Selasa, 30 November 2010

Eniya, Penerima Habibie Award Termuda

Profil Ilmuwan
Selasa, 30 November 2010 | 07:39 WIB



KOMPAS/NAWA TUNGGAL
Dr Eng. Eniya Listiani Dewi, B. Eng, M. Eng



KOMPAS.com - Di antara 4 orang penerima Habibie Award 2010, salah satunya adalah Dr-Eng Eniya Listiani Dewi, peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Ia merupakan penerima Habibie Award termuda.

Karya perempuan kelahiran 14 Juni 1974 tersebut berkisar pada lingkup elektrokimia, suatu cabang ilmu kimia yang berkaitan dengan potensi listrik dan energi. Penelitiannya adalah tentang sel bahan bakar berbasis hidrogen yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi baru yang ramah lingkungan.

Salah satu karya yang mengawali kiprahnya di bidang sel bahan bakar adalah penemuan katalis baru untuk sel bahan bakar. Penemuan tersebut menurutnya adalah sebuah inovasi yang ditemukan secara kebetulan.

"Saya kan kalau sedang eksperimen suka saya tinggal waktu makan siang. Saya pikir kan tidak masalah. Nah, waktu itu ketika saya melihat hasil eksperimen setelah saya tinggal, kok jadinya berbeda, ternyata perbedaan malah jadi inovasi," terang Eniya. Polimer yang terbentuk menjadi terdiri dari 10 penyusun, padahal harusnya ada 2 penyusun.

Dari hasil karya yang kebetulan tersebut, perempuan yang menyelesaikan gelar doktor dari Fakultas Aplikasi Kimiawi, Polimer, Katalis dan Sel Bahan Bakar Waseda University ini meraih beragam penghargaan, termasuk Mizuno Awards dan Koukenkai Awards dari Waseda University dan Polymer Society Japan pada tahun 2003.

Karya terbarunya adalah ThamriON, sebuah membran sel bahan bakar temuannya yang baru saja mendapatkan penghargaan Inovasi Paten dari Ditjen HKI 2010. "Prinsipnya, ThamriON tersebut adalah membran sel bahan bakar yang terbuat dari plastik yang direaksikan dengan asam sulfat. Karena telah direaksikan, maka plastik bisa menghantarkan listrik," ungkapnya.

Nama ThamriON sendiri punya sejarah tersendiri. "Saya kan bekerja di Jalan MH Thamrin Jakarta jadi nama itu saya ambil untuk nama karya saya. Kalau ON sendiri berasal dari kata ion, karena plastiknya bisa jadi menghasilkan ion," terangnya sambil tertawa mengenang penamaan hasil karyanya.

Teknologi sel bahan bakar dan bahan pendukung lain hasil risetnya di kembangkan 80 persen dari material lokal, sehingga biayanya lebih murah. Dengan proses manufaktur secara mandiri, sel bahan bakar yang tersebut telah diterapkan untuk menyalakan perangkat elektronik dan sepeda motor dengan kapasitas 500 Watt.
Untuk mengembangkan proses produksi dan penyimpanan bahan bakar, Eniya bekerja sama dengan berbagai pihak. "Ada Teknik Kimia UGM, Pusat Teknologi Bioindustri, industri polimer dan baterai," ungkap perempuan yang kini menjadi Kepala Perekayasaan Sel Bahan Bakar di BPPT.

Eniya adalah putri pertama dari pasangan Hariyono (alm) dan Sri Ningsih, berasal dari kota Magelang, Jawa Tengah. Ketertarikannya dengan dunia teknologi dan lingkungan sudah ada sejak ia masih duduk di bangku SMA Negeri 1 Magelang.

"Sejak saya SMA, saya sudah tertarik pada hal-hal yang berbau sains dan ramah lingkungan. Waktu itu, kalau mengarang, saya selalu menulis tema-tema teknologi dan isu ramah lingkungan," ujarnya yang sebenarnya lebih menyukai ilmu fisika daripada kimia.

Setelah lulus SMA, ia beruntung dapat memperoleh beasiswa lewat program Science and Technology Advance Industrial Development (STAID) Kementerian Negara Riset dan Teknologi. Ia kemudian melanjutkan pendidikan S-1 ke Waseda University.

Pendidikan strata dua dan tiga ia lanjutkan dengan beasiswa dari lembaga lain. Total masa pendidikan yang ia butuhkan untuk mencapai gelar doktor adalah 10 tahun, berawal dari tahun 1993 hingga tahun 2003.

Salah satu ambisi terbesarnya adalah mewujudkan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan dari bahan hidrogen. "Bahan hidrogen ini sangat berpotensi, bisa diproduksi dari berbagai macam sumber, termasuk biomassa," terangnya. Ambisi tersebut diperoleh setelah melihat pengembangan kota Fukuoka, Jepang yang mengaplikasikan hidrogen sebagai sumber energi.

Hidrogen bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan listrik, bahan bakar kendaraan dan lainnya. "Dengan bahan bakar hidrogen, motor tidak mengeluarkan asap, tapi air murni," jelas Eniya.

Ide Eniya dalam pemakaian hidrogen sebagai sumber bahan bakar juga dipresentasikan dalam 7th Biomass Asia Workshop yang berlangsung di gedung BPPT, Senin (29/11/2010).

Penulis: Yunanto Wiji Utomo   |   Editor: A. Wisnubrata

Senin, 29 November 2010

Awas Antibiotika dalam Daging Ternak!

Senin, 29 November 2010 | 10:55 WIB
 
 Kompas/Lucky Pransiska
Peternakan ayam
 
 
 
BEIJING, KOMPAS.com - Masuknya residu antiobiotika ke dalam tubuh lewat konsumsi daging ternak harus diwaspadai karena dapat meningkatkan kemungkinan berkembangnya bakteri yang resisten terhadap obat-obatan.

Peringatan tersebut diungkapkan beberapa pakar di China menyusul tren penggunaan antiobiotika pada hewan ternak yang makin meningkat.  Laporan menyebutkan, hampir setengah dari antibiotika yang diproduksi di Negeri Tirai Bambu itu diberikan kepada ternak daripada digunakan untuk mengendalikan penyakit pada manusia.

Sekitar  210.000 ton antibiotika yang diproduksi di China setiap tahun, sekitar 97.000 ton di antaranya berakhir dalam tubuh hewan, ungkap Xiao Yonghong, profesor dari  Institute of Clinical Pharmacology of Peking University, seperti dilansir koran People's Daily.

Riset yang digagas Chinese Academy of Social Sciences menemukan, lebih dari  50 persen peternakan di Provinsi Shandong dan Liaoning selalu menambahkan antibiotika pada pakan hewan yang diternakkan.

"Penggunaan antibiotika sudah menjadi lumrah sekarang, yang berujung pada meningkatnya tingkat kematian hewan karena tingkat kekebalan mereka menjadi tertekan. Selain itu, antibiotika kerap merugikan kesehatan seseorang setelah diminum," ujar Qi Guanghai, kepala riset di Akademi Ilmu Agrikultur China.

"Perhatian harus diberikan pada masalah asupan antibiotika melalui konsumsi makanan sehari-hari, karena hal itu dapat meningkatkan kemungkinan bakteri kebal yang berkembang dalam tubuh manusia," ujar Huang Liuyu, direktur  Institute for Disease Prevention and Control of the People's Liberation Army.

Salah satu contohnya adalah bayi seberat 650-gram yang lahir prematur di Guangzhou.  Seperti dilaporkan surat kabar People's Daily, bayi ini mengidap resistensi terhadap tujuh jenis antibiotika, yang diduga kuat akibat dari kebiasaan ibunya setiap hari mengonsumsi daging dan telur yang mengandung residu atau ampas dari antibiotika.

Bulan lalu, di dataran China juga dilaporkan kasus pertama bakteri NDM-1, yang resisten pada hampir semua jenis antibiotika.

Dengan adanya fakta meningkatnya kasus resistensi obat yang terdeteksi di China dan belahan bumi lainnya, Huang mendesak pihak yang berwenang seharusnya memberi perhatian lebih pada masalah ini, dan melakukan regulasi dengan baik pada sektor ini.

"Di Eropa, antibiotika dilarang untuk ditambahkan pada makanan ternah sejak bertahun-tahun dan pelarangan yang sama  akan diimplementasikan di Korea Selatan," ujar  Tu Yan, periset dari Akademi Ilmu Agrikultur China.

China memperkenalkan antibiotika ke dalam industri peternakan dalam upaya pencegahan penyakit pada era 1990-an.  Regulasi tentang tambahan obat-obatan diterbitkan oleh China pada 2002, dan lebih banyak fokus pada penggunaan dosis yang tepat dari jenis antibiotika berbeda pada pakan ternak. Namun regulasi tersebut  tak mengatur tentang supervisi penjualan dan penggunaan antibiotika yang berlebihan.
Penulis: AC   |   Editor: Asep Candra   |   Sumber :asiaone.com

Ratusan Muris SD Budiwangi Belajar Digubuk




CECEP SA/"PRLM"
RATUSAN murid SD Budiwangi Desa Cisempur Kec. Cibinong Kab. Tasikmalaya terpaksa belajar digubuk.*
 
 
TASIKMALAYA, (PRLM),- Ratusan murid SD Budiwangi Desa Cisempur Kec. Cibalong Kab. Tasikmalaya bertahan belajar digubuk sejak 14 bulan lalu, karena sekolah mereka porak poranda akibat gempa 7,3 SR 2 September 2009.

Menurut para guru, mereka sudah tidak nyaman di sana, karena suasananya gerah dan panas, bahkan apabila turun hujan, kegiatan belajar mengajar terpaksa dibubarkan.

Wakil Kepala SD Budiwangi, Ucu Yoyo Mumahamad Zaely, Senin (29/11) mengatakan, kondisi memprihatinkan yang menimpa ratusan siswa SD Negeri Budiwangi itu sudah hampir 14 bulan, dan mereka terpaksa belajar di gubuk darurat, yang dibangun di halaman lapangan sekolah. Mereka kehilangan ruang kelas belajarnya setelah roboh porak poranda akibat gempa tahun lalu yang hingga saat ini masih dibiarkan dan tinggal puing-puingnya saja.

Kondisi seperti itu memaksa sebanyak 185 siswa dari kelas 1 sampai kelas 6 harus tetap bersabar dan menjalani rutinitas belajar dengan kondisi bangunan sekolah alakadarnya. Gubuk untuk belajar itu tanpa dinding, yang dibangun atas inisiatif orang tua siswa dan pihak sekolah setempat.

Sedangkan ratusan siswa masih tetap bertahan bersekolah dan belajar setiap hari, meski dirasakan belajar di tempat tersebut sangat jauh dari sempurna, karena dalam menyerap pelajaran tidak maksimal seperti yang diharapkan para siswa dan pengajar. (A-14/A-120)***

Kualitas Guru tidak Hanya Terkait Program Sertifikasi


SEJUMLAH guru melihat puisi karya siswa SMP se-Kecamatan Kadungora di pelataran SMPN 1 Kadungora, Jln. Raya Mandalagiri, Kec. Kadungora, Kab. Garut, Kamis (25/11). Sebanyak 3.663 puisi karya para siswa dipersembahkan kepada para guru dalam rangka memperingari Hari Guru.* RIRIN N.F./"PR"


BANDUNG, (PR).-
Program sertifikasi mestinya dipandang hanya sebagai salah satu upaya memetakan kualifikasi pendidik dalam bentuk portofolio. Dengan demikian, upaya meningkatkan kualitas tenaga pendidik harus dilakukan dengan menciptakan suasana sekolah dengan guru di dalamnya, betul-betul sebagai sebuah masyarakat pendidik (community of educators). 

"Pemerintah harus sadar bahwa munculnya sebuah kebijakan harus dilihat dalam kerangka luas dan memperhatikan beragam faktor, tidak hanya asal. Kita jangan berpikir dangkal dengan mempersepsi bahwa dengan meningkatkan tunjangan, maka otomatis akan tercipta peningkatan kualitas. Portofolio bukan alat ukur peningkatan kualitas, sebab hanya merupakan gambaran kompetensi yang dimiliki seorang guru pada saat sekarang," ujar pakar pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Prof. Dr. Said Hamid Hasan, Minggu (28/11). 

Ia dimintai pendapat tentang refleksi peringatan Hari Guru Nasional yang jatuh pada 25 November lalu. Salah satu wacana yang mencuat dalam peringatan Hari Guru adalah indikasi penurunan kinerja guru, justru setelah yang bersangkutan telah disertifikasi. Hal ini kian menambah rumit problematika pendidikan di Indonesia.

Sekretaris Sertifikasi Rayon X Jawa Barat, Prof. Uman Suherman, mengakui bahwa dari hasil evaluasi terhadap sertifikasi guru, ada kecenderungan penurunan kinerja pada 10 persen guru yang telah bersertifikat.

Namun, Uman tidak serta merta menyatakan sertifikasi bagi guru gagal atau tidak berdampak. "Uji kompetensi yang dilakukan setiap lima tahun sekali merupakan salah satu upaya untuk mengevaluasi kinerja para guru ini," katanya.

Menurut Said, secara teoretis, memang ada kaitan injeksi dari sisi kesejahteraan akan berdampak pada peningkatkan kualitas. "Namun, itu bukan satu-satunya faktor dan juga bukan yang paling menentukan. Yang terpenting adalah tercipta suasana dan iklim bahwa sekolah benar-benar menjadi pusat transfer pengetahuan dan pendidikan. Di sini harus ada sinergi antarguru, suasana kerja yang mendorong guru selalu termotivasi, termasuk infrastruktur pendidikan yang memadai," katanya.

Masih jauh
Ketua Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) Suparman menguraikan, jika berbicara mengenai kualifikasi guru di Indonesia, apa yang diharapkan pemerintah masih jauh dari kenyataannya. Saat ini, pemerintah mensyaratkan kualifikasi guru harus S-1. Sementara dari 2,7 juta guru di mana 1,5 juta guru adalah guru SD, baru 10 persen berkualifikasi S-1.

"Meski dalam perkembangannya, guru S-1 kini mencapai 50 persen. Ini yang sering kali disampaikan oleh akademisi mengenai kualifikasi guru yang harus S-1, pada akhirnya menyingkirkan guru-guru yang tidak berkualifikasi S1," tuturnya.

Oleh karena itu, pendidikan bermutu di Indonesia masih menjadi perdebatan. Dalam undang-undang, guru disyaratkan harus mampu memberikan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan syarat ideal lainnya. "Apakah guru kita sudah mampu? Ini masih menjadi problem besar." (A-64/A-157)***

2030, Indonesia Diprediksi Bakal Salip Ekonomi Jepang

Senin, 29 November 2010, 16:48 WIB


tempointeraktif.com
Chairul Tanjung, Presiden Komisaris PT Carrefour Indonesia



REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Pengusaha kakap Indonesia, Chairul Tanjung memprediksi pada 2030 mendatang, Indonesia bisa menyalip perekonomian Jepang. Hal ini lantaran penduduk Indonesia di 2030 lebih produktif menggerakkan roda perekonomian ketimbang penduduk Negeri Sakura tersebut.

"Struktur demografi kita lebih baik dibandingkan Jepang. Kalau Jepang sudah tua penduduknya. Orang tua makin lama makin tua. Dimana dana yang dimiliki itu untuk membiayai orang-orang tua, seperti membayar pensiunan dan masalah kesehatan," kata CT, sapaan akrab Chairul Tanjung kepada wartawan di Jakarta, Senin (29/11).

Sebaliknya, ujar CT, Indonesia justru akan lebih produktif dibandingkan Jepang. Pasalnya, Indonesia nantinya didominasi oleh penduduk usia produktif. Sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia akan bergerak lebih besar ketimbang pertumbuhan ekonomi Jepang di 2030.

Selain memprediksi perbandingan pertumbuhan ekonomi Jepang dengan Indonesia di 2030, Bos Paragroup ini juga melihat akan ada lima sektor bisnis dalam negeri yang akan maju di masa mendatang. CT menyebutkan kelima sektor bisnis tersebut adalah bisnis media, otomotif, ritel, jasa keuangan dan kesehatan.

"Pertumbuhan yang kuat akan terjadi pada semua sektor tersebut. Bisnis yang berbasis consumer, seperti media, ritel, financial services," kata CT.

Dia menyontohkan, bisnis otomotif, belakangan ini terlihat adanya pertumbuhan yang cukup signifikan di dalam negeri. CT mengungkapkan pada tahun ini saja penjualan kendaraan roda empat diprediksi bisa mencapai 700 ribu unit. Sedangkan untuk kendaraan roda dua, CT memprediksi angka penjualannya mencapai delapan juta unit di tahun depan.

Sementara itu, untuk bisnis media, ia menguraikan seiring dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi Indonesia, maka peta persaingan bisnis media akan semakin mengetat di masa mendatang. Termasuk juga, imbuh CT, bisnis jasa keuangan atau finansial services.
"Bisnis jasa keuangan akan tumbuh besar karena porsi deposito terhadap PDB (produk domestik bruto) Indonesia sampai saat ini masih relatif kecil. Padahal potensi bisnis ini cukup besar," ujar CT.

Untuk bisnis ritel, ia mengutarakan, ini juga akan menjadi salah satu pendorong perekonomian Indonesia di masa mendatang. CT memprediksi persaingan bisnis ritel dalam negeri akan sangat signifikan ke depannya. Tidak ketinggalan, ia juga memprediksi bisnis kesehatan akan ikut tumbuh signifikan di masa mendatang. Hal ini didorong dengan semakin besarnya kesadaran masyarakat akan kebutuhan kesehatan mereka.

Namun, CT menegaskan Indonesia tetap harus menyelaraskan pertumbukan makro dan mikro ekonominya ke depan. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi bisa maju di masa mendatang. "Prinsipnya pertumbuhan makro dan mikro (ekonomi) harus inline (sejalan)," pungkas CT.

Red: Djibril Muhammad
Rep: Citra Listya Rini

WikiLeaks: Saudi Minta AS Serang Iran

Dokumen Rahasia
Senin, 29 November 2010 | 13:40 WIB

 AP
Raja Abdullah dari Arab Saudi, Menlu AS Hillary Clinton dan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad


KOMPAS.com — Situs web online peniup peluit (whistle-blower) WikiLeaks mulai menerbitkan lebih dari 250.000 dokumen diplomatik dari kedutaan-kedutaan besar AS di seluruh dunia, Minggu (28/11/2010), yang mengundang kecaman tajam Gedung Putih dan para pemimpin Kongres AS. Dari ribuan dokumen yang dibocorkan, antara lain, tentang raja Arab Saudi yang secara pribadi mendesak Amerika Serikat untuk menyerang Iran demi menghancurkan program senjata nuklir negera republik Islam itu.

WikiLeaks, yang mengatakan server-nya mengalami serangan elektronik pada Minggu sore, mengatakan, dokumen-dokumen tersebut merupakan pengungkapan terbesar yang pernah ada tentang informasi rahasia dan memberikan kepada dunia wawasan yang belum pernah punya preseden tentang kegiatan luar negeri Pemerintah Amerika Serikat. "Dokumen-dokumen itu menunjukkan, AS memata-matai sekutu-sekutunya dan PBB; menutup mata terhadap korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia di 'negara-negara yang menjadi klien'; mengadakan perjanjian rahasia dengan negara-negara yang seharusnya menjadi negara netral; dan melobi untuk kegiatan perusahaan-perusahaan AS," kata pemimpin redaksi dan juru bicara WikiLeaks, Julian Assange, dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada Minggu malam, sebagaimana dikutip CNN.

"Pembeberan dokumen ini mengungkapkan kontradiksi antara persona publik AS dan apa yang dikatakannya di balik pintu tertutup, dan menunjukkan bahwa warga suatu negara demokrasi ingin pemerintah mereka bisa mencerminkan keinginan mereka, mereka meminta untuk melihat apa yang terjadi di balik layar."

Namun, Juru Bicara Gedung Putih Robert Gibbs mengecam pembeberan dokumen itu. "Penerbitan dokumen-dokumen tersebut akan membahayakan para diplomat kami, para intelijen profesional dan orang-orang dari seluruh dunia yang datang ke Amerika Serikat untuk upaya mempromosikan demokrasi dan pemerintahan yang terbuka. Dengan membeberkan dokumen-dokumen yang dicuri dan dirahasiakan, WikiLeaks telah menempatkan dalam bahaya tidak hanya hak asasi manusia, tetapi juga kehidupan dan pekerjaan orang-orang ini," kata Gibbs. "Kami mengutuk keras pengungkapan yang tidak sah dari dokumen-dokumen rahasia dan informasi keamanan nasional yang sensitif."

Bocoran dari WikiLeaks menyebutkan, pemimpin Arab Saudi sering mendesak AS untuk menyerang Iran demi mengakhiri program senjata nuklir Iran. Bocoran itu mengungkapkan, Raja Arab Saudi, Abdullah, meminta kepada Amerika untuk "memotong kepala ular itu (Iran)" pada sebuah pertemuan tahun 2008. Bocoran itu juga mengungkapkan bagaimana para pemimpin di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Mesir menyebut Iran "jahat" dan sebuah kekuasaan yang "akan membawa kami ke dalam perang".

Bocoran itu, sebagaimana dilansir Telegraph.co.uk, juga mengungkap tindakan para pejabat Amerika yang memata-matai kepemimpinan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), termasuk Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon. Dalam dokumen-dokumen itu, diplomat Amerika juga membandingkan Presiden Iran Ahmadinejad dengan Adolf Hitler dan melabel Presiden Perancis Nicolas Sarkozy sebagai "kaisar tanpa busana". Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin disebut sebagai seekor "anjing alpha". Presiden Afganistan Hamid Karzai sebagai orang "yang didorong oleh paranoia".

Penulis: Egidius Patnistik   |   Editor: Egidius Patnistik

Sabtu, 27 November 2010

Peluang Belajar ke Jepang Terbuka



 DUA orang yang mengenakan kimono memberi penjelasan tentang sekolah di Jepang pada pameran "Japan Education Fair 2010" di SMKN 3 Jln. Solontongan Bandung, Jumat (26/11). Pameran yang memperkenalkan sejumlah sekolah di beberapa kota di Jepang ini berlangsung selama dua hari.* ANDRI GURNITA/"PR"



BANDUNG, (PR).-
Dari sekitar 30.000 kesempatan dari pemerintah Jepang untuk pelajar Indonesia menuntut ilmu di sana setiap tahun, baru sebanyak 13.000 yang dimanfaatkan. Sementara pelajar Indonesia yang sudah berada di Jepang ada sekitar 2.000 orang. Jumlah ini sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah pelajar negara di kawasan Asean lain yang menuntut ilmu di Jepang.

Sekretaris Bidang Pendidikan Kedutaan Besar Jepang, Motomura Hiroaki mengungkapkan, sejak 2008, Kedutaan Besar Jepang di Indonesia menyelenggarakan program khusus agar pelajar Indonesia bisa semakin banyak yang bersekolah di sana. 

"Kami telah bekerja sama dengan semua universitas dan sekolah di Jepang agar menerima pelajar asal Indonesia. Namun, jumlahnya ternyata belum banyak. Padahal, kami sangat ingin agar pelajar Indonesia bisa bersekolah di Jepang," tutur Hiroaki pada pembukaan "Japan Education Fair 2010" di Aula SMKN 3 Bandung, Jumat (26/11).

Hiroaki menuturkan, pameran pendidikan Jepang selama dua hari yang terselenggara di SMKN 3 Bandung ini dapat dimanfaatkan seluruh siswa SMA dan SMK untuk mencari informasi tentang sekolah di sana. Menurut dia, pada pameran ini disediakan berbagai informasi yang diperlukan, termasuk sekolah bahasa.

Sekolah bahasa menjadi penting karena selama ini salah satu kendala masih minimnya jumlah pelajar atau mahasiswa yang belajar ke Jepang adalah karena faktor bahasa. 

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Bandung Dadang Iradi mengungkapkan, masih sedikitnya jumlah pelajar Indonesia yang bersekolah di sana kemungkinan besar karena minimnya informasi terkait dengan program beasiswa. 

Menurut Dadang, biasanya program beasiswa terselenggara di pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional, sedangkan daerah masih sangat jarang. "Padahal, daerah juga sangat perlu mendapatkan porsi lebih luas untuk mendapatkan kesempatan."

Sebelum Jepang, Disdik Kota Bandung sudah menjalin kerja sama dengan Cina, Texas (Amerika Serikat), dan Turki. Dadang mengatakan, pada dasarnya, Jepang sangat terbuka untuk menerima pelajar dari Indonesia umumnya, dan Bandung khususnya. Namun, ada dua syarat mendasar yang harus dipenuhi, yaitu prestasi baik di sekolah dan ada ketertarikan untuk mempelajari budaya Jepang. (A-187)*** 

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=165653

Naskah Laskar Pelangi Dibeli Penerbit AS

Sastra

Sabtu, 27 November 2010 | 11:39 WIB



TRIBUNNEWS.COM/Istimewa
Andrea Hirata


BELITUNG, KOMPAS.com — Sukses novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata tak habis-habisnya. The Rainbow Troop yang telah diangkat dalam layar lebar dan mendapat penghargaan itu kini dibeli penerbit Catlyn Anderson Literary Management, sebuah penerbit di Amerika Serikat.

Laskar Pelangi yang mengisahkan semangat anak-anak kampung Gantung, Kabupaten Belitung Timur, yang tak mengenal menyerah itu makin mendunia.

"Jadi siap-siap saja, novel ini akan mendunia. Bagaimana kesiapan kita di Belitung memanfaatkan momentum ini," kata Andrea Hirta saat ditemui Grup Bangka Pos di sela-sela latihan tari pendulang timah di kawasan Pasar Rakyat Laskar Pelangi, Desa Lenggang, Kecamatan Gantung, Jumat (26/11/2010) petang.

Andrea memanfaatkan liburan kuliahnya ke kampung halaman. Bersama dengan beberapa rekan seniman dan musisi, dia menggarap acara kirab budaya Festival Laskar Pelangi.

Sabtu (27/11/2010) ini Andrea menghadiri peresmian sekolah Laskar Pelangi dan rumah puisi di Desa Lenggang. Rangkaian kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Andrea memotivasi warga kampungya yang menginginkan Lenggang sebagai desa budaya di Belitung. Festival Laskar Pelangi berlangsung sejak 1 November dan akan berakhir Selasa (30/11/2010).

Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata telah mengangkat Bangka Belitung di pentas nasional.

"'Ketika Laskar Pelangi sudah mendunia, kita menariknya kembali ke desa, sebagai sumber pemberi inspirasi. Inilah keindahan metamorfosis warga Lenggang, dari inspirasi dan mimpi sebagai refleksi menuju fraksis pencitraan yang paling monumental. Inilah keagungan kultural itu," kata Agus Ismunarno, Pemimpin Redaksi Bangka Pos Groups pada saat membawa orasi budaya di areal Festival Laskar Pelangi, Jumaat (27/11/2010) malam. (Bangkapos/Wahyu K/Rusmiadi)
tribunnews.com
Sumber :
Editor: Marcus Suprihadi