Tampilkan postingan dengan label Konservasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konservasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Desember 2013

Pelepasan Penyu di Perairan Bojongsalawe, Pangandaran




VICTOR (35), wisatawan asal Kota Bandung yang juga pecinta Penyu, melepaskan penyu ke laut lepas di Perairan Bojongsalawe, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Senin (2/12/2013). Sebanyak tujuh penyu jenis tempayan dan sisik dilepaskan ke laut setelah beberapa waktu dirawat dan dipelihara di Konservasi Anak Penyu Tukik di kawasan wisata Batu Hiu yang ada di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran.*
 
 
PANGANDARAN, (PRLM).- Sebanyak tujuh penyu dirawat dan dipelihara di Konservasi Anak Penyu Tukik di kawasan wisata Batu Hiu yang ada di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, akhirnya dilepaskan ke perairan Bojongsalawe, Senin (2/12/2013).

Ketua dari tempat konservasi anak penyu tukik, Didin Syaefudin (57) mengatakan, penyu yang dilepas pada kesempatan itu adalah jenis sisik dan tempayan.

“Yang dilepas oleh kita saat ini adalah tujuh ekor. Terdiri dari dua ekor yang berusia 17 bulan, satu ekor 15 bulan, lalu satu ekor berusia dua tahun, dan tiga ekor yang berusia lima bulan,” ucapnya. (A-195/A_88)***

Jumat, 27 September 2013

"Burung Garuda" itu Berhasil Diselamatkan...

Jumat, 27 september 2013 00:43 WIB

id.wikipedia.org



ELANG Jawa (Spizaetus bartelsi) merupakan satwa langka yang dilindungi, karena populasinya di bawah bayang-bayang kepunahan. Satwa ini dianggap identik dengan lambang negara Republik Indonesia, yaitu Garuda dengan jambul pada bagian kepala. Sejak 1992, burung ini ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia.

Ironisnya, semakin langka elang Jawa bukannya membuat masyarakat semakin peduli untuk menyelamatkannya dari kepunahan. Sebaliknya masih ada segelintir warga yang malah berupaya memburunya untuk dijadikan hewan peliharaan.

Upaya penyelamatan satwa langka ini terus digelorakan para pencinta satwa liar bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA).

Berbagai razia terus dilakukan dengan sasaran tempat-tempat perdagangan satwa atau mendatangi langsung warga yang dicurigai memelihara satwa langka tanpa izin.

Seperti yang dilakukan BBKSDA Wilayah III (Kabupaten/Kota Bandung dan Sumedang), yang berhasil mengamankan satu ekor elang Jawa dari Ryza Kleib, warga Jln. Panday RT 02/RW 13 Kelurahan Regol Wetan, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Rabu (25/9). Selain itu, ikut diamankan harimau Sumatra (offset/diawetkan, red) milik Hj. Ucun Ruchyatin di Dusun Cidempet RT 05/RW 03 Desa Cibeureuyeuh, Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang.

"Informasi keberadaan dua jenis satwa yang dilindungi ini berasal dari masyarakat. Kemudian kita tindaklanjuti dengan menerjunkan petugas ke lokasi. Alhamdulillah pemiliknya bersedia menyerahkan elang Jawa dan harimau Sumatra yang sudah diawetkan. Petugas mengambil satwa dilindungi ini Rabu (25/9) sore," kata Kepala Seksi Konservasi pada BBKSDA Wilayah III, Siswoyo di kantor BBKSDA Wilayah III, Jalan Raya Soreang-Cipatik, Kamis (26/9).

Dikatakannya, elang Jawa yang disita ini dalam kondisi sehat dan usianya masih remaja. Menurut pengakuan pemiliknya, satwa langka ini didapat dari hasil tangkapan di makam Pasarean, Kabupaten Sumedang sekitar dua bulan lalu. Elang Jawa ini saat ditemukan dalam keadaan tersangkut di pohon.

"Diduga elang tersebut lepas dari pemiliknya bersama rantai pengikatnya yang kemudian terlilit di ranting pohon. Elang Jawa ini akan kita titiprawatkan ke Pusat Penyelamatan Satwa Cikanangan Sukabumi, sebelum akhirnya dilepasliarkan di Gunung Tampomas.

Sedangkan untuk offset harimau Sumatra diamankan di kantor bidang Soreang," ungkapnya.

Menurutnya, elang Jawa adalah salah satu spesies elang berukuran sedang endemik Pulau Jawa. Sebaran elang ini terbatas di Pulau Jawa, dari ujung barat (Taman Nasional Ujung Kulon) hingga ujung timur (Semenanjung Blambangan Purwo). Namun demikian, penyebarannya kini terbatas di wilayah-wilayah dengan hutan primer dan daerah perbukitan berhutan pada peralihan dataran rendah dengan pegunungan.

Sebagian besar ditemukan di separuh belahan selatan Pulau Jawa. Sepertinya burung ini hidup dengan spesialisasi wilayah berlereng. Diperkirakan populasi wlang Jawa kini tinggal 325 pasang.

Sementara pemilik harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) mengaku tidak mengetahui asal-usul harimau offset tersebut.

Menurut Hj. Ucun, harimau Sumatra tersebut pemberian dari Ateng Jumhana pada tahun 1998. "Kami masih menyelidiki apakah harimau Sumatra itu sengaja dibunuh lalu kemudian di-offset atau memang harimau mati yang kemudian dijadikan offsetan," tandasnya.

Harimau Sumatra merupakan satu dari enam subspesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini dan termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered).

Jumlah populasinya di alam bebas hanya sekitar 400 ekor. Sebagai predator utama dalam rantai makanan, harimau mempertahankan populasi mangsa liar yang ada di bawah pengendaliannya. Sehingga keseimbangan antara mangsa dan vegetasi yang mereka makan dapat terjaga.

"Harimau Sumatra menghadapi dua jenis ancaman untuk bertahan hidup, yaitu kehilangan habitat karena tingginya laju deforestasi dan terancam oleh perdagangan ilegal," ungkapnya.
 
(dicky mawardi/"GALAMEDIA")**

Jumat, 05 April 2013

Poecilotheria rajaei, Laba-laba Seukuran Wajah Manusia






COLOMBO, (PRLM).- Jika Anda takut laba-laba, sebaiknya tengok yang satu ini. Seekor spesies baru tarantula, sebesar wajah manusia, telah ditemukan di utara Sri Lanka.

Dengan rentang kaki delapan inci, pencarian terus dilakukan untuk menemukan lebih banyak Poecilotheria rajaei, setelah laba-laba ini dibawa kepada para ilmuwan dalam keadaan mati pada tahun 2009.

Para ilmuwan menyadari laba-laba ini tidak seperti tarantula yang dilihat sebelumnya, dan diperlukan untuk menemukan spesimen hidupnya sehingga dapat mempelajari spesies ini lebih lanjut.

Dan setelah berhari-hari mencari di antara pohon-pohon dan hutan, para peneliti dari organisasi Pendidikan dan Penelitian Keanekaragaman Sri Lanka menemukan betinanya dan anak-anaknya, ditemukan hidup di sekitar rumah sakit di Mankulam.

Tarantula ini memiliki tanda khas termasuk warna kuning pada kaki mereka dan pita merah muda di sekitar perutnya. "Mereka cukup langka," ujar Ranil Nanayakkara dari organisasi itu kepada wired.co.uk.

"Mereka lebih mapan pohon-pohon tua, namun karena deforestasi jumlahnya telah berkurang dan karena kurangnya habitat yang sesuai mereka memasuki gedung-gedung tua," ujarnya. (Aya/A-147)***

Sabtu, 30 Maret 2013

Tim Survei Temukan Badak Sumatera di Hutan Kaltim

Mendekati Kepunahan

 




JAKARTA, (PRLM).- Tim survei kelompok advokasi binatang World Wide Fund (WWF) menemukan jejak badak sumatera yang semula dianggap mendekati kepunahan di hutan Kutai Barat, Kalimantan Timur (Kaltim).

Survei ini, mulanya dilakukan untuk memantau pergerakan orang utan setempat, kemudian melakukan survei pendalaman untuk memastikan apakah jejak tersebut benar milik kawanan hewan itu di wilayah hutan seluas sekitar 3600 hektare.

"Kami mendapatkan tanda-tanda yang meguatkan, misalnya kubangan airnya, kemudian bekas gesekan atau goresan cula di pepohonan sekitar, bekas injakan kaki di semak dan lain-lain," kata Yuyun Kurniawan dari WWF yang memimpin tim survei kepada Dewi Safitri dari BBC.

Ini bukan temuan pertama tentang keberadaan badak dari spesies sumatera di hutan Kalimantan, tetapi akan merupakan catatan ilmiah awal yang membuktikan populasi badak masih ada di Kalimantan. "Warga setempat bercerita pernah ada yang melihat badak sumatera ini di sekitar hutan sana, juga cerita dari bapak-ibunya zaman dulu," tambah Yuyun.

