Sabtu, 27 November 2010

Hasil Penelitian: Terbukti Muhammad Itu Ada!

Sabtu, 27 November 2010, 05:01 WIB


 wikimedia.org
Papyrus


REPUBLIKA.CO.ID,Sejumlah ilmuwan kritis mengklaim, Muhammad tidak pernah ada. Dan Islam adalah ajaran yang muncul berabad-abad kemudian. Namun, setelah meneliti teks-teks papirus berbahasa Arab, Petra Sijpesteijn dari Universiteit Leiden membuktikan sebaliknya.

Bagaimana Islam muncul dan apa yang terjadi pada periode awal sejarah Islam? Sebelumnya, ilmuwan yang ingin tahu soal itu harus merujuk kepada versi sejarah Islam resmi yang baru disusun sekitar 200 tahun setelah Muhammad meninggal. Baru akhir-akhir ini muncul ketertarikan terhadap sumber-sumber yang lebih objektif, walaupun lebih sulit diakses - seperti koin, inskripsi dan teks-teks papirus.

Terutama teks papirus amat penting, kata Petra Sijpesteijn, guru besar bahasa Arab di Universiteit Leiden. "Papirus adalah satu-satunya sumber kontemporer mengenai 200 tahun pertama sejarah Islam."

Pionir
Sijpesteijn adalah salah satu dari sedikit ahli (bahasa)Arab dengan spesialisasi dalam bidang penelitian teks-teks papirus berbahasa Arab. Belum lama ini ia menerima satu juta euro dari Lembaga Penelitian Eropa untuk meneruskan penelitiannya.

Papirus adalah sejenis kertas kuno yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari: mencatat transaksi komersial, korespondensi pribadi, dan semacamnya. Ribuan teks papirus ditemukan terkubur pasir di Mesir dan wilayah-wilayah Timur Tengah lainnya.

Menurut Sijpesteijn, teks-teks ini biasanya sulit  dimengerti, karena sebagian sudah hancur atau dibuat dengan tulisan yang sulit dibaca dan berbahasa dialek setempat. "Namun siapa pun yang bisa membacanya, punya akses meneliti kehidupan sehari-hari masyarakat Arab di periode awal islam."

Ilmu papirologi Arab masih amat muda. Baru sedikit dari ratusan ribu teks yang dipelajari. Toh sekarang, penganut islam sudah bisa menarik napas lega: menurut Sijpesteijn, data-data yang ditemukan mengkonfirmasi cukup banyak sumber resmi islam.

Tak Terorganisir
Sijpesteijn tak setuju dengan sekelompok kolega yang dijuluki para 'revisionis.' Mereka mengklaim bahwa nabi Muhammad tidak pernah ada. Orang-orang Arab sebenarnya cuma kelompok tak terorganisir yang kebetulan berhasil menguasai setengah dunia. Dan islam diduga baru diciptakan dua ratus tahun kemudian di Irak.

"Teks-teks papirus menunjukkan bahwa serangan tentara Arab dilakukan dengan cermat dan terorganisir. Orang Arab melihat diri sendiri sebagai penakluk dengan misi religius. Mereka ternyata juga punya pandangan religius - mereka menjalankan dan menjaga elemen-elemen penting islam yang nantinya juga dimiliki dan diyakini muslim pada abad-abad selanjutnya."

Begitulah, menurut Sijpesteijn, tak lama setelah Muhammad meninggal, muncul perintah haji dan zakat. Ia juga menemukan papirus dari tahun 725 yang menyebutkan baik nabi Muhammad maupun islam.

Penaklukan Islam
Toh penemuannya tetap mengancam keyakinan sebagian muslim modern mengenai sejarah Islam. Dari sumber-sumbernya, misalnya, diketahui bahwa kemenangan Arab bukanlah sesuatu yang mengejutkan dan unik seperti dikisahkan buku-buku sejarah islam.

Faktanya, tak banyak orang menyadari kemenangan Arab. "Di Mesir dan Suriah, misalnya, hampir tak ada yang berubah pasca kemenangan Arab. Hanya saja, pejabat-pejabat tertinggi mereka digantikan oleh orang Arab. Perlu waktu berabad-abad sebelum pengaruh bahasa Arab dan islam menyebar di masyarakat luas."

Teks-teks papirus ini juga menyangkal gagasan banyak muslim modern bahwa Muhammad menyebarkan islam sebagai agama 'siap-pakai.' "Dari teks-teks ini terlihat bahwa islam perlahan-lahan berproses menemukan bentuknya pada abad-abad awal. Waktu itu, banyak sekali perdebatan mengenai makna menjadi seorang muslim."

