Rabu, 28 Desember 2011

48 Jam di Bandung Selatan

Ni Luh Made Pertiwi F | I Made Asdhiana | Kamis, 22 Desember 2011 | 12:28 WIB


DOK BUDPAR
Kawah Putih di Ciwedey.


KOMPAS.com – Akhir pekan ini, Bandung bisa menjadi pilihan destinasi wisata. Apalagi bagi Anda yang tinggal di kawasan Jakarta dan sekitarnya. Bandung sudah menjadi tujuan wisata favorit karena akses yang mudah.

Tak hanya bagi Jakarta, turis domestik dari Pulau Jawa maupun luar Pulau Jawa pun ramai mengunjungi Bandung. Apa yang paling “laku”? Tentu saja wisata belanja dan wisata kuliner. Bandung bagian utara misalnya mengalami pekembangan pesat dan menjadi tujuan favorit saat wisatawan bertandang ke Bandung.

Padahal, Bandung selatan pun menawarkan beragam wisata alam yang tak kalah menarik. Jika Anda tipikal wisatawan karatan bagi Bandung utara, maka berbeloklah ke Bandung Selatan. Berikut contoh jadwal wisata selama 48 jam di Bandung selatan.

Pagi hari saat Anda sampai di Bandung, langsung arahkan mobil sewaan maupun mobil pribadi Anda ke arah Kawah Putih yang berada di Ciwedey. Anda harus memarkir mobil di parkiran utama kemudian melanjutkan perjalanan dengan mobil terbuka menuju kawah putih.

Pesona kawah putih yang cantik dan aroma belerang yang kuat. Hati-hati jika tak kuat, kepala bisa pusing karena aroma ini. Kawah berlerang menampilkan warna putih susu kebiruan. Namun seringkali warnanya berubah kehijauan tergantung kadar belerang. Ibarat danau berisi belerang di tengah tebing-tebing kawah.

Puas melihat kecantikan kawah putih, kembali ke parkiran dan nikmati aneka jajanan dari stoberi. Jangan lupa membeli stoberi sebagai oleh-oleh. Kemudian arahkan mobil ke Situ Patenggang. Danau luas yang memiliki “pulau” kecil di tengahnya. Naiklah perahu untuk menuju pulau ini. Pemandangan danau dan hamparan kebun teh akan memanjakan mata Anda.

Di kawasan danau ini terdapat sebuah legenda, sebuah kisah percintaan antara manusia dan putri titisan dewi. Cinta mereka terpisah lama dan akhirnya bertemu kembali di sebuah batu. Nah di pulau tersebut Anda bisa menemukan batu yang disebut sebagai batu cinta.

Konon, jika ada pasangan yang mengucapkan janji setia di batu ini, maka hubungan mereka akan langgeng. Tak heran, banyak wisatawan yang datang khusus bersama pasangan untuk mengunjungi batu cinta dan mengucapkan sumpah setia.

Selesai menikmati kesejukan udara Situ Patenggang dan kecantikan panoramanya, Anda bisa kembali ke kota dan berwisata kuliner di daerah tersebut. Bersiap-siaplah kebingungan karena pilihan rumah makan memang banyak.

Kelar makan, barulah Anda check-in di hotel yang telah Anda beberapa hari sebelumnya. Pilih hotel yang masih di seputaran tempat wisata Trans Studio Bandung. Ada banyak hotel di kawasan ini, mulai dari hotel melati hingga hotel berbintang. Harga hotel berbintang mulai dari Rp 400.000.

Keesokan harinya, kunjungan berlanjut ke Trans Studio Bandung. Beli tiket terusan dan puaskan diri bermain di semua wahana yang ada di Trans Studio Bandung. Sore hari, lanjutkan perjalanan menuju Jalan Riau. Tetap saja tak akan lengkap pergi ke Bandung tanpa berbelanja.

Di Jalan Riau banyak terdapat factory outlets dan juga pedagang kaos yang berdagang di pinggir jalan. Harga sangat variatif mulai dari harga kaki lima sampai harga mahal ala butik. Di kawasan ini juga banyak terdapat rumah makan dan restoran yang cocok untuk petualangan kuliner Anda.

