Sabtu, 08 November 2008

Tiga Pahlawan Nasional

Natsir, Bung Tomo, dan Abdul Halim
KOMPAS/ALIF ICHWAN / Kompas Images Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan ucapan selamat kepada Ny Sulistina Soetomo (kiri), istri almarhum Bung Tomo atau Soetomo, saat menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputra Adipradana di Istana Negara, Jakarta, Jumat (7/11). Presiden juga menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputra Adipradana kepada keluarga almarhum Dr Mohammad Natsir dan keluarga almarhum KH Abdul Halim.



Sabtu, 8 November 2008 03:00 WIB
Jakarta, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan dan menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Dr Mohammad Natsir, Mayor Jenderal (Purn) Soetomo atau Bung Tomo, dan KH Abdul Halim. Ketiganya telah mengabdi dan berjasa secara luar biasa kepada negara dan bangsa.
Penetapan Presiden yang tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 041/TK/Tahun 2008 tertanggal 6 November 2008 itu didasarkan pada hasil sidang Badan Pembina Pahlawan Pusat Tahun 2008 dan sidang Dewan Tanda-tanda Kehormatan RI.
Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional dalam rangkaian peringatan Hari Pahlawan 10 November 2008 itu dilakukan di Istana Negara, Jakarta, Jumat (7/11).
Natsir, Bung Tomo, dan Abdul Halim dianugerahi gelar Pahlawan Nasional setelah mereka lama meninggal dunia.
Natsir, mantan Perdana Menteri RI (1950-1951) pertama, meninggal dunia 7 Februari 1993. Sutomo, mantan anggota DPR (1956-1959), meninggal pada 7 Oktober 1981.
Abdul Halim, mantan Ketua Umum Persatuan Umat Islam, meninggal pada 7 Mei 1962.
Dalam sejarah Indonesia, Natsir berperan besar ketika menyatakan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dinyatakan pada 17 Agustus 1950 di tengah krisis kredibilitas Republik Indonesia Serikat.
”Mosi Integral” Natsir merupakan salah satu mosi paling bernilai dalam sejarah parlemen dan sejarah kontemporer Indonesia.
Natsir juga salah satu penandatangan ”Petisi 50” untuk mengoreksi kebijakan Presiden Soeharto.
Bung Tomo adalah salah satu tokoh dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya saat melawan Belanda. Ia adalah sedikit dari tokoh pejuang kemerdekaan yang mendapat panggilan kehormatan ”Bung” bersama Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Sjahrir.
Sementara itu, Abdul Halim berperan sejak perjuangan pembentukan dan kemerdekaan Indonesia hingga upaya mempertahankannya dari agresi Belanda.
Abdul Halim juga ikut bergerilya bersama pejuang mempertahankan kemerdekaan dengan basis di sekitar kaki Gunung Ciremai pada Agresi Belanda II.
Ia memimpin penghadangan pergerakan militer Belanda di wilayah Karesidenan Cirebon.
Pengusulan Abdul Halim sebagai Pahlawan Nasional diajukan Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat dan organisasi massa Persatuan Umat Islam Jabar. Abdul Halim adalah pahlawan ke-12 yang berasal dari Jabar.

Bintang Mahaputra
Selain tiga gelar Pahlawan Nasional, Presiden juga menganugerahkan Bintang Mahaputra Utama kepada Petta Lolo La Sinrang (almarhum), tokok pejuang Kerajaan Sawitto. Diberikan Bintang Budaya Parama Dharma kepada Wahyu Sihombing (almarhum) dan Marah Roesli (almarhum). (CHE/INU)

Sabtu, 01 November 2008

"Pancakaki", Silaturahim Urang Sunda

Oleh Sukron Abdilah

Hari Lebaran lalu, saya kedatangan tamu dari desa lain. Kakak saya yang paling besar (cikal) memperkenalkannya dan melontarkan kata-kata, "Sok, pancakaki heula maneh teh (Silakan berkenalan dulu kamu ini)". Ternyata, setelah mengobrol panjang lebar, tamu itu adalah keponakan (alo) dari ayah saya (alm), yang telah sekian lama tidak bersilaturahim. Sejak kecil, baru sekarang ia ber-pancakaki dengan keluarga saya karena kebetulan bertemu dengan kakak saya di Jakarta. Ternyata tamu itu satu garis keturunan dengan saya.

Penelusuran garis keturunan (sakeseler) dalam khazanah kesundaan diistilahkan dengan pancakaki. Dalam Kamus Umum Basa Sunda (1993), pancakaki diartikan dengan dua pengertian. Pertama, pancakaki menunjukkan hubungan seseorang dalam garis keluarga (perenahna jelema ka jelema deui anu sakulawarga atawa kaasup baraya keneh). Kita pasti mengenal istilah kekerabatan, seperti indung, bapa, aki, nini, emang, bibi, euceu, anak, incu, buyut, alo, suan, kapiadi, kapilanceuk, aki ti gigir, dan nini ti gigir.

Istilah tersebut merupakan sistem kekerabatan masyarakat Sunda yang didasarkan pada hubungan seseorang dalam sebuah komunitas keluarga. Dalam sistem kekerabatan urang Sunda diakui juga garis saudara (nasab) dari bapak dan ibu, seperti bibi, emang, kapiadi, kapilanceuk, nini ti gigir, dan aki ti gigir.

Kedua, pancakaki juga bisa diartikan sebagai proses penelusuran hubungan seseorang dalam jalur kekerabatan (mapay perenahna kabarayaan). Secara empiris, ketika kita mengunjungi suatu daerah, pihak yang dikunjungi akan membuka percakapan, "Ujang teh ti mana jeung putra saha (Adik itu dari mana dan anak siapa)?" Ini dilakukan untuk mengetahui asal-usul keturunan tamu sehingga sohibulbet atau pribumi akan lebih akrab atau wanoh dengan semah guna mendobrak kekikukan dalam berinteraksi dan berkomunikasi.

Maka, pancakaki pada pengertian ini adalah proses pengorekan informasi keturunan untuk menemukan garis kekerabatan yang sempat putus. Biasanya hal ini terjadi ketika seseorang nganjang ke suatu daerah dan di sana ia menemukan bahwa antara si pemilik rumah dan dirinya ada ikatan persaudaraan. Maka, ada peribahasa bahwa dunia itu tidak selebar daun kelor. Antara saya dan Anda, mungkin kalau ber-pancakaki, ternyata dulur. Minimal sadulur jauh.

Asal-usul keturunan

Menurut Edi S Ekadjati (Kebudayaan Sunda, 2005), urang Sunda memperhitungkan dan mengakui kekerabatan bilateral, baik dari garis bapak maupun ibu. Ini berbeda dengan sistem kekerabatan orang Minang dan Batak yang menganut sistem kekerabatan matriarkal dan patriarkal, yaitu hanya memperhitungkan garis ibu dan garis keturunan bapak.

Pancakaki dalam bahasa Indonesia mungkin agak sepadan dengan silsilah, yakni kata yang digunakan untuk menunjukkan asal-usul nenek moyang beserta keturunannya. Akan tetapi, ada perbedaannya. Menurut Ajip Rosidi (1996), pancakaki memiliki pengertian hubungan seseorang dengan seseorang yang memastikan adanya tali keturunan atau persaudaraan. Namun, menjadi adat istiadat dan kebiasaan yang penting dalam hidup urang Sunda, karena selain menggambarkan sifat-sifat urang Sunda yang ingin selalu bersilaturahim, itu juga merupakan kebutuhan untuk menentukan sebutan masing-masing pihak dalam menggunakan bahasa Sunda.

Mengapa? Sebab, pancakaki sebagai produk kebudayaan Sunda diproduksi karuhun Ki Sunda untuk menciptakan relasi sosial dan komunikasi interpersonal yang harmonis dalam komunitas, salah satunya ajen-inajen berbahasa. Tidak mungkin, jika kita tahu si A atau si B memiliki hubungan kekerabatan dengan kita, dan lebih tua, kita mencla-mencle berbicara tak sopan. Jadi, dengan ber-pancakaki sebetulnya kita (urang Sunda) tengah membina silaturahim dengan setiap orang.

Komponen kebudayaan

Kuntowijoyo dalam buku berjudul Budaya dan Masyarakat (2006:6), menulis bahwa dalam budaya kita akan ditemukan adanya tiga komponen pokok, yaitu lembaga budaya, isi budaya, dan efek budaya (norma-norma). Lembaga budaya menanyakan siapa penghasil produk budaya, pengontrol, dan bagaimana kontrol itu dilakukan. Isi (substansi) budaya menanyakan apa yang dihasilkan atau simbol-simbol apa saja yang diusahakan. Adapun efek budaya menanyakan konsekuensi apa yang diharapkan.

Maka, anomali budaya (kebudayaan disfungsional) akan terjadi jika simbol dan normanya tidak lagi diejawantahkan masyarakat. Akibatnya, muncul kontradiksi sehingga memicu lahirnya kelumpuhan dasar-dasar relasi secara sosiologis. Ini akan terjadi juga dalam ruang lingkup relasi sosial kemasyarakatan urang Sunda jika pancakaki sebagai isi kebudayaan lokal tidak mendapatkan porsi pengamalan dan pelestarian. Efek kebudayaan pun tidak akan dirasakan, seperti menggejalanya keterputusan komunikasi dan relasi antar-dulur (kerabat) yang satu dengan yang lain.