Haji
Juga ditemukan papirus yang menuliskan, ada perdebatan apakah zakat harus diwajibkan oleh negara atau cukup disumbangkan secara sukarela. "Pertanyaan besarnya: apa makna islam untuk orang-orang pada tahun 700? Apakah waktu itu sudah ada lima rukun islam dan perintah naik haji seperti yang kita kenal sekarang?"

Red: Krisman Purwoko
Sumber: RNW

Jembatan Citepus Ambles Selebar Tiga Meter


PENGENDARA harus bergantian menggunakan sebagian badan jalan yang tersisa, setelah jembatan Sungai Citepus ambles di Jln. Pajajaran Kel. Arjuna, Kec. Cicendo, Kota Bandung, Jumat (26/11). Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa yang terjadi pukul 12.50 WIB tersebut, tetapi hal itu sempat membuat kemacetan panjang.* ANDRI GURNITA/"PR"


BANDUNG, (PR).-
Jalan aspal di Jembatan Citepus Kel. Arjuna, Kec. Cicendo, Kota Bandung ambles hingga membentuk lubang berdiameter tiga meter. Lubang itu membuat dasar sungai sedalam tujuh meter bisa terlihat dari atas. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu.

Menurut Eded (56), warga RT 5 RW 8 Kel. Arjuna, Kec. Cicendo, peristiwa ini terjadi pukul 12.50 WIB. "Sebelum kejadian ini, sudah ada retakan sejak dua minggu lalu," katanya.

Akibat retakan itu, jalan membentuk cekungan yang digenangi air hujan. Diduga genangan air mengurangi kekuatan jalan hingga akhirnya ambles.

Sejak retak-retak, warga menghalangi area retakan dengan tanaman-tanaman dan kursi agar tidak dilewati kendaraan. Dengan demikian, saat ambles, tidak ada kendaraan atau orang yang melintas di atasnya.

Eded mengatakan, sebelum kejadian itu, bibir Sungai Citepus yang berada di dekat jembatan mengalami longsor hingga tiga kali. Di atas bibir sungai itu terdapat menara besi milik Telkom.

"Sejak longsor itu, kami sudah meminta menara itu diambil. Sudah dua kali longsor tidak diambil, ketiga kalinya baru diambil," ujarnya.

Pengambilan menara itu menggunakan alat berat berupa crane, yang dilakukan pada 13 November malam. "Waktu mengambil menara itu cranenya diparkir di jalan ini. Setelah itu jalannya jadi retak-retak," tutur Eded.
Hal itu diamini oleh Nenden (50), warga Jln. Bima RT 5 RW 2 Kel. Arjuna, Kec. Cicendo, Kota Bandung. Menurut dia, keretakan itu terjadi setelah alat berat diparkir di lokasi tersebut. "Ditambah hujan sehingga retakannya tergenang air terus," ucapnya.

Akibat kejadian ini, arus lalu lintas di Jln. Pajajaran mengalami kemacetan panjang.

Kepala Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Kota Besar Bandung Ajun Komisaris Besar Sambodo mengatakan, untuk mengendalikan lalu lintas di salah satu jalan protokol yang menuju Bandara Husein Sastranegara Kota Bandung tersebut, diberlakukan pola buka-tutup. "Agar tidak terjadi longsor yang lebih besar," katanya.

Ia mengimbau masyarakat yang akan menuju ke Bandara Husein Sastranegara agar melalui jalur belakang, misalnya dari arah Jln. Pasteur dan Jln. Gunung Batu atau dari persimpangan Pasteur. 

Gorong-gorong
Kepala Balai Pengelolaan Jalan Wilayah Pelayanan III Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat, Bambang Nugroho mengakui bahwa jalan aspal di Jembatan Citepus Kel. Arjuna, Kec. Cicendo, Kota Bandung yang ambles hingga membentuk lubang berdiameter 3 meter merupakan jalan provinsi. Namun, pada awal tahun 2011 jalan tersebut akan berubah status menjadi jalan nasional.

"Status jalan tersebut memang jalan provinsi. Dan setelah kami selidiki ternyata gorong-gorong tersebut sudah ada sejak zaman Belanda yang konstruksinya hanya pasangan bata. Pasangan bata tersebut sudah hancur yang berakibat amblesnya jalan karena tidak kuat menahan beban kendaraan yang melewati jalan tersebut," kata Bambang kepada "PR", di Kota Bandung, Jumat (26/11).

Dinas Bina Marga akan secepatnya melakukan perbaikan darurat karena perbaikan secara permanen akan dilakukan pada awal tahun 2011. "Sementara kami akan pasang armco yakni semacam pelindung jembatan yang terbuat dari semi baja. Insya Allah, pemasangan hanya membutuhkan waktu sehari," tuturnya.

