Sabtu, 01 Desember 2012

Mempertegas Kekuatan Wisata NTT

Sabtu, 1 Desember 2012 | 12:40 WIB

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
 Pemandangan pulau-pulau dilihat dari puncak Pulau Rinca, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Senin (4/6/2012). Pulau Rinca merupakan salah satu dari empat pulau yang dihuni komodo.  



SAIL Komodo berlangsung 28 Juli-9 September 2013. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan pemerintah pusat telah melakukan berbagai persiapan pembenahan sejumlah infrastruktur pendukung. Sail Komodo melalui dua jalur, yakni utara dan selatan Nusa Tenggara Timur.

Sail Komodo 2013 juga merupakan tahun kunjungan Flores, Sumba, Lembata, Timor, Rote, dan Alor (Flobamora). Tahun 2013 ditargetkan menjadi titik kebangkitan industri pariwisata Nusa Tenggara Timur (NTT). Total kunjungan satu juta wisatawan pada 2013 bakal tercapai.

Kepala Seksi Promosi dan Informasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTT Bonafentura Rumat di Kupang, Minggu (23/9/2012), mengatakan, pembenahan infrastruktur pendukung di setiap destinasi dan sumber daya manusia melibatkan semua pihak, baik pemerintah daerah maupun swasta.

”Pemerintah dan masyarakat NTT bertekat membangun industri pariwisata sebagai kekuatan ekonomi-kreatif baru di daerah ini, sama seperti Nusa Tenggara Barat dan Bali yang sudah maju di bidang ini. Kekuatan nilai jual komodo menjadi lokomotif industri wisata di daerah ini,” kata Rumat.

Persiapan Sail Komodo 2013 antara lain pembenahan dermaga di setiap titik singgah, air bersih, listrik, guide, penginapan, serta informasi yang tepat dan akurat. Selain itu, juga pusat-pusat cendera mata khas daerah, atraksi budaya masyarakat, dan persiapan masyarakat menyambut peserta Sail Komodo.

Ada dua jalur Sail Komodo NTT, yakni utara, mulai dari Kupang, Alor, Lembata, Flores Timur, Maumere, Ende, Riung, hingga Labuan Bajo, serta selatan, mulai dari Kupang, Rote Ndao, Sabu Raijua, Waingapu, Sumba Barat Daya, Borong, hingga Labuan Bajo.

Provinsi ini memiliki obyek wisata komplet. Jika NTB dan Bali menjual keindahan pantai yang kemudian dikemas dengan sejumlah budaya dan kreativitas masyarakat lokal, NTT justru lebih lengkap dengan komodo yang tidak ditemukan di dua provinsi itu.

Keterlambatan NTT membangun industri pariwisata disebabkan oleh kelemahan pengambil kebijakan sebelumnya. Mereka tidak melihat NTT secara utuh dan menyeluruh, tetapi selalu terkotak-kotak.

Kini, titik kekuatan industri pariwisata NTT adalah komodo di Labuan Bajo. Letaknya yang berdekatan dengan Lombok, NTB, berpotensi sebagai jembatan emas-poros wisata Bali, NTB, dan NTT atau sebaliknya. Melalui komodo, daya tarik dan kekuatan ekonomi obyek wisata lain di NTT lebih dipertegas.
”Kami memanfaatkan momen Sail Komodo untuk mendongkrak kunjungan ke obyek wisata lain di 21 kabupaten/kota di NTT. Semua pihak dilibatkan dalam kesempatan ini,” kata Bona.

Tidak berpengaruh
Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) NTT I Dewa Made Adnya mengatakan, kegiatan Sail Komodo tidak berpengaruh langsung terhadap ekonomi suatu daerah. Peserta Sail Komodo lebih banyak dijamu pihak tuan rumah, yakni pemerintah dan masyarakat. Biaya yang dikeluarkan jauh lebih besar ketimbang pemasukan dari para turis yang datang.

”Kapal pesiar jauh lebih menguntungkan ketimbang program Sail Komodo. Februari 2013 sebuah kapal pesiar dari Perancis bernama The Franc`s akan tiba di Kupang membawa sekitar 300-400 orang. Mereka melakukan tur wisata ke NTT, yakni Larantuka, Ende, Waingapu, Sumba Barat Daya, Pulau Rinca, dan Pulau Komodo,” kata Adnya.

Kegiatan Sail Komodo lebih berdampak politik ketimbang pariwisata itu sendiri. Sail Komodo bisa berpengaruh terhadap ekonomi masyarakat jika disajikan secara benar-benar serta menyenangkan peserta, termasuk menjamu peserta, persiapan infrastruktur, dan paket wisata yang disajikan.

”Sebuah Sail Komodo berpengaruh bila semua kenangan indah itu disosialisasikan, diteruskan, dan diceritakan oleh peserta Sail Komodo ke negara lain atau sesama wisatawan. Jika tidak, hal itu sama sekali tidak berguna,” ujar Adnya.

Ia mengatakan, sejak Sail Komodo diselenggarakan di Indonesia (2006), para turis asing selalu singgah di NTT, yakni Teluk Kupang, sebagai titik awal masuk Indonesia. Ratusan turis asing dari puluhan negara singgah di sejumlah kabupaten di NTT, tetapi mereka tetap tidur di kapal dan dijamu pemerintah daerah setempat serta menyaksikan atraksi budaya lokal secara gratis.

”Kalau Sail Komodo sekadar menambah jumlah kunjungan wisatawan asing, silakan. Namun, meningkatkan ekonomi masyarakat secara langsung, sulit. Kita bicara dari pengalaman selama beberapa tahun Sail Komodo di sejumlah kabupaten di NTT,” kata Adnya.

Ia pun menyesalkan, pihak pemerintah daerah dan penyelenggara Sail Komodo 2013 sampai hari ini tidak pernah membicarakan persiapan acara tersebut bersama Asita. Padahal, peran Asita NTT cukup signifikan dalam meningkatkan kehadiran turis asing ke wilayah itu.

Asita menyelenggarakan direct promotion pariwisata NTT di Bali yang diikuti sejumlah perusahaan perjalanan pariwisata dari NTT dan perusahaan perjalanan pariwisata dari Bali. Empat perusahaan perjalanan pariwisata NTT yang selalu aktif adalah Oceania, Floresa Wisata, Trans Nusa, dan Komodo Adventure.

”Dalam pertemuan itu terungkap bahwa perusahaan perjalanan pariwisata di Bali ingin membangun kerja sama dengan perusahaan perjalanan pariwisata NTT asal pihak NTT benar-benar memperlakukan tamu mereka seperti yang diperlakukan di Bali. Jika tamu yang dikirim ke NTT itu diperlakukan kurang memuaskan, hal tersebut juga berdampak buruk terhadap perusahaan pariwisata di Bali,” kata Adnya. (KORNELIS KEWA AMA)
 
Sumber :Kompas Cetak
Editor :I Made Asdhiana

Ngos-ngosan Menuju Kawah Galunggung


Penulis : Ni Luh Made Pertiwi F | Sabtu, 1 Desember 2012 | 10:37 WIB




Kompas Images/Ni Luh Made Pratiwi F-
Kawah Gunung Galunggung, di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

KOMPAS.com – Ini ibarat olahraga di pagi hari. Ada 620 anak tangga yang harus dihadapi. Belum lagi ini tangga yang begitu curam, sampai-sampai saat di bawah, kepala harus mendongak untuk melihat ujungnya.

Itu pun, saat masih di ujung bawah, ujung atas sebenarnya tak terlihat. Saking tingginya dan saking curamnya. Perjalanan menuju Kawah Galunggung yang berada di Kabupaten Tasikmalaya pertama-tama melalui perjalanan darat dengan mobil selama empat puluh menit dari pusat Kota Tasikmalaya.

Kemudian mobil melewati pegunungan dengan jalan berkelok-kelok. Di sisi jalan penuh dengan pohon-pohon cemara sehingga selintas terasa seperti berada di Eropa. Namun, jalan rusak di beberapa titik pun kembali menyadarkan otak bahwa mobil tengah melaju di Indonesia.

Sampai di persimpangan jalan bertuliskan “Kawasan Wisata Galunggung”, jalan terbagi dua. Ke kiri dan menanjak adalah menuju Kawah Galunggung, sementara di kiri dan menurun menuju Cipanas alias pemandian air panas.

Nah, belokkan mobil ke kiri menuju kawah. Bercapai-capai dahulu menaiki anak tangga. Setelah itu bolehlah relaksasi di pemandian air panas. Gunung Galunggung sendiri berada di Desa Linggajati, Kecamatan Sukaratu. Sekitar 17 kilometer dari Kota Tasikmalaya.

Gunung berapi di ketinggian 2.167 meter tersebut terakhir meletus di tahun 1982. Kawah cantik seperti danau berwarna kehijauan, dulunya begitu menyeramkan karena memuntahkan lahar panas. Tentu ada harga mahal untuk melihat kecantikan itu. Apalagi kalau bukan 620 anak tangga yang harus dihadapi.

Perlu waktu sekitar dua puluh menit untuk mencapai puncak anak tangga. Jangan terburu-buru, setiap saat beristirahatnya. Lalu, balikkan tubuh dan nikmati panorama hijau pepohonan yang asri. Di kala kabut pagi mulai menghilang, perumahan pun terlihat di kejauhan.

Sesampai di puncak, ambilah batu dan lempar ke tengah kawah. Jika berhasil masuk ke dalam kawah, konon apa yang menjadi keinginan dapat terkabul. Ini bukan perkara mudah, akibat gravitasi, batu biasanya meluncur tak sampai kawah dan keburu jatuh.

Puas menikmati kawah, turun kembali di anak tangga yang sama. Tentu saja, menuruni anak tangga lebih mudah daripada menaikinya. Di bawah, warung-warung siap memasakkan mi instan sederhana untuk sarapan pagi Anda.

Editor :I Made Asdhiana
 

Pemindahan Ibukota Jabar Dinilai Kurang Rasional

Numan Abdul Hakim:

 

www.disparbud.jabarprov.go.id
Gedung Sate


JAKARTA, (PRLM).- Pemindahan Ibukota Provinsi Jawa Barat dari Kota Bandung dianggap kurang rasional. Sebab, pemindahan ibukota tidak akan memberi dampak keuntungan signifikan bagi wilayah penggantinya.

“Kepentingannya apa? Ibukota tidak ada situmulus apa-apa. Ibukota dimanapun tidak ada pengaruhnya,” kata anggota Komisi Pemerintahan DPR Numan Abdul Hakim, kepada “PRLM”, Jumat (30/11).

Sebelumnya diberitakan, Ibukota Provinsi Jawa Barat diusulkan untuk pindah ke wilayah Cirebon. Pemindahan itu dianggap akan mampu meningkatkan daya saing Jawa Barat dengan wilayah lain di pulau Jawa. Apalagi dengan kemampuan infrastruktur yang tidak lama akan terwujud.

Numan menjelaskan, pemindahan ibukota provinsi dari Kota Bandung malah akan menyulitkan aksesibilitas kepentingan kota dan kabupaten lain.

“Ibukota adilnya di tengah-tengah. Kota Bandung tengah sekali. Kalau semua daerah tidak keberaratan, ya enggak masalah. Khawatirnya Bogor, Bekasi, Cianjur, Sukabumi, merasa kejauhan ke pusat pemerintahannya,” ujar anggota Fraksi Partai Persatuan Pembangunan dari daerah pemilihan Jabar itu.

Ia menjelaskan, sejak awal hasil kajian planologi sudah menunjuk Kota Bandung sebagai wilayah paling tepat sebagai Ibukota Provinsi Jawa Barat. Posisi kewilayahan Kota Bandung dinilai paling tengah di antara kota dan kabupaten lainnya.

Pemilihan Kota Bandung itu berdasarkan aksebilitas bagi kepentingan kota dan kabupaten lain. Oleh karena itu, ia menilai pemindahan Ibukota Provinsi Jawa Barat dari Kota Bandung kurang tepat.

“Di zaman saya ga ada usul pemindahan. Kalau usul pembentkan Provinsi Cirebon ada,” ujar mantan Wakil Gubernur Jawa Barat itu.

Ia lebih memilih wilayah pantura sebagai kawasan penguatan Provinsi Jawa Barat. Apalagi, Cirebon merupakan salah satu wilayah yang masuk sebagi wilayah pertumbuhan ekonomi bersama dengan Majalengka, Kuningan, dan Indramayu.

Ke depan, kata dia, wilayah panturan itu dipersatukan dengan dasar desain untuk pertumbuhan ekonomi, serta didorong untuk menjadi wilayah pertumbuhan ekonomi nasional.

Hal itu diawali dengan pembangunan kawasan bandara Kertajati Aerocity yang dijadikan pusat pertumbuhan. Ditambah lagi dengan infrastruktur akses tol ke sejumlah arah kota dan kabupaten melalui Tol Cisumdawu dan Cikampek-Palimanan, termasuk kekuatan pelabuhan laut yang ditopang Pelabuhan Cilamaya dan Pelabuhan Cirebon. Pertumbuhan luar biasa itu, kata Numan, akan menjadikan jaringan bersama Karawang, Bekasi, dan Purwakarta di sebelah barat.

“Kalau jadi dibangun, pertumbuhan itu akan luar biasa. Kalah Jakarta lah. Kalau lebih hebat lagi tanpa status ibukota. Saya kira siapapun yang menjadi gubernur, peningkatan infrastruktur tadi harus dimajukan terus,” ujarnya. (A-196/A-89)***

Jumat, 30 November 2012

Terbukti, Ada Es di Merkurius

Penulis : Yunanto Wiji Utomo | Jumat, 30 November 2012 | 10:57 WIB


NASA 
Bagian berwarna merah adalah kutub utara Merkurius. Wahana Messenger membuktikan bahwa es ada di wilayah itu. 



WASHINGTON, KOMPAS.com — Tim ilmuwan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyatakan bahwa berdasarkan hasil observasi terbaru dengan wahana antariksa Messenger, Merkurius terbukti memiliki air dalam bentuk es.

"Data terbaru mengindikasikan adanya air dalam bentuk es di bagian kutub Merkurius, menyebar di area seluas Washington dan memiliki ketebalan lebih dari 3,2 km," kata David Lawrence, peneliti NASA yang turut andil dalam riset ini.

Temperatur Merkurius bisa mencapai 427 derajat celsius. Namun, di wilayah kutub utara yang karena kemiringan sumbu Merkurius tak mendapatkan sinar Matahari, temperatur tergolong rendah sehingga memungkinkan adanya es.

Es di kutub utara Merkurius terdapat mulai dari koordinat 85 derajat lintang utara Merkurius. Sementara lapisan es tipis bisa menyebar hingga koordinat 65 derajat lintang utara. Ilmuwan juga percaya bahwa kutub selatan Merkurius memiliki es, tetapi observasi belum dimungkinkan.

Adanya es di Merkurius telah diduga sejak tahun 1991. Saat itu, teleskop di Puerto Riko menemukan adanya bagian yang berwarna terang di kutub planet terdekat dari Matahari itu. Es juga kadang ditemukan di wilayah yang berdasarkan observasi tahun 1970-an merupakan kawah raksasa.

Citra Messenger terbaru mengonfirmasi bahwa bagian berwarna terang itu berada di wilayah dengan suhu rendah yang memungkinkan adanya es. Instrumen spektrometer netron pada Messenger menganalisis konsentrasi hidrogen, bagian dari air, dan menemukan bahwa air dalam bentuk es memang ada.

Studi mengungkap bahwa di wilayah yang paling dingin, lapisan air ada di atas. Namun, di wilayah yang lebih hangat di mana es dilapisi oleh material gelap (isolator panas) yang memiliki kadar hidrogen lebih rendah.

David Paige dari NASA yang juga terlibat di riset ini menyatakan, material gelap itu adalah kunci untuk memahami bagaimana air bisa sampai di Merkurius. Menurutnya, material gelap itu terdiri dari senyawa organik yang berasal dari komet ataupun asteroid yang menumbuk Merkurius.

Sea Solomon, pimpinan riset yang juga astronom di Lamont-Doherty Earth Observatory, Columbia University, mengatakan, "Lebih dari 20 tahun kami bertanya-tanya apakah planet terdekat dari Matahari memiliki es di kutubnya. Messenger memberikan jawaban pasti."

Namun, Solomon juga mengungkapkan bahwa Messenger memberikan pertanyaan baru. "Apakah material gelap di kutub sebagian besar terdiri atas senyawa organik? Apa reaksi kimia yang telah dialami material itu?"

"Adakah wilayah di Merkurius yang memiliki baik air dalam bentuk cair maupun senyawa organik? Hanya dengan penelitian lanjut tentang Merkurius kita bisa berharap mencapai kemajuan dalam menjawab pertanyaan itu," tambah Solomon seperti dikutip AFP, Kamis (29/11/2012).

Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Science Express pada Kamis kemarin. Messenger telah meneliti Merkurius sejak tahun 2011. Pada tahun 2014 dan 2015, Messenger akan melayang lebih dekat di Merkurius sehingga memungkinkan observasi lebih detail.

Sumber :AFP
Editor :yunan

Setelah Rumah Sakit, Akan Dibangun Sekolah di Gaza

Jumat, 30 November 2012, 13:17 WIB

  Abdillah Onim
Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Distrik Beit Lahiya, Gaza utara, Palestina.


REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Indonesia akan membangun Sekolah Indonesia di Gaza, Palestina, setelah membangun Rumah Sakit Indonesia di kota yang sama yang sedang dalam tahap penyelesaian.

"Lahannya sudah tersedia di Bait Lahiya, Gaza Utara, seluas 5.000 meter persegi, proses pembangunannya segera dimulai," kata Direktur Aksi Cepat Tanggap (ACT) Doddy Cleveland di Gaza, Jumat.

Namun dia tidak memberikan penjelasan lebih rinci tentang pendanaan pembangunan sekolah itu maupun target penyelesaiannya.

Perwakilan ACT dan lembaga kemanusiaan yang lain mengunjungi Gaza bersama rombongan Komisi I DPR RI untuk menyerahkan bantuan kemanusiaan kepada korban agresi militer Israel.

Menurut Doddy, dalam kunjungan kali ini ACT membawa bantuan obat-obatan dan uang tunai senilai Rp 500 juta yang dihimpun dari masyarakat Indonesia.

"Obat-obatan akan diserahkan ke Rumah Sakit Al Shifa, dan uang tunai dikhususkan kepada anak-anak dan janda-janda syuhada korban kekejaman Israel. Setiap korban diberikan uang tunai 100 shekel atau sebanding Rp 400 ribu," ujar Doddy.

ACT juga memberikan paket makanan dan selimut, kata Doddy serta menambahkan bahwa sejak empat tahun lalu ACT rutin memberikan bantuan kepada Rumah Sakit Al Shifa senilai Rp100 juta per bulan.

Selain ACT, ada tujuh lembaga bantuan kemanusiaan termasuk Dompet Dhuafa, Yayasan Adara Relief Internasional, dan Komisi Nasional Untuk Rakyat Palestina (KNURP) yang mengunjungi Gaza.

KNURP menyerahkan bantuan kemanusiaan satu juta dolar AS atau sekitar Rp9,5 miliar dan Adara Reliel International membawa bantuan Rp1,5 miliar.

"Kami sudah menjalin kontak dengan Perhimpunan Wanita Palestina atau Women For Palestine yang membawahi 25 organisasi wanita Palestina untuk bantuan kemanusiaan tersebut," kata Maryam Rachmayani dari Adara Relief International.

Redaktur: Taufik Rachman
Sumber: antara

Rumah Amfibi Solusi Saat Banjir





BUCKINGHAMSHIRE, (PRLM).- Rumah yang bisa naik dan turun sesuai permukaan air tanah disebut-sebut sebagai solusi terbaru untuk mengatasi banjir tahunan di Inggris.

Selama seminggu terakhir, hujan deras membanjiri jalan dan lebih dari 900 rumah di Inggris, ratusan rumah ditinggalkan, dan penghuninya tidak bisa kembali ke rumahnya.

Badan Lingkungan Hidup Inggris telah memperingatkan bahwa risiko banjir tetap tinggi di seluruh negeri.
Seperti dilaporkan BBC, kini pemerintah Inggris sedang mencari berbagai solusi untuk menangani banjir yang semakin sering, termasuk rumah-rumah yang mengapung saat air naik.

Baca Architectsawal tahun ini diberikan izin untuk membangun rumah amfibi pertama di Inggris sepanjang tepi Sungai Thames di Buckinghamshire. Rumah ini terletak di darat, tetapi saat sungai meluap, ia mampu naik di atas air untuk menjaga penghuninya tetap kering. (Aya/A-107)***

"Perut Singapura Kenyang karena Indonesia"

DEVISA HASIL EKSPOR


Jumat, 30 November 2012 | 07:52 WIB

  google image 
Uang Dollar AS  

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia akan mengeluarkan peraturan baru tentang bank wali amanat (trustee bank). Ini adalah status sekaligus layanan baru buat bank di Indonesia yang akan ditawarkan oleh Bank Indonesia. Jika bank berstatus bank wali amanat, bank bisa mengelola uang para eksportir Indonesia. 

Peraturan yang akan berlaku tahun 2013 ini juga bertujuan untuk menarik dana pengusaha Indonesia yang diparkir di bank di luar negeri. Maklum, sebagian besar dana tersebut merupakan dana hasil ekspor yang dilakukan dari Indonesia. Uang tersebut semestinya dibawa lagi ke Indonesia karena perusahaan mereka beroperasi di Indonesia, tetapi nyatanya disimpan di luar negeri. 

Bank Indonesia pernah menyatakan, uang hasil ekspor yang tidak kembali lagi ke Indonesia mencapai 30 persen. Jadi bila nilai ekspor Indonesia tahun ini sampai September 2012 mencapai 143 miliar dollar AS, berarti ada sekitar 20 miliar dollar AS (sekitar Rp 180 triliun) masih diparkir di bank di luar negeri.

Memang, dalam laporan terbaru Bank Indonesia disebutkan, per Agustus 2012, tinggal 16 persen uang hasil ekspor dari Indonesia belum masuk ke sistem keuangan Indonesia. Meski tinggal sedikit, persialannya, uang yang telah masuk ke Indonesia tidak bertahan lama di sini. Uang itu kembali lagi ke luar negeri. Kini Bank Indonesia berusaha agar uang tersebut tetap bertahan di sistem perbankan Indonesia dengan mengenalkan layanan baru bernama trustee bank.  

Pengusaha ekspor membenarkan sebagian besar mereka masih menyimpan dananya di bank di luar negeri. Menurut eksportir, sebagian besar dana tersebut diparkir di lembaga keuangan di Singapura. “Bisa mencapai 50 persen,” kata Benny Soetrisno, Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia saat bertemu KONTAN.  Setelah itu ialah Hongkong, Belanda dan Inggris. “Di Hongkong besar juga, bisa 30 persen,” tutur Benny.
Dengan posisi seperti itu, Singapura sangat tergantung dengan Indonesia. Selain menjadi sumber utama lembaga keuangan Singapura, Indonesia juga merupakan pasar terbesar ekonomi Singapura. “Kalau kita perang dengan Singapura, Singapura akan menangis. Selama ini perut mereka kenyang karena Indonesia,” kata Benny yang juga menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Perindustrian MS Hidayat.
Pengusaha yang menyimpan dananya di luar negeri bergerak di sektor pertambangan, minyak dan gas, dan kelapa sawit.

Kata Benny, pengusaha menyimpan dananya di bank di luar negeri karena beberapa sebab. Pertama, mereka mendapatkan pinjaman dari bank di luar negeri. Nah, uang hasil ekspornya dikelola dan dikuasai oleh bank pemberi kredit. Perbankan di luar negeri yang member pinjaman bertindak sebagai wali amanat yang mengelola aset bergerak dan aset tidak bergerak milik pengusaha Indonesia.

Kedua, karena faktor biaya yang lebih murah. Pengusaha Indonesia masih tertarik menyimpan dananya di luar negeri karena bunga kredit yang murah, sekitar 2 persen-3 perse  per tahun, bandingkan dengan suku bunga kredit valas dari bank di Indonesia yang masih sekitar 6%. Selain itu, biaya membuka dan mengamandemen LC yang lebih rendah dari bank di Indonesia.

Faktor lainnya ialah kemudahan mengakses pinjaman. Misalnya, bank di luar negeri hanya mensyaratkan jaminan (collateral) sekitar 10 persen, sementara perbankan di Indonesia mengharuskan jaminan 30 persen atau 40 persen. Tidak hanya jaminan, pinjaman dari bank disyaratkan diberikan kepada perusahaan yang telah untung, minimal selama dua tahun berturut-turut.

Di luar faktor kelengkapan dan kemudahan layanan serta biaya yang lebih murah, faktor utamanya ialah kepercayaan dan keamanan terhadap bank di luar negeri. Pengusaha-pengusaha yang menyimpan dananya di luar negeri masih lebih percaya kepada perbankan di luar negeri. “Setelah faktor kepercayaan, baru faktor kemudahan dan biaya yang murah,” terang pengusaha yang hobi fotografi ini.

Kata Benny, untuk menarik dana dari luar negeri melalui cara yang ditempuh BI saat ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Sebab, eksportir akan melihat dulu layanan dan manajemen perbankan Indonesia.
"Mereka pasti wait and see dulu, kalau ada temannya yang masuk dan bagus, pengusaha yang lain akan ikut. Begitu tipe pengusaha kita," kata Benny.

Ada cara lain yang lebih cepat: membuat kebijakan repatriasi modal seperti yang pernah dilakukan oleh Presiden Soeharto sekitar tahun 1970. Pemerintah meminta para pengusaha superkaya Indonesia untuk membawa masuk uangnya ke Indonesia dengan insentif. "Pajaknya diturunkan menjadi 3 persen-5 persen untuk tahun pertama, selebihnya mereka membayar pajak normal," terang Benny.  (Umar Idris, Herry Prasetyo/Kontan)
 
Sumber :KONTAN
Editor :Erlangga Djumena
 

Berkah Hujan Bagi Ojek Payung Dadakan




BANDUNG, (PRLM).- Iki, adalah nama panggilan akrab teman-temannya. Seorang anak laki-laki berumur 10 tahun, kelas 5 SD yang bersekolah di SD Nurul Huda, Citarip Timur, Kota Bandung ini adalah tukang ojek payung dadakan. “Ngojek payung dari awal kelas 5,” ujarnya, Kamis (29/11/12).

Dia adalah anak yang ceria meskipun dengan keadaan kurang dari cukup dibandingkan dengan sebagian teman-temannya. “Yaah...lumayan bisa untuk bantu-bantu mama sama adik-adik saya,” ujarnya berharap untuk bisa membantu ibunya yang hanya seorang ibu rumah tangga biasa dan ayahnya yang hanya seorang kuli angkut barang di pasar.

Rizky Firmansyah nama lengkapnya, adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Dia mengais rezeki di kala hujan deras yang mengguyur kota. “Saya jadi tukang ojek payung nggak kayak teman-teman saya yang selalu berprofesi jadi tukang ojek payung. Saya cuman ikut-ikutan saja. Sehari-hari saya cuman tukang koran dan siswa SD biasa. Jadi pas hujan gede aja saya jadi tukang ojek payung dadakan dan meninggalkan pekerjaan jadi tukang koran dulu,“ ujarnya.

Dengan berpenghasilan yang cukup lumayan berkisaran Rp 30 ribu per hari, dan memasang tarif Rp 5 ribu, pengojek payung ini berharap bisa untuk membantu keluarganya. (Risma-job/A-88)***