Jumat, 27 Juni 2008

Pendidikan & Otonomi Daerah

Prof. DR. Ir. Ginandjar Kartasasmita

GLOBAL competitiveness menuntut penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Kemajuan suatu negara dapat diukur dari tingkat pendidikan masyarakatnya. Peran guru sangat strategis dalam proses pendidikan yang berorientasi pada mutu. Adagium yang menyatakan "tidak ada kurikulum yang baik atau buruk, yang ada hanya guru yang kompeten dan tidak", masih tetap relevan.

Gerakan reformasi di Indonesia, secara umum menuntut diterapkannya prinsip demokrasi, desentralisasi, keadilan, dan menjunjung tinggi hak asasi manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam hubungannya dengan pendidikan, prinsip-prinsip tersebut akan memberikan dampak yang mendasar pada kandungan, proses, dan manajemen sistem pendidikan. Konsep demokratisasi dalam pengelolaan pendidikan yang dituangkan dalam UU Sisdiknas 2003 Bab III tentang Prinsip Penyelenggaraan Pendidikan (Pasal 4) disebutkan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan, serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa (ayat 1). Karena pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat (ayat 3), serta dengan memberdayakan semua komponen masyarakat, melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.

Demokratisasi pendidikan hampir muskil terbentuk, bila perlakuan terhadap guru belum sepadan. Kehadiran Undang-undang No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, merupakan harapan memperoleh keadilan berprofesi. Tujuan sertifikasi pada akhirnya diharapkan berdampak pada peningkatan mutu pendidikan. Dengan demikian, kebijakan tersebut diharapkan dapat direalisasikan sebagaimana tertuang dalam dokumen tertulis. Tidak perlu ada keraguan atau kepura-puraan dalam menjalankan kebijakan ini.

Ada baiknya kita belajar dari pengalaman negara lain. Amerika Serikat melakukan reformasi pendidikan, didasari oleh laporan federal yang berjudul A Nation at Risk pada 1983. Laporan ini lantas melahirkan laporan penting berjudul A Nation Prepared: Teachers for 21st Century. Dalam laporan tersebut, direkomendasikan adanya pembentukan National Board for Professional Teaching Standards (Dewan Nasional Standar Pengajaran Profesional) pada 1987. Demikian juga di Jepang, UU Guru ada sejak 1974 dan UU Sertifikasi pada 1949. Sementara di Cina, UU Guru hadir pada 1993 dan PP Kualifikasi Guru pada 2001. Mereka membuat dokumen perundang-undangan dan melaksanakan secara konsisten.

Peran daerah

Sentralisasi yang terjadi di masa lalu berakibat pada berbagai segi kehidupan, tak terkecuali pada bidang pendidikan. Perubahan UUD 1945 khususnya pasal 18, 18A, dan 18B yang menjadi dasar hukum bagi penyelenggaraan pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus sendiri pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan; merupakan pijakan kuat untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah dengan memerhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan, dan kekhususan suatu daerah dalam sistem NKRI.

UU Sistem Pendidikan Nasional memberikan dukungan yang tegas dan jelas, dalam penyelenggaraan otonomi daerah di bidang pendidikan. Otonomi daerah membawa konsekuensi logis pada otonomi pendidikan di daerah, khususnya dalam hal reorientasi visi dan misi pendidikan. Pemerintah (pusat) dan pemerintah daerah, bersama-sama wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan bermutu bagi warga negara tanpa diskriminasi (Pasal 11 ayat 1). Konsekuensinya, pemerintah (pusat) dan pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya wajib belajar 9 tahun. Kontitusi mengatur secara tegas anggaran pendidikan, di negara lain hampir tidak ada, ditetapkan minimal 20% dari APBN maupun APBD di luar gaji. Di mana dalam pengelolaannya harus berdasarkan prinsip keadilan, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas publik (pasal 48 ayat 2)

Meskipun terjadi desentralisasi pengelolaan pendidikan, namun tanggung jawab pengelolaan sistem pendidikan nasional tetap berada di tangan menteri yang diberi tugas oleh presiden (pasal 50 ayat 1), yaitu menteri pendidikan nasional. Dalam hal ini, pemerintah (pusat) menentukan kebijakan nasional dan standar nasional pendidikan untuk menjamin mutu pendidikan nasional (pasal 50 ayat 2). Sedangkan pemerintah provinsi melakukan koordinasi atas penyelenggaraan pendidikan, pengembangan tenaga kependidikan, dan penyediaan fasilitas penyelenggaraan pendidikan lintas daerah kabupaten/kota untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah. Khusus untuk pemerintah kabupaten/kota diberi tugas untuk mengelola pendidikan dasar dan menengah, serta satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal.

Lantas, bagaimana posisi guru dalam kerangka otonomi pendidikan. Pemerintah (pusat) dan pemerintah daerah wajib memfasilitasi satuan pendidikan, dengan pendidik dan tenaga kependidikan yang diperlukan (pasal 42 ayat 2). Pendidik dan tenaga kependidikan dapat bekerja secara lintas daerah, yang pengangkatan, penempatan, dan penyebarannya diatur oleh lembaga yang mengangkatnya berdasarkan kebutuhan satuan pendidikan formal (pasal 41 ayat 1 dan 2).

Undang-undang Guru dan Dosen, serta peraturan pemerintah khususnya tentang guru, mengatur bagaimana profesi guru ini menjadi profesi yang bermartabat. Namun, pengklasifikasian guru dan dosen, yang mendikotomikan guru PNS dan non-PNS memberi ruang yang kurang sehat. Masyarakat sebagai stakeholder perlu dilibatkan dalam mengeliminasi dampak buruk dari hal itu, sekaligus terlibat dalam peningkatan kualitas pendidikan secara umum.

Sesuai Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, hakikat desentralisasi berupa pelimpahan kewenangan dari pusat ke daerah merupakan keniscayaan. Sisi moralnya ialah "orang daerah"-lah yang lebih tahu permasalahan mereka sendiri.

Sayangnya, harapan dan kenyataan tidak selalu berjalan beriringan. Penafsiran yang sempit akan makna otonomi telah melahirkan jalan panjang dan berliku untuk mewujudkan desentralisasi yang hakiki. Rentang kendali birokrasi bukannya makin sederhana, tetapi malah tambah rumit.