Longsor
Akses jalan yang menghubungkan Bandung-Pangalengan sempat terputus selama lebih dari lima jam, menyusul longsor yang terjadi di Jln. Raya Pangalengan KM 34 Kp. Cileuweung, Desa Tribakti Mulya RW 2, Kec. Pangalengan, Kab. Bandung, Jumat (26/11) pukul 17.30 WIB. Dua orang dilarikan ke rumah sakit terdekat karena mengalami luka ringan, setelah mobil yang mereka kendarai terkena material longsor.

Kepala Desa Tribakti Mulya, Edi Kurnaedi (47) mengatakan, longsor terjadi setelah kawasan sekitar diguyur hujan selama beberapa hari. Sekitar pukul 17.30 WIB, warga mendengar gemuruh dan menemukan tebing setinggi 4 meter dan lebar 10 meter sudah longsor dan menutupi seluruh bagian jalan.

"Waktu kejadian ada mobil Hijet 1000 berpenumpang lima orang yang kebetulan lewat. Bagian depan mobil kena longsoran tanah sehingga rusak berat dan kaca-kacanya pecah," tuturnya.

Kejadian itu menyebabkan dua penumpang mobil mengalami luka ringan, yaitu Hendra (18) dan seorang penumpang lain yang diperkirakan berusia 13 tahun. (A-170/A-194/A-180/A-198)***

Jumat, 26 November 2010

Pelajari Islam di Makkah, Snouck Hurgronje Berpura-pura Menjadi Mualaf?

Jumat, 26 November 2010, 14:24 WIB


  Arab News
Snouck Hurgronye berjalan disamping Pangeran Saud pada 1935



REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Snouck Hurgronje. Nama itu tak asing lagi dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, khususnya di masa penaklukan Aceh oleh kolonial Belanda. Berkat informasi yang dipasok orientalis yang menguasai budaya Aceh dan Islam itu, pasukan kolonial Belanda berhasil menguasai Aceh.



Masjidil Haram saat Hurgronje berada di Makkah





Rupanya, kiprah warga Belanda itu tak hanya tercatat di bumi Serambi Mekkah saja. Jejak kaki Hurgronje (1857-1936) juga sampai ke Makkah yang sesungguhnya di Arab Saudi. Demi mempelajari Islam, ritual haji, dan kehidupan masyarakat di Makkah, lulusan jurusan teologi di Universitas Lieden, ini pernah tinggal selama sekitar tujuh bulan di Kota Suci itu.

Pria yang lahir di Oosterhout, Belanda, pada 1857 dan memiliki nama lengkap Christiaan Snouck Hurgronje, ini bahkan dikabarkan sampai mengubah keyakinan agamanya alias menjadi mualaf demi bisa menetap di Kota Makkah. Semua itu dilakukannya agar bisa mempelajari Islam langsung di jantungnya.

Saat ini foto-foto karya Hurgronje saat menetap di Makkah sedang dipamerkan di Dubai Financial Center dengan diberi judul 'Makkah, Sebuah Petualangan Berbahaya'. ''Dia terpesona dengan berbagai macam agama, tetapi secaa khusus tertarik pada ajaran dan sistem kepercayaan Islam. Dia juga fasih berbahasa Arab,'' ujar Elie Domit, seorang kurator galeri.

Pada 1880, Hurgronje menulis tesis doktornya berjudul "Het Mekkansche Feest" (Pesta Makkah) yang menggambarkan ibadah haji dan adat istiadatnya. Pada waktu itu, pemerintah di negara-negara Eropa mulai melihat dukungan yang diberikan penduduk Muslim bagi upaya kemerdekaan bagi wilayah koloni Eropa dan Belanda. Makkah dipandang sebagai tempat berkumpulnya para pejuang Muslim fanatik.

Pada 1884, berkat didanai pemerintah Belanda, Hurgronje dikirim ke Jeddah untuk meneliti kehidupan Muslim fanatik di Makkah. Namun dia juga memiliki kepentingan pribadi untuk memasuki Tanah Suci. Karena bukan seorang Muslim, dia pertama kali berangkat ke Jeddah dengan maksud mendekati kalangan elit di sana.

Demi bisa memasuki Makkah dan mendapatkan kepercayaan dari warga serta pejabat pemerintah di sana, Hurgronje secara terbuka mengumumkan keputusannya untuk menjadi pemeluk Islam. Bahkan kemudian dia dikenal dengan sebutan Abd Al-Ghaffar. Berkat cara itu, dia akhirnya diizinkan untuk memasuki Makkah dan perjalannya diatur pada 21 Januari 1885.



Penduduk Makkah saat itu

Selama tujuh bulan, Hurgronje tinggal di Makkah. Meski terbilang singkat, dia mengamati, mencatat, dan mempelajari kehidupan masyarakat lokal. ''Waktu itu, Makkah memiliki salah satu pasar budak terbesar di dunia, dan Hurgronje kagum dengan perlakukan manusiawi yang diberikan kepada budak karena budak-budak itu diperlakukan sebagai anggota keluarga,'' ujar Domit.