Seperti juga saudaranya di hutan Sumatera, badak di Kalimantan diduga berambut lebih banyak dibanding badak jenis lain di dunia dan bercula dua, untuk membedakan dengan cula satu yang dimiliki badak Jawa.

Meski demikian, menurut Yuyun, tidak ada catatan pasti tentang morfologi badak sumatera di Kalimantan wilayah Indonesia yang dapat dijelaskan dengan detil saat ini. "Karena kita belum lihat fisiknya betul-betul, kita belum bisa teliti sendiri secara langsung," katanya.

Di Sumatera sekalipun, badak sumatera (dicerorhinus sumatrensis) kini dimasukkan dalam kategori sangat terancam punah. Menurut WWF populasinya di sleuruh dunia (termasuk di Malaysia) tinggal sekitar 200 ekor.

Penemuan jejak badak sumatera di Kalimantan menurut Yuyun membuka peluang diperbaikinya sistem konservasi agar populasi tidak semakin menurun. "Semula kita tidak tahu ada populasinya sekarang kita tahu. Nah ini harus dipakai oleh otoritas berwenang seperti PHKA (Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam) agar mengambil tindakan untuk menjaga ekosistemnya dan melestarikannya," papar Yuyun.

Wilayah Kalimantan Timur yang terus kehilangan habitat hutan karena penebangan, perkebunan dan pertambangan juga dianggap akan sangat membahayakan populasi hewan yang suka berdiam di dataran rendah berawa ini. "Akan sangat disayangkan kalau kita sudah tahu sekarang ada jejak populasinya tetapi karena tidak dilakukan tindakan apa-apa (untuk menjaga kelestariannya) malah badaknya punah akibat eksploitasi hutan," ujarnya.

Selain tindakan penghancuran ekosistem, WWF juga mengkhawatirkan informasi terbaru tentang keberadaan badak sumatera ini akan mengundang pemburu.

Meski tak ada catatan resmi, kisah yang bergulir di lingkungan warga setempat pada zaman dahulu disebut-sebut juga mengungkap keterlibatan pemburu badak. Itu sebabnya Yuyun dan kawan-kawan menolak menyebut lokasi persis penemuan jejak badak sumatera ini untuk menjaga hal tak diinginkan.(bbc/A-147)***

Rabu, 27 Maret 2013

WWF Temukan Rafflesia Merah Putih di Riau

Selasa, 26 Maret 2013 | 18:45 WIB

 
WWF Indonesia

 Raflesia Merah Putih (Rafflesia hasseltii


PEKANBARU, KOMPAS.com — Organisasi konservasi WWF Indonesia bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam menemukan bunga Rafflesia dalam keadaan mekar sempurna di Kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling, Kabupaten Kampar, Riau.

"Penemuan ini merupakan pencatatan baru (new record) di Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling," kata Humas WWF, Syamsidar, Selasa (26/3/2013).

Tim WWF dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) menemukan lima bunga Rafflesia pada satu titik kawasan. Salah satu bunga dalam kondisi mekar sempurna berukuran diameter sekitar 50 sentimeter. Bunga ini sangat jarang ditemukan dalam kondisi mekar sempurna.

Bunga Rafflesia ini diketahui sebagai jenis Rafflesia Merah Putih (Rafflesia hasseltii) atau dikenal dengan nama lokal Cendawan Muka Rimau.

Pada saat mekar, diameter bunga bisa mencapai 30-50 cm, cuping (perigone) 11-13 cm, dan lebar 15-17 cm.

Warna bunga ini merah kecoklatan dengan lempeng warna putih yang relatif besar dan tidak beraturan. Karena warna inilah, bunga ini mendapatkan julukan "Rafflesia Merah Putih". Rafflesia ini merupakan tumbuhan parasit dengan inang Tetrastigma leucostaphyllum.

Wilayah penyebarannya meliputi Selat Peninsula Malaysia, Sarawak, dan Sumatera. Di Sumatera, wilayah penyebarannya sangat terbatas, meliputi Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Sanglap, Riau, Jambi, dan Taman Nasional Kerinci Seblat.

Syamsidar mengatakan, tim juga berhasil mengabadikan Rafflesia tersebut lewat lensa kamera yang ditemukan pada tanggal 20 Februari 2013.

"Penemuan Rafflesia ini merupakan yang pertama kali untuk wilayah Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling, Riau," kata Syamsidar.
    
Para ahli harimau mengklasifikasi hutan SM Bukit Rimbang Baling sebagai kawasan prioritas jangka panjang konservasi harimau sumatera.

Pada tahun 2012, demikian rilis WWF, di lokasi yang sama, perangkap kamera yang dipasang oleh tim monitoring WWF Indonesia juga berhasil merekam lima dari tujuh spesies kucing hutan yang ada di Indonesia.

Namun, sayangnya, kata Syamsidar, kawasan tersebut terancam oleh aktivitas perambahan dan pembalakan liar.

Penemuan ini, menurut dia, membuktikan bahwa kondisi keanekaragaman hayati di SM Bukit Rimbang Baling masih dalam kondisi baik, tetapi di beberapa lokasi masih diperlukan improvisasi manajemen kawasan yang lebih baik.

WWF juga menjelaskan bahwa Rafflesia Merah Putih merupakan salah satu spesies bunga yang dilindungi secara hukum berdasarkan Peraturan Presiden No 7 Tahun 1999 dan berstatus genting dalam "Daftar Merah".

Sumber :ANT
Editor :yunan

Minggu, 10 Maret 2013

Massa Backsilmove Gelar Aksi Teatrikal



ARMIN ABDUL JABBAR/"PRLM"
MASSA yang tergabung dalam Backsilmove melakukan aksi teatrikal di depan Gedung Sate, Jln. Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu (9/3). Aksi tersebut sebagai bentuk penolakan pembangunan sarana komersial di kawasan Babakan Siliwangi.

Rabu, 05 Desember 2012

Dua elang ular dilepasliarkan di TN Halimun

Rabu, 5 Desember 2012 13:24 WIB | 
 
Seekor Elang Ular Bido (Spilornis Cheela) (FOTO ANTARA/Jafkhairi)

Jakarta (ANTARA News) - Perkumpulan Suaka Elang dan Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) melepaskan dua ekor elang ular bido (Spilornis cheela) di Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi.

"Kita berharap pelepasliaran dua ekor elang ular ini dapat meningkatkan nilai konservasi kawasan hutan koridor," kata Kepala Balai TNGHS, Agus Priambudi melalui keterangannya yang diterima di Jakarta, Rabu.

Desa Cipeuteuy berbatasan langsung dengan kawasan TNGHS, merupakan salah satu taman nasional di Jawa dengan luas kawasan 113.357 hektar yang berada di Kabupaten Bogor dan Sukabumi Provinsi Jawa Barat, serta Kabupaten Lebak Provinsi Banten.

Kawasan tersebut merupakan lokasi terbaik dari lima lokasi lain yang telah disurvey oleh tim dari Suaka Elang dan TNGHS, atas dasar ketersediaan pakan dan kesesuaian kawasan itu sebagai habitat elang ular.

Pelepasan elang Ular itu turut di dukung oleh CSR PT Indonesia Power yang berkomitmen membantu pelestarian jenis elang dan keanekaragaman hayati di TNGHS.

Agus mengatakan, hutan yang masih utuh di kawasan tersebut sangat penting untuk menjamin komunikasi dan pergerakan satwa-satwa di kawasan hutan Gunung Halimun dan Gunung Salak. Kehadiran dua elang ular tersebut akan memperkuat mata rantai makanan di antara populasi-populasi satwa yang ada dalam ekosistem hutan TNGHS secara umum.

Hutan di koridor bukan hanya menjadi jembatan hidup untuk kehidupan jenis-jenis hayati, tetapi secara tidak langsung juga menghidupi masyarakat di sekitarnya.

Hilangnya hutan ini akan mengakibatkan bencana alam, seperti minimnya debit air sungai di DAS Citarik akibat matinya mata air, serta bencana erosi, longsor dan kekeringan pada lingkungan pemukiman sekitar TNGHS.

Karena itu, pemantauan kehidupan satwa elang dan satwa-satwa prioritas lainnya menjadi perhatian utama, bersamaan dengan pengamanan hutan dan keberhasilan upaya restorasi koridor hutan dimaksud.

Elang ular, merupakan jenis burung pemangsa dan satwa yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Namun perburuan dan perdagangannya masih marak dijumpai di pasar-pasar burung.

Zulham dari Suaka Elang mengatakan bahwa kedua individu elang ular tersebut dijual di pasar sebelum disita oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat. Kemudian keduanya dititipkan ke Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga dan selanjutnya menjalani proses rehabilitasi di Suaka Elang selama kurang lebih satu tahun.
(D016)

Editor: Ella Syafputri
COPYRIGHT © 2012

Kamis, 13 September 2012

Badak Jawa Termasuk Paling Terancam Punah

Daftar 100 Flora dan Fauna Punah

 



SEOUL, (PRLM).- Pakar konservasi internasional mengeluarkan daftar baru 100 flora dan fauna yang paling terancam punah, termasuk badak Jawa dan bunglon Tarzan dari Madagaskar.