Pembayaran gaji dan honor kelebihan jam mengajar, sering terlambat dari jadwal karena anggarannya tersangkut pada meja-meja birokrasi di daerah. Maka, kerap menjadi masalah bagi sebagian besar guru terutama yang ditugaskan di daerah terpencil.

Makna pelimpahan kewenangan mencakup kesatuan hukum, terdiri dari pemerintah kabupaten/kota dan masyarakat setempat. Dilihat dari jenisnya, kewenangan yang dilimpahkan mencakup kewenangan pengaturan, pengurusan, pembinaan, serta pengawasan.

Disparitas kebijakan serta minimnya alokasi anggaran pendidikan di daerah kerap menjadi konflik sosial di masyarakat. Sangat wajar bila reformasi pendidikan melalui otonomi daerah belum memperlihatkan hasil sepadan kepada daya saing bangsa. Berdasarkan laporan UNESCO, yang dirilis akhir tahun 2007, peringkat Indonesia dalam hal pendidikan turun dari peringkat 58 menjadi 62 di antara 130 negara di dunia. Education development index (EDI) Indonesia hanya 0,935 di bawah negeri jiran Malaysia (0,945) dan Brunei Darussalam (0,965). Human development index (HDI) menyebutkan bahwa Indonesia saat ini berada masih pada posisi 110 dari 175 negara.

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI sudah sejak lama, dalam kaitannya dengan nasib guru, menegaskan, antara lain, pertama, mendukung upaya pemerintah dalam program peningkatan kualifikasi pendidik dan program sertifikasi profesi pendidik dengan memberikan kemudahan pelaksanaan bagi para pendidik dengan mempertimbangkan berbagai aspek kondisi guru tanpa mengurangi mutu akademis dan melibatkan LPTK, yang memenuhi persyaratan baik negeri maupun swasta.

Kedua, mendukung dan mengimbau perwujudan hak-hak guru sebagaimana diamanatkan Undang-undang Nomor 14 tentang Guru dan Dosen. DPD RI sangat mendukung perjuangan para guru selama ini. Terutama terkait kesejahteraan, keamanan, dan kenyamanan dalam mengajar serta mendesak pemerintah untuk memerhatikan dan mempertimbangkan usia, masa kerja, kepangkatan bagi guru yang belum memiliki pendidikan akademik S-1/D-4.

Ketiga, mendukung kebijakan Depdiknas dalam sharing dana antarpemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota dengan melakukan pengawasan sebaik-baiknya. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus menjamin penyelenggaraan wajib belajar, minimal pada jenjang pendidikan dasar yang bermutu dan tanpa memungut biaya.

Keempat, percepatan pengangkatan guru bantu dan guru honorer lainnya menjadi pegawai negeri sipil.

Untuk itulah melalui amendemen Pasal 22D UUD 1945, dengan dukungan para guru dan masyarakat, diharapkan DPD RI dapat mengantarkan perjuangan itu secara optimal. Oleh karena kewenangan yang dimiliki sekarang terbatas, maka perjuangan DPD RI hanya terbatas sampai pada awal pembicaraan tingkat pertama di DPR. Selanjutnya, apakah oleh DPR ditindaklanjuti atau dibiarkan, DPD tidak dapat mengawalnya.

Pendidikan merupakan salah satu solusi yang mempunyai kedudukan signifikan dalam ikut serta memecahkan persoalan bangsa, baik langsung maupun tidak langsung. Dalam kaitan ini, pendidikan dapat menjadi solusi yang signifikan, apabila dalam pelaksanaannya mendapatkan dukungan dari berbagai pihak yang berkompeten dan ditunjang pula dengan pengelolaan serta manajemen yang profesional, serta ditunjang dengan kemauan dan komitmen yang tinggi dari berbagai pihak yang berkompeten dalam upaya peningkatan mutu pendidikan secara keseluruhan.***

Penulis, Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI.

Perlu Tegas Atasi Krisis Listrik

Dampak Pemutusan Arus Listrik terhadap Masyarakat Semakin Berat


KOMPAS/AGUS SUSANTO / Kompas Images
Turoso (kiri) dan Hari, dua tukang kayu, hanya bisa bercengkerama di tempat penggergajian karena pemutusan arus listrik di Buaran, Jakarta Timur, pada pukul 08.00-16.00, Kamis (26/6). Pemutusan arus listrik bergilir selama tahun 2008 di DKI Jakarta merugikan pelanggan yang mengandalkan pasokan daya dari listrik, seperti usaha penggergajian kayu tersebut.



Jumat, 27 Juni 2008 | 03:00 WIB

Jakarta, Kompas - Pemerintah perlu segera mengambil tindakan tegas untuk mengatasi krisis kelistrikan yang membuat pemutusan arus listrik bergilir di sebagian besar wilayah Jawa dan Bali terus-menerus terjadi.

Pengamat kelistrikan, Nengah Sudja, Kamis (26/6), mengatakan, krisis kelistrikan yang terjadi saat ini sudah di luar kemampuan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk mengatasinya.

Selain terbatasnya kapasitas pembangkit, perseroan juga menghadapi keterbatasan kemampuan membeli energi. Dengan keterbatasan itu, PLN tidak mampu mengimbangi pertumbuhan penggunaan tenaga listrik. ”Kita lihat harga bahan bakar, baik BBM maupun batu bara, terus melejit. Akibatnya, rentang harga jual listrik dengan biaya produksi makin jauh, sementara anggaran untuk membeli bahan bakar dibatasi,” ujar Nengah.

Pemutusan arus listrik secara bergilir di sistem kelistrikan Jawa-Bali kembali terjadi sejak 17 Juni 2008. Defisit terjadi karena sejumlah gangguan beruntun, antara lain adanya kerusakan di PLTU Suralaya dan PLTU Paiton. Defisit tambah parah dengan berhenti beroperasinya PLTU Cilacap pada 21 Juni lalu karena tidak sanggup membeli batu bara.

Jakarta makin parah
Dalam dua pekan ke depan, pemutusan arus listrik untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya diperkirakan akan semakin luas karena pasokan gas untuk PLTGU Muara Karang dan PLTGU Tanjung Priok dihentikan sementara untuk pemeliharaan jaringan pipa dari produsen. Pemeliharaan jaringan itu akan berlangsung dua minggu mulai tanggal 11 Juli.

Direktur Utama PT PLN Fahmi Mochtar mengatakan, dengan kondisi cadangan sistem Jawa-Bali hanya 18 persen, defisit akan langsung terjadi begitu ada pembangkit yang keluar dari sistem atau ada pemeliharaan.

Pada saat gangguan terjadi di pembangkit besar seperti Suralaya dan Paiton, terjadi defisit yang sangat besar yang mencapai 1.200 MW. Akibatnya, pemutusan arus harus dilakukan di semua wilayah Jawa dan Bali.

Pemutusan arus listrik yang berlangsung dari pagi hingga sore hari itu semakin mengganggu aktivitas perekonomian. Di Semarang, misalnya, sejak akhir Mei lalu, sejumlah hotel mendapat giliran pemutusan arus listrik sebanyak satu sampai tiga kali dalam seminggu. Lama waktu pemutusan mulai dari 2 jam hingga 9 jam per hari. Para pengusaha mengeluh karena pemutusan arus itu mengganggu kinerja dalam melayani tamu hotel. Selain itu, biaya operasional hotel ikut membengkak karena penggunaan genset lebih banyak.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Semarang Imam Kamal mengatakan, ongkos untuk membeli solar untuk menghidupkan genset semakin besar.

”Dulu kapasitas gensetnya kecil, sekitar 150 kilovolt ampere (KVA). Sekarang, karena gensetnya sering dipakai, saya beli yang kapasitasnya 4.000-an KVA,” ujarnya.

Sementara itu, akibat makin kerapnya pemutusan arus listrik oleh PLN, semua komisariat daerah Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Cabang Jawa Tengah akan menggugat kesepakatan yang mereka buat dengan PLN dalam soal pengurangan listrik. Ketua API Jawa Tengah Dewanto Kusumo mengatakan, banyak perusahaan tekstil di Jawa Tengah telah mengirimkan persetujuan untuk mengurangi pemakaian listrik dengan harapan mendapatkan pemberitahuan saat pemutusan arus oleh PLN.

Namun, ternyata masih ada pemutusan tiba-tiba tanpa pemberitahuan. ”Kami akan meminta pembicaraan ulang dengan PLN Jawa Tengah. Apakah kesepakatan dilanjutkan atau jalan sendiri-sendiri,” kata Dewanto.

Keterbatasan pasokan listrik juga dikeluhkan kalangan industri dan pelaku usaha di Jawa Timur. Ketua Asosiasi Pengusaha Cold Storage Indonesia (APCI) Jawa Timur Johan Suryadarma mengemukakan, listrik yang byarpet menurunkan kualitas produk hasil laut untuk ekspor.

Meskipun ketika arus listrik terhenti kontainer-kontainer bisa tetap beroperasi karena menggunakan genset, energi tidak langsung berganti ke genset. Jeda saat pergantian berpengaruh terhadap kualitas produk.

Untuk meminimalkan kerugian, Johan mengusulkan agar masa closing time bagi eksportir dipersingkat. Selama ini barang sudah harus masuk mulai enam sampai delapan shift sebelum keberangkatan kapal. Tiap shift itu merupakan delapan jam kerja. ”Berarti rata-rata sudah harus siap tiga hari sebelumnya,” kata Johan.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Djimanto mengatakan, keterbatasan pasokan energi semakin menggerogoti daya saing industri. ”Begitu listrik dibatasi, otomatis kapasitas terpakai turun, pabrik tidak bisa lebih cepat menyelesaikan pesanan. Padahal, kami sebenarnya masih prospektif untuk penambahan industri,” ujarnya.

Djimanto mengatakan, pemerintah harus mengambil kebijakan untuk mengompensasi beban yang ditanggung industri selama defisit kelistrikan terjadi. ”Apakah sewa jaringannya diturunkan atau upaya lain yang bisa diambil sampai proyek 10.000 megawatt (MW) masuk di 2009,” papar Djimanto.

Tunggu pemerintah
Fahmi Mochtar mengatakan, PT PLN baru menyampaikan secara nonformal kepada pemerintah terkait kondisi yang dihadapi PLN. ”Kami sampaikan semua, termasuk harga minyak yang sudah 130 dollar AS, harga batu bara yang hampir Rp 800.000 per ton. Masalahnya yang terkait dengan kelistrikan ini kan banyak, selain departemen teknis sebagai regulator, juga Departemen Keuangan dan Kementerian Negara BUMN,” ujar Fahmi.

Ia mengatakan, dari sisi pertumbuhan konsumsi listrik, asumsi 1,9 persen dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sudah terlampaui. Bahkan, beban puncak sudah mencapai 17.000 MW. PLN harus bisa mengatasi pertumbuhan yang tinggi itu di tengah keterbatasan kapasitas pembangkit dan biaya bahan bakar yang semakin membengkak. Menurut Fahmi, PLN terus memperhitungkan kebutuhan riil subsidi dengan kondisi-kondisi tersebut. Alokasi subsidi listrik di APBN 2008 dipatok Rp 60,1 triliun.(A09/EKI/GAL/BEE/DOT)

Robby Darwis Ikut Pelatihan Lisensi B

BANDUNG, (PR).-
Serius menggeluti dunia kepelatihan, Asisten Pelatih Persib Robby Darwis akan mengikuti kursus pelatihan Lisensi B Nasional yang diselenggarakan oleh PSSI Pusat di Magelang Jawa Tengah, 30 Juni hingga 18 Juli.

"Saya telah meminta izin kepada Manajemen Persib dan kantor untuk ikut kegiatan ini. Pada laga pertama Persib, saya tidak ikut mendampingi tim," ujar Robby di Lapangan Persib Jln. A. Yani Bandung, Kamis (26/6).

Saat ini, Robby sudah mengantongi lisensi kepelatihan C AFC. Ia tampaknya akan terus menggeluti dunia kepelatihan. Sebagai mantan pemain nasional, dia sudah memiliki dasar-dasar teknik sepak bola dan ilmu kepelatihan dari pengalaman ketika aktif sebagai pemain sepak bola.

Robby sudah resmi mendaftar sebagai peserta. Selama berlangsung pelatihan, para peserta harus mengikuti kegiatan secara penuh. Absen sekali saja tidak akan lulus. Untuk itu, selama pelatihan berlangsung, para peserta ini tidak bisa diganggu.

Setelah pensiun dari pemain sepak bola, Robby sempat fokus bekerja di Bank BNI 46 Bandung. Lama tidak terdengar sepak terjangnya, dia memulai karier menjadi pelatih Pro Duta Bandung, mulai dari Divisi III hingga Divisi II. Pada 2007 lalu, bersama Djadjang Nurdjaman dia mendapat kepercayaan menjadi Asisten Pelatih Persib mendampingi Pelatih Kepala Arcan Iurie Anatolievici.

Pada Liga Super Indonesia (LSI) 2008, Robby masih dipercaya menjadi asisten pelatih. Kali ini dia berduet dengan Yusuf Bachtiar mendampingi Pelatih Kepala Jaya Hartono. (A-65)***

Rabu, 25 Juni 2008

The Changcuters Menebar "Racun", Menuai Popularitas



BANYAK orang berpendapat, racun selalu menyakitkan, bahkan mematikan. Lalu, bagaimana jika racun tersebut malah digilai?

Racun itu sebenarnya sudah mewabah di Kota Bandung pada pertengahan tahun 2006. Namun, seiring perjalanan waktu, proses, dan keberuntungan, membuat racun itu saat ini menyebar ke berbagai kota di Indonesia. Racun yang digemari banyak orang itu bernama The Changcuters.

"Mencoba Sukses" yang diluncurkan 11 Agustus 2006 adalah album pertama The Changcuters yang dirilis minor label Masterplan Records milik Uki Peterpan. "Pria Idaman Wanita", "Gila-gilaan", atau "Hijrah ke London" adalah tiga hit yang sempat menjadi primadona radio-radio di Bandung saat itu. Ruang lingkup distribusi yang sempit membuat gaung The Changcuters hanya terasa di Bandung.

Dua tahun kemudian, Bandung sudah tidak mampu lagi memonopoli The Changcuters. Perpindahan dari minor ke major label Sony BMG tak kuasa membendung The Changcuters untuk merambah semua pelosok di Indonesia. Dengan album "Mencoba Sukses Kembali" (2008) yang mengandalkan single "Racun Dunia" dan "I Love U Bibeh" sebagai jagoan. Belum lagi efek "Tarix Jabrix", film perdana mereka yang ikut menyebarkan wabah fenomena The Changcuters di segmen anak, remaja, hingga dewasa.

Selain musik berdarah garage rock yang energik, penampilan rapi berseragam dengan corak bervariasi dan stage act terkonsep adalah salah satu ciri khas yang melekat pada The Changcuters dalam setiap penampilannya. Sebuah konsep yang memang sudah dirancang matang sejak awal band ini didirikan pada 2004, sebagai wujud kesadaran bahwa penampilan audiovisual merupakan satu paket tak terpisahkan dalam dunia pertunjukan. Filosofinya cukup sederhana. "Kami tidak ingin di antara kami ada yang lebih keren atau menonjol daripada yang lain. Kalau pakai seragam semuanya kan sama, enggak ada sirik-sirikan. Lagi pula kita ingin menunjukkan pada remaja, bahwa berseragam itu keren," ujar Mohammad Iqbal alias Qibil (lead guitar), yang sering disebut sebagai "dalang" di balik penampilan The Changcuters.

Keseragaman ini sekaligus menjadi magnet visual The Changcuters, hingga membuat band ini enak dipandang dalam setiap aksi mereka, di luar dugaan mampu "meracuni" gaya busana ribuan Changcut Rangers, sebutan penggemar The Changcuters.

Menurut Qibil, ide berseragam tercetus spontan dalam suasana bercanda saat dia, Tria (vocal), dan Dipa (bas) yang merupakan the founding father of the band, berikrar membentuk sebuah band yang beda dan lebih mengutamakan gaya untuk bisa eksis. Citra band rock yang cenderung berantakan dalam hal fashion, ingin ditepis lewat penampilan elegan namun tetap berkarakter.

"Dari awal ikut audisi kami sudah berseragam. Bagi kami, yang penting mah penampilan dulu. Pokoknya ingin jadi band dengan citra menak (ningrat) dan enak dipandang kayak pegawai bank," ujar Qibil setengah bercanda.

Uniknya, tidak ada fashion stylist khusus yang merancang koleksi puluhan setel kostum panggung mereka. Qibil adalah sosok yang mencoba berinovasi dengan mendesain sendiri busana yang melekat di tubuh kurus masing-masing personel The Changcuters. Berkiblat pada gaya busana grup band tahun 20 hingga 60-an, dia berimprovisasi dan melakukan mix and match dengan gaya populer. Hasilnya, puluhan set kostum bernapaskan vintage, mulai dari jaket kulit, kemeja berdasi, rompi, jas, dan celana ketat dengan beragam model dan warna, menjadi pemanis atraksi panggung mereka.

Prioritas utama pada gaya dan penampilan tidak serta merta membuat The Changcuters mengabaikan nilai musik mereka. Dengan segala influence yang dibawa masing-masing personel seperti Tria yang memuja rock ’n roll ala Rolling Stone, Dipa, Qibil, dan Erick yang menggandrungi britrock dan britpop, hingga metal yang digilai Alda, mereka sepakat menamai musik mereka "Garasi Rock ’n Roll ala Changcuters". Musik yang cenderung kental diwarnai garage rock juga rock ’n roll.

"Kami tidak bisa mendefinisikan musik kami dan tidak pernah terbebani dengan definisi atau aliran tertentu. Pokoknya yang ngerock dan ngehits," kata Qibil.

Kebebasan itu pula yang diterapkan The Changcuters dalam proses kreatif penciptaan sebuah lagu. Hampir semua lagu The Changcuters, termasuk "Racun Dunia" dan "I Love U Bibeh" yang sukses meracuni berbagai media dan mendongkrak popularitas The Changcuters, menurut Qibil lahir dari jamming saat latihan. "Kita selalu membuat musiknya dulu dengan ngejam, liriknya baru diilhami cerita kehidupan sehari-hari," ujar Qibil.

Tak lelah berkreasi, untuk lebih menancapkan "racun" di telinga penikmat musik tanah air, The Changcuters berencana untuk mengeluarkan album kedua yang konsepnya masih dirahasiakan. Untuk itu, mereka menjanjikan kejutan yang akan dipersembahkan sebagai jembatan ke album berikutnya tersebut. "Yang penting terus mengikuti konsep band, eksis terus sampai mati," ucap Tria mencoba serius.

Makanya, Tria dkk. lebih bergairah ketika menyebutkan kata "eksis" ketimbang "sukses". Pasalnya, mereka merasa jika kesuksesan hanya bisa diukur ketika mereka semua sudah berhenti berkarya. Mereka menilai, definisi sukses hanya bisa dinilai ketika orang lain bisa memetik manfaat dari proses menuju kesuksesan. "Tapi kalau masih menuju sukses, ya boleh lah," ucap Tria yang disertai anggukan dari empat temannya yang lain.

Ya, dengan segala usahanya, The Changcuters mencoba untuk semakin menancapkan eksistensi. Lalu, cara apa yang bakal ditempuh? "Tetap tahu apa yang gaul, tetap dandan, harus tahu tren, maksudnya sadar diri, sadar tampang, jadi nanti walaupun sudah enggak eksis ya dieksiskan lagi," ucap Tria. (Arif Budi/Endah Asih)***

Air Kotor Bunuh 1,6 Juta Manusia


GETTY IMAGES/CHINA PHOTO
Warga kota Weinan Provinsi Shaanxi China mengantre air bersih menyusul susutnya pasokan air bersih karena terjadi kekeringan.




SINGAPURA, SELASA - Air minum yang tercemar akan menewaskan 1,6 juta orang tahun ini kecuali bila pemerintah melakukan upaya bersama untuk menjernihkan pasokan air. Demikian peringatan Badan Kesehatan Dunia (WHO) lewat laporan yang dipublikasikan, Senin (23/6).
"Lebih dari 4.000 orang meninggal setiap hari akibat penyakit yang bersumber dari pencemaran air," kata Dr James Bertram, koordinator WHO untuk Program Air, Sanitasi dan Kesehatan, Senin.

Jumlah korban tewas itu tidak hanya di negara-negara sedang berkembang, tapi juga di negara-negara maju. "Hal itu merupakan problem yang menyebar di semua negara, baik di negara yang sedang berkembang maupun di negara maju sekalipun," lapor surat kabar Straits Times mengutip Bertram menjelang acara Pekan Air Internasional di Singapura, yang dimulai Selasa.
Semua pemerintah harus mengantisipasi kekurangan air jangka panjang akibat meningkatnya permintaan dan perubahan iklim, katanya. Bank Pembangunan Asia memperkirakan, 700 orang di kawasan ini sulit menjangkau air minum yang aman bagi kesehatan. Sekitar dua miliar orang tak dapat mengakses fasilitas sanitasi dasar.

Sebuah laporan dari Program PBB untuk Lingkungan memprediksi, meningkatnya beban permintaan air akan menjadi "amat berat di negara-negara langka air" dalam beberapa dekade mendatang.

Semua pemerintah perlu mengadakan teknologi baru, mencakup sistem desalinasi dan penyaringan khusus, kata Bertram, dan menginvestasikan dana besar dalam membangun dan mengelola infrastruktur air.

Terdapat beberapa kemajuan, yaitu untuk pertama kali tahun lalu lebih dari 50 persen dari enam miliar penduduk dunia telah memperoleh pasokan air lewat pipa, katanya. "Meski demikian, umumnya air ini tidak layak dan tidak aman bagi kesehatan," kata Bertram kepada surat kabar itu.

WHO berharap, Singapura menjadi model bagi negara-negara langka air lainnya. "Acara Pekan Air Internasional ini tidak hanya mempersilakan Singapura untuk berbagi pengalamannya dalam industri air, tapi juga menghimpun para pakar untuk mengemukakan pandangan mereka bertukar pikiran dalam solusi praktis," kata Ketua Eksekutif Badan Keperluan Publik Khoo Teng Chye.

Sumber : Ant

Kualitas Hidup Nelayan Pantura Jatuh

Bisa Makan Saja Sudah Untung


RATUSAN perahu nelayan parkir di Sungai Ciberes di Kec. Gebang, Kab Cirebon. Nelayan tradisional Gebang dilanda kesulitan akibat berkurangnya populasi ikan. Di sisi lain biaya hidup akibat kenaikan harga sembako makin tinggi.* AGUNG NUGROHO/"PR"


SUDAH jatuh tertimpa tangga, masih terkilir pula. Itulah gambaran nasib yang kini dialami para nelayan, tidak terkecuali nelayan di sepanjang Pantura Jabar. Sistem ekonomi neoliberal yang terus menghapus peran negara dalam kebijakan perekonomian, menjadikan seluruh sektor ekonomi, termasuk sektor perikanan laut, mengalami kejatuhan kualitas hidup.

Pencabutan subsidi yang berarti kenaikan harga BBM sebagaimana dikehendaki sistim neoliberal, bagai tsunami dahsyat. Seketika bangunan ekonomi nelayan porak-poranda--yang mapan jatuh ke posisi menengah, yang menengah terperosot ke posisi lemah, dan yang tadinya lemah kini mati suri.

Belum cukup dengan itu, faktor alam bagai tangga besi yang menimpa kehidupan nelayan. Pemanasan global (global warming) menjadikan alam tak ramah lagi. Laut Jawa, yang dikenal tenang, kini keganasannya sama dengan perairan samudra.

Sepanjang tahun, selalu muncul hambatan. Tidak hanya angin barat yang menjadi momok alam bagi nelayan, angin timur juga sama ganasnya. Di luar dua musim itu, pada bulan-bulan yang seharusnya panen ikan, angin sering kali bertiup kencang dan gelombang tinggi bisa mencapai lebih dari 4 meter.

"Dulu, nelayan hafal tanda-tanda alam. Musim barat mulai Oktober sampai Desember atau Januari. Setelah itu, laut kembali tenang dan nelayan menikmati panen. Hasil tangkapan melimpah. Sekarang, musim tak bisa diramalkan," kata Toto S., tokoh nelayan Kec. Gebang, Kab. Cirebon.

Apa yang terjadi di Gebang adalah contohnya. Sepanjang semester pertama tahun ini, baru terjadi dua kali lelang, yakni pada pertengahan Juni 2008. Sejak November 2007 sampai Juni 2008, memang tidak ada ikan yang bisa dilelang. TPI pun lebih banyak menganggur. Kalaupun ada lelang, omzetnya sangat minim, hanya Rp 25 juta. Padahal, sebelumnya, rata-rata bisa mencapai Rp 150 juta- Rp 200 juta per bulan.

"Juni ini paling tinggi Rp 50 juta. Padahal, biasanya Juni adalah salah satu bulan saat nelayan menikmati banyak hasil. Yang kita amati, tahun-tahun terakhir ini, dari 12 bulan, nelayan paling hanya melaut 3-4 bulan. Itu pun hasilnya jauh dari harapan," tutur Toto.

Selain dua musim (barat dan timur) yang membuat nelayan sulit mencari ikan, di sekitar perairan Kepulauan Rakit, sebelah utara Kab. Indramayu dan Cirebon, kini sering muncul badai. Badai rakit atau "barak", datang tak kenal cuaca, tiap saat bisa muncul.

Kesulitan melaut itu terutama dialami nelayan tradisional berperahu jukung dan sope yang kemampuannya di bawah 10 grosston (gt). Di Pantura Jabar, seperti di Cirebon dan Indramayu, jumlah nelayan tradisional mencapai 80%.

Fenomena itu tentu berbeda dengan nelayan berperahu modern purseseine dan sejenisnya di atas 20 gt, yang daya jelajahnya bisa sampai ke Sulawesi atau Laut Cina Selatan. Faktor alam belum terlalu memengaruhi dan jumlah ikan hasil tangkapan relatif stabil. Meski hasil tangkapan relatif stabil, secara ekonomis, nilainya sudah berkurang sejak harga BBM naik.

**

Mimpi menjadi sejahtera telah lama redup di kalangan nelayan tradisional berperahu sope dan jukung. Laut Jawa tidak lagi jadi tumpuan harapan tempat merajut masa depan, melainkan sekedar tempat menyambung hidup sehari-hari.

Karena laut hanya penyambung hidup sehari-hari, nelayan seolah gelap mata. Maraknya penggunaan jaring arad atau garok (pukat harimau kecil) adalah contoh bagaimana nelayan tidak punya lagi harapan sehingga terpaksa memakai garok supaya kebutuhan makan sehari-hari terpenuhi.

"Dari 1.600 armada sope di Gebang, 70-80% menggunakan garok. Setelah BBM naik dan laut makin ganas, perilaku nelayan berubah. Padahal, garok merusak perairan pantai, menjadikan ikan sulit bertelur. Ujung-ujungnya nelayan tambah susah," kata H. Dade Mustofa Effendi, B.Sc, Ketua KUD Mina Bumi Bahari Gebang.

Meski pemakaian garok menyalahi aturan, KUD maupun HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia) tak bisa berbuat apa-apa. Jika dilarang, apalagi kemudian ada razia, para nelayan pasti mengamuk dan menimbulkan anarki. "Ini masalah perut," kata Sekretaris HNSI Cirebon itu.

**

Situasi serbasulit, terutama sejak kenaikan harga BBM, membuat nelayan putus asa. KUD sebenarnya pernah menagih janji pemerintah yang akan menggulirkan KUR (kredit usaha rakyat). Sejumlah bank pun sudah dihubungi, tetapi KUR tak kunjung cair karena ternyata pihak perbankan mengaku tidak tahu-menahu.

Kini, KUD maupun HNSI tidak bisa berbuat banyak. Permodalan murah yang diharapkan tak juga digulirkan, sementara sebagian nelayan tradisionalnya kini mulai tidak melaut karena ketiadaan modal dan utang sudah membengkak di rentenir.

"Lihat aja sendiri, Sungai Ciberes di muara Gebang dipenuhi ratusan perahu nelayan. Mereka tidak punya modal untuk melaut dan lego jangkar. Artinya, nelayan menganggur," kata Dade.

Hal sama terjadi pada nelayan tradisional di Indramayu. Ketua Serikat Nelayan Tradisional (SNT) setempat, Kajidin menuturkan, nelayan benar-benar sedang mengalami kehidupan teramat pahit.

Di Indramayu dan Cirebon, tak sedikit nelayan yang mulai alih profesi, ada yang menjadi kuli angkut di TPI, buruh tani, buruh tambak udang atau ikan bandeng, sampai ada yang menjadi pemulung. Semua dilakukan untuk bisa bertahan hidup.

"Bisa makan saja sudah untung...," kata Kajidin. (Agung Nugroho/PR)***

Rafah Tetap Ditutup

PM Olmert Bertemu Presiden Mesir Hosni Mubarak


AP photo/HATEM MOUSSA / Kompas Images
Perempuan Palestina membawa tabung gas untuk diisi kembali di stasiun gas di Gaza City, Jalur Gaza, Senin (23/6). Pasokan gas ke Gaza secara bertahap dilakukan sejak hari Minggu lalu seiring gencatan senjata selama enam bulan antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza. Israel juga akan membuka blokade atas Gaza secara bertahap.



Rabu, 25 Juni 2008 | 03:00 WIB

Sharm El-Sheikh, Selasa - Mesir yang menjadi mediator dalam proses perundingan Israel dan Hamas terkait kesepakatan gencatan senjata Gaza, Selasa (24/6), memutuskan akan tetap menutup penyeberangan Rafah—satu-satunya jalan pintas menuju Israel—hingga masalah penahanan tentara Israel, Kopral Gilad Shalit, selesai.

”Kami mendapat jaminan Rafah tak akan dibuka sampai persoalan Gilad selesai,” kata pejabat Israel yang terlibat pertemuan Presiden Mesir Hosni Mubarak dengan PM Israel Ehud Olmert.

Sebelumnya, Israel berjanji mulai mengurangi pembatasan gerak di Gaza yang merupakan bagian dari kesepakatan gencatan senjata dengan kelompok bersenjata di Palestina, Kamis lalu. Namun, Israel tetap bersikeras tak akan membuka Rafah jika Gilad tak segera dibebaskan. Mesir berperan penting dalam perundingan di antara Israel dan Hamas itu karena Israel tidak mau berbicara langsung kepada Hamas yang dianggap sebagai kelompok teroris. Sebaliknya, Hamas juga tak mau mengakui kedaulatan Israel.

Gencatan senjata di Gaza—salah satu hasil perundingan—telah memicu protes keras dari dalam negeri Israel. Pasalnya, di dalam perundingan itu sama sekali tidak disinggung masalah pembebasan Gilad. Olmert dan Menteri Pertahanan Ehud Barak telah berjanji akan memasukkan isu itu ke dalam proses perundingan baru dengan Hamas. Kali ini Olmert menjanjikan imbalan pembebasan Gilad dengan pembebasan ratusan tahanan asal Palestina.

Olmert-Mubarak
Olmert bertemu Mubarak, Selasa di Sharm El Sheikh, dengan beragam masalah, terutama pembebasan Gilad dan negosiasi perdamaian Israel dengan Palestina serta isu Timur Tengah yang lain, seperti Lebanon dan ambisi nuklir Iran. Juru bicara Presiden Mesir, Sulaiman Awwad, menjelaskan, pembicaraan Olmert dan Mubarak lebih terfokus pada isu Gilad. Olmert meminta Mubarak membantu pembebasan Gilad karena akan meringankan krisis politik internal Israel yang mengancam jatuhnya pemerintahan Olmert akibat dugaan korupsi.

Olmert kembali mengutarakan kesediaan memberi konsesi nama warga Palestina yang ditahan seperti yang dituntut Hamas. Awwad menambahkan, Mubarak juga meminta Olmert memenuhi permintaan AS dan Uni Eropa supaya mundur dari Lembah Pertanian Shebaa, Lebanon selatan, untuk penyelesaian masalah senjata Hezbollah yang menolak menanggalkan senjata karena Israel menduduki Lembah Shebaa itu.

Sementara dari Gaza dilaporkan, terdapat dua roket masuk ke Israel selatan dari arah Gaza, Selasa sore. Serangan roket itu adalah insiden pertama setelah tercapai gencatan senjata, Kamis. Kelompok Jihad Islam mengaku bertanggung jawab dan menyatakan hanya membalas serangan Israel di Tepi Barat.(REUTERS/AFP/AP/MTH/LUK)

Sisi Lain Kehidupan Penulis "Best Seller"

Muda, Terkenal, dan Kaya


PENULIS tetralogi "Laskar Pelangi", Andrea Hirata menjawab pertanyaan peserta dalam acara bedah buku di Auditorium Campus Center ITB, Jln. Ganeca 10 Bandung, 28 Februari lalu. Andrea bukan hanya hadir di forum-forum sastra serius, tetapi juga di ruang-ruang yang lebih urban seperti stasiun radio, kafe, sampai mal.* ADE BAYU INDRA



ANDREA Hirata penulis tertralogi Laskar Pelangi sedang shooting di Belitong. Dewi "Dee" Lestari penulis Supernova sedang katarsis di Bali. Sementara Helvy Tiana Rosa penulis novel-novel Islami sedang sibuk menjadi juri festival teater. Bagitulah potret kehidupan para penulis novel terlaris di Indonesia saat ini.

Mereka bukan saja sibuk dengan berbagai kegiatan yang berhubungan langsung dengan dunia tulis-menulis, tetapi juga banyak hal di luar itu. Bisa bermain film, menulis skenario, menjadi juri, menerima penghargaan, atau bahkan menjadi bintang iklan televisi. Pendek kata, lewat novelnya, seribu pintu peluang sudah terbuka lebar.

Coba Anda bayangkan bagaimana kehidupan Kang Abik (Habiburrahman El Shirazy) yang sukses dengan novel Ayat-ayat Cinta dan filmnya ditonton jutaan orang. Atau bagaimana kehidupan para penulis asing seperti J.K. Rowling yang "menyihir" pembacanya dengan Harry Potter, atau Rhonda Byrne sang penulis The Secret yang karyanya terjual 5,25 juta kopi dalam waktu kurang dari enam bulan!?

Mungkin Anda akan membayangkan mereka tinggal duduk manis di rumah mewah sambil menerima royalti yang terus mengalir. Tanpa harus kehilangan kata karena dengan imajinasinya, ribuan bahkan jutaan kata akan terus terangkai.

Ternyata tidak demikian, Andrea Hirata malah sedang sibuk shooting di Belitong sehingga pertemuan "PR" dengannya terpaksa lewat surat elektronik saja. Sebelumnya, Andrea juga keliling dari satu kota ke kota lain untuk berbagi pengalaman kepada para pembaca.

Andrea bukan hanya hadir di forum-forum sastra serius, tetapi juga di ruang-ruang yang lebih urban seperti stasiun radio, kafe, sampai mal. "Kadang kala sangat memusingkan kepala," ujarnya saat ditanya bagaimana rasanya jadi penulis muda yang kaya dan terkenal.

Tulisan pertama Andrea Hirata sebenarnya bukan karya sastra, tetapi karya ilmiah. Buku pertamanya berjudul The Science of Business yang amat matematis diadaptasi dari tesis S-2 Andrea saat di Sorbonne, Prancis. Buku itu diterbitkan tiga tahun lalu oleh Penerbit ITB. "Setahun kemudian baru saya menulis Laskar Pelangi. Jadi, karya sastra saya yang pertama itu, ya Laskar Pelangi," ujarnya.

Tidak berbeda dengan Andrea Hirata, Helvy Tiana Rosa yang lebih dulu mengibarkan kesuksesannya di dunia tulis-menulis, punya kesibukan yang sama. Saat dihubungi "PR", Helvy sedang sibuk menjadi juri festival teater. "Waduh, maaf banget saya dari pagi sampai malam terus nih di festival," ujarnya dalam pesan singkat Helvy.

Penulis kondang yang juga anggota Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) ini sudah melahirkan 30 judul buku, 10 naskah drama, antologi bersama, ada juga kumpulan puisi dan kumpulan cerpen sekitar 30. Beberapa novelnya antara lain Saat Mas Gagah Pergi, Risalah Cinta, Akira, dan lain-lain.

Tak ayal, berkat kreativitas dan kegigihannya tersebut, Helvy sering diundang keliling hampir seluruh daerah di Indonesia. Ia juga pernah mengisi pelatihan penulisan sampai ke hutan, pabrik, kelompok anak petani bahkan sampai ke luar negeri, Mesir sampai ke AS yang penduduknya non-Muslim. Yang unik, Helvy juga pernah membina FLP Hong Kong yang seluruh anggotanya pembantu rumah tangga yang suka menulis.

"Jadi siapa pun, menurut saya bisa menjadi penulis dan saya senang bisa bermanfaat buat orang lain walaupun hanya sedikit," ujarnya.

Selain berhasil memahatkan novel-novel Islami dalam khazanah kesusastraan Indonesia, Helvy juga dikenal sebagai peretas berdirinya Forum Lingkar Pena (FLP) yang beranggotakan para penulis novel Islami. FLP berdiri bukan saja di hampir setiap daerah di Indonesia tetapi juga di luar negeri seperti di Malaysia, Singapura, sampai Amerika. Efeknya, terjadi booming novel-novel Islami.

**

KARYA-KARYA yang bagus, bernas, dan memberi inspirasi tentu saja bukan hasil pekerjaan sembarang. Kesuksesan mereka bukan hasil sehari dua hari, tetapi hampir seusia mereka sendiri. Andrea Hirata, misalnya. Meski ia baru mencuat dengan Laskar Pelangi yang menghebohkan, ia sudah menulis sejak dulu. Begitu juga Helvy, Dewi Lestari, Ayu Utami, dkk. Helvy malah mencatat ratusan karyanya secara intensif di berbagai majalah Islami seperti Ummi.

Tak mengherankan bila Helvy pernah mendapat penghargaan dari tabloid Nova dengan kategori wanita Indonesia yang inspiratif, dari majalah Ummi untuk kategori anugerah khusus, lalu tahun 2005 penghargaan dari Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) sebagi tokoh perbukuan Islam dan tahun 2006 Eramuslim Award.

Namun, seiring diterimanya karya-karya mereka oleh masyarakat dan berhasil di pasaran, sisi negatif pun muncul. Karya Helvy yang berjudul Akira sempat diplagiat. Tidak hanya itu, beberapa cerpen milik Helvy pun diplagiat dalam bentuk antologi yang bukan atas nama dirinya.

Tak urung, perempuan berjilbab ini meminta pertanggungjawaban sang plagiator untuk memuat permintaan maaf di lima koran nasional terkemuka di Malaysia dan Indonesia. Disertai pernyataan bahwa buku yang ia tulis merupakan jiplakan dari karya dirinya.

Begitu juga novel Andrea Hirata terbaru yang berjudul Maryamah Karpov. Novel yang baru akan diterbitkan Oktober 2008 ini malah telah beredar dengan judul yang sama dalam bentuk buku maupun e-book. Sampai akhirnya Andrea lewat Renjana Organizer yang menangani weblog-nya mengumumkan secara resmi bahwa buku dan e-book tersebut palsu! Karena penulisnya bukan Andrea Hirata.

Dunia reka cipta memang tak bisa mengelak dari plagiat. Meski demikian, para penulis aslinya mendapatkan uang yang tidak sedikit dari karyanya. Andrea Hirata mengatakan, Maryamah Karpov, novel keempat (terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi) telah ditawar beberapa penerbit dengan harga mendekati Rp 1 miliar dan royalti 15 persen.

"Tapi saya belum putuskan. Bagi saya yang penting bukan aspek komersial, tapi saya ingin menemukan penerbit yang cukup punya idealisme dan integritas. Maryamah Karpov insya Allah akan terbit Oktober 2008 seusai pembuatan film ‘Laskar Pelangi’," ujarnya.

Penulis lain yang mengkhususkan diri pada genre cerita anak, Ali Muakhir mengatakan, untuk karya-karya best seller, royaltinya bisa dibanderol antara Rp 5 juta sampai Rp 10 juta. Jauh lebih "beruang" dibandingkan dengan menulis artikel di majalah atau surat kabar yang dihargai antara Rp 300.000,00 sampai Rp 1 juta untuk satu artikel.

**

YANG membanggakan, semua hasil jerih payah tersebut, tidak menjadikan para penulis terkenal dan kaya ini, ongkang-ongkang kaki. Tidak juga menjadi "seleb" yang bisa menghabiskan uang untuk kesenangan. Malah Andrea mengaku tidak punya rumah. Ia masih tinggal di tempat kos di kawasan Tamansari Bandung. Kalaupun pulang kampung, ia pulang ke rumah ibunya di Belitong.

Tentang semua uang honornya, Andrea mengatakan bukan tipe orang hedonistis. Ia lebih suka mengalokasikan honor (royalti) itu untuk keperluan program amal pendidikan yang dijalankan dalam program "Laskar Pelangi in Action". Program ini adalah program amal pendidikan Andrea yang dibiayai dari royalti buku dan film "Laskar Pelangi".

Andrea juga mengaku tidak punya banyak asuransi dan tabungan. "Saya selalu mendidik diri saya untuk hidup sederhana, begitulah sikap saya dan begitulah pelajaran dari keluarga (orang tua saya). Saya juga tak suka belanja. Saya punya tanggung jawab besar pada keluarga. Jika saya punya uang, saya pikir ingin menyekolahkan keponakan-keponakan saya yang pintar dan secara ekonomi belum mampu, atau jika ada uang lebih saya ingin memberi beasiswa pada siswa pintar tapi kurang mampu," tuturnya membeberkan.

Andrea mengaku tidak begitu suka membicarakan uang dan ketenaran. Ia merasa lebih antusias bila seorang pembaca memberi tahu dirinya bahwa karya-karyanya begitu menginspirasi dan mencerahkan mereka. Memberi kekuatan kepada mereka. Tentang obsesinya, Andrea bilang, "Saya tetap ingin menjadi guru dan terus berkontribusi untuk dunia pendidikan," ungkapnya.

Helvy juga begitu. Ia mengatakan, persoalan gaya hidup dan berapa uang yang diperoleh serta untuk apa, bukan pertanyaan yang tepat untuknya. Sebab menurut Helvy, ia hanya menulis mengikuti hati nurani dan menulisnya lebih karena semua Muslim itu harus menyadari bahwa hidup mereka itu ibadah, karena itu segala apa yang kita lakukan mulai dari bangun tidur dan tidur lagi kalau bisa harus bernilai ibadah.

"Makanya, ketika saya menulis, saya harus bisa menghasilkan karya yang bernilai ibadah. Kalau kemudian orang-orang mengatakan tulisan itu sastra Islami, sebenarnya itu bukan datang dari saya sendiri, tetapi dari penilaian orang-orang," ujarnya.

Helvy juga mengaku lebih senang diajak berbicara tentang tanggung jawab pengarang daripada tentang gaya hidup. Seperti dirilis eramuslim.com, Helvy mengatakan, dia tidak setuju dengan teori sastra modern yang mengatakan bahwa ketika tulisan itu dilempar ke publik maka pengarangnya sudah mati, karena dia telah menjadi milik publik. Itu dapat membuka celah bagi penulis untuk lepas tangan atas karyanya.

"Menurut saya, karya itu harus dipertanggungjawabkan dari mulai niat membuatnya sampai karya itu dilempar ke publik bahkan sampai pengarang itu meninggal," kata Helvy. (Eriyanti/"PR")***