Hurgronje juga mengamati kehidupan wanita di Makkah. Persoalan status sosial, rasa mode, dan kebebasan yang diberikan kepada kalangan wanita ini dibandingkannya dengan wanita di kota-kota di Timur lainnya.

Minatnya yang begitu besar terhadap Makkah membuat curiga pemerintah negara Eropa yang lain. Setelah itu terungkap bahwa Hurgronje adalah seorang mata-mata, penipu, sekaligus sebagai sedikit dari kalangan orientalis kala itu. Tak lama usai menikahi wanita Ethiopia, dia dideportasi dari Arab Saudi atas permintaan pemerintah Prancis yang menuduhnya telah mencuri batu Taima.

Akibatnya, Hurgronje harus segera meninggalkan Makkah. Dengan tergesa, dia mengumpulkan catatan dan foto-foto yang diperolehnya selama tinggal di Makkah. Namun peralatan kamera ditinggalnya dan dititipkan kepada temannya yang seorang mahasiswa fotografi, Al-Sayyid Abd Al-Ghaffar.

Hurgronje kemudian balik ke Belanda dan mulai menulis berbagai artikel mengenai Makkah. Dia tetap menjalin kontak dengan temannya, Al-Sayyid untuk bertukar informasi dan mendapatkan foto-foto terbaru mengenai Makkah, termasuk foto-foto mengenai jamaah haji.

Sekembalinya di tanah kelahirannya, tak diketahui kabar selanjutnya, apakah dia masih memegang agama Islamnya, atau kembali ke agama asalnya. Namun, banyak karya yang dibuatnya mengenai Islam dan budaya Makkah. Mungkin karena itu pula, hubungan dia dengan petinggi Arab Saudi bisa terjalin baik. Sebagai pertanda eratnya hubungan itu, Pangeran Saud dari Kerajaan Saudi sampai tiga kali mengunjungi Belanda selama kurun waktu 1926-1935.

Red: Budi Raharjo
Rep: Arab News

Dominasi China dan Dinamika Papan Tengah

Jumat, 26 November 2010 12:24 WIB


Syarif Abdullah

Guangzhou (ANTARA News) - Perhelatan Asian Games XVI/2010 mendekati babak akhir. Jauh-jauh hari China telah memastikan diri sebagai juara umum perhelatan yang dihelar dua minggu lebih di Kota Guangzhou Provinsi Guangdong itu.

Pertandingan baru separuh perjalanan, pasukan China sudah memastikan diri sebagai juara umum, dan di atas kertas dalam seminggu terakhir perhelatan olahraga Asia itu, kontingen lainnya hanya bersaing untuk memperbaiki posisi di papan tengah.

"Perhelatan Asian Games XVI/2010 milik China, dominasi tuan rumah cukup kuat, dan itu tidak mengagetkan karena semua kontingen sudah memprediksi kekuatan mereka sulit dihentikan," kata Chef de Mission Kontingen Indonesia, Tono Suratman.

China pun mencatat rekor melampaui perolehan medali terbanyak yang mereka raih selama ini. Hingga Kamis (25/11) China telah mengemas 181 medali emas, 104 perak dan 91 perunggu. Jauh melewati peraihan medali pada Asian Games XV/2006 Doha dimana mereka hanya mengemas 159 medali emas.

Kontingen pesaingnyapun seperti Korea dan Jepang sadar betul bahwa keikutsertaan mereka di-event olahraga se-Asia itu tak mengejar peringkat, namun diimplementasikan dengan raihan medali.

Kenyataannya memang kedodoran juga, pasalnya dominasi China juga berimbas kepada melayangnya peluang mereka mendulang medali emas. Bisa dibayangkan China berhasil lolos pada 285 nomor pertandingan di mana 181 di antaranya meraih medali emas. Sebanyak 91 atlet atau tim China lainnya berhenti di peringkat ketiga.

Maka dengan raihan medali China sebegitu digdayanya di Asia, kontingen lainnya mustahil untuk bisa mengejarnya. Kecuali negeri China mengundurkan diri dari Asian Games XVI/2010, dan itupun sesuatu yang tidak mungkin.

Di lain pihak, China dengan Kota Guangzhou telah berhasil menampilkan episode baru penyelenggaraan Asian Games XVI/2010 secara modern, dan menunjukkan kepada dunia semuanya dilakukan dengan memberayakan potensi dan kemampuan infrastruktur, SDM serta teknologi sendiri.

Terlepas dari dominasi China dan keberhasilan menampilkan gelanggang pertandingan berstandar Olimpiade, persaingan strata kedua diperankan Korea Selatan dan Jepang. Peraihan medali China dengan Korsel dan Jepang juga begitu jomplang.

