Tiap RW Tanam Pohon Produktif
Rabu, 15/01/2014 - 16:27
 |
| VOA/"PRLM" |
GANG-gang sempit di Bandung pun bisa hijau dengan adanya vertical garden.*
BANDUNG, (PRLM).- Meski memiliki julukan kota kembang, dengan jumlah
penduduk yang besar dan pembangunan yang pesat, Bandung tak lagi
memiliki banyak lahan hijau.
Untuk itu, pemerintah setempat mengembangkan urban farming atau
pertanian perkotaan mulai tahun ini, dimana para keluarga di setiap
Rukun Warga atau RW wajib menanam berbagai tanaman produktif yang
bernilai ekonomis bagi keluarga. Tanaman produktif tersebut yaitu
termasuk sayur-sayuran seperti tomat, cabe rawit, kangkung, bawang daun,
dan caisim.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung, Ely Wasliah
mengatakan, program yang sepenuhnya diprakarsai oleh pemerintah kota
Bandung tersebut akan menyasar seluruh warga. Pemerintah kota sendiri
akan memberikan bantuan sarana seperti bibit, pupuk, dan pot-pot atau
rak-rak tanaman, ujarnya.
“Dari urban farming ini karena nanti yang akan dikembangkan di sana
itu di antaranya adalah komoditas sayuran, jadi kebutuhan pangan sayuran
untuk rumah tangga tersebut dipasok dari lahan pekarangannya sendiri.
Kami bantuannya nanti dalam bentuk barang, benih, pupuk, juga ada
rak-rak vertikultur yang memang cocok dikembangkan di lahan pekarangan,”
ujarnya.
Dalam program urban farming, masyarakat dapat bercocok tanam di
pekarangan masing-masing dengan memanfaatkan lahan yang ada. Meski lahan
yang dimiliki sempit, masyarakat bisa menanam tanaman dengan sistem
vertical garden, atau menanam secara vertikal di dinding dengan
menggunakan rak-rak tanaman yang disusun berderet.
“Kalau misalnya satu RW semuanya rumah ini mengembangkan urban
farming, jadi lingkungan itu akan nyaman, asri, hijau, menambah
kontribusi terhadap Ruang Terbuka Hijau, RTH dari privat. Kalau yang di
jalan-jalan yang taman-taman kan fasilitasnya RTH umum, publik. Kalau
kami RTH privat, RTH yang ada di masyarakat,” kata Ely.
Jayadi, Ketua RW di kawasan Margahayu Raya, Kota Bandung mengatakan,
dengan program ini lingkungan warga menjadi semakin hijau dan asri.
Warga pun dapat menikmati hasil cocok tanam mereka sendiri.
“Di taman, di halaman rumah masing-masing, di sekolah, dan di tempat
olahraga lapangan voli. Lingkungan jadi hijau, bagus dipandang, ada
hasilnya, kelihatannya juga indah,” ucapnya.
Warga Kota Bandung pun menyambut baik program pertanian perkotaan
ini. “Untuk nambah-nambah oksigen lah, artinya lingkungan kan jadi tidak
terlalu panas. Kalau tidak ada pohon kan kita kepanasan,” ujar seorang
warga bernama Umi.
Yang lain mengatakan program ini memudahkan mereka dalam memasak dan
membuat lebih hemat. “Satu hijau; kedua ada manfaatnya seperti tanaman
(sayuran), setidaknya kita mengurangi beli di warung-warung,” tutur Eli.
Konsep urban farming telah ada di beberapa negara. Salah satunya di
Montreal, Kanada, dengan nama Lufa Farm yaitu konsep pertanian perkotaan
di atas atap atau rooftop farming. Di Indonesia, konsep urban farming
yang diwajibkan untuk seluruh warga baru ada pertama kali di Kota
Bandung. Diharapkan konsep ini bisa menjadi budaya baru yang tak hanya
bermanfaat secara ekologi tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan
estetika. (voa/A-147)***