Daftar yang dikeluarkan Masyarakat Zoologi London (ZSL) dan Badan Konservasi Alam Internasional (IUCN) dikeluarkan dalam Kongres Konservasi Dunia di Pulau Jeju, Korea Selatan.

"Lebih dari setengah (dari 100 binatang yang paling dilindungi) mendapat sedikit atau tidak ada perhatian sama sekali," kata Profesor Jonathan Baillie, Direktur ZSL kepada kantor berita Reuters.

IUCN mengatakan dalam laporan berjudul "Priceless or Worthless?" (Berharga atau tidak berharga?) diharapkan dapat mengangkat pentingnya sejumlah flora dan fauna yang tidak diperhatikan.

Binatang seperti singa ataupun panda mendapatkan perhatian jauh lebih besar dibandingkan kadal, kata laporan itu.

Hilangnya habitat akibat meningkatnya jumlah penduduk dan faktor lain seperti rusaknya hutan, polusi, dan perubahan iklim semakin mengancam punahnya binatang dan tanaman.

Sejumlah binatang dan tanaman yang dianggap tidak mendapatkan perhatian termasuk anggrek hantu Kepulauan Cayman, pohon palem Madagaskar, monyet pigmi dari Panama, dan kadal Luristan yang hanya ditemukan di pegunungan Zagros di Iran, kata Baillie.

Ia mengatakan prioritas konservasi harus ditinjau ulang. "Kita perlu mencegah punahnya (flora dan fauna ini), dan mendanai negara-negara dalam jumlah miliaran dan bukan jutaan," kata IUCN dalam laporan itu tanpa menyebut bentuk mata uang.

Sejumlah langkah termasuk perluasan kawasan lindung atau larangan perburuan diperlukan, tambah laporan itu.

Laporan itu juga menyebutkan upaya konservasi sebelumnya membantu dalam mencegah kepunahan.
Larangan perburuan berhasil memulihkan populasi ikan paus humpback, yang kini diperkirakan berjumlah 60.000 ekor.

Perbiakan kuda Przewalksi yang sebelumnya nyaris punah kini berjumlah lebih dari 300 ekor dan hidup di hutan-hutan dari Ukraina sampai China. (bbc/A-88)***

Rabu, 09 Mei 2012

Hiu Raja Ampat Diburu di "Sarangnya"

Yunanto Wiji Utomo | Tri Wahono | Selasa, 8 Mei 2012 | 19:57 WIB
 
 
shutterstock 
Menurut laporan koran nasional India, The Hindu, spesies ini merupakan salah satu dari 19 spesies hiu bergetah yang terdapat di dunia.  
 
 
JAKARTA, KOMPAS.com - Perburuan hiu juga berlangsung di Raja Ampat yang kini menjadi favorit penyelam dunia. Perburuan ini tak hanya mengancam ekosistem, tetapi juga industri pariwisata Raja Ampat.
"Perburuan hiu berlangsung di Perairan Kawe. Wilayah ini sebenarnya menjadi kawasan peremajaan hiu," ungkap Ketut Sarjana Putra, Direktur Conservation International (CI) Indonesia.

Ketut mengatakan bahwa perburuan di lokasi peremajaan lebih mengancam populasi hiu di Raja Ampat. Jumlah ikan hiu akan berkurang dengan cepat jika perburuan terus dilakukan.

"Karena di wilayah inilah hiu tumbuh. Wilayah ini yang nanti akan menyuplai hiu untuk daerah-daerah lain. Ibaratnya, ini dapurnya," ungkap Ketut saat dihubungi Kompas.com, Selasa (8/5/2012).

Nelayan berburu hiu untuk mendapatkan siripnya. Mereka menganggap sirip hiu mampu memberikan nilai ekonomis sangat besar. Nyatanya, nilai ekonominya kalah besar bila dibandingkan dengan nilai ekonomi saat hiu hidup.

Diperkirakan, satu ekor hiu hidup memiliki nilai ekonomi Rp 1,6 miliar dan nilai seumur hidup Rp 17,5 miliar untuk pariwisata. Hiu menjadi daya tarik Raja Ampat selain terumbu karang.

Ketut mengungkapkan, sebelumnya perburuan hiu di Raja Ampat pernah terjadi secara massif. Populasi hiu turun drastis. Kini, populasi hiu mulai pulih sehingga harus dijaga.

Ketut menuturkan bahwa pemerintah perlu mendukung pelestarian hiu di Raja Ampat dengan meningkatkan personel untuk patroli laut dan mendukung langkah pengawasan yang sudah dilakukan masyarakat lokal.
 

Senin, 14 November 2011

Badak Hitam Afrika Punah, Lainnya Terancam

Yunanto Wiji Utomo | Tri Wahono | Minggu, 13 November 2011 | 16:24 WIB







WWF/TNUK
Induk badak dan anakan jantan yang terekam kamera video jebak yang dipasang di Taman Nasional Ujung Kulon.


KOMPAS.com — Kajian terbaru International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyatakan bahwa semua subspesies badak menghadapi ancaman kepunahan bila tidak ada langkah konservasi serius.

Ancaman ini nyata sebab seperti diberitakan sebelumnya, badak jawa yang ada di Vietnam telah punah. Badak hitam afrika juga baru dinyatakan punah oleh IUCN, Kamis (10/11/2011).

Sejauh ini, subspesies badak yang tersisa adalah badak jawa di Indonesia dan badak putih utara di wilayah tengah Afrika. Keduanya pun menghadapi ancaman serius.

"Minimnya dukungan politik untuk usaha konservasi di banyak habitat badak, grup kriminal internasional yang terorganisasi pemburu badak, dan peningkatan permintaan cula badak, serta perburuan adalah ancaman utama bagi badak," demikian dinyatakan IUCN.

IUCN menyatakan, konservasi menjadi kunci penyelamatan spesies. Sejarah telah membuktikan bahwa jika konservasi dilakukan, spesies yang terancam punah bisa kembali berjaya.

Salah satu contoh adalah badak putih selatan yang pada abad ke-19 tinggal 100 ekor. Langkah konservasi yang serius dan tepat berhasil meningkatkan populasi badak ini hingga 20.000 ekor saat ini. Selain itu, kuda przewalski, sejenis kuda dari Asia Tengah yang dulu terancam punah, juga berhasil dikembangbiakkan di penangkaran.

Daftar Merah IUCN kini berisi 62.000 spesies tumbuhan dan hewan yang membutuhkan perhatian pemerintah dan masyarakat sehingga bisa tetap survive.
Sumber : AP

Kamis, 25 November 2010

Kenangan Jumpa Pers dengan Ali Sadikin

Sukses Menghijaukan Kota Jakarta

 
KETEGASAN dan keberanian Ali Sadikin ("Bang Ali") yang diusulkan sebagai Pahlawan Nasional, saya melihat dan mendengar sendiri. Ketika Ali Sadikin menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta (1966-1977) mengundang para pemimpin redaksi dari berbagai penerbitan surat kabar dan majalah di Indonesia (jumpa pers). Pertemuan (jumpa pers) itu berlangsung di gedung "Bina Graha" (Kantor Presiden Republik Indonesia) di Jakarta. Oleh karena itu yang hadir, selain para pemimpin redaksi, beberapa menteri pun, khususnya Menteri Penerangan Budiardjo, hadir dalam acara tersebut.

Topik pembicaraan dalam acara jumpa pers tersebut, yang dikemukakan oleh Ali Sadikin yaitu tentang berbagai pembangunan di Jakarta. Baik pembangunan yang sudah dilaksanakan, sedang dilakukan, maupun yang direncanakan, seperti perbaikan, pelebaran jalan raya, terminal angkutan umum, mendatangkan bus-bus angkutan umum serta kelengkapannya; Taman Ismail Marzuki, Kebun Binatang Ragunan, Projek Senen, Taman Impian Jaya Ancol, Taman Ria Monumen Nasional (Monas), Taman Ria Remaja, penghijauan di DKI Jaya, undian berhadiah ratusan juta rupiah (nalo, loto); tempat khusus perjudian (rolet) dan pertunjukan hiburan dewasa dan lain-lain.

Di antara ucapan Ali Sadikin yang saya dengar dan masih ingat yaitu sebagai berikut, "Mumpung dalam pertemuan ini hadir Menteri Penerangan, saya berharap agar bapak-bapak menteri, sebaiknya jangan membicarakan soal DKI Jaya, tetapi bapak-bapak menteri masalah pembangunan nasional. Masalah pembangunan DKI Jaya, biarlah saya yang berbicara. Sebab saya sebagai Gubernur DKI Jaya." 

Dikemukakan juga oleh Ali Sadikin, tentang diadakannya tempat khusus perjudian (rolet), tarian bugil, undian berhadiah nalo dan loto di Kota Jakarta, khusus untuk turis dari luar negeri yang datang ke Jakarta sebagai Ibu Kota RI dan masyarakat yang bukan beragama Islam. "Masyarakat yang beragama Islam main judi, dosa hukumnya," ujar Ali Sadikin.