Korsel hingga Kamis mengumulkan 72 medali emas, 61 perak dan 85 perunggu dan menempati peringkat kedua. Disusul Jepang dengan 39 medali emas, 68 perak dan 86 perunggu.

Kontingen Asia Timur `menunjukkan" dominasi dan kemajuannya dibanding belahan Asia lainnya. Di strata ketiga Iran menjadi wakil Asia Barat bisa menyodok di papan tengah persaingan, itupun dengan raihan medali yang jomplang sekali yakni 19 emas, 11 perak dan 23 perunggu.

Pecahan Uni Soviet, Khazakstan dan Uzbekistan juga masih di posisi yang setara dengan medali emas belasan keping. Mereka meraihnya pada nomor-nomor klasik andalan mereka seperti dayung, atletik, senam dan beberapa cabang lainnya.

"Dominasi Asia Timur di cabang olahraga sangat signifikan, Hongkong dan China Taipei juga bersaing di sepuluh besar, hanya Iran dan pecahan Uni Soviet yang bisa mengimbangi," kata Tono Suratman.

Salip menyalip perolehan medali emas dan lainya, praktis hanya terjadi pada urutan lima ke bawahnya hingga peringkat ke-15. Sedangkan perolehan medali di papan bawah pun nyaris stagnan dan tidak banyak mengalami perubahan posisi atau peringkat akibat seretnya raihan medali bagi mereka.

PeringkatSementara posisi Indonesia, masih tetap berada di peringkat papan tengah dengan posisi terakhir di peringkat ke-13. Sepanjang helatan digelar, Indonesia belum pernah mampu menembus sepuluh besar.

"Peringkat pada saat event masih berlangsung tidak bisa jadi pegangan, dan lagi peringkat klasemen perolehan medali itu relatif yang penting jumah medali dan penampilan atlet kita hingga ke final," kata Ketua Umum KONI/KOI Rita Subowo.

Hal senada juga diungkapkan oleh Tono Suratman yang menyebutkan raihan medali Indonesia dengan empat emas, sembilan perak dan 12 perunggu sudah maksimal dan ada peningkatan dibandingkan empat tahun lalu di Asian Games XVI/2006 Qatar.

Empat medali emas, tiga medali emas diantaranya diraih dari nomor baru pada Asian Games yakni perahu naga yang menyumbang emas pertama hingga ketiga bagi Indonesia. Dan tradisi emas bulutangkispun masih bisa dipertahankan melalui pasangan putra Markis Kido/Hendra Setiawan.

"Dari delapan cabang yang ditargetkan menyumbangkan medali, hingga akhir event ini sudah 11 cabang yang menyumbangkannya, artinya ada hasil dari latihan selama ini," kata Tono Suratman.

Meski demikian ada beberapa cabang olahraga yang gagal menyumbang medali. Seperti karate dan Wushu yang semula ditarget emas gagal melakukannya.

"Kadang atlet kita sudah siap dan tampil maksimal, namun bisa terjadi kesalahan kecil saat bertanding yang membuat peluang itu melayang," kata Rita Subowo.

Sementara itu posisi Indonesia di deretan raihan medali kontingen negara-negara Asia Tenggara di peringkat ketiga dengan empat emas, sembilan perak dan 12 perunggu.

Kontingen Merah Putih berada di bawah Malaysia yang menempati peringkat kesembilan yang sementara baru mengumpulkan sembilan medali emas, 17 perak dan 13 perunggu dan Thailand dengan sembilan emas, tujuh perak dan 31 perunggu.

Singapura di peringkat ke-14 di bawah setingkat dari Indonesia dengan empat, tujuh perak dan enam perunggu. Vietnam di peringkat berikutnya dengan satu emas 17 perak dan 14 perunggu, kemudian Myanmar lima perak dan 1 perunggu dan Laos dua perunggu.

Hasil itu secara nyata menggambarkan peta kekuatan olahraga Asia Tenggara, di mana negeri kawasan itu akan turun pada ajang SEA Games 2011 di Indonesia.

Indonesia sendiri yang meraih empat emas dari perahu naga dan bulutangkis harus waspada karena selain Malaysia dan Thailand, juga Vietnam mencatat loncatan prestasi luar biasa pada Asian Games XVI/2010.

Yang pasti, prestasi negara-negara Asia sudah jelas terpetakan di Guangzhou, seluruh kawasan di Asia sudah terpetakan. Kota Guangzhou juga sukses menjalankan skenarionya membuat `panggung` olahraga Asia dengan kemasan modern, teknologi tigi dan futuristik sekaligus artistik.

(S033/T010)
COPYRIGHT © 2010

Jangan Beri Mereka "Handphone"

Pekerja Migran
Jumat, 26 November 2010 | 09:06 WIB


KOMPAS/LASTI KURNIA
Masyarkat sipil dan buruh yang tergabung dalam Komite Aksi PRT melakukan aksi damai menyuarakan kekecewaan terhadap tindakan Pemerintah dan DPR dalam menangani berbagai kekerasan terhadap Pekerja Rumah Tangga (PRT), Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (23/11). Pengunjuk rasa berharap DPR segera merevisi UU No.39 tahun 2004 agar menjadi UU yang melindungi Buruh Migran dan tidak terkecuali PRT. 


Oleh Sulistyowati Irianto*

KOMPAS.com — Sebut saja Nani, pekerja rumah tangga Indonesia di Uni Emirat Arab, dijebloskan majikan ke penjara karena kedapatan memiliki handphone dan ada SMS dari seorang laki-laki Banglades.

Temuan penelitian Pusat Kajian Wanita dan Jender Universitas Indonesia menunjukkan, memiliki handphone adalah larangan besar begitu masuk rumah majikan. Sekitar 80 persen tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia mendekam di penjara Uni Emirat Arab (UEA) karena tuduhan kasus asusila. Setelah diselidiki, ternyata berupa hubungan dengan laki-laki, termasuk hubungan bermesraan, melalui handphone (ponsel).

Terdapat jurang antara kultur Arab dan kultur Indonesia yang tidak dipahami banyak pihak terkait ”bisnis” migrasi. Secara budaya, pekerjaan domestik dianggap pekerjaan tambahan, kotor, berbahaya, ”undangan kerja dalam keluarga”, dan tidak dianggap layak masuk sebagai pekerjaan formal sehingga dianggap tidak perlu ada hukum khusus yang mengatur. Padahal, ketiadaan hukum ini adalah sumber utama berbagai persoalan.

Pemantauan dari representasi negara pengirim berhenti sampai pintu rumah majikan karena ketidakseimbangan dengan negara penerima. Selanjutnya, apa yang terjadi di dalam rumah adalah perwujudan relasi kuasa berdasarkan perbedaan kelas, ras, bangsa, dan jender.

Pembedaan

Ketiadaan hukum khusus dalam sektor domestik, baik di negara pengirim maupun penerima, menyebabkan pembedaan perlakuan yang sangat timpang antara pekerja formal dan informal. Salah satunya urusan TKW ditempatkan di kantor imigrasi, di bawah kementerian dalam negeri, bukan kementerian ketenagakerjaan.

Di rumah aman KBRI Abu Dhabi, setiap hari selalu terdapat 60-70 orang TKW yang lari dari rumah majikan karena berbagai sebab dan sekitar 100 orang di Konjen RI Dubai. Kasus lari dari majikan adalah kasus terbesar, yang oleh negara penerima dianggap merugikan.

Pemerintah mengatasi persoalan ini dengan mensyaratkan kontrak yang harus ditandatangani TKW di depan kantor imigrasi UEA. Artinya, ada multikontrak yang menyebabkan ketidakpastian hukum.

Pertama, kontrak di Tanah Air seperti dipersyaratkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004. Kedua, kontrak antara majikan dan TKW di depan pejabat imigrasi (dalam praktiknya dapat ditandatangani di mana saja, bahkan di jalan). Ketiga, kontrak antara majikan dan agensi di UEA yang sama sekali tidak melibatkan TKW, di UEA ditulis dalam bahasa Inggris dan Arab.

Di UEA keberadaan TKW Indonesia sangat diinginkan karena sifat patuh, loyal, pekerja keras, dan beragama sama. Namun, sekaligus mereka dilekati stereotip tidak menguntungkan sebagai ”mudah berpacaran”, ”imoral”, dan senang ”mejik”, yang semua menunjukkan jurang budaya.

Relasi ras, kelas, jender

Fenomena keberadaan TKW di UEA dapat dijelaskan dari kultur Arab dan klasifikasi yang dibangun berdasarkan identitas. Secara jelas kultur mereka membedakan ”orang Arab” dan ”bukan Arab” dalam kedudukan tidak setara. Kultur mereka juga menempatkan perempuan (istri, anak, apalagi ”pembantu rumah tangga”) sebagai ”milik” laki-laki.

Mengacu pada persoalan identitas, secara sosial-budaya TKW dilihat sebagai ”liyan” karena perbedaan ras, kelas, dan seksualitasnya sebagai perempuan. Mereka juga dilihat sebagai warga dari bangsa ”miskin”. Di rumah aman di UAE, kekerasan tidak hanya fisik, tetapi juga verbal dengan penyebutan ”bangsa asal” yang merendahkan. Pelaku kekerasan adalah juga (staf) agensi, yang di UAE terdiri atas berbagai bangsa dan kalangan (termasuk ningrat).

Relasi kelas ditunjukkan dengan adanya kekerasan seksual, dilakukan majikan laki-laki dan perempuan. Pembedaan terhadap perempuan Arab dan bukan Arab secara umum kelihatan dari keharusan TKW Indonesia menyerahkan biodata lengkap, termasuk foto wajah, badan, tanpa dan dengan penutup kepala. Padahal, perempuan berfoto tidak diperkenankan bagi perempuan Arab. Biodata dengan foto inilah yang menentukan apakah seorang TKW dipilih atau tidak oleh calon majikan di kantor agensi.

Ekonomi global

Jutaan rumah tangga telah menjadi keluarga multibangsa dengan kehadiran para TKW. Mereka menyumbang remitansi ke negara asal dan ekonomi global. Peran mereka dalam rumah tangga memungkinkan produksi barang dan jasa dalam perputaran ekonomi global terus berjalan.

Mereka juga memperkenalkan budaya kuliner Indonesia ke rumah tangga Timur Tengah, yang berpotensi menjadi industri masa depan. Keberadaan mereka menggiatkan bisnis perbankan, pengiriman barang dan uang, penerbangan, serta firma hukum.

Remitansi sosial juga dihasilkan. Setelah mereka pulang, ada yang memanfaatkan akumulasi modal untuk berwirausaha atau keterampilan berbahasa asing dan pengetahuan umum yang mengantarkan beberapa di antaranya menjadi kepala desa.

Memahami keberadaan fenomena migrasi dari berbagai sisi sepertinya menunjukkan upaya penghentian pengiriman bukan solusi terbaik. Apalagi, membekali mereka dengan ponsel.

Yang dibutuhkan penguatan perlindungan hukum berupa perjanjian bilateral dengan negara penerima. Tak kalah pentingnya, akses keadilan berupa pengetahuan hukum (yang melindungi dirinya), jaminan terhadap identitas hukum (memegang paspor dan kontrak), serta mekanisme bantuan hukum.

*Sulistyowati Irianto, Guru Besar Antropologi Hukum Universitas Indonesia.

Kompas Cetak
Sumber :
Editor: Glori K. Wadrianto

Bocah 1,5 Tahun Itu Derita Tumor Ganas

Bola Matanya Nyaris Keluar




RAYADIE/"PRLM"
MATA Riki Apriyansyah (1,5) nyaris keluar dari kelopak matanya. Kondisi ini disebabkan penyakit tumor ganas yang menyerang salah satu bola matanya.* 
 
 
SUKABUMI, (PRLM).- Riki Apriyansyah (1,5), warga Kampung Sadang, Desa Karangjaya, Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi, kondisinya sangat memprihatinkan. Mata anak laki-laki itu, nyaris keluar dari kelopak matanya. Kondisi ini disebabkan penyakit tumor ganas yang menyerang salah satu bola mata bocah itu.

Karena penyakit yang diderita anak pasangan Supriyatna (35) dan Ny. Aas Asiah (32) tidak kunjung sembuh menyebabkan penglihatan mata kirinya kini mengalami kebutaan. Hal tersebut seiring pembengkakan pada bola mata dan pelipis kirinya. Sebenarnya, penyakit yang diderita bocah malang ini baru berlangsung dua bulan terakhir. Tetapi kondisi kesehatannya semakin mengenaskan.

Bahkan pembesaran daging merah tidah hanya terlihat pada kelopak matanya. Namun pembesaran benjolan terlihat pada dahi kirinya. “Saat itu, saya sempat membawa ke Puskesmas Gegerbitung untuk memeriksa kesehatannya. Dari hasil pemeriksaan dokter mengatakan dia menderita tumor,” kata Supriyatna kepada "PRLM", Kamis (25/11). (A-162/das)***

Tiap Tahun, 600 Ribu Perokok Pasif Meninggal Dunia

Jumat, 26 November 2010, 07:43 WIB

 Antara
Kawasan larangan merokok, ilustrasi


REPUBLIKA.CO.ID, LONDON--Asap rokok yang terhirup karena orang di sekitarnya yang menjadi merokok telah membunuh lebih dari 600 ribu orang di seluruh dunia setiap tahun. Ini adalah penelitian pertama dampak rokok bagi perokok pasif, istilah buat mereka yang selalu terpapar asap rokok sementara mereka bukan peropok ini.

Para peneliti menganalisis data dari tahun 2004 di 192 negara. Mereka menemukan 40 persen anak-anak dan lebih dari 30 persen pria yang tidak merokok dan wanita secara teratur menghirup asap dari oprang di sekelilingnya yang merokok.

Para ilmuwan kemudian memperkirakan bahwa merokok pasif menyebabkan sekitar 379 ribu kematian akibat penyakit jantung, 165 ribu kematian akibat penyakit pernapasan yang lebih ringan, 36.900 kematian akibat asma dan 21.400 kematian akibat kanker paru-paru tiap tahun.