Ketika tidak memiliki efek budaya, hal itu akan memicu lahirnya anomali akibat minimnya keinginan kita untuk mengaktifkan simbol kebudayaan, salah satunya pancakaki, dalam hidup keseharian. Tradisi silaturahim atau silaturahim khas Sunda (baca: pancakaki) ini sesuai dengan ajaran agama yang mengajarkan umatnya untuk menyebarkan keselamatan. Silaturahim juga merupakan salah satu penentu masuk surga dan terciptanya keharmonisan interaksi.

Namun, bagi urang Sunda kiwari, ber-pancakaki tidak hanya dilakukan untuk menelusuri garis keturunan, tetapi juga menelusuri dari mana asal diri kita. Karena itu, seorang pengusaha dan pejabat, umpamanya, sadar bahwa sebetulnya mereka berasal dari rakyat.

Karena itu, saatnya kita ber-pancakaki. Lirik kiri-kanan, jangan-jangan ada keluarga dekat atau jauh, bahkan rakyat miskin yang tak bisa makan. Sebab, dalam ajaran agama, semua manusia bersaudara. Semua berasal dari Nabi Adam AS. Jadi, dulur sadayana oge manusa mah! Wallahualam.

SUKRON ABDILAH Pegiat Studi Agama dan Kearifan Lokal Sunda 
Kompas Cetak

Sulitnya Mencitrakan Kota Bandung

Oleh Wientor Rah Mada


Tidak banyak yang tahu, betapa stresnya Riyo Mori, Miss Universe 2007, ketika berkunjung ke Bandung. Setelah melihat sendiri aksi demo menentang kunjungan dirinya di Bandung, gadis cantik asal Jepang itu langsung kumat magnya. Hal itu membuat panik traveling manager-nya yang kemudian menelefon Donald Trump, sang miliuner pemegang lisensi Miss Universe. Trump mengonfirmasikan keadaan dengan Dubes Amerika dan meminta Riyo Mori dan rombongannya untuk sesegera mungkin meninggalkan Bandung. 

Setelah evakuasi selesai, Kedubes AS langsung mengeluarkan travel warning bagi warga negaranya untuk mengunjungi Indonesia, terutama Bandung. Walaupun wisatawan AS yang masuk ke Bandung secara kuantitas tidak begitu banyak, tetapi hilang sudah potensi penerimaan devisa negara sebesar 292,7 juta dolar dari sekitar 200 ribu wisatawan asal AS. 

Keluar kotak

Sebetulnya siapa yang bertanggung jawab terhadap citra Kota Bandung? Sejak dua tahun lalu, Wali Kota Bandung membentuk Badan Pembinaan dan Promosi Pariwisata Kota Bandung (BP3KB) yang bekerja di atas pemasukan biaya retribusi pariwisata. Selain membina pelaku pariwisata, sudah jelas bahwa tujuannya adalah untuk mempromosikan Bandung. Badan ini sangat luar biasa karena diisi orang-orang yang sangat mengerti karakteristik dan kekhasan Kota Bandung, kebanyakan praktisi yang kompeten. Handycap-nya hanya satu, orang-orang yang mengisi organisasi ini semuanya sibuk. 

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung juga mempunyai bagian promosi pariwisata. Tahun 2007, Disbudpar Kota Bandung membuat banyak terobosan dengan menganalisis pasar wisatawan yang sebelumnya tidak pernah dilakukan. Paling tidak, pendekatan market-oriented ini akan dapat menjawab beberapa pertanyaan yang selama ini jamak dan tidak terukur. 

Yang berkepentingan terhadap citra Kota Bandung tidak hanya pemkot, tetapi juga Pemprov Jabar. Disbudpar Jabar berusaha keras memeriahkan dengan konsep city branding : Enchanting Bandung. Konsep branding ini menjadi menarik karena Disparda Kota Bandung juga mempunyai sendiri slogannya, yaitu Explore Bandung. Secara resmi memang belum ada pernyataan, baik dari pemprov ataupun pemkot, mengenai slogan yang akan dipakai. Hal penting lainnya adalah sebelum mem-branding, seharusnya ada langkah-langkah panjang yang dilakukan, seperti menganalisis pasar dan kapasitas Bandung itu sendiri. 

Jadi siapa yang bertanggung jawab terhadap citra Kota Bandung? Susah sekali menjawab pertanyaan ini. Mari coba kita telusuri sebabnya.

Dalam sebuah organisasi, semua individu di dalamnya harus mempunyai tujuan yang sama. Mimpi akan tujuan ini dituangkan dalam visi. Kota Bandung, secara resmi mempunyai visi untuk menjadi kota jasa yang bermartabat. Skema pencapaian visi ini rupanya sedikit bercampur aduk. Seringkali kita dengar, beberapa pejabat juga menginginkan Kota Bandung menjadi kota seni dan budaya pada 2008, atau menjadi kota yang agamis pada tahun yang sama. Belum lagi sebutan kota pendidikan, kota perdagangan, sampai dengan kota industri kreatif. Sangat membingungkan.

Dalam pandangan berbagai sudut ilmu manajemen, apabila ada dua keinginan dalam satu organisasi akan membahayakan organisasi itu sendiri. Mohon maaf, apabila visi kota Bandung menjadi kota jasa, maka keinginan menjadi kota agamis akan tidak berjalan sejajar. Bukan dalam konteks sebab dan akibat, tetapi lebih kepada upaya pencapaian kota jasa yang dimaksud. Jadi, strategic statement semacam visi dan misi memang harus dipahami betul pembuat keputusan teknis pelaksana di tingkat kedinasan. Konsep pencitraan memang berorientasi jangka panjang. Penciptaannya dapat secara alamiah, atau dengan skenario terencana. 

Kondisi saat ini memaksa Kota Bandung harus segera mereposisi dirinya. Berbagai kota di Indonesia telah mendeklarasikan posisinya. Yogjakarta dikenal sebagai kota budaya dengan slogan never ending Asia. Manado berupaya keras menjadi ibu kota wisata bahari dunia. Palembang sudah bergaung dengan Visit Musi 2008, bahkan Solo sudah berbenah merevitaliasi objek wisata dalam kotanya.

Terlepas dari varietas produk di Kota Bandung yang tidak lagi homogen, penanganan citra kota seharusnya menjadi hal yang serius. Produk jasa yang ditawarkan Kota Bandung, termasuk di dalamnya industri kreatif, pariwisata, dan kuliner membutuhkan pencitraan yang baik. Citra ini yang membuat customer, datang untuk membeli produk jasa. Menurut Lovelock (2000), citra ini pulalah yang meminimalkan risiko beli produk jasa. 

Hasil penelitian Costra (2008) menunjukkan, awareness pasar wisatawan lokal yang datang ke Kota Bandung sangat mengarah kepada wisata belanja. Wisata ini selama tahun 2007dan 2008, menduduki top of mind wisatawan lokal yang datang ke Kota Bandung. Wisatawan yang datang berasal dari wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, dan Tangerang, yang relatif membutuhkan perjalanan kurang dari 5 jam. Setelah belanja, mayoritas wisatawan baru mencoba aktivitas lain seperti kuliner, budaya, dan alam.

Jadi, sebetulnya keunggulan Kota Bandung sudah terdeteksi sejak lama. Insan pariwisata di kota ini pun sudah mengerti dan paham betul identifikasi keunggulan kompetitif yang dipunyai. Hanya, integrasi proses pencitraan berjalan dengan alot karena berbagai pihak mempunyai kepentingan masing-masing. 

Solusinya, mesti ada lembaga yang menjadi leader. Paling tidak mempunyai fungsi koordinasi untuk memunculkan citra Kota Bandung di mata dunia, bukan hanya di wisatawan lokal. Karena citra membutuhkan proses yang lama, lembaga ini harus bergerak bebas dengan semangat kreativitas yang tinggi. Aktivitas yang dilakukan bukan hanya promosi, tetapi pemasaran yang berorientasi jangka panjang.

Terakhir, dibutuhkan komitmen dari pemimpin (baca: wali kota) untuk mewujudkan citra yang apik untuk Kota Bandung. Kalau pemimpin hanya dipenuhi pemikiran meningkatkan PAD dalam waktu singkat, segala upaya yang dibangun tidak akan berjalan mulus. Sejujurnya, kita harus khawatir. Takut apabila pemimpin Kota Bandung selalu berorientasi jangka pendek. Punclut dan Babakan Siliwangi adalah korban nyata. What next?***

Penulis, Direktur Eksekutif Centre of Hospitality & Tourism Strategy (Costra), Bandung.

Bahaya Laten Sepotong Sosis


TPG IMAGES

SOSIS merupakan makanan asing yang sudah akrab dalam kehidupan masyarakat Indonesia karena rasanya enak. Namun, di balik kenikmatan makanan yang kaya akan zat gizi ini, terkandung lemak dan kolesterol tinggi yang bisa mengganggu kesehatan. Untuk itu, hati-hati mengonsumsi sosis.


Makanan ini dibuat dari daging atau ikan yang telah dicincang kemudian dihaluskan, diberi bumbu, dimasukkan ke dalam selonsong berbentuk bulat panjang simetris, baik yang terbuat dari usus hewan maupun pembungkus buatan (casing). Sosis juga dikenal berdasarkan nama kota atau daerah yang memproduksi, seperti berliner (Berlin), braunscheiger (Braunshweig), genoa salami (Genoa), dan lain-lain.  

Sosis merupakan salah satu produk olahan daging yang sangat digemari masyarakat Indonesia sejak tahun 1980-an. Istilah sosis berasal dari bahasa Latin, yaitu salsus, yang artinya garam. Hal ini merujuk pada artian potongan atau hancuran daging yang diawetkan dengan penggaraman. 

Jenis Sosis  
Kramlich (1971) membagi sosis menjadi enam kelas. Sementara itu, Forrest et al (1975) membagi sosis menjadi enam kategori berdasarkan metode pembuatan yang digunakan oleh pabrik, yaitu: sosis segar, sosis asap-tidak dimasak, sosis asap-dimasak, sosis masak, sosis fermentasi, dan daging giling masak. 

Sosis segar dibuat dari daging segar yang tidak dikuring. Penguringan adalah suatu cara pengolahan daging dengan menambahkan beberapa bahan seperti garam natrium klorida (NaCl), natrium-nitrit, natrium-nitrat, gula, serta bumbu-bumbu. Sosis segar tidak dimasak sebelumnya dan biasanya tak diasapi, sehingga sebelum dikonsumsi, sosis segar harus dimasak  
Sosis masak dibuat dari daging yang telah dikuring sebelum digiling. Sosis jenis ini dimasak dan biasanya diasapi. Daya simpannya lebih lama daripada sosis segar. Contohnya, frankfurter dan hot dog. 

Dilihat dari jenis dagingnya, sosis dapat terdiri dari beberapa macam, yaitu sosis sapi, sosis ayam, dan sosis babi. Akhir-akhir ini daging kambing juga telah digunakan sebagai bahan baku pembuatan sosis. Di Bali, terkenal sosis yang dibungkus dengan casing usus babi. Sosis itu dinamakan urutan

Komponen Penyusun  
Komponen utama sosis terdiri dari daging, lemak, dan air. Selain itu, pada sosis juga ditambahkan bahan tambahan seperti garam, fosfat, pengawet (biasanya nitrit/nitrat), pewarna, asam askorbat, isolat protein, dan karbohidrat. 

Lemak sering ditambahkan pada pembuatan sosis sebagai pembentuk permukaan aktif, mencegah pengerutan protein, mengatur konsistensi produk, meningkatkan cita rasa, dan mencegah denaturasi protein.

Penambahan garam pada pembuatan sosis bertujuan untuk meningkatkan cita rasa, pengembang protein daging, pelarut protein daging, meningkatkan kapasitas pengikatan air (water holding capacity = WHC), serta sebagai pengawet. Penambahan fosfat akan bersinergi dengan garam untuk meningkatkan WHC pada sosis. 

Tanpa garam dan fosfat, sosis akan sulit untuk dibuat. Asam askorbat sering ditambahkan dalam bentuk asam askorbat maupun natrium askorbat untuk membantu pemerahan daging. Selain itu, asam askorbat juga berfungsi sebagai antioksidan agar produk tidak mudah tengik.  
Untuk mensubtitusi daging, pada pembuatan sosis sering juga ditambahkan isolat protein. Selain itu, pada pembuatan sosis juga ditambahkan karbohidrat sebagai bahan pengisi sosis. 

Pengawet dan Pewarna 
Pada pembuatan sosis, bahan pengawet yang sering digunakan adalah nitrit. Aktivitas antibakteri nitrit telah diuji dan ternyata efektif untuk mencegah pertumbuhan bakteri Clostiridium botulinum, yang dikenal sebagai bakteri patogen penyebab keracunan makanan. Nitrit dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan spora Clostiridium botulinum, Clostiridium perfringens, dan Stapylococcus aureus pada daging yang diproses. 

Selain sebagai pengawet, fungsi penambahan nitrit pada proses kuring daging adalah untuk memperoleh warna merah yang stabil. Nitrit akan terurai menjadi nitrit oksida, yang selanjutnya bakal bereaksi dengan mioglobin membentuk nitrosomioglobin.

Meskipun nitrit sebagai salah satu bahan tambahan pangan memberikan banyak keuntungan, ternyata dari berbagai penelitian telah dibuktikan bahwa nitrit dapat membentuk nitrosamin yang bersifat toksik dan karsinogenik. Nitrosodimetilamin hasil reaksi nitrit dapat menyebabkan kerusakan pada hati dan bersifat karsinogen kuat yang bisa memicu penyakit tumor pada beberapa organ tikus percobaan. 

Jenis bahan pengawet dan dosis maksimum yang diizinkan pada sosis berdasarkan SNI 01-0222-1995 adalah belerang dioksida (450 mg/kg), kalium nitrat (500 mg/kg), kalium nitrit (125 mg/kg), natrium nitrat (500 mg/kg), serta natrium nitrit (125 mg/kg). Jenis pewarna yang biasa digunakan pada sosis adalah eritrosin dan merah allura, masing-masing dengan kadar maksimal 300 mg/kg.  

Jenis Casing 
Terdapat tiga jenis casing yang sering digunakan dalam pembuatan sosis, yaitu alami, kolagen, serta selulosa. Casing alami biasanya terbuat dari usus alami hewan. Casing ini mempunyai keuntungan dapat dimakan, bergizi tinggi, dan melekat pada produk. Kerugian penggunaan casing ini adalah produk tidak awet. 

Casing kolagen biasanya berbahan baku dari kulit hewan besar. Keuntungan dari penggunaan casing ini adalah dapat diwarnai, bisa dimakan, dan melekat pada produk. Casing selulosa biasanya berbahan baku pulp. Keuntungan casing selulosa adalah dapat dicetak atau diwarnai dan murah. Casing selulosa sangat keras dan dianjurkan untuk tidak dimakan. 

Saat ini telah dikembangkan poly amid casing, yaitu casing yang terbuat dari plastik. Casing jenis ini tidak bisa dimakan, dapat dibuat berpori atau tidak, bentuk dan ukurannya dapat diatur, tahan terhadap panas, dan dapat dicetak. 

Nilai Gizi  
Sosis merupakan produk olahan daging yang mempunyai nilai gizi tinggi. Komposisi gizi sosis berbeda-beda, tergantung pada jenis daging yang digunakan dan proses pengolahannya. 
Produk olahan sosis kaya energi dan dapat digunakan sebagai sumber karbohidrat. Selain itu, sosis juga memiliki kandungan kolesterol dan sodium yang cukup tinggi, sehingga berpotensi menimbulkan penyakit jantung, stroke, dan hipertensi jika dikonsumsi berlebihan. 

Ketentuan mutu sosis berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI 01–3820-1995) adalah: kadar air maksimal 67 persen, abu maksimal 3 persen, protein minimal 13 persen, lemak maksimal 25 persen, serta karbohidrat maksimal 8 persen.  

Kenyataannya, banyak sosis di pasaran yang memiliki komposisi gizi jauh di bawah standar yang telah ditetapkan. Hal tersebut menunjukkan pemakaian jumlah daging kurang atau penggunaan bahan tidak sesuai komposisi standar sosis.

Penulis : Prof. DR. Made Astawan, Departemen Teknologi Pangan Dan Gizi IPB.

Merajut Penggunaan Bahasa Sunda

Oleh Cornelius Helmy dan Yulvianus Harjono

Eksistensi bahasa Sunda di kalangan generasi muda kembali dipertanyakan. Bahasa Sunda sering dikatakan kalah populer dibandingkan dengan dialek Betawi yang sering diucapkan artis di televisi. Ada yang mengatakan tidak menggunakan bahasa Sunda karena menghargai teman yang bukan orang Sunda, merasa sulit mengucapkan, atau bahkan malu mengucapkannya.


Mesa Wiguna (18), siswi SMA Yayasan Atikan Sunda, mengaku beruntung bersekolah di tempat yang mayoritas siswa dan metode pengajarannya membiasakan berbahasa Sunda. Dalam percakapan keseharian di kompleks sekolah, ia lebih sering menggunakan bahasa Sunda.

Namun, itu tidak terjadi bila ia sudah berada di luar kompleks sekolah. Ia menggunakan bahasa gaul. Alasannya, menyesuaikan diri dengan teman-temannya. Putri (16), siswi SMAN 2 Kota Bandung, beralasan, bahasa Sunda relatif sulit dipelajari dan dipraktikkan karena memiliki ragam undak usuk.

"Takut-takutnya, nanti malah bicara kasar," ungkapnya. Ada lagi pengalaman Nandi Maulana, mantan wartawan koran berbahasa Sunda di Bandung. Ia mengatakan, di luar kewajiban menulis dalam bahasa Sunda, ketika menulis ada perasaan nyaman karena harus menggunakan bahasa Sunda yang sehari-hari ia gunakan. Ia merasa bangga ikut melestarikan bahasa Sunda.

Dimulai dari rumah

Ruhaliah, Sekretaris Jurusan Bahasa Daerah Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Indonesia, menuturkan, berkurangnya penggunaan bahasa Sunda disebabkan adanya pergeseran paradigma di kalangan generasi penutur asli saat ini. Masyarakat sering kali merasa gengsi berbahasa ibu (Sunda), dan sebaliknya lebih nyaman jika menggunakan bahasa asing atau serapannya.

"Harusnya, pelestarian bahasa ibu dimulai dari rumah. Sebab, inilah lingkungan yang terdekat. Yang menjadi soal, sering kali si ibu justru enggan atau tidak membiasakan diri mengobrol dengan anak menggunakan bahasa daerahnya," ungkap pengajar bahasa Sunda di UPI ini.

Ironisnya, masyarakat dari negara lain justru tertarik mendalami bahasa ini. Ini terbukti dari banyaknya disertasi atau penelitian mahasiswa asing yang bertopik bahasa dan sastra Sunda. Misalnya, Mikihiro Moriyama dari Jepang yang meneliti bahasa dan kesusastraan Sunda abad ke-19. Kuatnya pengaruh budaya pop yang terfragmen di dalam siaran televisi dan radio kian memperburuk kondisi.

Pupuhu Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda Etty RS menjelaskan, dewasa ini peran keluarga mengajarkan bahasa Sunda mulai jarang dilakukan. Meskipun dalam satu keluarga dan orangtuanya asli Sunda, kebiasaan menuturkan bahasa Sunda semakin jarang dilakukan. Alasan yang paling banyak dilontarkan, mereka takut anaknya kesulitan bergaul di sekolah.

Selain keluarga, pemerintah, dalam hal ini Dinas Pendidikan Jawa Barat, harus bekerja keras. Etty merasa, metode pembelajaran bahasa Sunda jauh dari harapan. Salah satunya, perhatian terhadap sumber daya manusia. Mayoritas guru bahasa Sunda di banyak sekolah bukan berasal dari pendidikan bahasa Sunda. Bahkan, karena dianggap tidak penting, guru Olahraga pun sering kali merangkap guru Bahasa Sunda karena bisa berbicara Sunda.

Selalu ada jalan

Hal lain dikatakan Dadan Sutisna, Redaktur Pelaksana Cupumanik, majalah berbahasa Sunda. Menurut dia, masih banyak perdebatan terhadap minimnya eksistensi bahasa Sunda di kalangan anak-anak muda.

Alasannya, selama ini survei atau metodologi yang dilakukan kebanyakan dilakukan di kota besar, seperti Bandung yang konsentrasi anak muda dalam pengertian duduk di bangku sekolah atau perguruan tinggi hanya sekitar 30 persen. Padahal, bila mau melihat lebih jauh di berbagai daerah pelosok Jabar, bahasa Sunda masih sering digunakan dalam keseharian.

"Jangan sampai terjebak dalam ketakutan. Selalu ada jalan dan kreativitas melestarikan bahasa Sunda. Mengutip Rektor Universitas Padjadjaran Bandung Ganjar Kurnia, bahasa Sunda pernah dikhawatirkan hilang sejak 1920-an, tetapi hingga sekarang tetap langgeng," katanya.  

Anak Muda Jarang "Ngomong" Sunda
Sabtu, 1 November 2008 | 03:00 WIB 

Oleh Indah Surya Wardhani


Provinsi Jawa Barat dihuni hampir 75 persen orang Sunda. Bahasa Sunda masih digunakan dalam percakapan sehari-hari, dari keluarga hingga lingkungan sekolah dan kantor. Namun, kini kaum muda perlahan melupakan bahasa ibunya.

Demikian kesimpulan hasil jajak pendapat Kompas yang menjaring 403 responden di empat kota di Jabar. Sebanyak 79,7 persen responden bisa bertutur menggunakan bahasa Sunda, sedangkan 20,3 persen lainnya tidak bisa berbahasa Sunda.

Menurut lebih dari separuh responden yang bisa bertutur bahasa Sunda, bahasa ibu ini sering mereka pakai dalam pergaulan sehari-hari yang sifatnya informal. Sebanyak 34,6 persen responden lainnya mengaku jarang.

Di lingkungan yang lebih formal, seperti lingkungan kantor dan sekolah, bahasa Sunda masih dipakai oleh 43,6 persen responden. Adapun 43 persen responden mengaku jarang menggunakan bahasa itu di lingkungan formal.

Jika dicermati, mereka yang menggunakan bahasa Sunda di lingkungan formal terutama responden berusia produktif, yakni 29-38 tahun. Di lingkungan kantor atau sekolah, misalnya, 37,5 persen responden di kelompok usia ini mengaku sering ngomong dalam bahasa Sunda. Bahkan, 10 persen lainnya mengaku selalu berbicara dalam bahasa Sunda.

Meski masih menjadi bahasa percakapan sehari-hari, penggunaan bahasa Sunda dinilai berkurang terutama di kalangan remaja. Berkembangnya budaya pop dan merebaknya bahasa gaul di kalangan remaja agaknya memengaruhi kondisi ini.

Menurut sebagian besar responden yang bisa bertutur bahasa Sunda, penggunaan bahasa Sunda di kalangan remaja semakin berkurang dibandingkan dengan lima tahun lalu. Hanya 8,7 persen responden berpendapat, pengguna bahasa Sunda semakin meningkat.

Bandung paling minim

Berkurangnya penggunaan bahasa Sunda di kalangan remaja paling terlihat di Kota Bandung. Sebanyak 74 persen responden di kota itu menilai, penggunaan bahasa Sunda di kalangan remaja semakin berkurang dibandingkan dengan lima tahun lalu.

Penilaian serupa disuarakan responden di Kota Tasikmalaya dan Sukabumi. Menurut lebih dari 70 persen responden di dua kota itu, penggunaan bahasa Sunda semakin berkurang di kalangan remaja. Padahal, di dua kota itu lebih dari 90 persen warganya merupakan suku Sunda. Selain di kalangan remaja, penggunaan bahasa Sunda di masyarakat Jabar juga semakin berkurang. Hal itu setidaknya diakui 62 persen responden yang menilai penggunaan bahasa Sunda semakin berkurang dibandingkan dengan lima tahun lalu. Sementara yang menjawab sebaliknya hanya 15 persen.

Kurikulum

Semakin berkurangnya penggunaan bahasa Sunda di kalangan anak muda dan masyarakat Jabar bukan tidak mungkin bahasa itu kehilangan penuturnya.

Melihat hal itu, pelajaran Bahasa Sunda sebagai muatan lokal perlu dimasukkan dalam kurikum pendidikan sekolah menengah atas dan kejuruan. Hal ini setidaknya diamini mayoritas responden jajak pendapat ini, sementara yang menolak hanya 11,2 persen.

Jika dicermati, persentase tertinggi terhadap bahasa Sunda dimasukkan dalam kurikulum SLTA disuarakan responden yang tinggal di Kota Sukabumi dan Tasikmalaya. Di dua kota itu, lebih dari 90 persen responden setuju jika bahasa Sunda dimasukkan dalam kurikum. (Litbang Kompas)

"Saudara Tua" Beri Kami Shinkansen...


Kompas/Haryo Damardono / Kompas Images 
Beberapa pegawai PT Industri Kereta Api (Inka) memasang bogie kereta rel diesel hidrolik, Rabu (15/10) di pabrik PT Inka di Madiun, Jawa Timur. Tahun ini, PT Inka menerima pesanan dua rangkaian kereta rel diesel hidrolik berkecepatan maksimal 100 kilometer per jam.


Oleh HARYO DAMARDONO

Hari ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan membuka Indonesia Jepang Expo 2008 yang diselenggarakan Kompas-Nikkei. Di salah satu sudut ekspo, ditampilkan simulator tiga dimensi kereta peluru Shinkansen yang beroperasi di Jepang sejak Oktober 1964. Mungkinkah Indonesia mengoperasikan Shinkansen?


Pada 10 Agustus 1867, satu rangkaian kereta api berangkat dari Stasiun Semarang Kemijen menuju Tanggung sejauh 25 kilometer. Dioperasikan Nederlandsch-Indische Spoorweg-Maatschappij, itulah kereta api (KA) pertama di Indonesia.

Lima tahun kemudian, Oktober 1872, barulah KA pertama beroperasi di Jepang, antara Tokyo dan Yokohama. Jadi, pemerintah kolonial Hindia Belanda mengungguli Kerajaan Jepang dalam pembangunan KA.

Hindia Belanda juga lebih cepat membangun trem listrik. Tahun 1899, Batavia Electrische Tram Maatschappij telah mengoperasikan trem listrik, sedangkan di Tokyo trem listrik baru ada tahun 1903.

Namun, Oktober 1964, Jepang ”meninggalkan” Indonesia dengan mengoperasikan kereta peluru Tokaido Shinkansen. KA itu melaju antara Tokyo dan Shin Osaka (515 km) berkecepatan 270 km per jam.

Teknologi berkembang. Bila tahun 1964, Tokyo-Shin Osaka ditempuh dalam 4 jam, kini 2 jam 30 menit. Bila tahun 1964, beroperasi 60 kereta per hari, tahun 2007 dijalankan 301 kereta per hari.

Tiap hari, Tokaido Shinkansen mengangkut 375.000 penumpang, lebih banyak 100.000 penumpang dari KA Jabotabek. Tokaido Shinkansen pun telah mengangkut 4,5 miliar orang, lebih banyak dari akumulasi penumpang KA supercepat di seluruh dunia.

Shinkansen memang mumpuni. Hasil riset Japan Railway Central memamerkan keunggulan Tokaido Shinkansen untuk jarak di bawah 750 km, dibandingkan dengan pesawat. Karena Jakarta-Surabaya berjarak 683 km, kiranya Shinkansen juga lebih unggul.

Contohnya, apabila lama perjalanan Shinkansen dari Tokyo-Osaka (552,6 km) adalah 2 jam 25 menit, ternyata total perjalanan pesawat adalah 2 jam 30 menit. Terbang dari Tokyo-Osaka memang hanya satu jam, tetapi dari pusat kota ke bandara dan proses check-in butuh waktu satu jam 30 menit.

Hasrat PT Inka

Produsen kereta, PT Industri Kereta Api (Inka), pun getol mempromosikan Shinkansen. Inka seolah mengingatkan, KA jarak jauh hanya diminati bila waktu tempuhnya kian singkat.

Bila Shinkansen terbangun, Jakarta-Surabaya cukup 2 jam 20 menit. PT Inka pun merasa mampu membangun di markasnya di Madiun, Jawa Timur. Setidaknya, membangun badan (carbody), bogie (komponen roda dan suspensi), dan interior. Sementara mesin, transmisi, hingga pantograf dapat diimpor.