"Tapi orang Jakarta dan warga negara Indonesia umumnya, yang bukan beragama Islam, sebaiknya jangan "menghamburkan" uang pergi ke luar negeri, hanya untuk main judi atau nonton tarian bugil," kata Ali Sadikin. 

Ali Sadikin juga menegaskan, undian berhadiah, tempat khusus perjudian dan tarian bugil, di kota-kota besar di seluruh Indonesia selain di Kota Jakarta, jangan diadakan.

"Orang Indonesia yang bukan beragama Islam, ingin main judi dan nonton tarian bugil ... datanglah ke Jakarta, jangan ke luar negeri ..." ucap Ali Sadikin saat itu.

Berbicara masalah dosa, Ali Sadikin menyatakan dengan tegas pula. "Saya sebagai Gubernur DKI Jaya yang merupakan Ibu Kota Republik Indonesia, merasakan sangat berdosa sekali, karena sekitar ribuan anak-anak di daerah DKI Jaya, setiap tahun tidak bisa sekolah atau melanjutkan sekolah, karena terbentur masalah biaya pendidikan atau anggaran pembangunan sarana pendidikan," ucap Ali Sadikin.

Berbicara masalah pembangunan, menurut Ali Sadikin, tentu berkaitan erat dengan pembiayaan (anggaran pembangunan daerah-APBD. Oleh karena itu Pemda DKI Jaya, berusaha keras mencari pemasukan keuangan ke kas pemda, dengan memberikan perizinan berbagai kegiatan yang bisa menyerap pemasukan uang. Akan tetapi tidak melanggar peraturan (hukum).

"Hati saya pun terenyuh, bila melihat banyak warga DKI Jaya yang kepanasan, karena kurangnya pepohonan di Jakarta, sehingga udara di Jakarta cukup panas. Oleh karena itu, daerah DKI Jaya pun akan dihijaukan, dengan ditanami berbagai jenis pepohonan. Baik di halaman rumah penduduk, maupun di pinggir-pinggir jalan raya. Saya akan perintahkan, seluruh warga DKI Jaya untuk bertanam pohon," ucap Ali Sadikin menegaskan.

Selesai acara jumpa pers, penulis (salah seorang utusan yang mewakili pemimpin umum/pemimpin redaksi dari Bandung), berbisik kepada Ali Sadikin, "Bang Ali ... kata bapak, tiap tahun ribuan anak sekolah tidak bisa sekolah atau melanjutkan sekolah karena terbentur masalah biaya. Sekarang bapak akan memerintahkan seluruh warga DKI Jaya untuk bertanam pohon. Mungkin banyak warga DKI Jaya yang tidak akan mematuhi perintah bapak. Sebab jangankan mengeluarkan biaya untuk menanam pepohonan, untuk biaya menyekolahkan anak pun kekurangan biaya. Menurut saran saya, lebih baik karyawan Pemda DKI Jaya, yang harus lebih dulu bertanam pepohonan di halaman rumahnya. Bibit pepohonan untuk para karyawan, kan bisa gratis, diperoleh dari Dinas Pertamanan DKI Jaya. Karyawan DKI Jaya, pasti akan menurut perintah bapak, sebab bagi PNS (pegawai) kan ada peraturan ’DP-3’ (pengawasan, penilaian, pegawai). Bila rumah-rumah karyawan DKI Jaya, sudah ’hijau’, rumah-rumah tetangganya (rakyat biasa) bisa ikut bertanam pepohonan, karena bibit pepohonan bisa diperoleh dengan gratis dari para karyawan DKI Jaya."

Tampaknya saran tersebut diterima oleh Bang Ali. Buktinya dalam waktu relatif singkat DKI Jaya "hijau". Tidak saja di halaman rumah-rumah penduduk yang ditanami berbagai jenis pepohonan. Di jalan-jalan raya pun di Kota Jakarta rimbun oleh pohon. 

Malahan di jalan raya Kota Jakarta ada pohon nangka yang berbuah. Saya sebagai warga Kota Bandung, tidak melihat ada pohon buah-buahan di jalan raya Kota Bandung yang berbuah.

Mengenai pembangunan "Taman Impian Jaya Ancol", menurut Ali Sadikin, waktu pembangunan tersebut direncanakan, ada yang bilang Ali Sadikin "jangan mimpi". Masa rawa bisa dijadikan taman. Oleh karena itu, setelah selesai dan bisa dinikmati berbagai turis, tanah yang sebagian berlumpur seperti "rawa" tersebut diberi nama "Taman Impian" Jaya Ancol. (Didin D. Basoeni, wartawan senior)***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=165439

 

Kuningan Jadi Pilot Project Konservasi Tingkat Nasional





TOTO SANTOSA/"PRLM"
SEBANYAK 33 anggota Komite II DPD-RI dari 33 provinsi se Indonesia, melakukan penanaman pohon yang bibitnya dibawa dari daerah asalnya masing-masing untuk ditanam di Kebun Raya Kuningan, Desa Padabeunghar, Kec.Pasawahan, Kab.Kuningan, sebagai dukungan nyata perwujudan Kuningan sebagai kabupaten konservasi, Rabu (24/11).* 
 
 
KUNINGAN, (PRLM).- Kabupaten Kuningan yang menempatkan diri sebagai kabupaten konservasi, bakal diusulkan menjadi pilot project kabupaten konservasi tingkat nasional, sehingga ke depannya pemerintahan kabupaten yang ada di 33 provinsi, bisa mencontoh kepada Kab.Kuningan yang secara konsisten menjadikan daerahnya sebagai konservasi.

Demikian disampaikan Ketua Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Ir.H. Bambang Susilo, dalam acara Pencanangan Kabupaten Konservasi dan Penanaman Satu Milyar Pohon di Kebun Raya Kuningan (KRK) Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Rabu (24/11).

Keseriusan Komite II untuk menjadikan Kuningan sebagai pilot project kabupaten konservasi, dibuktikannya dengan melakukan kunjungan kerja yang diikuti sebanyak 33 anggota DPD RI sekaligus melakukan penandatanganan Deklarasi Green Spirit, di lokasi Kebun Raya Padabeunghar yang memiliki luas 171 ha itu. Kunjungan kerja mereka ke Kab.Kuningan, juga sekaligus sebagai balasan dari kunjungan Bupati Kuningan ke DPD-RI di Jakarta beberapa waktu lalu.

Menurut Bambang Susilo, Komite II DPD RI membidangi sumberdaya alam dan perekonomian serta di dalamnya menyangkut lingkungan, jadi sangat tepat kehadiran anggota Komite II di Kebun Raya Kuningan untuk memberikan dukungan dan terus mengupayakan kepada pemerintah pusat agar memberikan perhatian serius, karena Kuningan diusulkan untuk menjadi pilot project kabupaten konservasi tingkat nasional. Artinya, seluruh kabupaten yang ada di Indonesia nantinya, perlu mengambil contoh kepada Kuningan.

Anggota DPD RI asal Jawa Barat, Prof. Dr.H. Muhammad Surya, di sela-sela penanaman ribuan pohon menyebutkan kepada “PRLM”, kebun raya Kuningan akan memiliki daya tarik tersendiri karena di dalamnya selain memiliki puluhan tanaman langka, juga ditanam pula 33 jenis pohon dari 33 provinsi se Indonesia, ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain. “Ini semua patut diapresiasi, itu sebabnya renspon dari anggota DPD memberikan perhatian serius kepada Kuningan,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Kuningan Aang Hamid Suganda mengakui masih banyak kekurangan yang harus segera dibenahi terkait KRK hingga sempurna. Selain sebagai tempat konservasi flora dan fauna, KRK juga rencananya akan dilengkapi laboratorium penelitian. “Untuk membangun KRK yang ideal, setidaknya dibutuhkan anggaran sebesar Rp 300 miliar yang diharapkan bisa dibantu dari provinsi maupun APBN,” ungkap Aang. (A-164/das)***
 
http://www.pikiran-rakyat.com/node/128078

Kamis, 02 September 2010

Ditemukan Lagi Sarkofagus

Kamis, 2 September 2010 | 05:23 WIB

http://rumametmet.com
Sarkofagus/Ilustrasi

GIANYAR, KOMPAS.com--Badan Arkeologi Denpasar kembali menemukan satu peti kubur dari batu atau sarkofagus di kebun pandan milik warga di Banjar Kembengan, Desa Tulikup, Kabupaten Gianyar, Bali.

Temuan benda purbakala itu berjarak tiga kilometer ke arah timur dari lokasi dua sarkofagus yang sebelumnya ditemukan di Subak Saba, Desa Keramas, Kabupaten Gianyar.

"Tadi kami sudah cek ke lapangan. Sarkofagus itu diperkirakan telah berusia sekitar 2.500 tahun, atau telah ada sejak 500 tahun sebelum masehi sampai awal abad pertama masehi," kata Ayu Kusumawati, peneliti sarkofagus dari Badan Arkeologi Denpasar, kepada ANTARA, Rabu siang.

Ia mengatakan, sarkofagus berpanjang tujuh cm dan lebar 4,8 cm itu belum dibuka karena masih menempel erat di tebing galian.

"Bagi benda itu kini baru terlihat bagian kedoknya saja, sedangkan bagian badannya masih menempel di tanah," ucapnya.

Untuk mengamankan lokasi, kata Kusumawati, aparat dari Mapolsek Kota Gianyar sudah memasang garis polisi (police line).

"Garis polisi itu sudah dipasang melingkar di lokasi kalian sejak Selasa malam (31/8) ," katanya.

Ia mengaku belum meneliti lebih lanjut soal temuan itu karena masih meneliti sarkofagus yang lebih dulu ditemukan di Subak Saba, Desa Keramas.

"Kami masih tuntaskan penelitian yang di Subak Saba dulu. Usai itu, kami baru lanjutkan penelitian yang di Banjar Kembengan, Tulikup," ujarnya.

I Gusti Nyoman Dirga, pemilik lahan yang menjadi "rumah" sarkofagus di Banjar Kembengan itu, mengatakan, peti batu tersebut pertama kali ditemukan pada Senin lalu (30/8).

Dia mengatakan, kala itu dia sedang menggali tanah untuk membuat batu bata. "Ketika saya sedang asik mencangkul, tiba-tiba cangkul saya seolah-olah terkena benda keras. Ketika saya cek, ternyata sarkofagus," ujarnya.

Ia menyebutkan, penemuan sarkofagus di lahan kebun pandan miliknya merupakan penemuan untuk yang kedua kalinya. "Sebelumnya pada 1998, juga ditemukan satu sarkofagus. Temuan pada tahun itu berjarak satu meter dari penemuan sarkofagus sekarang," ujarnya.

Ia mengatakan, pada penemuan peti batu 12 tahun yang lalu itu, dalam sarkofagus ditemukan serpihan kerangka tulang-belulang manusia.

Penulis: Jodhi Yudono | Editor: Jodhi Yudono | Sumber : ANT

Selasa, 31 Agustus 2010

Kepingan Fosil Kembali Ditemukan di Gua Pawon

Antara - Selasa, 31 Agustus

Ngamprah (ANTARA) - Balai Arkeologi Bandung kembali menemukan sejumlah kepingan fosil sisa makanan pada zaman prasejarah dalam kotak ekskavasi baru di Situs Gua Pawon, Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Peneliti dari Balai Arkeologi Bandung, Lutfi Yondri mengatakan ekskavasi atau penggalian untuk tujuan penelitian di Situs Gua Pawon akan berlangsung dua pekan, atau berakhir hingga 4 September 2010.

"Penelitian kali ini dilakukan dengan membuat kotak ekskavasi baru. Berbeda dengan kotak yang digunakan pada ekskavasi sebelumnya. Semoga saja temuan ini benar-benar fosil," kata Lutfi Yondri.

Sebelumnya, pada awal Juli, arkeolog dikejutkan dengan temuan juru kunci Gua Pawon, Ecep Suhaya (54). Ecep menemukan ratusan keping tulang serta dua gigi yang diduga fosil manusia purba di lokasi situs.

Jika benar, kata dia, merupakan rangka manusia prasejarah. Dan, temuan tersebut menjadi rangka manusia prasejarah ketujuh yang ditemukan di kawasan Gua Pawon. Namun, temuan itu masih dalam tahap kajian.

Sebelumnya diwartakan, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia mengusulkan agar Gua Pawon dan Karst Citatah dijadikan cagar alam warisan dunia ke UNESCO.

Sekretaris Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudyaan dan Pariwisata, Soeroso M.P. mengungkapkan usulan tersebut sudah dilakukan pasca-ekspos penemuan fosil manusia purba di kawasan Karst Citatah KBB, yang kemudian disebut "manusia Pawon".

Adanya usulan tersebut merupakan bukti perhatian pemerintah pusat terhadap penemuan benda bersejarah atau cagar budaya.

Menurut Soeroso, Indonesia akan bersaing dengan sekitar 200 negara mengusulkan hal yang sama. Namun, yang akan diakui untuk setiap negara hanya satu di bidang budaya dan satu bidang alam.

Seoroso berharap Gua Pawon bisa segera ditetapkan menjadi salah satu cagar alam warisan budaya dari Indonesia. Hal itu agar pelestariannya tidak hanya menjadi tanggung jawab Indonesia, namun menjadi tanggung jawab dunia.

Disebutkan, jika usulan itu diterima, maka kepedulian terhadap Gua Pawon bukan hanya tanggung jawab Indonesia, tetapi juga dunia.

"Memang tidak mudah untuk masuk dalam kategori UNESCO. Tapi, kita harapkan supaya Gua Pawon bisa masuk ke dalam situs yang diakui dunia," ujarnya.

Dijelaskan Soeroso, ditawarkannya Gua Pawon menjadi cagar alam dunia karena Karst Citatah sebagai tempat ditemukannya "manusia Pawon" (fosil) yang menjadi ciri karst dari Indonesia.

Selain itu, kata dia, "manusia Pawon" yang ditemukan merupakan penemuan yang sangat langka. "Kami mengusulkannya karena Gua Pawon memiliki dua kelebihan, selain karena karst, juga ada penghuninya (manusia Pawon)," pungkasnya.

Senin, 30 Agustus 2010

Ada Pintu Neraka di Uzbekistan

IST
Lubang api raksasa di Usbekistan yang biasa disebut "pintu neraka" sudah ada sejak 1975


Sabtu, 28 Agustus 2010 | 05:51 WIB

DAVAZ, KOMPAS.com — Pintu neraka sering dilukiskan dengan suasana api menyala yang sangat mengerikan panasnya. Kondisi seperti itulah yang terdapat di sebuah lubang api menganga di daratan Uzbekistan, Asia Tengah. Maka, lubang api itu pun disebut sebagai "pintu neraka".

Lubang api itu berukuran sekitar dua kali lapangan bola dengan kedalaman lebih dari 30 meter. Semula ukurannya tidak sebesar itu sejak pertama kali "pintu neraka" itu dijumpai manusia pada tahun 1975.

Awalnya ahli geologi menggali dengan alat berat untuk pengeboran gas alam. Anehnya, di lokasi itu ditemukan jurang besar di bawah tanah. Saking besarnya, semua peralatan untuk penggalian itu terperosok ke dalam.

Jurang itu dipenuhi dengan gas bumi yang beracun. Belum ada keterangan resmi Uni Soviet kala itu terkait berapa jumlah korban tewas akibat terkena gas beracun. Namun, para ahli segera menyingkir dan semua peralatan yang terperosok itu ditinggal pergi.

Untuk menghindari gas beracun yang telanjur terbuka ke langit bumi itu menyebar, para ahli memutuskan untuk membakarnya. Posisinya berada di dekat kota kecil bernama Davaz.

Praktis sejak 1975 lubang raksasa itu menyemburkan api seperti gunung berapi dan masih tetap menyala hingga kini walau sudah 35 tahun berlalu. Masyarakat sekitar tak ada yang berani mendekat karena pengaruh medan panas hingga beberapa ratus meter sehingga dinamakan "pintu neraka".

Sampai sekarang belum ada penjelasan apakah "pintu neraka" itu ukurannya melebar atau stabil karena gas yang keluar dari perut bumi itu langsung terbakar. Walau terkena hujan pun, apinya tidak mati.

Lubang api raksasa itu kelihatan dari kejauhan karena berada di daratan tandus yang luas. Bila malam, tampak semakin jelas dengan sorotan cahaya kekuningan yang bersumber dari "pintu neraka" itu.

Mirip dengan lumpur Lapindo, yang terus mengeluarkan lumpur panas gara-gara pengeboran yang dinilai gagal sehingga menyembur ke permukaan bumi. Hingga kini juga belum ada ahli geologi yang mampu menghentikan semburan lumpur panas Lapindo. Yang bisa dilakukan hanya membatasi agar area efek lumpur panas itu tidak terus melebar.

Editor: Egidius Patnistik | Sumber : Tribunnews.com

Jumat, 27 Agustus 2010

Katak Seukuran Kacang Ditemukan di Pulau Kalimantan

Rabu, 25 Agustus 2010, 17:12 WIB

Amn


Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR--Ilmuwan telah mengamati katak terkecil seukuran kacang di Pulau Kalimantan. Menurut majalah Zootaxa, pejantan dewasa dari jenis tersebut berukuran antara 10.6-12.8 milimeter. Amfibi seukuran kacang itu dinamakan microhyla nepenthicola yang diambil dari nama tumbuhan tempat binatang tersebut tinggal.

Jenis katak itu telah salah diidentifikasi oleh museum, kata Dr Indraneil Das dari Institut Konservasi Lingkungan dan Keanekaragaman Hayati, Universitas Malaysia. "Ilmuwan mengira bahwa binatang tersebut masih berumur muda, tetapi sejak penemuan jenis ini, hal itu telah diubah," katanya.