Secara keseluruhan, mereka yang menyumbang sekitar 1 persen dari kematian di dunia. Penelitian yang didanai oleh Badan Nasional Swedia untuk Kesehatan dan Kesejahteraan dan lembaga amal milik Bloomberg ini diterbitkan Jumat di jurnal medis Lancet yang terbit di Inggris.

"Ini membantu kita memahami angka sesungguhnya dari bahaya tembakau," kata Armando Peruga, pimpinan penelitian yang juga manajer program di Tobacco-Free Initiative yang berada di bawah Organisasi Kesehatan Dunia. Dia mengatakan sekitar 603.000 kematian akibat merokok tangan kedua harus ditambahkan ke dalam 5,1 juta kematian akibat merokok setiap tahun.

Peruga mengatakan WHO sangat prihatin dengan 165 ribu anak-anak yang meninggal karena infeksi pernapasan  terkait asap, kebanyakan di Asia Tenggara dan Afrika. "Campuran penyakit menular dan perokok pasif adalah kombinasi mematikan," kata Peruga.

Anak-anak yang orang tuanya merokok memiliki risiko lebih tinggi sindrom kematian bayi mendadak, infeksi telinga, pneumonia, bronkitis, dan asma. paru-paru mereka juga dapat tumbuh lebih lambat dari anak-anak yang orangtuanya tidak merokok.

Peruga dan rekan menemukan jumlah tertinggi orang terpapar asap rokok ada di Eropa dan Asia. Tingkat terendah paparan berada di Amerika, Mediterania, dan Afrika.

Asap memiliki pengaruh terbesar pada perempuan, dan membunuh sekitar 281 ribu di antaranya. Di banyak bagian dunia, perempuan setidaknya 50 persen lebih mungkin menjadi perokok pasif daripada pria.

Red: Siwi Tri Puji B
Sumber: Reuters/AP

Kementerian Perhubungan: Regulasi Khusus untuk Mobil Listrik dan Hibrida

Jumat, 26 November 2010 | 10:42 WIB
 

KOMPAS.com/Zulkifli BJ
Mobil listrik tidak mengeluarkan suara ketika meluncur di jalan raya



JAKARTA, KOMPAS.com – Pengenalan mobil listrik dan alat pengisi baterainya oleh Mercedes-Benz dan Siemens kepada Gubernur DKI Jakarta sangat menarik dan bisa merangsang atau mempromosikan percepatan penggunaan mobil ramah lingkungan di Jakarta. Namun   masih ada masal yang tertinggal dan harus diselesaikan, yaitu uji tipe kendaraan dan regulasi yang dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan.
“Sampai sekarang kami belum menguji kendaraan listrik yang ada di Indonesia. Padahal untuk mendapatkan ijin dari Perindustrian, harus memperoleh ijin dulu dari Kementerian Perhubungan,” jelas beberapa personal Kementerian Perhubungan yang hadir saat penyerahan Smart ED kepada gubernur DKI Jakarta di Balai Kota, Rabu sore kemarin (24/11/2010).

Dipastikan juga belum mendapatkan permintaan untuk menguji kendaraan tersebut dari ATPM. Maklum, selama ini, mobil listrik yang diperkenalkan di Indonesia, masih dalamrangka  uji-coba dan promosi perusahaan yang membuatnya.

Harus Bersuara
Malah, ketika berbicara secara khusus dengan KOMPAS.com, beberapa staf Kementerian Perhubungan sempat mengatakan untuk mobil listrik dan hibrida harus ada regulasi khusus. “Harus bisa mengeluarkan suara, untuk memberitahu penjalan kaki atau tuna netra. Orang kita kalau jalan, sradak-sruduk. Tidak melihat di sekitar. Sedangkan mobil listrik tidak mengeluarkan suara. Untuk  itu harus dilengkapi dengan suara yang bisa memberi tahu penjalan kaki ada mobil,” beber Mohammad Thamzil, Mech Eng, Deputy Diercytor for Vehicle Road Worthiness dari Kementrian Perhubungan.

Dijelaskan pula, Kementrian Perhubungan sudah punya konsep untuk memberikan insentif kepada pembeli  mobil ramah lingkungan, yaitu listrik dan hibrida. Kalau perlu bebas BBN. “Masalahnya, regulasi ini  terkait dengan instasi lain. Misalnya Kementerian Keuangan. Nah, prosesnya nyangkut di sana. Kita harus melakukan koordinasi lebih intensif antar Kementerian,” tegas  Mohd Thamzil.  

Juga dijelaskan, Kementrian Perhubungan punya program jangka   untuk MRT di Jakarta. “Nantinya akan menggunakan articulated bus (bus gandeng) yang digerakkan oleh motor listrik. Hanya pelaksanaanya perlu  koordinasi antar Kementerian,” imbuh Thamzil.


Penulis: ZBJ
Editor: Zulkifli BJ