Rabu, 02 Juli 2008

Konstruksi Rangka Baja Pertama


BANGUNAN bangsal Sekolah Luar Biasa (SLB) Cicendo merupakan bangunan pertama di Bandung yang menggunakan rangka baja.* RETNO HY/"PR"

"Dank zij de toezegging van een legaat, groot f50.000 door de Gemeenteraad van Bandung, dat door wijlen de Heei K.A.R. Bosscha aan dit college was nagelaten, kon met de bouw van een nieuw Instituut worden begonnen" (Berkat kebaikan mendiang Tuan K.A.R. Bosscha yang menyerahkan uang sebesar f50.000 kepada Dewan Kota Praja Bandung, untuk diwakafkan kepada badan-badan amal maka pendirian gedung sekolah beserta asrama baru dapat dimulai). 


SELAIN Bosscha Strennwach (Observatorium Bosscha), ada bangunan monumental lain di Kota Bandung yang diwariskan Karel Albert Rudolf Bosscha. Bangunan itu adalah Mereeniging voor Onderwijs aan Doofstomme Kinderen in Indonesia atau disebut bangunan Doofstommen Instituut (Lembaga Bisu dan Tuli), yang sekarang menjadi Gedung Sekolah Luar Biasa (SLB) Cicendo Bandung. 

Gedung itu didirikan Wali Kota Bandung Ir. J.E.A van Wolzogen Kuhr dengan biaya dari K.A.R. Bosscha, Sang Raja Teh Priangan yang mengangkat Ny. A.C. de Jonge Baronesse van Wassermaer, istri Gubernur Jenderal sebagai pelindung. Lembaga Bisu Tuli di Bandung itu diresmikan 18 Desember 1933.

Gedung yang peletakan pertamannya dilakukan Geboren Barronesse van Wassenaar, istri Gubernur Jenderal D.C. de Jonge, pada 16 Mei 1933 itu termasuk istimewa karena merupakan bangunan pertama yang menggunakan sistim rangka baja murni. 

"Bahkan, bila ditelusuri lebih jauh, SLB Cicendo bukan hanya merupakan bangunan pertama dengan konstruksi rangka baja di Indonesia, bisa jadi di Asia," ujar Drs. Eddy Sunarto, Kasi Pengembangan Budaya Daerah Subdin Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, yang juga Koordinator Pengumpulan Data Pengajuan dan Penetapan Bangunan Cagar Budaya Sekolah Luar Biasa (SLB) Cicendo.

Berdasarkan penelusuran tim yang terdiri dari Dra. Erni Nurtiningsih, Dra. Heni Rif`ati Fajria, dan Dra. Eha Solihat, pada masa kepemimpinan Residen Priangan J.H.B. Kunaeman, Doofstommen Instituut atau yang kini disebut SLB Cicendo, didirikan 3 Januari 1930 atas prakarsa Ny. C.M. Roelfsema Wesling, istri Dr. H.L. Roelfsema, seorang ahli penyakit telinga, hidung, dan tenggorokan (THT). Sementara untuk asrama siswa menempati rumah Roelfsema sendiri di Jalan Riau No. 20. 

Minat masyarakat dari berbagai daerah luar Jawa untuk menyekolahkan anaknya di Doofstommen Instituut terus meningkat. Hal itu juga berdampak pada tingkat hunian asrama yang dikelola Jongbloed, hingga terpaksa pindah ke Oude Hospitaalweg (Jln. Rumah Sakit) No. 27.

**

Sekolah Luar Biasa (SLB) Cicendo yang terletak di Jln. Cicendo No. 2 RT 01 RW 01 Kel. Babakan Ciamis Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung, berdiri di atas tanah dengan luas 8.180 meter persegi. Bangunan yang belum diketahui siapa arsiteknya itu berarsitektur tradisional modern, terlihat pada bentuk atap dan kerangkanya. 

Bubungan atas dibentuk rata dan tidak ada pertemuan dengan bubungan samping, tetapi dibentuk ventilasi (rohang). Bubungan samping (sudut) dibentuk agak melengkung, seperti pada atap rumah tradisional Jawa Barat. 

Pada bagian kaki bangunan diberi batu kali, seperti pada bangunan masa Kolonial Hindia Belanda. "Tetapi sangat disayangkan kondisi sekarang telah diberi cat berwarna hitam tidak warna natural seperti aslinya. Sedangkan dinding dibuat dari susunan bata dengan diberi lepa dan cat tembok berwarna putih. Pada pertemuan antara bagian kaki dan badan bangunan diberi pinggul dari serbuk batu yang diberi semen putih," ujar Eddy.

Material besi hampir mendominasi bagian pintu dan jendela. Setiap daun pintu terbagi dalam 5 baris panel (kolom), setiap baris terdapat 2 panel (kolom). Pada baris paling bawah terbuat dari pelat besi setinggi bagian kaki bangunan, setengahnya lagi (2 kolom) menggunakan kaca es yang tidak tembus pandang tetapi tembus cahaya.

"Melihat tahun pembangunan (1933) SLB Cicendo Bandung, jelas termasuk dalam kategori benda cagar budaya yang dilindungi UUI No. 5 /1992 tentang Mengandung Nilai Sejarah, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan, ditinjau dari historis-arkeologis," ujar Eddy.

Sayangnya, pengajuan bangunan artefaktual SLB Cicendo sebagai bangunan cagar budaya, sejak Juni 2006, belum kunjung ditandatangani Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala. 

Lambatnya surat penetapan dikhawatirkan akan semakin menambah deretan bangunan cagar budaya yang beralih fungsi atau diubah bentuk konstruksi di Kota Bandung. Jika itu terjadi, siapa yang salah? (Retno H.Y./"PR")***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar