroe Aceh Darussalam ke Lampung. Keenam satwa itu dipindah ke wilayah Tampang Belimbing tepatnya di Kampung Pengekahan Desa Way Haru Kecamatan Tampang Belimbing, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung Barat.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Departemen Kehutanan Tonny Soehartono pada acara pemindahan harimau dan buaya di area Kargo Bandar Udara Raden Intan, Branti, Lampung Selatan, Lampung, Jumat ( 27/6) mengatakan, kelima harimau tersebut merupakan hasil tangkapan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) enam bulan yang lalu.

Kelima harimau yang terdiri atas empat harimau jantan dan satu betina itu ditangkap akibat sering menimbulkan konflik dengan warga sekitar. Warga di sana sudah menolak harimau itu. KOnflik terjadi karena habitat si raja hutan di wilayah NAD sudah rusak dan tidak mampu menyediakan sumber makanan sehingga mereka turun ke permukiman, ujar Tonny.

Begitu ditangkap, kelima harimau itu dikurung dalam kandang ukuran 2x3 meter. Pengandangan selama enam bulan itu tidak memenuhi standar kebebasan dan keliaran harimau. Harimau itu juga menjadi tergantung kepada manusia, terutama dalam hal makanan.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) Kurnia Rauf pada kesempatan tersebut mengatakan, berdasarkan survei yang dilakukan menunjukkan hutan di wilayah Tampang Belimbing masih alami dan cocok sebagai habitat baru lima ekor harimau itu. Hal itu didukung dengan kondisi masih penuhnya Tampang Belimbing dengan kijang, rusa, ataupun babi hutan yang merupakan pakan raja hutan itu. Wilayah di ujung selatan TNBBS itu juga penuh dengan sumber air yang mendukung kehidupan liar harimau.

Pemindahan kelima ekor harimau dan satu ekor buaya itu memakan waktu hampir seharian . Dengan menggunakan pesawat sewaan jenis hercules, kelima harimau dan buaya itu menempuh waktu penerbangan selama 3,5 jam. Pesawat terbang dari NAD pukul 07.00 dan tiba di Bandar Udara Raden Intan Lampung pukul 10.30.

Selanjutnya, satwa-satwa itu langsung dipindahkan ke Tampang Belimbing dengan menggunakan pesawat hercules TNI yang berukuran lebih kecil. Satwa-satwa itu dipindahkan dalam tiga shift. Pemindahan itu disponsori Taman Safari Indonesia dan Artha Graha Peduli.

Dokter hewan Bongot, salah satu anggota tim dokter hewan yang memeriksa dan mengawal kesehatan kelima harimau itu mengatakan, saat masih dalam perawatan BKSDA NAD dan menjelang translokasi kelima harimua itu diberi inisial A1, A2, A3, A4, dan A5. Harimau A1 berbobot 105 kilogram berjenis kelamin jantan, A2 berbobot 62 kilogram dan berjenis kelamin jantan, A3 berbobot 106 kilogram berjenis kelamin jantan, A4 berbobot 105 kilogra m dan berjenis kelamin jantan, serta A5 berbobot 50 kilogram dan berjenis kelamin betina.

Kelima harimau itu berumur antara 49 tahun. Saat dipindahkan, kelimanya dalam kondisi sangat sehat.

Lebih lanjur Tonny mengatakan, begitu sampai di Tampang Belimbing, kelima ekor harimau itu tidak langsung dilepasliarkan di hutan tropis TNBBS. Kelima harimau itu akan ditempatkan dalam dua kandang luas untuk beradaptasi sambil diawasi oleh tim dokter ataupun pengelola TNBBS. Proses adaptasi bisa berlangsung beberapa bulan sampai kelimanya siap dilepasliarkan di hutan TNBBS.

Saat siap dilepasliarkan, sebelum dilepasliarkan pengelola TNBBS dan sponsor akan memasang GSM Collar ke setiap ekor harimau. Langkah itu ditempuh untuk memonitor keberadaan harimau-harimau tersebut.

Menurut Tonny, upaya tersebut seklaigus menjadi upaya pemantauan untuk pelestarian harimau sumatera. Selama puluhan tahun, harimau sumatera hidup dalam keterancaman kepunahan akibat aktivitas perburuan liar, perdagangan satwa, konflik satwa, ataupun mitos-mitos.

Menurut informasi Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), harimau sumatera sudah masuk dalam appendix I atau peringkat dengan kekritisan tinggi. Populasi satwa itu di hutan tropis Sumatera diperkirakan tinggal 350-400 ekor saja.

HLN

Perhatian Buat Update XP SP3


logo windows xp

JAKARTA, SELASA – Akhirnya muncul juga hotfix dari Microsoft untuk masalah raibnya koneksi nirkabel dan jaringan setelah PC di-update ke Win XP SP3. Masalah ini tadinya tidak digubris oleh Microsoft. 


Padahal sekitar tiga minggu lalu, Symantec sudah meluncurkan tool gratis untuk membersihkan PC-PC yang kacau akibat melakukan update ke Win XP SP3. Sebelumnya, para pengguna Symantec yang meng-update PC-nya ke XP SP3 memang melaporkan bahwa koneksi jaringan dan Windows Device Driver mereka lenyap.

“Masalah ini terjadi ketika proses Fixccs.exe dipanggil selama instalasi Windows XP SP3,” begitu penjelasan Microsoft. “Proses ini menciptakan beberapa subkey registry intermediate, dan kemudian menghapus subkey-subkey tersebut. Pada beberapa kasus, beberapa antivirus tidak memperbolehkan proses Fixccs.exe menghapus subkey-subkey registry intermediate tersebut.,” kata Microsoft 

Hotfix dari Microsoft (tersedia di situs Microsoft) akan mengganti file Fixccs.exe dengan versi yang lebih baru, tetapi ini hanya bisa dipakai jika pengguna mem-booting Windows ke Safe Mode. 


WIEK