Das menerbitkan laporan penelitiannya dengan Alexander Haas dari Museum Biozentrum Grindel und Zoologishes di Hamburg, Jerman. Katak kecil itu ditemukan di pinggir jalan yang mengarah ke pegunungan Serapi di Taman Nasional Kubah, negara bagian Serawak, Malaysia.

Para ilmuwan melacak katak itu di saat senja, melalui beberapa suara serak katak yang berisik. Kemudian mereka menangkap katak yang melompat ke selembar kain putih untuk dipelajari. Penelitian tersebut merupakan sebuah pencarian global yang dilakukan oleh Tim Khusus Konservasi Amfibi bagi Persatuan Konservasi Internasional untuk meneliti ulang 100 jenis amfibi yang hilang.

Red: Siwi Tri Puji B
Sumber: Ant

Pemandangan Perairan Dalam Indonesia Pukau Ilmuwan Dunia

Jum'at, 27 Agustus 2010 | 08:28 WIB
AP Photo/NOAA Okeanos Explorer Program

TEMPO Interaktif, Jakarta - Para ilmuwan yang menggunakan teknologi canggih untuk mengeksplorasi perairan Indonesia terpukau oleh gambar-gambar penuh warna dan beragam dari kehidupan laut di dasar samudra, termasuk laba-laba laut seukuran piring dan spons seperti bunga yang merupakan hewan karnivora.

Mereka hari Kamis memperkirakan sebanyak 50 spesies tanaman dan hewan telah ditemukan selama ekspedisi tiga minggu yang berakhir 14 Agustus.

Lebih dari 100 jam video dan 100 ribu foto, yang ditangkap menggunakan robot dengan kamera definisi tinggi, disalurkan ke pantai secara real-time melalui satelit dan Internet berkecepatan tinggi.

Verena Tunnicliffe, seorang profesor di Universitas Victoria di Kanada, mengatakan gambar-gambar itu memberikan pemandangan sekilas luar biasa salah satu ekosistem laut yang paling kompleks di dunia dan sedikit diketahui.

"Bunga lili laut pada awalnya menutupi samudera, dangkal dan dalam, tapi sekarang jarang," katanya dalam sebuah pernyataan tertulis. "Saya hanya melihat beberapa dalam karir saya. Tapi pada ekspedisi ini, saya kagum melihat mereka dalam keragaman yang besar."

Tunnicliffe juga telah melihat laba-laba laut sebelumnya, tapi lebih kecil, panjang sekitar satu inci (2,5 cm). "Laba-laba laut pada misi ini sangat besar. Delapan-inci (20 cm) atau lebih."

Salah satu hewan yang diambil pada video terlihat seperti bunga, ditutupi dengan jarum seperti kaca, namun para ilmuwan berpikir itu mungkin spons karnivora. Antena merah muda, ditutup dengan jaringan lengket, muncul untuk menangkap makanan yang lewat.

Gambar lain menunjukkan ikan berwarna lavender berjalan di dasar laut dan lengan merah bunga lili air.

Timotius Shank dari Woods Hole Oceanographic Institution di Massachusetts mengatakan timnya sejauh ini mengumpulkan lebih dari 150 ribu frame video definisi tinggi.

"Saya merasa mungkin ada setidaknya 40 spesies baru di karang air dalam dan sedikitnya 50 spesies baru yang mencakup udang bentik, kepiting, spons, kerang, anemon dan ketimun laut," katanya.

Konfirmasi bahwa spesies itu baru melibatkan tinjauan ilmiah dan langkah-langkah lain dan dapat berlangsung tahunan.

Para ilmuwan menggunakan sistem pemetaan sonar yang kuat dan kendaraan robot untuk menjelajahi hampir 21.000 mil persegi (54 ribu kilometer persegi) dari dasar laut di Indonesia bagian utara, pada kedalaman mulai dari 800 kaki (240 meter) hingga lebih dari dua mil (1,6 kilometer).

Misi ini dilakukan oleh kapal US National Oceanic and Atmospheric Administration, Okeanos Explorer. Sebuah kapal Indonesia, Baruna Jaya IV, juga ambil bagian, mengumpulkan spesimen di mana semua hak untuk penggunaan di masa depan, akan tetap berada di Indonesia.

AP | ERWIN Z

Selasa, 23 September 2008

Lelang Lukisan untuk Hijaukan Baksil


Andri Haryanto - detikBandung


Bandung - Para seniman tidak mau ketinggalan aksi penanaman pohon di Babakan Siliwangi. Salah satu caranya dengan menyumbang lukisan yang selanjutnya akan dilelang untuk mengumpulkan dana.

Lelang karya-karya beberapa seniman di antaranya Tisna Sanjaya, Isa Perkasa, Rahmat Jabaril dan Diyanto, rencananya akan digelar di pelataran Baksil pada Sabtu, 27 September 2008.

"Dari lelang lukisan yang dilakukan nanti akan digunakan untuk membiayai penghijauan di Baksil, termasuk membeli pohon," ujar Tisna kepada detikbandung di Babakan Siliwangi, Selasa (23/9/2008).

Tisna Sanjaya (dok.detikbandung)    

Selain acara lelang, akan ada juga hiburan musik dari yang menggunakan alat musik string hingga ensemble yang berlangsung dari pagi hingga buka puasa.


Untuk pemenuhan kebutuhan penghijauan di Baksil, diperkirakan butuh pohon sebanyak 1.920 batang mencakup lahan luas delapan hektar. Jenis pohon kayu yang akan ditanam di antaranya Jamuju, Rasamala, Jati Putih, Salamander, Saninten, Baros dan Jamblang. Selain itu ada juga jenis pohon buah seperti lengkong, alpukat dan mangga.(lom/lom)

Tak Ada Lagi Kicauan Burung

SURYANA tak lagi menikmati pagi yang dingin di pinggiran Kota Bandung, tepatnya di sekitar Kec. Babakan Ciparay. Lelaki berusia 58 tahun itu mengaku, kondisi Kota Bandung saat ini jauh berbeda dengan yang dirasakannya sewaktu muda. Ia rindu kicauan burung di sekitar rumahnya yang saat ini lenyap seiring dengan pesatnya pembangunan kota. Sebagai pengobat rindu, Suryana memelihara seekor burung pekicau dalam sangkar.

Rupanya, Suryana tak sendirian. Hal serupa dirasakan Firman Hadi (32). Ia yang merupakan peneliti di Center for Remote Sensing ITB itu hampir setiap pagi mengamati burung-burung di sepanjang perjalanannya dari rumah ke kantornya.

"Sepuluh tahun lalu, saya sering melihat ratusan burung punai di sekitar Taman Maluku. Tapi sekarang, paling jumlahnya di bawah sepuluh ekor," kata Firman. Burung punai yang dimaksudnya adalah sejenis merpati liar berwarna hijau. Burung ini cukup eksotik dan unik. Para pengamat burung menyebutnya dengan nama punai penganten (Treron griseicauda).

Firman juga merasakan semakin jarangnya burung betet (Psittacula alexandri) yang semula sangat riuh di sekitar Jln. Ganeca setiap pagi. Beberapa jenis burung lainnya, ia akui, kian hari kian jarang ditemuinya. Iseng-iseng ia mencoba mencari citra satelit Kota Bandung. Ia menemukan dua buah citra satelit dari dua waktu yang berbeda. Pertama, citra satelit Landsat MSS dengan resolusi pixel 80 x 80 m tahun 1976 digunakan sebagai kondisi awal Kota Bandung. Kedua, citra satelit Aster tahun 2003 digunakan sebagai kondisi akhir. 

"Dari dua peta itu, terlihat adanya degradasi vegetasi di Kota Bandung. Pantas saja burung semakin jarang terlihat karena tempat hidupnya juga semakin sempit," kata Firman. Ia mengaku, hingga kini, masih menghitung luas vegetasi yang berubah itu.

**

BURUNG menjadi sesuatu yang langka di kota ini. Padahal, kehadiran burung dalam suatu habitat berkaitan erat dengan faktor-faktor fisik lingkungan seperti air, temperatur, cahaya matahari, serta faktor-faktor biologis lainnya, seperti vegetasi dan satwa liar lainnya. Adanya perubahan lingkungan di Kota Bandung merupakan salah satu penyebab hilangnya berbagai jenis burung.

Ade Rahmat (27), peneliti dari Bird Conservation Society (Bicons), di Kota Bandung, burung-burung menempati habitat yang tersebar dari utara ke selatan. Habitatnya bervariasi, berupa sawah, danau, sungai, taman, taman kota, ataupun permukiman.

Dari situ, perubahan tipe tata guna lahan mengakibatkan perubahan struktur vegetasi sekaligus memengaruhi burung-burung yang hidup di dalamnya. Mulai dari segi keanekaragaman jenis, teritorial, tingkah laku, hingga interaksi sosial antarjenis burung. 