Selain beberapa tempat ini, di Bandung selatan juga terdapat obyek wisata menarik lainnya seperti Rancaupas yang merupakan kompleks perkembahan dan tempat penangkaran rusa. Lalu ada Cimanggu dan Ciwalini yang terdapat mata air panas sehingga cocok sebagai tempat pemandian air panas. Kemudian Situ Cileunca yang merupakan danau buatan dan dikelilingi bukit-bukit. Di sini ada tempat melakukan aktivitas rafting.

Banyak Jalur Menuju Kota Bandung

Hari Libur
Didit Putra Erlangga Rahardjo | Nasru Alam Aziz | Minggu, 25 Desember 2011 | 19:51 WIB



NATALIA RIRIH/KOMPAS.com
Hotel Preanger adalah salah satu karya CP Wolff Schoemaker, arsitek kenamaan Belanda, yang masih berdiri di Kota Bandung, Jawa Barat.


BANDUNG, KOMPAS.com -- Untuk mencapai Bandung, Jawa Barat, ada banyak jalur yang bisa dilalui oleh pengguna kendaraan yang datang dari Jakarta. Pengetahuan sederhana ini ternyata belum meluas, sehingga banyak yang memilih untuk memadati gerbang tol Pasteur yang menjadi gapura Kota Bandung.

Hal itu dikemukakan Kepala Humas Jasa Marga Purbaleunyi, Iwan Mulyawan, Minggu (25/12/2011).

Iwan menyebutkan, kini ada sekitar 65.000 unit kendaraan yang melintasi Purbaleunyi ke arah Bandung. Padahal akhir pekan biasa hanya sebanyak 40.000 unit. Ruas tol tersebut menjadi patokan untuk kendaraan yang datang dari arah Jakarta.

Ada tujuh gerbang tol yang terdapat di sekeliling Kota Bandung, mulai dari Pasteur, Baros, Pasirkoja, Kopo, M Toha, Buah Batu, dan Cileunyi.

Baros cocok digunakan untuk mencapai daerah utara seperti Lembang, sementara Kopo bisa digunakan untuk mencapai tempat wisata di Bandung, selatan seperti Kawah Putih Ciwidey. Gerbang Cileunyi bisa dipakai bila ingin menuju ke arah Garut, Tasikmalaya, atau Sumedang.

Iwan mencontohkan, wisatawan yang ingin berkunjung ke wahana dalam ruangan, Trans Studio Bandung, bisa menggunakan gerbang tol Buah Batu dan hanya menempuh perjalanan enam kilometer di wilayah selatan yang relatif lebih lengang. Sebaliknya, bila keluar dari Pasteur, jarak yang ditempuh sepanjang 10 kilometer dan harus tertahan di keramaian pada pusat kota.

Untuk libur Natal hingga Tahun Baru ini, pihak Jasa Marga sudah mengantisipasinya dengan membuka seluruh loket tol. Dengan demikian, antrean pengguna tol yang keluar bisa dikurangi.


“Kancra Bodas” Jadi Batik Khas Kuningan

Kamis, 22/12/2011 - 15:23


TOTO SANTOSA/’’PRLM’’
MOJANG Kuningan tengah memperlihatkan salah satu motif batik khas Kuningan, pada acara launching batik di pendopo Kab.Kuningan, Kamis (22/12).*


KUNINGAN, (PRLM).- Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kab. Kuningan, akhirnya berhasil menggelar dan memperkenalkan batik khas Kuningan setelah melalui perjalanan panjang mulai lomba design motif hingga menuangkan kedalam kain berupa batik tulis maupun print (cetak). Dari 20 motif unggulan, mengemuka motif kuda dan kancra bodas sebagai motif khas yang tidak dimiliki daerah lain.

“Sudah seperti mewujudkan mimpi yang tertunda, maka ketika kami dapat menuangkan desain tersebut dalam bentuk bain batik, sepertinya mimpi itu benar-benar menjadi kenyataan,” tutur Ketua Umum Dekranasda Kab.Kuningan, Ny.Hj. Utje Ch Suganda, S.Sos, pada saat Launching (perkenalan) batik khas Kuningan, di hadapan Bupati Kuningan beserta unsur Muspida dan ratusan ibu-ibu warga masyarakat Kab.Kuningan, bertempat di pendopo kabupaten, Kamis (22/12).

Ketua Umum Dekranasda Kab.Kuningan, Ny.Hj. Utje Ch Suganda,S.Sos menegaskan, batik telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya bangsa Indonesia, sehingga tidak berlebihan jika setiap daerah di Indonesia saat ini berupaya untuk mengembangkan kekhasan batik di setiap daerahnya. Untuk beberapa daerah tertentu, memang sudah ada motif-motif yang menjadi ciri khas, seperti mega mendung dari Cirebon, batik Garut dengan warna-warnanya yang cerah, dan sebagainya.

Kuningan, belum memiliki motif batik khas daerahnya. Kalaupun ada, motif batik itu baru dikembangkan oleh kelompok tertentu dan pemasarannya pun terbatas. Padahal Kuningan memiliki keberagaman budaya, sejarah dan ciri khas daerah yang sudah lebih dulu dikenal, seperti kuda Kuningan, Ikan Dewa (kancra bodas), Gunung Ciremai, Gedung Naskah Linggarjati (tempat perundingan pemerintah Belanda dan RI), dan lainnya.

Diakui Ny.Hj. Utje, menciptakan batik khas Kuningan adalah sebuah impian dan ketika gagasan itu mengemuka, rasanya sulit membayangkan bahwa mimpi itu bisa terwujud. Pasalnya, Kuningan belum memiliki sentra pengrajin batik dan dari sejarah pun di Kuningan belum ditemukan adanya motif batik khas Kuningan. Tapi, tak ada yang tidak mungkin, karena jika kita mau berusaha dan bekerja keras, maka segala kendala dapat diatasi.

”Keyakinan kami hanya satu bahwa Kuningan memiliki potensi untuk dikembangkan termasuk mengembangkan industri batik, dan ternyata impian itu bisa terwujud menjadi kenyataan,” ujar istri Bupati Aang, disambut tepuk tangan hadirin yang hadir seusai melaksanakan peringatan hari ibu itu.

Menurut Ny. Hj.Utje yang pada Senin (12/12), menerima tanda kehormatan Satyalancana Kebhaktian Sosial Tahun 2011 dari Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono atas jasanya dalam bidang kesejahteraan sosial tersebut, kendati batik khas Kuningan sudah terwujud dalam bentuk kain, tetapi masih banyak persoalan yang belum selesai, salah satunya bagaimana membuat batik khas Kuningan ini bisa memasyarakat dan dapat diterima secara luas.

Sementara itu, Bupati Kuningan H.Aang Hamid Suganda pada kesempatan itu, menyatakan sangat bangga karena sekarang Kuningan sudah memiliki batik khas daerah sendiri. Para pihak swasta yang tergabung dalam organisasi pengusaha, untuk turut ambil bagian dalam upaya meningkatkan industri batik di Kab.Kuningan. “Bisa saja puluhan ribu pegawai negeri sipil dan para siswa, nantinya memiliki pakaian seragam batik khas Kuningan,” pinta Aang.(A-164/A-147)***

Hotel Bertarif Murah dan Nyaman di Bandung

Ni Luh Made Pertiwi F | I Made Asdhiana | Senin, 26 Desember 2011 | 12:27 WIB



Kompas.com/Ni Luh Made Pertiwi F.
Hotel Malaka, Bandung


KOMPAS.com – Melangkah ke lobby, antara ruang makan untuk sarapan, lalu meja front office maupun sofa-sofa santai untuk tempat tamu menunggu, bergabung jadi satu tanpa sekat-sekat. Melongok ke atas, tampak jejeran kamar-kamar. Sekilas seakan berada di sebuah kos-kosan.

Hotel Malaka ini berada di Jl. Halimun No. 36, Palasari, Bandung. Hotel ini tergabung dalam jaringan grup Kagum Hotel. Konsepnya sudah sangat jelas saat Anda masuk ke dalam hotel ini, yaitu hotel Bed & Breakfast, yang bisa dikategorikan budget hotel.

Oleh karena itu, hotel ini cocok untuk Anda yang memang datang ke Bandung untuk tujuan pelesir. Jika Anda mencari hotel di Bandung untuk sekadar tempat beristirahat atau tidur di malam hari dan sarapan, hotel ini bisa jadi pilihan.

Harganya murah, mulai dari Rp 300.000. Namun kamarnya tak menunjukkan kualitas rendah. Tetap saja kamar mungil ditata dengan apik. Dengan jendela besar di satu sisinya dan lukisan sederhana di dinding lainnya.

Lalu, kamar mandi dengan shower yang memanjakan tamu. Air dari shower cepat sekali panas, tak perlu menunggu lama. Memang terkesan hal sepele, namun di saat Anda lelah menyusuri kota Bandung dan melepas penat dengan mandi segar, air yang cepat panas jadi perhatian lebih.

Sementara bathtub disediakan untuk jenis kamar. Sedangkan, tempat tidur dengan bantal sekelas bintang 5, jadi jaminan mutu untuk tidur yang nyenyak. Setiap kamar pun difasilitasi dengan televisi LCD lengkap dengan channel internasional dan internet gratis.

Karena merupakan hotel Bed & Breakfast, maka Anda tidak akan menemukan kolam renang di hotel ini. Tetapi, sempatkan berenang jika wisata belanja di Bandung merupakan agenda utama Anda? Ya, hotel ini dekat dengan beberapa tempat wisata seperti factory outlet di Jalan Riau maupun Pasar Baru.


Ahmad Heryawan Pimpin Alunan Lagu “Tanah Airku”

Dalam Acara Angklung Bersama

Rabu, 21/12/2011 - 11:36


KISMI DWI ASTUTI/"PRLM"
GUBERNUR Jabar Ahmad Heryawan menjadi konduktor dalam acara Gubernur Berangklung bersama 10.000 orang di Sentul International Convention Center, Babakan Madang, Kab. Bogor, Rabu (21/12).*


BOGOR, (PRLM).- Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan memimpin alunan lagu “Tanah Airku” pada pergelaran akbar "Angklung Kolosal Jawa Barat" yang dilaksanakan di Sentul International Convention Center (SICC) Kabupaten Bogor, Rabu (21/12) pagi.

Dengan gerakan tangan, bagai lazimnya seorang konduktor, Heryawan memimpin alunan musik angklung yang dimainkan oleh 10.000 hadirin dari berbagai kalangan. Pertunjukan lainnya yakni kolaborasi antara angklung dengan piano yang memainkan lagu secara medley. Hentakan angklung dengan paduan melodi piano berhasil menghanyutkan puluhan ribu hadirin yang larut dalam kegembiraan.

Menurut Heryawan.kegiatan ini merupakan wujud perhatian dan apresiasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat atas penetapan alat musik tradisional angklung sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Unesco tahun 2010 lalu.

Diharapkan semakin meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap angklung sebagai alat musik kebanggan Indonesia. “Acara angklung kolosal ini diharapkan mampu meningkatkan kecintaan akan warisan seni budaya, sekaligus mengangkat citra Jawa Barat melalui pertunjukan seni,” ujarnya usai memimpin lagu “Tanah Air ku”. (A-134/kur)***


Iket, Salahsatu Identitas Kasundaan

KIS tak Henti Sosialisasikan Iket

Selasa, 27/12/2011 - 04:22



RETNO HY/"PRLM"
PENGUNJUNG melihat koleksi Iket di acara Pameran dan Diskusi Iket Sunda yang bertempat di Museum Negeri Sri Baduga Bandung, Senin (26/12).*




BANDUNG, (PRLM).- Dalam pandangan masyarakat modern, iket (ikat) kepala identik dengan asesoris ataupun menjadi bagian dari busana tradisi. Bahkan tidak sedikit masyarakat beranggapan kalau yang memakai iket adalah seorang jawara atau orang pintar (dukun).

“Padahal tidak demikian. Iket adalah bagian dari busana tradisional seperti halnya orang Sunda yang sangat identik bila menggunakan pangsi pasti memakai iket, jadi bukan hanya jawara atau orang pintar saja yang memakai iket,” ujar Agus Roche Efendi, pembina di Komunitas Iket Sunda (KIS) seusai memberikan makalah pada diskusi tentang iket Sunda di acara Pameran dan Diskusi Iket Sunda, bertempat di Museum Negeri Sri Baduga Bandung, yang berakhir Senin (26/12).

Diungkapkan Agus, upaya untuk mensosialisasikan iket Sunda yang dilakukan KIS dengan menggelar pameran secara rutin dan sejumlah kegiatan, semata-mata bukan hanya untuk memperlihatkan identitas kasundaan. “Salah besar kalau kami mengajak anak-anak sekarang menggunakan iket Sunda untuk menunjukan identitas kasundaan, inti dari kegiatan yang selama ini kami lakukan semata-mata untuk memperkenalkan generasi sekarang akan budaya dan nilai-nilai tradisi yang hingga kini masih relevan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Agus.

Sementara fungsi dari iketnya sendiri, menurut Agus, tidak jauh beda dengan busana pada umumnya, yaitu sebagai pelengkap. Di mana keberadaan iket bukan hanya sebagai penutup kepala, tetapi juga dapat digunakan sebagai pelindung mulut atau hidup saat berkendaraan, dan berfungsi sebagai sal atau penutup leher dikala dingin.

Pada acara yang diprakarsai KIS dan mendapat dukungan dari HU Pikiran Rakyat tersebut, selain memamerkan lebih dari 75 helai iket berbagai motif maupun usia serta diskusi, kegiatan juga diisi dengan teknik dan cara menggunakan iket serta aneka pegelaran seni Sunda buhun. “Meski masih banyak yang perlu kami perbaiki, tapi animo masyarakat, terutama kaum muda sangat tinggi, terutama pada kegiatan diskusi dan praktek,” ujar Irfan Alamsyah selaku ketua penyelenggara kegiatan.

Dikatakan Irfan, fihaknya tidak mengira kalau kegiatan yang diselenggarakan untuk pertamakali mendapat animo besar dari masyarakat. “Kami berterimakasih banyak kepada ‘PRLM” yang sudah memberikan dukungan, mudah-mudahan tahun depan bisa dilaksanakan lebih baik,” harap Irfan.

Tampil pada acara penutupan, kolaborasi kesenian bamboo. Selain alat musik karinding juga tampil permainan alat musik serunai, toleat, celempungan, angklung buhun dan lainnya. (A-87/das)***

Bekasi Libatkan Gubernur Minta Izin Buang Sampah ke Bantargebang

Selasa, 27/12/2011 - 21:18




RIESTY YUSNILANINGSIH/"PRLM"
PEMULUNG mengais sampah di TPST Bantargebang, beberapa waktu lalu. Pemerintah Kota Bekasi melibatkan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan untuk perizinan pembuangan sampah ke TPST Bantargebang.


BEKASI, (PRLM).- Pemerintah Kota Bekasi melayangkan surat ke Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan yang berisi permohonan untuk turut menjembatani izin pembuangan sampah ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Pelibatan Gubernur Jabar diharapkan dapat menjadi pertimbangan bagi Pemprov DKI Jakarta untuk memberikan dispensasi terkait besar biaya pengelolaan sampah yang harus dibayar Kota Bekasi.

"Pada prinsipnya Pemprov DKI Jakarta tidak keberatan Kota Bekasi membuang sampah ke TPST Bantargebang karena hal itu memang sudah dibahas dalam kesepakatan perjanjian. Akan tetapi, tetap ada ketentuan yang harus dilaksanakan. Salah satunya perihal retribusi," ucap Kepala Bidang Perencanaan Dinas Kebersihan Kota Bekasi Ratim, di Gedung DPRD Kota Bekasi, Selasa (27/12).

Retribusi yang memberatkan Kota Bekasi ialah pembayaran uang pengelolaan sampah yang besarnya Rp 105.834,00 per ton. Dengan asumsi Kota Bekasi menghasilkan 150 ton sampah dalam setahun, maka dana yang harus dipersiapkan sebanyak Rp 15 miliar dan harus dibayarkan ke PT Godang Tua Jaya yang mengelola TPST Bantargebang.

Sementara retribusi untuk Pemrov DKI Jakarta sebesar Rp 10.000,00 per meter kubik yang totalnya sebesar Rp 5 miliar tidak memberatkan untuk dibayar. "Retribusi pengelolaan sampah yang kami mohonkan dispensasinya," katanya.

Besar harapan, surat yang dilayangkan ke Gubernur Jabar tersebut segera ditindaklanjuti serta mendapat respon positif dari Pemprov DKI Jakarta. Sebab kebutuhan untuk lahan pembuangan sampah yang memadai sudah sangat mendesak seiring berakhirnya tahun 2011.

Menurut Ratim, saat ini Dinsih Kota Bekasi masih fokus menjajaki kemungkinan memanfaatkan TPST Bantargebang karena pertimbangan lokasi yang tidak terlalu jauh dari TPA Sumur Batu. Sementara penjajakan kemungkinan penggunaan TPA milik Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Bogor yang juga lokasinya berbatasan dengan Kota Bekasi belum dilakukan. "Fokus ke TPST Bantargebang dulu supaya tidak menimbulkan biaya tambahan karena jarak angkut yang menjauh," katanya.

Meskipun permasalahan sampah ini masih belum terselesaikan, Ratim menjanjikan jadwal operasional armada pengangkutan sampah tidak akan terganggu. (A-184/das)***

Budidaya Ikan Mujaer Lebih Menjanjikan

Selasa, 27/12/2011 - 02:21



WILUJENG KHARISMA/"PRLM"

BEBERAPA Jaring terapung muajer di Desa Telagajaya, Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang, Senin (26/12). Budibaya Ikan Mujaer bisa menjadi pilihan bagi petambak lainnya yang sedang mengalami...


KARAWANG, (PRLM).- Petambak Desa Telagajaya, Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang banyak yang beralih dari petambak udang ke ikan mujaer. Hal tersebut dilakukan karena mujaer lebih tahan terhadap kondisi air dan cuaca buruk.

"Kami terus merugi saat menanam benih udang karena sering mati akibat kondisi air yang jika terkena air hujan lebih banyak lebih dari lima puluh persen benih udang yang kami sebar selalu mati. Namun pengembangan budi daya ikan mujaer dengan teknik keramba jaring apung," ucap salah seorang petambak, Naja (42), Senin (26/12).

Hanya saja, kata Naja, pengembangan budidaya ikan mujaer dengan teknik keramba jaring terapung membutuhkan dukungan, terutama modal untuk berinovasi kisaran Rp 100-150 juta dengan keadaan keramba sebanyak 6 lubang, atau berukuran keramba sepanjang 60 meter dan lebar 4 meter.

“Ini modal awal untuk membangun keramba selebihnya jika budidaya sudah berjalan modal tidak akan sebanyak itu. Modal tersebut lebih murah daripada modal untuk menanam benih udang," katanya.

Naja mengatakan petani jaring apung menghabiskan biaya awal berkisar Rp 100 jutaan, di antaranya untuk fisik kontruksi keramba, seperti jaring madang, besi dan drum besi, menghabiskan dana berkisar Rp 37 juta. Sementara untuk biaya benih ikan berkisar Rp 20 juta, dan pakan pelet berkisar 21 ton untuk pakan selama 6 bulan sebesar Rp 137 juta.

Saat ini, kata Naja, perkembangkan budi daya ikan mujaer masih berukuran bibit, sehingga mengantisipasi perubahan cuaca di tahun mendatang petani perlu mempersiapkan keramba tambahan. Pasalnya, tambahan keramba untuk kebutuhan para petani jaring terapung di Kecamatan Pakisjaya akan diusulkan pada instansi terkait.

"Syukurlah, ikan yang kita kembangkan itu bersahabat dengan alam. Ikan tidak banyak yang mati, boleh dibilang hanya 10% dari benih yang ditabur. Itu juga hanya dikarenakan termakan oleh ular,” tutur Ucang (40), petambak lainnya.

Ucang optimis sekitar 80% benih ikan budi daya mampu berkembang lebih baik dan efektif para prosesnya dengan dukungan yang cukup. “Pengembangan ikan menggunakan keramba jaring apung secara intensif itu, kita adopsi dari pengembangan ikan budidaya di daerah lainnya," katanya.

Lebih lanjut Ucang mengatakan tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat atau lempung, tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang atau dinding kolam. (A-186/A-88)***