Rabu, 10 November 2010

Hobi (Mengoleksi Striker Pemain Bola buatan Panini)

Perhelatan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan memang sudah lama usai, saya sebenarnya ingin membuat entri hobi mengoleksi striker sepak bola ketika bergulirnya Piala Dunia 2010, ya berhubung banyak pekerjaan yang harus deadline akhirnya baru bisa mengentri cerita ini. Koleksi album striker yang saya punya masih sedikit dibandingkan dengan orang lain yang ternyata jauh lebih banyak dan bervariasi.

Saya mulai mengoleksi stiker yang berhubungan dengan sepak bola ketika kelas 6 SD, waktu itu pas liburan sekolah saya main ke tempat saudara. Tidak berapa lama datang saudara saya memperlihatkan buku (album) yang isinya stiker pemain bola, nama stadion dan maskot dan lain-lain yang diproduksi oleh Panini dari Italia. Momen Piala Dunia 1986 di Meksiko. Saya tertarik dan minta diantar untuk membeli buku dan stikernya. Akan tetapi, album Piala Dunia Meksiko itu tidak bisa terisi semua karena saya jarang membeli stikernya.

Ketika Piala Dunia 1990 di Italia saya tidak mengoleksinya, karena tidak tahu di mana tempat untuk membeli album dan stikernya.

Nah, pas Piala Dunia 1994 di Amerika saya mengoleksi Album dan stikernya tapi bukan produkdi Panini. Albumnya tidak terisi semua, stikernya banyak yang sama (dobel). Sisa stiker yang dobelnya saya tempel di buku untuk kuliah.

Piala Dunia 1998 di Prancis saya tidak mengoleksi album dan stikernya, maklum masa-masa kuliah yang harus menghemat uang. Akan tetapi, merasa terobati karena saya mendapatkan hadiah dari teman saya orang Italia (Analisa Ventura) album stiker Liga Italia "Calciatori" musim kompetisi 1996-1997, meskipun tidak penuh.

Piala Dunia 2002 di Korea dan Jepang saya tidak mengoleksi, saya lupa untuk mengoleksi stiker dan album Piala Dunia. Baru ingat ketika ke Gramedia melihat ada album Piala dunia yang sudah lusuh. "Wah... terlambat", guman saya.

Piala Dunia 2006 di Jerman sama kejadiannya dengan piala dunia 2002, lupa... ketika ingat sudah beberapa bulan kemudian. Mungkin karena sibuk bekerja. "Ya.. sudahlah", itu saja yang terucap di hatiku.

Nah, ketika Piala Dunia 2010, tidak sengaja waktu belanja ke Indomaret di dekat rumah melihat ada album dan stiker piala dunia, karena di Indomart di pajang pernak-pernik Piala Dunia 2010. Ini pun sudah terlambat lagi, tapi beruntunya di daerah tempat tinggalku tidak banyak yang mengoleksi, jadi saya segera membelinya.

"Jika Bapa membeli enam bungkus stiker dapat satu album", begitu si pelayan memberi tahu kepada saya.

Wah, saya langsung saja memberi 15 bungkus, dan diberi 2 album stiker. Pulang ke rumah langsung di buka albumnya langsung stiker saya tempelkan di album. Hari-hari berikutnya saya membeli banyak striker, setelah di Indomaret tempat tinggal saya habis saya bingung mencari ke mana lagi, album stiker masih banyak yang kosong. Momen Piala Dunia sudah selesai jadi sudah mencari stiker, saya coba ke beberapa Indomaret di tempat lain, ternyata stiker sudah habis. Ke pelayan Indomart nya saya tanya di mana lagi yang masih ada stiker piala dunia, pelayannya hanya menggelengkan kepala. Ternyata ada pelayan Indomaret di daerah Cicaheum yang memberi tahu bahwa stiker masih banyak di Indomaret Padasuka. Saya bergegas ke Indomaret Padasuka, saya membeli beberapa bungkus stiker. Yah... ternyata banyak yang sama (dobel) jadi tetap saja album belum terisi. Ada yang memberi tahu stiker masih ada di Indomaret Cipadung, saya cari dan langsung beli beberapa bungkus, ternyata sama juga banyak yang dobel.

"Waduh kalau begini terus bagaimana bisa terisi semua", gumanku dalam hati.

Setelah berlama-lama merenung, saya teringat om google, "wah mudah-mudahan di internet menemukan komunitas pengoleksi stiker piala dunia", pikir saya.

Saya mencari-cari ternyata menemukan, di suatu forum di Kaskus, aduh sayang saya bukan member kaskus jadi susah untuk berinterksi. Setelah lama mencari-cari akhirnya menemukan beberapa member yang mencantumkan alamat email dan nomor hp. Sejak saat itu saya menjadi rajin mengirim email dan sms. Ternyata dapat respon yang bagus, akhirnya saya pun bisa saling barter stiker.

Meskipun sudah berusaha membarter stiker, album stiker Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan tidak bisa terisi semua, masih ada kira-kira 14 stiker lagi yang dibutuhkan. Saya punya banyak yang dobel. Stiker yang dobel belum saya apa-apakan masih disimpan. Yah.. siapa tahu ada yang mau barter lagi. Apabila sudah tidak ada yang mau barter lagi saya mau menempelkannya di album yang kedua.










Selasa, 09 November 2010

Speedy Tour d'Indonesia 2010 Stage 2

Sebenarnya event ini sudah lama, yakni pada tanggal 25 Oktober 2010. Saya ingin memberikan kenang-kenangan berupa foto-foto menjelang start stage ke-2 di mulai, dari Bandung menuju Cirebon. Teman saya sebenarnya sudah banyak meng-upload foto-foto acara ini di Facebooknya. Saya kira tidak apa-apa kan saya upload kembali, mungkin bisa bermanfaat.

Banyak komunitas sepeda hadir di acara tersebut, saya sangat senang begitu banyak orang yang antusias terhadap penggunaan sepeda dalam segala hal. Dengan bersepeda mudah-mudahan Kota Bandung dan kota-kota yang ada di seluruh Indonesia menjadi lebih bersih udaranya.

Berikut beberapa foto Speedy Tour d'Indonesia 2010 Stage 2.










Mudah-mudahan foto-fotonya bermanfaat....

Rabu, 20 Oktober 2010

Bahasa Iklan

Memasarkan produk dilakukan dengan berbagai cara termasuk menggunakan media iklan. Bahasa untuk iklan memang dibuat singkat dan adakanya keluar dari kaidah bahasa baku. Hal ini bertujuan agar menarik, terkesan, dan terpengaruh pada akhirnya konsumen menggunakan produk yang diiklankan.  Kalau dicermati adakalanya tulisan-tulisan pada suatu produk yang diklankan setelah ditelaah ternyata maknanya menjadi aneh dan tidak karuan.

Berikut saya tampilkan cuplikan suatu iklan produk rokok berikut.


Sekilas tidak ada yang aneh, dan salah tulisan iklan produk rokok yang dilingkari dengan warna merah di atas. 

Silakan Anda telaah dulu, adakah yang aneh dan terasa janggal?

Hal ini, memang menimbulkan makna yang multitafsir bagi para pembaca iklan tersebut.

Saya berkeyakinan, para pembaca pasti lebih hebat dalam hal menafsirkannya.


Apabila fitrinya merupakan nama seseorang maka akan sangat lucu dan menggelikan. Jadi, para lelaki yang ada pada iklan tersebut boleh menikmati kesucian fitri. Hal ini, menjadi aneh dan menggelikan. 

Jadi, tidak selamanya penggunaan bahasa yang ringkas akan lebih efektif, nyatanya maknanya menjadi berbeda. 

Kalau penulisannya lengkap mungkin maknanya tidak akan menjadi aneh dan lucu.

"Syukuri kemenangan, nikmati kesucian Idul Fitri" atau  (Idul fitri merupakan hari yang suci)

"Syukuri kemenangan, nikmati kesucian hari yang Fitri" (yang suci harinya)


Saya pikir penjelasan ini masih kurang, ada di antara Anda yang lebih pintar dan hebat untuk memberikan penjelasan secara rinci, terima kasih.

***


Kamis, 30 September 2010

Selamat Jalan Kang Nano S...

Obituari
Kamis, 30 September 2010 | 11:24 WIB


www.datasunda.org
Nano S


BANDUNG, KOMPAS.com Salah seorang maestro lagu pop Sunda, Nano Suratno atau Nano S, meninggal dunia di RS Immanuel, Kota Bandung, Rabu (29/9/2010) malam karena sakit yang memicu pembuluh darahnya pecah.

Pencipta lagu "Kalangkang" itu mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 23.30 dengan ditunggui keluarga besarnya.

Nano S yang akrab disapa Mang Nano S dirawat di ruang ICU RS Immanuel sejak Jumat (24/9/2010) malam setelah terjatuh di rumahnya di Jalan M Toha, Bandung, dan tak sadarkan diri.

Tim dokter menyatakan bahwa pembuluh darah di bagian kanan kepala Mang Nano pecah.

Rencananya, jenazah almarnum akan dimakamkan di pemakaman yang tidak jauh dari rumahnya di Jalan M Toha, Bandung.

Sejumlah seniman dan budayawan Sunda hadir melayat ke rumah duka. Selain itu, karangan bunga juga berjejer di sekitar kediamannya, baik dari pejabat pemerintah, BUMN, maupun kalangan seniman.

Editor: Eko Hendrawan Sofyan | Sumber : ANT

***

Maestro Pop Sunda
Ratusan Orang Iringi Pemakaman Nano S
Kamis, 30 September 2010 | 11:44 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com -- Ratusan orang mulai dari seniman, birokrat, hingga masyarakat biasa, mengiringi pemakaman jenazah maestro pop Sunda, Nano Suratno (66), ke TPU Lengok Ciseureuh Perumahan Mekar Wangi Bandung, Kamis.

Akibat iring-iringan tersebut, arus lalu lintas di Jalan Muhammad Toha dari arah Jalan Soekarno Hatta Bandung menuju tol Muhammad Toha menjadi tersendat.

Dalang wayang golek Asep Sunandar Sunarya dan Acil "Bimbo", ikut serta berjalan kaki mengiri jenazah TPU Lengok Ciseureuh Perumahan Mekar Wangi yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah duka.

Salah satu maestro lagu pop Sunda, Nano Suratno atau Nano S meninggal dunia di RS Immanuel Kota Bandung, Rabu (29/9/2010) malam karena sakit pecah pembuluh darah.

Pencipta lagu "Kalangkang" itu menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 23.30 WIB didampingi keluarga besarnya.

Nano S yang akrab disapa Mang Nano S, dirawat di ruang ICU RS Immanuel Kota Bandung sejak Jumat (24/9) malam setelah terjatuh di rumahnya di Jalan M Toha Kota Bandung dan tak sadarkan diri hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

Tim dokter menyatakan Mang Nano menderita pecah pembuluh darah pada bagian kanan kepalanya.

Semasa hidup hidupnya, almarhum Nano S (66) meninggalkan satu orang istri dan tiga orang anak.

Editor: Eko Hendrawan Sofyan | Sumber : ANT

***


obituari
Mengenang Jejak Maestro Pop Sunda
Kamis, 30 September 2010 | 12:11 WIB


IST
Nano S

BANDUNG, KOMPAS.com - Masyarakat Sunda kembali kehilangan putra terbaiknya, menyusul berpulangnya maestro pop Sunda Nano S, yang wafat pada Rabu (29/9/2010) di Bandung.

Kecintaannya terhadap budaya Sunda, terutama musik karawitan, telah ia perlihatkan sejak masih muda. Lahir di Garut, Jawa Barat, 4 April 1944, Nano mulai menunjukkan minatnya yang besar kepada musik karawitan. Setelah lulus SMP, dia melanjutkan sekolah di Konservatori Karawitan (Kokar) di Bandung (1961) yang ketika itu dipimpin Daeng Sutigna.

Setelah tamat, ia mengajar di SMP 1 Bandung dan kemudian pindah ke Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI). Beberapa tahun kemudian, ia melanjutkan kuliah ke Akademi Seni Tari (ASTI) Bandung dan STSI Jurusan Karawitan Sunda sampai selesai.

Tahun 1964, Nano bergabung dengan kelompok Ganda Mekar pimpinan Mang Koko. Namun, beberapa tahun kemudian ia mendirikan kelompok sendiri yang diberi nama Gentra Madya (1972). Di awal berkarya menciptakan karawitan Sunda, pengaruh sang guru, Mang Koko, masih sangat kentara. Namun, lambat laun, ia mulai memperlihatkan cirinya sendiri.

Meski tak menghilangkan pengaruh Mang Koko yang kerap mengkritik berbagai ketidakberesan dalam masyarakat lewat karya-karyanya, Nano juga memberi ruang bagi orang untuk merefleksikannya terhadap diri sendiri. Karya-karyanya seakan-akan menertawakan diri sendiri, yang sering terjebak dalam situasi yang lucu.

Cara ini dibawakannya dalam pergelaran yang disebut Prakpilingkung (keprak, kacapi, suling, angklung). Hasilnya, pada Festival Komponis Muda Indonesia 1 yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (1979), komposisinya, "Sang Kuriang" mendapat perhatian sebagai komposisi yang sarat dengan kekuatan akar etnis karawitan Sunda yang penuh inovasi.

Ia pun pernah mendapat beasiswa fellowship dari The Japan Foundation selama setahun di Tokyo Gedai (Universitas Kesenian Tokyo) untuk mempelajari perbandingan tangga nada Sunda dan Jepang, terutama antara alam musik Kecapi dan Koto.

Selain itu, ia juga belajar meniup sakuhachi dan memetik shamisen, yang kemudian membuat kolaborasi alat-alat itu pada ciptaannya dan membuat beberapa lagu karawitan Sunda yang berbahasa Jepang, di antaranya "Katakana Hiragana Uta", "Ueno Koen", dan "D'enshano Uta" (1981-1982). Nano lalu pernah pula diundang oleh Departemen Musik Universitas Santa Cruz untuk mengajar dan membuat pergelaran dalam Spring Performance (1990).

Keprofesionalannya dalam kesenian Sunda semakin terbukti ketika ia diminta oleh Min on, impresario, sebuah kelompok kesenian besar di Jepang, untuk mengadakan pertunjukan kesenian Sunda di berbagai kota di seluruh Jepang selama 40 hari dengan 22 kali pertunjukan. Pertunjukan ini (1988) mendapat sambutan antusias karena keindahan yang ditampilkan dengan disiplin yang tinggi. Ia pun diminta menampilkan pertunjukan itu lagi di kota-kota lain.

Popularitasnya semakin menanjak setelah album-album rekaman kasetnya banyak diminati oleh masyarakat, di antaranya Kalangkang (Bayangan, 1989) dan Cinta Ketok Magic (1992) yang meledak di pasaran sehingga mendapat HDX Award tingkat nasional.

Meskipun lagu-lagu ciptaannya berjenis karawitan, dengan cepat ia memperoleh penggemar di seluruh Indonesia dan bukan hanya dari kalangan orang Sunda, apalagi setelah lagu-lagu itu dijadikan pop Sunda.

Selain itu, ia juga membuat lagu untuk Gending Karesmen bersama Wahyu Wibisana, Raf, dan lain-lain. Gending Karesmen ciptaannya antara lain Deugdeug Pati Jaya Perang, Raja Kecit, 1 Syawal di Alam Kubur, dan Perang.

Ia juga dikenal sebagai penulis sajak dan cerita pendek berbahasa Sunda. Karyanya pernah dimuat dalam majalah Mangle, Hanjuang, dan lainnya.

Cerita pendeknya dikumpulkan dengan judul Nu Baralik Manggung (Yang Pulang Sehabis Mengadakan Pertunjukan). Ia juga menyusun Buku Kawih untuk bahan pelajaran di sekolah menengah dengan judul Haleuang Tandang (1976).

Negara-negara yang pernah dikunjunginya untuk mengadakan pertunjukan antara lain Jepang, Hongkong, Filipina, Belanda, Australia, dan Amerika Serikat. Pada bulan Oktober 1999, di Jepang, ia memainkan lagu ciptaannya yang berjudul "Hiroshima", yang dibuat khusus untuk memenuhi permintaan Wali Kota Hiroshima yang mengenalnya sebagai pencipta lagu. Terakhir, Nano diangkat menjadi Kepala Taman Budaya Provinsi Jawa Barat sejak 1995 sampai pensiun (2000).

Sumber: http://www.tamanismailmarzuki.com

Penulis: Eko Hendrawan Sofyan | Editor: Eko Hendrawan Sofyan

Kamis, 02 September 2010

Jalur Sepeda Dipakai "Ngetem" Angkot

SATU mobil diparkir di tempat dekat rambu larangan berhenti dan di jalur sepeda di Jln. Aceh Bandung, Rabu (1/9). Jalur sepeda ditandai dengan cat biru, tetapi jalur ini masih sering diserobot kendaraan bermotor.* ANDRI GURNITA/"PR"

BANDUNG, (PR).-
Belum juga pekerjaan rampung seluruhnya, jalur sepeda di Kota Bandung malah digunakan untuk parkir kendaraan pribadi, becak, taksi, dan ngetem angkot. Jalur sepeda berwarna biru dibatasi dengan marka jalan garis putus-putus di Jln. Aceh, dekat perempatan Jln. Merdeka, sejumlah becak dan taksi parkir di atas jalur sepeda tersebut. Demikian pula, jalur sepeda di sekitar Lapangan Saparua juga digunakan parkir kendaraan pribadi oleh masyarakat yang membeli makanan di kaki lima di sana.

Seorang tukang becak di Jln. Banda, Entis (60), mengaku tidak tahu bahwa jalan bercat biru itu untuk jalur sepeda. Selama ini, dia mangkal di lokasi tersebut. "Kalau tidak boleh, kita mangkal di mana? Sebaiknya kita diberi tahu tempat yang boleh di mana saja," katanya saat ditemui "PR", Rabu (1/9).

Sementara seorang pengendara mobil pribadi, Rahmat (32) yang memarkir kendaraannya di jalur sepeda mengatakan sudah tahu bahwa jalur biru tersebut untuk sepeda. Namun, ia terpaksa parkir di atasnya untuk membeli makanan. "Ya, karena searah, parkirnya di sini (di atas ruas jalur sepeda-red.)," ujarnya.

Dilindungi UU

Ketua B2W (Bike to Work) Bandung Satiya Adi Wasana menyesalkan kondisi tersebut. Menurut dia, pembuatan jalur sepeda di Kota Bandung dilindungi UU No. 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Hanya, dalam UU tersebut tidak diatur mengenai penyalahgunaan jalur sepeda seperti yang terjadi saat ini.

Kepala Dinas Bina Marga dan Pengairan (DBMP) Kota Bandung Iming Akhmad mengatakan, untuk mengatasi hal itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk memasang rambu-rambu dilarang parkir di jalur sepeda.

"Jalur sepeda bukan untuk tempat parkir kendaraan," ujarnya menegaskan.

Iming menjelaskan, pembuatan jalur sepeda koridor Wastukancana-Balai Kota-Gedung Sate sudah selesai 75 persen. "Janji mereka (rekanan) akan selesai seluruhnya sebelum Lebaran, termasuk yang di Gedung Sate," ucapnya.

Tahap pertama, tidak hanya jalur sepeda yang berbentuk marka jalan, tetapi juga jalur sepeda yang menggunakan trotoar, seperti di Jln. Ir. H. Djuanda (Dago). Jalur itu diperkirakan selesai pada November mendatang. Keseluruhan anggaran untuk tahap pertama ini Rp 2,3 miliar.

Akan tetapi, jalur sepeda di sekitar Balai Kota Bandung sudah ada yang mengelupas. Menurut Iming, hal itu bukan catnya, tetapi aspalnya. Hujan mengakibatkan aspal mengelupas.

"Bukan catnya yang luntur. Catnya menggunakan termoplastik, cat khusus untuk marka jalan. Tapi, kita akan perbaiki lagi," ujarnya. (A-170)***