"Burung sangat sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan. Makanya, burung dijadikan salah satu alat biomonitoring lingkungan di berbagai negara, terutama Eropa dan Amerika," kata Ade.

**

Catatan tentang keberadaan burung di Kota Bandung dimulai sejak tahun 1934 ketika Chauvigni de Blot mencatat sebanyak 70 jenis burung di Kota Bandung (Kunto, 1994). 

Beberapa peneliti burung, dalam 10 tahun terakhir, kemudian mencoba melengkapi. Ternyata, sedikitnya terdapat 9 jenis burung disinyalir telah hilang dari muka Kota Bandung. 

Burung-burung itu, kata Ade, merupakan jenis-jenis khas penghuni sungai bersih seperti Enicurus leschenaulti (meninting besar), Motacilla cinerea (kicuit batu), dan Alcedo atthis (raja udang erasia). Selain itu, penghuni pinggiran hutan seperti Ficedula zanthopygia (sikatan emas), Phyloscopus trivirgatus (cikrak daun), dan pemakan madu seperti Aethopyga siparaja (burung madu sepah raja), Anthreptes malaccensis (burung madu kelapa). 

"Bahkan, jenis yang adaptif di permukiman, seperti Corvus macrorhynchus (gagak kampung) dan Tyto alba (serak/koreak) hanya tercatat satu kali kehadirannya dalam 10 tahun terakhir," katanya.

Deri Ramdhani (25), yang meneliti keanekaan burung di Kota Bandung dua tahun lalu, mencatat 50 jenis burung di enam taman kota. Jumlah itu memang jauh lebih banyak dibandingkan dengan beberapa penelitian sebelumnya. Namun, sebaran burung-burung itu telah terfragmentasi. Jika diklasifikasikan berdasarkan jenis makanannya, burung pemakan buah mencapai 20,83%, pemakan biji (18,06%), pemakan daging (11,11%), dan pemakan nektar (2,78%). Akan tetapi, ironisnya, kebanyakan dari jenis burung itu justru bergantung pada tempat sampah sebagai sumber makanannya.

Selain itu, sedikitnya 10 jenis burung migran kerap mengunjungi Kota Bandung. Mereka berasal dari Rusia, Jepang, Korea, Thailand, serta dari beberapa wilayah di Indonesia. Tujuh di antara 10 jenis tadi menggunakan vegetasi taman kota sebagai tempat persinggahannya selama di Kota Bandung.

**

Saat ini, burung-burung menyandarkan hidupnya kepada taman kota, tak lagi bisa kepada jalur hijau yang semakin jarang, apalagi kepada lahan pribadi yang banyak berubah menjadi lahan beton. 

Dinas Pertamanan Kota Bandung mencatat, terdapat 510 lokasi taman kota dengan luas mencapai 120 hektare. Jumlah itu, menurut pemerintah, mengalami peningkatan dibandingkan sebelumnya.

Sayangnya, Kota Bandung tak memiliki koridor vegetasi yang menghubungkan satu taman kota dengan taman kota yang lain. 

Kondisi itu diperparah dengan banyaknya pohon yang ditebang. Menurut Kabid Penghijauan Dinas Pertamanan Kota Bandung, Sumitro Rahardjo, jumlah pohon di area publik di Kota Bandung mencapai 1,1 juta batang. Namun, Agustus 2008 saja, telah tercatat 895 batang pohon yang ditebang dan 1.062 batang pohon yang dipangkas. Banyaknya pohon yang tumbang saat musim hujan merupakan salah satu alasannya. 

Sumitro mengakui, upaya penghijauan di Kota Bandung tak semata tanggung jawab pemerintah. Saat lahan publik semakin sempit, ia berharap, warga berpartisipasi merelakan sedikit lahannya untuk ditanami pohon. 

"Hama jamur dan penggerek batang telah menyerang banyak pohon di Kota Bandung, terutama pohon angsana yang mencapai 60% dari seluruh jumlah pohon. Tapi, yang paling parah justru ancaman ’hama kokod’," kata Sumitro. Hama kokod yang dimaksud Sumitro adalah manusia jahil yang sering menodai pohon hingga berujung pada kematian pohon.

Jangankan manusia, ternyata burung pun semakin tak nyaman tinggal di kota ini. (Deni Yudiawan/"PR")

                                                                       ***

Cangkurileung, Simbol Kota yang Terlupakan


SEEKOR burung kutilang (cangkurileung) dipegang Jaja Sumarna (31), seorang pedagang Pasar Burung Sukahaji Kota Bandung, Senin (22/9). Ia mengakui, burung kutilang di Kota Bandung sudah sangat jarang dan sebagian besar kutilang yang ada di Sukahaji berasal dari Solo.* DENI YUDIAWAN/"PR"


BAGI masyarakat Jawa, burung merupakan simbol kesejahteraan bagi pemiliknya. Hal yang sama dianut oleh sejumlah wilayah. Lihat saja, puluhan negara di dunia menggunakan burung sebagai lambang negara mereka, salah satunya Indonesia. Demikian pula dengan Kota Bandung.

Sedari dulu, burung kutilang dijadikan simbol fauna Kota Bandung, berbarengan dengan tanaman patrakomala yang dijadikan simbol floranya. Banyak alasan yang menguatkan kutilang menjadi simbol kota ini. Yang jelas, burung tersebut dinilai telah menjadi bagian dan identik dengan masyarakat Kota Bandung.

Kutilang dalam bahasa Sunda dikenal dengan nama cangkurileung. Kicauan suara kutilang banyak digambarkan sebagai suara yang merdu. Tak heran jika nama cangkurileung ini menjadi sisipan nama populer seorang artis sinden masa lampau, Cicih Cangkurileung. Kutilang juga menjadi salah satu lagu populer anak-anak yang diciptakan Abdullah Totong (A.T.) Mahmud.

Kutilang (Pycnonotus aurigaster) terkenal sebagai burung pekicau. Burung ini, bahkan, berkerabat dekat dengan cucak rawa, burung berkelas yang semakin jarang di alam bebas dan harganya mencapai jutaan rupiah. Sebenarnya, tak tepat jika Kota Bandung mengklaim bahwa burung ini adalah burung khas Kota Bandung. Soalnya, di Jawa dan Bali, kutilang merupakan salah satu jenis yang tersebar paling luas dan umum sampai ketinggian 1.600 mdpl. Burung ini diintroduksi hingga ke Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan. Di dunia, kutilang juga merupakan jenis yang umum di Cina Selatan dan Asia Tenggara, kecuali di Semenanjung Malaysia.

Burung ini memiliki kebiasaan hidup dalam kelompok yang aktif dan ribut, sering berbaur dengan jenis cucak lain. Lebih menyukai pepohonan terbuka atau habitat bersemak, di pinggir hutan, tumbuhan sekunder, taman, dan pekarangan, bahkan di kota besar seperti halnya Kota Bandung.

Di Kota Bandung, burung ini hidup di taman-taman kota dan pekarangan yang ditumbuhi pepohonan berbiji, sumber makanannya. Burung ini menjadi salah satu jenis yang menjadi favorit pemburu, khususnya di perkotaan. Suaranya yang merdu menjadikan burung ini sering ditangkap untuk dipelihara atau dijual. Coba saja tengok ke Pasar Burung Sukahaji, burung ini sangat umum diperjualbelikan. Sayangnya, kutilang memang tidak termasuk ke dalam burung yang dilindungi. 

"Sebagai identitas Kota Bandung, data tentang penyebaran kutilang di Kota Bandung justru sangat minim. Belum ada penelitian khusus mengenai burung ini," kata Deri Ramdhani (25), peneliti Bicons, sekaligus Koordinator Ekspedisi Kutilang Kota Bandung. Telah dua bulan ini, ia dan timnya melakukan penyisiran di tiap sudut Kota Bandung untuk mencari tahu keberadaan kutilang.

Berdasarkan data sementara yang dikumpulkan, kata Deri, kutilang di Kota Bandung bukan merupakan burung yang kosmopolit layaknya burung gereja. Burung ini tak memiliki daya adaptasi yang cepat terhadap lingkungannya. Dikhawatirkan, perubahan lingkungan yang cepat di Kota Bandung akan semakin membuat hidup kutilang menjadi terpojok.

**

BELUM ada data pasti tentang jumlah kutilang, apakah mengalami penurunan atau tidak. Namun, kebanyakan pengamat burung di Bandung merasakan kicauan burung kutilang ini tak lagi semerdu masa lampau. Habitat yang terfragmentasi juga membuat burung kutilang harus berkompetisi dengan burung jogjog atau cerucuk (Pycnonotus goiavier). Kehidupan kutilang pun semakin terdesak.

Jaja Sumarna (31), seorang pedagang burung di Pasar Burung Sukahaji Kota Bandung merasakan hal yang sama. Dalam beberapa tahun terakhir, ia tak lagi mendapat "pasokan" kutilang dari sekitar Kota Bandung. Saat ini, kata dia, kebanyakan kutilang yang diperjualbelikan di Pasar Sukahaji berasal dari Solo, Jawa Tengah.

"Ada juga sih kutilang dari lokalan Jabar, tapi bukan dari Bandung. Kebanyakan berasal dari sekitar Saguling Kab. Bandung Barat dan Bungbulang Garut selatan," tutur Jaja.

Setahun lalu, Jaja juga mengaku pernah mendapat untung besar dengan adanya "borongan" burung kutilang dari Pemkot Bandung. Burung-burung itu dibeli untuk dilepaskan di sekitar taman kota. Namun, ia tak mengetahui secara persis sejauh mana pertambahan kutilang di sekitar Kota Bandung.

Banyak peneliti percaya bahwa melepasliarkan burung harus menempuh sejumlah tahap adaptasi. Jika tidak, burung yang belum terbiasa liar tak akan mampu beradaptasi dengan lingkungannya hingga berujung kematian.

"Yang paling penting adalah penghijauan kembali kota serta pembentukan koridor kota sebagai tempat hidup burung. Jika vegetasi kota sebagai habitat burung terjaga, burung pun akan terlindungi secara otomatis," ungkap Deri.

Semakin jarangnya pepohonan di Kota Bandung membuat kutilang juga tak betah tinggal di Bandung. Di sisi lain, pohon kiara, kihujan, atau kisabun yang menjadi tempat favorit mereka semakin jarang. Jikalau kutilang tak lagi ditemui di sekitar Bandung, warga kota juga tak dapat seenaknya mengklaim bahwa burung ini masih menjadi simbol kesejahteraan bagi mereka. (Deni Yudiawan/"PR")***

Senin, 18 Agustus 2008

Kebutuhan dan Pasokan Air Tanah Meningkat

Berhemat dan Melindungi Air Baku

 

PEKERJA melakukan pengeboran pada pembuatan sumur pompa di salah satu rumah warga di Kota Bandung, Kamis (14/8). Adanya perubahan lingkungan membuat penduduk yang tadinya mengandalkan air sungai untuk memenuhi kebutuhan airnya mulai beralih ke penggunaan air tanah yang di antaranya menjadi penyebab terjadinya penurunan permukaan tanah.* DUDI SUGANDI/"PR"


Oleh Ir. Tubagus Unu Nitibaskara

Bayangkan andai di dunia ini tidak ada air, tentu tidak akan ada kehidupan seperti saat ini. Tentu, wajah bumi pun hanya indah dipandang dari jauh seperti halnya kita melihat bulan atau planet Mars.


Tanpa air memang tidak akan ada kehidupan karena air seperti halnya udara sangat dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari, baik untuk keperluan rumah tangga, pertanian, transportasi, industri maupun rekreasi.

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri atas 17.508 pulau, 6.000 pulau di antaranya tidak berpenghuni dengan populasi menurut sensus penduduk 2000 berjumlah 206 juta jiwa dan akan menjadi 222 jiwa pada tahun 2006, sekitar 130 juta (lebih dari 50%) tinggal di Pulau Jawa, yang tentunya setiap hari menggunakan air. Jadi, bisa dibayangkan berapa banyak air yang dibutuhkan. Padahal, penggunaan air di Indonesia masih sangat boros, umumnya hanya sekali pakai langsung buang.

Air saat ini sudah menjadi suatu permasalahan yang penting, khususnya di Pulau Jawa, Bali, maupun kepulauan Nusa Tenggara. Kebutuhan air yang terus meningkat tidak dapat diimbangi oleh siklus air yang relatif tetap. Degradasi daerah aliran sungai (DAS), perubahan lahan akibat tekanan aktivitas penduduk telah mengubah badan air yang terbentuk di daratan sehingga di beberapa wilayah pada saat musim hujan terjadi banjir dan pada musim kemarau daerah yang sama mengalami kekeringan.

Perubahan ini membuat penduduk yang ada yang semula mengandalkan air sungai untuk memenuhi kebutuhan airnya mulai beralih ke penggunaan air tanah. Akibatnya, penggunaan air tanah meningkat sangat pesat, bahkan di beberapa tempat, ketergantungan pasokan air tanah telah mencapai 70%. Sayangnya, kebutuhan ini tidak dapat diimbangi penyediaan sumber air baku oleh pemerintah sehingga terjadi penurunan permukaan air tanah. Penurunan permukaan air tanah mengakibatkan sumur kering, amblesnya tanah dan intrusi air laut.

Sejak tahun 1970-an, degradasi DAS berupa lahan gundul, tanah kritis, erosi pada lereng-lereng, sebenarnya telah mendapat perhatian pemerintah, tetapi degradasi tersebut terus berlanjut karena tidak ada upaya keterpaduan tindak dan upaya dari pihak-pihak yang berkepentingan dengan DAS.

Pendekatan terpadu

Pendekatan menyeluruh pengelolaan DAS secara terpadu menurut manajemen terbuka yang menjamin keberlangsungan proses koordinasi antara lembaga terkait. Partisipasi masyarakat juga dipandang penting dalam pengelolaan DAS mulai dari perencanaan, perumusan kebijakan, pelaksanaan, dan pemungutan manfaat. 

Pengelolaan DAS juga memerlukan asas legalitas yang kuat yang mengikat bagi instansi terkait karena posisi DAS sebagai unit pengelolaan yang utuh sangatlah penting untuk menjaga kesinambungan pemanfaatan sumber daya hutan, tanah, dan air.

Balai Besar KSDA Jawa Barat merupakan unit pelaksana teknis KSDA yang mempunyai tugas penyelenggaraan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dan pengelolaan kawasan cagar alam, suaka margasatwa, taman wisata alam, dan taman buru. Koordinasi teknis pengelolaan taman hutan raya dan hutan lindung serta konservasi tumbuhan dan satwa liar di luar kawasan konservasi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Di dalam penyelenggaraan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya khususnya mengenai fungsi hidrologis, BBKSDA Jabar berupaya untuk merehabilitasi kawasan yang gundul, baik sebagai akibat kebakaran hutan maupun bekas perambahan yaitu dengan Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2003 sampai dengan saat ini. 

Kegiatan ini dimaksudkan agar kawasan yang gundul atau rusak dapat pulih kembali dan berfungsi sebagai penyerap air hujan yang dapat mengisi kembali air tanah, dimana air hujan yang meresap ke dalam tanah sangat bergantung pada jenis tanah serta batuan yang ada.

Analisis & penghematan

Dalam menganalisis pengelolaan DAS, ada tiga sektor utama yang dianalisis peranannya yaitu sektor kehutanan, sektor sumber daya air, dan sektor pertanian. Metodologi yang dipakai adalah analisis ekonometrik untuk mengetahui dampak dari kebijakan pembangunan dari ketiga sektor yang ada terhadap kinerja DAS. Studi ini juga memasukkan variabel-variabel tambahan seperti permukiman untuk mewakili sektor-sektor lain. DAS di Jawa Barat adalah DAS Ciliwung, DAS Citarum, DAS Cimanuk, dan lain-lain

Penduduk Indodnesia pada awalnya bertumpu pada penggunaan air sungai sebagai sumber air bersih yang mulai beralih kepada penggunaan air tanah. Akibatnya, penggunaan air tanah meningkat sangat pesat pada akhir dasawarsa ini. Perkembangan industrialisasi yang tidak diimbangi dengan penyediaan sumber air baku oleh pemerintah merupakan katalis utama dari pemanfaatan air tanah secara besar-besaran. Penurunan permukaan air tanah mengakibatkan keringnya sumur-sumur, amblesnya tanah dan intrusi air laut. Ketika dampak lingkungan mulai terasa, maka pentingnya konservasi barulah disadari. Sumber daya air mulai menjadi salah satu parameter kendali dalam penentuan tata ruang.

Upaya penghematan air baku/air tanah memerlukan beberapa aspek yang menyangkut teknis dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, sebagai contoh:

- Pembangunan cek-dam/bendungan air yang berwawasan lingkungan, sumur-sumur resapan, dan revitalisasi situ yang kurang optimal fungsinya.

- Menerbitkan peraturan mengenai penggunaan air baku khususnya untuk pembangunan yang berasa di sekitar daerah tangkapan air. Pelaksanaan Gerhan yang ditangani Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat selama tahun 2003 sampai tahun 2007 secara total berjumlah 10.443 ha, tersebar di 11 kabupaten, 2 DAS, dan 25 unit/kawasan konservasi,.

Secara tidak langsung, kerusakan hutan di Jawa Barat memengaruhi kondisi ketersediaan air baku yang sangat diperlukan bagi penduduk di sekitar hutan. Upaya pemulihannya dalam berbagai upaya konservasi air diharapkan dapat mengembalikan keseimbangan persediaan air baku yang dapat menjamin keberlanjutan program pembangunan prinsip No Forest, No Water, No Future (tidak ada hutan, tidak ada air, dan tidak ada masa depan) telah memperingatkan kita untuk senantiasa melestarikan sumber air dan sekaligus penghematan. Semoga.***

Penulis, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat.