Selasa, 18 Desember 2012

Kerja Hanya 6 Hari Selama 9 Tahun, tetapi Tetap Digaji

Selasa, 18 Desember 2012 | 08:58 WIB

AFP
Kota Bologna


BOLOGNA, KOMPAS.com Sepandai-pandainya menyembunyikan kecurangan, akhirnya akan terbongkar juga. Seorang perempuan berusia 46 tahun dari Bologna, Italia, diganjar hukuman dua tahun penjara karena hanya bekerja selama enam hari di sebuah rumah sakit umum dalam jangka sembilan tahun.

Perempuan yang hanya disebutkan bernama Silvia S itu ditahan November lalu. Dia dianggap melakukan kecurangan dengan memanfaatkan dana yang berasal dari publik. Selain itu, dia juga telah memberikan informasi palsu mengenai dirinya, demikian dilaporkan kantor berita Italia, ANSA, akhir pekan lalu.

Rupanya, dalam kurun 9 tahun tersebut, dia mengaku sakit sehingga tidak masuk bekerja. Selain sakit, dia juga mengaku hamil dan melahirkan. Tidak hanya satu kali, tetapi juga dua kali. Padahal, dia sama sekali tidak sakit atau hamil dan melahirkan.

Selama kurun waktu tersebut, gaji yang berasal dari pembayaran pajak terus diterimanya. Wah.... (UPI/Joe)
 
Sumber :Kompas Cetak
Editor :Egidius Patnistik

Kamis, 06 Desember 2012

Noken Papua mendapat pengakuan UNESCO

Terbaru  5 Desember 2012 - 14:28 WIB 

Noken Papua
 
Tas rajutan atau anyaman multifungsi kerajinan tangan rakyat Papua, Noken, resmi masuk dalam Daftar UNESCO Warisan Budaya Takbenda.

Berdasarkan keterangan yang diterima oleh BBC Indonesia dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, keputusan itu diketuk palu oleh Arley Gill dari Grenada yang menjadi ketua Sidang Komite Antar-Pemerintah ke-7 untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda di Markas UNESCO di Paris, Prancis, Selasa.

Wakil Menteri Bidang Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Wiendu Nuryanti, menyambut gembira inskripsi itu.

“Pengakuan UNESCO ini akan mendorong upaya melindungi dan mengembangkan warisan budaya Noken, yang dimiliki oleh lebih dari 250 suku bangsa di Provinsi Papua dan Papua Barat,” kata Wiendu.

“Inskripsi UNESCO ini bukanlah tujuan akhir, melainkan awal upaya kita untuk bersama-sama menggali, melindungi dan mengembangkan warisan budaya Noken yang penting ini. Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah menyukseskan nominasi Noken.”

Wiendu didampingi oleh Titus Pekei, putra Papua, Ketua Lembaga Ekologi Papua dan pencetus gagasan menominasi Noken ke UNESCO.

Titus, yang mewakili masyarakat Papua memberi masukan dan mendukung nominasi Noken ke UNESCO, turut gembira dengan berhasilnya perjuangan Noken yang telah mulai dengan penelitian lapangan oleh tim Puslitbangbud sejak awal 2011.

“Mama-mama Papua perajin noken pasti bahagia pada hari ini,” kata Titus.
Inskripsi Noken di UNESCo menyusul Wayang, Keris, Batik, Diklat Warisan Budaya Batik untuk Siswa Sekolah, Angklung, dan tari Saman.



Pakai Google Maps, Jalan Kaki 8.000 Km


 
 
KOMPAS.com/Deliusno
 
Winston Fiore, mantan marinir AS, yang berjalan 8.000 km demi misi kemanusiaan.

 
 
SINGAPURA, KOMPAS.com — Sebuah artikel tentang operasi gratis untuk anak-anak dengan masalah cleft-lip (bibir sumbing) benar-benar telah mengubah jalan hidup Winston Fiore, mantan pasukan angkatan laut (marinir) AS.

Setelah membaca artikel tersebut, Fiore memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan membela negara, mendirikan SmileTrek.org, berjalan kaki sejauh 8.000 kilometer mengelilingi Asia Tenggara, dan akhirnya berhasil mengumpulkan dana untuk membantu anak-anak dengan masalah tersebut.

Cerita bermula saat Fiore kembali dari tugasnya selama tiga minggu di Senegal. Dia diperlihatkan sebuah artikel oleh ayahnya. Artikel ini berisikan kisah mengenai seorang ahli bedah bernama Dr Geof Williams yang rela meninggalkan kariernya di AS demi menyediakan program operasi gratis bagi anak-anak di negara berkembang yang terkena masalah bibir sumbing.

Terinspirasi dengan Dr Geof Williams, Fiore akhirnya membuat sebuah misi kemanusiaannya versi dirinya sendiri, Smile Trek.

Perjalanan 8.000 km mengelilingi Asia Tenggara

Biaya satu kali operasi untuk masalah bibir sumbing ini adalah sekitar 250 dollar AS. Untuk sebagian orang, biaya tersebut memang dirasa tidak terlalu tinggi. Namun, untuk kebanyakan masyarakat di negara berkembang, biaya tersebut terasa sangat tinggi.

Sadar Dr Geof Williams tidak akan mampu apabila terus mengeluarkan uang pribadinya untuk membantu anak-anak tersebut, Fiore berinisiatif untuk menyebarkan kampanye pengumpulan dana untuk membantu Williams.

Cara yang dipilih oleh Fiore untuk menyebarkan kampanye ini terbilang unik. Ia memilih untuk berjalan kaki di wilayah Asia Tenggara dengan harapan dapat memaparkan kampanye ke setiap orang yang ditemui di sepanjang perjalanan.

Fiore memulai misinya ini pada bulan Oktober 2011 yang lalu. Kini, misinya tersebut sudah nyaris selesai. Fiore telah berhasil menempuh perjalanan sejauh 8.000 km di Asia Tenggara selama 408 hari.

Lebih dari satu tahun berjalan di wilayah Asia Tenggara, Fiore telah melewati 9 perbatasan negara Brunei, China, Laos, Malaysia, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.

Perlengkapan yang digunakan dan teknologi pendukung

Kepada KompasTekno, Fiore menyebutkan, selama perjalanannya, dia selalu menggendong tas dengan bobot 10 kg. Tas tersebut berisikan sebuah sleeping bag, tenda, sejumlah pakaian, tiga pasang kaus kaki, botol air yang mampu menampung 4 liter air, dan sebuah laptop yang digunakannya untuk menulis kisah perjalanannya di situs Smiletrek.org.

KOMPAS.com/Deliusno

Tas yang dibawa oleh Fiore berisikan sleeping bag dan tenda.

Agar tidak tersesat, awalnya Fiore hanya bergantung pada puluhan kertas peta yang selalu dibawanya ke mana-mana. Sadar penggunaan peta dalam bentuk fisik semakin menyulitkan perjalanannya, Fiore akhirnya memutuskan mengganti peta tersebut dengan ponsel pintar yang sudah dilengkapi dengan beberapa layanan dari Google.

Google Maps merupakan salah satu layanan yang digunakan oleh Fiore. Menurut Fiore, Google Maps mampu menyajikan gambar suatu wilayah dengan sangat akurat. Fitur ini banyak membantu Fiore untuk menentukan arah perjalanan, menentukan akan ke mana berikutnya, dan menampilkan desa terdekat dari posisinya saat itu.

KOMPAS.com/Deliusno
 Fiore juga membawa notebook untuk menuliskan pengalaman perjalanannya.


Selain itu, Fiore juga menggunakan layanan Google Latitude yang dapat digunakan untuk mengabarkan posisi terakhirnya kepada para keluarganya. Ia juga menggunakan MyTracks untuk mencatat kecepatan jalan, jarak, dan tempat yang ia kunjungi.

Fiore pun pernah tertolong oleh layanan penerjemah bahasa milik Google, Translate.

Suatu hari, ia diserang oleh anjing liar di kota Bangkok, Thailand. Takut akan terkena penyakit rabies, ia pun langsung meminta pertolongan dari masyarakat sekitar. Sayangnya, setiap orang yang dimintai pertolongan tidak mengerti apa yang Fiore katakan.

Tanpa ragu, Fiore pun langsung menggunakan Google Translate dan menuliskan, "Saya digigit anjing, bisa bawa saya ke rumah sakit?". Sopir taksi yang melihat pesan tersebut langsung mengerti dan secepat kilat membawa Fiore ke rumah sakit terdekat. Total, Fiore mendapatkan 11 kali suntikan karena masalah ini.

Hasilnya?

Saat berita ini dinaikkan, Fiore nyaris menyelesaikan misinya. Sumbangan dana yang terkumpul saat ini sudah sebesar 70.000 dollar AS. Target Fiore sendiri sebenarnya adalah sebesar 75.000 dollar AS. Hanya tersisa 5.000 dollar AS lagi hingga akhirnya Fiore akan berhenti berjalan kaki mengelilingi Asia Tenggara dan mungkin memulai misi kemanusiaan lainnya.

Rabu, 05 Desember 2012

Dua elang ular dilepasliarkan di TN Halimun

Rabu, 5 Desember 2012 13:24 WIB | 
 
Seekor Elang Ular Bido (Spilornis Cheela) (FOTO ANTARA/Jafkhairi)

Jakarta (ANTARA News) - Perkumpulan Suaka Elang dan Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) melepaskan dua ekor elang ular bido (Spilornis cheela) di Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi.

"Kita berharap pelepasliaran dua ekor elang ular ini dapat meningkatkan nilai konservasi kawasan hutan koridor," kata Kepala Balai TNGHS, Agus Priambudi melalui keterangannya yang diterima di Jakarta, Rabu.

Desa Cipeuteuy berbatasan langsung dengan kawasan TNGHS, merupakan salah satu taman nasional di Jawa dengan luas kawasan 113.357 hektar yang berada di Kabupaten Bogor dan Sukabumi Provinsi Jawa Barat, serta Kabupaten Lebak Provinsi Banten.

Kawasan tersebut merupakan lokasi terbaik dari lima lokasi lain yang telah disurvey oleh tim dari Suaka Elang dan TNGHS, atas dasar ketersediaan pakan dan kesesuaian kawasan itu sebagai habitat elang ular.

Pelepasan elang Ular itu turut di dukung oleh CSR PT Indonesia Power yang berkomitmen membantu pelestarian jenis elang dan keanekaragaman hayati di TNGHS.

Agus mengatakan, hutan yang masih utuh di kawasan tersebut sangat penting untuk menjamin komunikasi dan pergerakan satwa-satwa di kawasan hutan Gunung Halimun dan Gunung Salak. Kehadiran dua elang ular tersebut akan memperkuat mata rantai makanan di antara populasi-populasi satwa yang ada dalam ekosistem hutan TNGHS secara umum.

Hutan di koridor bukan hanya menjadi jembatan hidup untuk kehidupan jenis-jenis hayati, tetapi secara tidak langsung juga menghidupi masyarakat di sekitarnya.

Hilangnya hutan ini akan mengakibatkan bencana alam, seperti minimnya debit air sungai di DAS Citarik akibat matinya mata air, serta bencana erosi, longsor dan kekeringan pada lingkungan pemukiman sekitar TNGHS.

Karena itu, pemantauan kehidupan satwa elang dan satwa-satwa prioritas lainnya menjadi perhatian utama, bersamaan dengan pengamanan hutan dan keberhasilan upaya restorasi koridor hutan dimaksud.

Elang ular, merupakan jenis burung pemangsa dan satwa yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Namun perburuan dan perdagangannya masih marak dijumpai di pasar-pasar burung.

Zulham dari Suaka Elang mengatakan bahwa kedua individu elang ular tersebut dijual di pasar sebelum disita oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat. Kemudian keduanya dititipkan ke Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga dan selanjutnya menjalani proses rehabilitasi di Suaka Elang selama kurang lebih satu tahun.
(D016)

Editor: Ella Syafputri
COPYRIGHT © 2012

Effendy, Sang Penemu 730 Senyawa Baru

Selasa, 4 Desember 2012 | 16:00 WIB

Irwan Julianto
 Effendy


KOMPAS.com - Indonesia boleh berbangga karena memiliki Prof Effendy, ahli kristalografi yang diakui dunia. Di tengah minimnya sarana dan prasarana penelitian, ia mampu menemukan dan menganalisis 730 senyawa koordinasi baru dari garam-garam tembaga, perak, dan logam-logam alkali dengan ligan-ligan dari unsur golongan 15. Suatu angka pencapaian yang menurut para ahli kimia amat luar biasa.

Pekan lalu, Effendy mendapatkan Habibie Award atas 22 tahun penelitiannya dalam sintesis dan penentuan struktur senyawa koordinasi, dengan menggunakan metode difraksi sinar X. Penelitian Effendy memang penelitian dasar yang manfaatnya baru dirasakan 10-20 tahun mendatang.

Penerima Habibie Award 2012 lainnya adalah Prof Dr Teguh Santoso Sukamto, kardiolog FKUI/RSCM. Baik Effendy maupun Teguh memperoleh hadiah uang 25.000 dollar AS.

Penelitian Effendy tentang struktur senyawa kimia itulah yang nantinya menjadi dasar peneliti lain untuk menciptakan berbagai inovasi untuk kepentingan medis, pangan, dan bioteknologi.

”Sekarang ini berbagai disiplin ilmu harus saling bekerja sama. Ahli biologi molekuler harus bekerja sama dengan ahli kristalografi. Molekul kecil seperti Cisplatin berbahan dasar atom platinum, hidrogen, nitrogen, dan klor, yang ditemukan 75 tahun lalu. Belum lama ini, secara tidak sengaja diketahui itu dapat digunakan sebagai obat antikanker,” Effendy menuturkan.

Terancam ”drop out”

Effendy bercerita, dia tidak pernah bermimpi untuk menjadi ahli kimia. Sewaktu masih duduk di bangku SMA, ia bercita-cita menjadi dokter. Namun ayahnya, Nawawi, yang sempat menjadi pengepras atau pemborong tanaman tebu, secara mendadak bangkrut. Ketika itu sang ayah bangkrut karena ditipu oleh oknum-oknum di Pabrik Gula Krebet Baru, Malang.

Kondisi itu membuat Effendy terpaksa masuk ke Jurusan Pendidikan Kimia Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang. Dia membiayai kuliah dengan membuka kios penyewaan buku dan komik. Usaha inilah yang kemudian juga membantu membiayai kuliah empat adiknya.

Lulus S-1 dari IKIP Malang pada 1981, dua tahun kemudian Effendy melanjutkan ke jenjang S-2 Pendidikan Kimia di IKIP Jakarta. Dia berhasil lulus S-2 tahun 1985. Pada 1987, Effendy memperoleh beasiswa untuk belajar ke Australia bersama 20 pengajar IKIP yang sudah menyandang S-2 dari seluruh Indonesia. Mereka diharapkan menjadi pakar dalam bidang kimia, fisika, dan matematika.

”Di Australia, kami semua diturunkan setara dengan tahun ketiga S-1. Luar biasa berat buat saya karena selama satu tahun harus mendalami teori-teori kimia untuk mencapai gelar BSc dan setahun lagi untuk BSc Honour. Namun, saya merasa beruntung karena bisa menemukan satu senyawa pada saat terakhir masa tesis. Kalau tidak, saya bisa kena drop out,” cerita Effendy beberapa waktu lalu.

Dari satu senyawa itulah, Effendy melangkah lebih jauh. Ia terus melakukan penelitian dan menemukan senyawa-senyawa koordinasi lain yang kemudian dia pelajari strukturnya. Jika mahasiswa lain berlibur pada musim panas, Effendy justru memilih berkutat di laboratorium. ”Setelah dua bulan, saya berhasil menyintesis 32 senyawa baru,” katanya.

Atas prestasinya itu, Effendy ditawari masuk program doktor tanpa harus menyelesaikan program master. Dua bulan setelah pengumuman kelulusan sebagai doktor pada akhir tahun 1993, Effendy diminta oleh seorang ahli kimia, Prof Allan Henry White, untuk melanjutkan penelitian yang dia lakukan selama menjalani program doktor.

”Saya menerima tawaran itu karena di Indonesia belum ada alat single crystal diffractometer X-ray yang merupakan alat utama dalam penelitian saya. Kalau saya paksakan pulang ke Tanah Air, penelitian saya akan berhenti di tengah jalan,” kata Effendy.

Mondar-mandir

Sejak 1994 hingga kini, Effendy mondar-mandir antara Malang dan Australia. Akibatnya, dia tergolong terlambat untuk menikah. Pada 1998, saat berusia 42 tahun, dia menikahi Aniswati, salah seorang mahasiswinya di IKIP Malang yang lebih muda 18 tahun dari dirinya. ”Saya memimpikannya ketika naik haji,” tuturnya.

Effendy bercerita, dia memiliki lahan sawah 1 hektar untuk ditanami padi. Oleh karena itulah, sang istri belakangan ini juga menjadi penyuluh pertanian dan mengelola sebuah toko swalayan di Bulu, Lawang.

”Ini untuk membagi rezeki kepada lima karyawan toko kami. Kami berusaha agar hidup ini bisa memberi manfaat kepada orang lain,” ujarnya.

Effendy yang awalnya adalah pendidik kimia murni sekarang menjadi salah seorang dari sedikit ahli kristalografi yang dimiliki Indonesia. Hasil penelitian yang dia tulis lalu diterbitkan di berbagai jurnal ilmiah dunia.

Dia menjadi satu-satunya ilmuwan Indonesia yang namanya masuk daftar Cambridge Structural Database (CSD) di Cambridge Crystallographic Data Centre, sebuah database berisi nama para peneliti yang berhasil memublikasikan minimal 501 struktur senyawa baru dalam jurnal internasional. Karena itu, amat pantas jika Effendy mendapatkan Habibie Award di bidang ilmu dasar.

Selain menjadi peneliti ilmu kimia, Effendy juga membantu mengembangkan kurikulum pendidikan ilmu kimia untuk para pelajar SMP dan SMA rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) dan sekolah internasional. Dia juga membantu pengembangan program pendidikan tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Di tengah semua kesibukannya itu, Effendy masih sempat menulis setidaknya sembilan buku teks. Salah satu bukunya itu ditulis dalam bahasa Inggris.

Impian Effendy yang belum terwujud adalah menjadikan Universitas Negeri Malang sebagai pusat kristalografi nasional. Dia berharap ada donatur yang mau membantu pengadaan alat single crystal diffractometer X-ray yang harganya sekitar Rp 5 miliar.

”Hal yang juga penting adalah menyiapkan teknisi untuk mengoperasikan dan kaderisasi untuk mereka yang ingin mendalami kristalografi. Kaderisasi itu yang lebih sulit karena minat mahasiswa kecil sekali untuk mendalami ilmu dasar,” kata Effendy.


***


H Effendy

• Lahir: Malang, 20 September 1956

• Pendidikan:
- S-1 Pendidikan Kimia IKIP Malang, 1981
- S-2 Pendidikan Kimia IKIP Jakarta, 1985
- S-3 Kimia Anorganik Fisik University of Western, Australia, 1994

• Istri: Aniswati

• Anak:
- Naufal Attiqurrahman
- Fiqri Ihsanurrahman
- Adzka Rizqy Taufiqurrahman

• Pekerjaan:
- Guru besar pada Universitas Negeri Malang
- Visiting researcher di Department of Chemistry University of Western, Australia
Sumber :Kompas Cetak
Editor :yunan

Senin, 03 Desember 2012

La Masia, dari "Belanda" untuk Barca dan Spanyol

Penulis: Okky Herman Dilaga | Senin, 03 Desember 2012 | 05:42 WIB 
 
 
Dok. FC Barcelona
 La Masia, sebuah tempat dekat Stadion Camp Nou, yang menjadi sekolah calon-calon pesepak bola di Barcelona.
 
 
BARCELONA, KOMPAS.com — Sudah bukan rahasia umum jika ciri khas Barcelona terletak pada cara bermain yang disajikan di lapangan hijau. Olah bola, umpan satu-dua, hingga pergerakan pemain Azulgrana akan membuat penonton menggeleng-gelengkan kepala, seakan tidak percaya dengan apa yang dilihat.

Jika ingin mengetahui rahasia dasar permainan seperti itu, maka jawabannya adalah bangunan klasik abad ke-18 yang berada tidak jauh dari Stadion Camp Nou. Di sana akan ditemukan sebuah tempat bernama La Masia. Cikal bakal seorang genius sepak bola macam Xavi Hernandez, Lionel Messi, Andres Iniesta, ataupun Cesc Fabregas bermula dari akademi tersebut.

Uniknya, awal terbentuknya akademi ini bukan atas ide orang Spanyol, negara klub Barcelona dilahirkan, melainkan dari seorang pemain asal Belanda yang pernah bermain dan melatih Azulgrana, Johan Cruyff.

“Pada 15 atau 17 tahun lalu, klub ini kedatangan Johan Cruyff. Pada awal kedatangannya, Cruyff langsung berujar: Ok, anak-anak, mulai dari sekarang kita akan bermain dengan cara sendiri. Selalu ada visi dalam teknik, mengumpan, dan kecepatan berpikir,” ingat eks Pelatih Barcelona, Josep Guardiola, beberapa tahun lalu.

Benar saja apa yang dikatakan sang maestro Belanda tersebut. Kini, hampir dua dekade berselang, cara bermain yang diinginkan Cruyff dapat dinikmati penonton sepak bola di seluruh dunia.

La Masia ditutup
Sebanyak 70 staf termasuk pelatih, dokter, ahli gizi, koki, sampai psikolog menjaga sekitar 75 anak-anak di La Masia yang berusia antara 6 hingga 18 tahun. Barcelona sangat memperhatikan benar keberadaan calon-calon bintang sepak bola tersebut, mulai dari gizi sampai pendidikan formal. Semua dilakukan di La Masia.

Klub Catalan itu ingin menghasilkan pemain yang luar biasa, pemain yang fasih memainkan pola tiki-taka, yaitu umpan pendek yang tajam serta pergerakan cepat. “Pemain yang telah dididik La Masia memiliki sesuatu perbedaan. Filosofi bermain mereka berbeda dengan pemain lainnya,” ucap Guardiola.

Sampai saat ini, telah terdapat sekitar 500 pemain eks akademi La Masia. Tetapi, tidak semua lulusan akademi La Masia sukses sebagai pemain tersohor di dunia. Menurut perhitungan Barcelona, para lulusan akademi La Masia yang sukses hanya berjumlah 10 persen.

Pada Juni 2011, sejarah tempat berdirinya akademi Barcelona berakhir. Ya, La Masia resmi ditutup dan berpindah tempat ke kompleks latihan yang lebih modern, Ciutat Esportivo Joan Gamper. Meski demikian, La Masia bakal tetap dikenang sebagai rumah pemain-pemain terbaik dunia untuk menimba ilmu sepak bola.

"Kiblat" klub-klub Eropa
Meski yang sukses hanya sepersepuluh dari semua lulusan akademi La Masia, tak lantas pengembangan pemain muda ini dianggap gagal. Terbukti, bersama Ajax Amsterdam, Barcelona dianggap sebagai penghasil pemain-pemain berkualitas.

Klub-klub di Eropa macam Arsenal, Chelsea, Manchester United, VfB Stuttgart, maupun Girondins Bordeaux pernah mengirimkan perwakilannya untuk melihat langsung cara kerja akademi La Masia. Hal tersebut ternyata tidak mengagetkan Pep Segura, mantan Direktur Teknik La Masia yang juga pernah menjabat Manajer Pengembangan Akademi di Liverpool.

“Sangat berbeda. Di Inggris tidak ada struktur yang kompetitif seperti halnya di La Masia. Saya tidak membicarakan tentang rendahnya kualitas para pemain muda di sini. Sebab, struktur kompetisi yang bagus akan membantu klub membangun para pemain berkualitas,” jelas Segura.

Diadopsi La Furia Roja
Kemajuan tim nasional Spanyol saat ini juga dianggap beberapa orang merupakan hasil sumbangan akademi La Masia. Bahkan, hal tersebut diakui legenda Madrid, Fernando Hierro. “La Masia sangat penting bagi Spanyol. Ada banyak pemain Barcelona yang sekarang menjadi pilar Spanyol. Kini, Spanyol bermain dengan filosofi bermain yang sama dengan Barcelona,” ujar Hierro.

Pelatih Spanyol, Vicente Del Bosque, juga mengakuinya. “Saya pikir, La Masia telah memberikan kontribusi yang baik untuk Spanyol. Para pemain akademi telah berkembang lewat kerja keras yang dilakukan. Itu semua hasil dari bertahun-tahun investasi yang dilakukan sepak bola Spanyol,” tandas Del Bosque.

Dengan pentingnya peran akademi La Masia bagi Barcelona hingga La Furia Roja, terdapat satu pertanyaan yang mungkin diharapkan pencinta sepak bola di Indonesia. Kapankah Indonesia memiliki akademi sepak bola seperti La Masia di Barcelona?
Editor : Hery Prasetyo
 

Kepiawaian Mimi Rusini Menari Topeng Klasik Gaya Palimanan




Retno HY/PRLM



BANDUNG,(PRLM).- Rasa penasaran penonton untuk menyaksikan Tari Topeng Klasik Cerbon (Cirebon) gaya Palimanan akhirnya terpuaskan. Tampilnya Mimi Tursini (63) pewaris Topeng Klasik Cerbon gaya Palimanan yang merupakan puteri (alm) Mimi Suji Sang Maestro Topeng Cerbon, mengundang decak kagum.

Meski hanya membawakan satu tarian, penampilan Mimi Tursini sebagai pewaris tunggal Topeng Klasik Cerbon gaya Palimanan pada pegelaran seni dan budaya “Sawengi Ning Cerbon” Sabtu (1/12) malam, mampu mengundang kekaguman. Tari Topeng Klana yang dibawakan selama hampir 15 menit diakhiri tepuk tangan penonton yang memenuhi sebagaian tempat duduk Teater Terbuka Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat (Dago Tea House).

MimiTursini adalah putri maestro Topeng Klasik Cerbon gaya palimanan (alm) Mimi Suji. Di usianya yang tidak lagi muda masih berkiprah untuk terus melestarikan topeng gaya Palimanan, aktifitasnya kini menjadi guru tari di sanggarnya Mekar Suji Arum.

“Nenek yang sudah banyak cucu dan cicit gerakannya masih lincah seperti Tursini muda dulu, apalagi kalau menari Wanda Klana, banyak orang berdecak kagum,” ujar Rucita, dari Dewan Kesenian Kab. Cirebon yang turut mendampingi para seniman dan seniwati Cirebon yang mendukung terselenggaranya pegelaran seni dan budaya “Sawengi Ning Cerbon”. (A-87/A-88)***

Mengenal Lebih Jauh Dinas Rahasia Amerika

Senin, 3 Desember 2012 | 08:30 WIB


Dinas Rahasia Amerika yang terkenal, tugasnya antara lain menjaga keamanan dan melindungi keselamatan Presiden Amerika dan keluarganya.

AP
Beberapa anggota Secret Service nampak mengelilingi Presiden Barack Obama ketika menemui para pendukungnya dalam kampanye pemilihan presiden di Missouri
WASHINGTON DC, KOMPAS.com — Presiden Amerika bepergian ke mana-mana, kadang-kadang naik pesawat terbang kepresidenan Air Force One, kadang-kadang melawat ke kota-kota dengan mengendarai bus hitam bernama Ground Force One, dan sering keliling kota Washington dengan mobil besar yang disebut "The Beast".

Namun, Presiden tidak pernah pergi ke mana pun sendirian. Presiden mempunyai pengawal khusus yang selalu mendampinginya, bahkan di tempat tinggalnya di Gedung Putih. Pengawal-pengawal ini adalah anggota Secret Service atau Dinas Rahasia Amerika.

Secret Service melindungi para pemimpin Amerika dan keluarga mereka sejak tahun 1901. Akan tetapi, badan ini dibentuk hampir 40 tahun sebelumnya sebagai bagian dari Departemen Keuangan. Awalnya, keberadaan mereka untuk menyelidiki dan mencegah kejahatan di bidang keuangan di Amerika, terutama dalam penggunaan uang palsu.

Namun, tahun 1901, setelah Presiden William McKinley terbunuh, Kongres Amerika memperluas tugas Secret Service, mencakup melindungi Presiden.

Para petugas Dinas Rahasia Amerika mempunyai banyak cara untuk melindungi presiden. Mereka, misalnya,  memeriksa makanan presiden agar jangan sampai keracunan, membuat rencana penjagaan keamanan yang terinci sebelum presiden tampil di depan umum. Mereka juga meneliti dan menjaga keamanan tempat-tempat yang akan dikunjungi presiden. Agen-agen rahasia itu bahkan menentukan bagaimana presiden pergi ke tempat yang akan dikunjungi untuk memastikan tempat itu aman.

Para petugas rahasia itu bekerja sama erat dengan para pakar di bagian-bagian lain pemerintahan, seperti militer,  untuk menjamin keselamatan presiden.

Badan rahasia tersebut juga melindungi dan menjaga keselamatan wakil presiden dan keluarganya. Perlindungan  Dinas Rahasia juga diperlukan bagi semua calon utama presiden dan wakil presiden, mulai tiga bulan sebelum pemilu.

Undang-Undang Federal juga mewajibkan semua mantan presiden dan keluarganya mendapat perlindungan, kecuali kalau mereka menolaknya.

Secret Service juga melindungi dan menjaga para pemimpin negara lain pada waktu mereka berkunjung ke Amerika. Presiden Amerika juga bisa memerintahkan Secret Service melindungi orang-orang lain.

Secret Service menjadi bagian dari Departement of Homeland Security atau Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika, setelah badan itu dibentuk tahun 2002.

Lebih dari 6.000 orang bekerja untuk Secret Service, yang memiliki sekitar 150 kantor di Amerika dan di seluruh dunia.

Lebih dari 1.000 petugas menjaga keamanan di Gedung Putih Amerika, kediaman resmi presiden, selain juga  rumah tempat tinggal wakil presiden, serta gedung-gedung lain.
 
Sumber :VOAINDONESIA
Editor :Egidius Patnistik