Mengapa Shinkansen? Mengapa bukan Les Trains Grande Vitesse (TGV) produksi Perancis atau Inter City Express yang digunakan di Jerman? Sebab, PT Inka ”dekat” dengan Nippon Sharyo, produsen Shinkansen.

Sejak didirikan pada 29 Agustus 1981, Inka memang telah dibimbing Nippon Sharyo. Dijadikannya KA Jepang sebagai kiblat adalah ekses dari pinjaman Jepang melalui Overseas Economic Cooperation Fund senilai 525 juta dollar AS pada awal 1980-an.

Dari pinjaman Jepang itu, dibuatlah 400 gerbong barang. Sembari memproduksi, berlangsunglah alih teknologi. Pekerja generasi pertama PT Inka pun dikirim ke Jepang, di antaranya Roos Diatmoko, yang kini menjabat Direktur Utama PT Inka.

Apabila kajian roadmap perkeretaapian Indonesia direalisasikan, KA supercepat beroperasi mulai tahun 2020. Kajian itu disusun Japan Transportation Consultants dan didanai Japan Bank for International Coorporation.

Andai KA supercepat jadi dibangun, PT Inka akan bermitra dengan Nippon Sharyo memproduksi Shinkansen tipe N-700. Sekali jalan, Shinkansen mengangkut 1.323 penumpang, setara 12 pesawat Boeing 737-300, yang kini biasa terbang di Indonesia.

Akankah Dibangun?

Sulit menjawab kapan KA supercepat ini mulai dibangun sebab bangsa ini tak punya visi jelas dalam membangun transportasi. ”Lihat, apakah ada investasi serius Indonesia di perkeretaapian? Tidak ada,” ditegaskan Pierre-Damien Jourdain.

Jourdain bekerja untuk Alstom, produsen KA Perancis. Tahun lalu, KA Alstom mencetakrekor, yakni 574,8 km per jam. Dua kali lebih cepat dari Shinkansen!

Pesan di balik kedatangan Alstom adalah produsen KA supercepat telah hadir, tetapi sikap kita tetap tak jelas. Selain memang tiada dana untuk itu.

Padahal, kita bermimpi sejak 1990-an. Studi Perancis Societe Nationale des Chemins de Fer (SCNF) telah mengestimasi 6,14 miliar dollar AS untuk KA supercepat Jakarta-Surabaya.

PT KA bermimpi sama. Julison Arifin, Direktur Pengembangan Usaha PT KA menyatakan, kalau jadi, stasiun KA supercepat dibangun di Manggarai (Jakarta) dan Gubeng (Surabaya). Lahan PT KA di dua tempat itu masing-masing 20-30 hektar.

Agar tiket tak terlalu mahal, biaya operasional disubsidi pendapatan bisnis non-inti dari dua stasiun KA supercepat. Direncanakan, 50 persen pendapatan dari tiket, 30 persen dari bisnis di Stasiun Manggarai, dan 20 persen dari bisnis di Gubeng.

Saat kita masih bermimpi dan mengkaji, awal 2007, Vietnam mengumumkan pembangunan KA supercepat Hanoi-Ho Chi Minh City (1.630 km). Investasinya sebesar 33 miliar dollar AS.

Memang tak murah membangun KA supercepat. Selain harus mengimpor teknologi tinggi yang belum kita kuasai, prasarana juga harus dibangun dari nol. Supaya tiada perlintasan sebidang, harus dibangun jembatan layang rel Jakarta-Surabaya.

Belum lagi persinyalan, instalasi listrik, pusat kontrol, hingga perangkat satelit. Dibutuhkan pula investasi pendidikan masinis dan kru serta sosialisasi bagi pengguna agar perjalanan KA lancar. Karena sistem nyaris sempurna, rata-rata keterlambatan per Shinkansen adalah 20 detik!

Walau tak murah, menimbang besarnya biaya eksternal moda transportasi lain, KA supercepat layak dibangun. Siapa pembangunnya? Tentu inisiatif pemerintah, lalu menggaet swasta.

Teknologi mana? Patut dipertimbangkan Nippon Sharyo dengan Shinkansen-nya. Sebab, kerja sama dengan Nippon Sharyo mesti dipandang sebagai konsekuensi pendirian PT Inka dengan pengaruh teknologi Jepang. Bila ingin maju, kita harus konsisten dengan pilihan masa silam.

Setelah melihat kondisi KA Jabotabek tahun 2000, Kaisar Akihito menghibahkan KRL AC seri 6000 sebanyak 72 unit. Siapa tahu, kini Pemerintah Jepang mau meminjamkan uang. Bila Jepang mau dan berniat membantu membangun Shinkansen, hal itu akan menjadi kado termanis persahabatan 50 tahun Indonesia-Jepang.

Bahasa-bahasa yang Sedang Menuju Kematian


TPG Images
ilustrasi


JAKARTA, SABTU - Sebagian besar bahasa daerah di Indonesia terancam punah, karena sudah ditinggalkan oleh penuturnya. Artinya, tidak lagi dipergunakan dalam percakapan sehari-hari dan tidak pula diajarkan kepada anak-anak. 

   
Gufran Ali Ibrahim dari Universitas Khairun, Ternate mengemukakan, biasanya bahasa-bahasa daerah yang terancam punah tersebut tidak dipakai lagi oleh penuturnya dan situasi seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan juga pada sejumlah bahasa asing yang penuturnya semakin kecil. 
   
Gufran mengemukakan fakta tersebut dalam diskusi panel kebahasaan pada Kongres IX Bahasa Indonesia di Jakarta yang berlangsung 28 Oktober hingga 1 November 2008 di Jakarta. 
   
Ia menyitir laporan dari para peneliti, yang menyampaikan bahwa dari 6.809 bahasa di seluruh dunia, 450 di antaranya memiliki jumlah penutur yang sangat sedikit, sudah berusia tua dan cenderung menuju kepunahan. 
   
Beberapa bahasa dunia yang nyaris punah itu pada tahun 1977 dilaporkan adalah bahasa Eyak di Alaska yang hanya memiliki dua orang penutur, juga beberapa bahasa asing lain yang jumlah penuturnya kurang dari sepuluh orang. 
   
Bahasa Latin Klasik (Greek Koine) juga dilaporkan berabad-abad lalu telah "mati" sebagai bahasa yang dituturkan. Pergerakan ke arah kepunahan bahasa itu terutama terjadi di negara berkembang dan miskin, jumlah penuturnya kurang dari 200 orang. 
   
Di Indonesia misalnya, Petrus Poerwadi, ahli bahasa dari Universitas Palangkaraya menyebutkan terdapat dua bahasa etnis Dayak yang punah yaitu bahasa Pangunraun dan bahasa Sangen. 
   
Bahasa-bahasa daerah tersebut menurut Petrus, tidak dipakai lagi oleh para penuturnya yang menganggap bahwa bahasa mereka "kurang bagus", "kasar" atau "kampungan", dibanding bahasa di sekitarnya yang dianggap lebih "modern" dan bergengsi. 
   
Di Kalteng, bahasa Ngaju dan Banjar dipergunakan secara luas selain bahasa lain yang komunitas penuturnya kecil, sehingga bahasa daerah yang lain semakin tertekan. 
   
Para penutur bahasa daerah seperti itu seringkali malu sehingga tidak banyak memakai bahasa ibu mereka dan memilih memakai bahasa daerah yang lebih banyak penuturnya atau memakai bahasa nasional dalam percakapan pergaulan. 
   
Di Kalimantan Tengah, Petrus Poerwadi mengelompokkan kondisi Bahasa Dayak dalam tiga kategori, yaitu bahasa yang sudah punah, berpotensi punah, dan kelompok yang bertahan hidup. 
   
Bahasa Paku di Kalteng kini terancam punah, penuturnya hanya 500 orang katanya. 
   
Gufran juga mengemukakan di Maluku Utara, Bahasa Ibo (Ibu) yang pada tahun ini diketahui terancam punah karena hanya dikuasai oleh lima penutur yang berusia di atas 50 tahun, nyaitu bahasa Waiyoli yang dipakai hanya pada dua desa yaitu Gam Lamo (Kampung Besar) dan Gam Ici (Kampung Kecil) yang letaknya terpisah sejauh 5 kilometer, di Halmahera Barat. 
   
Masyarakat setempat selain menggunakan bahasa etnik masing-masing, juga telah lama memakai bahasa Kesultanan Ternate dan Bahasa Melayu Ternate sebagai "Lingua Franca" atau bahasa lintas etnik. 
   
Keadaan tersebut membuat mereka meninggalkan pemakaian bahasa ibu yang sekarang hanya dipakai oleh lima orang saja yaitu Nenek Hajija, Kakek Ismail (80) Nifu Hamiru (70). Han Noho dan Gani Saleh masing-masing 45 tahun. 
   
  Pemetaan lengkap 
   
Kedua ahli bahasa itu menyampaikan gagasan yang serupa, yaitu perlu segera dilakukan pemetaan bahasa secara lengkap terhadap bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan bukan hanya melihat struktur bahasa, melainkan juga melihat aspek budaya. 
   
Melalui pemetaan tersebut akan dapat diketahui bahasa-bahasa mana yang "sehat" atau memiliki banyak penutur yang masih aktif memakainya dalam percakapan sehari-hari, kemudian juga bahasa mana yang berpotensi ditinggalkan dan bahasa yang terancam punah. 
   
Data tersebut akan bermanfaat untuk pengambilan kebijakan selanjutnya, apakah akan mempertahankan, menguatkan atau justru "mengabaikan" bahasa yang sudah mendekati punah. 
   
Pemakaian istilah "mengabaikan" oleh pembicara, mengesankan sikap tidak peduli, sehingga ada peserta kongres yang meminta penjelasan lebih lanjut kepada Petrus Poerwadi. 
   
"Jika penuturnya sudah amat sedikit, dua atau lima orang, tentu akan sia-sia jika kita menghabiskan energi untuk upaya menghidupkannya kembali. Untuk kasus seperti ini yang dapat dilakukan adalah tindakan penelitian dan pendokumentasian. Tetapi untuk bahasa-bahasa yang masih lebih banyak penuturnya, dapat diupayakan penyelamatan," kata Petrus. 
   
Sejumlah bahasa daerah diketahui tidak lagi digunakan untuk percakapan sehari-hari tetapi masih dipakai untuk kepentingan khusus misalnya dalam upacara adat, pertunjukkan dan sastra. 
   
Gufran menegaskan pendapat yang mengemukakan bahwa kepunahan bahasa sama dengan kepunahan peradaban. Ia mengutip kata-kata antropolog Leslie Whiite: "Remove Speech from culture and what would remain". 
   
Lembaga Bahasa-bahasa langa, Living Toungues Institute for Endangered Languages yang peduli pada penyelamatan bahasa yang terancam punah mengeluarkan moto "Membawa Tuturan ke Masa Depan" dan menyebutkan bahwa bahasa adalah gudang pengetahuan manusia yang sangat luas tentang dunia, alam, tanaman, hewan, ekosistem dan sediaan budaya. Setiap bahasa memuat keseluruhan sejarah umat manusia. 
   
Terhadap bahasa-bahasa yang berpotensi punah dapat dilakukan upaya penyelamatan yaitu dengan membuka kelas-kelas khusus bagi orang dewasa, mengajarkannya kepada anak-anak, seperti yang telah berhasil dilakukan terhadap bahasa Maori di Selandia Baru dan bahasa Waorani di Ekuador. 
   
Pada tahun 1956, bahasa Waorani memiliki penutur 150 orang, setelah dilakukan penelitian linguistik dan membuka kelas bahasa, pendidikan dan pengobatan modern, kini jumlah penuturnya mencapai 900 orang. 
   
Dari 424 bahasa yang ada di Indonesia, 169 di antaranya kini diketahui terancam punah, sehingga perlu segera dilakukan tindakan untuk memetakan dan menyelamatkannya.

ABI 
Sumber : Ant

Muslim dan Identitas Islam di Eropa

By Republika Contributor

Jumat, 31 Oktober 2008 pukul 10:35:00

EDWIN/REPUBLIKA

AMEL BOUBEKER : Doktor dan Peneliti di Pusat Studi Politik Eropa yang kerap mengkaji Islam kontemporer di dunia Barat.


JAKARTA- Bagi Amel Boubeker, agama yang dianutnya, yakni Islam lebih penting dari budaya dan adat-istiadat. Namun menurut perempuan keturunan Perancis-Aljazair itu tak berarti Muslim harus menghabiskan setiap harinya beribadah, berlama-lama di masjid dan berdzikir.

Peneliti di Pusat Studi Kebijakan Eropa (CEPS), yang masih berusia muda itu berkesempatan datang di Kantor Republika pada hari Kamis (30/10). Dalam kunjungannya selama hampir dua jam, ia menuturkan sekilas bunga rampai Islam di Eropa.

“Islam sangat mudah ditarget, dihina, karena Muslim di Eropa adalah kaum miskin, tidak terorganisir secara baik, jarang berpendidikan tinggi,” ungkap Amel. “Bagaimana Muslim dapat dikenal jika tidak dipromosikan,”imbuhnya.

“Seperti Yahudi, ketika mereka mempromosikan keyakinan mereka, mereka melakukan itu sebagai warga negara Perancis. Meeka aktif mendatangi pihak-pihak yang berwenang untuk berbagi dan memberi pendapat tentang hal sosial kemasyarakatan,” kata Amel. “Selain membuat Yahudi semakin diterima, mereka pun dihormati oleh warga Perancis dan Pemerintah,” ungkapnya.

Amel pun meyakini Allah dan Nabi Muhammad pun bukanlah hal yang bisa disejajarkan dengan budaya. “Itu jauh di atas dan segalanya bagi Muslim. Namun di Eropa, sulit untuk menerima pendapat itu, bahwa ada identitas yang melebihi segalanya,” ungkapnya.

“Kalau saya, saya akan mempromosikan dalam bentuk lain, melalaui buku-buku dan kajian lain dengan cara yang bisa mereka terima,” kata Amel lagi. “Namun tentu itu tidak bisa dilakukan jika kita tidak hirau dan setiap hari hanya menghabiskan waktu di masjid, dan berdzikir,” tegas Amel.

Saat itu wanita yang mengambil “Transformasi Kontemporer dalam Pergerakan Islam di Barat’’ sebagai judul desertasinya menuturkan bagaimana kebebasan berekspresi yang tinggi di Eropa memunculkan banyak penghinaan bagi Muslim. Dalam penilaian Amel itu terjadi karena komunitas Muslim yang rentan.

“Yang terjadi Muslim sangat mudah marah daripada berpikir taktis mempromosikan Islam. Padahal, sebaliknya pula, kebebasan berekspresi memungkinan kita untuk itu,” tegasnya.

Namun ia sendiri mengakui jika kontribusi ketimpangan non-Muslim memandang Islam, baik melalui media juga mempengaruhi citra Islam. “Itu sangat berkaitan dengan pembuat kebijakan kantor media, dan untuk alasan komersial, mereka ingin yang berbau kontroversial, seperti kekerasan dalam rumah tangga, Islam radikal,”

“Saya pernah melihat surat kabar, foto seorang wanita bercadar hitam, dengan ikat kepala bertuliskan huruf Allah dalam bahasa Arab. Itu wanita Hisbut Tahrir di Lebanon, tetapi yang ditulis, seolah-olah itulah citra Islam di Eropa,” tutur Amel.

“Sering pula media non-Muslim mengambil gambar sembunyi-sembunyi, lalu direkayasa lagi dengan komputer untuk menampilkan sisi gelap Islam,” kata Amel lagi. “Mereka memberitakan kebohongan, dan itu yang membuat Muslim harus waspada,” imbuhnya.

Respon Muslim terhadap propaganda media non-Muslim kadang dikeluhkan Amel. “ Ah itu kan bukan kita yang sebenarnya, Oh Islam kan tidak seperti itu. Tidak bisa hanya berkata seperti itu,” tukas Amel.

Islam memang bukan agama murni di Eropa. Agama datang dari perantauan, dibawa oleh imigran dari negara-negara bekas kolonial. Perancis, menurut Amel, imigran Islam datang dari negara-negara di Afrika Utara yang menjadi bekas jajahannya, seperti Senegal, Maroko, Tunisia, Aljazair, Mesir, Mali yang sebagian besar masuk di tahun 1974.

Mayoritas—bila tidak bisa dikatakan semua—imigran Muslim di Paris tinggal di kawasan sub urban. “Itu karena mereka sebagai besar adalah warga miskin,” ujar wanita yang fasih berbahasa Arab, Perancis, dan Inggris itu.

Saat membandingkan dengan Muslim di Inggris, Amel mengakui jika Imigran Pakistan dan India berbeda dengan imigran asal Afrika Utara. “Pakistan dan India memiliki tradisi dan latar belakang pendidikan lebih maju ketimbang negara-negara Afrika Utara, karena itu di Inggris, komunitas-komunitas Islam pun banyak dijumpai di pusat-pusat kota, berbeda di Perancis yang mayoritas di pinggir kota,” ujarnya.

Begitupun dalam mengekspresikan identitas, Menurut Amel akan mudah dijumpai orang dengan atribut identitas, India dengan kain sari, atau Muslim berjilbab, di jalan-jalan kota Inggris. “Namun kekurangannya di Inggris, identitas menjadi sangat kuat, komunitas Pakistan bisa bertetangga dengan Komunitas India. Mereka bertoleransi, namun mereka tidak membaur atau bersinggungan satu sama lain,” ungkap Amel.

Sedangkan di Perancis, karena larangan penggunaan simbol-simbol spesifik keagamaan di tempat umum, Muslim memang sulit mengekspresikan keagamannya secara total, namun pembauran antar ras terjadi lebih mulus.

Toh Amel mengungkapkan pula jika kini Larangan penggunakan atribut keagamaan spesifik termasuk jilbab yang dikeluarkan pemerintah Perancis tahun 2004 menimbulkan perlawanan. Muncul terutama dari generasi pemuda, yakni anak-anak para imigran yang lahir dan besar di Perancis.

“Ada perlawanan, mengapa kami tidak bisa mengekspresikan identitas agama kami? Apa yang kami yakini benar. Bagaimanapun kembali lagi, ajaran agama, Allah, dan Nabi Muhamad di atas segalanya,” kata Amel.

Amel sendiri mengkaji sikap Perancis melarang atribut agama berkaitan dengan sejarah panjang monarki sebelum revolusi 1489. Saat itu Raja diyakini ditunjuk oleh Tuhan, dan gereja menjadi institusi hukum yang mengikat. Revolusi muncul akibat rakyat Perancis tak tahan lagi terhadap kebobrokan sistem Kerajaan dan Gereja yang korup.

Hingga pada tahun 1905, Perancis meluncurkan undang-undang resmi yang memisah gereja dengan negara. Aturan itu dibuat berdasar prinsip-prinsip,”laicite”, atau sekularisme ketat yang ditujukan pada kekutan Gereja Katholik saat itu. Itulah, Menurut Amel, terutama di sekolah, awal pendidikan bagi seseorang, agama tidak bisa dimasukkan, sebab bagian dari prinsip negara yang diatur undang-undang.

Namun aturan itu sepertinya tidak menghentikan perjuangan Muslim untuk membuat jilbab diterima di lingkungan Perancis, terutama di Kampus.“Ada perlawanan, mengapa kami tidak bisa mengekspresikan identitas agama kami? Apa yang kami yakini benar. Bagaimanapun kembali lagi, ajaran agama, Allah, dan Nabi Muhamad di atas segalanya,” kata Amel, meski ia sendiri tidak mengenakan kerudung.

Amel menilai jika pasca peristiwa WTC 11 September, meski kelompok anti Islam tetap ada, orang sudah mulai menengok dan mengetahui Islam lebih dalam. “Bila memang kebebasan berkeyakinan, penghormatan, sudut pandang liberal adalah nilai-nilai di Eropa, itu yang seharusnya diterima Muslim pula,” ujar Amel

 “Hanya saja bagi saya apa yang luput dari Komisi Eropa adalah, mereka tidak masuk dalam deal politik, melainkan melakukan dialog antar budaya dan keyakinan. Padahal Bagi Muslim, agama bukanlah budaya, inilah yang salah diartikan,” kata Amel.

“Selama yang terjadi adalah dialog antar budaya, dan keyakinan, maka orang akan tetap membawa identitas kuat masing-masing. Seharusnya kita duduk bersama sebagai warga negara umum biasa, yang membicarakan masalah-masalah sosial beserta solusinya,” tegas Amel./it

 

Demografi Muslim di Eropa

Islam dianggap sebagai agama yang berkembang cepat di Eropa. Faktor Imigrasi dan jumlah kelahiran yang cukup besar membuat peningkatan populasi Muslim semakin pesat

Sulit dipastikan jumlah populasi Muslim secara total di Eropa. Namun sejumlah sensus di setiap negara sering menanyakan latar belakang agama dapat sedikit mengungkap fakta angka populasi Muslim di sana, meski sejumlah negara memilih untuk mengompilasi data yang mereka peroleh.

Berikut adalah beberapa negara dengan populasi Muslim berdasar sensus setiap sepuluh tahun yang di data pada awal abad ke-21.

 

ALBANIA

Populasi total: 3,1 juta

Populasi Muslim : 2,2 juta (70%)


Latar Belakang: Agama sempat dilarang keras di Albania hingga transisi pemerintahan Stalin menuju Demokrasi Soviet pada tahun 1990. Islam kini diakui terbuka sebagai salah satu agama negara. Sebagai Muslim Albania adalah Muslim Suni sebab terkait dengan sejarah mereka. Balkan selama berabad-abad sangat dekat dengan keyakinan tersebut karena menjadi bagian dari Kekaisaran Ottoman Turki. Ketika kekaisaran lama berlalu, kebudayaan tetap bertahan. Bahkan toleransi antar umat bergama begitu besar di sana. Ada kode sosial bernama Beza, yakni setiap orang wajib membantu dan melindungi siapapun yang mengetuk rumah mereka. Kode itu sejalan dengan keyakinan Islam. Populasi Muslim Albania cukup signifikan di negara-negara Eropa lain karena jumlah populasi yang besar.

Sumber: Populasi total - Albanian Institute of Statistics, 2005; Populasi Muslim - UK Foreign Office.

AUSTRIA

Populasi total : 8,2 million

Populasi Muslim: 339,000 (4.1%)


Latar belakang: Muslim dalam jumlah besar hidup dibawah pemerintahan Austria ketika Bosnia-Hesergovina dikuasai koalisi Austria-Hungaria pada tahun 1908. Banyak Muslim Austria memiliki akar Turki, dan yang lain datang dari negara-negara Balkan selama perang 1990, terutama karena ikatan historis. Islam telah diakui sebagai agama resmi negara selama bertahun-tahun, yang berarti memiliki peran dalam pengajaran agama di sekolah. Wina secara historis dianggat titik dimana dunia Islam mencapai titik sangat barat, sebuah peperangan menentukan di Austria pada abad ke-16 menandai awal keruntuhan Kekaisaran Turki

Sumber: Populasi total - Statistics Austria, 2005 figures; Populasi Muslim - Statistics Austria, 2001 figures.

BELGIA

Populasi total: 10,3 juta

Populasi Muslim : 0,4 juta (4%)


Latar belakang: Islam adalah agama ketujuh yang diakui secara resmi oleh Belgia, status yang membuat pemerintah memberi subsidi dan peran resmi, termasuk menyediakan guru agama. Terlepas dari itu tetap muncul banyak keluhan akibat diskriminasi. Pengangguran dan kemiskinan adalah salah satu penyebab ketegangan. Muncul klaim diskriminasi pula kepada wanita karena mengenakan pakaian Islami. Namun (menurut Amel) bentuk kerajaan yang menjadi latar belakang Belgia, membuat penghormatan terhadap identitas cukup kuat. Masjid banyak tumbuh subur di sana. Mayoritas Muslim Belgia berasal dari Maroko dan Turki, sementara yang lain berasal dari Albania. 

Sumber: Total populasi - Statistics Belgium 2001; Populasi Muslim - US State Department.

 

BOSNIA-HERSEGOVINA

Populasi total: 3,8 juta

Populasi Muslim: 1,5 juta (40%)


Latar Belakang: Bosnia-Hersegovina kini masih dalam tahap penyembuhan dari perang antar etnis berdarah 1992-1995. Sekitar 250 ribu orang terbunuh akibat konflik antara Muslim Bosnia, Kroasia, dan Serbia. Hampir 8.000 Muslim terbunuh oleh Serbia di Srebrenica pada 1995- kekerasan terburuk di Eropa terhitung sejak Perang Dunia ke-II. Banyak Muslim mengungsi, sebagaimana komunitas lain. Pasukan perdamaian tetap ditempatkan di negara tersebut, yang bertugas cukup lama menjaga perbatasan barat dari komunitas islam di Eropa.  

Sumber : Populasi Total - Agency for Statistics Bosnia and Herzegovina, 2003 figures; Populasi Muslim - US State Department.

 DENMARK

Populasi total : 5,4 juta

Muslim population: 270,000 (5%)


Latar belakang: Muslim datang ke Denmark dari Turki, Maroko dan Yugoslavia (dulu) pada 1970. Lalu pada tahun 1980-an dan 1990-an mayoritas Muslim datang sebagai pengungsi yang mencari perlindungan yakin dari Iran, Irak, Somalia, dan Bosnia. Akses memiliki rumah tingga dan pekerjaan merupakan isu besar Muslim di Denrmark (hanya minoritas Muslim yang akhirnya mendapat kewarganegaraan

Sumber: Populasi total - Statistics Denmark, 2004 figures; Populasi Muslim - US State Department.

PERANCIS

Populasi total: 62,3 juta

Populasi Muslim: 5- 6 juta (8-9.6%)


Latar Belakang : Muslim populasi Perancis adalah yang terbesar di Eropa barat. Sekitar 70 % memiliki warisan dari bekas koloni Perancis di Afrika utara, seperti Ajazair, Maroko, dan Tunisia. Perancis membantu proses integrasi dan banyak Muslim yang menjadi warga negara. Meskipun, pertumbuhan komunitas Muslim telah menantang tatanan idela di Perancis yang memisahkan ketat antara agama dan kehidupan umum. Muncul beberapa kritik yakni Muslim menghadapi pengangguran tinggi dan kerap tinggal di kawasan sub urban yang miskin. Larangan terhadap simbol keagamaan di tempat umum dan sekolah memunculkan perdebatan besar nasional, sebagaimana aturan itu melarang pula penggunaan kerudung di tempat umum. Akhir tahun 2005 kekacauan dan kerusuhan berkepanjangan menyebar di antara komunitas Imigran di penjuru Perancis

Sumber; Populasi total - National Institute for Statistics and Economic Studies, 2004 figures; Populasi Muslim - French government estimate

 

 JERMAN

Populasi total : 82,5 juta

Populasi Muslim: 3 juta (3.6%)


Latar belakang: Mayoritas populasi Muslim berasal dari Turki yang masih memiliki jalinan kuat dengan budaya asal. Sementara yang lain berasal dari Bosnia dan Kosovo yang masuk sebagai pengungsi selama perang antar negara-negara Balkan. Dulu Muslim dianggap sebagai “pekerja tamu’’ yang akan meninggalkan negara itu suatu saat, sebuah pandangan yang kini berubah. Kekerasan rasisme menjadi isu sensitif, terutama negara tersebut masih terdapat sejarah ideologi Hitler yang mengunggulkan bangsa Arya kulit putih masih melekat di beberapa warga fanatik. Pemerintah selalu berupaya dengan bermacam strategi untuk mengatasi isu tersebut. Beberapa langkah telah dibuat untuk meningkatkan integrasi. Kini di Jerman dapat ditemukan banyak bangunan masjid yang tak kalah indah dengan arsitektur gereja.

Sumber : Populasi total - Federal Statistical Office, 2004 figures; Populasi Muslim - Federal Ministry of the Interior estimate.

ITALIA

Populasi Total: 58,4 juta

Populasi Muslim: 825,000 (1.4%)


Latar Belakang: Populasi Muslim terbagi-bagi di Italia, mayoritas berasal dari Maroko, sisanya dari negara di Afrika utara, Asia selatan, Albania dan Timur Tengah. Sebagian besar masuk ke Italia pada 1980-an, dan banyak dari mereka sebagai pelajar. Italia saat ini sedang mengupayakan formalisasi hubungan antara negara dan komunitas Muslim. Ada perbedaan perlakukan terhadap Muslim di Italia utara dan Italia selatan. Bahkan di Italia sendiri ketegangan pun muncul di antara warga bagian Selatan dan Utara. Berkaitan dengan sejarah, yakni Italia utara dulu adalah bekas aliansi kerajaan yang menang perang (dibawah Liga Lombardi) atas Jerman, sedangkan bagian selatan merupakan kekuasaan Raja Sisilia. Akar budaya ribuan tahun di bagian utara kerap memunculkan aksi rasisme sebagian warga Italia kepada Muslim, salah satunya dari Partai Lega Nord (Liga Utara). Namun uniknya lebih dari 160 ribu Muslim adalah warga asliItalia, bahkan dua duta besar Italia untuk Arab Saudi masuk Islam ketika bertugas di sana. Muslim memiliki tempat untuk tinggal dan bekerja, namun tidak sebagai warga negara.

Sumber : Populasi total - Italian National Statistical Institute; Populasi Muslim - UK Foreign Office.

MACEDONIA

Populasi total: 2,1 juta

Populasi Muslim: 630,000 (30%)


Latar Belakang: Agama terbesar di Macedonia adalah Orthodox Macedonia, namun hampir sepertiga dari populasi menyatakan diri mereka sebagai Muslim. Macedonia tidak begitu terkena dampak kekerasan antar etnis yang berpengaruh pada negara-negara Balkan hingga memicu keruntuhan Yugoslavia. Namun di awal 2001, pemberontakan muncul dengan tuntutan peningkatan hak yang sama untuk minoritas etnis Albania—kelompok sebagian besar Muslim di sana. Dengan dukungan NATO dan Uni Eropa, kesepakatan damai tercapai dengan menawarkan mereka hak-hak lebih banyak, meski beberapa tetap tidak senang dengan pakta perubahan tersebut. Amerika Serikat mengatakan jika kebebasan beragama haruslah dihormati secara umum dan diskriminasi sosial lebih berdasar bias etnis ketimbang alasan keagamaan

Sumber; Populasi Total - UK Foreign Office; Populasi Muslim: - UK Foreign Office.

BELANDA

Populasi total: 16,3 juta

Populasi Muslim: 945,000 (5.8% )


Latar Belakang: Integrasi Muslim tetap menjadi perhatian dari pemerintah Belanda, terutama setelah pembua film yang mengkritik Islam di bunuh pada tahun 2004 oleh Islam radikal. Padahal (Menurut Amel) sebelum kejadian itu, kehidupan masyarakat majemuk multi budaya dan multi keyakinan menjadi bagian harmoni sehari-hari di Belanda. Ketegangan lebih jauh meningkat seputar kriminal kelas berat yang dilakukan pemuda Muslim dan masalah pengangguran di komunitas agama Islam itu. Muslim masuk ke Belanda sekitar 1950-an dari bekas negara koloni Suriname dan Indonesia. Salah satu kelompok minoritas penting di komunitas Muslim adalah Somalia, Turki, dan Maroko. Belanda pada dasarnya terbuka dengan budaya majemuk, terutama dalam mengakomodasi kelompok yang berbeda untuk mendapat persamaan hak dan perlakuan

Sumber: Populasi total- Statistics Netherlands, 2005 figures; Populasi Muslim - Statistics Netherlands, 2004 figures.

SERBIA DAN MONTENEGRO (DENGAN KOSOVO)

Populasi total: 10,8 juta (termasuk Kosovo); 8,1 juta (termasuk Kosovo)

Populasi Muslim: Serbia dan Montenegro - 405,000 (5%); Kosovo -sekitar 1,8 million (90%)


Latar belakang (tak termasuk Kosovo): Dalam Serbia dan Montenegro agaman yang dominan adalah Orthodok Serbia. Islam adalah agama terbesar kedua dengan Muslim yang meningkat hingga 20 % di Montenegro. Komunitas Muslim diakui sebagai salah satu dari “tujuh” komunitas agama tradisional. Agama dan etnis tetap berkaitan di penjuru negara dan meski perang telah berlalu, laporang tentang ketegangan diskriminasi tetap ditemukan.

Latar belakang Kosovo: Akhir 1990, saat konflik mengerikan terjadi, setelah Pasukan Pembebasan Kosovo, didukung mayoritas etnis Albania—yang sebagian besar Muslim—menyatakan terbuka memberontak terhadap pemerintah Serbia. Presiden Yugoslavia, Slobodan Milosevic, mulai melakukan pembersihan etnis terhadap populasi Albania Kosovo. Ribuan penduduk meninggal, dan ratusan ribu lain mengungsi. Pada Maret dan Juni 199, NATO turut campur dengan kampanye pengeboman selama 78 hari untuk mendorong tentara Serbia kembali dan menjadikan Kosovo dibawah perlindungan PBB. Etnis Albania sempat frustasi menunggu penetapan status masa depan Kosovo yang berkepanjangan. Serangan terhadap minoritas Kosovo yang tertinggal di populasi Serbia telah menjadi isu perhatian dunia

Sumber; Total Populasi - UK Foreign Office; Populasi Muslim - US State Department.

SPANYOL

Total Populasi: 43,1 juta

Populasi Muslim: 1 juta (2.3%)


Background: Kekuasaan Bangsa Moor selama hampir delapan abad berakhir pada tahun 1492, membutkitkan negara ini memiliki warisan Islam yang kuat, terutama di arsitektur bangunannya. Muslim moderen mulai masuk dalam jumlah signifikan pada tahun 1970. Banyak yang berasal dari Maroko, bekerja dalam bidang turisme, dan pertumbuhan berlanjut terjadi ketika keluarga mereka bergabung. Negara ini mengaku Islam, memberikan sejumlah hak termasuk mengajarkan Islam di sekolah dan hari libur keagamaan. Beberapa laporan tentang ketegangan terhadap imigran Muslim dan warga asli pernah dijumpai. Spanyol sendiri sempat diguncang pada tahun 2004, ketika serangan teror, yang diduga dari teroris Islam, membunuh 191 orang di kereta komuter Madrid. Namun seperti halnya Italia, jumlah warga asli yang memeluk Islam hampir seimbang dengan populasi imigran. Seperti kota Palencia, dari 150 ribu Muslim, 60 ribu merupakan warga asli Spanyol.

Sumber; Populasi total - Spanish National Institute of Statistics, 2005 figures; Populasi Muslim - US State Department.

SWEDIA

Total population: 9 million

Muslim population: 300,000 (3%)


Latar Belakang: Populasi Muslim datang dari luar terutama paling signifikan dari Turki, Bosnia, Irak, Iran, Libanon, dan Syria. Jumlah populasi Muslim begitu nyata sehingga parlemen menyetujui negara memberikan subsidi. Swedia terbuka dengan budaya majemuk dan imigran dapat menjadi warga negara setelah tinggal selama lima tahun. Swedia menghargai negaranya atas sikap toleransi, namun muncul juga kritikan karena Muslim serin kali disalahkan jika muncul masalah sosial

Sumber; Total populasi - Statistics Sweden, 2005 figures; Populasi Muslim- US State Department.

SWITZERLAND

Populasi total: 7,4 juta

Populasi Muslim: 310,800 (4.2%)


Latar belakang: Hasil pendataan resmi menyatakan populasi Muslim telah meningkat dua kali dalam beberapa tahun terakhir, namun beberapa sumber juga menyatakan jika ada sekitar 150 ribu Muslim yang tinggal secara ilegal di negara ini. Muslim pertama kali datang sebagai pekerja di tahun 1960-an terutama dari Turki dan Yugoslavia (dulu). Keluarga mereka menyusul di tahun 1970-an, dan beberapa tahun terakhir Muslim datang sebagai pengungsi. ( secara perbandingan, hanya sedikit yang memperoleh kewarganegaraan)

Sumber: Populasi total - Swiss Federal Statistical Office, 2003 figures; Populasi Muslim - Swiss Federal Statistical Office, 2000 figures.

INGGRIS

Populasi total: 58,8 juta

Populasi Muslim: 1.6 juta (2.8%)


Latar belakang: Inggris memiliki sejarah panjang dalam hal kontak dengan Muslim, terutama sejak Abad Pertengahan kemari. Pada Abad ke-19, warga Yaman datang untuk bekerja di pembuatan kapal, membentuk komunitas Muslim pertama di negara itu. Pada tahun 1960, sejumlah Muslim secara signifikan tiba dari bekas koloni Inggris mencari pekerjaan. Beberapa yang pertama kali datang adalah Afrika Timur dekat Asia dan sebagian besar adalah Asia selatan. has a long history of contact with Muslims, with links forged from the Middle Ages onwards. Komunitas permanen pun terbentuk dan sedikitnya 50 % populasi Muslim saat ini lahir di Inggris. Komunitas signifikan berasal dari Turki, Iran, Irak, Afghanistan, Somalia, dan Balkan juga ditemukan di negara itu. Sensus tahun 2001 menunjukkan jika sepertiga populasi Muslim berada di bawah 16 tahun. Selain itu terdapat pula tingkat penggangguran tinggi, tingkat kepemilikan rumah yang rendah, dan kualitas rumah yang rendah pula. Inggris terbuka dengan multi budaya dan ide berbagi dengan negara lain dalam masalah umum. Negara ini juga menerima setiap budaya dan latar belakang memiliki persamaan nilai dan hak serta memilik peran dalam kebijakan pemerintah terkait kelompok minoritas

Sumber : Populasi total - Office for National Statistics, 2001 figures; Populasi Muslim - Office for National Statistics, 2001 figures.